Cakra Kosmos Magis, Ranting Kehidupan
- LIN
- May 18, 2024
- 9 min read
Updated: Jan 28, 2025

Prologue :
Sebuah ranting membingkai pijak kehidupan. Entitas serbuk magis dahan emas menyemai keajaiban. Pembaca akan dibawa pada kisah penuh kejutan. Inilah skenario roda semesta Yggdrasil dari Adam dan Hawa. Lembar cerita perihal apel emas jadi kebetulan di luar nalar manusia. Kita kupas lika-liku tersembunyi Isaak Elchanan lewat rangkaian frasa. Akankah para Rothschild sanggup menunjang pamor mereka? Atau tabiatnya justru terbongkar sia-sia?
───────────────────────
Aku menyebutnya “Cakra Kosmos Magis, Ranting Kehidupan.”
Pohon Yggdrasil, poros kosmos kehidupan dunia. Narasi kita dimulai dari Adam & Hawa yang tidak lagi jadi penghuni surga. Usai keluar dari pijakan nirwana, kematian jadi hal yang tak sanggup terhindarkan oleh entitas fana. Dikebumikan melebur tertimbun derai tanah, termasuk dalam bagian bulir alas semesta. Siapa yang sanggup menebak terciptanya Yggdrasil dari raga keduanya? Bibit menyertai harapan, tumbuh bertirai daun-daun apik dengan cikal-bakal peradaban manusia.
Rotasi cakra magis dari sulur akar bermuara sampai ke batang, merayap dengan sinergi inti hingga menjalar ke dahan dan ranting. Haluan tiada perubahan, peredaran energi Yggdrasil ada pada pola yang sama. Terus mempertahankan hidup atas sifat tunggal, kepada dirinya, bersumber dari dirinya juga kembali untuk satu tuju sama; dirinya. Cagak kehidupan ditopang setiap dahan. Horizon galaksi, bimasakti beserta gugus kejora yang kau dapati begitu berkilau, semuanya terbentuk pada cabang Yggdrasil. Para keturunan Adam & Hawa— mereka memilih hidup di tiap-tiap ranting.
Entah sampai kapan Yggdrasil tersebut menjulang kokoh dengan energi terus berotasi. Salah seorang kaum Adam punya jalur keputusan berbeda. Dia mengabdi, hendak jaga pohon Yggdrasil tanpa keterlibatan duniawi. Mendedikasikan diri, kekal nan abadi.

Abel, utas namanya. Katakan saja, perubahan itu pasti ada. Terjadinya tanpa aba-aba. Kala itu Abel menelisik keseimbangan cakra energi dengan saksama. Atensinya berlabuh pada pijar menyala sewarna emas, sebuah dahan di area agak tersembunyi. Kian mengikis jarak, saat mendekati uliran terkemuka— kian pula gelenyar energi magis lebih pekat terpancar. Lapisan kayu dahan mengkilap serupa pelitur tanpa cacat. Mulanya, Abel sebatas takjub. Kala ujung jemari menyentuh gugur daun emas yang gugur dari dahan tersebut, penglihatan seluruh kosmos hadir dalam sekelebat isi kepala.
“Keindahan ini seperti surga,” monolog Abel, selaras usap telapak membelai dari ujung dahan ke pangkal uliran emas. Tanpa sadar Abel terbuai saat dahan tersebut memperlihatkan kuasa tak terhingga. Kekuatan istimewa itu menarik pesona dengan cara berbahaya, mempermainkan sugesti. Aksi Abel selanjutnya memang jika dipikir ada benarnya. Niat Abel tidak keliru, bukan pula tabiat jelek.
Namun belum tentu yang diharapkan betul-betul jadi kebaikan. Terkadang, antara maksud hati dan realita bisa jadi keburukan. Spontan, dahan emas Yggdrasil dia patahkan. Lantas, Abel hancurkan sampai rimpuh dan jadi butiran. Apa yang kalian ketahui jika serbuk emas itu Abel torehkan? Intuisinya ambil kendali, Abel bayangkan surga impian. Kemudian dia taburkan serbuk emas ke dahan-dahan lain dari tangkupan tangan.
“Apakah surga fana bisa tercipta bila seluruh dahan memiliki kekuatan magis yang setara? Aku ingin dahan lainnya secantik uliran emas, biar resonansi keajaiban makin tak terhingga.”
Butir serbuk meresap pada sela tekstur kayu Yggdrasil, terbalur di antara pori korteks dahan. Pendar cahaya keemasan berjumbai megah, perlahan meliputi juntai akar ke sulur lainnya, mengalir dari hilir jaringan batang ke pucuk daun. Abel beranjak, termegap kagum mendapati perubahan beberapa dahan lain menjadi ulir emas.
“Sungguh karunia termasyhur. Siapa gerangan yang dikehendaki takdir memiliki bagian dari serbuk emas ini, mereka akan dapat kekuatan dahsyat.”
───────────────────────
Tersurat aksara pada laman dahan lainnya.

Terik surya menyingsing, bersemuka dengan raut gundah gulana pemuda terpayung teduh pohon. Hamparan gersang lumbung pertanian bikin risau kecamuk batin, Isaak Elchanan cari akal untuk mengais sepeser duit. Nasib hidup kurang mujur. Bahkan menahan keroncongan sebab panen gagal di penghujung musim. Dahi berkerut itu disusul kepulan keruh isi kepala— terlalu keras berpikir, garuk pelipis sambil merajut gerutu.
Yang kaya makin jaya.
Yang miskin makin merana.
“Bagaimana dengan potensi bibit baru? Tidak mungkin. Yang aku tanam saja masih diserbu hama,” silau, dia mendongak dengan angan-angan membukit. Topi caping menutup sebagian muka. Visualnya jelas tidak bakal dilirik wanita kota. Compang-camping kena gores garpu sawah, tidak punya kendaraan roda empat selain traktor butut di sebelah sana.
Di tengah skenario khayalan Isaak. Dia berandai-andai jadi tokoh tajir melintir. “Bisa bikin seantero negara tunduk. Kalau ditindas tinggal buat mereka lenyap tanpa jejak,” kekehnya miris, mirip orang linglung tertekan keadaan.
Namanya keajaiban,
Datang pasti tidak diperkirakan.
Lamunan bertengger di sepanjang detik Isaak habiskan waktu siangnya. Dia terperanjat, seperti dilempar orang dari atas kepala. Suara ‘gedebuk’ tertangkap rungu, ternyata Isaak dapati apel emas terjatuh, tampak kontras menggelinding di sebelah sepatu berlubangnya. Apel itu punya struktur mulus, kilaunya juga sanggup memantulkan refleksi wajah Isaak. Ada yang janggal, namun dibalur dengan kesan megah. Bias cahaya keemasan menyertai tiap lekuk dari badan buah, tangkai hingga daun. Selayaknya energi magis berporos pada satu kilatan menggiurkan.
“Isaak! Pulang sebelum petang, nak. Semoga bibit yang kau tanam akan tumbuh lebih subur hari ini,” itu juragan tambun peternakan, lewat sambil lambai tangan. Interupsi barusan entah kenapa membuat Isaak kalang-kabut. Takut apel itu direbut. Takut ditemukan orang lain. Reflek dia sembunyikan apel emasnya di balik punggung.
Gugup. Berusaha tampak biasa saja. Dia Cuma jawab pakai angguk lemas, batinnya menjerit kalau panen musim ini tidak ada harapan. Saat situasi sekitar sudah sepi, dia pergi terduduk di gudang padi. Telapak menangkup apel emas sambil terperangah takjub. Bak hadir dari latar dunia berbeda. Buah ini seperti jatuh dari surga. Apakah apel itu sanggup mengubah takdir hidup manusia? “Berapa harga yang pantas melabeli apel ini untuk dijual?” monolog Isaak, ambisi seketika bergemuruh lancang dari dalam dirinya. Perseteruan logika membuat Isaak pikir dua kali. Terlebih saat dia tatap penampilannya dari kilauan Apel.
Telunjuk menyentuh kerah, sangit aroma keringat dan matahari. “Konyol sekali, jika aku menjualnya. Siapa yang akan percaya? Bisa-bisa diusut atas dalih penipu, dikira aku pakai akal busuk melapisi cat emas ke seonggok apel biasa.”
Kalau yang jual apel itu pria berwibawa pakai dasi dan arloji mewah. Anggapan khalayak umum pasti percaya. Nah, dirinya? Kantung saja kosong melompong. Dompet kering isi rumput ilalang. Dia kerap diremehkan, orang sekali lihat perawakannya saja sudah pasti tidak selera. “Memang bakal pasti dibeli dengan target mahal? Kalau malah kena alibi picik para pedagang dan dapat harga anjlok, mau jadi apa?” asumsinya runyam, sampai netra memicing dan urat pelipis berdenyut.
Sekalipun terjual dengan nominal fantastis. Sampai kapan sanggup menunjang hidup Isaak? Dia tepuk jidat, kendatipun sadar diri dia bodoh menaruh harapan pada sebuah apel. Isaak tetap mencoba. Opsi budi daya jadi jalan terbaik, rasa takut direbut itu masih menjerat hati. Selain ragu bila diperjual belikan. Strategi Isaak mengira, kalau biji apel emas ditanam lalu merebak subur. Bukankah akan menjadi batu loncatan paling menguntungkan?
Ini bukan strategi.
Namun obsesi.
Tergesa, Isaak belah apel itu jadi dua. Biji dimasukkan ke dalam kantung, lantas daging buah dia lahap sekali gigit. Berharap ada sensasi unik cita rasa hadir menyapa lidah, tapi nyatanya biasa saja. Balik ke setelan pemuda banyak pikiran, sambil mengunyah sisa apel emas yang masih tergenggam telapak. Hela napasnya kecewa, agak lemas sebab tiada titik temu yang bisa memperbaiki nasib. Fantasi merambatkan imajinasi jadi lebih kaya, ingin mumpuni dari aspek kecerdasan, punya kuasa kuat serta menarik daya pikat perihal fisik.
Untaian-untaian pemikiran itu terkabul secara magis, ruas cahaya keemasan berkabut dari ujung ibu jari ke sekujur tubuh. Meriap dengan kesan ajaib, terbalur bak gemerlap megah. Mengubah Isaak Elchanan jadi sosok baru. Pekik tercekat di kerongkongan, tidak sanggup bergumam kaget hingga terperanjat jatuh dari kursi. Kain compang-camping hirap terganti jas eksklusif beludru merah, setelan celana berlumpurnya kini sehalus tenun sutra. Tidak ada aroma keringat atau sangit terik matahari, semerbak maskulin berkelas menguar. Helai surai pirang bersemu emas, Isaak tamatkan transformasi rupa dari cermin. Ini namanya pria sejati, punya pundak tegap, bisep jantan dengan figur raga gagah.
“Demi apa pun, ini realita? Atau aku masih tenggelam dalam asumsi takhayul semata?” menggebu. Lonjakan antusias menjulang dalam buncah bahagia, dia sentuh struktur rahang kokoh yang membingkai visual tampan. Bukan main Isaak terheran-heran. Euphoria belum tuntas sampai di situ saja. Kala Isaak berlari keluar, tanpa sengaja senggolan telapak tangan menyentuh cagak bambu orang-orangan sawah. Awalnya acuh, namun kejutan lain menyertai pendar netra Isaak yang begitu takjub. Bambu itu berubah jadi emas, gemerlapnya menyala di bawah temaram ufuk jingga. Gelegar tawa mengudara, Isaak sentuh semua benda. Pecicilan, tepuk sana-sini hingga serpihan keramik dari selokan kering pun dia ubah jadi emas.
Segenggam kerikil dia buraikan dari celah jemari, batu jalanan itu tak ayal ikut berubah jadi emas. “Takdir semesta? Aku terpilih? Aku jadi lakon jagat raya? Isaak Elchanan, jutawan kaya raya!” dialognya berkobar-kobar, kalau dilihat memang mirip orang setengah hilang kewarasan. Kemudian tiba saat di mana Isaak sadar akan kemungkinan terburuk. Risau, bagaimana kalau tidak sengaja pegang makhluk hidup? Ide cerdik muncul, sarung tangan di pucuk gagang alat semprot hama dia sambar. Cekatan, Isaak kenakan sarung tangan yang ikut berubah menyerupai emas. Dia coba tepuk lagi, kali ini pada sebuah rumput liar. Lega, semua aman-aman saja. Tidak ada reaksi terjadi, namun jika epidermisnya bersentuhan secara langsung dengan benda. Hal serupa terulang kembali— berubah jadi emas.
“Aku akan meluruskan nasib. Semuanya pasti aku kuasai,” congkak, terbuai dengan kekuatan dahsyat apel emas. Hasrat berkuasa, ambisinya menggapai kekayaan tak terhingga mulai menggulingkan rasionalitas logika.
───────────────────────

“Detektif tidak temukan jejak janggal. Kasus ini ditutup atas keputusan mutlak. Dinyatakan sebagai orang hilang.”
Reporter stasiun televisi siarkan ulasan kasus seorang anggota korporat. Korban hilang tanpa jejak, tiada kejanggalan terendus media. Telunjuk diketuk pada lapisan kristal kaca meja, Isaak menopang dagu. Dengus remeh disertai kekeh culas samar terekam adegan cerita. Narasi kita sampai pada era di mana Isaak telah melebarkan sayap bisnisnya. Konon, siapa pun dalang di balik spekulasi negatif keluarga Isaak— mereka akan berakhir lenyap.
“Ada kolega, seorang praktisi investasi. Dia ingin menjalin relasi. Esok diperkirakan hadir dalam sebuah konferensi. Apakah kau berkenan ikut?” wanita tersohor itu istri Isaak. Dia telan daging buah apel emas dari panen kebun mereka. Metode intensif budi daya apel emas terlaksana secara rahasia. Bukan konsumsi publik, eksklusif hanya diperuntukkan Isaak dan sanak keluarga.
Frekuensi Isaak tampil di depan masa bisa terhitung jari, taktik main aman. Isaak pandai bersiasat, segala urusan di balik layar berjalan tanpa kesusahan. “Aku hindari sorotan media. Mencolok kalau hadir dalam konferensi usai hilangnya salah seorang korporat, bisa jadi undangan itu alibi. Jebakan untuk menggali informasi terkait Rothschild,” beranjak, Isaak susun strategi. Taktik Rothschild cenderung pasif, jangan salah— bisnisnya tetap tidak tertandingi.
Katakanlah, pernikahan bukan jadi hambatan. Mana perlu repot bawa-bawa cinta untuk dipusingkan. Semua hanya perihal bisnis & meneruskan garis keturunan. Isaak punya wawasan, Isaak yang sekarang paham soal kecerdasan. Usai menjual barang-barang emas dari sentuhan tangan. Isaak tunjang semua bisnis menjanjikan. Financial services, real estate, mining, energy, agriculture, winemaking, dan nonprofits— semua meraup kisaran lebih dari milyaran.
Jika pembaca menuai pertanyaan, mengapa ‘Rothschild’ jadi julukan? Image Isaak unjuk diri ke publik, ciri khasnya jas merah yang dikenakan. Perangainya dikaitkan dengan kesan tak goyah di puncak kesuksesan. Selayaknya perisai merah atas manifestasi warna simbolisme dari keberanian. Perisai Rothschild mampu menghadang para pesaing, sekaligus jadi pelopor kemajuan.
(Rot(h)en Schild berarti “Perisai Merah”, meskipun nama Rothschild berarti Jas Merah dalam bahasa Yiddi-bahasa di barat suatu negara)
“Teruskan studimu. Tanam dalam pikiran, hindari menggunakan kekuatanmu di tengah keramaian. Perhatikan situasi, jangan sampai karunia apel emas di dalam dirimu ketahuan,” perintah Isaak kepada putra sulungnya. Punya motif agar ada pewaris generasi selanjutnya. Dia tunjang pendidikan elit putranya. Dia beri makan apel emas, hal itu membuat putra Isaak memiliki kekuatan dahsyat di luar nalar manusia.
Para Rothschild, mereka semua berambisi. Ironinya, mereka pemakan apel emas yang tidak lagi pikirkan empati. Sebenarnya hanya bertujuan atas dasar obsesi. Apel emas mengubah perasaan mereka jadi tabiat ingin menguasai. Rothschild membangun kawasan singgah tak terjamah sembarang publik pada lahan milik pribadi. Ornamen rumah didominasi benda-benda emas, interiornya menyerupai design aristokrasi. Bergelimang harta dengan pamor kian melambung tinggi.

───────────────────────
Lengser? Mana mungkin, Rothschild tetap berdikari. Puluhan tahun berganti, pasang-surut ekonomi dunia bagi Rothschild bukan jadi ancaman investasi. Mereka terus beroperasi. Kuasanya tak pernah roboh, bahkan sukses jadi pelopor unggul berbagai organisasi. Rothschild tak pernah tertatih, jas merah mereka membingkai kesuksesan tanpa henti. Lembar kisah telah sampai pada 12 generasi Rothschild terlewati. Isaak Elchanan sudah lama tidak menampakkan diri. Dugaan tercela dari pihak-pihak bejat masih ada sampai sekarang, ingin cari lengah biar Rothschild jatuh dari tangga kesuksesan. Namun tidak dengan hari ini, wajah baru pemimpin Rothschild mengubah kesan negatif jadi maksud positif.
“Aku, Mayer Amschel sebagai pemimpin baru Rothschild. Mulai saat ini Rothschild akan berkembang secara transparan, mengayomi dengan inisiatif kegiatan kemanusiaan. Tiada kebaikan tanpa dukungan, perjuangan kami akan menopang kehidupan. Aku pastikan penggalangan dana akan terkemuka dari para Rothschild, untuk masa depan lebih maju, untuk sebuah kedamaian. The Golden Bird, di bawah naungan Rothschild sebagai organisasi charity for humanity— akan mengulurkan tangan,” aspirasi Mayer Amschel memikat perhatian. Berdiri pada podium pers konferensi, orang-orang menyambut figurnya dengan wajah berseri. Mayer Amschel sukses mengubah pandangan publik, dia tunjukkan kesungguhan tanpa alibi. Berani menyapa media dengan wibawa teduh ingin merangkul tiap khalayak yang membutuhkan.

Surat kabar meringkas wacana terbaru Rothschild, potret Mayer Amschel di sebelah logo The Golden Bird sedang hangat dibicarakan. Berjubel apresiasi membanjiri The Golden Bird dengan tanggapan apik. Penggalangan dana terlaksana secara sportif. Mayer Amschel juga tidak segan merajut komunikasi di depan media. Rothschild lebih dipandang dunia. Perubahan itu ada, dari apel emas sampai jadi alur tak terduga.
───────────────────────
END.
Commission Story Written by LIN
Comments