One Morning
- Tri

- Dec 12, 2020
- 6 min read
Updated: Feb 2, 2025
Pagi itu sama seperti pagi lainnya, matahari masuk dari ruang udara diatas pintu menerangi sebagian ruang tamu tempat para Kannon bersemayam. Kicauan burung pelikan terdengar dikejauhan, suara familiar untuk tempat yang memang lebih dekat dengan laut itu. Seperti kebanyakan pagi, pintu kamar Juntei terbuka paling awal, dengan pakaian rapi dan topi merah muda khas nya. Juntei menuju dispenser air di ruang tamu, memeriksa apakah airnya masih ada, apakah air hangatnya berfungsi, apakah persediaan kopi disebelah dispenser itu masih ada, dan sebagainya. Tak lupa juga memeriksa keadaan diluar, meminta laporan dari para iblis penjaga jikalau ada yang dia lewatkan selama dia dikamar.
Diantara keenam Kannon yang tinggal disitu, peran Juntei memang lebih mirip dengan peran seorang ibu, dia yang selalu berinisiatif memeriksa dan menyiapkan segala sesuatunya. Semua ini dia lakukan secara insting, sama seperti clean freak yang tak akan tahan melihat sedikit tumpukan kotoran, Juntei juga tak tahan jika tidak menyiapkan semuanya tiap pagi, walaupun di hari libur.
Setelah memastikan semua siap, Juntei merebahkan dirinya di sofa, mengecek apakah ada percakapan baru di Key, aplikasi chatting antar Kannon.
Hm? uma online? Gumam Juntei dalam hati menatap tanda hijau kecil di sebelah foto profil uma.
Uma, adalah akun milik Bato di aplikasi ini. Diantara keenam Kannon disitu, uma yang paling sering online. Namun di dunia nyata? Bato hampir tidak pernah keluar dari kamar kecuali kalau ada pekerjaan. Tipe indoor minim interaksi.
Juntei menghela nafas, membuka aplikasi lain untuk melihat berita terbaru dunia diluar sana. Bukannya cuek, tapi bicara dengan Bato hanya akan berakhir awkward, apalagi cuma berdua.
***
Terdengar suara salah satu pintu dibuka, suara itu berasal dari kamar Juichimen. “Pagi Juntei~” Sapa Juichimen yang menyembul dari balik pintu. Dia bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang untuk tidur, terlihat keringat mengalir di otot kerasnya.
“Oh, pagi.” Tatapan Juntei masih terkunci pada tubuh Juichimen. Mengikuti gerakan tubuhnya yang kini duduk diseberang sofa.
“Hey, masih pagi jangan minum es.” Larang Juntei saat menyadari Juichimen sedang menengak air mineral dingin yang Juichimen bawa dari kamarnya tadi.
“Fuah~ Gila gila gilaaa, semakin hari Nyoirin semakin kasar!” Juichimen mengeluh sambil meletakkan botol air mineralnya di meja. Air mineralnya sudah kurang dari seperempat botol. Kini Juichimen tidur terlentang di sofa sambil sekali-kali mengipas wajahnya dengan tangan. Sebelah kakinya naik ke senderan sofa, berharap itu akan membantu keringatnya cepat menguap.
“Jadi tadi malam dengan Nyoirin?” Tatap Juntei sedikit tersenyum simpul, sudah tahu Juichimen akan menjawab apa.
“Sampai pagi! Aku baru tidur dua jam! Untung saja semalam tak ada tamu.”
Kan.
Nyoirin memang terkenal dengan sikap arogannya, entah disaat dia memberi atau meminta atau diberi, sikap arogannya tak akan berkurang. Melakukan hal ‘itu’ dengan Nyoirin memang butuh tenaga lebih. Juichimen termasuk kuat bisa menghadapi Nyoirin sampai pagi.
“Hmmhmm~ Seolah kau butuh tidur saja~” Ejek Juntei.
“Aku tak akan butuh tidur kalau aku tidak bermain dengan Nyoirin!”
“Lalu? Sekarang Nyoirin masih tidur?”
“Yup, kami berhenti karena dia tak sadarkan diri sebelum sampai akhir, aku yakin tubuhnya akan sakit saat dia bangun nanti.”
“Jadi yang bermain kasar itu siapa sebenarnya?” Juntei mendengus.
“Tetap dia! Dia yang memulai duluan!”
Juntei menggeleng kepalanya. Juichimen-keras kepala-tak mau kalah adalah tiga keywords yang sudah melekat. “Lalu, kapan kau mau bermain denganku?”
Pertanyaan Juntei membuat Juichimen menoleh, memberikan senyum mengejek padanya. “Kau yakin bisa tahan denganku?”
“Ha. Kau lupa tubuhmu itu dari siapa.”
“Dan kau lupa kekuatanmu itu dari siapa.”
Keduanya saling memandang kemudian tertawa bersama, mereka tahu jawaban masing-masing tanpa harus berkata.
Walaupun sama-sama Kannon, mereka memiliki tugas berbeda. Juntei bertugas menangani tubuh manusia mereka saat ini, sedangkan yang memberi mereka kekuatan diluar batas kekuatan manusia biasa adalah Juichimen.
“Ah, aku lupa.” Juntei mengetik sesuatu di smartphonenya, tepatnya di aplikasi Key, dengan nama akun onlyHuman.
--uma, onlyHuman, 11HEAD is online--
[onlyHuman]: uma, seharian ini tak ada kegiatan kan?
[uma]: Ya, ada apa?
[onlyHuman]: Tolong jaga rumah takut ada tamu. Aku harus pergi ke suatu tempat.
[uma]: Ok
--Welcome ShoSFX--
--uma, onlyHuman, 11HEAD, ShoSFX is online--
[11HEAD]: Kemana? Belanja bulanan?
[onlyHuman]: Anggap saja begitu 🤫
[ShoSFX]: @11HEAD kau sudah bangun?! Kita ada pekerjaan
[11HEAD]: Sudah kuduga! Aku mau titip belanjaan!
[11HEAD]: Sabun cuci baju 1kg, telur 3krat, rokok 2lusin, roti,
[onlyHuman]: Kau ada didepanku @11HEAD, bicara saja langsung
[ShoSFX]: Oi! @11HEAD!! Kita ada pekerjaan!
[uma]: @11HEAD bisa tidak menulis belanjaan disini?
[ShoSFX]: Oi!
[onlyHuman]: Btw, jangan terlalu banyak makan telur, tidak baik untuk tubuh
[11HEAD]: Siap mama~ 😘
“Oii!” Salah satu pintu didobrak, yang datang adalah Sho, pemilik akun ShoSFX.
Emosi Sho jelas disebabkan oleh percakapannya di Key tidak digubris, dia langsung mendekati Juichimen yang sekarang pura-pura tidur. “Oh kau sedang tidur ya? Oii 11HEAD~”
11HEAD, akun milik Juichimen, si Kannon yang sekarang masih pura-pura tidur.
Semakin kesal, Sho mencekik leher Juichimen dengan satu tangannya. “BANGUN KAU PEMALAS!”
“Argh! Time out!! Time outtt!!” Terbangun karena rasa sakit, Juichimen berusaha melepaskan tangan Sho dari leher.
Sho mengangkat leher Juichimen yang kini berada di posisi duduk.
“Akan kuhancurkan *****mu kalau kau mengacuhkanku lagi!” Sho melepaskan tangannya secara kasar dari leher Juichimen.
Sambil terbatuk-batuk, Juichimen tertawa. “Hey, jangan kasar begitu, aku tidak bisa melayanimu nanti.”
“Perset** denganmu. 10 menit lagi kita berangkat.” Sho membanting pintu kembali ke kamarnya.
“Kalian akrab seperti biasa ya.” Juntei menghirup kopi, entah mengejek atau apa.
“Yea right. Padahal dulu Sho sangat manis loh.”
“Sepertinya definisi 'manis’ mu beda dengan ‘manis’ ku.”
“Of course, duh. Oh, Jun, jangan lupa belanjaanku, akan kutuliskan di pesan pribadi nanti.”
“Kau terlalu sering beli kasur baru, Juuichi.”
Juuichimen hanya membalas perkataan Juntei dengan senyuman lebar sebelum masuk kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi bersama Sho.
***
Juntei masih duduk di sofa, memperhatikan percakapan antar uma dan SillySmoke di Key.
Diantara mereka semua, uma paling membuka diri dengan SillySmoke, nama akun Senju yang sekarang masih ditempat kerja.
Sedikit mengerutkan dahi, Juntei memikirkan hubungan antara Bato dan Senju. Mengingat Bato adalah seorang hikkikomori yang suka mengurung diri, dan Senju yang terlihat seperti gelandangan dengan tingkat kecerdasan dibawah rata-rata.
Biasanya Bato membalas pesan tanpa basa-basi, bahkan seringkali hanya hinaan. Begitupun dengan Senju, seringkali terlambat membalas percakapan atau tidak mengerti apa maksud percakapan hingga berujung awkward. Uniknya jika mereka berdua berinteraksi, mereka bisa bercakap lama dan intensif di aplikasi maupun dikehidupan nyata. Entah apa yang membuat mereka bisa sedekat ini.
Baru saja Juntei meletakkan gelasnya di meja, tiba-tiba dia berpindah ke ruangan lain.
“Whoa!” Teriak Juichimen yang kini ada didepannya. Mereka berada didalam sebuah kamar besar dengan sekat-sekat tanpa pintu ke ruangan lainnya. Ya, ini ruangan Juichimen. Ciri khas dari ruangan Juichimen adalah bagaimana dia tidak memiliki pintu, termasuk kamar mandi, tanpa pintu.
“Jangan lakukan itu tiba-tiba!” Juichimen menyalak pada Nyoirin yang sekarang sudah membuka mata.
Juntei mengerti dia tiba-tiba berada disini karena ‘dipanggil’ oleh Nyoirin. Kekuatan Nyoirin untuk memindahkan materi memang sering digunakan untuk hal-hal remeh seperti ini. Hanya karena Nyoirin malas berbicara pada mereka kalau harus bangun dari tempat tidurnya.
“Ada perlu apa Nyoirin?” Juntei mendekati tubuh Nyoirin yang masih tergeletak berlapiskan selimut ditempat tidur. Kelihatannya dia tak bisa bergerak.
Nyoirin masih tak bergerak dari posisinya, menjawab pelan “Perbaiki tubuhku.”
“Ah? Oh, baiklah.” Selimut yang melapisi tubuh Nyoirin diangkat, terlihat banyak luka lebam dan luka kemerahan disekujur tubuhnya. Bahkan sekilas tercium bau darah kering. Sepertinya mereka benar-benar ‘berjuang’ semalam. Juntei bersiul kagum melihatnya “Woaah haha, kau kejam Juichimen.”
“Well, thank you~” Jawaban Juichimen diiringi suara ketukan keras dari pintu, sepertinya Sho sudah menunggu tak sabaran diluar. “Yup, aku harus pergi dulu~” Baru bangkit, Juichimen kembali berbalik. “Aku lupa sesuatu.” Juichimen kembali mendekati tempat tidur dan mengecup rambut Nyoirin. Nyoirin yang kaget refleks menggunakan kekuatannya, dalam sekejap Juichimen menghilang dari ruangan itu.
“Pfft, kau terlalu mudah diprovokasi.” Ejek Juntei. Juntei mengerti maksud Juichimen mengecup Nyoirin adalah agar Nyoirin membuatnya lebih cepat keluar dari ruangan.
“Lakukan saja tugasmu.” Nyoirin mendengus.
“Aku ada pekerjaan hari ini, aku tak bisa menyembuhkanmu sepenuhnya.”
“Lakukan sebisamu.”
“Baik, yang Mulia~.”
Juntei mulai menyentuh tubuh Nyoirin dengan kekuatannya. Pada bagian tertentu Nyoirin tersentak, sepertinya luka di tubuhnya masih sakit. Tubuh Nyoirin yang pucat dan kurus terlihat menyedihkan dengan luka sebanyak itu.
“Hei, sebenarnya kau tidak butuh kekuatan sebanyak ini kan?” Gumam Juntei pelan, cukup didengar oleh Nyoirin.
“Aku tidak menjadi Kannon untuk berdiam diri, aku butuh ini semua.”
Jawaban Nyoirin bisa dimengerti. Walaupun tiap Kannon memiliki kekuatan masing-masing, ada saatnya mereka membutuhkan kekuatan lebih. Kebutuhan itu yang mengharuskan mereka 'bermain' dengan Juichimen. Bermain disini berarti masuk ke dalam alam Juichimen, alam para iblis dan ashura. Sebagai ganti dari kekuatan, di peminta harus membiarkan tubuhnya menjadi makanan atau terkadang hanya menjadi mainan apapun yang ada dalam alam ashura. Sebenarnya memang tidak terlalu menguntungkan, tapi hasilnya hampir instan. Untuk seseorang Nyoirin yang ambisius dan tidak suka repot, bermain dengan Juichimen terhitung praktis.
“Sebenarnya mau kau pakai untuk apa sih? Sampai begini...” Tanya Juntei yang masih membetulkan tubuh Nyoirin. Sebenarnya Juntei tahu apa jawaban Nyoirin, tapi dia suka mendengar jawaban Nyoirin saat mengatakannya.
“Akan ku pastikan semua malaikat yang ku temui mendapat karma buruk.”
Oh anak muda dan ambisinya. Diantara keenam Kannon cabang ini, Nyoirin memang yang paling muda. Masih ambisius.
Juntei tersenyum merasakan emosi tegang Nyoirin di tubuh yang sedang dia perbaiki.
Aah... Wajar saja bila Nyoirin diterima menjadi Kannon walaupun dulunya dia hanya manusia biasa. Dendam memang hal yang indah, motivasi terbaik pembalik alur kehidupan.
Comments