top of page

Secarik Elegi Alam Raya

  • LIN
  • May 9, 2024
  • 13 min read

Updated: Jan 28, 2025



Prologue :


Peradaban menyertai kesanggupan diri bertahan dalam medan hidup alam raya. Kondisi riskan penuh fenomena-fenomena di luar nalar, bila kau lemah maka dirimu akan tumbang tak berdaya. Aksara tergores pada secarik kisah Asal Mula Honua. Pembaca akan dibawa menyelami aksi perburuan, petualangan hingga perkembangan manusia dengan entitas magatama. Lima figur tangguh pelopor kemajuan jadi landas keberlanjutan eksistensi manusia. Akankah Kuakini, Kauai, Kupono, Kaukaheka, dan Kauhola sanggup menorehkan sejarah tanpa pelik melanda? Atau justru terjadi perpecahan berujung mala bahaya?


──────────────────────────



Gertak mengaum bergemuruh dari balik kegelapan. Sulur merayap, kaki terjerat saat mereka mengais setapak pijak pada alas belantara mengerikan. Tidak semua manusia mampu lakukan perlawanan. Sebagian dari mereka bernyali ciut hingga binasa jadi bangkai dijemput kematian. Eksistensi monster buas menduduki setiap seluk-beluk kawasan. Terkadang berkamuflase menyerupai dinding batu, pula sebagian wujud melata tersembunyi di hilir perairan.

 

“Jika terpaksa dilanjutkan lebih jauh lagi. Kita bisa celaka,” adrenalin terpacu, obor rotan dengan serabut ranting dilempar Kuakini ke arah figur raksasa. Selayaknya spesies reptil vertebrata namun taring mereka mirip gading mammoth purba. Anatomi lebih kokoh, bahkan lapisan kulitnya bergeronjal tajam melintang sepanjang garis kepala.

 

Jerit merana bergema, kepak sayap burung bangkai bertengger di atas dahan belantara. Seakan menanti mangsa dari jasad berguguran di depan sana. Mereka berlima mendapati eksplorer lain tumbang sekejap mata. Tercabik mengenaskan, jejak getih tercecer, hal itu mengundang pergerakan buas. Insting Kupono mana pernah keliru? “Arah barat daya, mereka tidak sendirian. Kita terkepung, opsi selamat hanya ada satu. Menuruni terjal berbatuan curam dan hanyut terbawa arus,” mutlak dia tak berkelit buang-buang waktu. Sejenak saja lengah, maka nyawa jadi taruhan.

 

Gagak berkerumun, atmosfer janggal mengimpit mereka pada pilihan antara hidup atau terbunuh sia-sia. Ufuk jingga mulai bersembunyi pada cagak langit, gumpalan awan jelaga tertata mengelilingi horizon.  Pancaroba ekstrem hari ini bikin dehidrasi, jika kau menginjak sisa tulang belulang selama perjalanan berkelana. Jangan tanya, itu kerangka manusia yang tereliminasi hukum alam sebab fisik kian renta. Tadi Kauai berusaha menadahi aliran air dari batang pohon lembap sarang spora. Naas malang menyertai nasib mereka. Tidak ada satu tetes embun pun yang berhasil melegakan dahaga.

 

“Aroma angin badai. Kilat petir sudah berjaga dari sebelah utara,” Kauhola menelisik pandang ke arah kepulan keruh bergumpal di atas uap panas, awan cumulonimbus. Mereka berlima adalah salah bagian dari beberapa eksplorer suku manusia. Anak-anak jarang ditemui sebab ringkih, kerap terjangkit virus dan sebagian besar mati kekurangan nutrisi lalu celaka. Niat cari sumber potensial rantai makanan, berujung mala bahaya. Terancam situasi riskan oleh kehadiran yang tidak diundang, sudah mengawasi mereka sejak menampakkan diri di area rawa.

 

Kauhola sadar akan titik lemah yang bisa sedikit mengulur waktu kabur. “Jangan lihat ke belakang, fokus. Atensi mereka lebih peka pada skala suara,” tepat pada saat cicit lumbung kelinci terkoyak pijakan monster, Kuakini sigap menikam runcing tombak di tengah pupil reptil raksasa. Monster itu termegap meronta, mundur beberapa langkah. Gerutu sumpah serapah Kaukaheka mengiringi aksi gesit berlari ke arah selatan. Nekat ikuti saran Kupono, menuruni terjal curam, hendak menghanyutkan diri berenang satu arah dengan arus ke muara. Terjang badai menerpa di tengah aksi kabur, riuh gelegar petir menyulut percikan api pada dahan ringkih. Kuncup kembang raksasa jatuh menabrak bongkahan jurang yang terkikis menutup akses hilir. Persentase menyelamatkan diri lewat jalur air begitu mustahil.

 

“Ke mana kita akan pergi? Sarang berang-berang di sana bahkan hancur oleh bekas sayat cakaran, sungai ini juga bukan pilihan aman. Lihat bayangan itu,” telunjuk Kaukaheka diarahkan ke siluet ekor bersisik duri, tampak menyembul pada arus sungai dengan gelembung napas.


Air tenang menghanyutkan.


Air tenang justru sanggup membinasakan.


“Ada celah di balik akar gantung, ikuti aku. Kemari!” Interupsi Kauhola menuntun arah tuju. Samar melihat ada celah untuk sembunyi pada bilik air terjun, tepatnya reruntuhan goa yang ditutupi tirai akar gantung. Cekatan, mereka menyusup masuk sebelum moncong monster terbuka hendak libas beringas para mangsa. Degup berpacu, menetralkan sirkulasi oksigen. Situasi aman terpayung teduh goa. Kuakini terduduk di atas batu berlumut, terperanjat saat menyadari ujung rumput menusuk epidermis.

──────────────────────────



Pendar netra berbinar kagum, di luar prediksi. Apa yang mereka pandang belum pernah tampak sebegini asri. “Kelopak mekar. Tanah gambut ini juga sanggup menyokong pertumbuhan flora,” telunjuk Kuakini mengais tekstur pasir berderai lembap, aroma petrikor sejuk menyertai hilir kecil sungai jernih. Kontras dengan ekosistem alam di luar sana, intensitas mikro organisme di dalam goa ada dalam porsi pas. Bahkan, mereka mendapati akar umbi merebak subur. Temaram sinar surya menyingsing redup usai badai reda.

 

Kupono menegak setangkup air dari kolam dalam goa, takjub saat bulir itu terasa lebih segar membasahi kerongkongan. “Demi apa pun, apakah ini kebetulan yang nyata?” kehidupan di dalam goa seperti mimpi idaman manusia. Semuanya damai, terkemuka selayaknya portal magis yang menyuguhkan kenikmatan fana. Fokus Kuakini berlabuh pada wujud magatama sehijau klorofil daun yang tergolek di dasar kolam dangkal. Tanda tanya menghampiri, dia pungut batu tersebut dengan netra lekat memandang setiap lekuk licin berkemilau. Monolog batin berkata tentang benda apakah itu? Terasa asing namun unik. Tanpa dia sadari, gema samar menyeruak di dalam kepala. Seperti resonansi suara yang mampir, rentetan frasa itu mengudara.


"E nā mea ola liʻiliʻi, e nānā i ka ʻino o ko ʻoukou noho.

I mua o nā maka o ke Akua, he aha ko ʻoukou kuleana?"

(O little living creatures, how your life is miserable.

In front of the eyes of god, what are you long for?)

 

Pantulan bias cahaya dari kolam menerpa bingkai rupa Kuakini. Dengung barusan bukan ilusi. Bukan juga sebatas karangan fantasi. Sungguh minat Kuakini makin terpikat, ingin mengulik apa yang sebenarnya terjadi? “Kehendakilah keinginanku. Sebuah kekuatan tangguh,” pintanya. Secercah lurik gemerlap ajaib berkeliling dari tumit hingga puncak kepala. Keempat rekannya saling bertatap. Sepersekian detik kemudian Kuakini unjuk diri, dia angkat batu kapur besar dengan diameter dua kali lipat dari tubuh pria dewasa. Terperangah, gumam heran tak sanggup menutupi keterkejutan. Sebab batu tersebut terpikul tanpa halangan, dibuat semudah membalik telapak tangan.





“Mana mungkin...” apa yang barusan terjadi tidak bisa dicerna nalar Kauai. Belum mantap kalau dia tidak coba sendiri. Dia ambil magatama hijau itu di telapak kasarnya. “Makanan kapan saja. Aku ingin buah berlimpah,” lanjut Kauai, keroncongan telan ludah. Tanpa tunggu lama, sekejap mata ditinggal berkedip, buah-buahan sudah menggelinding di sebelah kakinya. Buncah bahagia menyertai gigitan pertama begitu lahap, gumpal daging legit apel tersesap lingua.



 


Antusiasme terpancar. Mereka berseri-seri, siapa yang menolak jika keinginannya terkabul tanpa jerih payah? Euphoria meliputi suasana. Kendatipun tiada syarat untuk sebuah permohonan, namun mereka sadar bila hijau yang semula benderang kini berangsur redup. Risau, skeptis berusaha enggan pikir panjang. Inisiatif Kupono ambil kendali permintaan ketiga. “Aku ingin dikehendaki mengatur cuaca,” menit selanjutnya bantalan kapas awan muncul dari telapak Kupono.

 

“Kalau kita diterjang kemarau tropis panjang, akankah aku sanggup panggil hujan?” tak bertele, Kupono bahkan mumpuni kendalikan kemauan hatinya. Gemercik rinai mengguyur di dalam goa dari awan yang dibalur sapuan angin kecil. Dia terperangah, saat telapak diangkat lebih tinggi— sepoi menerpa. Pula, saat surainya basah serta tubuh menggigil oleh terjangan badai. Dia ciptakan secercah balur hangat terik mentari.

 

Kupono torehkan gemintang di langit-langit goa. Sumber cahaya selain celah sinar surya. Makin jelas terpampang nyata bila magatama hijau ini telah berubah warna. Serupa hitam pasir sungai keruh, kilaunya pun hirap hampir mirip batu apung biasa. “Aku berani jamin hanya ada satu sisa permohonan bagi kita,” Kauai angkat bicara. Rekan lain setuju, konklusinya— energi magis dari batu ini makin habis di setiap permohonan mereka. Tersisa dua orang yang belum berpinta. Kauhola dan Kaukaheka.

Opini Kuakini memecah hening. “Kita pertimbangkan bersama. Kalian berdua sebut permohonan yang ingin terkabul. Lantas, kita pikirkan opsi terbaik dari keduanya untuk dipilih salah satu. Bagaimana?” ide nya disambut setuju.




Duduk melingkar bersila di tengah sajian buah Kauai, Kauhola buka suara. “Aku ingin punya daya pengendali pikiran. Bukan hanya sanggup dikenakan untuk pertahanan, nantinya kita akan membuat para monster tunduk di bawah naungan. Meminimalisir kesenjangan. Sekaligus mampu memperbudak monster sebagai tawanan.”

 

Angguk Kupono lumayan tertarik, dagunya digosok sembari membayangkan imaji. Bila para monster diperbudak untuk sarana perjalanan jauh, bisa juga jadi tameng perburuan untuk melindungi diri. “Lalu bagaimana denganmu, Kaukaheka?” menanti, Kupono tunggu sobatnya menyuarakan kehendak.

 

“Aku ingin sebuah evolusi. Dari pengetahuan tak terbendung yang ingin ku telusuri. Tentang dunia, peradaban manusia hingga teknik paling jitu ilmu tak tertandingi. Kita bisa bertindak selangkah lebih maju jika tahu seluk-beluk informasi. Apakah kalian tidak mau tahu dari mana batu itu hadir di sini? Bisa saja kita temukan eksistensi magatama lain di bumi,” runtut, dia tuturkan permohonan itu secara gamblang. Bicaranya menggebu, hal itu menyita konsen rekan lain yang pikir dua kali.

 

Mana yang lebih layak? Dirundingkan sejenak. Ditelusuri akibatnya, dicari kemungkinan paling menguntungkan. Dari situ harapan Kauhola membukit, sudah optimis pasti permohonannya yang akan terpilih. Namun Kauai berani kasih saran berbeda. Lugas berkata. “Definisinya selamat bisa kita andalkan dari kekuatan. Beringin menjulang pun Kuakini sanggup robohkan. Aku rasa perkara monster tidak lagi jadi hambatan,” begitu dialognya.

 

Imbuh Kupono jadi pelengkap kesimpulan. “Manipulasi cuaca bisa ku kendalikan, bila nanti ancaman monster tiba. Dengan mudah aku terpa angin ribut. Aku yakin mereka akan terpukul mundur, bukankah begitu?” ketiga dari mereka satu pendapat.




Gurat kecewa terlukis dari urat pelipis Kauhola. Dongkol sebab permohonannya gagal jadi prioritas utama. Dia pikir mungkin ada kesempatan jika ada batu serupa lainnya. Kemudian, magatama itu diberikan kepada Kaukaheka. “Segala pengetahuan yang ingin diketahui. Aku ingin memiliki kemampuan itu,” selaras permohonan dituturkan. Bertepat pula transformasi batu itu total jadi legam seakan hilang jejak keajaiban. Menghitam seperti kerikil jalanan.

 

Derik jangkrik menyisir sunyi, kelimanya menanti. Semua dengar racauan Kaukaheka yang bernarasi perihal segala informasi. Isi kepalanya penuh susunan hal-hal tersembunyi. “Tears of Mother Nature. Air mata planet tempat kita berpijak, manifestasi perwujudan doa & harapan dalam suatu empati,” klausa yang Kaukaheka katakan agak teracak, seperti orang bergumam dalam hati walau masih bisa dipahami.

 

“Di mana lokasi batu magatama lain?” Kauhola sela sesi bicara Kaukaheka, dia masih belum lega. Ambisinya ingin punya kekuatan setara.

 

Usut punya usut, dari pengetahuan yang hadir di dalam sugesti pikiran Kaukaheka. Batu itu hanya tercipta satu kali pada setiap planet di dunia. “Magatama. Dia bersifat tunggal, di setiap alas berpijak. Menyertai kehendak setiap hilir bermuara untuk tetap mengalir. Membalur harapan pada tangkai-tangkai kembang, mengiringi semerbak harum mekar. Menyokong alam, harapan bajiknya mempertahankan kehidupan. Semakin mustahil permohonan, kian terkuras pula kekuatan energi magatama.” Kaukaheka terpejam meresapi bekal ilmu.

 

Pertikaian kecil dibumbui argumentasi. Kauhola tidak rela jadi yang tersisa tanpa anugerah sama sekali. “Aku yang pertama kali melihat celah masuk ke goa ini. Tapi lihat, karunia apa yang tersisa? Tidak ada. Aku jadi target paling lemah,” hardik Kauhola menyalahkan keempat rekannya, dia curahkan lonjakan emosi. Dirundung sebal, napas memburu.

 

Kondisi carut-marut, murung melanda. Kaukaheka berusaha padamkan kegaduhan. “Kami juga tidak mengerti jika air mata planet hanya ada satu. Ayolah, kawan. Tetap merangkul satu sama lain. Kami tidak tinggal diam jika kamu dihadang kesulitan,” tukasnya menepuk pundak Kauhola walau ditepis, masih jengkel.

 

Dilema bertengger pada benak Kauhola. Dia tidak bisa sepenuhnya percaya. Manusia punya tabiat sukar tepati janjinya. “Hidup kita semua akan lebih terjamin, masa depan tinggal digapai bersama. Kauhola, dirimu tetap jadi salah satu eksplorer berjasa,” Kauai bersemuka menghadapi gundah gulana batin Kauhola.

 

“Mari kembali ke suku, kita pulang untuk melanjutkan harapan & doa magatama. Jangan sampai air mata planet ini disia-siakan begitu saja,” Kuakini tuntaskan perseteruan. Tersirat pesan dari sorot netra hazelnya pada biru samudera obsidian Kauhola.

 

Lekas angkat kaki dari goa, Kauhola mengekor di belakang dengan jejak kecewa. Berat hati terima kenyataan secara terpaksa.


──────────────────────────



Paguyuban dari generasi ke generasi menata peradaban. Tercipta kerajaan Aupuni berdikari jaya pada alas asri ranah kediaman. Kelima eksplorer yang pulang berhasil membawa perubahan. Pola kokoh terasering tanah ditempa bebatuan raksasa. Bentuk kuasa tangguh Kuakini, dia angkat bongkahan lereng gunung untuk bahan dinding kerajaan. Irigasi mumpuni tidak pernah surut, Kupono kendalikan awan hujan. Iklim ekstrem tiada lagi bikin kesusahan. Pancaroba mampu diatur menyesuaikan kebutuhan. Manusia bertumbuh dengan ilmu pengetahuan, Kaukaheka kerap menuturkan prasejarah semesta saat mereka berkumpul. Dongeng dan syair tersurat di atas alas daun dengan pucuk arang. Aupuni punya kemajuan signifikan.

 

“Kauai. Salah seorang kawanan kita terluka,” Kauhola bawa berita. Ada pria yang tergolek lemas pada bilik ruang dalam menara. Asal kalian tahu, Kauai juga sanggup menghendaki adanya buah dengan khasiat herbal.

 

Saat Kauhola hendak mengais pertolongan pertama, salah seorang pemuda Aupuni bicara lancang. “Tinggalkan dia sendirian. Hanya Kuakini yang kuat memapah tubuhnya menuruni tangga,” bocah ingusan, sarkasnya tidak pandang bulu.

 

Kauhola merasa terhina, dirinya jadi buah bibir sebab tidak punya kekuatan apa-apa. Kecamuk batin itu terpendam, munafik kalau Kauhola mengaku biasa-biasa saja. Aslinya kepalang sakit hati, masih pegang janji keempat rekan lainnya. Tak segan beberapa penduduk Aupuni memandang dia sebelah mata, dianggap tidak sesuai kriteria sebagai raja.


✧ ✧ ✧


Waktu bergulir, musim berganti, gugur daun kini bersemi. Menyambut lahirnya anak temurun Kuakini di muka bumi. Putra sulung dengan netra sekelam kayu eboni. Surai ikal membingkai rupa mungil yang mengundang buncah bahagia. Perjamuan puja magatama tersemai dengan buah berlimpah, sejuk sepoi cuaca bersahabat mengiringi pertumbuhan putra Kuakini. Gelagat gesit, watak berani, punya naluri berburu. Pertumbuhan fisiknya lebih pesat dari anak-anak sebaya.

 

“Petang telah tiba. Saatnya kita pergi,” Kuakini sempatkan sejenak waktu senggang bercengkerama. Dia tuntun minat putranya untuk petualangan, mengajari bagaimana cara renang tanpa ketahuan mangsa. Atau tentang pendakian gunung dan siasat taktik peperangan.

 

Kuakini pikir semua berjalan apa adanya, namun skenario alam raya punya kehendak lain. Ialah, saat dia menapaki perbatasan curam usai pulang dari perburuan. Cagak kayu rimpuh tumbang hampir menimpa tubuh Kuakini, bekas embun hujan menyamarkan pandang. Di luar prediksi, putranya menahan batang pohon tersebut dengan kedua tangan. Sigap, tenaga bocah itu di luar batas rata-rata. Kagum, Kuakini geleng kepala. Tears of Mother Nature mengalir sampai ke aliran getih temurun anaknya.

 

“Kau terpilih oleh alam, putraku. Ayah begitu bangga,” dia angkat tubuh bocah delapan tahun itu di pundaknya. Kembali ke Aupuni dengan sebuah rencana.

 

Badai lebat sengaja Kupono sapukan ke kawasan Aupuni. Biar tidak ada mata-mata, sebab Kuakini mengadakan pertemuan rahasia. Mereka bertanya, mengapa gerangan tidak boleh ajak Kauhola? “Apa yang hendak kau katakan, saudaraku?” bersedekap dada, Kupono berdiri di dekat pilar batu. Posisi mereka agak terpencil dari kerumunan penduduk, menara sayap selatan jadi pilihan alokasi singgah.

 

“Putraku mewarisi anugerah Tears of Mother Nature. Sama sepertiku, tenaga fisiknya di luar batas umum manusia. Jika kita lestarikan garis temurun ini, kekuatan batu magatama akan terlahir kembali dalam roda generasi,” optimisme begitu menyala, Kuakini yakin jika Tears of Mother Nature tidak hilang begitu saja.

 

Namun Kauai masih butuh kepastian. Jalan pikiran agak bercabang. “Jika itu terjadi, mungkinkah perbedaan sila keturunan jadi larangan? Antara manusia yang punya karunia dengan manusia biasa. Kita tidak bisa simpulkan begitu saja,” mungkin dalam kamus pemahaman Kauai, dia sungkan ingkar janji dengan Kauhola.

 

“Serahkan pada Kaukaheka. Dia tahu mana jawaban yang terjamin benar,” Kupono bicara fakta. Setiap mereka dirundung kebingungan akan suatu informasi. Jalan tengah paling ampuh ialah pengetahuan Kaukaheka.

 

Tarik napas, konsentrasi penuh bersemuka dengan netra terpejam sejenak. Kaukaheka tanyakan monolog batin pada alam bawah sadar, suara itu hadir menyertai jawaban. “Akan terjalin garis temurun dengan warisan Tears of Mother Nature. Hanya berlaku jika sila kedua orang tua punya anugerah murni. Pada kemungkinan terbaik, kalau salah satu orang tua tidak punya kekuatan. Maka, persentase anak kelahiran mereka tidak selalu berhasil mewarisi karunia.”

 

“Surat takdir memilih putramu sebagai tambatan pertama semesta, Kuakini. Selanjutnya manusia dibebaskan mengatur jalan keturunan mereka,” Kaukaheka menuntaskan narasinya.

 

“Celah emas untuk masa sejahtera. Kita manusia biasa. Usia kian renta, maut bisa menjemput kapan saja. Namun, jika anak cucu kita nantinya diwariskan kekuatan magatama. Peradaban akan tetap sentosa,” lugas, Kupono beranggapan. Dia sudah paham setelah Kaukaheka menyertakan penjelasan.

 

“Aku setuju bila antar keturunan kita dirajut perkawinan. Bagaimana menurut kalian? Manusia harus bertahan tanpa kesulitan. Magatama masih memberi kita kesempatan,” utas kata Kauai ada benarnya, namun sejatinya juga salah. Karena itu mencipta satu batas tak kasat mata dengan Kauhola.

 

Namanya kesempatan tidak datang dua kali.

Bila dibiarkan pergi, belum tentu kembali.

 

Perjanjian terjalin atas dasar kelestarian Tears of Mother Nature dalam wujud keturunan. Mufakat, sepaham untuk tidak buka mulut tanpa Kauhola dilibatkan.


──────────────────────────



Kesenjangan sosial makin ketara. Hiruk-pikuk Aupuni usai perjanjian terjadi mencipta perbedaan golongan manusia. Secara tidak langsung diskriminasi itu ada dalam tindak-tanduk antara Kahuna dan Kanaka. Kahuna, sebutan bagi mereka yang dianugerahi kekuatan magatama. Kanaka sering dipandang sebelah mata. Benar, mereka termasuk golongan manusia biasa.

 

Pemuda ringkih dalam medan pelatihan berburu tergolek, dia berusaha bangkit namun dihardik seorang Kahuna. “Kanaka sepertimu tidak mungkin bertahan lama, menyerah saja. Padang rumput masih luas, kau bisa menggali lumbung tanaman,” cemoohnya disertai gelegar tawa. Kauhola dari kejauhan tak bisa ambil hati lagi, kesabaran di ujung tanduk. Dia telah bertahan sekian tahun mengais serpihan harga diri.

 

Puncak konflik meradang kala Kauhola enggan bersemayam dalam kerajaan Aupuni. Cukup sampai di sini dia dan kaumnya dilabeli sebagai orang tidak bermutu. Persengketaan tak bisa dilangkahi, bicara lantang memutuskan tali kekerabatan. Usut punya usut, ada kaum Kanaka yang masih menetap. Merasa tidak sanggup bertahan di luar Aupuni dengan kondisi alam dan ancaman berbahaya.

 

“Aku belum merasakan keadilan yang kalian janjikan. Belum pula mendapat kesetaraan perlakuan. Aku pergi. Jangan harap ada terima kasih untuk semua yang telah aku lalui dengan merugi,” ungkapnya, beranjak angkat kaki. Sebagian kaum Kanaka ikut meninggalkan Aupuni tanpa permisi.

 

Keempat pemimpin lainnya tidak menyuarakan sanggah, pula enggan menahan kepergian Kauhola. Kauai terkesan angkat tangan. Kupono membubarkan kerumunan, perseteruan itu jadi tontonan. Kaukaheka yang biasanya mirip ensiklopedia berjalan kini terbungkam. Kuakini tidak membukakan gerbang, dia biarkan Kauhola ambil jalan keputusan.

 

Datang dan pergi sudah jadi bagian dari filosofi. Tumbang satu, tumbuh seribu. Kadang kala kita hanya bisa berharap, namun realita pasti berbeda. Nyatanya mereka berempat sudah lakukan apa yang jadi janji pertemanan. Prinsip antara satu kepala dengan pribadi lainnya jelas sukar disamakan. Biar berlalu jadi kisah yang pernah ada.


✧✧✧


Na Lani ʻEhā

( The Royal Four or The Heavenly Four. )

 

Termaktub sebutan Na Lani ʻEhā bagi keempat perintis kerajaan. Lembar narasi kita sampai pada era di mana tekanan populasi anak cucu mereka memenuhi Aupuni.  “Atas nama Honua!” kumandang prakarsa nama dunia mereka disambut sorak sorai para penduduk Honua. Empat ujung pedang terulur pada satu mahligai. Persektuan empat pilar tercipta di tanah suci Aupuni. Mereka punya otoritas kerajaan sendiri-sendiri.

 

“Tiada pertumpahan darah, kita wujudkan perdamaian Honua. Atas nama Na Lani ʻEhā,” intisari jumpa pertemuan empat kerajaan bersemuka. Kauai menyertakan sejumput wacana di depan khalayak Honua. Bendera empat serangkai berkibar gagah pada puncak menara. Magatama dikenakan sebagai simbolisme di setiap corak bendera. Tears of Mother Nature jadi sebuah pusaka sakral, senandung bergema pada bilik goa ialah tanda pembaptisan para Kahuna.



Kerajaan Viriya dipelopori oleh Kuakini. Pewaris takhta manusia dengan kekuatan tak tertandingi. Fisik mereka tak gentar untuk berkelana di bumi. Teritorial mereka  dikelilingi dinding batu sekokoh besi. Para Viriya terlahir sebagai garda terdepan dalam medan perburuan, mereka adalah kesatria alami. Insting waspada mereka patut diberi apresiasi. Monster mana yang sanggup melibas Viriya? Tidak ada sama sekali. Terlibas habis dalam sekejap mata. Eksistensi mereka punya naluri pelindung.



Kerajaan Karuna dipelopori oleh Kauai. Teritorial kaya sumber daya alam, alas tanah mereka berlimpah makanan. Umbi merebak subur, akar-akar pohon buah menyerap bilur nutrisi dari kawasan asri. Pemasok bahan pokok pangan yang menyokong Honua. Mereka poros paten pertahanan hidup, makanan paling lezat ialah olahan para Karuna. Kahuna yang terlahir memikul anugerah Karuna, sebagian menjadi tabib tersohor. Kemampuan Karuna berkembang menggeluti herbalisme, menciptakan buah dengan khasiat manjur.


Kerajaan Alobha dipelopori oleh Kupono. Teritorial sejuk dengan sumber mata air paling jernih. Para Alobha sanggup mengatur pasang-surut muara danau, mereka tidak gentar bila keseimbangan alam sedang kacau. Iklim bisa diatasi, kincir angin tersusun di antara sengkedan tanah Alobha. Mengatur keseimbangan cuaca Honua. Teknik bertahan diri mereka berkembang menjadi manipulasi elemen-elemen alam. Langit Alobha ialah cakrawala paling cantik dengan gugus kejora.



Kerajaan Tatramajjhattatá dipelopori oleh Kaukaheka. Turun temurun Tatramajjhattatá terlahir sebagai filsafat alami. Mereka berkembang dengan ilmu pengetahuan terkemuka, bahkan mampu bersyair. Cendekiawan banyak ditemui dari anak cucu Tatramajjhattatá. Pencetus strategi paling jitu adalah kesatria Tatramajjhattatá. Sebagian dari mereka terlahir spesial, mampu melihat masa depan.


✧ ✧ ✧


Adikuasa Na Lani ʻEhā berjaya di tanah Honua. Kian luas teritorial mereka, kian pula banyak kerajaan kecil berkembang dari pertumbuhan pesat kerajaan. Inilah secarik asal mula Honua. Elegi alam raya dari keajaiban Tears of Mother Nature, magatama. Rangkai aksara lembar cerita kita usai sampai di sini.


───────────────────────


THE END.



Commission Story Written by LIN

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page