top of page

A Tooth for A Tooth

  • Shikanoo
  • Dec 10, 2025
  • 5 min read

Yang lalu biarlah berlalu. Begitu kata mereka. Pepatah konyol yang sebenarnya hanya  bentuk lain dari sebuah pemaksaan. Mereka memaksa orang rela; memaksa untuk melupa; dan memaksa untuk melepaskan siapa pun yang ada di masa lalu sana—termasuk mereka yang telah meninggalkan luka lara.


Kalimat itu tak lebih dari bualannya orang-orang bodoh, dan Ades bukan salah satu dari mereka. Baginya, tak ada yang bisa dan boleh berlalu begitu saja ketika kehidupannya  disenggol oleh tangan-tangan kotor itu. Meskipun semua telah lewat puluhan tahun yang lalu.


Tak peduli jika itu orang tuanya sendiri.


Ades berdiri di samping suatu makam, di tengah pemakaman umum pinggir kota. Tempat yang berantakan karena tak banyaknya orang mampir kemari. Kumuh, kalau Ades boleh bilang. Mungkin ini tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang terbuang, atau tak punya cukup uang untuk membayar tanah kuburan dan batu nisan yang lebih layak serta terawat.


“Cocok sekali untukmu… Ayah.”


Ah. Sudah berapa tahun panggilan itu tidak keluar dari mulut Ades? Mengucapkannya sekarang terasa begitu menggelikan. Menjijikkan, malah. Tulang-belulang di bawah kakinya tidak pantas disebut dengan penghormatan tersebut.


Dia tidak pantas hidup setelah menjual darah dagingnya sendiri—Menghancurkan kehidupan dan masa depan seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa—demi kepingan logam serta lembaran kertas yang tak seberapa. 


Sekarang gadis kecil itu sudah besar, dan dia menolak memasukkan kalimat ‘Yang lalu biarlah berlalu’ ke dalam kamus hidupnya.


Ia memilih membalas mata dengan mata.


Lagipula apa yang kau harapkan dari salah satu bibit dosa? ‘Maaf’ adalah satu barang yang sangat mahal harganya. Bahkan kematian orang ini pun masih belum cukup menjadi penebusan. Apalagi, kalau tidak salah, dia mati karena penyakit, kan? Seharusnya pria itu merasakan neraka dunia dulu sebelum menerima bara api di alam lain sana.


Itu pun kalau memang dia diterima, sih.


Kalau malaikat, atau Tuhan, jika memang ada, menolaknya, akan Ades pastikan arwah makhluk itu takkan bisa kemana-mana. Termasuk ke kuburannya sendiri.


“Ratakan sekarang.”


Ades mundur selangkah, mempersilakan orang-orang suruhannya menggali makam tersebut. Peti diangkat. Tulang-belulang diambil, dimasukkan ke dalam karung goni. Nisan dicabut. Lubang ditutup kembali sampai sebatas permukaan. Lantas dalam sekejap mata titik yang semula masih terkenang nama, kini tak lebih dari tanah tandus. Tak ada jejak siapapun pernah dikubur. 


Sisa-sisa dari si ayah dalam karung ini akan Ades gunakan untuk eksperimennya. “Berterima kasihlah, Pak Tua. Setidaknya ada bagian kecil darimu yang bisa kumanfaatkan.” Ia tertawa kecil seraya melangkah pergi.


“Sekarang tinggal wanita itu.”


***


Surga di telapak kaki ibu, katanya.


Apakah ibu yang durhaka dan membuang buah hatinya masih layak membawa surga di telapak kakinya? Surga macam apa kalau iya? Bagi Ades tiada surga yang dia rasakan sama sekali saat hidup bersama ibunya. Tak ada susu, tak ada jajanan. Kesepian dan terabaikan. Di mana keindahan masa kecilnya? Bukankah itu kewajiban seorang ibu? Memastikan kebahagiaan anaknya?


Namun, yang dilakukan wanita menyedihkan itu malah membuang sang anak menjadi tahanan eksperimen. Melalui banyak sakit dan jeritan yang tiada habisnya. The Golden Bird membesarkannya dengan segala macam rupa percobaan. Tidak ada kasih sayang. Ades kecil dipaksa memikirkan cara untuk bertahan hidup. Hingga akhirnya mampu menapak di atas dua kakinya sendiri. Sebagai Yuriko—sebagai Oiran ternama; mengesampingkan tubuh hasil modifikasinya, ia dicintai banyak orang; pun telah membahagiakan banyak orang.


Tanpa sosok ibu melekat di kisahnya.


Dengan begitu, masih perlukah wanita itu ada di dunia ini?


Dengar-dengar, sekarang ia menyambung hidup dengan bekerja di sebuah panti jompo—menjadi pengasuh di sana. Lucu sekali. Orang yang tak pernah peduli pada anaknya sendiri bisa merawat orang lain yang bukan siapa-siapanya. Ades rasa orang ini lebih cocok jadi komedian.


Komedian yang dilempari bebatuan.


Ah, astaga…. Mohon maafkan pikiran Ades yang lancang. Wanita penghibur yang cantik jelita ini hanya sedang sedikit tak enak hati. Tidak perlu khawatir, Tuan, Puan. Tak lama lagi dirinya akan segera kembali menjadi perempuan penuh kasih berhati lembut yang kalian kenal. Ia hanya perlu melakukan sesuatu sejenaaak saja.


Gepokan uang dalam koper disodorkan pria berjas kepada seseorang di hadapan sang wanita. Ades terkekeh melihat reaksinya yang menganga lebar-lebar. “Katakan saja kalau masih kurang untuk membeli panti jompo ini. Saya bisa langsung meminta mereka bawakan cash lagi,” katanya. “Kalau Anda mau pelayanan spesial sebagai biaya tambahan… saya juga tidak keberatan.”


Siapa yang bisa menolak pesona dan rayuan sang diva Asmodeus? Ditambah sokongan uang serta kecerdikannya, laba-laba beracun itu berhasil menjerat kaki si serangga tanpa mangsa itu sempat sadari. Yang jelas, panti jompo ini sudah menjadi miliknya. Apa yang terjadi di dalam sana adalah atas kehendaknya.


“Sekarang waktunya menjalankan tugasmu, Ibu. Untuk membahagiakan buah hatimu.” Seringai lebar tersungging kala manik ungunya melihat seorang wanita dalam seragam yayasannya.


***


Uang menjadi penggerak paling licin untuk manusia. Kasih saja mereka sekian nominal, kepala-kepala itu akan tunduk di bawah kakinya.


Ades memperhatikan dari kejauhan. Bagaimana sosok itu mulai sering mengerutkan kening karena keanehan di sekitar. Porsi makan berkurang drastis; sikap rekan kerja berubah terhadapnya—seperti mengucilkannya, bahkan memusuhinya tanpa alasan jelas. Keseharian yang semula damai mendadak terasa seperti neraka. Tidak ada kenyamanan lagi yang tersisa.


Meski begitu sang ibu juga tak bisa pergi kemana-mana. Dia tinggal di sini bersama beberapa pekerja lain. Mereka tinggal di satu atap mes yang sama. Mencari kontrakan sendiri yang murah dengan gaji yang tak seberapa bukan pilihan bijak. Mau tak mau harus menetap sambil makan hati setiap harinya—yang perlahan mulai berpengaruh ke kondisi psikis si ibu.


Kesehatannya pun mulai menurun. Selama beberapa tahun ini si laba-laba sudah menjeratnya di dalam kepompong. Sedikit demi sedikit sari kehidupannya disedot habis. sampai yang tersisa hanya tubuh kering kurang nutrisi—ringkih, menunggu ajal menghampiri.


“Kasihan sekali. Bahkan di masa terakhir hidupmu ini, tidak ada seorang pun yang mau peduli.”


Ades sengaja datang ketika nyawa wanita itu sudah benar-benar berada di ujung tanduk. Napasnya sudah pendek-pendek. Mukanya pucat pasi. Matanya mengerling lemah, melihat Ades dengan tatapan memelas.


Ades mendekat seraya mengeluarkan sesuatu dari balik gaunnya. “Terimalah hadiah terakhir untukku. Lebih baik kau menganggapnya sebagai kebaikan hatiku, karena setelah semua yang terjadi… aku satu-satunya yang mau menemuimu, Ibu.”


Sebuah jarum suntik tahu-tahu menancap di leher si wanita. Cairan keunguan masuk ke pembuluh darah, dan dengan cepat memberi reaksi mengerikan pada tubuh wanita tua itu. Ia mendadak mengejang-ngejang, kaku, lalu matanya membelalak lebar-lebar. Mulutnya terbuka, mengeluarkan suara parau yang di telinga Ades sudah seperti alunan melodi yang paling merdu.


“Haah….” Ades menghela bahagia seraya melenggang keluar. Akhirnya.


Selesai sudah.


Lembaran-lembaran berkas dan surat dirobek menjadi dua. Beterbangan di atas kepala Ades yang tersenyum puas.


Mereka sudah benar-benar hilang. Dua iblis—dua hama dari masa lalunya akhirnya lenyap tak bersisa. Tidak akan ada lagi orang mengingat nama mereka. Takkan ada satu pun jejak kehidupan dari si ayah-ibu yang tertinggal di sudut kota mana pun. Menghilang, Semua menghilang tanpa jejak. Sekarang mereka bak tidak pernah ada di alam dunia ini.


Sekarang di riwayat keluarga Ades hanya ada dirinya seorang. Seolah-olah wanita dambaan segala pria ini lahir jatuh dari langit. Diturunkan malaikat, atau mungkin lahir dari bunga-bunga yang baru mekar.


Tapi, toh, siapa juga yang akan peduli.


Yang mereka pikirkan hanya kenikmatan dan keindahan fana. Ades punya itu semua. Kecantikannya, kepintarannya—senjata pamungkasnya.


Tidak ada yang akan bisa menghalangi jalannya sebagai sang Asmodeus sekarang.


– fin –





Commission Story Written by Shikanoo on Carrd

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page