top of page

All Things Tempered by The Sun - chapter 3

  • Melty Eruru
  • Nov 22, 2024
  • 7 min read

Updated: Jul 16, 2025



Babak ketiga : Pas de deux – Sugarplum fairy dance

✦ Mona


“Keberuntunganmu selalu paling tinggi, gremlin pink centil. Jadi selamat. Kapan kepala Ephraim kau bawa? Aku sudah lelah hanya bisa memotong sayur dan daging di dapur.”


Ia bersungut-sungut kesal padaku malam hari setelah Ephraim menantangnya dalam duet balet. Apalagi ruang latihannya, studio tari milik klub dansa, tidak memiliki sudut mati. Levi tidak bisa mencekik Ephraim, walau tiap malam selama sepuluh hari sampai acara puncak malam musim panas St.Nikolai, mereka berlatih tari balet dalam pas de deux, sebuah gerak pasangan yang dilakukan pria dan wanita dalam satu lakon cerita. Kau bisa bayangkan betapa kesalnya Levi berada dekat, kulit saling menyentuh, tangan saling terhubung, tapi tak mampu menuntaskan misinya.


“SEPULUH HARI! AKU BISA GILA!”


“Kau sudah gila.” Kukunyah permen lolipop sebagai ganti rokok, dan berjongkok di bawah pohon Ek besar yang menyembunyikan kami dari mata kamera pengawas. “Kita semua gila karena mau saja menerima perintah absurd Feruci hanya karena dia tertarik dengan bayaran kliennya. Sialnya, aku lebih gila lagi karena mau saja menurut jadi suster kuper.” Kulambaikan tangan enggan pada Levi. Gore memberitahuku, ada klinik rahasia di bawah ruang misa, yang bahkan staf tertua di sekolah ini tidak tahu. Hanya beberapa orang dari luar, para sponsor, dan beberapa keluarga kuno yang satu lingkar pertemanan dengan Whitecraft yang mampu mengaksesnya.


Aku berusaha mengawasi dan mengekor selayaknya bayang-bayang saat para sponsor datang, tapi Whitecraft seperti seekor belut sawah. Licin dan sangat hati-hati pada perubahan sekecil apa pun di jalan menuju ruang itu. Ketika Levi mengajak tidur Tuomas Vanska, aku memiliki kesempatan mengobrak-abrik kamarnya, dan hanya menemukan jurnal kelewat usang, yang penuh tulisan simbol aneh. Kukirim foto isi jurnal itu pada Gore, hanya untuk mendapat balasan, itu bahasa gibberish paling sulit dan masih belum banyak yang mampu menganggapnya sebagai bahasa betulan. Karena itu bahasa para malaikat katanya. Seperti bahasa kultus gereja fanatik eksentrik yang sama sekali tidak diakui orang Katolik. 


“Jadi sebuah buku diari berisi bahasa hoax para malaikat disimpan sangat hati-hati dan terus diisi sampai ke detail foto Levi dan beberapa murid nakal lain, Gore kita menemukan kunci menuju klinik itu, dan kuncinya bahasa karangan orang mabuk? Aku yang gila atau memang seseorang tengah menuntunku berputar-putar putus asa di sekolah keparat ini?” “Kalau kau benar-benar tertarik dengan bahasa itu, curi saja jurnalnya dan taruh di tempat sampah dapur kantin staf, orang-orangku akan mengambilnya untuk kupecahkan tiap katanya. Er... kurasa kau harus keluar sekarang Mammon, Tuomas kembali agak cepat malam ini. Levi bilang ia pingsan setengah jam setelah sesi ‘hukuman’ dengan pak guru teladan kita.”


“Roger!”


Sialnya, aku melewatkan kesempatan emas itu. Tuomas mengalami kecelakaan setelah menyodomi Levi sampai pingsan di hotel, kamarnya dibersihkan oleh staf untuk diisi guru baru, dan seluruh barangnya menghilang.


Nyaris semua sih. Aku kembali ke kamar Tuomas tepat sebelum guru baru datang mengisinya sebagai suster yang diberi tanggung jawab memasang alas tidur baru. Di balik busa kasur milik Tuomas, kutemukan secarik kertas ukuran foto 4x6, berwarna hitam dengan simbol ditulis spidol putih. Bukan pentagram atau hexagram sihir, tapi mirip, dan dibalik simbol itu, tertulis nama Levi, beserta kata-kata, kandidat kuat, tubuhnya tahan perlakuan ekstrem.




Satu jam setelah aku mengirim temuanku, Gore bilang Feruci menitipkan amunisi tambahan dalam paket kudapan. Betapa bahagianya hatiku kembali dipersatukan dengan pisau-pisau dan senjata api kesayanganku. Malam ini aku akan melepas rindu bersama mereka, sampai Levi bisa masuk dalam klinik bawah ruang misa. Sepuluh hari tidak lama, selama kekasih-kekasihku yang dingin dan tajam ini menemaniku merengkuh kenikmatan duniawi.


Gore juga menyampaikan pesan Feruci padaku, “Iblis memiliki teritori masing-masing. Sigil itu seharusnya tidak ada di tempat suci. Tetap berhati-hati, Ades bilang ini misi yang tidak normal. Insting puan racun sekaligus maharaniku tak pernah salah. Jika salah satu dari kalian berdua terancam, kabari Gore secepatnya.”


Kubaca pesannya sambil lalu, tanganku terlalu sibuk memilah senjata mana saja yang akan kugunakan sebagai finale sempurna dari sebuah pertunjukan besar. Ah... rasa ini, kerinduan pada kekasih besiku, oh, mereka juga merindukanku pasti. Sedikit lagi aku sampai pada puncak, sebentar, aku bisa bermandikan darah orang-orang membosankan dan kelewat naif ini, sebentar lagi, aku bisa lebih banyak menyetubuhi senjata mereka, dan mengoyak mayat-mayat berseragam suster dan pastor, para pelayan Tuhan yang sebenarnya melayani orang-orang kaya berkedok filantropis. Membayangkan detik-detik terakhir mereka ditanganku, usus terburai, mata melotot, mulut penuh darah dan terkencing-kencing membuatku ekstasi.

“Levi, kuserahkan pancingan menuju ruang misanya padamu. Untuk kecoa-kecoa penghalangnya, akan kulibas sampai nafsuku kembali naik nanti—fufu—ah—tidak ada yang lebih nikmat dari membayangkan kematian korban-korbanmu memang.”


Code name Mammon, siap meratakan St.Nikolai dengan finale merah darah.


***

 

✦ Ephraim


Aku mencintai kesempurnaan. Bunga mawar satu warna tanpa corak lain menodai kelopaknya, putih bersih, tanpa cela, tanpa noda. Aku mencintai keteraturan. Panjang rumput tamanku harus setara, lurus dan rapi. Tidak ada gulma yang mencuat naik, mengotori pemandangan. Sebagai penikmat tari dan drama panggung, aku memilih pertunjukkan yang sempurna, aktor dan aktris panggung bertalenta, gerakan luwes tanpa kesalahan, wajah yang penuh ekspresi dan rasa anggun. Hal-hal kecil yang mengganggu tidak-sempurna harus dieliminasi. Mawar yang bercorak cacat, gulma menonjol gigih, dan juga...para aktor dan aktris yang tak lagi bersinar di panggung.


“Anda berdansa sangat indah nona Levitichia.” Kuakui, ia sampai sejauh ini berlatih sepuluh hari, hanya untuk menjaga topeng aktrisnya tidak jatuh di tengah panggung, di tengah lakon seorang Levitichia dari Salem. Ia pantas mendapat apresiasi besar, walau gulma ini mencoba merusak taman mawarku yang sempurna.


Kami melakukan latihan terakhir sebelum tampil di panggung besar musim panas St.Nikolai. Panggungku sunyi senyap. Sengaja kumatikan seluruh kamera di ruang latih, menyisakan cahaya terang lampu studio, kaca dari segala arah, dan tubuh kami berdua, saling memadu gerak dalam pas de deux. Gerakannya halus, lincah, senyum tak pernah lepas dari wajahnya, karena ia sekarang sugarplum fairy dari The Nutcracker. Kuikuti gerakannya, pas de deux ini yang terbaik selama lima tahun terakhirku berada di tengah panggung. “Anda terlalu memuji, tuan Ephraim.” “Oh tidak, aku tidak suka memuji orang yang tak berbakat. Nona, anda memiliki bakat luar biasa, para pengajarku yang setia memuji anda dalam berbagai hal. Sayang, tanaman yang terinfeksi gulma tidak pantas berada di sekolah ini. Nona Leviathan, kau dan kakakmu sebenarnya tengah menari di telapak tanganku.”


Pupil matanya membesar, satu geraknya sedikit kacau, walau ia mencoba meneruskan tari. Ada riak kecil yang terus membesar seperti pusaran badai dalam tubuhnya. “Ah, kukira aku bisa menyelesaikan ini lebih lama.” Cibirnya kesal. “Tak kusangkal, sungguh dewi Fortuna memang memberkahi para pelacur kecil sepertiku yang mengabdi pada keindahan dan kenikmatan duniawi...ah...Anda membuat pekerjaanku lebih mudah, tuan Ephraim.”


Ia melepas topengnya, aktris panggung utamaku tiba-tiba menyeringai lebar. Ia menjentikkan jari lentiknya, dan kaca-kaca ruang latihku pecah, diiringi dengung percikan listrik saat lampu-lampu terang di atas kepalaku meletus.


“Kami yang sebenarnya berdansa di atas tubuhmu tuan Ephraim Whitecraft.”


Kegelapan mengambil alih kesadaranku bersama bisik manisnya, bagai iblis di taman Eden.


***


✦ Levi


Senjata yang dititipkan Feruci pada Mona benar-benar membantu dalam finale kami. Ah, kenikmatan melihat wajah kesakitan, mata terbelalak lebar, melotot begitu kencang hingga aku yakin pembuluh darah di bola mata biru pucat itu meletup, mulutnya penuh darah hingga tersedak, tak mampu meminta tolong. Kostum putih gadingnya sebagai The Nutcracker dalam pas de deux kami kini berwarna merah terang, basah oleh darahnya, saat jemari lentikku mengoyak pembuluh darah di lehernya dengan pisau Swiss warna merah jambu manis, bukan senjata terbaikku, tapi untuk misi nekat seperti ini, Feruci nampaknya ingin bilang kami harus pergi lebih cepat. Sial, kalau mau ambil tangan Ephraim aku butuh lebih dari sekedar pisau Swiss.


Tubuh Ephraim masih bergerak, refleksnya bagus untuk orang yang akan meninggal. Ia hanya terus terbatuk sambil sia-sia menahan luka lehernya. Kutusuk lagi leher kanannya, mengoyak lubang lukanya semakin menganga lebar, darah yang memancar semakin mewarnai studio latih, ah, kalau Mona lihat ini, pasti perasaannya jauh lebih baik.


“Oh iya, Mona harusnya punya gergaji kan.” Segera kuhubungi kakak tersayangku, wanita gila yang lebih mencintai bilah besi tajam senjata dibanding manusia. Puan seribu senjata kami tercinta. “Mona, misi berhasil. Feruci menginginkan kita pergi lebih cepat—tunggu kenapa kau tertawa?” Mona di seberang seolah tengah berada dalam trance, apa ia minum halusinogen? “Tidak, aku tidak ingin pergi dari tempat ini, tanpa mewarnai ulang tiap dindingnya dengan merah darah gadis-gadis murni, dan para pengajar kolot yang selalu mengucap nama Tuhan saat bergosip di dapur. Kau memperoleh kesenanganmu selama menjadi pemain depan Levi, kini aku ingin memperoleh kesenanganku juga. Sudah lama—lama—lama—lama sekali sejak aku memegang pisau betulan. Mengoyak daging manusia betulan, menggorok leher manusia, bukan ikan atau ayam. Sampai tiap nyawa di St.Nikolai tercabut malam ini, aku tidak akan pergi!”


“Mona?! Misi kita hanya satu orang. Membantai sebanyak ini secara babi buta, kau jadi babi betulan?! Mona! Feruci bilang satu nyawa! Kau pikir Gore mau lembur untuk menutupi insiden St.Nikolai hanya karena kau sedang sange?!” Ia hanya membalasnya dengan tawa, bersama dengan suara teriakan korban-korbannya memohon ampun, mengucap segala hal agar Mona mau berbaik hati tidak mengoyak tubuh mereka. “Mona, aku hanya butuh pinjam gergajimu untuk mengambil oleh-oleh dan hadiah utama kita! Jalang lacur gila! Sialan! Apa ia tidak sengaja makan jamur tahi sapi?!” Kulampiaskan kekesalanku dengan menarik tangan kaku Ephraim hingga tulangnya lepas. Aku butuh tangannya, tapi tingkah Mona membuatku marah besar, dan tangan indah Ephraim jadi sasaran empukku sekarang. Jari-jari dan sendi dua tangannya tak berbentuk sekarang. Menyebalkan! Aku harusnya mengoleksi tangannya. Sekarang hanya Gore yang cuan besar dengan kepala Ephraim masih utuh.


“Gore, aku butuh rencana baru, Mona kesurupan senjatanya. Entahlah-dia jadi lebih gila dari biasanya. Sepuluh kali lipat lebih jalang dari Mona yang kita kena—halo?” Entah kenapa sinyal handphone-ku mendadak jelek, padahal ini sudah dari satelit pribadi Gore agar komunikasi kami tak terlacak pihak luar, baik polisi maupun pembunuh lain yang merasa terancam akan bisnis sukses keluarga kami. Suara nyaring frekuensi tinggi melengking hebat dari gawaiku. Bulu kudukku merinding seketika. Insting bertahan hidupku menjerit, memintaku menoleh ke belakang, mataku fokus pada mayat Ephraim, yang seharusnya berada di lantai. “Tidak mungkin...Aku, aku sudah membunuh...” Suaraku makin lirih, tercekat oleh rasa takut yang tak dapat kujelaskan. Ketakutan pada hal—bukan—kekuatan yang berbeda. Rasa takut seekor hewan yang tengah terkunci pemangsanya. Rasa ini harusnya tak ada pada seorang Leviathan, seorang Levi, aku adalah pembunuh, piramida predator paling puncak—tapi—tapi—insting—tubuhku—tidak bisa berbohong—gemetar ini, ketakutan ini, keinginan berlari di balik punggung Ades sangat kencang. Hanya karena mayat Ephraim tidak lagi terbujur kaku.  


“Nona, bukankah sudah kukatakan, kalian menari di atas telapak tanganku?”


Jari-jari Ephraim yang patah berderak derak, menyentuh leherku. Sendi tulangnya yang sudah tercabut kembali menyatu, seperti seekor elang, tangannya mencengkeram leherku begitu cepat. “Kau pemain panggung hebat nona Levi, tapi seorang aktris yang profesional tidak boleh mengganti fokusnya di tengah sebuah lakon. Ck,ck,ck...nona, harusnya kau selesaikan balet kita, aku bisa memberi perlakuan lebih lembut, untuk menghormati bahwa kau adalah anak pria itu. Jika aktris berimprovisasi di panggung dari naskah yang absolut, maka aktor pendampingnya harus ikut berimprovisasi juga.”


Tangan kanannya menyentuh bawah pusarku, jari-jarinya merapat,  kuku-kukunya memanjang, dan dengan satu hempasan, perutku terkoyak. Senyum teduhnya terus teroles, mata birunya berkilat-kilat penuh gelora, saat tangan itu bisa menarik-mengoyak-mencabut rahimku dengan kasar. Ingatan tentang Ades berputar di benakku, bersama teriakan kesakitan begitu keras hingga aku yakin pita suaraku ikut putus. Pertemuan pertamaku dengan sang puan laba-laba, ia lebih dari pemilik rumah pelacuran-ia-ia-adalah...


“Ma...ma...aku...mau mama...”



[Bersambung]






Story commission written by Melty Eruru




Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page