top of page

A lot to learn

  • Anindita Alya
  • Dec 4, 2020
  • 18 min read

Updated: Jan 27, 2025

Malam kelam tak berbintang, berbalut tabir gelap awan menghitam. Rembulan separuh mengintip dari sela-sela langit yang tidak tertutup tabir. Sedikit cahaya lewat menerangi seadanya apapun yang terbaring di permukaan bumi. Termasuk gadis berambut merah panjang yang bangkit dari ranjang megah itu.


“Tch,”

Dia berdecak, laki-laki yang tadi bersamanya di sini sudah sudah menghilang dari ruangan. Entah ke mana dia pergi. Bukan ini tujuannya ke sini. Dia hanya bermain-main saja sebelum menghabisi targetnya itu. Para wanita yang memesannya memang mengatakan laki-laki itu memesona dan ‘ganas’. Lucunya itu justru membuat gadis berambut merah itu semakin bersemangat mengerjakan pesanan ini. Walau memang, dia memanfaatkan sedikit waktunya untuk bersenang-senang terlebih dahulu. Tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu kata-kata para wanita itu benar.


Gadis itu harus mengakui, mereka separuh benar. Laki-laki itu bisa jadi ‘mainan’ yang menarik dan bisa dia datangi setiap rasa bosan dan jenuh melandanya. Akan tetapi, pesanan tetaplah pesanan. Uang lebih penting daripada kesenangan macam ini. Dia bisa mencari yang lainnya jika dia bosan nanti. Yang macam ini seharusnya banyak. Masalahnya hanya saja dia tidak yakin, berapa banyak laki-laki macam ini namun tidak menghadapi ancaman pembunuhan dari mereka yang sudah disakiti.


Gadis itu mengambil belati dan gunting yang dia selipkan di balik pakaian yang sudah ditanggalkannya berjam-jam tadi. Sangat mudah menyembunyikan mereka di balik pakaiannya, lucunya tidak ada yang cukup berhati-hati untuk memeriksanya. Lagipula, mereka yang pikirannya telah dikaburkan nafsu tidak akan sempat memikirkan keamanan mereka. Dia menjulurkan lidah dan menyapukannya pada belati yang berkilat di bawah sinar rembulan itu. Mengecap rasa besi dingin yang begitu nikmat.


Tanpa memerdulikan lagi semua yang sudah dia tanggalkan, dia berjalan ke pintu kamar yang cukup besar itu. Ada dua orang yang menjaga di luar sana. Gadis itu bisa merasakannya, dia bisa mencium bau daging mereka. Sembari menyapukan lidah pada bibir merahnya, si rambut merah itu mengetuk pintu dari dalam.


“Ada a..”


Dengan kecepatan bagai iblis, gadis itu menebaskan belatinya pada leher seorang penjaga dengan baju jas dan menusukkannya pada leher penjaga satunya. Menyerang mereka pada leher akan membuat suara mereka terhenti. Mereka berdua ambruk seketika bersimbah darah.


Lampu di luar ruangan itu masih menyala, sebuah koridor agak pendek dengan penerangan cukup terang. Sebelum ada penjaga lain datang, dengan cepat gadis itu meraih saklar untuk mematikan lampu dan menerjang penjaga lain yang lewat di persimpangan koridor.


Dia tidak perlu menanyakan apa-apa pada orang-orang suruhan ini. Biarkan saja mereka terbenam dalam darah mereka sendiri. Gadis itu bisa menerka di mana mangsanya berada sekarang. Dia bisa mencium baunya di salah satu ruangan di bangunan ini. Mungkin tengah tenggelam menikmati tubuh wanita lain.


Gadis itu melanjutkan pergerakannya, menghabisi satu demi satu penjaga di sana. Nyaris tidak ada yang melihatnya bergerak. Kalaupun ada, mereka hanya tersentak sesaat dengan penampilan gadis itu sebelum nyawa mereka dicabut. Dasar laki-laki.


Ada yang bilang seharusnya pekerjaan seperti ini tidak perlu mengambil banyak korban, tapi gadis dengan rambut bagai darah itu tidak peduli. Makin banyak yang bisa dia siksa dan buat bersimbah darah, lebih bagus. Anggap saja mereka seperti kudapan ringan sebelum hidangan utama. Lagipula, kalau semua dihabisi maka tidak akan ada saksi. Bukankah itu seharusnya lebih baik?


Dia mematikan lampu di sebuah koridor dan berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu megah. Kedua penjaga di sana tergeletak tidak bergerak. Dengan lembut, dia mengetuk pintu kamar itu.


“Siapa?”


“Aku.”


“Oh Sara,” Terdengar langkah kaki laki-laki itu dari dalam ruangan. “Kenapa? Kau masih belum puas dengan..”


Gadis itu menendangnya ketika pintu terbuka. Membuat laki-laki itu terguling di lantai marmer.


“Sara, apa yang kau.. Penjaga, di mana penjaga?” Erang laki-laki itu sambil berusaha bangkit.


“Tentu saja mati,” Kata Gadis itu tenang sembari menendang keras laki-laki itu. Mementalkannya ke tembok di bawah jendela besar.

“Sara, ada apa ini? Kenapa kau seperti itu?” Laki-laki itu bersandar terduduk, tak bisa bergerak. Matanya tercengang melihat tubuh gadis berambut merah itu tersinari cahaya rembulan dari luar, tubuh yang hanya terbalut darah.


“Aku hanya ‘mandi’ setelah mengotori diriku denganmu tadi,” Gadis itu tersenyum lebar, matanya berkilat licik.


“Sara ini tidak lucu,” Laki-laki itu berkata dengan panik.


Gadis itu menjilat darah yang mengotori sisi bibirnya dan berkata dalam tawa. “Aku ini bukan Sara.”


“Lalu sia…”

“Ssssh…” Gadis itu berlutut meletakkan telunjuknya di bibir laki-laki itu. “Namaku Mona, atau juga… Mammon.”


Gadis itu segera mencium bibir laki-laki yang menjadi mangsanya. Bersamaan dengan itu belatinya dihujamkan tepat ke jantung mangsanya. Rasanya, nikmat.


***


Mentari bersinar lemah menembus jendela, menyilaukan mata Mona yang seharusnya tertutup. Menyebalkan. Aneh rasanya benda yang begitu lemah bisa meninggalkan jejak menembus kelopak matanya. Mona mengusap matanya, berandai siapa yang telah begitu kurang ajar membuka tirai jendela.


Melihat bukan hanya tirai, namun juga kaca jendela yang terbuka, dia teringat bahwa dirinya lah yang melakukan itu. Dia masuk kamarnya melalui jendela karena pintu depan sudah dikunci dan Mona kehilangan kunci entah di mana. Mungkin di pakaiannya, sayangnya benda itu sudah dimusnahkannya. Membawa pulang pakaian yang sempat menginjak tempat itu sama saja dengan meninggalkannya di sana. Seseorang bisa mengendus jejaknya sampai ke sini.


Tadi malam memang menyenangkan, tapi entah mengapa dia merasa agak mengantuk. Tidak seperti biasanya. Targetnya itu pasti meletakkan semacam obat bius atau obat-obat lainnya dalam minumannya. Bau darah yang pekat dan mangsa hidup memang membuat seluruh indera Mona menjadi tajam. Tapi setelah semua itu menjauh dan menghilang, matanya mulai terasa berat. Pantas saja banyak yang melaporkan laki-laki itu.


Mona menutup jendela dan kembali terbaring ke ranjang. Dibalut piyama lembut dan selimut yang menghangatkan tubuhnya dari dinginnya pagi ini. Dia masih mengantuk, tidur adalah keputusan yang sangat tepat. Tidak akan ada yang mampu menggesernya dari tempat ini, bahkan Levi, si sok imut yang menyebalkan itu.


Mona bangkit terduduk di atas ranjangnya. Menepuk wajahnya penuh sesal.


Kuliah. Satu-satunya hal yang bisa menggesernya dari ranjang ini adalah kenyataan bahwa hari ini ada kuliah. Mona tidak mau bolos atau merisikokan dirinya untuk tidak lulus. Mengulang adalah suatu hal yang tidak mengenakkan karena dia harus berlama-lama menjalani hidup di kampus. Kalau dia bisa mengesampingkan beban-beban itu lebih cepat, makan jelas jauh lebih baik. Mona mengerahkan seluruh sisa tenaganya di tengah rasa kantuk ini untuk bersiap-siap.


Dia bergerak menuju tangga untuk turun ke lantai bawah sembari menghindari Beel. Sekilas, tanaman hijau itu memang kelihatan tidak berdaya, tapi Mona tidak mau mengambil risiko. Dulu dia begitu bodoh, atau polos, entah yang mana, untuk lewat dekat-dekat dengan Beel. Tanaman itu mendadak berubah dan membelenggunya. Tanaman macam itu mau ‘melayaninya’? Enak saja. Kalau bentuknya adalah laki-laki tampan, mungkin ceritanya berbeda. Oleh karena itu, dia menodongkan pistolnya penuh ancam pada tanaman itu sembari melewatinya. Makhluk itu tidak bergerak. Sayang sekali, karena ada masanya dia bergerak dan Mona menembakinya tanpa ampun. Jika itu terjadi, Beel tetap selamat dan Mona akhirnya dimarahi. Tapi setidaknya dia puas.


Target senjata Mona beralih pada makhluk lain yang menghalanginya di puncak tangga. Sekilas nampak seperti kucing berbulu oranye. Sekilas. Karena kupingnya yang terlalu panjang menunjukkan hal itu salah. Dia memandang Mona dengan mata membesar seolah seperti kucing imut menggemaskan.


“Kalau kau mau berkelahi,” Mona tersenyum sinis, bersiap menarik pelatuk. “Lebih baik kau tunjukkan bentuk aslimu.”


Kucing itu mendadak menyeringai lebar memamerkan taring-taringnya. Tubuhnya menekuk seolah bersiap menerjang. Mona merasakan hawa membunuh mulai menyebar dari makhluk itu. Mona menjilat bibirnya penuh persiapan.


“Stan, sini,” Seorang bocah laki-laki berambut pirang datang mendekati mereka. Tidak sepenuhnya bocah, dia sudah SMP, tapi ada hal tertentu yang membuat Mona menganggapnya masih bocah. “Aku heran, kau dan Stan memang tidak pernah akur.”


“Aku hanya tidak suka makhluk yang berpura-pura, itu saja,” Mona segera menyembunyikan pistolnya di balik pakaiannya.


“Memangnya kau tidak pernah berpura-pura, Mona?” Tanya si pirang, alias Gore, adiknya. Lebih tepatnya adik angkat. Lagipula mana ada di antara mereka yang tidak diangkat. Bahkan perkawinan dua orang itu bisa dipertanyakan ke-sah-annya.


“Aku ini selalu jujur, lagipula….” Mona tersenyum, matanya berkilat licik menunggu Gore lewat disampingnya.


“Lagipula?”


Mona menarik Gore dan menghempaskannya ke tembok. Dengan cepat dia menahan tubuh Gore dengan satu tangan dan mendekatkan wajahnya sambil berkata dengan sangat menggoda, “Sudah kukatakan berulang kali, Gore…” Mona membelai pipi Gore dan mendekatkan bibir mereka, dengan sengaja memberatkan napasnya. “... Panggil aku kakak. Hmm, adikku sayaaang?”


Gore menggeram dan meronta berusaha melepaskan diri. Dia menggemaskan juga kalau seperti itu. Mona menghembuskan napasnya perlahan menyusuri pipi dan kuping Gore, “Kau tahu? Kakakmu ini bisa memuaskanmu melebihi kepala-kepala itu..”


“Maniak,” Gore menggeram namun terkekeh. Entah kesal, takut, atau tertawa. Namun Mona melepaskan Gore, bercandanya cukup sampai di sini saja. Untuk saat ini.


“Hei, memangnya siapa yang memenuhi kamarnya dengan koleksi kepala?” Mona tersenyum sinis pada Gore yang bergerak menuruni tangga.


“Setidaknya aku tidak mengobral tubuhku,” Balas Gore sinis.


“Dasar bocah, kau hanya belum merasakan kenikmatannya saja,” Mona menjilat bibirnya sendiri. “Lagipula kau bahkan tidak tahu bedanya antara mereka yang mengobral…..dan yang menjadi ‘ratu’.”


“Apapun itu…”


***


“Kau masih harus belajar banyak, Mona,” Seorang wanita dewasa berambut keunguan panjang terdengar mengomentarinya saat Mona mencapai meja makan.


“Ha?” Mona acuh tidak acuh mengambil roti dan menuangkan kopi. Entah mengapa dia tidak terlalu tertarik menelan apapun yang disiapkan Levi pagi ini. Mungkin efek obat semalam.


“Tingkahmu sudah masuk berita pagi,” Lanjut seorang wanita yang juga ibu angkatnya itu dengan sinis.


“Hei, hei, sudah, Ades, setiap orang punya gaya mereka masing-masing,” Sela seorang laki-laki berambut biru dengan pakaian rapi. “Benar kan, Mona?” Dia mengedip menggoda pada Mona yang langsung bergidik geli. Dia harusnya tahu diri sedikit jika tujuannya adalah untuk menggoda Mona dengan kedipannya. Kecuali memang jika tingkahnya tanpa dia sadari selalu mengeluarkan kesan seperti itu.


“Kau terlalu memanjakannya Feruci,” Desis Ades pada kepala keluarga ini. Dia kemudian melirik dingin pada Mona, “Kau meninggalkan terlalu banyak jejak dengan cara macam itu.”


“Tidak ada saksi mata kan, Ibu?” Jawab Mona sinis.


“Hanya orang bodoh yang tidak menduga ada sesuatu yang aneh melihat tumpukan mayat macam itu,” Balas ibu angkatnya tidak kalah sinis.


Mona berpikir sejenak, mungkin itu ada benarnya. Mungkin juga tidak. “Baiklah, lain kali kubakar habis bangunannya. Tidak ada bukti kan? Pasti disangka kebakaran,” Mona mengangkat bahunya tidak peduli, juga mencibir. “Mungkin karena korsleting atau semacamnya.”


“Jangan mencibir padaku, Anak Muda,” Ades mendesis, namun raut wajahnya berubah menjadi manis. Ini tanda bahaya. “Itu justru membuatnya makin jelas, kau harus lebih hati-hati dan belajar banyak.”


“Maaf ya,” Mona menyeringai. “Aku tidak mengambil pelajaran dari seseorang yang selalu gagal membunuh target yang bahkan selalu berbagi ranjang denganya.”


“Oooh,” Ades menaikkan sebelah alisnya. Nada suaranya berubah manis sekali.


Mona berkelit ketika pisau makan mendadak melayang ke arahnya. Dengan segera dia menarik pistolnya dan menembakkannya pada Ades. Kali ini sebuah garpu melayang tanpa ampun, namun Mona lebih siap dan menghentikan garpu itu dengan satu tembakan cepat. Dia pun membalas melemparkan pisau makannya.


“Cukup. Sampai. Di sana.” Dengan mudah Feruci menangkap pisau makan yang dileparkan Mona, sambil tersenyum tentunya. Mona dan Ades terdiam. Berkelit menghindari lemparan pisau itu adalah satu hal, namun menangkap pisau yang dilempar macam itu tepat di gagangnya bukanlah hal yang mudah. Mona benci mengakuinya, tapi itu menunjukkan ada jurang besar di antara kemampuan Mona dan ayah angkatnya yang sudah pensiun dari dunia pembunuh bayaran itu. Untuk saat ini, jika dia melerai sebuah perkelahian di rumah ini, maka tidak akan ada yang berani melawan. Jauh di dalam hatinya, mereka semua takut dan mungkin berambisi mengalahkan dia suatu saat nanti.


“Aku rasa ibumu benar,” Feruci tersenyum lebih lebar.


“Dia bukan ibuku,” Sambar Mona acuh tak acuh.


“Kau…”


Feruci menepuk bahu Ades, “.. Baiklah, istriku benar. Kau masih perlu belajar lagi.”


Mona memangkukan kepalanya ke tangannya dengan bosan, sejujurnya dia masih mengantuk. “Lalu kau mau melatihku?”


Feruci menaikkan telunjuknya, “Aku sudah pensiun, anakku sayang.”


“Pembicaraan kita selesai di sini,” Keluh Mona sambil beranjak pergi. Tidak ada gunanya belajar dari Ades. Dia lebih suka menggunakan racun dan semacamnya, mungkin itu lebih cocok untuk Gore. Mona lebih suka menggerakkan tubuhnya dan larut dalam kabut darah. Itu membuatnya merasa jauh lebih hidup dan bergairah. Lagipula itu membuat saat-saat menghabisi targetnya terasa lebih memuaskan dan nikmat.


“Mona, habiskan sarapanmu.”


“Aku mual.”


Tidak ada banyak yang terjadi di kampus hari itu. Hari-hari sama yang membosankan dan berulang. Termasuk beberapa lelaki yang lagi-lagi mencoba memikatnya. Mona menghela napasnya lelah, entah kapan mereka akan belajar atau menyerah. Dia tidak tertarik pada mereka kecuali dia ingin bermain-main, itu saja.


“Haatchih!”


Seorang laki-laki yang sedikit lebih tinggi dari Mona dengan rambut coklat gelap bersin begitu melewatinya. Namanya kalau tidak salah adalah Kreiss, mereka satu angkatan dan satu jurusan. Dia adalah bagian dari sedikit laki-laki yang seolah tidak terpesona Mona. Yang membuat Mona cukup tergelitik adalah bagaimana Mona nyaris tidak pernah melihat Kreiss memandangnya. Lucu, mengingat yang didengar Mona dia bahkan tidak memiliki pasangan. Mona sedikit banyak penasaran, harus dia akui itu. Sepertinya cukup menyenangkan jika bisa membuat orang macam itu bertekuk lutut di hadapannya. Kecuali kalau alasannya seperti itu adalah akibat ketertarikannya ke sesama jenis. Kalau begitu, pasti sangat sulit.


“Kau flu ya?” Tanya teman Kreiss padanya.


“Tidak,” Kreiss menguap sambil terus berjalan. “Alergi mesiu.” Lanjutnya acuh tak acuh. Namun hal itu cukup untuk membuat Mona tersentak curiga.


Mesiu. Itu artinya ada seorang pembunuh bayaran di sekitar sini. Mereka membawa senjata api entah targetnya siapa. Masalahnya si pembunuh bayaran itu pasti pandai sekali menyembunyikan diri mengingat Mona bahkan tidak mampu mencium bau daging mereka. Di koridor ini hanya ada Mona yang berjalan pelan dan dua laki-laki yang baru melewatinya dengan cepat itu. Dan di saat itu Mona teringat dia hari ini membawa pistol yang sempat ditembakkannya dengan kesal pada Stan setelah sarapan tadi pagi.


Mona menatap tajam pada Kreiss sampai dia hilang di belokan di ujung koridor. Ini bahaya. Dia benar alergi atau tidak pada mesiu itu artinya Kreiss sedikit banyak mengetahui bau itu berasal dari Mona. Mungkin itu sebabnya dia tidak pernah memandang Mona. Bisa saja dia mengetahui tingkah Mona. Tapi instingnya memaksa Mona mengakui ada sesuatu yang disembunyikan teman satu angkatannya itu. Instingnya yakin akan hal itu.


Selain tingkah Kreiss. Tidak ada lagi hal menarik yang Mona hadapi hari itu. Dia menghabiskan waktunya sambil diam-diam memeriksa surel di tengah kuliah sore. Berharap ada pesanan baru yang bisa menghilangkan kebosanannya. Namun hal itu tidak kunjung datang sampai kelas nyaris berakhir.


Jantung Mona berdegup kencang penuh antisipasi melihat pesanan yang baru masuk itu. Targetnya kembali laki-laki, dari foto yang dilampirkan tampak wajah yang terlihat berusia sekitar empat puluh tahun. Di foto itu, tampak dia menggunakan kacamata hitam dengan rambut klimis. Latar belakangnya dirahasiakan, kecuali namanya, Roland. Dia bukan orang dari kota ini dan singgah untuk suatu urusan yang tidak disebutkan. Roland juga diberitakan menyewa sebuah penthouse untuk empat hari dimulai dari hari ini.


Jumlah yang ditawarkan cukup tinggi. Itu berarti orang ini sangat penting, mungkin di dunia hitam. Bisa jadi dia adalah mafia. Hal itu juga menandakan bahwa penjagaannya bisa jadi cukup ketat. Selain itu jeda waktu yang sempit itu terasa sangat mendadak dan terburu-buru. Ada yang tidak beres di sini. Tawaran itu seolah datang karena rencana awal mereka telah gagal atau semacamnya. Risikonya sangat besar.


Lidah Mona menjilat sebagian dari bibir merahnya yang tersenyum lebar. Jantungnya berdebar-debar penuh semangat dan ketegangan. Begitu nikmat rasanya ketika adrenalin mengalir masuk ke jantungnya. Menarik. Sangat menarik. Misi-misi seperti inilah yang menjadi alasan mengapa dia mengambil profesi macam ini. Misi ini bisa menjadi sangat menegangkan untuknya.


Mona menahan dirinya sedikit sebelum dengan cepat menghilang ke luar tepat setelah kuliah selesai. Dia tidak berniat langsung pulang dan segera bergerak ke lokasi targetnya. Tidak, dia tidak berniat melancarkan misinya malam ini juga, mungkin besok. Tapi bagaimanapun juga dia perlu mengecek lokasi targetnya.


Kliennya tidak menerima telepon dan hanya mau berkomunikasi dengan pesan. Tapi itu bukan hal yang buruk bagi Mona. setidaknya dia cukup cepat dan tepat dalam memberikan informasi. Termasuk lokasi kartu akses tersembunyi yang disediakannya. Mona menggunakan kesempatan itu untuk mengakses satu lantai di bawah lantai yang disewa targetnya. Lantai itu sedang tidak disewa dan Mona cukup bebas memelajarinya karena tidak ada siapa-siapa.


Dari langkah kaki yang terdengar dari lantai di atasnya, tampaknya ada cukup banyak penjaga yang akan berkeliaran di sekitar targetnya. Seru sekali. Masalahnya sekarang, dia memiliki dua pilihan untuk menyergap masuk. Dengan akses ke lantai ini, dia bisa menyergap dari jendela, atau dia bisa datang dari lift. Ada juga masalah lain yang menganggunya. Jantungnya yang berdebar-debar mengantisipasi misi ini mungkin membuatnya perlu mengganti rencana.


Kalau waktu yang diberikan lebih lama, mungkin Mona bisa menyusup dengan berpura-pura jadi wanita penghibur. Masalahnya jeda waktu singkat seperti ini akan menyulitkannya untuk melakukan hal itu. Kalau mau cepat, maka dia harus memiliki relasi dengan germo atau muncikari yang bisa dia bayar untuk menyelundupkannya. Tapi itu artinya dia harus berhubungan dengan orang yang bisa saja menjual atau mengkhianatinya di dalam misi. Dia bisa meminta tolong pada ibu angkatnya, tapi masalahnya dia pasti akan diceramahi ini itu karena Ades tidak terlalu suka modus operandi Mona.


Inilah sebabnya mengapa Mona bekerja sendiri. Dia lebih suka bebas dengan caranya. Mungkin akan menjadi lebih sulit menyelesaikan misinya. Tapi sudahlah, setidaknya dia bisa bebas sesuka hatinya.


Berbeda dengan aksi sebelumnya, malam di kala itu cukup cerah. Bintang bersinar terang bersama rembulan. Sedikit awan yang menggantung di langit tidak sedikitpun berusaha menghalangi sinar bulan yang menyinari wajah cantik Mona. Paras yang kini tersenyum lebar menanti waktu. Pada awalnya, sempat terpikir olehnya untuk langsung melaksanakan pekerjaan itu di hari yang sama dengan saat dia menerima pesanan, namun Mona akhirnya bisa menahan diri dan kembali ke rencana awalnya.


Mona mengambil persenjataannya yang sudah dia sembunyikan di lantai ini. Dua pistol, dua belati, dan satu pedang. Mona meyapukan lidahnya pada sisi tumpul pedang. Sudah lama dia tidak membawa senjata yang satu ini walaupun dia menyukainya. Rasa besi yang melekat pada senjata tajam itu masih senikmat terakhir kali Mona menggunakannya.


Mona memandang dirinya pada cermin. Dia sebenarnya agak enggan membawa pedang ini mengingat pakaian yang seharusnya menggoda ini akan sulit menyembunyikannya. Tapi rasanya hal itu sudah tidak terlalu penting kali ini. Mona sempat mencoba menyelinap dengan berpura-pura menjadi gadis mabuk yang salah lantai. Tapi mereka malah mengantarkannya kembali ke lobi. Mereka memang tampak tergoda tapi entah mengapa mereka ketat sekali menjaga tugasnya. Sial. Makhluk macam apa mereka ini?


Dia tidak peduli lagi. Ya sudah, dia masuk saja ke sana dan menghabisi mereka semua. Lagipula lebih menyenangkan seperti itu.


Mona berjalan ke balkon menutup matanya di bawah sinar lembut rembulan. Menarik napas dalam dia bisa mencium bau darah dan daging mereka. Ada dua orang di balkon di atasnya. Mereka akan menjadi korban pertama. Mona menarik pemicu jarak jauh yang terselip pada pakaiannya. Ketika dia menekannya, seluruh gedung ini menjadi gelap gulita.


“Maaf,” Mona tersenyum menggoda saat dia berhasil memanjat balkon. “Tampaknya saya terlalu mabuk,” Sembari menjilat bibirnya penuh hasrat, Mona berputar memenggal kedua orang itu dalam satu putaran tebasan pedangnya.


Mona menyukainya. Bau darah yang begitu pekat menyembur dari tubuh yang kehilangan kepala itu dan memandikan tubuhnya. Membuatnya jantungnya berdebar semakin kencang, seluruh indranya menajam seolah ingin mencari mangsa lebih banyak lagi. Empat orang di kamar di dalam sana. Satu terbangun dari ranjang begitu terkejut. Dia pasti Roland.


Mona berkelit menghindar sesaat sebelum bunyi tembakan terdengar ditemani bau mesiu yang menghampiri hidung mancungnya. Mona segera menyarungkan pedangnya dan menarik kedua pistol. Namun dia belum bisa menyerang balik. Mereka masih memberondongnya dengan tembakan. Untung saja tembok ini cukup tebal.


Mereka berhenti sesaat, mungkin mengisi ulang. Mona segera berbalik dan dengan tepat menghabisi mereka dalam empat tembakan cepat. Kalau boleh memilih, walaupun dia menyukai bau mesiu, Mona tidak terlalu suka menghabisi orang dengan senjata api. Memang, cepat dan efektif. Namun rasanya jauh kurang personal. Dia tidak bisa merasakan getaran tubuh mereka saat nyawa mereka dicabut.


Roland dan satu orang lagi menghilang. Dia mendengar langkah kaki mereka di luar kamar, beberapa langkah kaki lainnya terdengar mendekati kamar. Mona harus cepat. Dia memang telah memblokade tangga darurat dan menghancurkan sekering listrik utama sehingga lift tidak akan mampu digunakan. Tapi menurut perhitungannya, dalam lima belas menit listrik dari tenaga cadangan akan mulai beroperasi.


Mona merapat ke dinding di samping pintu, dan menebas leher penjaga pertama yang masuk. Dia segera menunduk menghindari tembakan dua penjaga yang masuk kemudian. Dalam keadaan gelap begini, tentu saja sulit bagi mereka menyadari Mona yang merangkak siap menerkam.


Bau mereka, itu saja yang diperlukan Mona untuk menerjang balik dengan tebasan cepat yang melumpuhkan mereka seketika. Mona menerjang ke luar sebelum ada lagi yang berusaha masuk. Dia bisa saja menghabisi mereka satu per satu saat memasuki ruangan, tapi dia tidak melihat keindahan di sana, hanya kebrutalan. Lagipula membiarkan mereka masuk satu per satu justru memberikan mereka peluang untuk menyerang balik. Selain itu, bau darah yang pekat ini semakin mengaburkan pikirannya. Dia harus menjemput mereka semua, meninkmati manis bau darah mereka.


Gadis berambut merah itu berguling menghindari tembakan yang dilepaskan lima orang yang ada di ruang tengah. Mona bergerak di sela-sela mebel di ruang tengah. Cahaya rembulan tidak cukup untuk membuka mata para penjaga untuk lebih awas memerhatikan pergerakannya. Lampu benderang tadi belum lama mati, sehingga mata mereka masih belum terbiasa.


Mona menebaskan pedangnya pada seseorang yang berdiri paling dekat dengan pintu keluar. Dia menjerit keras saat Mona memotong tangannya yang bisa saja dia hadiahkan untuk Levi. Tapi dia malas melakukan itu dan melemparkan tangan itu pada penjaga lainnya yang langsung panik. Memberikan jeda waktu bagi Mona untuk menghabisinya.


Mereka yang berjaga di koridor menuju lift langsung menerjang masuk mendengar raungan rekannya. Jumlahnya sekitar empat orang dan mereka semua membawa senjata api. Mona berkelit menghindar saat tiga orang sisanya dari ruang tengah menembak ke arahnya. Peluru mereka justru menghantam rekan-rekan mereka yang datang membantu, keadaan jadi semakin kacau. Dasar konyol.


Waktu bermain-main sudah cukup. Mona menjilat darah yang telah menghiasi pedangnya dan bergerak cepat di tengah kekacauan. Satu per satu mereka pun akhirnya ambruk dalam tarian pedang Mona.


Mona menyempatkan diri untuk menarik napas dalam mengatur ritme pada tubuhnya lagi. Agak sulit melakukan hal itu di tengah tubuh-tubuh yang berserakan dan lekuk badannya yang kini bermandikan darah mereka. “Payah,” Keluhnya sambil mencicipi noda merah di tangannya. Lagi-lagi dia terperangkap dalam kabut darah dan menghabiskan waktunya untuk bermain-main.


Untungnya dia sudah mempersiapkan diri untuk semua ini. Tidak ada jalan keluar bagi mangsanya itu. Dia kini berada di salah satu kamar di penthouse ini. Mona bisa menciumnya dengan sangat jelas. Dia bergegas, waktu akan habis. Tapi kalau dipikir-pikir, dia yang terjebak di dalam kamar itu tidak akan mampu ke mana-mana juga walau listrik sudah menyala. Karena itu, gadis berambut merah itu mendadak memelankan langkah dan berdendang santai. Bagus juga kalau targetnya mendengar dendang ini. Dia pasti ketakutan setengah mati. Mencabut nyawa mereka yang bergetar ketakuan pasti sangat nikmat rasanya.


Mona membanting pintu dengan keras. Di tengah kegelapan ini, dia melihatnya. Roland terduduk di sudut kamar itu, di sebuah sofa. Walaupun sekilas tampak tenang, namun Mona bisa mendengar deru napasnya yang berusaha menyembunyikan panik.


“Siapa yang menyuruhmu?” Tanya Roland menekan suaranya.


“Tidak tahu,” Mona tersenyum lebar sembari melangkah masuk. “Hal-hal seperti ini bukankah selalu menggunakan nama samaran?”

“Bukankah kau terlalu muda untuk hal ini?”


“Bukan urusanmu.”


Mona menerjang ke depan bersiap menghabisi Roland. Namun dia berhenti dan berputar ke belakang. Dia nyaris saja terkena hantaman sesuatu yang bergerak cepat di rutenya tadi. Mona menoleh ke sebelah kirinya. Seorang laki-laki yang tidak terlalu jelas wajahnya berdiri di dekat Roland. Dia baru teringat bahwa tadi ada dua orang yang lari dari kamar pertama tempat dia menyusup. Anehnya, dia bahkan tidak merasakan keberadaan orang itu di ruangan ini. Ada sesuatu yang tidak beres dengannya.


Mona berkelit saat laki-laki menerjang mengayunkan tangannya. Cambuk. Orang itu menggunakan cambuk sebagai senjatanya. Tapi ada bunyi gemerincing yang agak mencurigakan terdengar. Apapun itu, Mona tidak terlalu peduli. Saat cambuk itu kembali dipecutkan, Mona menyambutnya dengan tebasan cepat. Bahan cambuk tidak akan mampu bertahan melawan pedangnya.


Namun, Mona salah. Itu bukanlah sebuah cambuk, namun rantai besi yang langsung membelit pedangnya. “Cih,” Mona melepaskan pedang kesayangannya itu dan menarik pistolnya. Kalau dia mau bermain dengan jarak jauh, mana Mona akan menemaninya. Sayangnya, rencana Mona kembali gagal. Laki-laki itu mengayunkan tangan satunya yang juga terikat rantai dan menjatuhkan kedua pistol yang baru dibidikkan Mona. Siapa orang ini sebenarnya?


Suara berdengung terdengar, bersamaan dengan itu lampu di kamar gelap itu pun menyala.


“Aku kira kau dengar, saat kukatakan aku ini alergi mesiu,” Laki-laki misterius itu berbicara, namun ruangan yang terang ini telah membuka kedoknya. Mona mengenal orang itu. “Eh, Mona?”


“Kreiss?!”


“Hoo, aku kira gadis pujaan kampus tidak akan tahu nama orang pendiam sepertiku,” Kreiss menyeringai penuh ancam. Kedua kepalan tangannya menggengam rantai. Ternyata begitu caranya bertempur dari tadi.


“Maaf ya,” Mona menarik kedua belatinya, hanya itu senjatanya yang tersisa. Melihat senjata Kreiss tampaknya Mona harus begerak mendekat. “Justru yang acuh tak acuh seperti kau membuat gadis seperti kami bergairah ingin menaklukkanmu.” Tidak sepenuhnya bohong. Dia memang ada sedikit rasa penasaran, namun Mona hanya ingin bermain-main tentunya jika dia benar melakukan hal itu. Hanya saja, cara dia menggunakan rantai sebagai senjata itu ini sangat ‘menarik’ bagi Mona.


“Coba saja kalau bisa,” Kreiss menarikan rantai-rantinya untuk menyerang sementara Mona berkelit secepat yang dia bisa. Untuk sementara dia hanya bisa berkelit akibat kecepatan Kreiss yang tidak bisa dia remehkan.


“Sayang sekali kalau aku harus membunuhmu,” Mona berhasil menemukan celah dan menerjang menusukkan pisaunya. “Padahal, siapa tahu kita bisa ‘bermain-main’?”


“Heh?” Kreiss menangkis tusukan Mona dengan tinjunya yang dililit rantai. Dalam waktu sesingkat itu dia bisa menarik rantainya, tidak buruk. “Maaf yah, aku tidak ada niat membiarkanmu membunuhku atau klienku.”


“Klien?” Mona berputar dan berusakan menusukkan belatinya ke kepala Kreiss. “Kau yakin sedikit uang itu akan mampu menandingi apa yang bisa kuberikan?”


“Hei, hei,” Kreiss menepis tusukan Mona. “Aku harus membayar uang kuliahku.”


“Cih. “


Mona terus berusaha menekan Kreiss, namun rekan satu angkatannya di kampus itu selalu saja mampu menghalangi serbuan Mona. Jantung Mona berdegup kencang saat dirinya mulai dirasuki hasrat membunuh yang kembali menggebu-gebu. Semakin banyak Kreiss menangkis, semakin menggebu pula hasrat membunuh yang dirasakan gadis berambut merah itu. Selain itu, ada satu hal lagi yang membuatnya semakin terbakar.


Kreiss nyaris tidak pernah menyerang balik.


“Ada apa?” Mona menusukkan belatinya bertubi-tubi. “Terlalu lemah untuk menyerang balik, eh, teman sekelas?”


“Hei, hei!” Kreis kembali berhasil menepis dan menangkis seluruh serangan Mona. “Aku tidak tega jika harus memukul wajah cantik dan tubuh seksi itu. Kecuali kalau aku bisa memecutmu sebagai hukuman.”


“Hoo,” Mona mendesah menggoda sambil terus menerjang. “Tidak kusangka kau orang seperti itu. Tampaknya kita memang tidak bisa menilai buku dari sampulnya.”


“Benarkah?” Kreiss masih terus berhasil mempertahankan dirinya. “Entah mengapa aku bisa menebak kau ini seperti apa, dan ternyata benar.”


“Heh, memangnya kenapa kalau begitu?” Mona memutar ke samping dan berusaha menebaskan kedua belatinya. Namun lagi-lagi Kreiss berhasil berkelit. Mona tidak mengerti, tapi tingkah Kreiss yang bahkan tidak berusaha menyerang balik membuat Mona semakin ingin menghabisi dan bermandikan darahnya. Pasti rasanya menyenangkan sekali. Mungkin saja dia merasa terhina atau diremehkan. Tapi entah mengapa dia menikmati semua ini.


Dia begitu menikmati pertempurannya melawan Kreiss. Ini sangat berbeda dengan apa yang telah dia alami selama ini. Semakin lama mereka berdua terkunci dalam aksi menyerang dan bertahan ini, semakin dalam pula Mona tenggelam dalam kabut darah yang menajamkan indranya dan membuat jantungnya berdebar. Persetan dengan Roland. Dia mau bertempur begini terus.


“Arrrgh…”

Roland mengerang. Kreiss dengan segera menepis serangan kedua belati Mona dengan cukup kuat sampai mementalkan kedua senjata itu.


“Tuan Roland,” Kreiss tidak mengacuhkan Mona dan beralih pada kliennya. Namun langkahnya terhenti.


Mona melihatnya juga, Roland mengerang kesakitan memegang lehernya. Busa mulai mengalir dari sisi-sisi bibirnya dan setelah mengejang sekejap, laki-laki targetnya itu tidak bergerak lagi.


Mona tersentak, seluruh hasrat membunuh yang sedari tadi memuncak kini menghilang begitu saja. Habis seolah tersedot kehampaan. Mona sadar, dia telah gagal melakukan misinya. Tapi siapa? Siapa orang lain yang telah mengambil targetnya?


Kau masih harus belajar banyak, Mona


Kata-kata Ades terngiang di benak Mona. Dia tahu benar siapa pelakunya. Racun macam ini, tidak lain pasti ulah dari ibu angkatnya itu. Sial. Mona telah berhasil diperdaya Ades. Entah kapan dia meracuni Roland, yang jelas racunnya itu pasti disengaja agar efeknya aktif setelah cukup lama demi menutupi jejak.


“Payah,” Kreiss mengumpat. “Kalau begini bayaranku bisa dipotong.” Teman sekelasnya itu bergerak menghindari Mona sambil menggerutu, “Sudah, pulang, pulang, bubar.”


Mona berdiri dan memandang heran pada Kreiss, “Kau tidak mau melanjutkan yang tadi?”


Kreiss menggaruk kepalanya kesal, dia mengangkat bahunya dan mencibir. “Maaf ya, aku ini profesional. Kalau klienku mati, ya sudah. Untuk apa berkelahi lagi denganmu?”


“Kalau begitu,” Mona tersenyum licik. Sejujurnya, Mona sedikit kesal dengan misinya yang gagal. Tapi setidaknya dia mau bersenang-senang sedikit. “Bagaimana kalau..” Mona menurunkan sedikit bajunya. “.... kita bersenang-senang dulu?”


“Tidak mau, nanti sedang enak-enak kau malah membunuhku,” Gerutu Kreiss ketus.


Gadis berambut merah itu tersenyum menggoda, “Hei, aku tidak suka bercinta dengan mayat.”


Kreiss menatap Mona kesal, “Iya, tapi setelah itu, waktu aku tidur. Lagipula besok ada kuliah pagi, kau ini ada-ada saja.” Balas rekan satu angkatan Mona di kampus itu sambil mengomel panjang. “Lagipula kau ini mandi darah, amis tau. Ada mayat pula di sini. Kau ini sinting atau apa sih? Anak perempuan zaman sekarang ada-ada saja, kalau mau…”


Mona hanya bisa menatap kosong melihat Kreiss yang pergi begitu saja sambil terus mengomel. Dia bahkan masih bisa mendengar suara Kreiss yang terus mengoceh di ruang tamu. Mona menghantamkan wajah dengan telapak tangannya dan tertawa. Hari ini benar-benar gila. Sudah dia gagal melaksanakan misinya, dia ditolak pula. Bukankah semua laki-laki harusnya sama saja dan mudah dimanipulasi?


Tampaknya benar, dia masih harus banyak belajar.




Writing commission written by Anindita Alya.

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page