top of page

Halloween

  • Saxifraga
  • Oct 30, 2024
  • 11 min read

Updated: Jan 27, 2025




✦ ✦ ✦



Trick or Treat / Gore

 

Hari ini adalah hari libur yang ditunggu-tunggu oleh Gore, sehingga dia yang biasanya tidak bangun lebih awal untuk menyambut liburan, sudah aktif dari malam hanya untuk mempersiapkan.

 

Halloween bukanlah sesuatu yang spesial di tempat mereka tinggal, tapi itu adalah hari bagi Gore untuk memusatkan perhatiannya pada dekorasi rumah mereka.

 

Kastil yang terhimpit dengan ‘dunia modern’ itu selalu saja mengundang tetangga, apalagi pada momen-momen seperti ini. Gore sudah mempersiapkan segala hal spesial untuk dekorasi Halloween dan mulai menjejerkannya di antero rumah, satu persatu.

 

Pertama, koleksi-koleksi kepala. Kepala-kepala yang indah itu sudah dia hias juga sesuai dengan tema Halloween, dengan segala jenis make-up yang dia sempat lihat di berbagai sumber. Ada yang menurut Gore lucu, matanya sudah tidak ada dan dia tidak bisa mencari mata milik kepala itu, jadi dia ganti matanya dengan mata lain.

 

Setelah menebar kepala dan menggantung beberapa kepala yang menurutnya memang lebih bagus jadi hiasan utama di dipan, Gore menyeret mayat awetan yang kepalanya sudah tidak ada dan menaruh beberapa tubuh yang bagiannya telah terpisah dalam toples-toples bercairan khusus yang menyala dalam gelap. Cairannya kuning, sesuai warna kesukaan Gore.

 

“Nah, sekarang mereka yang datang tidak perlu lampu!” Gore lalu berpangku tangan. “Semoga Levi nggak tertarik untuk tiba-tiba ambil tangan dari sini, aku sudah capek-capek menjahit bagian tubuh mereka.” Belum selesai mendekorasi, Gore mendengar suara mengeong dari wilayah kamarnya. Stan sepertinya minta makan. Kucing itu sudah mulai turun,tampak tidak terganggu dengan bagian rumah yang sudah disulap menjadi nuansa Halloween…… yang sama sekali tidak mencerminkan Halloween, padahal. Bukan labu, bukan tulisan trick or treat. Gore tidak akan sadar kalau dia sudah membuat rumah hantu mereka semakin mistis.

 

“Ahh, maaf aku lupa! Tunggu!”

 

Tak disangka Gore, baru saja ditinggal sebentar untuk sekedar mengisi kotak makanan kucing, membelai kucing rumah mereka, lalu memastikan tanaman keluarga mereka cukup air, Gore sudah mendengar suara teriakan pilu dari depan rumah.

 

Gore menoleh ke arah pintu, dia yang sibuk di dapur masih berlutut di hadapan Stan, sementara Stan yang asyik makan tidak peduli suara-suara itu.

 

“Ini ‘kan belum malam, apa karena mereka tertarik dengan kepala menyala yang aku taruh di lobi?”

 

Rumah mereka, Rumah Dosa, memang selalu menarik perhatian orang yang lewat, apalagi mungkin karena ini momen spesial. Mereka toh tidak pernah menulis atau menyatakan rumah mereka terbuka untuk umum, tapi siapa saja yang penasaran sudah menjadikan rumah mereka lahan untuk uji nyali atau jurit malam.

 

Gore meninggalkan Stan, bergegas untuk melihat dipan dan menemukan beberapa orang tergeletak dengan mulut berbusa. Mereka remaja tanggung yang kira-kira seumuran dirinya. Gore tak kuasa garuk-garuk kepala, bingung karena hiasannya belum selesai dan dia tidak mau mengurusi mereka.

 

“Hei, Trick or Treat?” Gore berjongkok di dekat mereka, mencoba menggoyangkan badan orang-orang pingsan itu yang tidak merespon.

 

“Kalian sudah mampir kok nggak sebut itu? Padahal aku sudah berencana memberi kalian soket mata kalau kalian minta Trick.

 

… Ah, sudahlah, abaikan saja mereka selama Gore menyelesaikan dekorasinya, peduli apa! Toh, nanti juga ada lebih banyak orang datang!

 

Dia melangkahi tubuh orang-orang itu dengan abai, masih menjejer koleksinya dari kepala besar hingga kepala kecil. Hingga akhirnya dia sadar ada yang kurang.

“Sial, aku kelupaan cari ‘cat’ darah.” imbuh Gore. Dia mengutuk ketika melihat lantai yang kurang hiasan. Dia yang lebih suka mengawetkan tidak pernah punya stok darah segar. Kurang menarik kalau belum ada tetes darah segar! “Hahh, terpaksa aku harus keluar.”

 

Gore pun meninggalkan rumah, sedikit enggan karena merasa dia belum mengeluarkan semua kepala-kepala bagusnya untuk mewarnai rumah. Dekorasi rumah sudah kurang lebih jadi, ditambah dengan orang luar penasaran yang terus bertambah karena pingsan atau syok melihat hiasan Halloween Rumah Dosa.

 

 

 ✦ ✦ ✦



Spell or Quell / Levi


Belum tengah hari, tapi rasanya Levi sudah mendengarkan suara gaduh dari luar kamar.

 

Memang, karena hari ini libur (dan Halloween!) Levi sudah berencana keluar rumah dari pagi, tapi dia malas untuk turun kasur, jadi dia sekedar mempersiapkan diri sambil sesekali mencuri dengar di luar sana. Levi memilih pakaian paling manis yang dia punya, kaos kaki loreng-loreng, baju terusan berwarna senada, juga pita rambut besar. Tidak lupa dia membawa tas berbentuk labu yang sudah sengaja disiapkan untuk meminta permen.

 

Feruci dan Ades—Ayah dan Ibu biasanya tidak ingin diganggu kalau mereka punya hari libur di tengah-tengah kesibukan seperti ini, jadi Levi berpikiran untuk kembali saja saat sore atau malam kalau sudah keluar.

 

Tapi ini dari tadi suara gaduh apa, sih?

 

Selesai bersolek, Levi akhirnya menjulurkan kepalanya ke arah lorong. Sepi. Dia tidak merasakan keberadaan Ayah dan Ibu, atau bahkan orang lain selain Levi di rumah.

 

Saat berbelok ke arah tangga, Levi mengerjap melihat ada toples-toples kuning berisi kepala manusia. Tidak hanya itu saja, di beberapa belokan dan ujung-ujung jendela, ada berbagai bagian manekin (bukan manekin, padahal, itu manusia betulan yang sudah diawetkan) yang sengaja

diletakkan di sana.

Levi cuma bisa menunjuk satu orang yang sudah melakukan itu.

 

“Gore?” Levi mencari-cari ke seluruh ruangan. Dekorasi miliknya ada, kok orangnya nggak ada?

Hmm, sepertinya dia keluar. Cih, Levi belum sempat untuk mengganggunya.

Atau mungkin mencari sesuatu, terus lupa kembali lagi ke rumah karena menemukan sesuatu yang menarik di tengah jalan. Biasanya dia seperti itu.

 

Levi menatap keadaan rumah. Gore dengan rajin sudah menyulap rumah mereka yang menyeramkan itu (bagi mereka nggak seram sama sekali, sih) dengan berbagai pernak-pernik yang realistis.

 

“Hiasannya cocok, tapi Levi sudah berencana mau keluar rumah,” gumamnya melihat ‘karya’ Gore di sudut-sudut ruangan, juga beberapa ‘tamu’ yang sudah pingsan dengan mulut berbusa di dipan.

 

Wah ada tangan—eh, jangan dulu Levi! Jangan merusak dekorasi yang sudah dibuat Gore! Levi mencubit pipinya ketika dia dihadapkan setengah manusia yang organnya sudah dicabut tapi jarinya dengan rapi Gore manicure. Aduh, godaan!

 

Levi menepuk-nepuk bajunya sebelum sempurna terdistraksi. Ia menggenggam erat tas labunya dengan hati menggebu, lalu segera angkat kaki menuju kota, acuh dengan seonggok manusia yang pingsan.

 

Permen! Dia ingin permen dan benda-benda kecil lainnya!

 


Anak-anak yang jauh lebih muda dari Levi sudah mulai bergerak dari pintu ke pintu di wilayah pemukiman, Levi pun sekedar mengikuti gelagat mereka.

 

Mereka mengetuk pintu dengan sopan, kemudian menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu. Mereka lalu menyebutkan ucapan Trick or Treat dengan senyum merekah dan semburat merah di pipi sambil memperlihatkan tas labu mereka yang entah kosong atau sudah terisi permen hasil mencari dari rumah lain, atau berputar memperlihatkan kostum mereka. Biasanya para pemilik rumah itu sudah mempersiapkan permen dan anak-anak akan bersorak ketika tas mereka diisi hadiah.

 

Ya, Levi tentu bisa menirukan itu dengan benar, tapi setelahnya—

 

“Tuan atau Nyonya, Levi mau ruas jari kalian yang keriput itu! Indah sekali!”

 

BLAM. Seketika pintu sudah tertutup baginya. Mereka lalu berteriak di dalam sana. Levi sekedar menelengkan kepala, kebingungan.

 

“Kok mereka nggak ngasih Levi apa-apa? Ya sudahlah, nanti Levi kembali untuk ambil sendiri~”

 

Levi pun beranjak ke pintu rumah berikutnya. Para anak kecil yang semula berkeliaran saja sudah mengambil langkah seribu sambil menangis saat Levi mulai meminta permen, permen DAN ruas jari.

 

Levi tidak akan kembali ke rumah sebelum tempat labu itu penuh, lihat saja!

 

Trick or Treat! Levi mau permen, atau tangan—”

 

“Tidaaaaak!”


✦ ✦ ✦




Prank or Thank / Mona


“Aku pulang—loh?”

 

Mona terheran-heran dengan kondisi rumah yang sebenarnya tidak mengherankan. Dia yang tiba-tiba ada kelas pagi harus buru-buru ke kampus, tapi tidak disangkanya dia akan kembali ke kastil yang keadaannya sudah serupa perayaan.

 

Manusia-manusia bergelimpangan di dipan, di teras dan di lorong depan rumah, busa keluar dari mulut mereka, atau mereka pucat pasi dan pingsan berdiri karena mendapati kepala-kepala yang digantung menyala warna-warni, atau bagian tubuh yang organnya menjuntai atau kosong sama sekali.

 

Wanita berambut merah itu hanya bisa mengusap wajah. Sempat ingin bersantai karena ada jeda setelah sibuk di kampus pun jadi buyar.

 

“Ini kerjaan Gore pasti,” Mona menggeleng kepala. Dia lalu tidak sengaja tersandung seonggok manusia (hidup, cuma berbusa) yang tergeletak begitu saja mungkin karena menyaksikan karya seni adiknya itu.

 

“Hm, sepertinya dari pagi saja sudah banyak tamu, apa kuteruskan saja, ya?” Mona tiba-tiba mendapat ide. “Kalau tidak salah kiriman mainan baruku harusnya sudah ada di—”

Mainan baru, mungkin karena temanya Halloween, banyak yang menduga mainan yang dimaksud wanita itu adalah benar-benar mainan, bukan sebuah Rocket Propelled Gun yang dulu bagian dari tank, atau set pelontar batu. Mona dengan mata berbinar pun segera memasang jebakan, sambil

menunggu matahari mulai menunggu senja, karena itu artinya akan lebih banyak tamu yang datang.

 

 

“Kamu serius mau ke kastil itu? Katanya angker. Konon beberapa yang tadi sudah mencoba datang pagi saja tidak kembali!” ucap salah satu anggota rombongan remaja gusar ketika lelaki yang menjadi pemimpin barisan sekedar tergelak.

 

Satu kelompok terdiri dari tiga orang yang penasaran dengan rumah ‘hantu’ yang terletak menjulang dari pusat kota itu mengedikkan bahu. “Ah paling cuma akal-akalan Mayor sini saja biar wisatanya laku.”

 

“T-Tapi kalau benar-benar ada setan gimana?” sahut buntut barisan yang sudah gemetaran ketika mereka sampai di penghujung hutan. Kastil sudah terlihat di depan mata.

 

“Tenang saja, aku akan melindungi kalian.” sang kepala barisan tetap sok. Hening menerpa ketika mereka bertiga benar-benar melihat teras depan kastil yang terlihat tak terawat itu.

 

Si tengah dari barisan bergidik. Kakinya terhenti saat melihat apa yang menggantung di depan ‘rumah’. “I—Itu kepala!”

 

“Hmph, paling cuma hiasan. Cuma hiasan!” si pemimpin ngotot. Dia memicingkan mata melihat hiasan realistis itu, terutama dengan bagian mata yang menjuntai layaknya sulur pinata. “Tapi kok kayak hangat ya, kepalanya?”

 

“Selamat datang di Rumah Dosa! Trick or Treat!

 

Belum sempat mereka bertiga bisa memutuskan untuk angkat kaki atau tidak, jendela di dekat mereka sudah dibobol oleh senjata api. Desing peluru berirama menyentuh kaca yang kemudian pecah berserakan, bersama dengan tubuh (prop punya Gore) yang digunakan Mona sengaja

untuk memunculkan efek darah muncrat.

 

Ketiga remaja yang menjadi sasaran air mancur darah dan kepingan daging manusia itu pun pingsan di tempat. Si ketua bahkan sempat pipis di celana.

 

“... Eh?” Mona melirik ke arah jendela yang rusak, dia menggaruk kepala.

 

“Kok sudah pingsan? Ku pikir dari tamu-tamu yang datang, kalian yang paling berani.”

 

Senja menjelang, tiga jendela sudah habis dibolongi SMG. Lalu ada juga kawah di pelataran kastil karena ada yang kabur lalu menyentuh ranjau.

 

Mona tertawa keras, “Ayo, ayo. Siapa lagi yang akan jadi korban berikutnya sebelum Gore atau Levi pulang?”

 

Saking semangatnya, area serangan Mona pun bertambah, sampai dia menyisir radius ratusan meter dari Rumah Dosa, meninggalkan berbagai kawah lainnya.



✦ ✦ ✦



Tragic or Magic / Feruci


Sesungguhnya, Halloween itu momen membosankan bagi Feruci yang sudah terlanjur kelamaan hidup. Walau bisa dibilang semua hal itu membosankan baginya, sih.

 

Halloween tahun ini pun tidak ada bedanya, Feruci menikmati hari liburnya saja karena memang sedang tidak ada pekerjaan yang memaksa atau hal-hal yang perlu dilakukan. Tadinya mungkin dia mau iseng bersih-bersih, atau mungkin nongkrong di salah satu bar-nya sekedar mengetes minuman baru, ah, tapi buat apa? Hari itu rasanya Feruci sukar beringsut dari pelataran rumah, padahal rumahnya sedang sepi. Biasanya dia yang akan sibuk, tapi sepertinya Ades dan tiga anak mereka punya agenda sendiri.

 

Feruci memandang rumah yang sudah cukup … kacau. Ades sepertinya keluar sebentar dan akan membereskan dekorasi yang dibuat dan ditinggalkan Gore begitu saja, atau membereskan mereka yang pingsan karena datang dan ‘disambut hangat’ Mona (kok jendelanya pada hancur, ya? Entahlah). Nanti kalau Ades minta bantuan, mungkin Feruci akan datang, mungkin.

 

Ah, ngapain enaknya, sambil ngemil?

 

Sayangnya, kebanyakan diam berpikir juga membuatnya bosan, akhirnya Feruci pun mencoba mencari sesuatu di rumah untuk menghabiskan waktu.

 

Seingatnya beberapa hari ini rumah mereka kedatangan banyak sekali paket yang sekedar dibuka saja oleh anak-anak, apa itu adalah prank? Feruci mencari-cari di tumpukan di dekat perapian mereka dan menemukan bungkusan berbentuk persegi panjang yang hanya setengah terbuka.

 

Feruci memegang dagunya saat melihat sebuah papan berisi huruf dan sebuah koin emas. Ouija board - begitu nama sang papan bersua.

 

Senyum Feruci pun meruncing. Untungnya ada penangkal bosan. Feruci menggelar ouija board itu di sisi ruang makan, jauh dari jendela yang dirusak oleh Mona. Sinar temaram masuk ke rumah sebagai penerangan, dan dia dengan santai saja mengikuti anjuran menurut papan.

 

Pria itu menekan koin yang kemudian bergerak sendiri di antara huruf-huruf, mengurutkan pertanyaan mistis. Feruci sekedar memasang mimik kaget, padahal dia bisa melihat jelas sosok yang menggerakkan koin itu di hadapannya. Hantu itu sepertinya tidak tahu siapa Feruci, jadi Feruci ikut saja apa maunya dia.

 

Kamu sudah terkutuk. Kamu akan kurasuki. Y/N 

Feruci berusaha menahan senyum. Hantu ini sepertinya sangat muda sekali ketimbang umur asli Feruci yang hanya dia yang tahu. Cara mencoba menakut-nakutinya masih cetek.

 

Si hantu tahu pastinya kalau Feruci berusaha mengarah ke huruf N, si hantu akan segera mengalihkannya ke Y. Jadi, Feruci berpura turut, tapi begitu si hantu sudah mencoba ambil alih, Feruci tertawa.

 

“Eits,” ucapnya. “Kini giliranku bertanya.”

 

Hantu pun terperanjat. Feruci melepas koin itu, berpangku tangan dengan kakinya diangkat sebelah. Matanya menatap sang hantu tajam. “Kamu sudah tidak sopan masuk rumah orang tanpa permisi. Kamu bisa kumusnahkan dalam hitungan detik. Y/N?”

 

Koin itu sempat melayang sedetik, kemudian klotak, jatuh begitu saja ke lantai. Feruci tersenyum tipis, hantu papan keramat tadi hilang dari peradaban, entah takut, entah bersembunyi.

 

“Hmph. Hantu zaman sekarang terlalu muda dan tidak bernyali.”

 

Sayangnya, hari libur Feruci terhenti ketika ada gagak datang dari sisi jendela terbuka. Gagak itu menyampaikan pesan kalau Feruci ditunggu kehadirannya di salah satu bar. Urusan mendadak, ungkapnya.

 

Feruci menyingkirkan papan keramat itu, meninggalkan sebuah pesan untuk istrinya, kemudian segera pergi meninggalkan Rumah Dosa yang kondisinya kacau balau.

 


 ✦ ✦ ✦



Beast or Feast / Ades


Belum Rumah Dosa rasanya kalau dia kembali ke rumah menemukan keadaan sudah cukup … kacau.

Walau sebenarnya rumah mereka itu tidak pernah rapi untuk standar kehidupan ‘manusia biasa’.

 

Ades menggeleng-geleng kepala ketika dia sampai mendapati kondisi rumah yang sudah memakan banyak sekali korban hidup. Jendela pecah akibat peluru. Perabotan rusak oleh jebakan atau oleh manusia yang datang dan berlari tunggang-langgang. Selain itu, manusia yang terluka karena kesalahan mereka sendiri sekedar meregang nyawa saja di sekitar hutan.

Mereka yang pingsan atau tergeletak dengan mulut berbusa malah jadi penambah dekorasi semarak tematik Halloween itu.

 

Ades melirik ke arah ruang makan seraya merapikan satu demi satu kelakuan anaknya, juga mendapati pesan dari Feruci terselip di antara papan mainan dan bongkahan hadiah. Ades membaca pesan itu sekali sebelum menyimpannya untuk dirinya sendiri.

 

Malam sebentar lagi tiba, pikir Ades.

 

Anak-anak mungkin akan pulang ke rumah bila telah waktunya. Ia menerawang mendapati meja makan. Hari itu memang bukanlah perayaan besar atau sesuatu yang megah, tapi Ades terpikirkan untuk memasak sesuatu untuk mereka semua. Pesta kecil nan mendadak bukanlah hal buruk, bukan?

 

Setelah memastikan kondisi rumah sudah cukup kondusif, barulah Ades menuju dapur. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan, sudah ada satu orang yang kembali ke rumah. Ades melirik dari dapur, wanita muda dengan rambut merah menyala yang menyandarkan beberapa peluncur roket datang tergopoh-gopoh ke meja makan.

Sang ibu berulas tersenyum. Mona sekedar nyengir tidak bersalah, seakan lubang besar di taman atau jendela pecah bukan karena ulah mainannya (yang jelas-jelas masih dia pegang). “Hai, Ades.”

 

Ades memijat pelipisnya, “Bisa … kamu jelaskan apa yang sudah terjadi?”

 

“Okeh, aku taruh mainanku dulu ya”

 

“Tumben kamu sadar diri.” kekeh sang ibu. Dia tidak akan pernah memarahi anak-anaknya, kok. Apa pun yang mereka lakukan akan didukung sepenuhnya oleh Ades.

 

 

Bila ada yang mengerti ketiga anak itu dan estetika mereka, walau dekorasi Gore sangat tidak tertata, Ades selalu tahu cara merapikannya. Mona saja sampai terkagum-kagum ketika Ades menggunakan tumpukan toples Gore untuk sekedar menutup jendela atau pintu yang rusak, alih-alih ada sebuah

tower megah di dalam rumah, berisi kepala manusia yang berpendar saat malam semakin gelap.

 

Tidak hanya itu saja, dalam waktu singkat Ades menghadirkan pesta di meja makan. Kudapan manis juga makanan pembuka beraneka ragam yang sedap berjejer menunggu para anak pulang.

 

Gore kembali dengan tas bening berisi darah, sementara Levi puas dengan tas labunya yang sudah berisi permen dan ruas-ruas jari dan kuku. Ades yang puas mendengarkan jawaban Mona tidak lagi mempertanyakan apa yang sudah mereka lakukan hari ini dan meminta mereka semua duduk manis di meja makan.

 

“Ada apa ini?” tanya Levi yang terkagum dan terheran mendapati meja makan mereka layaknya pesta. Ades sudah mulai menuang anggur ke gelasnya sementara Gore sudah khidmat mengisi piring.

 

“Hari ini ada perayaan, bukan?” Ades tersenyum senang. “Ibu mau merayakannya bersama kalian.”

 

Mereka berempat pun makan selayaknya keluarga normal yang tengah bersenang-senang. Wanita itu dengan saksama mendengarkan Levi berceloteh tentang bagaimana dia yang akhirnya mengejar beberapa orang yang tangannya bagus untuk dimintai ruas jari. Atau Gore yang mencoba mengisi kantong darah untuk tambahan hiasan rumah. Mona awalnya kalem, sampai Levi bertanya kenapa lagi-lagi jendela rumah mereka hancur, Mona pun segera bercerita panjang lebar soal mainan barunya.

 

Ades sesekali melirik kursi kosong yang ada di penghujung meja, menyayangkan absennya sang tuan rumah.

 


Setelah perut kenyang dan mereka bertiga puas bercerita, perayaan kecil itu berakhir dengan sunyi. Tinggal tersisa sepotong kue labu yang belum Ades bereskan dari meja makan, dan gelas kosong, juga sebotol anggur mahal yang sengaja Ades keluarkan untuk malam itu.

 

Butuh seharian untuk benar-benar membereskan kekacauan rumah itu, tapi itu masih bisa menunggu besok, batin Ades, yang di relung hatinya masih menunggu.

 

Dingin mengisi jenak, sebelum Ades menyadari kalau sudah ada ‘tamu’ di meja makan mereka saat ia kembali untuk akhirnya mengambil potongan kue labu terakhir itu.

Dengan santai dia menaikkan gelas yang tersedia, senyumnya simpul mendapati Ades dan botol anggur mahalnya.

 

“Apa aku terlambat untuk sekedar menyicip segelas anggur dan makan sepotong kue?”

 

Senyum Ades merekah melihat Feruci mendiami kursinya.

 

Trick or Treat, dear?” ucap Ades saat menuang anggur itu.

 

“Treat.”

 

Di malam yang semakin dalam, pesta untuk mereka berdua baru saja dimulai.

 



Commission Story Written by Saxifraga https://saxifragawrites.carrd.co

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page