top of page

This is Quite A Disaster

  • Jusy
  • May 18, 2024
  • 4 min read

Updated: Feb 7, 2025


Matahari bersinar dengan cerah dan burung-burung berkicau riang ketika wali kelas mereka mengumumkan bahwa sekolah akan mengadakan study tour ke Kota Luton. Sialnya, studi lapangan ini wajib diikuti oleh seluruh murid—membuat Gore sedikit terganggu di dalam sanubari. Sebagai manusia minim kata-kata, study tour ini sudah barang tentu akan mendesaknya guna berinteraksi dengan individu lain.


Baru saja Gore hendak mengutarakan gagasan studi lapangan kepada anggota keluarga, ia dipanggil oleh sang kepala keluarga ke ruang kerja. Sebuah amplop cokelat disodorkan padanya, sehingga Gore merentangkan tangan untuk menerimanya. Di dalam terdapat rincian warta mengenai target baru yang harus ia hapus kehidupannya dari dunia. Gore menarik netranya dari isi amplop dan menghadap lurus kepada sosok di depannya.

 

“Target akan mengadakan konferensi di Kota Wolfgrove pada tanggal 19. Klien ingin target dihabisi tanpa ketahuan dibunuh.”


Ah, waktu yang sama dengan studi lapangan. “Baik.” Lalu Gore pun balik badan sembari membawa amplop cokelat tersebut.


Ia kembali ke kamar dan mengecek instrumen pembunuhannya, memikirkan obat mana yang paling tepat ‘tuk memenuhi permintaan klien kali ini. Dia memindai lembaran informasi mengenai sang target, kemudian memutuskan bahwa mengaburkan pembunuhan sebagai insiden serangan jantung usai melihat rekam jejak medis sang target. Gore mengepak beberapa jarum suntik, pil, dan botol kecil puyer tanpa warna dan tanpa rasa dengan efek meningkatkan tekanan darah.

 

Hari eksekusi misi pun datang. Sial bagi Gore, sisi buruk dari menumpangi transportasi study tour ini adalah kecepatannya yang seumpama siput—bis yang ia kendarai berjalan dengan lambat sebab sering singgah di toko cinderamata maupun spot foto. Tak ayal, Gore gusar bukan main. Pemuda tersebut perlu melancarkan misinya pada pukul 8 malam, akan tetapi bis sekolahnya masih berada di Kota Valen yang berjarak 220 km dari Kota Luton, sementara waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Gore merasakan keningnya mulai berdenyut.

 

Meninjau pro dan kontra, opsi Gore hanya ada dua. Satu: jalankan misi sembari tetap mengikuti study tour bersama seluruh anggota sekolah—yang pastinya sangat menyusahkan—atau, dua: meminta bantuan anggota keluarganya. Membatalkan misi tentu saja bukan termasuk pilihan. Nama keluarganya dipertaruhkan di mata para klien dan relasi yang mereka tenun selama ini.

 

Gore mendecakkan lidah, memutuskan mengambil opsi yang ia benci: meminta bantuan kepada anggota keluarganya. Dengan air muka tak menyenangkan, Gore mengirim pesan kepada Levi—kakak perempuan tanpa ikatan darah—sebab ia ingat Levi bebas tugas dua hari kedepan. Ia mengetik pesan yang menyatakan inti permasalahannya,

 

To: Levi

[17:08] Levi, jadwal misiku bentrok dengan jadwal study tour sekolah. Misi jam 8 malam di

             Kota Wolfgrove, aku masih di Kota Valen. (Dibaca)

 

Levi menjawab hampir seketika, seakan-akan ia memang benar-benar pengangguran.

 

From: Levi

[17:10] Panggil aku ‘kakak’ dong (☆ω☆)

 

Gore mengernyit jijik. Dia tidak pernah memanggil Levi dengan sebutan ‘kakak’ tanpa ada udang di balik batu. Kaomoji yang Levi gunakan juga membuatnya mual—kendati mengetahui ketidaksukaan Gore terhadap hal-hal seperti ini, Levi masih melakukannya seakan ingin mengejek ‘adik laki-laki’-nya tersebut.

 

Ia membutuhkan beberapa menit untuk menjawab.

 

To: Levi

[17:15] Tolong, Kakak.

[17:15] 🖕

 

Di dalam hati, Gore mengumpat najis, najis, najis! berulang kali. Ia bahkan menambahkan emoji terakhir sebagai bentuk protes.

 

From: Levi

[17:16] Jangan text, dong. Pakai voice call ヽ(*⁀ᗢ⁀*) ノ

 

Hoek! Gore kian mual. Di luar masalah kaomoji imut yang Levi gunakan, permintaannya juga sangat kurang ajar. Gore tengah berada di bis, yang ditempati oleh teman-teman sekelasnya, dan Levi dengan seenaknya memintanya untuk menelpon? Harga dirinya terasa diinjak-injak.

 

To: Levi

[17:16] Gak bisa. Ada temanku di sebelahku.

 

From: Levi

[17:17] Kalau gitu pakai voice note, bilang “kakakku yang cantik, baik hati, imut dan paling keren sedunia, tolong aku~” (๑˘︶˘๑)

 

Berang, Gore mengiriminya rentetan pesan teks berisi sumpah serapah. Namun, tidak peduli seberapa banyak kata-kata kasar yang ia kirim ke Levi, tidak menutupi fakta bahwa waktunya terbatas sehingga Gore mau tidak mau harus menuruti permintaan kakaknya yang kurang ajar tersebut. Sialnya, karena Gore tidak terbiasa menggunakan fitur voice note, ia berulang kali melakukan kesalahan sampai-sampai temannya yang duduk di kursi sebelah memperhatikan hal ini.

 

“Kakakku yang cantik, baik hati, imut dan—” Suaranya malah tidak terekam. Gore pun mencoba lagi.

 

“Kakakku yang cantik—” Malah terkirim duluan sebelum Gore menyelesaikan kalimat menjijikkan yang dipinta Levi.

 

“Kakakku yang cantik, baik hati, imut—shit!” Gore tidak sengaja mengklik tombol ke homescreen.

 

“Kakakku yang cantik, baik hati, imut dan paling keren sedunia, tolong aku.” Pada titik ini, Gore sangat ingin menabrakkan dirinya ke depan bus yang mereka tumpangi. Ia akan mengingat penghinaan ini seumur hidup dan membalas Levi suatu hari nanti.

 

Teman di sebelahnya berceletuk, “Gore ternyata kamu sayang kakakmu, ya, haha.” Gore hanya mengangguk sambil mendengus pelan, padahal ia membatin akan membunuh Levi suatu hari nanti.

 

Usai menerima voice note dari Gore, Levi tidak membalas lagi meskipun waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh. Anak laki-laki itu kian gelisah, namun ia tahu betul pasti ada alasannya. Tak lama kemudian, bis mereka berhenti—membuat Gore nyaris mendecakkan lidah karena ia pikir mereka akan berhenti untuk berfoto-foto lagi. Namun dugaannya salah. Salah satu guru memanggil namanya dan Gore keluar dari bis, mendapati dua orang ‘kakak angkat’-nya dan dua orang ajudan sewaan keluarga mereka.

 

Mona membuka bibir, “Maaf atas ketidaknyamanannya, tapi kami pinjam Gore dulu untuk malam ini, ya, Bu Guru. Ada urusan keluarga mendadak yang sangat tidak bisa dihadiri tanpa kehadiran Gore. Nanti Gore akan kami antar langsung ke hotel yang sudah ditentukan oleh sekolah.” Gerak-geriknya sangat halus dan ramah, hampir membuat Gore memutar mata. Andai saja orang lain tahu. Ia tidak banyak cakap, mengambil tasnya dari bis dan mengikuti kedua kakaknya masuk ke mobil Mona.

 

Sedangkan dua pengawal lain menggunakan motor—yang menurut keterangan dari Mona, untuk berjaga-jaga jika terjadi kemacetan, sehingga Gore bisa berganti alat transportasi.

 

Levi mengerling penuh jenaka kepada Gore, matanya seakan-akan dipenuhi kerlipan bintang. “Kamu nggak mau bilang ‘terimakasih kakak’?” Nadanya bahkan diwarnai ejekan.

 

Menjijikkan.” cibir Gore, “suatu saat nanti akan kubunuh kamu.”

 

“Ow, menakutkan sekali~” Levi hanya terkikik.

 

Ia mengalihkan tatapannya kepada Mona yang tengah menyetir, “Kenapa Mona ada di sini juga? Aku cuma minta tolong Levi.”

 

Mona memperbaiki kacamatanya dan menatap Gore lewat kaca dashboard, “Sekalian berlibur.” dan menunjukkan bagasi dengan jempol tangannya. Artinya, mereka akan berada di kota yang sama dengan Gore selama beberapa hari ke depan—yang mana merupakan gagasan buruk. Gore sudah memiliki firasat hari-hari studi lapangannya tidak akan berjalan dengan damai.

 

“Ini semua bencana.” gerutunya, merasakan sakit kepala datang.


Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page