top of page

La Vie en Rose

  • Jusy
  • May 26, 2024
  • 6 min read

Updated: Jan 27, 2025


Suasana kelas yang tadinya riuh dengan suara percakapan dan senda gurau seketika senyap ketika seorang guru masuk bersama sosok yang sudah barang tentu merupakan siswa pindahan. Anak perempuan itu terlihat sangat mencolok dengan pakaian berwarna merah muda, dengan renda dan pita; selayaknya tuan putri dalam cerita dongeng. Rambutnya pirang bergelombang, di-curly dengan hati-hati pada ujung rambut seakan-akan dilakukan oleh penata rambut profesional. Seluruh penampilannya meneriakkan statusnya sebagai putri orang kaya, keberadaan yang secara instan menyita pusat perhatian.

 

Guru di depan kelas membuka mulut, “Anak-anak, mulai hari ini kita kedatangan siswa baru. Perkenalkan dirimu.”

 

Gadis kaya itu tersenyum sangat lebar dan menunjukkan bahasa tubuh yang amat percaya diri, “Halo semua! Perkenalkan namaku Rose Piaf! Aku pindah kemari karena pekerjaan ayahku. Ayo kita semua berteman!”

 

Sejak hari itu, Rose dengan cepat menaiki tangga popularitas. Kehadirannya begitu mencolok membuatnya dengan mudah diingat oleh orang-orang. Kepribadiannya sebelas-dua belas dengan tuan putri sungguhan, benar-benar bagaikan cahaya api yang memikat para ngengat; banyak orang berduyun-duyun berteman dan dekat dengan Rose. Rose merupakan gadis manja dan senang perhatian sangat berpuas diri melihat begitu banyak orang yang menyukainya. Mereka yang berhasil dekat dengannya akan pamer bahwa Rose Piaf merupakan teman mereka, semata-mata agar turut naik ke tangga popularitas.

 

Levi tentu saja tidak masalah dengan ini semua—toh, tidak mengganggu ‘karakter’ yang ia mainkan. Levi tidak berusaha keras untuk dekat dengan Rose, namun sebagai anak yang bersahabat dan mudah bergaul, tentu saja Levi menyapa Rose dengan riang. Karena berada di satu kelas yang sama, pada akhirnya Levi berteman dengan Rose dan sering mengobrol. Kemudian, entah bermula dari mana, Rose tampaknya menganggap Levi sebagai saingan. Rose lambat-laun selalu ikut serta setiap kali Levi berbincang dengan guru-guru maupun teman-temannya dari kelas lain. Rose juga banyak ingin tahu tentang Levi, sampai-sampai menanyakan apakah ada anak laki-laki yang ia sukai di sekolah.

 

“Colin dari kelas 2-1 tampan, kan? Dia juga kapten tim basket, keren banget!”

 

“Tapi Johnson dari kelas 3-2 juga keren lho, ketua komite siswa!”

 

Anak perempuan berkumpul untuk membicarakan laki-laki di jam istirahat makan siang, lingkaran mereka pun dengan cepat menjadi riuh. Rose beralih ke Levi yang sejak tadi hanya menimpali satu-dua kali, “Kalau Levi ada laki-laki yang kamu sukai? Lev, kamu, kan cantik, pasti banyak yang naksir!”

 

Sealami mungkin, Levi tersenyum menepis pertanyaan Rose tersebut, “Tidak ada, kok. Aku belum tertarik dengan percintaan.” Jangankan roman picisan remaja, Levi bahkan tidak begitu peduli apakah ia akan terus bersekolah atau tidak. Ia memerankan peran selama ini karena tuntutan keluarga. Lagipula, Levi yakin ia seratus kali lebih berpengalaman di ranjang daripada gadis-gadis perawan yang ada di depannya ini.

 

Selain itu, Rose juga memandang Levi sebagai saingan dalam urusan nilai. Ia benar-benar bertingkah selayaknya tokoh utama cerita shoujo manga—menjadi spotlight dan nomor satu di atas segalanya. Setiap kali nilai ulangan harian mereka dibagikan, Rose akan mengintip kertas Levi. Jika nilai Levi lebih rendah daripada milikinya, Rose akan berseru: “Ayo Levi, kamu bisa lebih baik dari itu di lain waktu, kan? Aku yakin!” atau “Jangan biarkan aku mengalahkanmu lagi ya, Lev!”—membuat Levi hanya bisa mengulas senyum tipis. Sedangkan jika nilai Rose yang lebih jelek dari Levi, gadis blonde tersebut akan berkata: “Aku sengaja mengalah kok.” atau kadang-kadang mengakui kekalahannya, “Lain kali, aku tidak akan kalah lagi darimu, Levi!”.

 

Semakin lama, eksistensi dan perilaku Rose mengganggu Levi. Menyebalkan malah. Levi akan menggerutu dalam hati setiap kali Rose muncul entah dari mana. Rose tak jarang menyela percakapannya dengan guru, dan lebih kesal lagi ketika Rose secara sepihak menarik Levi untuk menemaninya. Padahal Levi ingin bergaul dengan semua orang—selain dalam rangka mengumpulkan informasi, ia juga ingin berteman. Bosan rasanya berbicara dengan manusia yang itu-itu saja. Namun kini, orang-orang akan langsung menyingkir setiap kali si berkilau Rose datang menempel ke sisi Levi. Hal ini menyebabkan Levi kesulitan berinteraksi dengan anak-anak yang notabene pendiam—menggagalkannya menghimpun informasi.

 

Walaupun dongkol setengah mati dengan Rose, Levi tak bisa serta-merta mengusirnya begitu saja karena dapat merusak karakter yang ia perankan.

 

Suatu hari, Rose mengajak Levi dan beberapa teman sekelas ‘tuk datang ke rumahnya. Rambutnya bergoyang-goyang seirama tubuh ketika gadis kaya tersebut berjingkrak menyatakan maksud undangannya—yaitu untuk merayakan kenaikan jabatan sang ayah, Edit Piaf. Tentu saja tak ada yang menolak.

 

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Levi dan teman-temannya dijemput di depan gerbang sekolah mereka dengan sebuah mobil limousine panjang. Mobil keluarga Piaf membawa mereka ke sebuah rumah yang lebih mirip seperti mansion, mengundang decak kagum teman-teman Levi. Di sana anak-anak sekolahan itu dijamu dengan makanan mewah, dessert beraneka ragam, live music, hingga berbagai permainan seru.

 

Levi tentu tak hanya sekedar menikmati hiburan yang disediakan. Sepanjang waktu, ekor matanya melirik kesana-kemari dan membuat catatan mental; jumlah pelayan yang mereka lewati, penjaga rumah, lokasi CCTV beserta titik butanya, jumlah ruangan, dan memotret beberapa spot tertentu dengan dalih mengagumi. Seluruh informasi yang ia kumpulkan hari ini mungkin belum tentu dapat digunakan, namun sebagai anggota keluarga pembunuh, ini adalah hal yang lumrah. Levi juga menggunakan siasat ‘tersesat ketika ingin ke kamar kecil’ guna menyelinap ke tempat-tempat lain seperti taman dan dapur.

 

Manakala waktu bersenang-senang telah usai, Levi meminta salah satu penjaga rumahnya untuk bersandiwara menjadi ayahnya guna menjemput, ketimbang diantar pulang seperti teman lainnya. Semua ini tentu saja karena rumah Levi tak terbuka untuk umum, “Sebab apa yang sudah masuk jaring laba-laba tak seharusnya keluar.” begitu kata Ades, sosok yang berperan sebagai ‘ibu’ Levi.

 

Minggu berikutnya pun datang dan kelas dipenuhi dengan pembicaraan mengenai kunjungan ke rumah Rose—tentang betapa mewah nan megah jamuan yang digelar oleh keluarga Piaf. Levi pun turut senang membesar-besarkan cerita tersebut, larut dalam ‘karakter’ yang ia lakonkan. Respon Rose tatkala mendengar berita itu sungguh tak terduga; ia justru ingin datang mengunjungi rumah teman-temannya, termasuk rumah Levi. Levi tak bisa menolak sebab itu bukan ‘karakter’-nya, juga teman-teman lain merasa senang dengan kedatangan orang kaya dan populer seperti Rose.

 

Levi bimbang apakah harus mempersilakan Rose datang atau… melenyapkannya saja agar tak lagi menjadi penghalang. Setelah menimbang, Levi pun menemui si kepala keluarga, Feruci.

 

“Feruci,” ujarnya kepada sang ‘ayah’, “izinkan aku menggunakan Stan dan Bulb.”

 

Feruci menaikkan satu alis, “Bayarannya?”

 

“Segala informasi geografis tentang mansion keluarga Piaf.” Jawab Levi.

 

“Alibinya?” Mengingat Stan dan Bulb seringkali digunakan untuk menghilangkan jejak, Feruci tahu bahwa Levi ingin bermain bersih. Dugaannya ialah gadis tersebut berniat menyelinap dan menghabisi salah satu anggota keluarga Piaf, meskipun ia tak tahu (dan tak peduli) siapa yang Levi incar. Setidaknya, ia harus bertanya alibi apa yang dipersiapkan Levi.

 

“Edith Piaf baru naik jabatan sehingga memancing keirian pesaingnya dan berakibat menculik putrinya.”

 

Feruci tersenyum, setuju dengan alibi Levi. “Cukup bawa Stan, perutnya tentu cukup menampung satu anak perempuan.” timpalnya.

 

Levi bergembira, “Terimakasih Feruci!” kemudian ia meletakkan sebuah flashdisk berisi foto-foto, peta kasar, beserta detail pelayan dan penjaga mansion Piaf di dalamnya, di meja sang kepala keluarga. Setelah Feruci mengangguk mempersilakan Levi meninggalkan ruangan, gadis itu melipir pergi.

 

Dari sudut tergelap ruangan, Ades keluar. “Kamu jadi gampang luluh ya, kalau sama anak.” Entah sejak kapan ia mendengarkan pembicaraan mereka dan tersenyum pada ‘suami’-nya.

 

Feruci balas tersenyum, “Aku tidak mengerti apa maksudmu, Laba-Laba Kecil.”

 

Ades tak lagi menimpali, ia mengerti. Ditambah dengan Feruci diam tanpa menyanggah. kian menguatkan pernyataan yang Ades lontarkan. Pun fakta bahwa pria tersebut tidak mengecek terlebih dahulu bayaran Levi merupakan bukti otentik.

 

Di sisi lain, Levi sudah siap dengan Stan di bahu. Kucing itu sudah paham tugas dari sang majikan. Dalam kegelapan malam, Levi dengan cekatan menyelinap masuk, menghindari CCTV yang ada di area publik. Stan juga membantu dengan menghalangi CCTV menggunakan tubuhnya. Levi yang telah menghafal medan sebelumnya dengan mudah naik ke balkon kamar Rose, lalu mengetuk jendela.

 

Rose tengah menyisir rambut di meja rias pun teralihkan atensinya oleh ketukan tersebut. Walau kaget dan curiga, gadis itu tetap membuka jendela. “Lho, Levi, kok kamu ada disini?”

 

Levi mengulas senyum polos, “Aku mau mengenalkan kucingku!” lalu ia melenggang masuk ke kamar Rose. Stan meluncur turun dari bahu tuannya dan memastikan CCTV tak menangkap sosok Levi.

 

Merasa aneh dan janggal, Rose mematung. Keringat dingin mengalir di punggung Rose, ketakutan perlahan mulai menyesap ke dalam tulangnya. Terlalu banyak kejanggalan. Seribu tanya berkelebat di dalam kepala Rose: kenapa temannya ada di kamarnya malam-malam? Kenapa Levi datang dari balkon? Kenapa datang hanya untuk mengenalkan kucing? Tunggu, kenapa kucingnya bisa membesar? Kenapa—

 

Rose tak sempat bersuara sedikit pun sebelum ia dilahap bulat-bulat oleh Stan.

 

Tanpa membuang waktu, Levi segera membawa Stan kembali pulang. Keduanya menghilang bagaikan asap, tanpa beban atau perasaan apapun karena seperti itulah mereka dilatih saat melakukan pekerjaan mereka. Manakala keduanya di rumah, Stan mengeong kepada Levi kemudian memuntahkan sepotong tangan milik Rose dari perutnya. Tangan yang terpotong hingga siku tersebut memiliki bekas gigitan dan berlendir, tapi bentuknya tetap utuh.

 

“Aww gemasnya, Stan sangat tahu seleraku.” Levi mengelus kucing tersebut. Stan sudah hafal dengan tabiat tuannya yang senang mengoleksi tangan.

 

Levi membawa tangan Rose ke ruangan koleksi untuk dibersihkan dan diawetkan. Tangan Rose dimasukkan ke dalam tabung cairan kemudian dijajarkan bersama tabung-tabung berisi tangan korban-korban Levi sebelumnya. Levi juga melabeli tabung tangan Rose dengan tulisan La Vie en Rose—artinya “hidup dalam warna merah muda”, bermakna tentang kehidupan dalam fase jatuh cinta. Namun rose disini merupakan nama orang. La Vie en Rose bermakna bahwa tabung ini berisi sisa kehidupan Rose.





 


Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page