Keluarga
- Anindita Alya
- Dec 3, 2020
- 15 min read
Updated: Feb 11, 2025
01/19/2016. Kediaman keluarga Thompson, pukul 19.08
Seorang anak perempuan berkuncir dua menarik-naik rok ibunya yang sedang memasak. “Ibuu... Ayah belum pulang juga, Bu?” Tanyanya manja.
Sang ibu mematikan kompor setelah mencicipi kare yang baru saja matang. “Sebentar lagi ayah pulang, kok. Cindy tunggu ayah di sofa saja ya, sambil nonton TV. Ibu mau menyiapkan makanan dulu,” jawabnya kalem.
Anak itu menggembungkan pipinya dengan sebal. “Kenapa ibu masak kare, sih? Hari ini ‘kan ulang tahun ayah! Harusnya kita buat sesuatu yang spesial dong!” Keluhnya. “Misalnya kue tart! Atau gula-gula yang lucu! Atau—“
Kepala anak perempuan itu dielus dengan lembut oleh ibunya. “Sepertinya itu semua hal yang kamu mau, sayang,” potongnya lembut. “Kalau ayah makan kue atau gula-gula yang manis, nanti ayah bisa tambah besar lho!”
Terdengar kikikan pelan si anak perempuan, “ngga papa ayah tambah gendut, supaya makin cocok jadi santa!” Balasnya riang. “Ayo dong Buu, kita beli sesuatu yang manis untuk merayakan ulang tahun ayah!”
Dengan tenang sang ibu masih mengaduk-aduk kare yang agak kental sementara sang anak perempuan masih dengan manja menarik-narik rok ibunya, meminta manisan.
Tiba-tiba sesosok tangan menepuk pundak si anak perempuan. “Cindy lupa ya? Ayah ‘kan tidak suka makanan manis!”
Sontak, anak perempuan itu berbalik dan mendapati seorang pria berambut biru sedang berjongkok dan menatapnya ramah. Ia terlalu terkejut untuk berteriak kaget saat tatapan ramah itu berubah jadi tatapan yang mengintimidasi.
“Ray, kamu sudah pulang? Kok tidak ada suaranya?” Tanya sang ibu yang kini sedang melepas apronnya. “Pasti kamu ingin mengejutkan ka—“ kalimatnya terputus ketika ia berbalik. Alih-alih menemukan suaminya yang gendut dan berambut cokelat dengan uban di sana-sini, ia malah melihat seorang pria berambut biru berdiri tegap di hadapannya.
“Sandra, kok makanannya belum disiapkan? Aku sudah lapar sekali, lho! Mana pesta untukku?” Tanya si pria berambut biru itu dengan suara yang dibuatnya persis seperti suara Ray Thompson, sang ayah. Mendengar suara suaminya keluar dari mulut orang lain, sang ibu yakin keselamatannya sedang terancam.
Secepat mungkin sang ibu menyambar pisau dapur di dekatnya dan mengacungkannya kepada si pria berambut biru. “Si—siapa kau? Mau apa kau di sini?” Tanyanya sambil gemetaran.
Pria itu tertawa, lagi-lagi dengan gestur dan suara yang sama persis dengan suaminya. Pisau dapur itu mulai digoyang-goyangkannya dengan liar, “berhenti bicara dengan suara suamiku! Dimana ia sekarang?” Tanya sang ibu dengan geram sekaligus ketakutan.
“Oh, dia sedang dalam perjalanan pulang, tenang saja!” Jawab si pria berambut biru dengan suaranya sendiri. “Kenalkan, saya Lucifer, dan saya diutus oleh teman suami anda untuk memberikan kejutan di hari ulang tahunnya!”
Berkat nada yang ramah itu, ketakutan sang ibu mulai pudar dan pegangannya pada pisau dapur itu melemah. Si anak perempuan bersembunyi di balik tubuh ibunya sambil memegangi erat roknya.
Pria itu tiba-tiba membungkuk lalu bicara dengan si anak, “Jangan takut, Cindy. Saya ada di sini untuk membantumu menyiapkan kejutan untuk ayahmu! Selain hanya dengan nasi kare ibumu tentunya.”
Seperti terbius oleh keramahan pria berambut biru itu, Cindy melemaskan pegangannya pada rok ibunya. “A... apakah kamu punya kue dan gula-gula untuk ayah?” Tanyanya takut-takut.
“Tentu saja punya! Tidak ada perayaan ulang tahun tanpa kue, bukan?” Jawab pria itu. Tangannya menggenggam tangan sang ibu yang masih bingung dan sudah tidak terlalu waspada lalu mengambil pisau dapur dari tangannya. “Cindy mau lihat saya potong kuenya?”
Anak perempuan itu keluar dari balik badan ibunya. “Jangan! Harusnya ayah dong yang potong kuenya!”
“Wah,” pria berambut biru itu terlihat berpikir dengan serius. “Bagaimana ya? Kuenya sangat besar dan spesial. Saya tidak yakin ayahmu bisa memotongnya. Gula-gulanya juga sangat lucu dan manis, lho!”
Kedua mata anak perempuan itu langsung berbinar-binar. “Benarkah? Apa kuenya bertingkat? Apa gula-gulanya berbentuk minnie mouse?” Tanyanya antusias.
Pria itu tersenyum lembut lalu menjawab dengan tenang. “Lebih spesial lagi dari pada itu!”
.
“Ayah pulang!” Seru seorang pria paruh baya yang baru masuk menggunakan kuncinya. “Kok gelap? Nah, pasti kalian ingin mengejutkan ayah, ya? Duh, dimana sih saklar lampunya?”
“Selamat datang, Ayah! Ayo cepat ke ruang makan! Ada kue dan gula-gula spesial untuk ayah!” Teriak suara seorang gadis dari ruang tengah.
Pria paruh baya itu terkekeh pelan, “Cindy lupa ya? Ayah ‘kan tidak suka makanan manis! Pasti itu semua akan kamu makan sendiri!” Jawabnya sambil menekan tombol lampu koridor depan. “Lho, bohlamnya putus ya?”
“Pokoknya ayah lihat dulu deh! Ayah pasti suka!” Seru suara itu lagi.
Mengira bohlam koridor depan putus, pria paruh baya itu melepas sepatu sekenanya. Ia tidak sabar disambut dengan meriah oleh istri dan anak perempuannya di ruang tengah yang lampunya menyala, dan bergegas masuk sambil melepas jasnya. “Sayang, bohlam lampu koridornya putus ya?” Tanyanya sambil melenggang ke ruang tengah.
Lalu, istri dan anak perempuannya menyambutnya di ruang tengah. Tepatnya, potongan tubuh istrinya yang disusun bertingkat seperti kue dan kepala anak perempuannya yang ditusuk seperti gula-gula. Juga sepiring nasi kare yang masih panas di atas meja makan.
Belum sempat pria paruh baya itu histeris melihat pemandangan mengerikan di hadapannya, dari dalam kegelapan koridor, sebuah tangan terulur dan menekan tubuhnya dengan pisau dapur. “Jangan pedulikan bohlamnya, sayang. Selamat ulang tahun!” Seru suara istrinya dari belakang punggungnya dan seketika pisau dapur itu menghujam jantungnya dengan keras. Membuatnya mati seketika.
Seorang pria berambut biru keluar dari kegelapan dan melempar pisau dapur itu sembarangan. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan menelepon seseorang.
“Satu beres. Bisa aku istirahat sekarang?” Katanya di telepon. “Aku lapar. Eh, nasi karenya kayaknya enak juga.”
“Yakin cuma satu?” Tanya suara di seberang sana.
“Okee... satu manusia, satu kue bertingkat, dan satu gula-gula,” lapornya tanpa minat. “Aku nggak suka makanan manis.”
“Dasar gila. Orang sepertimu ini nggak akan bisa hidup tanpa membunuh banyak orang sekaligus ya?” Respon dari sana terdengar sarkatis.
“Nggak juga. Kalau punya istri dan anak, sebisa mungkin aku nggak ingin membuat mereka menangis, sih,” jawab pria itu santai. “Kalau aku tidak membunuh mereka juga, kasihan ‘kan?”
Terdengar gelak tawa terbahak-bahak dari telepon genggam. “Yah, terserah kau sajalah. Sebelum kau kembali, laporkan dulu detailnya kepada bos di kantor. Dan kau akan mendapatkan tugas baru, Lucifer.”
Pria yang dipanggil Lucifer itu menghela nafas berat. “Tunggu saja detailnya di berita. Nanti juga aku bisa telepon bos langsung. Aku malas.”
“Seperti yang sudah ia duga, akhir-akhir ini kau kurang bersemangat ya. Kali ini bos sudah menyiapkan target yang ada tantangannya, lho.”
“Apa? Aku harus rebutan target lagi dengan pembunuh bayaran lain?” Tanya Lucifer tidak antusias.
Belum sempat dijawab, sambungannya terputus sepihak. Lucifer mengumpat kesal, orang itu pasti sengaja melakukannya supaya ia terpaksa datang sendiri menjemput tugas barunya dari bos. Ia mengantongi ponselnya lalu keluar dari apartemen itu dengan lesu.
“Aaah... Aku juga jadi ingin punya istri dan anak...” gumamnya sambil menyeringai.
.
.
.
01/26/2016. Penginapan Jepang Kuroyuri, pukul 23.14.
“Irrashaimase, goshujin-sama.”
Seorang pria berambut biru tersenyum tipis ketika mendapati seorang wanita berpakaian yukata yang menyambutnya di pintu masuk. “Wah, rasanya aku jadi ingin mengucapkan tadaima,” katanya sambil memberikan jaketnya kepada wanita itu.
Sambil membawa jaket itu, sang wanita mengantar pria itu ke resepsionis. Langkah wanita itu tiba-tiba melambat ketika wanita dengan yukata lain yang menjaga resepsionis memelototinya. Pria itu sadar akan hal tersebut, tapi ia mengacuhkannya dan langsung berjalan menuju resepsionis dengan santai. “Tolong satu kamar untuk malam ini. Saya akan check out jam 7 pagi besok dan tolong berikan kamar terbaik yang kalian punya.”
Wanita resepsionis itu rupanya tidak menghilangkan tatapan tajamnya untuk pria itu, meskipun pria itu adalah pelanggan. “Maaf, jika Anda ingin menginap di sini, Anda perlu reservasi sebelumnya,” katanya dingin.
Alis pria itu terangkat sebelah. “Apakah penginapan ini sedang penuh?”
“T—tidak, tapi...” Wanita itu jadi goyah sedikit melihat gestur dari pria itu. Ia memang biasa memikat para wanita, jadi tidak aneh kalau wanita resepsionis ini juga jadi lunak hanya dengan ekspresi dan gestur kecilnya.
“Ehm, maaf, itu sudah merupakan sistem di sini. Seperti yang bisa Anda lihat, Kuroyuri adalah penginapan jepang yang langka di Amerika, bahkan satu-satunya di New York. Kami tidak bisa menerima sembarang tamu, apalagi yang tiba-tiba masuk tanpa melakukan reservasi,” jelasnya dengan nada profesional.
Seringai pria itu tiba-tiba muncul. “Tidak bisa menerima sembarang tamu? Kau pikir aku tidak tahu kalau penginapan yang langka ini adalah tempat seperti apa?” Tanyanya dengan nada yang meninggi.
Dengan susah payah wanita resepsionis itu mempertahankan nada dinginnya. “Mohon maaf, tapi Anda harus pergi sekarang juga.”
Tawa pria berambut biru muda itu terdengar keras di lorong resepsionis. “Sebagai kumpulan para pelacur, kalian pikir bisa meningkatkan harga diri kalian dengan reservasi? Yah, tapi terserahlah. Biarkan aku reservasi sekarang!” Pria berambut biru itu mulai terlihat akan mengamuk.
Wanita resepsionis itu baru saja akan menekan tombol untuk memanggil petugas keamanan, tapi tangannya terhenti ketika seorang wanita berkimono mewah dengan rambut ungu yang disanggul dengan elegan muncul dari dalam dengan tenang. “Ada ribut-ribut apa ini?” Tanyanya anggun.
Pria itu menyeringai tajam melihat wanita berkimono itu muncul. “Muncul juga germo kalian ya, hah.”
Dengan sopan wanita itu membungkuk sedikit lalu menutupi mulutnya dengan ujung lengan kimononya. “Saya merasa terhormat jika dianggap sebagai Ibu. Tapi saya hanyalah seorang pelayan biasa, Tuan.”
“Pelayan biasa?” Tanya pria itu sambil menatap wanita berkimono itu dengan tajam. Ditelusupinya wanita itu dari pangkal sampai ujungnya. Kedua matanya indah dan terlihat sangat ‘nakal’.
“Sepertinya Tuan sangat percaya diri sampai memaksa ingin menginap tanpa reservasi. Memang berapa yang bisa Tuan tawarkan untuk menginap semalam di sini?” Tanya wanita berkimono itu dengan menantang.
Tanpa melepaskan pandangan matanya dari wanita berkimono itu, pria berambut biru itu menjawab, “apapun yang kau inginkan.”
Wanita berkimono itu terlihat tidak yakin. “Meskipun itu berarti jumlah yang dapat menghabiskan seluruh hidup Anda?” Tanyanya.
Seringai pria itu muncul lagi. “Kau terlalu meremehkanku.” Jawabnya.
Terdengar sebuah kikikan pelan dari bibir merah merekah wanita itu. “Tolong booking kamar di belakang satu untuk pria ini. Aku yang akan tunjukkan kamarnya.” Serunya kepada si wanita resepsionis.
“Siapa nama Anda, Tuan?”
“Ray Thompson,” jawab pria itu dengan seringai puas.
“Nama saya Yuriko,” balas wanita itu dengan anggun. “Mari, akan saya tunjukkan kamar Anda.”
.
Penginapan Jepang Kuroyuri adalah penginapan jepang pertama dan satu-satunya sejauh ini di kota modern ini. Meskipun langka dan mewah, penginapan ini bukanlah penginapan komersial yang terkenal. Selain karena mengusung tema oriental yang notabene sistem dan budayanya sangat berbeda dan tidak umum di negara barat ini, pelayanan yang ditawarkan mereka juga spesial, sehingga hanya menerima reservasi dari koneksi orang tertentu.
Apalagi kalau bukan prostitusi?
Para ‘pelayan’ memang tidak seluruhnya wanita jepang asli yang akhir-akhir ini mulai digemari para pria Amerika, melainkan juga blasteran Amerika atau blasteran wajah oriental lainnya. Seperti misalnya wanita ini, Yuriko, adalah wanita blasteran oriental.
Dan kini ia sedang melayani seorang pria berambut biru, sepuluh menit setelah keduanya masuk ke dalam kamar.
“Kau benar-benar nekat, Tuan,” katanya sambil terkikik ketika pria berambut biru itu tengah menciumi leher jenjangnya yang terbuka karena kimononya sudah dilonggarkan sebelumnya.
“Tolong katakan, siapa nama Tuan sebenarnya?” Tanyanya tiba-tiba serius.
Pria berambut biru itu berhenti mencumbu dan menatap mata Yuriko dengan tajam. “Kenapa? Agar kamu bisa memanggil namaku saat bercinta? Kuno sekali.”
Yuriko tertawa lembut. “Soalnya kalau aku meneriakkan nama palsumu di tengah desahanku, kurasa kau tidak akan suka.”
Dengan ganas, pria itu melanjutkan cumbuannya. Perlahan ia menciumi tubuh wanita itu dari atas sampai ke bawah sambil melucuti kimononya. Ketika sang wanita sedang menikmati cumbuan itu, sang pria tiba-tiba berhenti.
“Ada apa Tuan?” Tanya wanita itu heran.
“Namaku... Feruci. Panggil nama itu keras-keras sebanyak yang kau mau,” katanya tiba-tiba, menjawab pertanyaan wanita itu sebelumnya.
Sang wanita menyeringai. Lalu selama beberapa jam berikutnya kamar itu dipenuhi suara desahan-desahan erotis yang meneriakkan nama pria itu berulang kali.
.
Feruci terbangun.
Masih dengan kepala yang sedikit pening, ia memerhatikan sekelilingnya. Ia masih ada di ruangan yang disewanya di penginapan Kuroyuri. Sepertinya ia sempat tidak sadarkan diri setelah bercinta beberapa jam dengan Yuriko si pelayan biasa.
Ngomong-ngomong soal itu, Yuriko tidak ada di sana.
Tiba-tiba saja Feruci terbangun dalam keadaan pusing dan berpakaian lengkap. Apa Yuriko yang memakaikannya? Kenapa wanita itu melakukannya? Apakah itu karena ia akan meninggalkan Feruci sendirian di kamar?
Mengabaikan hal yang membingungkan itu sejenak, Feruci tiba-tiba teringat dengan pekerjaannya. Ia mencari-cari arlojinya dan menemukan bahwa ia terbangun pukul 3 pagi. Itu artinya empat jam lagi ia harus pergi dari penginapan ini. Waktunya sempit.
Karena tidak punya waktu untuk memikirkan Yuriko, ia pun mengambil segelas air untuk menyegarkan tubuh. Rasa pusingnya sedikit berkurang, tapi untuk sementara bisa ia tahan. Pria berambut biru itu bersiap-siap lalu keluar dari kamarnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, ada seorang pelayan beryukata yang berpapasan dengannya.
“Wah, pas sekali saya bertemu pelayan,” sapa Feruci dengan lembut.
Pelayan itu jadi sedikit salah tingkah. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Boleh saya tahu dimana—“
“Machi, cepat ambil alat untuk bersih-bersihnya!” Teriak seseorang dari tikungan. Seorang wanita beryukata yang dikenali Feruci sebagai wanita resepsionis itu muncul dari tikungan dan tiba-tiba langkahnya terhenti. Mungkin sedikit kaget melihat ada Feruci di situ, mengingat perseteruan mereka sebelumnya.
Setelah menghormat dan minta maaf, wanita yang diajak bicara oleh Feruci tadi buru-buru pergi. Wanita resepsionis itu juga langsung berbalik arah dan menghilang meninggalkan Feruci. Kesal karena diabaikan, ia menggeram kesal. Terpaksa ia harus berusaha sendiri.
Feruci melangkah cepat dengan tidak sabaran. Didengarnya satu per satu suara di tiap ruangan. Lalu, setelah melewati beberapa ruangan di belakang, ada sebuah ruangan di ujung yang pintunya sedikit terbuka. Didorong insting dan rasa penasaran, Feruci pun mengintip ke dalamnya dan mendapati seorang pria yang dicarinya sedang berbaring di futon dalam kamar itu.
Perlahan ia melangkah ke dalam. Pria yang dicarinya itu tak bergerak. Perasaannya semakin tidak enak semakin ia melangkah mendekati targetnya. Pria yaang dicarinya itu masih tak bergerak. Dan Feruci yakin ia telah termakan oleh peringatan yang telah diberikan kepadanya dahulu. Pria yang dicarinya itu terbaring di futon dengan mulut berbusa.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dan masuklah wanita pelayan bernama Machi tadi dengan sepasang sarung tangan dan peralatan ‘bersih-bersih’ dengan tidak hati-hati. Begitu mata wanita pelayan itu melihat Feruci dan pria mati yang berbusa itu, langkahnya langsung terhenti dan kaget luar biasa. Tapi Feruci yakin, ia pasti kaget bukan karena mayat pria yang berbusa itu.
“Oh, aku mengerti sekarang,” ucapnya sambil menyeringai ke arah Machi yang ketakutan. Secepat kilat ia menusuk Machi dengan pisau yang dibawanya untuk membunuh pria yang telah mati itu.
Dibiarkannya pisau itu menancap di jantung Machi. Tak hanya itu, Feruci juga mengambil sepasang sarung tangan yang dikenakan Machi lalu menghapus sidik jarinya di pisau itu. Diliriknya jam di kamar yang menunjukkan pukul 3 lewat 45 menit. Feruci menghela nafas berat sambil mengeluarkan bilah pisau lain yang disembunyikannya.
“Semoga wanita itu benar-benar sudah membunuh semua yang benar-benar tidak diperlukan,” gumamnya sebal.
Lalu dengan cekatan Feruci mengunjungi satu per satu ruang, dan dengan cepat membunuh semua manusia yang ditemuinya di penginapan itu.
.
Selesai menjelajahi penginapan dan membunuh semua manusia yang ditemuinya, Feruci kembali ke ruangan tempatnya bercinta dengan Yuriko.
“Selamat malam, Tuan Ray Thompson,” sambut seorang wanita berkimono dengan senyum menggoda yang amat dikenalnya. “Otsukaresama deshita.”
Feruci diam menatapnya dengan tajam.
“Berani juga Anda menggunakan nama pria yang telah Anda bunuh sebagai nama palsu Anda,” timpalnya sambil terkikik. “Apa itu karena Anda sudah berniat akan membunuh semua orang di sini, termasuk saya?”
Dengan kesal, Feruci melempar pisau berlumur darah yang sedang dipegangnya. “Aku tidak menikmati ini.”
Wanita berkimono itu tersenyum lebih jahat lagi. “Ooh manisnya! Seorang pembunuh yang membunuh karena terpaksa!”
“Bukan,” Feruci menatap wanita itu dengan tatapan mengerikan yang membuatnya senyumnya menghilang. “Karena aku hanya membereskan pembunuhan yang kau lakukan, Yuriko.”
Wanita itu, Yuriko, tersenyum dengan sedikit menahan kesal. “Terlalu larut dalam racun di dalam tubuh hina yang bahkan tak berhasil membunuh Anda, eh?”
“Kau bukan manusia biasa, dan juga bukan Yuriko,” lanjut Feruci dengan dingin.
“Anda pasti adalah seorang iblis, tidak ada makhluk yang hanya dibuat tertidur oleh racun tubuh saya,” tebak wanita itu. “tahu siapa saya?” tanyanya menantang.
Feruci berjalan mendekat, masih menatap wanita itu dengan tajam. “Asmodeus,” jawabnya pasti. “Pembunuh yang membunuh targetnya dengan racun.”
“Dan juga punya penginapan berisi wanita-wanita pembunuh bayaran lain, yang berkedok penginapan jepang dengan servis spesial,” lanjut Yuriko yang juga dijuluki Asmodeus itu. “Yang baru kau ketahui sekarang!” Katanya puas.
Kentara sekali bahwa Feruci sedang menahan kesal karena merasa tertipu, sekaligus kecurian untuk membunuh targetnya.
Asmodeus menjilat bibirnya dengan sensual. “Apa sekarang kau jadi sangat ingin membunuhku, Feruci?” godanya. “Karena aku sangat ingin membunuhmu, iblis pembunuh yang tidak kenal ampun, alias Lucifer.”
Ia terdiam sebentar. “Karena aku telah menghabisi pelayan-pelayan pembunuh milikmu?” Tanyanya datar.
“Masa bodoh dengan semua itu!” Teriak Asmodeus sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar. Ia melangkah perlahan sampai tepat di depan wajah Feruci lalu memegang wajahnya dengan antusias. “Kau membuatku sangaaaat ingin membunuhmu!”
Feruci tersenyum arogan, “aku takut itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.”
Dengan cepat, Asmodeus mendorong tubuh Feruci sampai tubuhnya menindih pria itu di atas tatami. “Aku tidak akan berhenti sampai kau mati di tanganku, sampai racun buatanku menyiksamu, sampai mulutmu tidak berhenti merintih kesakitan,” ucapnya dengan nada yang seduktif.
“Kau menarik. Mau kubantu?” Tawar Feruci sebagai responnya.
Kedua alis Asmodeus mengerut heran. “Hah?”
Tangan Feruci mencengkram kedua tangan Asmodeus yang menindihnya. Dalam sekejap dibaliknya posisi mereka. “Jadilah istriku, dan kau bisa berada di sisiku sepanjang yang kau mau,” lanjutnya. “Bunuhlah aku sesering yang kau mau, sesadis yang kau bisa, tapi jadilah istriku, lalu kita bangun keluarga yang kuinginkan.”
Wanita beracun itu menatap Feruci tidak percaya. “Tu... tunggu, tunggu! Barusan kau... apa? Melamarku?” Tanyanya, syok mendengar kata-kata Feruci barusan.
“Kau cantik, menarik, bahkan berpengalaman menjadi ‘Ibu’ bagi semua pembunuh asuhanmu di sini,” puji Feruci. “Kau adalah wanita yang paling tepat untuk kujadikan istri dalam keluarga yang kuinginkan, tentu saja.”
Asmodeus masih terlihat kaget dan syok sekaligus. “Keluarga yang kau inginkan? Pembunuh sepertimu?”
Pria berambut biru itu mengangguk yakin. “Ya. Keluarga biasa dengan seorang istri dan anak-anak. Keluarga yang menyayangi sekaligus membenciku,” jelasnya.
Tanpa sadar wajah Asmodeus sedikit memerah. “Ti—tidak bisa. Aku tidak bisa punya anak dengan tubuh seperti ini,” jawabnya lirih.
“Kita bisa mengadopsi mereka,” bisik Feruci pelan di telinga Asmodeus. “Tapi yang bisa berperan menjadi istriku hanya kamu,” godanya.
Wanita itu tahu, kata-kata itu hanya rayuan yang ditujukan untuknya. Tapi ia tidak bisa berkutik ketika pria itu menguasainya sedekat ini. Tawarannya begitu menggiurkan. Apalagi jika itu berarti ia bisa membunuh pria itu dengan lebih mudah ke depannya.
Feruci menyeringai. “Kurasa aku sudah tahu jawabannya,” katanya, lalu mencium bibir Asmodeus dengan lembut. “Kita lanjutkan setelah kamu resmi menjadi istriku, oke?”
Kali ini wajah Asmodeus benar-benar merah sampai ke telinganya. Ia menggigit bibirnya, seperti menahan senyum yang sebenarnya sudah diketahui oleh Feruci.
Setelah puas melihat reaksi wanita yang baru saja dilamarnya itu, Feruci bangkit berdiri lalu merapikan pakaiannya. Ia memakai jaketnya yang sudah digantung di ruangan itu sebelumnya dan bersiap pergi, sembari di dalam hati mempersiapkan diri menghadapi omelan atasannya karena telah lengah dan membiarkan Asmodeus mengambil targetnya.
“... Ades...”
Feruci berbalik lalu menatap Asmodeus yang sudah bangkit berdiri dengan bingung. “Hah?”
“Nama asliku... Ades...” Ucapnya lirih, sambil menutupi wajahnya dengan lengan kimononya.
“Jangan membuatku ingin kembali menyerangmu sekarang, dong,” balas Feruci sambil tersenyum. “Nomorku ada di buku resepsionis dengan nama Ray Thompson, oke?”
Lalu pria berambut biru itu pergi dari penginapan, meninggalkan Asmodeus terduduk lemas, sendirian di ruangan tadi. Sejak pria itu pergi, ia tidak bisa berhenti tersenyum lebar dan berbinar-binar semangat.
.
.
.
Seorang gadis berambut merah berkacamata menatap ibu dan ayah angkatnya yang duduk di atas sofa berdua secara bergantian. Wajah ibunya bersemu merah sementara sang ayah yang lebih cool hanya menerawang seperti mengingat-ingat lagi momen mereka itu.
“Ma... Manisnya!” Seru anak perempuan yang berambut merah muda. “Levi suka! Aaah~ Romantisnya~!”
Sementara itu satu-satunya anak laki-laki di situ melengos tak peduli, menganggap dirinya masih belum berminat terhadap hal-hal seperti itu. Ia sibuk mengelus-elus binatang peliharaan mereka yang sedang berbaring manja di pangkuannya. Mereka sekeluarga sedang bersantai di ruang keluarga.
“Yah, pokoknya itulah bagaimana ayah dan ibu kalian bisa jadi seperti ini!” Seru Ades sambil memeluk lengan suaminya yang duduk di sampingnya. “Dia kuat sekali sampai aku masih belum bisa membunuhnya juga saat ini! Aaah, aku jadi semakin mencintainya!”
Gadis berambut merah itu mencibir tak suka, “bukannya kau hanya melunak dan menciptakan racun yang biasa-biasa saja untuk Feruci?”
Sebagai seorang yang juga pandai meracik racun, si anak laki-laki menjawabnya, “kalau kamu bilang begitu, cicipi saja racun yang barusan Ades buat untuk Feruci. Aku jamin kamu nggak akan sempat untuk mengakui kalau kamu salah, Mona.”
Feruci hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya. “Aku tahu kalau kalian membenciku juga, tapi jangan sekali-sekali berpikiran untuk mengambil mangsa ibu kalian ya,” nasihatnya. “Toh, kalian yang akan mati duluan, kalau-kalau kalian berpikir seperti itu.”
Si gadis berambut merah, Mona, hanya bisa cemberut setelah mendengarnya. Ia lalu menerawang ke jendela dan tidak memerhatikan Levi yang masih antusias dengan kisah ayah dan ibu angkat mereka yang menurutnya romantis, serta adik laki-lakinya Gore yang mulai mengantuk seperti peliharaan mereka.
“Levi juga mau punya kisah romantis kayak kalian! Uuh, bayangkan betapa nikmatnya bisa mengelus, dan memeluk tangannya, ketika ia masih hidup dan bisa terus berada di samping Levi... Wah! Indahnya!” Cerocos Levi, berkhayal.
“Mana ada yang mau sama kalau kamu main-main sama tangannya tapi juga koleksi tangan-tangan orang lain,” timpal Gore.
Mendengar itu, Levi jadi emosi. “Heh! Siapa juga yang mau sama orang yang ngoleksi kepala-kepala orang di kamarnya? Lagian kamu kan mager banget, dasar pemalas! Kamu nggak ada romantis-romantisnya kayak Feruci!” Balas Lavi.
“Apa? Hei, itu kan hanya karena aku masih belum dewasa. Siapa yang tau besar nanti aku bisa jadi pria romantis yang akan menaklukkan wanita dengan racun?” Balas Gore tidak mau kalah.
Di tengah percekcokan tidak penting Levi dan Gore, Feruci menangkap diamnya Mona yang mencurigakan. Ia mendekati anak perempuannya yang paling dewasa itu lalu menegurnya, “ada apa, Mona?”
Mona yang ketahuan sedang melamun pun kaget dan salah tingkah. “Ah? Eh, ti—tidak ada apa-apa. Cuma nggak nyangka aja kalau kemampuanmu merayu wanita terlalu hebat sampai bisa membuat Ades jadi seperti itu, haha.” Jawabnya setengah jujur.
Feruci tersenyum bijak, “sebenarnya aku sudah curiga kenapa tiba-tiba Mona bertanya soal masa-masa itu, tapi sepertinya kamu tahu sesuatu, Ades?”
Menahan malu sekaligus kesal, Mona menatap ibunya dengan tajam sambil berwajah merah. “Tidak, tidak ada apa-apa, sungguh!”
Ades menyeringai senang, “kamu selalu bertingkah menjadi yang paling dewasa, tapi pada kenyataannya memang masih belum cukup berpengalaman ya, Mona.”
“Aaaah sungguh tidak ada apa-apaaa!” Teriak Mona kesal. “Ibu menyebalkan sekali sih!”
Mendengar itu, Ades tidak bisa menahan tawanya. “Tentu saja tidak, Feruci. Dia kan lebih suka melakukan apapun semaunya, benar-benar kekanakan.”
“Apapun sangkaan kalian, pokoknya bukan itu!” Sangkal Mona dengan keras. Dilihatnya kedua adiknya masih bertengkar tidak penting. “Aku mau masuk kamar saja,” katanya sambil berlalu dari ruang keluarga itu.
Mona kembali menerawang, mengingat peristiwa yang baru saja dialaminya beberapa hari lalu. Setelah tahu cerita tentang ayah dan ibu angkatnya, ia jadi tidak bisa berhenti membandingkannya dengan peristiwa itu. Peristiwa dimana ia jadi sangat tertarik dengan Kreiss, teman satu kampusnya, yang juga ternyata seorang pembunuh bayaran sepertinya. Kondisinya agak beda, tapi dasarnya mirip sekali dengan apa yang dialami orang tuanya.
Terutama itu, ia tahu kalau memang ibunya lah yang berada di balik pertemuannya dengan Kreiss.
Ia kesal, ibunya seperti ingin mengontrol hidupnya seperti kisahnya sendiri. Tapi di dalam hati Mona juga tidak bisa menyangkal kalau ia merasa tertarik dan sangat ingin menaklukan Kreiss—termasuk di dalamnya juga membunuhnya, agar pemuda itu takluk padanya selamanya.
“Aaaaah aku kesaaaal!” Teriak Mona di kamarnya. “Aku akan membunuhmu, Kreiss sialaaan!”
Tiba-tiba terdengar kikikan pelan di balik pintu kamar Mona. “Tuh, sudah kubilang ‘kan, Mona sedang jatuh cinta?” terdengar samar suara Levi.
“Dia bilang kan ingin membunuh Kre—siapalah itu, bukan cinta, Levi bodoh,” bantah Gore yang juga berbisik-bisik.
Mona melotot diam di tempat mendengar kedua adiknya menguping. Perlahan ia mengambil pisaunya lalu membuka pintu kamarnya dengan kasar.
“Sebelum kubunuh dia, akan kubunuh kalian duluan, Levi, Gore,” ucapnya sambil tertawa-tawa ketika berhasil membuat kedua adiknya kaget karena ia tiba-tiba membuka pintu. “Jangan. Pernah. Menguping. Di kamarku.”
Tanpa aba-aba, Levi dan Gore langsung kabur dan berpencar, secepat yang mereka bisa, sementara Mona bingung tapi tetap mengejar mereka sekuat tenaga.
Feruci dan Ades yang masih santai duduk berdua di sofa, memerhatikan ketiga anak mereka. “Ini keluarga bahagia yang kau inginkan, Feruci?” Tanya Ades sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
“Yah, sedikit ada yang kurang, sih,” jawabnya.
“Eh? Apa? Jangan bilang kau ingin kita mengadopsi satu anak lagi?” Tanya Ades yang terdengar keberatan.
“Bukan,” tangan kanan Feruci mengelus rambut ungu Ades dengan hangat. “Sepertinya benar kata Mona, akhir-akhir ini kau melunak dalam membuat racun untuk membunuhku.”
Ades terkikik manja mendengarnya. “Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan malam ini kau mati ya, Feruci.”
Feruci mengecup dahi istrinya lalu tersenyum puas. “Coba saja kalau bisa,”
Writing commission written by Anindita Alya.


Comments