Outing Para Iblis
- Tri

- Jan 12
- 5 min read
Updated: Jan 16
Sudah berminggu-minggu berlalu sejak dua makhluk neraka ciptaan tangannya, Bulb dan Stan, mampu mengubah diri mereka menjadi manusia. Seharusnya perubahan itu bukan hal besar. Mereka sudah terbiasa berganti bentuk: dari kucing ke monster, dari tanaman pot ke sesuatu sebesar kastil yang merayap dan melahap semua. Namun kali ini berbeda.
Bentuk manusia. Bentuk yang oleh dunia disebut paling sempurna.
Tubuh dengan batas. Dengan sendi, tulang dan kulit yang seharusnya rapuh. Jelmaan lempung tanah, bukan api seperti apa yang keduanya diciptakan dari. Tidak ada alasan bagi mereka untuk mencapai bentuk manusia, juga mereka tidak diciptakan untuk ini. Mereka monster. Transformasi mereka adalah bentuk penyimpangan dari cetak biru api neraka yang Feruci tanamkan.
Feruci kini berjalan didepan keduanya, memilih mengabaikan pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa. Pada hari ini ketika Feruci yakin Rumah Dosa aman walau tanpa dua penjaga utamanya, ia membawa Stan dan Bulb pergi.
Melipat ruang untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan, mereka tiba di sebuah tempat yang luas. Sebuah danau besar yang dikaitkan dengan legenda monster. Air tenang dan dugaan apa yang ada didalamnya adalah pelaku penyebab ketakutan manusia di desa terdekat. Monster berleher panjang dari jaman prasejarah, katanya. Lucu bagaimana manusia lebih takut dongeng sebelum tidur macam itu dibanding konsekuensi menyakiti bumi. Feruci berhenti dekat dengan tepi sungai. Berbalik melihat kearah si rambut hijau dan rambut jingga.
“Tiga puluh menit,” kata Feruci memperlihatkan stopwatch di ponselnya. Intonasinya datar, nada ceria, tapi maksudnya jauh dari kata bercanda. “Saling bunuh. Jangan khawatirkan apapun.”
Untuk menguji kekuatan, cara tercepat selalu sama.
Pertarungan.
Stan dan Bulb terdiam. Wajah manusia mereka yang baru seumur jagung gagal sepenuhnya menyembunyikan gejolak di balik epidermis. Kaget bercampur kegirangan, seperti hewan yang dilepas dari rantai. Adrenalin mendesak keluar dari kulit yang baru mereka kenakan.
Mereka saling pandang. Di mata Stan ada kobaran amarah murni, insting penjagal yang akhirnya diizinkan bernapas. Di mata Bulb ada gemuruh rasa lapar, kekosongan yang hanya bisa diisi dengan daging, darah dan pertarungan.
Mereka kembali menatap Feruci. Tatapan untuk memastikan, bukan khawatir. Mana mereka peduli dengan sekitar atau sesama.
Feruci mengangguk.
“Tak ada batasan,” katanya. “Bintang Pagi jaminannya.”
Nama itu bukan sekadar gelar. Itu sumpah dari Bintang Pagi yang berdiri di depan mereka. Pencipta, ayah, dan sekarang akan menjadi pelepas kekang batas duniawi tubuh mereka. Resonansi kekuatan neraka merambat dari tubuh Feruci ke tanah, ke udara, ke air danau. Stan dan Bulb menghirup udara yang berbisik; lepaskan.
Dan dunia pun pecah.
Stan bergerak lebih dulu. Tangannya menghantam pipi Bulb dengan kecepatan yang merobek udara. Bunyi krak terdengar nyaring. Tulang wajah retak, rahang bergeser. Kepala Bulb terpental, dagingnya koyak, darah hitam kehijauan memercik.
Bulb terhuyung setengah detik. Lalu tertawa. Suara itu basah dan serak, seperti tanaman yang diremukkan. Balasan Bulb datang tanpa jeda. Daging lengan merekah, kulit terbelah, dan dari dalamnya menyembur sulur-sulur tanaman yang hidup, berduri, bergerak dengan niat membunuh. Sulur itu menembus udara, menusuk dada Stan, menembus kulit tebalnya, merobek serat otot.
Stan menggeram. Ia mencengkeram sulur yang bisa ia dapat, menariknya dengan kasar. Duri-duri mengoyak telapak tangannya, darah menetes tapi Stan tersenyum lebar. Dengan tarikan brutal, ia merobek sulur itu dari tubuh Bulb, mencabik daging tempat ia tumbuh. Luka di tubuhnya bergerak. Daging berdenyut, serat hijau menjalar, tulang yang hancur ditelan oleh pertumbuhan baru. Dalam hitungan detik, tubuhnya utuh kembali, bahkan lebih besar.
Stan tidak memberi waktu. Pijakannya kini mengambil bentuk monster melompat. Kakinya menghantam tanah, menciptakan retakan, lalu tubuhnya melesat ke depan. Cakar mencabik perut Bulb, merobek lapisan demi lapisan; kulit, daging, akar. Isi tubuh Bulb tumpah, hanya untuk segera ditarik kembali oleh jaringan tanaman yang rakus.
Bulb membalas dengan menjebak. Tanah di bawah Stan pecah. Akar-akar raksasa menyembul, melilit kaki dan pinggang, menghancurkan tulang dengan suara renyah. Stan meraung, bukan kesakitan, melainkan kemarahan. Ia merobek akar itu dengan tangan kosong, serpihan kayu dan darah beterbangan. Stan merobek kepala Bulb hingga terpisah dari tubuhnya. Tubuh itu runtuh. Dua detik kemudian, batang baru tumbuh dari leher yang terpenggal, membentuk wajah lain yang tersenyum lebih lebar.
Stan bertarung dengan kecepatan dan massa. Setiap pukulan masif menghancurkan, setiap gigitan meninggalkan lubang menganga. Kulitnya menahan tusukan, tulangnya menahan benturan dan amarah menjadi bahan bakar.
Bulb membalas dengan kelaparan tanpa akhir. Setiap bagian tubuh yang hancur menjadi benih. Ia tumbuh dari luka, menyerang dari arah yang mustahil; dari tanah, dari udara, dari genangan darah yang menyentuh tanah.
Tanah di bawah mereka bergerak. Kali ini akar-akar tidak lagi menyerang secara frontal, tapi mengalir. Mendorong, menekan, menggiring. Setiap serangan bukan ditujukan untuk membunuh Stan, melainkan memaksanya mundur selangkah demi selangkah, menuju tepi air berkilau di belakang sana.
Bulb tahu tentang ketegangan di tubuh Stan setiap kali air mendekat. Kulit tebal itu masih kuat, tapi napas Stan berubah. Insting purbanya menolak basah. Air bukan sekadar elemen, ia adalah batas, beban dan sesuatu yang melemahkan.
Akar-akar melilit kaki Stan, menyeretnya. Lumpur dan air dingin mulai menyentuh tumitnya. Bulb tertawa. Namun Stan bukan iblis tanpa insting bertahan.
Saat satu sulur besar melilit dada dan menariknya ke air, Stan menarik napas dalam-dalam. Dadanya mengembang tidak wajar. Retakan cahaya merah menyala di sela-sela gigi si monster jingga.
Lalu terhembuslah.
Disertai auman menggema, api masif menyembur dari mulut Stan. Napas neraka yang kasar dan tak terkendali. Panasnya memekakkan. Udara tunduk, fatamorgana api menari disekitar lidah sumbernya. Sulur-sulur Bulb langsung menghitam, mendesis, lalu runtuh menjadi abu dan arang yang masih bergerak.
Tubuh Bulb terbakar. Daun, batang, dan daging hijau melepuh, mengerut, pecah. Bau getah terbakar memenuhi udara. Regenerasinya terhambat, pertumbuhannya melambat, kelaparannya berubah menjadi jeritan.
Stan memanfaatkan momen itu, menerjang ke depan menjauh dari air, menghantam tubuh Bulb yang masih menyala, mematahkan apapun yang tersisa sebelum api seluruhnya padam. Amarah Stan dilahap oleh kelaparan Bulb. Kelaparan Bulb dibalas oleh pukulan-pukulan Stan yang membuat hutan di sekitar runtuh.
Pohon-pohon tumbang seperti tulang rapuh. Rumput terbakar oleh gesekan dan panas api. Air danau bergolak hebat, ombak menghantam tepi, seolah makhluk purba di bawahnya, kalau benar ada, ikut terbangun oleh api neraka yang bocor ke dunia.
Teriakan dan tawa keluar dari tenggorokan yang terlalu liar untuk telinga manusia. Frekuensinya terlalu tinggi, memekik penuh ekstasi. Sebuah simfoni kehancuran. Seperti orkestra akhir zaman. Dentuman tulang, robekan daging, jeritan kepuasan, disusun menjadi kemeriahan yang hanya dimengerti oleh makhluk neraka.
Feruci berdiri di tepi danau. Stabil seperti berada di dunia terpisah. Tak satu pun puing, kayu, batu terlempar atau percikan darah menyentuh Feruci. Semua berhenti sebelum mencapai jarak tertentu, seolah realitas menghormati keberadaannya.
Di pantulan bola matanya, dua anak—monster, tertawa. Saling membunuh menikmati kebebasan penuh dari batas dan larangan. Lebih dari itu ia tersenyum untuk diri sendiri. Bangga atas yang telah ia ciptakan atas bumi.
Dalam lubuk hati tak satu pun dari mereka bertiga peduli siapa yang akan menang. Ini bukan tentang hidup atau mati.
Ini perayaan.
Festival kebebasan.
Dan mereka bersenang-senang.
by Tri



Comments