Obrolan Anak-anak
- Cas Septimus
- Jun 16, 2025
- 4 min read
“Gue enggak bisa ngebiarin dia hidup juga, sih, abis dia ngeliat bapaknya mati begitu,” ujar Mona sambil mengiris steak untuk makan malam, “Dia cuma ketiban sial sebenernya. Udah tau malem-malem bukannya tidur, malah keluyuran ke kamar bapaknya. Kalau diem aja di kamar pasti selamat, tuh.”
Feruci mengangguk setuju mendengarkan cerita Mona. “Memang nasib malang untuknya, kamu sudah melakukan hal yang benar. Saksi mata tidak boleh dibiarkan hidup, apapun yang terjadi.”
Mayat tidak bisa bercerita, lebih baik tambahan saat bersih-bersih daripada loose end yang bisa menggigit di kemudian hari.
“Emang lo beneran bakal ngelepas dia kalau stay di kamar?” Gore mengangkat alisnya.
“Ya? Gue bahkan gak tau ada dia di rumah?” Mona menjawab sambil menghabiskan makanannya, “Dia bahkan gak seharusnya ada di rumah, lho. Ibunya, kan, dapet hak asuh sehabis cerai dan mereka tinggal jauh dari bapaknya. Gara-gara merkosa pelayan kalau gak salah?”
“Oh my,” gumam Ades, “Kalau begitu, sih, jelas kenapa ibunya punya hak asuh tunggal. Mana mungkin dia membiarkan anaknya dekat dengan lelaki seperti itu.”
“Kenapa dia ada di rumah bapaknya kalau begitu?” Levi mengernyit bingung.
“Mungkin dia digrooming bapak sendiri? Gak tau, deh.” Mona mengangkat bahu, “Soalnya ngapain dia ngedatengin kamar bapaknya malem-malem? Make nightgown yang lumayan tipis juga, jadi yaaaaaaaaa.”
Feruci tertawa. “Ya ampun.”
Ades geleng-geleng kepala. “Udah korup di mahkamah agung, harus juga ngerusak anak sendiri juga? Kebusukan laki-laki memang tidak main-main.” Dari sudut matanya dia melihat Gore membuka ponsel, “Gore, jangan main hape pas lagi makan.”
“Tunggu, Mona,” sergah Levi, “Yang bayar kamu buat bunuh orang itu bukan mantan istrinya, kan? Kalau iya nanti dia pasti protes, dong, karena lo ngebunuh anaknya juga.”
“Yang dendam sama pak hakim, kan, bukan mantan istrinya doang,” ujar Feruci kalem, “Tapi kalau iya juga dia mau apa? Protes? Yang ada Mona memotong lidahnya duluan.”
“Permintaannya anonymous, tapi kalau benar juga… hm, bakal seru kalau dia benar-benar protes,” ujar Mona sambil tersenyum jail, dia memainkan pisau steaknya. “Turut berduka cita, ya, Nyonya? Sebagai permintaan maaf, saya bisa mempertemukan kalian lagi. Bagaimana?”
Gore tiba-tiba tertawa. “Sayang sekali, Mona, kayaknya mantan istrinya gak akan protes soal anaknya yang ikut mati itu.” Dia masih menyusuri layar ponselnya dengan geli, “Mereka kelihatannya gak akur.”
“Hah?! Kalau dia sengaja bikin anaknya jadi collateral damage, berarti gue ngerjain kerjaan tambahan gratis gitu?!!” Mata merah Mona berkilat marah, “Nenek tua sialan, awas saja nanti!”
Ades mendengkus. Dia harus berhenti memberikan benefit of doubt kepada seorang ibu, bukan karena dia menyayangi anak-anaknya dengan sepenuh hati; maka semua perempuan juga begitu. Hanya karena perempuan-perempuan itu dibesarkan dalam megah keluarga kelas atas dan berpendidikan baik, bukan berarti mereka masih punya hati. Walau agak ironis juga dirinya yang merupakan seorang pembunuh bayaran berpikiran seperti itu.
A mother should’ve loved her child—
Cukup. Ades dengan tegas menepis pikiran itu.
Sepertinya dia larut dalam pikirannya cukup lama hingga melewatkan lanjutan obrolan keluarganya, tahu-tahu dia mendengar Levi berceletuk.
“Tapi kalau Ades dan Feruci yang punya anak sendiri gimana, ya? Anak biologis maksudnya.”
Ades mengerjap. “Hm?”
Gore menimang-nimang. “Kalau miripnya Ades pasti cantik, sih.”
“Kan! Pasti lucu banget kalau mereka punya anak yang mirip Ades, cantik dan imut kaya mamanya lho!”
Mona cekikikan. “Ades gak cocok disebut imut, deh. Itu mah lo aja yang bias.”
“Kamu pikir aku enggak manis, Mona?” tanya Ades sambil memegang dadanya pura-pura sakit hati.
“Lo mah seksi.”
“Seksi banget!” tambah Levi, dan bersamaan dengan Gore, “Semuanya masuk!”
“Kenapa cuma Ades yang dipuji disini?” protes Feruci sambil tersenyum, “Memangnya aku kurang cakep sampai kalian berharap miripnya sama Ades saja?”
“Hah! Kayak lo gak mau punya anak yang copy-paste nya Ades aja,” balas Mona, “Kalau misalnya bayinya punya kekuatan pengendali feromon kayak Ades juga pasti makin seneng kalian.”
Ades tidak sampai melirik Feruci, tapi kata-kata Mona menggelitik pikirannya.
Keluarga ini mereka bangun dengan pilihan sendiri, tanpa hubungan darah; hanya rasa sayang dan hormat yang dililit oleh amoralitas dan dosa manusia. Ketika Ades mengakui kalau dia tidak bisa hamil karena eksperimen hormon yang dia terima, Feruci langsung mengerti.
Aku menginginkanmu, dan apapun yang kamu inginkan; dalam bentuk apapun itu.
Ades tidak bisa melahirkan, tapi dia tetap membesarkan anak dan mengasihi mereka. Feruci memanggil mereka keluarganya, selama ini ini adalah cukup.
“Jangankan Feruci, Levi tuh yang paling kesengsem sama anaknya.” Gore tertawa, dan benar saja, Levi semakin berbinar-binar mendengar prospek bayi jadi-jadian yang jadi semakin mirip dengan ibunya. “Mungkin anaknya jadi bisa mengendalikan iblis kayak Feruci? Pasti keren banget kalau kekuatannya juga ikut turun ke anaknya? Mamah kecil dengan kekuatan seperti papanya… dia pasti akan jadi pembunuh paling berbahaya yang ada di dunia ini!”
Ades tersenyum. “Bukan khayalan yang buruk, tapi pasti merepotkan kalau anak sekecil itu punya kemampuan melepas feromon sepertiku.”
“Kalian kan melatih kami, pasti bisa lah melatih anak sendiri juga,” celetuk Gore, “Aku tahu Levi pasti dengan senang hati membantu nanti.”
“Memangnya kita bakal tetep ada disini kalau mereka punya anak,” ujar Mona geli.
Levi menghela napas. “Mona benar, aku juga mau ikut melatih anaknya Ades dan Feruci tapi, ah, kalau sudah punya anak sendiri ngapain coba tetep nahan kita disini huhuhu… yang ada kita ditendang keluar kali,” ujarnya dengan dramatis.
“Kenapa harus diusir? Padahal semakin ramai semakin bagus, lho,” komentar Feruci setelah mendengar keabsurdan obrolan anak angkatnya, “Walau kadang suka asbun, kalian tetap anak-anakku. Siapa lagi yang bisa grand final terbaik untuk siklus hidupku yang sekarang selain kalian?”
“Awwwww, Feruci~”
Obrolan mereka lalu kembali ke urusan pekerjaan, khayalan tentang anak biologis Ades dan Feruci menguap begitu saja. Tapi hanya di meja makan dan dari batin anak-anak mereka, saat mereka meninggalkan ruangan satu demi satu dan kembali ke aktifitas malam masing-masing; celetukan itu masih membayang di sanubari Ades.
Sampai dia bahkan tidak menyadari tatapan Feruci di belakangnya.
>───⇌••⇋───<
Commission Story Written by Cas on Facebook / FanFiction



Comments