top of page

Above The Waves

  • Gavin As
  • Mar 13, 2025
  • 50 min read

Tidak ada hari libur di Rumah Dosa. Kesalahpahaman biasa masyarakat luas  dapatkan saat memandang Seven Sins Family, kerap kali berpaku pada imajinasi  kelakuan dan sikap keluarga kaya tersebut di tempat publik. Demikian realita  menarik puluhan opini kalau mereka sombong, semena-mena, dan melakukan  semua hal sesuka hati. Garis batas miliaran dilewati nilai harta kepemilikan dan  bisnis konglomerat keluarga begitu populer serta terbuka, siapapun yang mau  bisa melihatnya, dan mereka akan tahu pendapat tersebut tidak bisa lebih jauh  dari kebenaran. 


Imajinasi paling besar dalam pikiran masyarakat tentang Seven Sins Family merupakan aktivitas liburan pastinya bebas kemanapun dan kapanpun sesuka  hati. Mungkin, benar bila murni bicara perihal finansial. Namun, liburan butuh  lebih dari itu, perlu waktu, dan keluarga ini punya sedikit. 


Tidak ada ekspektasi dari Levi dan Mona tentang liburan. Dua putri keluarga  itu mengerti kalau ajakan keluar tidak pernah bebas, akan selalu ditemani misi  dan tugas─baik dari Feruci, sang Ayah; atau Ades, sang Ibu. 


Tanggal merah tidak pernah ada pada kalender pikiran. Spidol, harusnya  dipakai tuk memerahkan tanggal kerja, masih diam dalam gelas sampai jaring  laba-laba menghinggap. Bila keramaian gedung saham milik negara beranggaran  militer paling besar di muka bumi dikonsentrasikan dan dibandingkan, skalanya  kalah telak dengan kegiatan orang tua mereka. Tidak bisa ditekankan lebih jauh  lagi kalau Feruci dan Ades merupakan orang tua yang rajin kerja. 


Di hari kerja sendiri, mereka berdua pergi awal dan pulang larut, dari jam  tujuh pagi dan kembali pukul sebelas malam; kadang besoknya baru pulang.  Akibatnya, kecil jendela waktu tuk mendidik mereka. Gaya hidup ini bukan  masalah. Mona dan Levi sudah terbiasa; si pertama karena memang dari umur  awal remaja ditarik ke bawah payung keluarga, sementara si kedua karena sudah  tahu pekerjaan mereka sebelum payung keluarga berdiri di atasnya. 


Bila seseorang yang dekat dengan mereka berdua, bagaimana caranya itu  tidaklah penting, mengatakan kalau hubungan si kakak dan adik bersama orang tuanya mirip seperti bagaimana matahari dan badan-badan kosmik pengintarnya  berjalan, mereka tidak akan marah. Dalam satu pandangan, memang seperti itu  rasanya hidup di Seven Sins Family


Matahari. Tuan Feruci jelmaannya.  


Beliau mungkin sering mengenakan baju gelap, tapi cahayanya selalu bisa  mencapai bahkan sudut pojok sekalipun. Meski jauh, tidak akan pernah dia  meninggalkan kedua putri. Ketika mereka menggapai sukses, dia mengapresiasi.  Ketika mereka melakukan kesalahan, dia pandu mereka hingga jadi lebih baik  melewati rintangan ke depan. Wujud berguna dalam hidup kedua putri. 


Ades di mana semua itu sangat berbeda. Ibu dalam semua kejayaan. Beliau  merupakan rembulan, menghantarkan samudra bumi tuk memeluk benua-benua  dalam gelombang lembut penuh sayang, sikap keibuan menaruh selimut serta  payung pada anak-anaknya. Sejatinya mencintai, dia tempat tatkala sang anak  mencari cinta yang tidak bisa ditemukan dari sang Ayah. 


Tetap, dalam dinamika keluarga ini, mereka itu orang tua yang sibuk. Cinta  mereka terbatas bukan karena diri sendiri melainkan ditahan hukum fundamental  semesta. 


Itu kenapa si dua putri keluarga kaget saat masing-masing mendapatkan  kunci kamar setelah Feruci dan Ades mengumpulkan mereka di ruang tamu. Apa  yang diterima bukanlah kunci biasa. Tidak bisa membuka pintu manapun di  rumah, pintu lain di luas properti kastil, atau pintu apapun di atas tanah. Kunci itu  cuma bisa mengakses kamar kelas suite kapal pesiar mewah. 


Di pegangannya, nama terpampang: Prince Carol Cruise


Levi tidak bisa memasang secara pasti ekspresi apa dirinya mesti ikat pada  lingkar kepala, sekarang ini atau bulan-bulan sebelumnya, sembari membaca  nama pada pegangan kunci. 


Gembira? Iya. Bahagia? Sangat. Gelisah juga? Termasuk. 


Mereka berlomba-lomba mau keluar muncul ke permukaan kanvas emosi 

tapi tidak ada bisa mencapai garis akhir, mendorong saling dempet, tertahan di  tenggorokan, mustahil mendemonstrasikan tepat isi hati. 


Gelora perasaan Levi tidak terjadi dalam vakum. Levi merasakan di sendirian  atau keramaian, terkonsentrasi pada satu kejadian lalu. 


Belum genap satu tahun sejak hari Ades mengadopsinya tiba-tiba tanpa ada  pertanda atau sedikit rumor masuk telinga. Kurang tepat sasaran kalau hanya  mendeskripsikan dirinya itu terkejut atas sensasi senang panas-dalam hati. 


Mata Levi bergulir, ke pojok kiri kelopak, di mana seseorang bahan tatapan  ada. Mona duduk bersamanya pada sofa empuk warna merah berkerangka kayu  pohon ek. Levi mencari sesuatu di ekspresi sang kakak dan menemukan sesuatu  yang secara tidak sengaja membuatnya lebih tenang. 


Mona memiliki kerutan khawatir sama seperti, tapi lebih tebal, dari Levi. Tidak  seperti Levi, Mona tampak mudah sekali mengeluarkan keprihatinan lewat muka  bila dibanding si gadis rambut merah jambu. Perihal kebiasaan bisa jadi sebab. 


“Ini serius?” di antara mereka berdua, Mona buka suara pertama. “Pergi libur  ke kapal pesiar?” dan rasa janggal bergantung di temali dari mulut. 


“Tentu saja, Mona. Bukan hanya kalian saja, kami berdua akan ikut liburan  bersama.” balas Ades, duduk di sofa sewarna depan mereka, tanpa melepaskan  senyuman sayang tulus dari wajah. Di sampingnya, senyuman sang suami  menemani. 


Feruci meneguk air dari gelas di tangan. “Sebagai keluarga.” tambahnya. 


Mona, biasanya memiliki arah berpikir beda dengan Levi, secara tidak sadar  punya pengertian selaras atas ajakan liburan Ades dan Feruci. Dalam kejadian  paling langka sejak masuknya Levi ke keluarga ini, Mona setuju dengannya. 


“Tanpa misi?” tanya Levi, rasa khawatir dan gembira jadi satu di suaranya. Feruci terkekeh. Ades yang menjawab. “Tanpa. Misi.” 


Ini pasti omong kosong. Pikir si dua gadis muda bersamaan.


Mereka masih ingat bagaimana kegiatan di luar rumah akan selalu punya  misi mengekor di belakangnya; misi, misi, dan lebih banyak misi. Mona dan Levi  tidak keberatan. Dalam suatu pandangan, tiap tugas merupakan aksi balas kasih  dari mereka untuk kedua orang tua angkat; hadiah karena telah memberikan  tempat hidup layak. Namun, ada satu konsekuensi psikis. Mereka berdua selalu  berkekspektasi kalau semua ajakan Ades, apalagi Feruci, selalu diekori misi. 


Di luar seringnya misi-misi, kesibukan kerja Feruci dan Ades seharusnya  melarang mereka dari melakukan kegiatan lain─lebih-lebih liburan, setidaknya  yang tiba-tiba. Satu pertanyaan sekarang naik di kepala dua gadis. Apakah orang  tua mereka merencanakan ini sampai bisa dapat hari kosong? Serius semua ini  murni liburan dan nikmat senang-senang, sebagai keluarga? 


Jemari sejuk angin mengelus hati. Senyum Mona tahan. Tangan terbuka, pipi  bersandar pada telapak, memandang kunci. Mata Mona bergulir sedikit, melirik  Levi di samping, sekilas. Tatapan kembali ke kunci. Bila dia biarkan sedikit lebih  lama, mereka bisa bertemu saling pandang. 


Tidak sulit seharusnya untuk saling bertukar pikiran sama Levi. Mona harus  sedikit membuka diri. Namun, untuk sekarang, pikiran emosi dari senang,  khawatir, dan utamanya heran terjebak dalam diri sendiri. 


Hari selanjutnya datang. Matahari bangkit dari pojok timur bumi dan seperti  tangan membalik halaman buku tuk terus membaca. Sentuhan hangat miliknya  mencapai semua sudut, termasuk lima koper kain berbagai warna favorit Mona  dan Levi. Dua saudari angkat tidak bisa ditemukan dekat barang-barang mereka.  Malahan, pelayan rumah yang mengambil benda-benda itu dan menaruhnya di  dalam bagasi mobil limosin keluarga. 


Kendaraan itu segera melaju, tinggalkan kompleks kastil menuju destinasi  tempat Prince Carol bersandar. 


Selama perjalanan, mereka semua─kecuali Feruci dan Ades─sibuk dengan  alat dan dirinya masing-masing. Pemandangan di luar mobil keluarga mengikat  permata Mona, sekali-kali melompat saat objek pandangan berganti dari antara pohon rindang dan lapangan hijau. Levi, di lain hal, memutar-balik halaman buku  catatan kecil. Muka kertasnya penuh tulisan tangan akan bagaimana cara  memberi pria kenikmatan, dengan beberapa sketsa kasar indah tangan maskulin  tergambar di sana. 


Duduk di depan mereka berdua, Ades dan Feruci membicarakan pekerjaan  tanpa ada gestur romansa. Mereka tahu kalau si dua anak tidak bicara ke satu  sama lain. Tidak ambil pusing untuk memaksa. Terdapat harapan kalau liburan  kapal pesiar akan membuat mereka membuka hati ke satu sama lain dan lebih  dekat dari sekarang. 


Dari muka tanah, mereka akhirnya menapak di atas laut. Koper telah keluar  dan sekarang di tangan, dan mobil limosin pembawa mereka sudah pergi keluar  dari kompleks pelabuhan. 


Kapal pesiar tempat kaki berdiri tergolong besar. Tidak saja besar, semakin  dalam mereka melangkah masuk, megah dan mewah fasilitas juga muncul.  Badan warna putihnya mirip persis imajinasi populer surga. Kaca tanpa warna tidak tembus pandang mengelilingi, pemandangan luar pelabuhan tercermin di  permukaan dan melindungi penumpang di dalam dari mata penasaran orang di  luar. 


Prince Carol penuh sesak keramaian orang, kebanyakan keluarga namun  terdapat pula individu mengambil libur sendirian tanpa membawa belahan jiwa;  kekasih atau anak. Berjalan melewati lautan manusia, sang keluarga mencapai  kamar tidur tempat tujuan sesuai kunci pemberian orang tua; Levi di kamar D632  dan Mona di kamar D701─mereka bersebelahan. Sementara itu, Feruci dan Ades  mendapat kamar di depan yang kalau tidak ada tembok memisahkan koridor  masing-masing, sudah pasti akan jadi ajang siapa menyapa lebih dulu setiap pagi.  Kemudian terakhir, Stan; peliharaan sang kepala keluarga, beristirahat di kamar  sebelah Mona. 


Levi tidak mengekspresikan pikiran ini ke siapa-siapa, tapi dia menemukan  kalau kenyataan Stan mendapat kamar sendiri walau statusnya adalah peliharaan keluarga sangatlah manis dan imut. 


Setelah kru kapal memastikan kalau semua penumpang─yang hadir─sudah  masuk ke dalam, Prince Carol mengucapkan selamat tinggal pada semua orang  di pelabuhan dan mulai berlayar. Buritan kapal melambaikan baling-baling dalam  keanggunan kaku cuma sebuah mesin bisa lakukan. 


Mona rebah bersandar di atas kasur setelah menutup pintu dan memutar  kunci ke kiri. Koper warna marun tergeletak dekat meja hias tidak terbuka. Mata  merah Mona menatap ke pemandangan bukan dataran rendah jendela kamar  presentasikan untuknya. Sebelum bisa memimpinnya langsung ke lautan, balkoni  tercetak di antara dirinya dan birunya lautan samudra tidak kenal batas yang pasti  akan menancapkan pada daging kulit cerahnya ratusan gigi hiu. 


Tanggal hari ini harus dilingkari spidol merah, hari paling aneh di sejarah  keluarga pada kalender pribadi Mona. Rasanya seperti tidak nyata dibawa liburan  si dua figur orang tua. Dia mau mencubit pipi, tapi tanpa melakukannya Mona  sudah paham kalau sekeliling ini bukan mimpi. 


Mona lempar pikiran tentang nyata atau mimpi itu. Bangun dari kasur yang  sudah sedikit tertekuk tapi masih rapih, dan tanpa berganti baju, Mona keluar dari  kamar. Dia menolehkan kepala dan menemukan Levi baru keluar dari kamarnya.  Pandangan mereka bertemu. 


Lima detik menguap sebelum mereka baru jalan bersama, tanpa suara ke  satu sama lain, bertemu dengan Feruci─Stan pada bahunya─dan Ades dekat  elevator sesuai rencana awal keluarga. 


Maka hiduplah hari pertama petualangan tidak terlalu sunyi mereka sebagai  keluarga di panjangnya Prince Carol


Tidak seperti kedua anak angkat mereka yang punya label kertas melilit di  kepala, Feruci dan Ades benar-benar terasa seperti pasangan yang menikmati  masa libur, baik dari bagaimana cara mereka membawa sikap mereka kepada  sekelilingnya atau dengan bercengkrama bersama tamu-tamu lain.


Mereka─si dua orang tua dan tamu-tamu lain─berbincang seakan-akan  teman lama dipertemukan kembali setelah puluhan tahun dan tidak akan bertemu  kembali di dekade selanjutnya. Apa yang diperbincangkan pun bukan suatu topik  si anak pertama dan anak kedua pikir akan muncul. Dibandingkan hal berat dan  intelektual, percakapan mereka begitu... biasa; dari mana mereka berasal, lalu  bagaimana keadaan cuaca atau iklim tempat itu, lantas profesi mereka, dan hal  lain seharusnya si dua putri bisa tebak dari sosok dengan kemampuan bangun  relasi yang tinggi. 


Mona tidak yakin apakah aksi tersebut merupakan sepucuk topeng untuk  menjaga rapat reputasi asli orang tuanya ataukah memang benar-benar mereka  menikmati liburan ini. 


Apapun jawabannya, Mona merasa sangat tidak cocok di sini. Tidak seperti  Levi. 


Kontras dari si saudari tua, Levi bercengkrama sebaik orang tuanya, atau di  suatu sudut, lebih baik bahkan. Walau dia ikut merasakan kebingungan tentang  liburan ini dan aksi Ades dan Feruci sendiri, sama seperti Mona, Levi lekas saja  memutar rasa bingung tersebut jadi keingintahuan dan kemudian menuju potong  nikmat saat diri bertemu banyak orang─terlalu banyak di antaranya laki-laki umur  sepantaran. 


Mona terasa seperti orang asing. Tak ada orang perlu disalahkan. Dia sadar  itu bukan kesalahan siapa-siapa selain diri dia sendiri. 


Sepanjang hari pertama, Mona tampak tidak seperti putri keluarga melainkan  pengawal bayaran yang siap menggigit lengan calon penyerang. Muka Mona  keras dan kaku, hampir tidak tersenyum selama satu hari─kalaupun iya, itu cuma  saat mendapat senggolan dari dua orang tuanya. 


Levi, bukan cuma memperhatikan Ades dan Feruci, juga mengikat mata ke  Mona sesekali. Dalam observasi sembunyi-sembunyi itu, dia melihat bagaimana  laki-laki di bawah hitungan jari berusaha mengobrol dengannya. Tapi, diakibatkan  alasan hanya Mona seorang bisa tahu─terlalu fokus dalam misi tak berbunyi mencari gerak-gerik mencurigakan sang orang tua, selalu abai atas pendekatan  mereka. 


Lantas mereka menyerah. Setelahnya, malah terjerat pukat harimau milik  Levi. Dia berbincang selayaknya gadis muda menjilati es krim rasa favorit yang  baru dibeli. 


Mona dan Levi ikut ke mana kedua orang tuanya pergi sepanjang hari. Levi  mau pergi sendirian, bercengkrama bersama penumpang lain selayaknya yang  Feruci dan Ades tunjukkan. Keinginan itu ditahan perjanjian tanpa suara dan  tanpa tanda tangan antara adik dan kakak untuk memperhatikan gerak-gerik  orang tua mereka lebih dulu. 


Saat hari pertama selesai dan matahari telah terbenam meninggalkan jingga  di langit barat, Mona dan Levi kembali ke kamar mereka masing-masing. Mereka  memiliki personaliti berbeda, dan hari ini meremas keluar dari kepala keduanya  konklusi yang sama; kalau benar ini merupakan liburan. Dengan mata mereka  masing-masing terkunci ke gelombang lautan; Mona duduk di atas kursi dan Levi  memakai piyama tiduran di kasur, dan menarik satu solusi. 


Mereka akan nikmati hari esok.  


Datanglah hari kedua dan selanjutnya hari ketiga. 


Tidak seperti hari pertama di sebelumnya, Mona dan Levi sudah benar-benar  melonggarkan ikatan temali pikiran sekitar diameter kepala, akhirnya melepaskan  semua beban saat mereka keluar dari kamar mandi masing-masing, pakaian  kasual membungkus tubuh yang handuk keringkan. Tanpa ada pemikiran berat  menahan dari menumpahkan kesenangan seperti kedua orang tuanya kemarin  tampilkan, mereka siap meluncurkan rasa penasaran dan menerima berbagai  macam bentuk hiburan di atas lantai mahal Prince Carol


Dengan jalan pikiran yang sama dan selaras bukan berarti mereka bakalan  melakukan aktivitas hari ini berbarengan. Malahan jauh sekali nyatanya. 


Serupa hari kemarin, pasangan kakak-adik itu berpisah ketika mereka jalan keluar kamar dan menjelajah tempat-tempat berbeda yang sempat diperhatikan di  sebelum hari kedua. Mereka bicara sebelum benar-benar berpisah, dimulai Mona,  mengenai pendapat satu sama lain tentang kapal pesiar ini dan bagaimana  perasaan ikut liburan bersama Feruci dan Ades. Mereka melangkah keluar dari  elevator, pergi ke jalan masing-masing setelah mengucapkan, “Sampai nanti, ya.”  dari bibir. 


Mona menemukan dirinya mengunjungi banyak lokasi di tingkat lebih rendah  dari kamarnya di Deck 9. Tempat favorit pribadinya ada dua; Galeri Foto dan  Galeri Seni Murni, di Deck 6 dan Deck 7. Mereka menawarkan bentuk jenis  artistik berbeda, sesuai namanya, satu fotografi sementara yang lain karya seni  tangan. 


Biasanya dia tidak terlalu tertarik untuk memperhatikan hasil pikiran manusia  terlalu dalam, hanya memberikan ‘oh, itu indah’ sederhana di bawah napas  kemudian berjalan pergi, lebih senang menonton aktivitas pemompa adrenalin  dan ketegangan. 


Dengan kebiasaan itu dibuka, Mona cukup kaget saat beberapa karya seni  cipta tangan dan fotografi menarik napasnya keluar, bukan melalui adrenalin tapi  dengan maksud endorfin. Kesukaannya ada dua. Sekilas rasa bingung muncul.  Kenapa dia bisa suka mereka? 


Jawabannya naik dari benak kesadaran sendiri. 


Mereka semua punya merah darah. 


Pertama merupakan sebuah foto perempuan muda, berdiri di atas danau  darah yang bukanlah warna sesungguhnya, karena itu cerminan dibuat oleh gaun  yang menempel pada seluruh kulit kecuali atas bahu; kain sepanjang lengan dan  sayapnya melampaui panjang pria dewasa berkibar bersama rok menyentuh  mata kaki, semua garis benangnya menelan merah malam. Rambut gelapnya  seakan-akan arang mentah yang diremukkan, membentuk benang, dan ribuan  bergantung dari kulit kepala. Mona tahu ia hitam, tapi di antara samudra kirmizi, ia  bersurat merah akan kematian ciptaan aliran darah Tuhan yang mati.


Kedua merupakan sebuah lukisan, dan dibanding sebelumnya, lebih liberal  dalam proses pembuatannya tanpa harus ditahan jeruji realita. Gambaran itu  menampakkan pria telanjang tercipta dari emas, kemanusiaan ciptaan makhluk  fana, dipahat satu potong per potong yang mana setiapnya terhubung benang  putih ketat hampir tersembunyi di bawah sendi dan di mana otot seharusnya ada.  Lautan merah darah mengelilingi sang kemanusiaan palsu, dan rambut sama  emasnya tenggelam di kelumerannya yang begitu kental dan kuat, ia hampir  terlihat selayaknya angkasa raya─dan itu memanglah ia, dan pada ia tersebar  bintang-bintang putih tak terhitung banyaknya bersumber dari rambut emas. 


Mereka semua bukan darah. Tidak ada satu peser pun warna dominan itu  dipakai tuk menunjuk cairan dalam urat nadi kehidupan manusia. Pandangan  Mona berbeda dan dalam perbedaannya, ditemukan merah ketenangan. 


Mona sudah tidak berada di Galeri Foto saat dirinya ditarik harum jajanan  dan minuman Kafe Internasional tepat di samping pintu keluar. Pandangannya  lalu berjalan menuju kasino dekat tempat yang sama setelah memesan kue  mousse coklat putih-coklat gelap, roti lapis daging sapi panggang, dan kue keju  sederhana. Sembari mengunyah pelan-pelan makanan pesanan di salah satu  meja kafe, ditemani segelas kopi latte stroberi rendah gula, Mona berencana mau  mengunjungi kasino itu dan memainkan tiga atau empat permainan di sana,  mungkin pada hari keempat. 


Dia mau mengunjungi lebih banyak tempat, dimulai dari Deck 8. Masuk ke  dalam elevator, Mona bertanya-tanya apa yang adik saudarinya lakukan sekarang  dan tempat mana saja dirinya datangi. 


Levi sedang berbaring di atas kasur kulit dengan handuk lembut antaranya  dan dada, serta satu handuk lebih kecil menutupi bukit belakang. Minyak ekstrak  campuran biji anggur dan biji bunga matahari melapisi kulit lembut, cemerlang  berkilau di bawah lampu ruangan, harumnya mengelus lubang hidung. Tangan  menekuk keduanya, mengunci bantal yang kepala Levi pakai untuk tidur. Muka  menghadap ke sisi di mana lilin aromatik berdiri pada lingkaran permukaan meja  kecil. Levi baru sadar hampir dibuat tidur.


“Aduh, enak banget tangannya kakak~” desis si gadis rambut merah muda. 


Tangan feminin bergulir pada punggung, menekan barisan otot Levi penuh  ketelitian akurat, dari pinggul mencapai geografi pisau pundak lalu hingga pundak  itu sendiri, kemudian turun tanpa lupa memberi tekanan ke samping badan. 


“Sudah merasa lebih tenang, kak?” si pramupijat bertanya, suara lembut  perhatian, dan dijawab anggukan Levi yang ditemani erangan nikmat saat titik  tepat ditekannya. 


Si pramupijat lanjut mengganti fokus, mendorongnya turun ke bagian tubuh  bawah gadis rambut merah muda, melewati bagian belakang, ke dua kaki. Dia  tarik naik salah satu, memegang pergelangan kaki dan memastikannya lurus,  memberi pijatan menekan pelan nan lembut dari paha ke betis, lalu menekannya  hingga tumir. Berulang-ulang. Dia juga melakukan gerakan sama ke kaki Levi  yang lain. Menggabungkan dua kaki bersampingan, si pramupijat dorong mereka,  menekannya hingga betis mencium paha Levi dan kaki bertemu pantat. 


“Sebentar lagi ya, kak.” ucap si pramupijat seraya tangannya sudah rajin  memijat telapak kaki Levi. 


“Oh, nggak kerasa, ya. Cepat banget~” komentar si anak kedua Seven Sins  Family itu.  


Levi sudah setengah tidur saat jemari pramupijat lepas dari kulitnya. Enak  sekali rasa badannya sekarang, diselimuti hangat nyaman tidak lengket. Mungkin,  sebagai gadis penghibur di rumah bordil Ades, Levi bisa belajar satu atau dua  teknik relaksasi dari pramupijat hebat ini telah kenalkan. Pria tua yang sering  datang ke sana pasti akan jatuh cinta dengan jemarinya; bila sudah, akan  tenggelam lebih dalam di cinta dan nafsu. 


Si pramupijat menawarkan keranjang kayu kecil. Di mukanya, terlipat rapih  sebuah handuk besar, yang si muda terima. Setelah melapisi dada hingga paha  pakai handuk itu, Levi masuk ke dalam salah satu ruang ganti wanita di mana dia  temukan pakaiannya tersusun rapih nan segar pada meja, seakan-akan baru saja selesai dicucu tangan profesional. Handuk jatuh mengelilingi kaki setelah Levi  menutup tirai. Pakaian menggeliat naik satu-persatu, menutup tubuh mulus yang  masih berkilauan. 


Arus lembut suara musik menjilat dua telinga Levi saat kaki membawa dirinya  keluar Spa Lotus. Jazz, jenis musik itu. Ia tidak ditemani vokal, murni lantunan  alat musik saja. Tinggi volumenya berada tepat di tingkat sempurna hingga  membuat siapapun tutup mata memuja, seperti salah seorang pria muda yang  sedang berbaring di atas matras kursi samping kolam renang lakukan, Levi lirik  sedikit ketika melewatinya. 


Gadis itu melakukan hal sama ketika dirinya duduk di kursi tinggi Bar Es Krim  utara dari kolam renang. Bayang pikiran menyeret maju tujuan hari ini ke depan  dahi Levi; jelajahi Deck 14, kemudian lantai-lantai bawah. Sangat banyak. Tidak  bisa ditolak kalau Levi merasa bingung harus lanjut berkunjung ke mana.  


Suara bentur papan di mana hidangan disajikan membuat kelopak mata  mekar, merah muda indra pengelihatan mendapati gelas berisikan dua sendok  gelato stroberi dan persik di meja. Lantas mereka naik, menemukan senyuman  semanis es krim milik si bartender. 


“Untukmu, nona. Gratis.” jamin si pria kulit agak gelap itu. 


Senyuman Levi hantarkan selagi tangan mengambil sendok yang sudah  tertera di samping gelas. 


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku suka rasa ini?” tanya si gadis muda  yang usianya mungkin sampai setengah dari sang bartender. 


Si pria menaruh dua tangan bertindihan pada bagian konter tanpa peralatan  dan benda-benda kerja. Tangan kanan ia naik, telunjuk dan tengahnya bersatu  keluar dari kepalan, menunjuk rambut dan mata Levi. Gesturnya membuat si  gadis tertawa kecil serta genit sebelum sendok berisikan gelato masuk mulut  menghentikannya.


● ● ● ● ● 


Matahari segera hilang ditelan ufuk barat, di tempatnya rembulan bangkit dari  tidur menggantikan kewajiban sebagai penguasa surga. Pancarannya tenang bila  dibanding gairah hangat jam-jam sebelumnya. 

Malam dari hari kedua tidak memberi kejadian menarik untuk si dua saudari  yang saat ini memilih untuk meluangkan waktu di kamar masing-masing, sibuk  dengan barang bawaan sendiri sementara musik dari lantai bawah bisa terdengar  menggema. Levi tengah duduk bersandar pada ranjang sembari membaca novel  sensual dalam balutan piyama, tangan kiri dia tidak bisa ditemukan di atas selimut  yang menutupi badan bawah. Mona, di kamar sebelah, tengah duduk santai di  meja balkoni dan memotong pelan-pelan kue tiramisu bawaan dari kafe. Ketika  Mona memasukkan potongan ke mulut, dia tidak bisa menolong diri untuk tidak  meneliti pisau makan di tangan kirinya, membayangkan kalau bercak coklat  padanya sebagai darah ataupun daging. Bukan hewan. Manusia.  


Hari ketiga tidak beda jauh untuk Mona. Bangun dari kasur, masuk ke kamar  mandi, setelahnya mengenakan baju kasual dan keluar kamar dengan rencana  masih sama seperti kemarin, memuaskan perasaan kehati-hatiannya melalui  eksplorasi menikmati liburan ini. Namun, untuk Levi, si gadis membolehkan kapal  ini menikmati dirinya. 


Langkah Mona berhenti tepat di depan suatu pintu kayu. Wajah menoleh ke  sisi itu, memberikan perhatian khusus pada permukaan berukiran sederhana tapi  cantik. Turun menekuk dahinya, dua alis saling bertautan. 


Apa yang membuat kaki Mona berhenti melangkah bukanlah bentuk, wujud,  apalagi desain pintu yang kini matanya tatap. Jauh. Mona bisa menemukan  ratusan pintu sejenis sejauh koridor merentang. Bila naik atau turun ke lantai lain  pun, dirinya akan menemukan hasil yang sama dengan perbedaan tidak begitu  mencolok. Ia tidak unik, dan pintu kamar Levi pun sama seperti kamar Mona. 


Mona tidak bergerak akibat dari suara di baliknya.


Suara itu tidak asing. Mona malah terkesan akrab dengan kereta bunyi yang  keluar dari celah pintu dan lubang kunci─atau mungkin karena saking kerasnya  suara itu─bocor melaluinya walau ia ditutup rapat. Familiaritas yang Mona  rasakan bukanlah karena siapa pemilik suara itu namun jenis suara apa itu.  

Tidak butuh waktu lama untuk mengingat di mana Mona menemukan bunyi  sejenis, dia bisa menemukannya di tempat usaha yang Ades miliki.  


Tidak salah lagi. Itu merupakan suara seks. 


Mulut Mona terbuka sedikit. Mata pun melebar tidak lebih besar dari lonjong  buah kurma dibuatnya. Leher menekuk naik, kepala mendongak tidak jauh, dan  memandang atap. Mona belum kenal lengkap Levi. Dia tahu sedikit tentangnya,  tidak termasuk latar belakangnya yang Mona cukup hafal. Tapi, memperhatikan  sang saudari, apa mungkin Levi seberani itu? 


Mona cepat menggelengkan kepala, mendorong keluar pikiran-pikiran aneh  tidak penting dari pikiran. Suara itu pasti cuma tontonan porno adik saudarinya.  Tidak lebih. Tidak kurang. 


Dengan keyakinan diri yang rapuh itu, Mona pergi dari pintu kamar Levi. Apa  yang adiknya nikmati bukanlah urusan si kakak. Mona tahu pasti kelucuan  ataupun kejenakaan kalau Levi dibuat sadar suara tontonannya bisa sampai  pejalan kaki di koridor kamar dengar. 


Mona tolak pikiran itu. Dia tidak mau berurusan dengan kemarahan berakar  rasa malu si rambut stroberi, mengotori hubungan kakak-adik yang belum ada.  Mona berikan pipi jadinya. 


Mungkin Mona akan kaget kalau tahu suara basah bertemu basah, derak  desis ranjang, dan desahan yang terlalu keras untuk alat elektronik keluarkan  bukan beraasal dari film porno melainkan seks itu sendiri. Andaikan Levi punya  kecendrungan buat bercerita setelah hasrat dan gairah kering. 


Langsing jemari meluas pada leher lelaki, memutar tanpa rasa malu dalam  alurnya, mengancam akan cekikan yang tidak datang kemudian turun mengelus selangka dada dan berakhir di bagian pektoralis utama yang terbalut kulit gelap  manis bagai karamel. Lelaki itu basah, dilapisi keringat panas oleh tubuhnya. Levi  menyentuh dada si jantan mengetahui kalau keringatnya yang mengalir─dan  menetes─akan menyatu setiap kali mereka bersentuhan. 


Haus menyorong dansa mata. Lapar menarik bibir ke senyuman semanis es  krim gelato. Gadis itu melirik si laki-laki, merah muda mekarnya tapak dara. 


Berulang kali pinggul bertari ria melawan tarik bumi, ikut terombang-ambing  mahkota merah muda. Lipatan kaki bertumpu, jongkok mengurung, melengkung  tidak sampai lurus tiap kali pendek badan memiston pada si jantan. Bahan akrab  milik Levi memberkati selangkangan. Gejolak nafsu dan gairah menciptakan  kekacauan cairan sensual, tidak seperti si laki-laki dan Levi tidak menyangkanya.  Kembang Levi t’lah mengulum daging lapis kondom tanpa ada ingatan berapa kali  dindingnya dicium dan dielus ia. 


Tangan mencengkram pinggul, dan badan Levi bergetar akibatnya. Jemari  bentuk hampir kotak sempurna tenggelam di kulit selembut sutra, pegangannya  erat. Gerak konstan si gadis dijaga, sesekali menambah dengan sedikit dorong  dan tarik. Pendingin ruangan menghembuskan udara sedingin ia mungkin bisa  tapi tidak mampu menghilangkan panas berakar dari aksi mereka. 


Tanggal sudah bentuk penutup penting, tertampar jauh di lantai dan ranjang.  Semua kacau, termasuk seprai yang sudah kehilangan pegangan pada dengan  pojok ranjang. Harum kamar tercium indah, nikmat seks mereka menambahnya  lagi. Lelaki bernama Ernest itu menekan kejantanannya sedalam mekaran bunga  Levi bisa terima, merubah dan memutar posisi dari semula. 


Levi bertumpu pada seluruh empat bagian badan, semua perlahan melemah  hampir tidak kuat mencegah beban sendiri dari jatuh, mereka kesulitan mengikuti  arus panas terus datang dari belakang. Lebar terbuka telapak tangan, sesekali  dua-duanya tutup meremas seprai disuruh insting kenikmatan yang diperhamba.  Matras ranjang ditekan lutut yang menciptakan cekungan sementara, hilang  bersama tarikan kejantanan Ernest, membawa getaran panas sepanjang dinding basah Levi. Jemari kaki menekuk gemetaran tanpa konsistensi. Bahkan dengan  kondom, ciuman kelamin membuat si gadis berdesah kencang, sangatlah tipis  lapisannya, panas kejantanan tetap bisa inti Levi rasakan. 


Ernest merupakan seorang laki-laki yang punya tinggi berdiri melebihi lelaki  umum Levi temukan. Menaranya tubuh Ernest ditemani gemuk setimpal, berotot  mirip binaragawan dari beberapa sisi namun tidak sampai tingkat menggelitik  seperti badan Levi temukan beberapa kali di televisi. 


Kulit Ernest mempunyai rasa manis seperti kelihatannya, coklat berlawanan  milik Levi. Warna seperti jajanan kelas atas khas impor tanah pegunungan, buat  Ernest tampak menggoda untuk mengundang gigitan─dan Levi telah melakukan  itu, meninggalkan gigitan dan tanda ciuman, dari leher dimulainya lalu mengalir  turun menjejakkan dada bidang, perut penuh kenyamanan, bermuara di antara  paha. 


Ernest sepenuhnya ditandai. Dalam berapa pandang, mungkin juga dimiliki. 


Remasan jemari pada seprai rapat, tetapi lemah pegangannya. Lengan Levi  sudah bergetar sejak pertama posisi ini mereka ambil, hentak dari belakang tidak  membantu, perlahan membuat siku menekuk sebelum akhirnya menyerah. Jatuh  ciuman pada bantal habis dia tarik, tenggelam wajahnya di kelembutan benda  yang harum itu, manisnya menggelitik hidung. 


Hentakan Ernest menyentuh semua titik berdenyut jemari saja tidak bisa  capai dalamnya di ruangan hangat serta basah. Si gadis tidak mampu menahan  jeritan nikmat, lepas bebas ke bantal yang memenjara suara. 


Stimulasi macam apapun menendang perasaan si putri kedua pada titik ini.  Tangan maskulin Ernest, mengatup pinggang langsing Levi, seharusnya terasa  biasa saja bahkan bila mereka dansa bersama di pesta malah memberi sensasi  kebejatan ke dalam diri gadis muda yang mulutnya tidak bisa jaga sama sekali.  Pintaan untuk terus memberi, mengulang hentakan lebih dalam, terucap tanpa  adanya jeda kecuali saat napas harus Levi ambil. Gagal ia melakukan tugas tuk  tidak bersuara.


Tapi, bukankah itu yang Ernest ingin dengar dan lihat? Gadis muda dari salah  satu keluarga kaya raya berada di bawahnya, lantas juga menginginkan pria  tanpa mimpi lain di luar tembok kapal pesiar? 


Ernest tersenyum sumringah. Tanpa dia bisa melihat, Levi menyeringai di  balik pelukan bantal. 


Keras jerat nafsu pada pikiran. Cukup lucu, mengingat dua hari lalu perasaan  khawatir lah yang melingkar di sana. Terlalu banyak hal kecil, dan sedikit yang  besar, bisa Levi lakukan di situasi ini; gerak pinggul menjawab hentakan Ernest,  contohnya. 


Levi tidak mau ini berhenti. Tidak dulu, tentu saja. Masih terlalu pagi, walau  sebenarnya cahaya matahari sudah menusuk tembus gorden jendela sejak Levi  pertama menciumi leher Ernest. Gadis itu mulai semua ini dan Ernest senang  bisa menaiki keretanya setelah sesi main mata dan bahasa sepanjang malam  kemarin. 


Sulit menarik perhatian Ernest. Selain karena sikap profesional tiada dua,  istrinya menunggu di rumah. Levi tidak ingat persis nama dan pekerjaan sang  wanita walaupun dia yakin Ernest sempat bercerita tentangnya kemarin. Cinta  Ernest kepadanya besar nan megah, masih menempel cincin pernikahan pada  jari manis yang meremas pinggul bergoyang Levi. Air liur masih menyelimuti  cincin sumpah setia. Levi puas melihat kejantanan Ernest mengeras setelah  menjilatinya sebelum ini. 


Ada sesuatu mengenai pria dewasa berusia jauh di atas yang memikat kuat  pandangan Levi, bahkan kalau mereka bukan siapa-siapa bila dilihat lebih jauh,  bukan orang punya nama dan kaya; sekadar guru biasa, pengusaha kelas teri,  pustakawan nerdy, sekarang bertender kafe es krim. 


Telapak mekar terbuka, Ernest raih rambut merah muda hingga lima ujung  jari menggelitik ubun-ubun, lantas mengatup, si gadis ditarik hingga dongak  menatap langit kamar dan bayang-bayang Ernest. Mahkota Levi terlalu pendek  bila ingin mendapat perlakuan tali kuda, itu butuh rambut panjang. Namun, nafsu Ernest melejit hampir tembus garis bahaya tanpa alasan jelas kala memandang  aksinya ke rambut Levi, seperti tengah memberi hukuman keras kepada gadis  sekolah. Lidah mengulum bibir. Ernest beri tarikan sekali lagi, membuat badan  Levi tegak bertumpu pada dua lutut dan tetap dalam posisi itu dengan lengannya  melingkari perut si merah muda. 


Mereka dansa bersama dalam ritme tanpa janji. Simfoni dorong dan tarik  pertemuan antar dua kelamin menggema di satu kamar, tanpa sepengetahuan  dua insan terjebak nafsu, pula bocor ke luar. 


Tidak berhenti pantat Levi menampari selangkangan Ernest. Kejut mengocok  tiap kali lipatan bibir kewanitaan mencium dasar kejantanan. Panjang si jantan  terus menggaruk dinding berkedut ampun dan minta tambah, mereka tidak ingin  lepas pegangan. Nikmatnya panas keinginan salah berdosa menjajah antara kaki.  Levi belum mengucapkan umurnya. Tidak penting. Ernest tidak akan mundur pun. 


Cairan nafsu tanpa cinta muncrat membasahi kasur. Levi sudah mencapai  klimaks? Entah. Levi jelas tidak berhenti memantul seperti bola basket di atas  sang pria kini memberi perhatian cium dan jilat sepanjang lehernya. 


Lengan Levi naik perlahan bersama, melata tinggalkan garis sentuhan manis  pada punggung lebar dan kuat. Semua waktu dunia ada di tangan mereka,  tenang dan lambat, jemari sentuh mengelus kulit gelapnya, kini berakhir bertautan  di belakang leher pria lebih tinggi. Bagaimana cara Levi memposisikan dirinya di  depan Ernest mengingatkan sang pria dengan patung putri duyung dia biasa  temukan pada hidung kapal bajak laut. 


Levi mendongak dengan bibir terbuka. Lidah keluar dari goa hangat berliur  hangat, memberi gestur si pria kenali pada tatapan pertama. Balas menunduk,  Ernest sambut milik Levi yang lebih kecil. Mereka bertemu dalam keadaan basah.  Berdansa satu sama lain, berselancar terhadap masing-masing permukaan tanpa  ada batasan. Bibir lantas bertemu, menutupi lidah saling melingkar bertukar ria  cairan hangat yang harusnya disinari cahaya matahari. 


Ernest seharusnya tidak melakukan ini. Istri menunggunya di rumah. Jemari yang menanggung cincin pernikahan tengah membelit leher seorang gadis muda.  Tidakkah sumpah setia dia dan sang istri ambil berarti sesuatu? 


“Ayo, genjot aku terus.” Levi menarik diri dari ciuman, imbuhannya menarik  seringai dari Ernest. “Beri aku hadiah lebih kental dari gelato kemarin.” 


Tidak. Itu tidak penting. 


● ● ● ● ● 


Hari kemarin berjalan cepat. Antara kuning pagi, menuju biru-biru siang hari,  lantas sampai di oranye sore; semua terjadi dalam hitungan tidak di atas detik,  seakan-akan halaman waktu terbuka di tiga kedipan mata. Malam pun bergerak  lebih cepat dari apa yang bisa Mona bayangkan. Orang lebih tua darinya, guru  terutama, mengatakan kalau saat badan menikmati apa yang mereka lakukan,  maka waktu akan terasa cepat habis tanpa peduli apa yang terjadi. 


Mona mengejek gagasan aneh tersebut, berpikir kalau itu tidak lebih sekadar  penyakit nostalgia tanpa kesempatan disembuhkan orang tua akan miliki seiring  masa muda menjauh dari mereka. Kalau memang benar pemikirannya, maka  Mona harus datang menemui dokter klinik kapal bersama gejala penyakit itu. 


Dia selalu mengira badan dan otak hanya bisa merasakan pelambatan dari  persepsi waktu. Itu apa yang Mona rasakan setiap kali pertarungan datang, tanpa  terkecuali. Ia memberikan izin untuk menganalisa dan memilih gerak, kemudian  melakukan berdasarkan waktu yang dibentang dari detik sebenarnya. Pandangan  orang luar memandang semua terjadi kurang dari satu detik. 


Tidak ada orang tahu, Feruci atau Ades mungkin─pun dari observasi sendiri  dan bukan karena Mona cerita─si gadis cinta sensasi itu, layaknya pecandu pada  narkobanya. Ingin si gadis rasakan satu kali tiap minggu. Hari ini berbeda. Entah  kenapa, di mana tenang harus dijaga melalui tiada misi, Mona dibuat sadar akan  ketiadaan rasa inginnya.


Sudah lebih dari banyak tempat Mona kemarin kunjungi bila dibanding hari  kedua. Dia tidak datang ke Galeri Foto dan Galeri Seni Murni, khawatir kalau  perasaan kagum akan megahnya merah pikiran terima hari lalu pergi begitu saja  di kunjungan kedua. Mona paling suka satu tempat di antara semua. Di sana,  Mona berhasil meraup bukan hanya uang tapi juga gengsi besar. Tempat itu tiada  lain adalah Kasino Prince Carol


Kasino Prince Carol menawarkan banyak permainan. Mona cukup familiar  dengan semuanya untuk bisa menarik kesenangan memuaskan dari bagian kapal  ini, daripada marah gila seperti orang dikejar hutang. Supaya muka selamat tanpa  menanggung rasa malu, Mona akan coba menjaga diri dari bermain permainan  dia sendiri tidak akrab tata cara dan hukumnya. Mona pun hanya paham dasar  dari permainan yang dia ketahui. Dia melakukan observasi pada pelanggan  kasino selama satu jam berikutnya; mempelajari teknik, tips, aturan, dan metode  permainan. 


Rolet merupakan permainan pertama Mona mainkan malam itu. Tentu saja,  bukan dengan senjata api Mona biasa mainkan dengan korbannya, yang si gadis  rambut merah lebih ketahui, melainkan pakai piringan berputar hingga bola jatuh  pada nomor pilihan. 


Mona menang empat dari enam ronde. “Tidak buruk untuk pendatang baru,”  ucap salah seorang pesaingnya. Sebenarnya sangat mengesankan sampai  menarik banyak rasa kagum dari orang sekitar, termasuk staf. Harus ada untung  dan sial dalam permainan ini. Mungkin, keberuntungan sedang berdiri di sisinya.  Tapi, Mona tahu bukan soal itu. Dia membaca tips, mendengar trik, dan dari sana  tahu harus menaruh taruhan pada nomor berapa. Mona tidak merendahkan hati.  Menerima semua pujian verbal itu dengan seringai penuh bangga. 


Blackjack; permainan Mona ikuti selanjutnya. Antara semua permainan di  Kasino, ia mempunyai peraturan paling Mona kenali dan mengerti. Daripada  memakai keberuntungan, dia sungguh menggunakan strategi di sini. 


Mona menang tiga dari empat ronde yang dia ikuti. Si pembagi kartu cukup baru dari bagaimana Mona melihatnya memberi kartu dan pengamatannya bilang  kalau tiap rondenya bersih dan jujur, tidak seperti dua lawannya yang Mona bisa  lihat coba bermain curang. Mona tidak tahu benar akan apa yang terjadi antara si  pembagi kartu dan dua pesaing Mona, tapi semua itu memberikan dia ruang  untuk menang paling atas. Setidaknya dia tidak mengambil terlalu banyak kartu  sampai lebih dari dua puluh satu seperti salah satu lawannya. Dia menahan tawa  saat melihat aksi bodoh itu. 


Terakhir Mona ikuti merupakan permainan kartu poker. 


Semua ronde Mona menangkan. Mona mengerti jenis barisan kartu apa saja  dalam permainan ini, dan dia berhasil menaruh dua jenis kartu kuat di tangannya;  Straight Flush dan Royal Flush─di setiap ronde. Mona pastikan menaruh dan  tidak menarik kartu menyusahkan, memberi gertakan pada waktu tepat, menjaga  gaya main agresif saat sedikit jumlah kartu di tangan, dan tidak membiarkan  dirinya ada di dalam keadaan merugi. Dengan tata cara sederhana itu, dia  menangkan semuanya dan keluar dari Kasino seorang gadis lebih kaya. 


Memang, uang itu nikmat. Tapi apa yang membuat Mona gigit bibir bawah  merupakan semua pujian itu dirinya terima dari penonton sekitar meja permainan. Setiapnya membuat jantung berdebar kencang seakan-akan ratusan kupu-kupu  keluar dari kepompong dan terbang membawa kehangatan. Betapa makan enak  egonya malam itu. 


Mona mengelus dada. Seringai tidak boleh muncul saat orang-orang sekitar  menampilkan senyuman nyaman khas orang liburan. Terpikir sekilas untuk berdiri.  Mona memilih duduk dan tidak menunjukkan diri antara orang-orang seraya  rombongan baru naik kapal di sore hari ini mendekat. Keramaian mereka sudah  mengkonfirmasi informasi Mona dapatkan dari kasino kemarin. 


Prince Carol menarik banyak penumpang baru dari Juneau. Dua kepala  menarik perhatian Mona lebih dari ratusan lainnya, tidak salah merupakan milik  putri keluarga paling terkemuka dunia, Keluarga Rothschild: Alice dan Charlotte. 


Tajam merah mata Mona jaga dari bergoresan dengan dua pasang milik putri Rothschild. Terpaku mereka pada dansa bebuihan kecil ombak laut yang jendela  samping kapal paparkan. Ruang Tunggu memberi suasana samudra sempurna  tanpa gangguan. Tangan Mona melingkari bibir cangkir kopi moka, menyesap  sedikit, harum biji kopi campur coklat murni masuk kepala, membuat pikiran lebih  tenang, nyaman, dan terpenting; fokus. 


Mendekat rombongan putri Rothschild. Terlihat melintasi belakang Mona dari  cerminan tembus pandang kaca jendela. Mereka tampak tajam pada gelimang  merah, tidak satu dari mereka menaruh pandang ke Mona yang duduk tepat di  sana. 


Alice berjalan sedikit ke belakang. Rambut hitam hasil semir mengalir sampai  pinggang dalam gelombang indah, goyang iramanya kadang terganggu saat Alice  memberi sapaan tunduk hormat ke orang sekitar dia tidak sengaja tatap. Aura  anggun dan bersahaja terpancar dari bahasa tubuhnya. Jauh dari si pirang  Charlotte yang berjalan lebih ke depan. Ekspresi bangganya terpancar jelas dari  muka terbingkai dagu tajam, dijaga oleh leher jenjang supaya terus mendongak.  Bukan salah orang kalau mereka lebih pilih berbincang dengan Alice, menjauhi  Charlotte sambil menggerutu tentang arogansi si pirang. Tongkat khas Keluarga  Rothschild di tangan kanan menggandakan karakteristik si wanita dari yang  mengekor. 


Mona tidak punya posisi istimewa mengenai cara menilai orang. Dia tidak  buta akan rasa ingin dikenal orang miliknya sendiri, itu pun sudah diberi makan  kemarin. Tapi, bila dia boleh menebak, sudah jelas siapa di antara mereka yang  akan mewarisi sebagian besar usaha keluarga. 


Pandangan Mona hampir jatuh ke permukaan kopi bila, di antara keramaian  cermin kaca tempat matanya memperhatikan dua saudari Rothschild, dia tidak  melihat merah muda khas rambut Levi. Mona cukup kaget kala sadar dirinya ingat  karakteristik Levi. 


Mona menoleh, lempar lirikan lewat pundak ke si adik sepenuhnya. Ekspresi  ‘ada apa?’ tercantum pada muka dan dibalas ‘ikut saja’ oleh gestur tangan Levi. 


Sebentar saja Mona melirik kopi moka di tangan, lantas berdiri setelah  menaruhnya, ikut ke mana Levi mengajak. Mereka tidak terlalu dekat, sehingga  ajakan Levi tidak mungkin didasari candaan anak kecil pura-pura dipanggil biasa  anak sekolah dasar lakukan. Benar saja, Feruci dan Ades mereka temui. 


Kamar tempat mereka menghadap rapih. Televisi di dinding, lemari di ujung  kiri, dan kasur─Levi duduk di sana─mendominasi. Selain lipatan selimut di mana  bokong Levi ada, kamar ini seperti tidak pernah ditempati satu jam pun walau  mereka sudah di sini selama empat hari. Sunyi terusir tidak lama. Hela napas  dikeluarkan Mona kala misi jatuh menimpa pada akhirnya. Ades yang duduk di  kursi sofa kamar dibuat tertawa ringan kasih sayang pengertian, dan Levi hanya  bisa menahan kekeh. 


“Maaf ya, kalian berdua, liburan seperti ini kita harus menjalani misi akhirnya.  Ibu akan kasih kompensasi nanti, oke?” Ades tutup bawah wajah dengan kipas,  matanya tersenyum. 


Levi memberi jempol kembar walau ada sedikit rasa kecewa di hati. Mona  memberi anggukan, fokusnya sudah ada pada pembicaraan misi baru. Kecewa  miliknya sudah dibuang jauh ke laut di detik Ades minta maaf. Tampaknya hidup  selalu mampu membawa keacakan ke rencana sesantai apa pun. 


“Jadi, misi apa yang kami kerjakan di kapal ini? Apa berhubungan dengan  dua perempuan yang baru naik kapal sore ini?” Mona tekuk maju badannya,  lepas sudah punggung dari sandaran kursi. 


Jawaban tidak Ades berikan. Wajahnya menoleh temui Feruci di kanan, beri  dia waktu untuk menjelaskan misi. 


Di atas kiri kaki kanannya; gaya duduk pria itu elegan dan mewah, dikunci  dua tangan jemarinya saling sisir di atas lutut. Badan mengenakan baju mewah  senada sang istri pula di bayang warna. Tempat duduknya cuma kursi modern  tidak punya beda banyak dengan dudukan Ades. Demikian, tidak mengurangi  aura Dewa Pagan Kuno eksistensinya pancarkan. Berkuasa. Berkarisma. Kontras  modernitas sekitar dengan klasik pakaiannya malah mempertebal aura Feruci.


“Kamu selalu bisa diandalkan untuk tahu situasi, Mona,” pujinya. “Benar, misi  yang akan kita lakukan punya hubungan dengan mereka, utamanya mengenai  markas rahasia Rothschild dan lokasi akuratnya.” 


“Lokasi? Apakah orang-orang tahu di daerah mana?” giliran Levi bertanya,  kakinya lepas dari lantai bergerak maju-mundur.  


“Kurang lebih. Glesier Hubbard,” jawab tegas Feruci selayaknya guru pada  siswi. “Kalian berdua kenal dengan nama itu?” 


Levi mengambil brosur kapal pesiar Prince Carol di atas meja samping kasur,  tapi Mona yang jawab duluan. “Bukannya itu tempat yang Prince Carol kunjungi di  hari kedelapan?” 


“Tepat sekali,” gestur telunjuk Feruci menepatkan. “Banyak orang mau tahu  lokasi akurat sarang mereka, tapi sampai sekarang belum ada satu orang pun  bisa membenarkan eksistensinya. Informasi ini kecil, tapi ada hadiah besar  menunggu mereka yang bisa mendapatkannya. Aku mau kita jadi yang pertama  dengan menggunakan kecurigaanku kalau dua saudari Rothschild itu datang ke  sana di hari itu.” 

Jemari Mona bermain lima dengan yang lain. Matanya naik dari menelisiki  lantai. “Lalu bagaimana cara kita mendekat ke sana?” 


“Oh, dengan kapal kecil, ya?” Levi menunjuk bagian brosur di mana layanan  menonton longsornya bagian Glesier Hubbard dari dekat tercetak, kemudian  diberikan ke Mona yang tertarik untuk membacanya. 


“Ini uang yang banyak untuk menonton batu jatuh.” komentar Mona setelah  melihat layanan itu secara lebih detail, terkekeh sendiri. 


“Uang bukan masalah, tapi kalian tidak pergi dengan kapal itu. Selalu ada hal  istimewa kalau kita membicarakan Keluarga Rothschild. Kalian akan menyelinap  dengan kapal khusus Keluarga Rothschild dan menyelinap masuk bersamanya.”  penjelasan Feruci membuat Mona angkat alis. 


“Apakah kalian punya ide bagaimana cara masuk kapal Rothschild?”


Feruci melirik Mona dan Levi bergantian. “Kami serahkan ke kalian berdua  untuk rencananya, terserah seperti apa. Kami percaya pada kalian.” 


“Tunggu, kami berdua saja?” imbuh Mona. 


“Bukannya bermaksud menyusahkan kalian, tetapi Ayah dan Ibumu ini sudah  dikenali banyak orang,” Ades masuk ke dalam percakapan dengan tangan sudah  tidak menyembunyikan wajah di balik kipas. “Wajah kami pasti ada dalam daftar  orang berbahaya Keluarga Rothschild, berbeda dengan kalian wajah-wajah baru  yang bisa menyelinap ke kapal Rothschild tanpa dikenali.” 


“Kalian berdua menetap di sini?” Levi menyandarkan dagu ke telapak tangan  yang bertopang pada paha. Tidak bisa menyelinap bersama kedua orang tuanya,  terutama Ades, menautkan ekspresi sedih di muka. 


Pandangan prihatin ada di wajah Ades. Akhirnya dia tidak bisa memanjakan  Levi saat kegentingan misi. Mona ingin mencoba sesuatu, memberi kata-kata  yang bisa membuat misi ini lebih halus dari seharusnya, suatu aksi praktikal untuk  memudahkan koordinasi antara dirinya sebagai kakak dan Levi sebagai adik. 


“Tenang, kau punya aku.”  


Ketidakpercayaan hidup dalam mata Levi yang menoleh saat kalimat halus  itu terbang dari antara bibir Mona, ia hilang secepat munculnya kilat di laut malam  antah-berantah. Senyuman naik ditemani pipi merah. Bibir melekuk tipis awalnya,  lantas melebar bersama manis senang bergantung pada ujung bibir. Setidaknya  mereka bisa melakukan misi ini bersama. 


Aren’t you guys sweet?” senyuman indah Ades menarik tawa manis serta  buang wajah dari dua putri. Feruci menyinggungkan senyum atas respon berbeda  dua putrinya. Kehangatan palsu kadang absen di keluarga asli. 


● ● ● ● ●


Timur memancarkan panas di antara atmosfir dingin utara. Empat hari sudah  berlalu sejak hari diskusi misi. Untuk kedelapan kalinya, sinar matahari selimuti  badan putih Prince Carol. Glesier berdiri kokoh kelilingi kapal sejauh mata bisa  memandang. Penumpang tidak lagi disuguhi lautan biru tanpa batas, melainkan  oleh barisan tembok putih berkelanjutan yang menyisakan sedikit pertemuan laut  dan langit siang. 


Seluruh sisi kapal ramai penumpang yang menonton kecantikan tanah bumi  utara. Pemandangan menarik napas dari semua orang bersama sejuk udara dan  banyak menunujuk-suka kepadanya. Alice tidak tersulut perasaan sama hangat  saat berjalan melewati sisi ramai kapal, glesier itu untuknya tidak lebih dari tirai  tebal tempat keluarganya menyimpan rahasia. 


Indomitable, dan dua pengawal; Geniuses dan Malt, mengapung di samping  Prince Carol. Sederhana wujud trio kapal lebih kecil itu; bukan sekadar mewah  dalam filosofi desainnya, tapi kapabilitas untuk mengarungi laut dingin secara  aman serta nyaman pun dimasukkan. Kru berseragam warna khusus Keluarga  Rothschild mengisi dek-deknya, berikan salam saat Alice dan barisan pelayannya  menaiki Indomitable; perempuan rambut merah ekor poni di antara mereka. 


Pandangan si perempuan menempel lama pada belakang Alice, mempelajari  gerak-geriknya seperti tengah menggali sesuatu. Terpotong prematur hanya saat  kru lain menyenggol pundak. 


“Jangan menatap,” bisik pria itu. “Segera kita bekerja.” 


Posisi masing-masing telah ditempati semua kru. Sang nahkoda dorong maju  penuh tuas kendali akselerasi. Gemuruh mesin mengisi dingin, dan badan besi  kapal lantas membelah gelombang dalam selancaran santai berkecepatan penuh  menuju destinasi. 


Tidak sengaja si perempuan rambut merah berjalan tepat samping sepasang  burung dara penuh canda romansa verbal dan fisik; pria pelayan senior Keluarga  Rothschild─tahu setelah bertanya ke rekannya─dan gadis rambut merah muda  pendek yang jelas bukan bagian dari mereka tapi si perempuan lebih dari hanya kenali. Pandangan bertemu di kilas detik. Mona dan Levi memberi angguk tanpa  saling mengakui keberadaan. 


Entah mana terlalu dalam di lambung raksasa Prince Carol, di balik pintu  tanpa label yang dilupakan kru dan mustahil diakses penumpang, badan pemilik  sesungguhnya seragam Mona kenakan tergeletak tanpa napas. Jemari Mona tak  berdarah hari ini. Dua jam lalu ia menghantam leher dan dada, menenggelamkan  sasaran dalam darahnya sendiri. Mona telah mempelajari Indomitable sehari  sebelum ini; struktur dan denah, siapa saja krunya, dan menemukan di antara  mereka orang paling bisa dicuri identitasnya, yang tidak akan nama dan fisiknya  orang ingat. Jauh berbeda dengan pendekatan Levi. 


Aksi pukul tidak ada dalam modus operandi-nya. Ia diganti elusan selembut  sutra khas kerongkongan gadis malam, menyisir kulit, dari telinga lantas menuju  leher dan berakhir pada dada. Klub malam saksi pertukaran minum dalam gelus  tajuk manis, bersumpah setiap menutupi erotika dansa lidah campur nafsu ingin  dan gairah menyelesaikan misi. Tiada satu jari menyentuh kulit selain membuat  tegang, keras, pula kedutan mengeluarkan panas pada piring ekspresi. Di atas  ranjang berdenyut akhirnya, kala bada saling bergoyang melawan sarat kasih,  ajakan untuk ikut bersama terucap dari bibir sang lelaki. Levi nikmati bagaimana  tangan berakhir lingkari pinggang sampai kini. 


Tawa Levi menemani perjalanan, ikut malu-malu di bawah gelombang yang  Indomitable arungi. Tangan sesekali menyentuh dada pelayan senior, mulutnya  tidak menyenanginya tapi pula pelayan-pelayan lain, hidup dan bergerak lincah  selayaknya pencuri pandai dan mendapat semua insting dan gairah. 


Mona mencuri pandang sesekali dari balik konter posisi. Iri tidak masuk ke  dada melainkan kesadaran atas perbedaan perhatian yang disukanya, bukan di  mana dia melayani untuk diperhatikan namun yang dilayani oleh perhatian. 


Sadar itu datang bersama teman. Mona melihat rambut pirang absen dari  lantai coklat kayu Indomitable. Tidak mungkin Charlotte ada di kapal belakang.  Mona yakin tidak lihat wanita itu naik ke dua lainnya. Apakah mereka sudah menghitung rencana pembunuhan di perjalanan mereka sehingga memisahkan  diri?  


Mona mengerjap sadar. Charlotte menetap di Prince Carol. Dia menjaga  ketenangan diri. Feruci dan Ades pasti sudah sadar. 


“Sebentar lagi kita sampai.” kru kapal di depan konter bicara, mendapatkan  anggukan sederhana dari Mona.  


Tidak lama untuk ucapan itu menjadi nyata. Hembus napas bumi halus elus  muka. Kosong tiada isi, kelenjar es absen dalam terpaan saat Indomitable serta  saudarinya lewati tembok glesier dan melintas di bawah bayangnya. Taring kapal  menempa es pesisir yang ada tanah di bawahnya. Getar mengusik panjang tubuh  kapal, beberapa orang tidak terbiasa ikut bergoyang, kecuali Mona dan Alice. 


Tangga jatuh dari sisi Indomitable; pula dua saudarinya. Alice pertama turun,  disusul kru dan Mona yang memberi jalan sebelumnya. Sejumlah kru─si dua  anak Feruci dan Ades kira berasal dari markas Rothschild─menunggu pada tanah  bersalju dengan puluhan motor salju. 


“Selamat datang, Nona Alice.” sambut seorang kru penunggu. Berlapis kain  wol dan nilon tebal mukanya, ditemani kacamata salju hitam. 


Tidak ada orang hadir mengenakan pakaian tipis. Jaket tebal dalam variasi  bayangan monokrom hitam-putih membalut kepala hingga pinggang, sementara  celana termal nada sama ke bawah capai mata kaki. Alice mengenakan pakaian  paling hitam di antara semua orang. Sulit khusus Mona karena harus memakai  dua kacamata sekaligus. 


“Ya, ya. Kita langsung ke markas saja. Tidak usah lama-lama di sini.” balasan  si anak Rothschild terwarnai nada kesal tidak langsung menyebut ketidakinginan  ada di sini. 


Mesin motor salju menyala. Rantai roda berputar, melempar tanah dan salju  ke udara belakang seraya melaju. Mona duduk pada kursi penumpang salah satu  mesin dengan tangan memeluk pada pegangan di belakang. Tidak semua penumpang kapal pergi bersama Alice. Mayoritas pelayan pribadinya menetap di  kapal, termasuk pelayan senior kekasih Levi. Luang waktu itu Levi manfaatkan  untuk keliling dek kapal─bilang mau melihat kecantikan gleiser tapi sebenarnya  memperhatikan bagian tersembunyi kapal. 


Perjalanan rombongan Alice ke destinasi tidak makan waktu lama, cukup di  bawah lima belas menit. Mereka berhenti di antara tiga gedung warna tumpul  khas film sains fiksi di mana eksperimen berbahaya sedang dikerjakan. Namun,  dibanding alasan estetik, ini pasti kamuflase dari mata orang asing. 


Satu-persatu motor salju berhenti. Mona turun dari kursi penumpang dan ikut  berbaris dengan kru lain tepat di hadapan pintu besi kembar setinggi dua pria  dewasa. Gerakannya sedikit kurang halus bila dibanding yang lain. Bersama kaki  Alice memimpin, kru penunggu buka pintu dan masuk berbaris mereka semua. 


Tidak ada paragraf dari buku perpustakaan kastil bisa menerjemahkan apa  yang Mona lihat di dalam gedung secara sempurna. Satu kalimat mungkin bisa  menjelaskan hingga manik tidak melebar dikabuti pemandangan mata temukan. 


Putih cahaya lampu sambut rombongan, kemudian terang warna hijau cairan  dalam tabung kaca setinggi empat manusia dewasa dengan tutup dan tumpuan  besi pada atas dan bawahnya berbaris lurus terhadap pintu. Dalam cairan hijau  kental itu terendam gumpalan-gumpalan daging berbentuk abstrak dalam variatif  tingkat. Apapun mereka, namanya tidak ada dalam buku ilmu pengetahuan alam  manapun; di masa lalu apalagi masa depan. Setiap tabung terhubung dengan  monitor, menyala penuh informasi yang mau Mona baca. Gelembung keluar dari  seratnya, naik berbuih capai permukaan di mana sedikit udara berdiam. Kepala  Mona lurus, langkahnya pun sama; mata beberapa kali tertinggal pada onggokan  daging yang belum bisa dikategorikan hewan, dan kacamata berkameranya  merekam semua. 


Barisan berhenti antara tabung-tabung. Depan mereka merupakan pintu lain;  besi, pendek, dan berjeruji. Alice bubarkan barisan sebelum masuk sama sedikit  kru penunggu markas.


Mona melihat kru lain bersantai menunggu. Dengan dalih patroli ke satu  ‘rekan’, Mona menjauh dari rombongan dan memeriksa barisan tabung. Dia  manfaatkan waktu kosong ini untuk mendapat informasi lebih jauh.  


Mona berhenti dekat satu tabung. Tidak fokus pada makhluk di dalamnya  melainkan monitor menyala sebelahnya. Statistik muncul pada layarnya, mereka  tercermin di kacamata salju, bermacam kapabilitas dari kecepatan, kepintaran,  ketahanan, kekuatan, dan banyak format perhitungan lain lebih mendetail cukup  untuk membentuk gambaran makhluk macam apa yang sedang dikembangkan  Keluarga Rothschild dalam fasilitas ini. Satu nama bisa ditemukan konsisten pada  seluruh monitor yang Mona temukan: Chimera


Satu jam berjalan lurus. Mona rasakan seluruh gerak pelan jarum detik, menit,  dan jam selama mengabadikan bukti. Kamera kacamata merekam semua nama,  kategori, dan statistik kualitas tinggi yang monitor munculkan. Mona puas misi ini  berjalan lancar, sama kecewa tidak ada pertumpahan darah. 


Mona kembali dari pengumpulan informasinya di waktu tepat sebelum Alice  keluar dari ruangan tidak semua bisa masuk. Alice pimpin mereka keluar dari  gedung, menaiki motor salju, dan kembali ke tempat tiga kapal berlabuh.  


Indomitable kembali mereka naiki. Levi masih di sana, bercengkrama dengan  pelayan dan kru yang tidak ikut pergi ke markas. Alice tidak melangkahkan kaki  ke kapal paling tua antara saudari melainkan pada dek keabuan kapal tengah,  Geniuses. Mona tidak menaruh perhatian khusus akan perubahan ini sampai  pesisir tinggal pemandangan kecil saat kapal menuju Prince Carol


“Luca, akhirnya kau terima kerja di sini.” tepukan telapak pada pundak  membuat Mona menoleh bertemu pandang─dua bulatan merah kusut di balik  kacamata dan bola mata coklat seorang pelayan yang perlahan membesar. 


Singkat waktu sang pelayan butuhkan untuk sadar kalau Mona bukan pemilik  dari nama yang dia sebut. 


“Kau bukan Luca,” sadarnya. “Kau bukan Luca! Hei, orang ini bukan bagian kru! Tangkap di-” 


Tinjuan menghantam hidung dan pelayan itu jatuh pada punggungnya. Darah  mengucur warnai muka dan lantai saat itu juga. Hantaman pertama serta terakhir  Mona di atas lantai Indomitable sebelum enam kru mengerumuni dari segala arah  dan menaklukkan dia ke dek coklat. Tali mengikat lengannya jadi satu. Kacamata  dan jubah ditarik lepas, memperlihatkan muka Mona ke semua orang. Rambut  merah mengalir bebas sangat kontras akan jaket putihnya. 


“Kau siapa, bangsat?!” salah satu pelayan yang meringkusnya teriak tepat di  depan muka. 


Senyuman kecut warnai muka Mona. Tidak dikenali membuatnya kesal. “Aku  cuma pengunjung yang penasaran dengan kapal-kapal kecil, kok!” 


“Bohong kau!” pelayan itu menarik tangannya, mau memukul tetapi ditahan  yang lain.  


“Kita lebih baik tunggu hukuman dari Nona Alice,” ujar seorang kru laki-laki.  “Untuk sekarang kita tahan dia untuk saat ini sampai kita kembali ke Prince  Carol.” 


Lengan pelayan itu tarik lepas dari genggaman lalu pergi membantu kawan  yang tidak sadarkan diri. Berjaga di sampingnya, si personil kru melirik Mona  sebentar sebelum memandang ke arah lain. Mata Mona menyapu luas dek  Indomitable. Tidak sengaja bertemu lirik prihatin Levi. Bergeleng, memberitahu  Levi untuk membiarkan dan tidak perlu ikut campur. Sang adik mengangguk. 


Indomitable, Geniuses, dan Malt bertengger pada pundak Prince Carol. Tipis  jarak antaranya. Levi naik paling dahulu bersama sang kekasih, disusul para kru  dan tahanan tunggal.  


Mona sudah melawan bahkan sebelum kaki menapak dek. Menghantam dan  menyikut kru yang menahan sampai ada ruang untuk lari, Mona berhenti kala dia  jatuh bertabrakan dengan Levi sampai kacamatanya lepas─Levi ambil ia tanpa  orang lain melihat. Tidak ada pertukaran suara selain denyut gerak mata takut pura-pura dan cerca hina diberikan pelayan senior ke Mona yang segera ditahan  kru dan pelayan, dibawa pergi entah kemana. 


“Serem banget ya cewek itu... kayak binatang.” rengek Levi, menumpahkan  diri pada dada kekasihnya. 


Lengan memeluk pundaknya. “Tidak apa-apa, kok. Semuanya sudah aman.  Mereka akan mengatasi perempuan itu.” 


Levi menarik diri menjauh dari dada si pria. “Aku harus kuat, nggak boleh  selemah ini!” matanya berkaca-kaca melihat si pria, seperti anjing betina, aslinya  air mata buaya. “Kamu nggak boleh lihat aku seperti ini, oke? Aku mau ke kamar  mandi sebentar.”  


Pria itu menghela napas mengerti. “Jangan lama-lama, ya.” 


Levi mengangguk, pergi bersama seringai tersembunyi di bawah bayangan  bangunan kapal menuju bukan kamar mandi, melainkan elevator, dan sampai di  tempat kakinya sungguh berhenti. 


Pintu kamar diketuk. Suara dari dalam menyuruh masuk. Levi tidak lupa tuk  menutup setelahnya dan menghadap satu-satunya sosok dalam kamar, duduk  menikmati buku di sofa. 


Feruci. Stan bertengger di pundak seperti biasa. 


“Ayah, Kak Mona tertangkap para Rothschild. Apa yang harus kita lakukan?”  Levi memberikan kacamata itu ke Feruci. Tidak lagi di tangan, buku sudah terlipat  rapih di samping ponsel Feruci pada meja.  


“Stan,” panggil Feruci. Telinga si kucing lantas naik, ekornya pun bergerak di  udara siap sedia untuk sang Tuan. “Segera cari Mona. Informasikan padaku saat  kamu menemukannya. Mengerti?” 


Stan mengangguk. Langkah menuruni sang Tuan lincah. Keluar ia dari kamar  tanpa membuka pintu sama sekali. 


Feruci menilai kacamata itu sekejap. Dia tekan tombol pada sisi lensa dan 

langsung menyala ponsel Feruci, memainkan rekaman visual yang Mona dapat  dari dalam markas Rothschild.  


Levi dan Feruci menontonnya bersama, hanya menarik ekspresi takjub  bersinyalir khawatir dari si anak kedua. Tidak hanya oleh hasil eksperimen  rekaman, ekspresi Levi ditarik puluhan laki-laki gagah yang melintas sepanjang  rekaman. Dalam pakaian tebal, Levi bisa membayangkan keseksian tubuh  maskulin mereka. 


Kepala Feruci naik, mata mengerjap, kemudian menoleh pada Levi. “Mona  berada di Deck 4. Mainlah dengan siapapun yang kamu mau.” 


Perintah Feruci sudah jelas, murni, tidak bisa dapat interpretasi lebih jauh lagi.  Senyuman naik melebar kala Levi ditunjukkan lemari kamar. Satu dari dua. Pintu  dibuka dan puluhan senjata tajam dan tusuk berdiri, bergelantung, dan bersandar  menunggu jari-jari tangan untuk memainkan mereka semua. Levi menoleh pada  Feruci dan menemukan senyuman kecil khas figur paternal. 


“Selamat bersenang-senang, Levi, anakku.” 


● ● ● ● ● 


Ades meneguk anggur dari gelas tinggi. Jarinya melingkar di bawah ketika ia  turun capai meja. Cahaya lampu merah dan kuning, ditemani oranye, memberi  tekstur mewah pada semua kontur ruang dan memancing pendatang tuk terus  menempel dalam badan luasnya, buang-buang uang agar alkohol terus mengalir  tanpa mau berhenti. Bar selalu jadi tempat sempurna buang kenyang stress bagi  orang buntu ketenangan.  


Ponsel di samping berbunyi dan menampilkan dua pesan tak ada jarak  berarti satu sama lain. Kepala menekuk sedikit. 


Ursus Incidit Insidias. bunyi pesan pertama.


Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk. Leporem Egreditur Ludere


Pesan pertama buat Ades khawatir. Cemas bergelantung jelas pada geografi  wajah kala mata mengalir baca layar ponsel tangannya remas. Mona tertangkap  para Rothschild. Dia mau menghubungi Feruci. Namun, pesan kedua dibaca dan  menghentikan tangan dari menekan gagang telpon. Keluar bebas hangat udara  dari indra napas. Levi telah dikirim untuk membantu. 


Ades bisa fokus ke target yang tidak ikut naik kapal kecil ke Glesier Hubbard.  Dia duduk tidak jauh, tiga bangku kosong darinya, dikelilingi delapan pengawal.  Charlotte. Putri Rothschild. 


Rambut ungu Ades berdansa kala ia pergi dari kursi. Langkah berhenti ketika  dua pria pengawal Charlotte berdiri tegap di hadapan, seperti menara kembar  menutup jalan. 


“Maaf, Nona. Nona Charlotte tidak bisa diganggu oleh orang asing.” 


“Oh,” Ades menaruh telapak kiri di atas dada. “Saya bukanlah orang asing,  Tuan, setidaknya bukan untuk keluarga Nona Charlotte. Diri saya sekedar ingin  menawarkan kerjasama bisnis dengan Nona kalian, begitu saja. Apakah kalian  mau bertanggung jawab Nona kalian kehilangan puluhan milyar hanya sekedar  tidak kenal saya?” 


Kedua pengawal mengangkat alis. Mereka ingin menolak lagi, namun sang  anak Rothschild yang melihat dan mendengar menghentikan mereka. 


“Tidak apa-apa. Berikan wanita itu jalan.” perintahnya. Dua pengawal ambil  langkah mundur, biarkan Ades mendekat tanpa halangan apapun lagi. Charlotte  persilahkan dia duduk. “Boleh saya tahu nama dari yang saya ajak bicara?” 


Gaun hitam pakaian Ades rapihkan sedikit. Tekuk diluruskan hingga pahanya  cukup terlihat saat duduk berhadapan. “Panggil saya Ades.” jawabnya, memberi  sedikit tunduk kepala. 


“Nona Ades,” Charlotte bergumam. Sepuluh jemari melipat saat tangan naik  ke atas meja. “Saya dengar anda mengenal keluarga saya?”


Kelopak mata Charlotte tajam, bilah pisau kalah telak bila goresan dibanding  akan ciptaan mereka. Ades tetap menjaga senyum kala tangan naik dan dalam  waktu singkat datang pelayan bersenjata botol anggur dan satu gelas kosong. Di  meja ia ditaruh, kekosongan itu hilang setelah anggur mengisinya. Gelas miliknya  yang setengah kosong pun mendapat tuangan. 


“Bagaimana kalau kita berbincang dahulu sebelum saya jawab itu? It’s on the house.” ujar Ades, mendorong gelas itu ke hadapan Charlotte. 


Tanpa siapapun di sana tahu, gestur dorong sederhana itu merupakan jeda  cukup bagi Ades untuk menghantarkan serbuk racun tidak berwarna dan tanpa  aroma ke muka anggur dari ujung kuku. Setembus pandang udara, ia pembunuh  sempurna. 


Charlotte menerimanya. Telunjuk dan ibu jari mencubit leher gelas, kemudian  diangkatnya sampai setinggi bibir. Tanpa ada gestur atau sedikit saja gerakan,  ungu warna anggur di gelas hilang, berubah tembus pandang. Bukan itu minuman  yang sama atau bahkan alkohol lain. Air putih biasa. 


“Maaf, Nona Ades.” ucap Charlotte sembari meneguk pelan air itu. “Saya  tidak terlalu suka minuman beralkohol, terlebih bila itu berasal dari orang yang  belum kenal selera saya.” 


Senyum balasan bertengger di jelita Ades. Kejut bersemayam dalam di hati  tanpa sedikit pun meleleh keluar melalui ekspresi. Charlotte sudah pasti curiga,  dan Ades tidak mau membuatnya curiga lebih jauh kepadanya yang sudah pasti  meningkat akibat aksi sok kenal, sok dekat Ades. Kemampuan badan Charlotte  memang luar biasa. Racun bubuk tidak akan berfungsi, sudah pasti racun cair. 


Keluarga Rothschild memiliki sejarah panjang, terlampau lama bila dibanding  mayoritas negara-bangsa yang harus berperang hanya untuk muncul di peta  muka bumi sekarang. Keluarga konglomerat raksasa bumi. Mereka pencipta  kebijakan universal yang meremas ratusan leher ekonomi suatu negara, tidak  peduli seberapa besar dan kecil atau apakah mereka bermusuhan atau tidak,  dunia internasional tunduk kepadanya, dan melalui pengertian spiritual, mereka penentu tunggal takdir miliaran nyawa manusia. Tidak saja mereka secara aktif  memutar roda perekonomian bumi, pancaran cahaya mereka pun ditemukan  dalam hidang kesehatan global.  


The Golden Bird merupakan lembaga kemanusiaan besar. Fasilitas mereka  bisa ditemukan di seluruh penjuru peradaban umat manusia dalam skala berbeda;  sekecil klinik hingga sebesar rumah sakit. Lembaga ini merupakan contoh utama  komitmen Keluarga Rothschild dalam perannya untuk menyongsong kehidupan  manusiawi semesta. Di baliknya, jauh dari mata curiga jurnalis dan wartawan,  atau musuh yang mau menggantikan, The Golden Bird melakukan tindak  penelitian manusia menggunakan manusia tanpa rumah sebagai subjek tesnya;  dari kriminal yang mungkin bisa didebatkan hingga pengemis jalanan tidak satu  jiwa pun akan rindukan.  


Ades ingat semua informasi dalam tersebut mengingat kemolekan tubuhnya  merupakan hasil tempat ilmu pengetahuan fasilitas The Golden Bird. Hubungan  tersebut Ades tahu rumor tentang realita Keluarga Rothschild. 


Kebesaran Keluarga Rothschild mempunyai asal-usul misterius nan ilahi.  Walaupun sudah pernah mendengarnya berkali-kali, tetap ia sukses mengangkat  alis. Masa lalu aneh ini dimulai dari lingkaran fakta kalau sosok pertama bernama  Rothschild bukanlah penguasa tanah atau raja sebidang tanah sebagaimana  keluarga kapitalis modern pada umumnya berasal, melainkan petani biasa hidup  di antah berantahnya masa lalu Benua Biru, di mana semua ini bermula, yang  kebanyakan orang harus mati tanpa nama keluarganya diteruskan. 


Sejarah konkrit mengenai Keluarga Rothschild hanya di situ. Banyak bukti  lain, buku, jurnal, rekaman, dan lain sebagainya hilang tanpa jejak. Kalau hidup ini  merupakan suatu literatur, Keluarga Rothschild merupakan lubang plot bernapas  dan berjalan. 


Dalam rumor yang sama, disebut bahwa setiap anggota Keluarga Rothschild  memiliki kemampuan unik dan berbeda-beda, kekuatan supranatural yang hidup  di atas ambang kemanusiaan.


Ades tidak menggigit sepenuhnya rumor itu kala mendengarnya. Selalu ada  ragu. Tidak ada bukti akannya, mustahil tuk dipercaya. Namun, setelah jadi saksi  pemurnian air yang sejajar akan seorang penyebar suara Tuhan, insting Ades  memaksanya untuk meragukan posisi opininya tentang keraguan tersebut. 


Harus berhati-hati. Siapa tahu kekuatan lain di belakang Charlotte. 


Percakapan kedua wanita berlangsung dalam waktu singkat, cuma lima  belas menit, sebentar bila dibanding pembahasan bisnis umumnya. Selama itu  mereka membahas bisnis perhotelan Ades. Tentu saja, semua yang keluar bibir  Ades merupakan omong kosong kelas atas, terstruktur dan terorganisir supaya  konsisten dan pasti selalu dibumbui sedikit kebenaran dalam susunanya; terlebih  kepada anggota Keluarga Rothschild. 


“Bisnis perhotelan di negara-negara tropis selalu diminati sejak lama,” jelas  Ades. “Banyak usaha hospitality menargetkan daerah hangat yang belum terlalu  maju untuk jadi destinasi liburan, dan hotel-hotel ini butuh investor terpercaya tuk  bisa berdiri lama.” 


Pembicaraan berhenti sejenak kala pria rambut biru, asing selain oleh Ades,  datang ke meja mereka. Feruci tidak dihadang pengawal sebagaimana Ades tadi.  “Nama saya Feruci.” ujarnya saat memperkenalkan diri, dan menjelaskan kalau  pembicaraan mereka menarik perhatiannya. Charlotte persilahkan duduk, dan  mungkin karena wajah tampan Feruci, duduk di sampingnya. Berlanjut apa yang  dibicarakan, kini antara tiga jiwa. 


Selama basa-basi antaranya dan Charlotte, mata Feruci menangkap gestur  minta tolong Ades─meneguk habis anggur di gelas. Charlotte di dekatinya,  digoda-goda manis, sampai tangan menyentuh tangan. Namun, senyuman nakal  di muka hilang saat dingin tajam pisau menyentuh kulit atas urat nadinya. 


“Apa-” 


Desis pelan Feruci potong prematur ucapan Charlotte. Jantung melompat  sekali dalam satu kejap, pukulan tanda bahaya realita taruh posisinya sekarang. 


Charlotte tidak meneguk ludah berkumpul di belakang mulut. 


“Putri Rothschild tidak akan melakukan tindakan gegabah, bukan?” goda  Feruci. 


Serius warnai muka Charlotte. Ekspresi lain tidak pernah cocok padanya. Dia  gigiti bagian dalam pipi, menghitung aksi nanti, datang tidak lama. Roti atas piring  diambil tanpa menarik curiga dari mata Feruci. Kurang dari satu detik, ia berubah  jadi batu kecil dan melesat ke muka Ades. 


Hilang akselerasi batu dalam waktu terlampau singkat. Feruci tangkap ia di  tengah lesatan. Fokus melindungi Ades melepas ancaman pisau di pergelangan  tangan, yang Charlotte manfaatkan untuk lari dari kursi ke dalam pelukan para  pengawal. Kini si anak Rothschild paham mengapa Ades datang sejak awal. 

“Penipu!” Charlotte tunjuk dua sosok yang sekarang sudah berdiri dari kursi  masing-masing. “Tangkap dua orang ini! Aku mau mereka diinterogasi!” 


Delapan pistol keluar dari balik jaket jas sama hitam semua pengawal. Tuas  pengaman menunjuk fire dan kekosongan lubang peluru menatap mati kepala  biru dan ungu. 


“Angkat tangan kalian!” perintah pengawal senior Charlotte.  


Feruci dan Ades tak mematuhi kalimat orang yang tidak membayar. Ades beri  meja ketukan tiga jari dengan sama jumlah tanpa senyuman berserinya tanggal.  Gerbang Neraka runtuh pada ketukan ketiga. 


Kaki bergerak sekilat cepat. Jemari dilatih pertempuran para pengawal tidak  mampu antisipasi. Feruci manifestasi buram biru. Dua pistol pengawal terdepan  lepas ke udara sebelum suara tembakan bisa muntah, dan belum mereka bisa  menyentuh lantai, pisau sudah melukai dua leher, dua dada, dan empat tangan  serta lima cabangnya. Darah mekar dari semua garis tebasan. 


Gas mengalir naik dari ventilasi, mengisi udara layaknya tangan-tangan iblis  pembunuh. Tempat suguhan ketenangan dan keasikkan berubah drastis, kacau  penuh teriakan. Bingung mencekik pelanggan bar pada awalnya, baru benar mencekik saat orang paling dekat ventilasi jatuh, gemetaran dan meremas leher,  gelembung putih pekat keluar dari mulut. 


Gonggong pistol mengisi bar. Peluru melukai udara kosong di mana sosok si  ungu harusnya ada. Terjangan Feruci melempar kebingungan cukup lama untuk  Ades mengejar Charlotte tanpa seorangpun sadar. 


Charlotte sudah lari sebelum peluru pertama keluar laras. Ades mengejarnya  tidak jauh di belakang, sama cepat tapi jauh lebih lincah darinya yang menetap di  lantai, menabrak orang-orang berlarian maupun meja dan kursi kacau hasil orang  panik. Terlalu tinggi tekad hidup Charlotte sampai-sampai tidak segan melempar  penumpang lain ke Ades. Itu sama sekali tidak melambatkannya. 


Pengawal Charlotte berusaha lepas dari cengkram serangan Feruci. Mereka  tidak dibayar untuk bertarung, tapi melindungi si anak Rothschild dan sekarang  dia dalam bahaya. 


“Kejar wanita itu!” sekali lagi si pengawal senior memberi perintah. 


Feruci tidak izinkan. Lima pengawal menghadang, Feruci tidak hiraukan  satupun dan berlari lewati mereka, menarik kembali tiga lain yang mengejar Ades  ke dalam pusar pertarungan dengan membanting mereka ke kursi dan meja, beri  waktu bagi Ades untuk memenuhi permainannya. 


Feruci, pisau di dua tangan, menghadang mereka sekarang. 


Charlotte keluar bar tapi tidak dari cengkram kematian. Kaki lesu dipaksanya  melangkahi koridor ramai penumpang panik, dan sepanjangnya, gas warna sama  keluar dari ventilasi. Kematian telah menetap dalam paru-paru, mau sedikit apa  udara hisap. Puluhan macam perangkap Ades pasang saat kehidupan di Prince  Carol tidur. Semua akan menyambut Charlotte satu-persatu. 


Ades berdiri di mana Charlotte jatuh. 


Si anak Rotshchild mengais-ngais dada. Hidung tidak bisa menarik cukup  oksigen untuk bernapas normal, ragu bahkan kalau paru-parunya ada oksigen  sama sekali. 


Tersungkur punggungnya pada tembok perempatan koridor, bersandar di  atas mayat-mayat. Anak Rothschild itu mengais-ngais dada. Hidung tidak mampu  menarik cukup oksigen untuk bernapas normal, tidak yakin paru-parunya ada  oksigen sama sekali. 


“Kalau racunnya berbentuk gas baru ia berfungsi, ya,” Ades tak berjongkok di  hadapan Charlotte, memberi paparan jelas kalau statusnya lebih tinggi bahkan  dari keturunan Rotshchild. 


“Bangsat!” Charlotte mau meludah tapi malah mengalir di ujung mulut. 


“Ini,” Ades tarik sebuah corong beling kurus dan tinggi berisikan cairan dari  belakang. “Merupakan penawar racun yang kamu hisap. Berikan kode akses  masuk markasmu dan benda ini akan jadi milikmu. Setidaknya akan memberi  waktu sepuluh menit sebelum jantungmu berhenti, otakmu mati. Ya, cukup waktu  untuk meminta bantuan keluargamu di kapal atau di darat.” 


Urat nadi mendesir pada permukaan kulit. Suara gertakan antar baris gigi  Charlotte terdengar menyakitkan dan tersusul tawa di antaranya. Tangan berhenti  mengais, naik lepas gestur tidak berfungsi, memberikan jari tengah pada Ades. 


“Dikiranya kau itu siapa bisa nyuruh-nyuruh gua, anak Rothschild, bangsat?!”  batuk darah keluar dari mulut. “Gak bakalan bisa kau pakai mayat buat masuk ke  markas. Mending gua habisin sisa napas gua buat ngetawain kau!” 


Batuk keluar berulang kali tanpa ada aturan, merah sakit dahaknya. Charlotte  tidak hentikan tawa mengejek walau muntah napas semakin cepat bersamanya.  Getar hebat mengguncang jari tengah di lima detik lebih sampai akhirnya tidak  lagi, hilang bersama tawa yang ditelan napas berhenti kembang kempis. Kepala  jatuh menghadap langit. Jiwa Charlotte tinggalkan badan berekspresi haus. 


Jantung berhenti. Banjir racun di paru-paru. Fungsi otak hilang dan mati. Di  antara itu semua, alasan kematian Charlotte tidak Ades pedulikan─hanya ucapan  akhir napasnya yang Ades akan ingat dari kucing-kucingan ini. 


Gak bakalan bisa kau pakai mayat buat masuk ke markas.


Terima kasih Ades ekspresikan dengan menginjak pecah corong penawar  dan memberi punggung ke mayat anak Rothschild.  


Bar dikuasai sunyi. Feruci berdiri dikelilingi delapan badan pengawal tidak  benyawa dan puluhan lainnya yang sekarat. Asap menari dari pistol di tangannya,  pisau-pisau tertanam dalam leher sampai dada mereka. Pertarungan di sini telah  berakhir, dan teriakan ramai Deck 4 mulai terdengar. 


Ades menunduk, seakan bisa melihat sumbernya dari balik lantai. 


● ● ● ● ● 


Pisau masuk menembus keluar pipi pengawal Rothschild. Bibirnya terbelah  muncratkan darah sekali tarik. Fokus bertarung hancur, terpusatkan memegangi  pipi. Levi akhiri penderitaan pria itu dengan tebasan dua pisau pada punuk leher,  kepalanya berputar di lantai banjir darah. 


Lima pengawal Rothschild tergeletak tanpa nyawa, badan tidak ada utuh, di  sepanjang meter lantai koridor belakang Levi. Pintu besi berdiri pada akhir koridor  ini, tepat di samping ruang medis. Empat orang tersisa sekarang, mengenggam  pistol mitraliur dua di antaranya, yang bisa muntahkan empat peluru lebih sekali  tarik pelatuk. 


Tidak intim sama sekali. Levi tidak suka senjata begitu. 


“Tembak jalang itu!” teriak satu pengawal bersenjata api. 


Koridor menawarkan nol penutup, lurusnya tidak ada posisi sembunyi. Para  pengawal ambil posisi bahu-sebahu di tengahnya, mengangkat senjata, dalam  dua tarikan pelatuk, membakar udara utara dengan puluhan peluru walau cuma  sebentar. 


Harusnya Levi jadi cincangan daging merah terang di lantai, tapi mengenai  tidak adanya posisi sembunyi, itu berlaku hanya bagi pengawal Rothschild.


Peluru rontok bergeletakan setelah tidak bisa menembus daging bulu tebal  wujud sesungguhnya kucing peliharaan Feruci. Levi berlindung di belakangnya,  menyiapkan pisau lempar dari saku pisau paha. Keluar dari bayangan Stan saat  pengawal mengisi ulang magasin bersamaan. 


Pistol mitraliur jatuh saat pisau menusuk pergelangan tangan dominan. Levi  hantam muka pengawal kanan dengan kakinya, berputar pada pusatnya, lantas  menendang yang lain di punuk leher. Levi mendarat setelah mereka jatuh di atas  kaki sendiri. Dengan hembusan napas, tangan mengayun, melempar kumpulan  pisau terakhir pada dua pengawal di samping pintu. 


“Dia di sini! Ayo, masuk ikuti aku!” ucap Levi ke Stan. 


Levi buka pintu destinasinya dengan kunci diambil dari dalam jas pengawal  terakhir. Bau menyerbu hidung, tapi kurang brutal dari yang menyerang mata. Di  ruangan itu, Mona tergeletak mengenaskan; badannya penuh memar hasil pukul  atau tendang, dan sayatan bukan dari pisau mengalirkan darah pada muka jelita  si anak pertama. 


Tali melilit badan sudah dipotong. Beruntung Stan ikut datang menemani Levi.  Bilah biasa akan makan waktu lama untuk membelah tali besi yang menahan  Mona. Bila pun bisa, akan makan waktu lama. 


Sekarang bebas, Mona berdiri tegap dan memberi senyuman terima kasih ke  Levi. Sakit masih menggigit semua sendi badan tapi Mona tetap memaksakan diri  mengambili pistol mitraliur dan pisau-pisau berhamburan pada lantai, sampai  suara membuatnya berhenti.  


“Kirimkan... bantuan!” satu pengawal tergeletak, belum mati, bicara kepada  walkie-talkie


Stan gigit pucuk kaki si pengawal, gerigi menembus kain dan sepatu, angkat  ke udara kaki di atas kepala. Tidak dihiraukan teriakan mohon maaf minta tolong.  Si manusia melawan, bergoyang ke kanan dan ke kiri tanpa hasil, tetap masuk  mulut lebar dilingkari taring. Akhirnya, walkie-talkie jatuh setelah teriakan hilang ditelan Stan. 


“Mereka akan berdatangan. Siapkan dirimu, Levi.” jelas Mona, menghentak  mundur kokangan satu pistol. 


Levi terkekeh. “Kamu bukannya sih yang harusnya siapkan diri?” 


Suara elevator satu-persatu menggema dari balik tembok koridor, lima belas  kerumun pengawal Rothschild meramaikan Deck 4. Kaget menodai muka melihat  deretan mayat sepanjang koridor, panas lebih kala melihat tiga makhluk─sulit  menyebut mereka manusia─pelakunya. 


“Habisi mereka!” teriak satu pengawal. 


Lima dari mereka langsung maju dengan pistol mitraliur terangkat. Pelatuk  mereka tarik. Peluru merobek kayu dan besi, dan melubangi lengan Mona. Tapi,  rasa sakitnya sangat kecil dibanding yang lain, ia tak perlu dipedulikan. Levi tarik  Mona ke belakang Stan di mana dia sudah berada. Dia menunjuk kepala Stan,  yang Mona mengerti maksudnya. 


Stan mengaum, bukan itu yang perlu pengawal Rothschild khawatirkan.  Mona muncul lebih tinggi dari Stan, berpijak pada punggung lebar peliharaan  Feruci. Pelatuk tangan tarik, dan puluhan peluru muntah keluar. 


Barisan terdepan musuh berjatuhan. Ramai teriakan di antara mereka. Tiga  dari lima tewas, sementara sisa barisan terdepan luka-luka. Mona menggertak  gigi, dan menyeringai. 


“Sekarang, Levi!” 


Pisau keluar dari sisi-sisi Stan, tinggi kecepatan mereka melesat dalam rute  tertentu, menusuki pengawal pakai senjata tak intim masih bernapas, akhir yang  sekarat. 


Kaki Levi menendang lantai, keluar cepat dari belakang Stan, desiran dingin  dalam hawa panas abu mesiu dan senjata api. Melompat bertolak dari tembok,  Levi menginjak bahu pengawal paling depan masih berdiri. Pisau memekarkan wajahnya bagai kelopak bunga. Levi kembali bertolak ke pengawal selanjutnya,  biarkan sebelumnya tumbang jadi pancuran darah, melakukan aksi sama ke yang  sekarang. 


Tinggal sembilan orang. 


Pengawal setelahnya Levi tendang menjauh sampai menabrak tembok tidak  keras dan berbulu. Lekas dia menoleh, memaku pandangi mata kuning akhir  hayat tanpa akhir milik Stan. Telapak si makhluk menghantam pipinya, dan kepala  terpenggal berpantul ria temui semua permukaan tembok. 


Mona lompat dengan cahaya pistol mitraliur menyala terang melubangi dada  satu pengawal. Tinju menghantam wajah Mona. Itu mengirimnya lepas dari  korban tembakan, tapi membuatnya meninju muka si pemukul dengan badan  pistol. Pukulan lain datang menghantam dada, di balas dengan aksi sama bertinju  senjata api. 


“Mati lo, anjing Rothschild!” Mona dorong laras pistol masuk mulut pengawal.  Ditahan tiga pengawal tidak mencegahnya menarik pelatuk dan merubah kepala  si pengawal jadi ampas. 


Mona hantam muka pengawal di belakang dengan kepala, kemudian pada  yang di samping untuk membebaskan diri. Peluru tidak keluar saat pelatuk ditarik  tuk penahan terakhirnya. Mona hantamkan badan pistol ke mukanya, memberi  lelehan merah sebagai pengganti muka. 


Tinju mematahkan hidung kala Mona baru berdiri. Gelap pandangan sekejap.  Serangan lain datang dalam bentuk membeturkan badannya pada tembok dan  tendangan ke lengan yang mematahkan pergelangan. Dua pengawal memberi  Mona punggung, mengiranya sudah mati, tapi Mona cepat berdiri menolak  kenyataan itu. 


Sang Iblis Merah menyeringai. Diterjangnya mereka walau satu tangan t’lah  berhenti mematuhi otak dan tidak lurus bentuknya. 


Deck 4 merupakan tingkat paling rendah di Prince Carol yang bisa diakses penumpang, klinik satu-satunya tempat penting di sini. Ventilasi alami seperti  jendela atau struktur terbuka tidak ada sama sekali dan termasuk gorong-gorong  udara. Baunya akan sangat kencang walau cuma sekecil muntah.  


Bagusnya, selain suara, bau tidak akan bisa keluar dari Deck tertutup ini.  Levi dan Mona bisa bertarung bebas-sebebasnya, kacau tanpa aturan moralitas  apapun, termasuk bila harus mandi darah dalam prosesnya. 


● ● ● ● ● 


“Perhatian!” tegas pengeras suara yang menempel pada koridor-koridor  Prince Carol. “Saat ini tengah terjadi kebocoran gas metana dari bagian bawah  kapal. Bagi semua penumpang, dimohonkan untuk keluar kamar masing-masing  atau dari ruangan tertutup lain, dan segera menuju lapangan terbuka di bagian  atas kapal. Dihimbau untuk berhati-hati dan ikuti arahan petugas kami. Terima  kasih.” 


Pemberitahuan muncul berulang-ulang dalam jeda waktu singkat. Kepala  Levi naik memandang pengeras suara berlapis darah di atas koridor. Suaranya  terdengar aneh ketika keluar dari selimut darah. 


“Haruskah kita ikut ke atas?” Levi memainkan tangan berotot salah seorang  pengawal yang dia temukan di antara tumpukan mayat. 


“Itu hasil kerja Feruci dan Ades,” Mona menimpa kaki kanan pada kirinya,  menaruh keduanya pada kepala yang sudah lepas dari badan. “Kita menunggu  mereka di sini saja.” 


“Oke.” 


Tubuh Levi hampir halus. Bisa ditemukan memar ringan dan sayatan tipis di  kulitnya, hasil pertarungan membebaskan Mona dan membunuhi para pengawal  Rothschild setelahnya. Kelincahan dan kecepatan selalu jadi inti cara bertarung  Levi, bukan pukul dan tembak yang mengharuskan kontak muka-ke-muka. 


Alasan utama Mona mendapat banyak luka, dan bukan cuma luka tembak dan  patah lengan, melainkan puluhan lain, datang saat mau membunuh dua terakhir. 


Stan, tengah mengemil satu lengan di antara tumpukan mayat, mendongak.  Wujudnya berubah dari asli besarnya ke kecil, dan memanjat naik pundak sosok  yang datang pada akhirnya. 


“Kalian sudah bekerja dengan hebat, Levi, Mona. Ayah bangga.” ucap Feruci,  mengelus kepala Stan sembari mendekati mereka bersama sosok Ibu mereka di  samping. 


Mendekati lebih dulu, Ades suntikkan sesuatu pada lengan kedua putrinya.  Muka dia, kalau bisa dikatakan ekspresif selain menggoda, menunjukkan rasa  prihatin seperti ibu pada umumnya ketika anak jatuh ditimpa demam. Hilang rasa  sakit sekujur tubuh dalam satu detik. Ramuan pembungkam saraf yang baru  disuntikkan membuat Mona dan Levi, sudah mulai kehilangan adrenalin di kepala,  setidaknya lebih tenang. 


“Terima kasih, Ades.” Mona perlahan berdiri dari duduk cukup menit di atas  tumpukan mayat.  


Mona berbeda dari Levi dalam banyak hal, terutama tentang kontak fisik. Levi  beri pelukan erat dan lama pada Ades. Sang Ibunda balas merangkul, sesekali  merapihkan kembali garis-garis lurus warna bunga sakura Levi. 


The Seven Sins Family mengambil istirahat yang mereka bisa dapatkan.  Pemandangan merah di sekeliling Feruci dan Ades menandakan kalau kedua  putri pantas mendapatkannya. Di mana Ades menawarkan ketenangan rasa Ibu  ke mereka berdua, Feruci sibuk dengan ponsel pada telinganya dan memberi  ketenangan tersendiri rasa Ayah. 


Veni, mi serpens.” ucap Feruci. 


Dibalas suara di balik ponsel. “Bene Pater, hic sum.” 


Mona angkat alis mendengar percakapan itu. Suara tidak diberikannya akibat  terlalu lelah untuk memproses hal lain. Tangannya masih gemetaran mau lagi. 


Levi masih bersandar ke Ades sembari duduk bersama. 


“Charlotte sudah mati? Jadi bagaimana dengan Alice? Orang itu memukuliku  sampai babak belur seperti ini. Aku mau membalasnya!” Mona mengerang sakit  di tenggorokan, memarnya masih baru. 


“Alice memiliki kemampuan cozy coffin, yang artinya tidak ada satu orang  pun bisa mendekatinya dalam radius tiga meter. Dia mengaktifkan kemampuan  itu sudah sejak keributan penumpang kapal pertama terjadi di bar, menguncinya  di kamar sendiri.” suara itu datang dari sosok anak laki-laki rambut warna kuning  yang berjalan ke arah mereka. 


Mona dan Levi cuma menoleh. Mereka tidak panik melihat betapa tenangnya  Feruci dan Ades terhadap kehadiran si anak laki-laki. 


“Ini handphone punya Alice. Pelacaknya sudah aku matikan jadi nggak ada  harapan orang-orang Rothschild bisa melihatnya. Tadi aku menemukan beberapa  informasi dari kamar Alice dan Charlotte, semuanya sudah aku duplikasi dan  dimasukkan ke dalam handphone ini.” Bocah itu memberi ponsel di tangannya  kepada Feruci, menerima dengan anggukan kagum. 


“Jadi kamu yang ngehabisin Alice?” Mona menatap si bocah laki-laki dari kaki  ke kepala dengan pandangan agak kesal. Dia mau membunuh wanita jalang itu  pakai tangannya sendiri. 


Cozy coffin tidak bisa melindungi pemiliknya dari perangkap yang sudah ada  di dalam radiusnya.” ucapnya. Indikasi yang dimaksud anak laki-laki ini jelas.  


Levi melepas tangan dari Ades. “Dan kamu siapa memangnya?” “Perkenalkan adik baru kalian. Gore, namanya.” Ades yang menjawab. 


Mulut Mona dan Levi dibuat terbuka lebar hampir bersamaan, sementara  dahi dan alis memberi kontur tekuk berbeda, satu bingung sementara satunya lagi  penasaran. Levi lekas berdiri, main tunjuk saudara barunya seakan-akan semua  harinya selama ini jadi lebih buruk karena Gore tidak datang.


“Kok kamu nggak nyapa kakak baru kamu!?” langsung Levi menunjuk diri  sendiri. 


“Enak banget, ya, nggak bantuin misi kami sejak hari pertama. Baru datang  sudah diangkat jadi adik saja.” tatapan Mona terbakar marah dan senang. 


Ades dibuat terkekeh oleh lemparan ucapan dari Mona dan Levi. “Gore ini  anak introvert, anti-sosial.” ejeknya, melirik Gore sambil terkekeh goda seperti  orang tua. 


Gore menyilangkan tangan di depan dada. “Aku penyusup dan intel. Tugasku  itu mencari informasi doang, bukannya main barbar.” menekankan kata terakhir  ke Mona. 


Mona menatapnya tajam. “Maksud?!” 


Feruci menepuk pundak Gore. “Sejak hari awal, Gore sudah bekerja keras  dan memasang banyak ‘kembang api’ di seluruh kapal. Nanti kita akan bisa  melihat pertunjukan itu dari helikopter.” 


“Kembang api?” tanya Levi. 


“Ledakan. Bom C4,” jawab Gore. “Aku sudah memasang banyak di berbagai  sudut strategis kapal. Bila meledak, mereka akan membuat kapal ini tenggelam  cepat. Kapal sebentar lagi akan meninggalkan Glesier Hubbard dan melewati  daerah Taman Nasional. Nah, bom-bom itu akan meledak saat berlayar di sana. Orang akan sulit memberikan pertolongan mengingat jauh jarak kejadian dengan  kota dan pemukiman. Semua ini dan penumpang yang mati akan terbakar, hilang  sesuai rencana.” 


Mona mengangguk. “Okay, that sounds good. Kita kabur dengan helikopter.  Then where?” 


“Kita turun di markas Rothschild.” balas Feruci dengan nada halus seperti  Mona tidak habis dari sana. 


Ades mengelus punggung Mona dan tersenyum pada kedua putri bergantian. 


“Siapa tahu markas rahasia mereka bisa jadi milik keluarga kita.” 


Levi memberi pandangan ke langit-langit koridor tengah membayangi aksi  apa saja yang bisa didapatkan bersama laki-laki gagah seperti yang ada di dalam  rekaman Mona. 

“Tempat itu butuh akses khusus untuk dimasuki. Alice, kita butuh dia.” ujar  Mona, berdiri lekas, yang disusul hela napas Gore. 


Ades mengangguk dan mendekati Gore. “Selama bisa diakses, asalkan ada  bagian badan atau anggota keluarga Rothschild bersama kita.” 


Feruci sekali lagi menepuk pundak Gore. “Tidak masalah, ya kan, Gore?” 


“Gak masalah... Keluarga Rothschild melakukan pembaptisan dengan tanam  chip ke dalam badan. Kemungkinan besar aksesnya melalui chip itu.” 


“Tapi,” celetuk Levi. “Badan mereka akan gosong saat kapal ini meledak.” 


“Masih ada yang hidup, kok.” Ades menepuk sisi pundak Gore yang lain. Kini  si anak laki-laki terkatup orang tua barunya. 


Mona mengerutkan dahi. Kesadaran jatuh lebih dulu dibanding saudarinya,  disusul hela napas mengerti. Levi mengerjap berlebihan, baru menyadari maksud  Feruci dan Ades. 


“Oh! Eh, anjir! Kamu keturunan Rothschild! Pasti orang kaya ya lu!” “Levi, kita tinggal di kastil.” balas Mona tanpa ekspresi. 


Tangan Levi membentuk gestur diameter lebar bumi. “Tapi, maksudku,  super-duper kaya!” 


“Dan, yang jadi otak dari misi ini adalah Gore, loh.” imbuh Ades. 


Mona terkekeh tidak lama, mengangguk curiga. “Oh, kacang lupa kulitnya ya.  Pindah keluarga baru malah langsung nusuk keluarga lama.”  


“Seru juga kamu!” penambahan dari Ades menjadi minyak ke semangatnya  Levi. “Perkenalin dirimu dong! Spill cerita of the day of my life, gitu.” bujuk yang terasa seperti ditabrak kereta kecepatan tinggi dalam waktu singkat. 


Taceas...” keluhan Gore jatuh dari permukaan licin tong kosong nyaring  bunyinya yang tidak akan mau diam seberapapun Gore berharap. 


“Levi. Dia minta kamu tutup mulut, bodoh.” ucapan Mona memberi Gore satu  senyuman congkak. Levi tidak bisa bahasa Latin. Gore akan meremas itu sampai  kering bila Levi tidak berhenti juga dengan pertanyaan dan ejekan kakak-kakakan  punyanya. 


Stultissima! Apage te a me!” imbuh Gore lengkap dengan jari tengah dan  lidah yang keluar. 


● ● ● ● ● 


Satu jam telah berlalu.  


Prince Carol telah pergi dari Hubbard menuju area lebih aman di selatan,  dekat Taman Nasional. Keramaian akibat kejadian gas, setidaknya sebagaimana  para penumpang ketahui, masih mewarnai tingkat paling atas.  


Masih dalam proses pembersihan, kata staf bila ditanyakan.  


Percakapan dari satu sama lain penumpang memenuhi permukaan kapal;  ada yang bicara soal keluarga, kemudian bisnis, maupun diri sendiri, terasa  arogan dalam keadaan ini. Topik berubah drastis tatkala tamparan baling-baling  mengepak di udara dan sumbernya, sebuah helikopter mendarat pada lapangan  besar di belakang Prince Carol


“Itu punya siapa?”, “Ada yang tidak betah hanya karena gas?”, atau “Wah.  Siapapun itu, penakut ya!” merupakan pembicaraan yang terjadi saat sang pilot  memelankan mesin kendaraan langitnya. 


The Seven Sins Family menaiki helikopter itu satu-persatu, berbaju baru dan  bersih. Duduk mereka pada kursi helikopter yang kosong. Koper dibawa dari awal tidak lupa masuk.  


Ernest melihat Levi dari balik konter bar es krim gelato. Tidak menyapanya,  tidak sempat dan tidak jadi. Kepergian mereka dalam helikopter dilihatnya tanpa  perasaan selain sedikit sedih, membuat Ernest cuma bisa menyombongkan diri  ke rekan kerjanya kalau dia pernah menyetubuhi gadis kaya raya itu. Dirinya tidak  bisa lama-lama sombong. 


“Pegangan, Tuan dan Nyonya!” perintah pilot helikopter. 


Gelombang udara menggetarkan badan helikopter. Terbangnya sudah cukup  jauh untuk kembali stabil di bawah lima detik, bukan karena keadaan angin saja  melainkan rentetan ledakan yang muncul merekah sepanjang Prince Carol. Besar  ukuran radiusnya sampai ratusan hewan di Taman Nasional bisa dengar. 


Berita Nasional akan memancarkan kejadian ini selama satu bulan penuh.  Untuk menunjukkan betapa buruknya peristiwa malang ini, ratusan karangan  bunga akan ditaruh di atas batu di mana seorang penjelajah hutan pertama kali  melihat mayat Prince Carol enam hari setelah ledakan. Gas akan jadi tersangka,  terdakwa, dan dalang tewasnya ribuan nyawa tidak bersalah, dan banyak institusi  keamanan dan kesehatan dirobek-robek pemerintah akibat kelalaian dalam  menolong korban-korbannya tepat waktu. 


Pada saat bersamaan, di situs-situs ilegal hitam dan rahasia, untuk pertama  kalinya dalam sejarah, deskripsi markas rahasia Glesier Hubbard dalam Bahasa  Internasional berubah dari ‘is’, menjadi ‘was’.

 



Commission Story Written by Gavin As on Facebook

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page