top of page

Trepanasi

  • 616dotexe
  • Feb 8, 2025
  • 11 min read

Updated: Feb 27, 2025

Fobia merupakan fenomena psikologis di mana penderita mengalami ketakutan irasional yang berlebihan pada suatu objek atau situasi tertentu. Hal ini biasanya menjadi tantangan yang menghambat kehidupan penderitanya, suatu kecacatan yang seharusnya tidak ditoleransi siapapun yang berkecimpung di dunia bawah.


Tapi, Gore pikir, di mana letak keseruannya apabila semua orang terlahir tanpa kenal rasa takut?


Ia pernah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, saat ibunya—bersama para kroni-kroninya—memanen organ seorang wanita paruh baya yang terlahir dengan kecacatan pada syarafnya. Bagaimana wanita itu tidak sekalipun menjerit atau meronta, memohon pada wanita-wanita yang bekerja atas tubuhnya untuk mengampuni nyawanya agar ia dapat terhindar dari maut, sekalipun tubuhnya tak lagi utuh.


Wanita itu tidak mengeluarkan suara, tetapi matanya terbuka lebar, sepenuhnya sadar atas apa yang diperbuat pada tubuhnya, bahkan sesekali memandang ke bawah untuk melihat abdomennya yang menganga lebar, sebelum matanya kembali memandang ibunya dengan geram.


Walau Gore sempat terpikat, geloranya hanya sepintas—selayaknya lesatan komet yang melintasi langit malam, atau maut yang terpantul dalam binar mata seseorang kala mereka memandang mata pisau yang melesat cepat dan akurat untuk menghunus organ vitalnya.


Belakangan, Gore diberitahu, wanita itu terlahir dengan CIPA; ketidakmampuan untuk merasakan rasa sakit—dan tentu saja, pertanyaan yang selanjutnya ia utarakan adalah, “Sama sekali tidak bisa? Bagaimana bila aku patahkan jarinya satu-persatu? Atau memberi kulitnya sayatan-sayatan kecil? Atau menggarami lukanya yang terbuka? Atau—”


Ia tidak akan merasakan apapun, ibunya bilang, kamu boleh memilikinya, bila kamu mau.


Rasa sakit amatlah penting bagi manusia—dan juga bagi para penghuni rumah dosa tempatnya bernaung.


Gore menghela napas, kecewa. “Tidak, terima kasih.”


Bagi manusia, kesakitan adalah respon fisiologis terhadap marabahaya, untuk menyokong insting manusia yang ingin bertahan hidup; bagi Gore, ketidakmampuan merespon atas rasa sakit berarti tidak menarik—dan tidak menarik artinya akan cepat membosankan—


—seperti halnya seorang pelayan yang terpaku pada posisinya saat ini. Tubuhnya sedikit ia bungkukkan kala arloji sakunya terjatuh, dan satu langkah majunya memicu reaksi gravitasi atas jebakan yang telah Gore pasang sejak tadi pagi usai sarapan, menantikan mangsanya dengan sabar. Hunjaman bertubi-tubi paku dan pisau menghantam turun dari langit-langit layaknya deras air hujan.


Pelayan itu menghindar dengan cepat, ia melompat dua kali sebelum memasang kuda-kuda, mengantisipasi serangan lanjutan. Tangannya mengangkat gaun yang menyelubungi arsenal di antara kedua kakinya.


Refleksnya abnormal. Tetapi abnormalitas di antara hal-hal abnormal lainnya menjadi suatu hal yang normal, dan normal berarti mudah diprediksi.


Mata kelabu yang semula waspada di balik lensa kacamatanya segera menyadari Gore yang bertengger di atas pohon dengan malas dari luar jendela koridor, melambaikan tangannya. Seketika, pelayan itu membungkukkan tubuhnya dengan segan, sebelum berjalan santai untuk mengambil sapu.


Sayang sekali, ia pikir. Kembali memejamkan matanya….


Mungkin bila ia mengangkat vas itu—


Dan pelayan itu mengangkat vasnya.


Reaksinya spontan; pelayan wanita itu tidak dampat menghindar saat menyadari kesalahan yang ia perbuat, menyebabkan senar pancing yang menggantung pisau cukur menjadi longgar dan terayun dari atas kandil di langit-langit ruangan. Tidak ingin menjatuhkan vas berharga milik majikannya, ia tidak memiliki pilihan lain selain menantikan mata lancip pisau cukur itu mengenai punggung tangannya.


Pada akhirnya, refleks supranaturalnya tidak bisa membantunya terbebas dari kekangan kasta yang membedakan statusnya sebagai pelayan, dan Gore sebagai majikannya—dan kini, darah mengalir dari punggung tangannya, luka menganga hasil tancapan objek tajam mendekorasi kulit yang semula sudah diwarnai lebam dan sayatan.


Gore tersenyum, kemenangan kecil yang bisa ia ambil hari ini, walau tak mengundang eksitasi berarti dari neuronnya. Pelayan itu melepaskan pisau cukur dari tangannya, lalu pergi untuk mengambil pel. Tangannya ia balut dengan apron putih yang mencegah darahnya tercecer ke atas marmer, ia nampak tak sedikitpun terusik.


Sementara itu, Gore melompat turun dari atas pohon.


Bosan, pikirnya seraya berjalan menyusuri taman tanpa arah tujuan pasti.


Ia dapat merasakan sepasang mata mengawasi pergerakannya, tapi ia tidak khawatir saat melihat Stan melompat turun dari atas pohon, melenggang santai ke sisi lain mansion, berpatroli. Mengamati ekor panjang peliharaan mereka bergerak seirama dengan langkahnya membuat Gore termenung sejenak; ada sesuatu yang ia lupakan, tapi ia tidak—

“Ah, hati-hati di si—”


Terlambat, kucing itu segera terhempas ke dalam lubang yang tanahnya telah digali seminggu lalu. Permukaan tanah yang telah rapuh di sekitar perimeter mansion selalu Gore manfaatkan untuk menanam ranjau, tidak terkecuali jebakan tempat Stan terjerembap turun. Ia dapat mendengar suara besi berderit dan terbanting rapat, gerigi bekerja secara otomatis untuk menggiling setelah mendapatkan mangsanya dalam dekapan si gadis besi yang ia tanam enam kaki di bawah.


Ups.


Gore tidak buru-buru menghampiri petak kuburan yang telah mengklaim nyawa kucing kesayangan sang ayah. Toh, tergesa-gesa atau berleha-leha, ia tidak bisa menyelamatkan Stan.


Namun, saat ia menghampiri perangkapnya, ia merasakan tanah di bawah kakinya bergemuruh.

Gore mundur satu langkah. Seutuhnya waspada pada situasi sekelilingnya—ia tidak merasakan adanya insting asing yang menaruh klaim atas nyawanya, maka ia kembali berdiri tegak, berusaha menerka dari mana asalnya gemuruh pada tanah tempatnya berpijak. Mungkinkah gempa bumi?


Sayang, dugaannya segera disangkal saat ia lanjut mendengar suara nyaring besi yang berderit; seseorang mempertemukan cakarnya dengan besi, ngilu. Matanya mendelik, mengamati sesuatu perlahan menyeruak dari dalam lubang tempat Stan terjatuh, semakin tinggi, semakin besar.


Kulit kucing mungilnya meregang untuk mengakomodasi raga monster yang kini berdiri tiga meter tingginya, mulutnya terbuka lebar dan ia mengeluarkan lolongan binatang layaknya seruan perang.


Perawakannya tidak natural.


Ia berdiri dengan dua kaki belakangnya, merangkak naik dari kuburan tempatnya seharusnya mati dalam naungan iron maiden yang Gore amankan di bawah sana.


Ia nampak seperti mahkluk tercela yang eksistensinya adalah aib dalam kisah penciptaan Tuhan. Tiga deret taring tajam tumbuh tidak beraturan, lidah panjang mendesis layaknya ular berbisa, salivanya menetes dari ujung taring-taringnya layaknya racun ular. Tersembunyi di balik tiga deret giginya, suatu mulut yang menganga lebar layaknya lubang hitam; menganga, menantikan nutrisi.


Monster itu membalikkan tubuhnya dan bertemu pandang dengan Gore yang tersenyum sumringah.

Tak lama, ia menghilang dari pandangan, kembali menjadi kecil. Kulit… bulu-bulunya menggantung dari raganya, beberapa bagian terkoyak dan berdarah akibat peregangan yang semula terjadi atas permukaan kulitnya, namun Stan hanya menjilat lukanya, santai.


Gore mengintip ke dalam lubang perangkap itu saat Stan telah beranjak.


Sekali lagi, instrumen penyiksaan ini gagal mencetak sejarah.


Instrumen penyiksaan yang tidak pernah sukses digunakan untuk menyiksa manusia… lucu sekali, mengingat Stan hanyalah kucing—dan benda keparat ini pun tidak becus menyiksanya.

Tidak berguna—ah, tapi setidaknya, kegagalannya menginspirasi Gore.

 

---------------------

 

Sebilah mata pedang yang dibalur racun terdengar mubazir bagi Gore.


Pedang sudah letal secara independen; penggunaan racun berarti mengasumsikan bahwa pedang tidak bisa menunaikan tugasnya; untuk memenggal jiwa dari raganya. Tapi saat ini, Gore mulai mengerti mengapa seseorang dalam profesinya seringkali membalur mata pisaunya dengan racun.


Karena itulah yang ia lakukan berulang kali, berminggu-minggu lamanya, sebagai upayanya untuk mengundang reaksi dari Stan yang gigih menghindarinya seolah-olah ia adalah sarang tawon—ia akan meletakkan perangkap, lalu memasang banyak perangkap lainnya andai perangkap pertamanya gagal, untuk menangkap iblis yang menjelma menjadi makhluk mungil itu hingga ia merespon dengan agresi.


Ia lucu, dan Gore menyukai spontanitas dan dengkinya yang menggebu-gebu tiap kali ia termakan jebakan yang Gore pasang khusus untuk tubuh mungilnya yang cekatan menghindari lubang kecil atau jaring besar.


Sayangnya, sang ayah tidak sependapat.


Selera humornya dengan sang ayah tidak pernah sejalan. Mungkin ada hubungannya dengan perbedaan umur mereka yang terpaut jauh, jauh sekali.


“Aku tidak ingin mendengar rencana akhir kalian berdua dari gelagat desktruktif semacam ini.”


Tentunya, pengurangan staf tanpa alasan jelas akan semakin kentara saat kehancuran yang dihasilkan perselisihan kecil Gore dan Stan kelihatan terbengkalai tanpa ada pihak yang mampu membenahinya. Tidak ada dari staf yang merasa reparasi sebagai bagian dari beban kerja mereka—dan mereka yang seharusnya mengerjakan sudah menjadi korban amukan Stan hingga jumlah mereka mendekati kepunahan.


“Gore, mulai hari ini kau dilarang memasang perangkap dengan niatan untuk menyakiti sesama anggota keluargamu.”


“Eh, tapi—”


“Tidak ada alasan.” ayahnya bilang seraya tersenyum mengumbar karisma, mengases wibawanya atas aturan yang ia baru saja ia berlakukan, “Mengingat Stan dan Bulb pun terikat kontrak yang melarang mereka untuk menyakitimu, cukup adil bila kita mulai berlakukan kebalikannya juga.”


Mendengar itu, Gore menghela napas jengah. Matanya melirik untuk melihat Stan yang mengeong, tubuhnya bergelantung di bahu Feruci dengan manja. Sejenak, ia nampak mengilas senyuman yang ditujukan pada Gore—mungkin bukan senyuman, tapi bagi Gore, ia nampak tersenyum penuh kemenangan seolah mengejek, efektif membuat Gore geram.


Gore mendecakkan lidahnya.


Reaksi yang segera menaikkan sebelah alis Feruci, tidak senang.


“Tidak suka? Kalau begitu… mulai hari ini kau juga harus memberi makan Stan. Enam….”


Selagi Gore memandang Feruci yang menjatuhkan vonisnya, ia melihat Stan mengusap pipinya pada leher Feruci.


“Ah, tiga belas target.”


Gore membuka mulut hendak protes, namun ia segera menutupnya rapat. Tidak ingin hukumannya ditambah. Ia memelototi Stan yang spontan mengacuhkan murkanya.


“Stan menyukai mereka saat masih segar. Jadi….”


Gore cemberut.


“Bawa mereka pada Stan hidup-hidup….” ia melanjutkan, lemas. Faktanya, ini bukan kali pertamanya mendengar vonis serupa. Ayahnya suka membebankan tugas mengurus Stan pada mereka yang sulit diatur—biasanya dirinya atau kedua saudarinya yang lain.


Feruci tersenyum.


Satu-satunya kesamaan yang ia miliki dengan Gore adalah tendensi sadistiknya.

 

---------------------

 

13 merupakan angka sial, Gore pikir, seraya ia menyeret kantong jenazah dari belantara hutan menuju rumah dosa tempat Stan menanti. Ia meminta racun dari Ades, tidak cukup banyak untuk memberi dosis mematikan, tapi cukup untuk melumpuhkan peredaran darahnya hingga jantung targetnya berdebar dalam tempo yang mengkhawatirkan, tapi masih berdebar, dan itulah yang terpenting.


Ketika Stan membuka mulut besarnya untuk memakan santapannya, ia terhenti. Matanya mendapati amputasi pada kaki sang target. Matanya menyipit, tidak senang pada bagaimana Gore menyajikan makanannya, tapi ia tetap membuka mulutnya. Deret taringnya tidak digunakan untuk mengoyak dagingnya.


Jantung Gore berdebar cepat menyaksikan Stan melahap manusia itu, utuh dari kepala hingga ujung kakinya.


Kemudian Stan pergi begitu saja, lidahnya terjulur seolah ia jijik pada santapannya.


Gore rasa ia kecewa, tapi sulit memahami isi hati seekor kucing.


Pelayan di sebelahnya memasukkan kembali arloji sakunya seraya mengatakan, “Dua belas lagi. Saya akan laporkan pemenuhan hukuman hari ini pada tuan Feruci. Selamat malam, Tuan Gore.”

 

---------------------

 

Setelah lama meruminasi apa yang terjadi pada penuntasan hukuman pertama dari ketiga belas, Gore rasa Stan tidak menyukai mengonsumsi target yang tubuhnya tidak utuh.


Maka ia menyingkirkan perangkap beruang, bahan peledak berskala kecil, senjata api, pelontar api—apapun yang beresiko memutus ekstremitas target dari torsonya, atau memutus jiwa dari raganya. Tidak banyak hal yang dapat melumpuhkan orang tanpa melukai mereka, tapi Gore adalah seorang yang kreatif.

Tidak sekreatif Levi dan taman tangannya, tapi ia rasa dirinya cukup kreatif.


Racun adalah pilihan utamanya, tapi ia terlalu malas untuk bersiaga; racun memerlukan atensi pada detail, sedikit kesalahan akan menghabisi nyawa targetnya, dan ia tidak menginginkan itu….


Pada hukuman yang kedua, Stan pun masih memberikan reaksi serupa; lidahnya terjulur seusai ia menyantap target, lalu melenggang pergi dengan kecewa—ekornya yang menjuntai panjang berayun rendah, kepalanya tidak terangkat tinggi. Padahal targetnya kali ini masihlah belia—darah segar, daging empuk, raga bugar—


Oh.


Mendadak, ia teringat bahwa ia melumpuhkan targetnya dengan racun.


Gore menghela napas seraya meminta pelayan wanita di sebelahnya untuk mengambil pel, agar ia bisa berpikir sejenak sembari melakukan kegiatan yang mengosongkan pikiran. Mungkin racun yang dimiliki ibunya merusak kesegaran daging yang baik.


Pelayan di sebelahnya kembali dengan gagang pel, tangannya yang dibalut perban mengindikasikan kejadian kilas balik yang Gore tahu betul. Ia memasukkan arloji sakunya, dan kembali mengulangi pesan tempel, serupa tapi tak sama seperti kali sebelumnya.

 

---------------------

 

Walau tidak ada yang meminta, Gore amatlah atentif pada detail.


The devil is in the details, lagipula. Beberapa orang selalu berasumsi bahwa ia terlalu menggebu-gebu—neurotik, hiperaktif, defisit atensi. Tetapi seseorang yang berkutat dengan perangkap dan jebakan mematikan perlu memiliki fokus ekstra agar terhindar dari insiden yang tidak diinginkan saat sedang merakit perangkap-perangkapnya.


Maka ia melakukan eksperimen selama beberapa kali prosesi hukumannya. Ia memberikan Stan target dari berbagai demografik; mulai dari remaja sehat yang kesalahannya adalah mewarisi dosa orang tuanya, hingga kakek berusia senja yang usianya tinggal menghitung hari, dan mendapati bahwa Stan lebih menyukai seorang wanita di usia subur.


Ia tidak menyukai seseorang dengan riwayat penyakit jantung jangka panjang. Tidak terlalu memiliki preferensi yang jelas untuk perokok, seseorang dengan kolestrol tinggi, atau kanker, tapi Gore perlu lebih banyak waktu untuk mengonfirmasi hipotesisnya.


Golongan darah seseorang pun menentukan apakah mereka terasa lezat atau tidak bagi kucing peliharan ayahnya. Mungkin ada kaitannya dengan protein yang terkandung dalam darah—Levi pernah menjelaskannya saat mereka sedang belajar mengenai donor darah, tapi mungkin ia salah ingat.


Stan lebih menyukai seseorang dengan golongan darah AB negatif.


Dalam populasi umum, orang yang memenuhi satu kriteria itu hanya terdapat pada nol koma tujuh persen dari total populasi—bila ia mencari seseorang yang sekaligus memenuhi kriteria lainnya di dalam berkas amplop cokelat yang diserahkan ayahnya, mungkin hasilnya nihil.


Maka ia menghela napas panjang, berpangku tangan seraya berpikir bagaimana caranya ia bisa memuaskan Stan dan seleranya yang eksotis.


Ia hanya memiliki empat kesempatan lagi.


Tiga lagi. Saya akan—”


“Ya, ya.” Gore melambaikan tangannya, matanya terpaku pada Stan yang telah melenggang pergi meninggalkan lokasi pembantaian. Pelayan yang diminta untuk mengawasinya menunduk hormat sebelum berangkat meninggalkan Gore dan melapor pada Feruci, dilanjutkan menunaikan tugas lain yang telah dibebankan untuknya.


“Hmm….” Gore mengusap dagunya, matanya terpaku pada kulit kepala dan helaian rambut yang tersisa di bawah lantai marmer, tergenang darah segar.


Walau Stan nampak puas dengan santapannya, Gore merasa sesuatu terasa kurang. Memberikan target dalam keadaan utuh terbukti membuat Stan merasa senang, demikian pula tidak melumpuhkan mereka dengan racun—mangsa yang masih sempat mengeluarkan reaksi mendatangkan kesenangan tersendiri bagi Stan.


Dalam aspek itu, dirinya dan Stan memiliki kesamaan.


Saat ini, substitusi racun yang ia gunakan untuk melumpuhkan targetnya adalah obat tidur.

…jadi, andaikata Gore memberikan mereka pada Stan saat mereka terjaga seutuhnya, apakah reaksinya akan berbeda?

 

---------------------

 

Seraya ia mengulurkan tangan untuk memayungi wanita yang berteduh di bawah pohon dengan koper besar di sisi kakinya, Gore menyapa dengan sapaan hangat, “Halo.”


Wanita itu tersipu, pipinya yang pucat menemukan kembali ronanya. Binar kelabu pada matanya berkilat menginspeksi Gore dari ujung kepala hingga ujung kakinya; seekor kucing bertengger pada bahunya, bulu-bulu berwarna oranye membuat bahunya yang menegang menjadi rileks.


“Apa Feruci mengirimmu untuk menjemputku?”


Gore menganggukkan kepala, seketika membuat wanita itu menghela napas lega. Ia menuntunnya pada halte bus, tangannya menarik koper kosong wanita itu. Di seberang jalan, seseorang di dalam mobil sedan mengawasi perimeter untuk memastikan bahwa tidak ada yang dapat bersaksi atas apa yang akan terjadi, sekaligus mengawasi Gore yang masih harus menuntaskan hukumannya dengan memuaskan.


Ini yang terakhir; target ketiga belas. Sulit untuk menantikan target yang sekiranya memenuhi preferensi Stan—tetapi sekalinya ada, Gore akan memastikan bahwa ia mendapatkan misi yang mengizinkannya untuk berinteraksi langsung dengan wanita di sisinya.


Ia membuka kopernya.


“Masuk.”


Stan mengeluarkan gerutu kecil. Tidak sabar.


Wanita itu menganggukkan kepala, tidak basa-basi untuk melakukan apa yang diminta.


Naif.


Ia masih berasumsi bahwa Feruci ingin membantunya untuku menaikkan derajatnya di dunia ini—setelah pengkhianatan yang ia perbuat atas Ades, ibunya.


Gore berjalan menyusuri trotoar dengan sedan yang mengikuti perlahan di sisi jalan lainnya. Ia dapat mendengar suara angin sepoi-sepoi di antara hunjaman hujan; pelayan-pelayan lainnya mengawasi perimeter untuk kesuksesan misinya, bergerak sesuai arahan untuk mengantisipasi seluruh basis kelalaian yang mungkin akan terjadi.


Ia berjalan cukup jauh, melalui teritori sindikat terlarang yang tidak lagi menerima kehadiran wanita itu atas pengkhianatan yang telah ia perbuat, hingga tiba pada rumah aman yang dahulu sempat dihuni oleh seorang agen yang… ah, ia tidak tertarik mengingat latar belakangnya. Tidak penting.


Sesampainya di dalam, ia segera meletakkan koper itu di tengah ruangan dan membukanya.


Segera setelah wanita itu keluar dari koper, Stan melompat turun dari bahunya, dan Gore—


Ia mengambil posisi duduk di sofa saat pintu depan berderit terbuka, dan Stan mulai menyantap makan siangnya. Wanita itu menjerit dan menangis sejadi-jadinya saat sadar bahwa ia dikhianati, namun sunyi cepat melanda ketika tengkoraknya remuk dan tergiling di dalam mulut Stan, yang memakan waktu relatif lambat untuk menghabisinya—nampak bermain dengan mangsanya terlebih dahulu agar kenikmatannya tak serta-merta larut begitu saja.


Adrenalin, Gore pikir, adalah perangsang rasa yang cukup nikmat bagi Stan. Ia adalah predator, tentu ia akan menyukai mangsa yang melawan.


Setelah ia selesai, ia kembali pada wujudnya yang mungil, dan melompat naik ke pangkuan Gore.


“Maka berakhir sudah hukuman Anda, Tuan Gore. Terima kasih atas kerja keras Anda.”


Pelayan itu membungkukkan tubuhnya saat sosok sang ayah berjalan melewatinya, menuju ruang tengah dan melihat Stan mendengkur di pangkuan Gore.


“Jadi—”


Gore menghela napas.


“Aku sempat berpikir. Kenapa 13?” ia bertanya pada sang ayah, tangannya meraih Stan, mengusap-usap kepala kucing itu dengan lembut. “Tapi kurasa jumlahnya tidak signifikan, karena berkat ini, aku tidak lagi merasa bosan… apa ini bagian dari rencana ayah?”


Tentu ia tahu bahwa semua target yang diberikan padanya adalah seseorang yang telah memilih jalan pengkhianatan. Ayahnya hanya eksis untuk mengolok kesalehan… 13 adalah angka sial.


13 adalah jumlah orang yang hadir di perjamuan akhir; salah satu dari 13 orang yang hadir akan melakukan pengkhianatan yang memutus hubungan antara manusia dan keilahian.


“Tidak juga, tapi aku akan dengan senang hati memberikanmu kesempatan untuk memberi makan Stan di lain waktu bila kau bersedia, tentu saja.”


Gore memandang kucing oranye di pangkuannya.


“Mungkin lain waktu.” ia merentangkan tangannya pada bantal sofa di belakang tubuhnya, ia tersenyum membayangkan prototipe yang akhirnya dapat ia realisasikan segera setelah ia tiba di rumah.


“Aku masih memiliki banyak pekerjaan rumah lain yang harus kusempurnakan.”



Commission Story Written by 616dotexe

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page