Polaritas Perangkap
- Saxifraga
- Dec 29, 2024
- 8 min read
Updated: Feb 11, 2025
Ketika Ades memberitahukan pada Feruci soal Gore untuk pertama kali, Feruci masih memilih untuk diam. ‘Namanya juga anak-anak, mereka juga nanti cari tahu sendiri’, begitulah kamus Feruci menanggapi kalau Gore selalu mengurung diri di kamar dan tidak pernah ‘bergaul’ dengan isi rumah mereka.
Ini bukan kali pertama Feruci ‘mengasuh’ anak (yang tentu saja memang sebenarnya tidak dia momong), dan bukan kali pertama dia (mereka, lebih tepatnya) membawa anggota baru untuk menjadi bagian dari keluarganya.
Ades dan sifat keibuannya yang melekat selalu mengkhawatirkan anak-anak. Dia akan menyuarakan bila ada yang tidak beres, karena Gore sama sekali tidak berinteraksi dengan siapa-siapa.
Feruci akan mendengar, tapi Ades tidak akan tahu bila Feruci memikirkan, selayaknya kotak kritik dan saran. Ades akan mengulang beberapa kali sampai Feruci semakin kepikiran.
Dan tibalah mereka pada saat ini.
“Ada apa, sayang?” tanya Ades pelan. Mereka berdua tengah bercengkrama lepas seputar pekerjaan, ketika obrolan tentang Gore mencuat lagi, dan padam. “Tumben sekali agenda membacamu jalan di tempat.”
Buku itu sebenarnya sudah sering dibacanya, bahkan dari cetakan pertama hingga sekarang sudah berpindah sekian tangan penerbit dan penerjemah, dia sudah tahu isi buku tanpa perlu melihat paragrafnya.
Lagi, Ades benar—tangannya sama sekali tidak bergerak dari halaman dua ratus dua puluh sembilan. Feruci yakin kalau Ades ditanya sejak kapan dia memerhatikan Feruci, Ades akan menyinggung berapa kali Feruci sudah menggerakkan bola matanya atau sekedar memindahkan sikunya dari lengan kursi.
Feruci sekedar menaikkan alis. “Kamu sangat perhatian.” pujinya, tapi itu tidak cukup membuat Ades tersipu dan pembicaraan teralihkan. Terkadang, mungkin Feruci sudah salah mengira bahwa Ades akan selalu mengikuti jalan pikirannya.
“Apa ini soal Gore?”
Feruci tidak langsung menjawab, sekedar mendengung.
“Apa kamu akhirnya akan mengikuti saranku untuk memberinya permainan—sebuah misi?”
Feruci menahan dagunya, senyumnya simpul, “Kita lihat nanti.”
. . .
Surat itu datang ke kamar Gore layaknya tamu tak diundang, sebuah tantangan tertulis dengan gurat pena halus dan penanda yang menekankan maksud pemilik rumah yang mengeja.
Aku mengundangmu untuk membuat sebuah perangkap. Aku-lah mangsa yang harus kau taklukkan. Yang kau perlukan hanya mengambil bros yang tersemat di dadaku. Kau boleh menggunakan cara apa pun untuk mencapaiku.
Bila hingga akhir tahun ini kamu belum mampu, ucapkan selamat tinggal pada hidupmu—kau tidak akan lagi dipersilakan masuk ke Rumah Dosa.
Tertanda, Feruci.
Catatan kaki pesan itu tentu membuat Gore terbeliak. Siapa juga yang mau kembali ke tempat itu? cebiknya dalam hati. Masa lalunya terlalu membosankan untuk dikenang, dan pastinya sudah tidak ada orang ‘waras’ kalau dia kembali. Dia juga tidak ingin uang mereka yang sudah lama Gore tinggalkan.
Gore menatap ambang pintu kamarnya dengan nanar. Dia tertegun. Dia hampir tidak pernah meninggalkan kamar karena sibuk dengan dunianya. Akhir tahun sebentar lagi menyapa, tiga bulan kurang lebih adanya. Di saat-saat ini, dia harus memutar otak untuk ‘menangkap’ sang tuan rumah.
Membuat perangkap adalah hobi dan keahliannya, tapi bagaimana dia bisa meraih sosok yang gesitnya melebihi belut dan keberadaannya bak asap?
✦ ✦ ✦
Yang pertama Gore lakukan adalah mencoba menerka jadwal Feruci di rumah, sambil dia menggambar peta Rumah Dosa dan memperkirakan arah gerak sang tuan rumah setiap harinya.
Dua minggu pertama berlalu hingga dia berhasil menyusun rundown keseharian pria itu, dan dia pun memulai dengan tipe-tipe perangkap sederhana. Perangkap mekanik dengan fungsi khusus. Gore menaruhnya di tempat Feruci biasa bersantap pagi, menyesap teh sambil membaca koran hingga tengah siang di pelataran rumah.
Gore lalu menunggu di kamar, menunggu perangkapnya itu mengirimkan sinyal.
Jebakan Gore menuai mangsa pertamanya setelah tiga hari—tapi sayangnya mangsa itu malah asyik memereteli jebakan Gore sambil meracau sendiri!
Wanita berambut merah menyala itu masih sibuk bahkan ketika Gore sudah turut berjongkok bersamanya, turut memerhatikan, bukannya memarahi atau memaki wanita itu yang sudah mengutak-atik karyanya.
“Oh. Hai.” ucap wanita itu cuek. Matanya melirik sejenak sosok Gore sebelum memisahkan baut dan mur, alih-alih Gore tidak pernah ada di sana. “Jebakannya kurang menggigit.”
“Menggigit gimana?” Gore mengernyitkan dahi.
Jebakan yang Gore gunakan semacam gigi besi berkatup. Nantinya siapa yang melangkah di atasnya akan terjerat, dan gigi itu akan menutup. Saat gigi itu mengatup pada kaki mangsanya, ada jarum kecil yang akan menusuk racun tepat di arteri dorsalis pedis.
“Tahu ‘kan, misal di supermarket itu ada semacam penyemprot ruangan otomatis? Nah…” senyum wanita itu melebar seiring dia terkikik sendiri. “Isi botolnya dengan gas korosif. Gas kadang lebih efektif dibanding bentuk cair, dan lebih sulit terdeteksi kalau sudah bercampur dengan udara.”
“Oohh, itu maksudmu.”
Wanita itu terus berbicara sendiri, soal per, pegas, katup—seakan-akan itu semua penting, dan dia tidak peduli Gore mendengarkannya atau tidak, dia seperti berbicara untuk dirinya sendiri, cepat dan sedikit ketus. Gore mendengarkan saja, memerhatikan tangan wanita itu lihai memainkan obeng.
Sejauh yang Gore tahu, penghuni utama Rumah Dosa selain para pekerja ada lima orang. Wanita ini tampak dewasa, tapi berbeda dengan sang ‘ibu’, kemungkinan dia ini adalah ‘kakak pertama’ Gore.
Tapi rasanya wanita ini tidak akan menjawab kalau Gore bertanya namanya, apalagi dia masih sibuk nyerocos soal mekanisme perangkap, yang sedikit banyak masuk telinga kiri-keluar telinga kanannya.
Idenya bagus, sih. Lumayan juga.
“Mau jadi kelinci percobaan untuk senapan dan gerinda? Sudah lama nggak ketemu orang sepaham.”
Gore sekedar mengedikkan bahu, sementara ‘kakak tertuanya’ itu cuma menyeringai lebar, mereka berdua sama sekali tidak mencapai kesepakatan. Racauannya diinterupsi oleh suara pesan masuk. Wanita itu menaikkan kacamatanya saat melihat ponselnya.
“Cih, mesti buru-buru ke kampus,” kutuknya setelah membaca pesan masuk di gawai, lalu memeriksa jam tangannya. “Simpan itu dan enyah sana. Jangan halangi jalan gue.”
Gore sekedar melihat wanita berambut merah itu pergi, masih bergumam antara sumpah serapah, decak gusar, dan mungkin tetek-bengek tugas perkuliahan sambil melenggang keluar rumah.
Seonggok jebakan Gore tertinggal terburai, harus dipasang ulang sebelum dipakai lagi menanti mangsa.
Perangkat mekanik sederhana: gagal.
✦ ✦ ✦
Jebakan Gore kali ini menangkap orang lain, tapi tentu saja bukan Feruci, melainkan salah satu gadis yang menjadi ‘kakak angkatnya’. Bukannya kesakitan, dia malah kegirangan, apalagi saat perangkap itu tersangkut di pergelangan tangannya, seakan-akan dia menemukan gelang aksesoris manis.
“Hebat, hebat! Ukurannya pas sekali di pergelangan tangan! Dengan ini berarti Levi bisa menangkap banyak tangan! Kamu jenius!”
Gore sekedar mengerjap menanggapi antusiasme gadis berambut merah muda itu. Dia melepaskan perangkap berlendir itu dari Levi sebelum toksin yang dilumurkan bekerja. Gore sengaja menaruh di rak, tempat Feruci biasa mengambil satu dari banyak buku-buku untuk dibaca. Jadi kalau Feruci datang untuk membaca buku, perangkap itu akan mengunci tangan si tuan rumah, dan perekat yang ada di alat itu akan menancap dan merusak lapisan kulit perlahan.
Setelah mendengar gadis berpita besar itu mengobrol soal tangan, sepertinya namanya benar adalah ‘Levi’.
“Gore … itu namamu, ‘kan? Levi tahu dari Ibu.”
“Hee, apa dia sudah memperkenalkanku ke semua orang?” tanya Gore.
“Yah, Levi tidak sangka akan punya adik baru, jadi Levi bertanya karena penasaran,” gadis itu mengedikkan bahu. “Ibu juga bilang kalau kamu bisa membantu mengawetkan tangan-tangan koleksi Levi!”
“Mengawetkan? Oh …” Gore menelengkan kepala. “Kamu tidak keberatan berkenalan dengan cairan pengawet?”
“Asal tangan-tangan Levi tetap indah!” sambut gadis itu sambil melonjak-lonjak. “Ibu sibuk sekali, jadi Levi nggak bisa tanya-tanya ke Ibu. Bagus, deh, kalau Gore bisa bantu Levi!”
Levi sudah hendak memperkenalkan Gore dengan berbagai tangan yang Levi beri nama satu-persatu, tapi sepertinya gadis itu sibuk dan sudah ada janji untuk bermain di luar, jadi setelah dia memastikan Gore akan membantunya, gadis itu pun pergi.
Lelaki berambut pirang itu merapikan perangkap, mengelap sisa racun dan lem yang menetes sebelum merusak buku-buku yang ada di rak.
Dua bulan sudah berlalu, dan semua perangkapnya masih salah sasaran, padahal jadwal Feruci tidak pernah berganti.
Gore mulai mencatat di pergelangan tangannya, nanti dia akan menyalinnya di buku pengamatannya kalau dia ingat.
Perangkap tempel: gagal.
✦ ✦ ✦
Sayangnya, mau dicoba beberapa kali pun, bahkan dia mengikuti anjuran tidak penting dari kedua kakaknya, hanya Feruci yang tidak pernah tertangkap di berbagai triknya itu.
Sempat dia membuat beberapa pengurus rumah kena jerat, dan mereka tidak lagi bekerja keesokan harinya karena lebam, kehilangan bagian tubuh, atau akibat efek racun, tapi seperti biasa Rumah Dosa sudah mempekerjakan orang baru untuk penggantinya.
Perangkap Gore pun juga menyasar Ades, tapi Ades dengan santai ‘membereskan’ racun yang sudah dipasang Gore dan menanyakan kalau anak itu mau camilan atau tidak.
Gore pun diajak Ades ke ruang makan, dengan Ades segera menitahkan pelayan untuk membawakan mereka teh dan kue.
Ades bagi Gore adalah sosok yang penyabar dan penyayang, layaknya ibu sungguhan. Dia sendiri tidak tahu apakah Ades cuma sekedar berpura menjadi sosok ibu atau dia benar-benar sayang dengan anak-anak di Rumah Dosa.
Toh itu bukan hal buruk. Gore merasa mungkin dia akan terbiasa nantinya.
Obrolan mereka saat sesi ngemil itu diisi dengan diskusi soal racun, juga Ades yang memberitahukan kalau dia akan memperkenalkan Gore pada beberapa peliharaan mereka kalau sempat, karena saat ini bagian rumah masih dipugar untuk dijadikan ruang penyimpanan baru untuk mainan-mainan kakak pertamanya.
“Desember nanti, perangkapmu jangan terlalu banyak merusak lantai, ya,” Ades mengingatkan. “Agak susah mencari tukang reparasi di akhir tahun.”
Gore mengangguk mengiyakan.
Perangkap jarum terbang: gagal.
✦ ✦ ✦
Tepat di minggu terakhir di bulan Desember, Gore akhirnya memutuskan untuk menjadikan seisi ruangan sebagai perangkap ‘hidup’.
Ruangan yang disulap Gore adalah ruang baca Feruci, tempat si tuan rumah bisa menghabiskan setengah harinya di sana, apalagi kalau cuaca sedang buruk-buruknya.
Idenya sederhana tapi butuh banyak sekali mekanisme untuk menjalankannya. Jadi, Gore akan memasang penggerak utama perangkap pada pintu. Bila Feruci datang dan membuka pintu dengan perlahan sekalipun, dia akan segera ditarik oleh tali kekang yang akan mengangkatnya ke udara. Tali-tali lain akan segera ikut dan mengikat seluruh badan Feruci. Andai Feruci memaksa memutus salah satu tali saja, tali lain akan menggantikannya. Ada ratusan kombinasi tali di ruangan itu, semua dapat dikontrol oleh Gore bila perlu. Masing-masing tali sudah dilumuri oleh cairan yang akan menyebabkan gatal bila tersentuh kulit, dan perlahan menimbulkan efek terbakar.
Tentu, Gore tidak akan bisa menyelesaikan ruang mahakarya ini tanpa izin pada Ades, juga meminjam tali milik Mona, bantuan beberapa pekerja rumah agar tidak mengusik ruangan itu, juga saran penempatan dari Levi.
Malam tiba. Gore menunggu tepat di lorong terdekat di ruangan, mendapati Feruci benar-benar menuju ruangan target selepas makan malam karena di luar tengah hujan badai.
Feruci membuka pintu sesuai perkiraan Gore. Perangkap pun bekerja dan ruangan itu ‘melahap’ sang tuan rumah dalam sekali hentakan.
Gore pun segera menyambangi pintu. Dia bukanlah seorang yang gesit, tapi memanfaatkan sepersekian detik saat Feruci terikat tali di udara untuk mengambil bros itu harusnya bisa dilakukannya.
Harusnya.
Tapi apa yang didapati Gore ketika dia mencapai ruangan itu?
Feruci berdiri santai di tengah tali-tali yang sudah mulai dilahap api. Dia berdiri rileks di tengah ruangan, seakan tidak peduli akan mekanisme perangkap yang mencoba menangkapnya, tapi tidak ada yang bisa menaklukkan Feruci.
Sang tuan rumah membalikkan badan, menanggapi pemuda berambut pirang itu dengan senyum khasnya. Ia berkacak pinggang saat Gore terkesiap, dia sudah tertangkap basah dan dia masih juga gagal.
“Nih, hadiahmu.”
Tak disangkanya, Feruci dengan santai melayangkan brosnya ke arah Gore. Bunga biru dan ornamen emas. Gore menangkap bros itu, terperangah, tapi Feruci tetap melihat ke arahnya seakan dia tidak merendahkan Gore, melainkan sebaliknya.
Feruci melipat lengannya, “Sudah terbiasa dengan rumah ini sekarang?”
Ia terdiam, mengingat bahwa dalam tiga bulan ini, dia sudah mengenal nama semua orang di rumah, juga mengenal kebiasaan mereka saat di rumah. Dia dipercaya oleh Ades untuk mengurus makanan Stan. Dia juga kerap menolong Levi untuk mengawetkan koleksi tangan. Dia juga berhasil mengubah satu ruangan menjadi perangkap hidup karena sudah izin.
Gore menatap lurus Feruci, yang sudah berjalan menjauhi ruangan yang seperti sudah lelah untuk sekedar menjangkau Feruci, hendak meninggalkan Gore yang masih menatap bros yang ada di genggamannya itu.
“Iya,” jawab Gore pasti.
“Baguslah,” Feruci menyunggingkan senyum. “Ades pasti akan sangat senang mendengarnya.”
. . .
Barulah ketika Feruci meninggalkan Gore dan ruangan perangkapnya yang gagal. Gore mendesah pelan.
Dia menatap bunga biru dan emas yang ada di tangannya lagi, sebuah trofi permainan bohongan. Gore sekedar menggelengkan kepala, tertawa geli sendiri.
Ya, dia sudah tahu kalau misi ini adalah bualan semata. Feruci dan Ades tidak pernah ingin membuangnya seakan dia adalah barang basi tak berharga.
Di lain sisi, Gore sedikit berterima kasih pada Feruci karena dia punya alasan untuk berkenalan dengan yang lain, tentunya dia juga bisa bermain dengan Stan dan bisa berfokus mengembangkan hobinya.
“Hmph. Orang-orang aneh.” tukasnya.
Gore mengantongi bros milik Feruci dan bertolak kembali ke kamarnya. Kepalanya kini tetap terangkat, dan dia tidak perlu lagi berjalan sambil terlalu berhati-hati.
Commission Story Written by Saxifraga https://saxifragawrites.carrd.co



Comments