All Things Tempered by The Sun - chapter 1
- Melty Eruru
- Oct 28, 2024
- 11 min read
Updated: Apr 19, 2025

Prolog : Hukum Tuhan dan Manusia
✦Jean-Pierre Beaumont
“Bukankah ini sudah waktunya kau move-on Jean? Tiga tahun berlalu, karir gemilangmu sebagai salah satu penyidik forensik kepolisian Metro terbaik terbuang sia-sia ke selokan akibat obsesi gilamu pada pria itu. Adikmu tidak akan kembali. Ia sudah tenang di-“
Kumatikan voice messenger itu seketika. Memotong kata-kata terakhir atasanku, omong kosong tanpa makna yang hanya ia pakai sebagai pemanis atas apa yang menimpa Eleana. Bahkan saat aku berganti nomor, tua bangka di kantor masih saja bisa melacakku. Tanpa satu Jean Pierre Beaumont kepolisian tidak akan ambruk, semakin sering mereka mengejarku kembali, intuisiku makin yakin, kalau mereka juga ikut terlibat dalam pusaran kegilaan yang kukejar sejak tiga tahun lalu.
Aku bangun dari kasur kusam di kamar motel murah yang penuh bercak kuning jamur dan sperma tamu sebelumnya, menyatu dengan kapuk murahan, aroma bapuknya bisa membuat orang normal muntah dan sesak nafas, tapi aku tidak punya banyak opsi. Motel ini terdekat dengan bar itu. Juga, uangku tidak cukup, jika harus memilih hotel higienis, sisa di rekeningku hanya cukup untuk satu tiket ke neraka. Kubuka lagi buku catatan penyelidikanku, foto Eleana, kliping surat kabar yang mengabarkan kematian berturut turut, setidaknya sekali setahun di sekolah Eleana, sampai media cetak berhenti mengabarkan kematian para murid dan diam dalam keheningan. Berita kematian menjadi buah bibir mulut ke mulut penduduk di sekitar, lalu hilang. Tak ada topik kematian, bahkan keluarga korban lain juga mengatakan anak mereka telah dimurnikan oleh api suci dan menjadi salah satu bidadari surga.
Tawaku menggema bersama embusan asap rokok. “Bidadari surga dari mana? Surga siapa? Bisa-bisanya memakai nama Tuhan untuk tindakan sekeji ini.” Sekali lagi, kucoreti kemungkinan menguatkan bukti dengan saksi keluarga korban. Seluruh dunia nampaknya bungkam akan kematian yang terus terjadi di sekolah Eleana. Adikku bukan yang pertama, dan tentu bukan yang terakhir. Ada Eleana lain yang mungkin detik ini juga meregang nyawa seorang diri.
Aku tidak ingin menjadi pahlawan super pembela kebenaran. Usia, stamina dan mental pun tidak punya potongan untuk hal-hal besar seperti menyelamatkan dunia dari kehancuran total. Sebagai seorang kakak, duniaku hanyalah senyum Eleana, saat ia diambil dengan kejam tanpa keadilan manusia maupun Tuhan, maka satu-satunya yang bisa kuandalkan untuk memeroleh pembalasan dendam adalah menyambut tangan iblis.
Mantan Inspektur Forensik Kepolisian Metro, seorang Jean Pierre Beaumont kini berdiri di depan pintu bar yang dulunya kukejar mati-matian untuk membongkar sindikat pembunuh bayaran. Tanpa lencana, tanpa pistol, tanpa borgol, aku melangkah sebagai pria putus asa yang menghamba keadilan atas kematian dunianya.

Babak pertama : Harga Sebuah Keadilan
✦Feruci
“Berikan aku Devil on the crossroad tanpa es.”
Kutengok jam di seberang meja bar. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya orang-orang ini datang lebih larut. Mereka yang memesan devil on the crossroad adalah pelanggan khususku, yang well; antara ingin menjadi konglomerat paling kaya selama lima puluh tahun dengan membabat habis saingan bisnisnya, para wanita perebut suami orang yang ingin meracun istri sah agar bergelimang kekayaan, para pendendam yang ingin melihat rasa sakit hatinya terbalaskan, semua hal yang ada dalam panggung dunia.
Senyumku semakin lebar melihat pemesan minuman spesial ini tidak lain pak inspektur-eh koreksi, mantan inspektur forensik kota kita tersayang. Ia datang tanpa undangan khusus dariku, dan hanya berbekal legenda urban konyol, nekat masuk ke bar yang bisa saja penuh perangkap demi menuntaskan hawa nafsunya. Sungguh, manusia memang makhluk penuh kejutan.
“Anda terlihat lebih buruk dari pecandu fentanil di pinggir jalan tuan Beaumont. Sudah tiga tahun kan sejak berita anda berhenti menjadi headline surat kabar seluruh Arundel. Jadi, siapa orang yang membuat Jean Pierre Beaumont berpaling ke iblis sepertiku?”
Kuletakkan pesanan sang mantan inspektur, mataku menatap lekat gestur gerakannya, ia nampak buruk, dan buruk adalah kata terhalus dalam kamus tak terhinggaku untuk mendeskripsikannya. Aroma tubuhnya menyengat, bau keringat manusia lelaki yang tidak mandi berbulan-bulan, dipadu aroma tembakau murahan, asap rokok, jenggot tak terawat, rambut coklat lepek, yang ah-sudahlah, kutu-kutu di kepalanya tidak perlu dapat panggung dalam lakon kali ini. Yang terburuk dari penampilan Jean Pierre sekarang adalah jiwanya. Bahkan iblis paling rendah di neraka akan gatal-gatal alergi kalau memakan jiwa sekotor dan sekacau miliknya.
Kupasang senyum paling tipis, sambil menanti. Bar kami tidak pernah menolak permintaan Devil on the crossroad dari klien, seaneh apapun kata yang terucap setelah mereka meneguk minuman buatanku itu.
“Jika kau adalah iblis tuan Feruci, maka pria sialan dan para penjilatnya di luar sana adalah sesuatu yang lebih buruk dari makhluk yang dikutuk Tuhan. Aku sudah lama membuang salibku beserta seluruh kepercayaan akan Tuhan, Surga dan Neraka. Code name Lucifer milikmu memang menggetarkan dunia hitam di balik gemerlap Metro kita tercinta, Arundel.”
Ia mengambil jeda sebentar, menaikkan bahunya, dan menghela nafas panjang, tangan gemetarnya mencengkeram gelas koktail, dan menghabiskan devil on the crossroad sekali teguk. “Sayang, bagiku kau sama dengan puluhan pembunuh bayaran legendaris dalam sejarah umat manusia, hanya manusia biasa, dengan keluarga biasa, yang hidup di jalan pedang. Hanya lebih licin saja hingga tidak pernah terungkap.”
Pujian tulus itu meluncur dari bibirnya, bersama sorot mata kosong, seolah dua netranya telah menengok jurang neraka saat hidup. “Ephraim Whitecraft. Aku ingin pria itu mati.”
Ah. Dendam kesumat rupanya.
“Malam masih panjang, meja ini sudah kureservasi untuk anda, tuan Beaumont. Kembalilah kesini esok, tepat jam dua belas lewat tiga menit, dua belas detik. Nikmati tari telanjang malam ini, istriku memilih talenta-talenta profesional kami dengan teliti.”
Masih ada klien lain yang harus kutemui langsung tiga puluh menit lagi. Walau jujur aku lebih senang duduk berlama-lama di sebelah inspektur Beaumont tersayang, mengorek sisa kewarasan dan emosinya, melihat hal-hal indah yang terangut brutal darinya hingga nekat mencariku entah sebagai pembunuh bayaran atau sebagai iblis persimpangan jalan, menghabiskan waktu bersama pria yang tidak lagi hidup walau nyawanya masih melekat di tubuh usangnya, tidak akan menambah pundi-pundi kas keluarga baruku. Iblis atau manusia, semuanya butuh batas profesionalitas dalam pekerjaannya.
Jika Beaumont masih hidup besok setelah menegak dua gelas devil on the crossroad, berarti pria ini klien spesial, satu-satunya dalam tujuh puluh tahun terakhirku membuka usaha warung serba ada pemuas hawa nafsu manusia.
“Bayaran atas permintaanku? Anda tak penasaran?”
“Tuan Beaumont, Feruci ini seorang yang adil. Pembayaran hanya kuminta saat misi selesai kami kerjakan.” Kuletakkan kartu as spade di atas gelas koktail kosongnya, bertuliskan jam perjanjian kami besok dan tanda tanganku sebagai penanda ia tamu khusus ruang VVIP. “Bawalah kartu ini besok dan tunjukkan pada pegawaiku, negosiasi besar seperti ini perlu tempat yang lebih layak dan tidak disaksikan banyak mata telinga asing. Sekali lagi, selamat datang di barku, Omnia. Kalau ada masukan soal tari telanjang malam ini, besok bisa disampaikan saat kita bernegosiasi juga.”
Kuucap selamat tinggal untuk sekarang. Ah, aroma pekat amarah dan dendam saat Beaumont mengucap nama Ephraim, sungguh sedap. Kebenciannya nostalgik. Seperti masa-masa sebelum waktu ditemukan di muka bumi, saat kami saling menghunus pedang dibalik awan putih taman firdaus. Aroma seorang yang dikecewakan dunia dan Tuhannya; begitu indah, melankolis, pedih, pahit manis selayaknya chateau cheval blanc tahun 1947. Kukoreksi, jiwa hancur Jean Pierre Beaumont adalah berlian hitam yang adikodrati indah.
***
“Moodmu terlihat sangat bagus malam ini,” Oh laba-laba kecilku nampak sadar, aku seperti bocah kecil di malam natal yang tak sabar menunggu hadiah dari santa karena menjadi anak baik setahun. Begitu penuh gairah dan kebahagiaan. “Tidak ada yang mampu terlewat dari mata laba-laba kecilku rupanya. Ya, setidaknya dalam tujuh puluh tahun terakhir kubuka bar itu, akhirnya ada satu santapan lezat.” Tanganku menyambut jemari lentiknya, ah, aroma wolfberry bercampur lily of the valley kesukaanku.
Kucumbu mesra telunjuk, jari tengah dan kelingkingnya, lidahku menyesap racun yang diurap sang bunga gelapku, puan dari rumah yang kami dirikan, maharaniku, Ades.
“Perburuan klien bar kita menemukan mangsa bagus?” “Tidak, justru mangsaku adalah klien untuk esok.” Ada tanda tanya dalam ekspresi wajahnya mendengar jawabku. “Jadi itu alasanmu meminta anak-anak kita menggali soal sekolah putri St.Nikolai? Untuk santapanmu esok? My-oh-my, our dear lucis ferre sekarang kau membuatku penasaran dengan klien ini, biarkan aku ikut menilai harga yang ditawarkannya
hingga membuatmu begitu terpompa penuh kehidupan.” Senyum tipisnya mengambang bagai ceruk bulan sabit, ia mencuri ciuman demi ciuman, bibirnya tak lepas memangut bibirku, lidah kami saling mendominasi, kedua tangannya mendorongku ke tembok terdekat di lorong kastel, dan menarik kancing bajuku hingga lepas.
“Itu kancing kemeja ketiga minggu ini.” “Kau punya uang untuk membeli saham pabrik kancing, dear naughty devil, kesenanganmu menulariku, kau harus bertanggung jawab untuk itu.” Ades menggosok buah dadanya ke tubuhku, puting merah mudanya menyembul, bersama desah-desah kecil dan aroma pekat feromon kawin yang sengaja ia keluarkan untuk menarikku dalam jaring laba-laba nafsunya.
Kusambut undangan sang puan segala racun dengan remasan kasar pada dada kanannya, memijat dan menarik puting penggodanya hingga ia tak lagi mendesah tapi melenguh keras. Kucumbui leher jenjangnya, gigiku menarik kulit lembut penuh racun, menghisapnya hingga bekas gigitanku meneteskan darah dan berwarna merah gelap. “Oh tentu, spiderling tersayang. Sebagai kepala rumah tangga kastel ini, sudah tugasku memastikan tiap orang paham posisi mereka. Termasuk mengoreksi kenakalan kecilmu.”
***
✦Jean-Pierre Beaumont
“Kakak, mau dengar berita bagus atau berita buruk dulu?” “Kenapa harus ada buruknya? Ada preman yang mengganggumu Eleana?” “Ih, pilih saja kak.” “Hmm...ok, kabar baiknya dulu deh. Kepalaku sedikit migrain karena menyelesaikan laporan forensik semalam suntuk, semoga kabar baiknya bisa menjadi obat sih.”
“Aku berhasil lolos program beasiswa sekolah St.Nikolai. Mereka akan mendanai sekolahku sampai ke jenjang perguruan tinggi dan riset biologiku tentang ketahanan pangan berbasis tanaman lokal.” “-dan kabar buruknya?”
“Aku harus berpisah dengan kakak, karena sekolah ini sekaligus asrama.”
Aku harus berpisah.
Kakak—kita sudah begitu lama berdua. Kakak selalu melindungiku, bahkan menjadi polisi-pun kak Jean bilang, untuk memastikan tidak ada yang bisa menyakitiku lagi. Kali ini, aku yang akan melindungi kakak. Setelah penelitian ini berhasil, kita bisa mewujudkan mimpi kakak pensiun dini dan bercocok tanam.
Kakak—tempat ini penuh orang-orang kaya, tetapi mereka semua begitu baik padaku. Tuhan memberkati tempat ini. Direktur dari sekolah ini seusia kakak lho, kusertakan fotonya biar kakak percaya! Tuan Whitecraft bilang aku punya bakat, jadi beliau memintaku pindah ke kelas spesial. Kelas ini berisi putri berbakat dari berbagai kalangan. Hanya berisi dua belas orang. Perutku sempat mulas membayangkan persaingan dalam pelajaran nanti. Kukenakan rosario pemberian kakak sebagai penyemangat. Tiap kali aku merasa kesepian dan kesulitan, kalung rosario dari kakak seolah memberiku penguat. Semoga hari kakak juga penuh perlindungan Tuhan.
Kakak—aku menemukan Tuhan.
Kakak—ditubuhku ada roh kudus—aku terberkati. Kakak—aku akan jadi juru selamat. Aku melihatnya kak, begitu agung, begitu surgawi, cahaya—sentuhannya—ah—
“Ahh—mhhh—ahhh—ohhh—di dalam—lebih dalam—oh-oh-oh-ah-aaah—“
Email terakhir Eleana hanya berisi kata-kata tidak jelas. Satu file suara terlampir, membuat jantungku nyaris berhenti. Suara adikku, mendesah seperti pelacur rumah bordil, tenggelam dalam kenikmatan duniawi, bersama suara-suara asing berdenging, desahnya bersama desah gadis-gadis lain, dan geraman binatang buas. File itu hanya bisa kubuka sekali. Saat aku berusaha mengunduh ulang, file itu, beserta seluruh email Eleana hilang. Orang bilang aku sangat terpukul dan berduka karena adik semata wayang yang kujaga mati-matian memiliki sisi nakal. Tidak, aku tidak gila. File itu melekat kuat di ingatanku, dan integritasku sebagai seorang ahli forensik dipertaruhkan. Seseorang tengah mengubur kebenaran soal adikku. Belum habis tawa orang-orang menganggapku berlebihan, Tuhan memilih sebuah finale tragis dengan kabar susulan dari sekolah Eleana.
“Kami turut berduka cita tuan Beaumont. Nona Eleana melompat dari menara asramanya tadi pagi.”
Aku masih ingat hari berita itu datang. Eleana bunuh diri. Adiku yang begitu penuh gelora kehidupan dan mencintai tiap detik hidup di dunia, bunuh diri. Tanah tempatku berpijak seolah runtuh. Aku tidak percaya. Sama sekali tidak memercayai telingaku. “Jenazahnya...jenazah adikku, di rumah sakit mana? Aku ingin menemuinya.”
“ Kami, telah melakukan prosesi kremasi Eleana tuan Beaumont. Sesuai prosedur di St.Nikolai, adik Anda telah mendapat seremon dan pengurapan, adik anda telah damai di Kerajaan Surga sekarang.” Bisa-bisanya mengucap jiwa adikku damai setelah pesan suara terakhirnya. Tidak termaafkan. Tidak akan pernah kumaafkan. Mereka semua harus membayar kejahatannya, dengan atau tanpa pedang hukum dunia.
Pagi datang malu-malu, menyembunyikan mentari di balik awan kelabu. Aku kembali dari klub feruci sebelum acara tari tiangnya dimulai semalam, kepalaku pening, perutku mual hebat. Sepanjang jalan, sudah tiga kali kumuntahkan sisa makan malamku di aspal dan tiang lampu jalanan. Kuputuskan tidur cepat tanpa mencuci muka, dan kini bantal motel tempatku tidur bau sampah. Minuman yang disajikan oleh pemilik bar bukan koktail biasa, karena pemabuk kronik sepertiku bisa tumbang hanya dengan dua gelas kecil. Apa ia hendak membungkamku? Apakah Ephraim lebih dulu mengontaknya dan membayar lebih mahal untuk menyeselaikan kerikil kecil yang membuat nama St.Nikolai tercemar? Pertanyaan itu kembali muncul bersama sakit kepala luar biasa yang membuat telingaku berdenging kencang.
““Eleana.” Kusebut namanya bersama amarah dan sesal. Harusnya kucegah ia masuk ke sekolah laknat itu, ia akan marah padaku, tapi dua tiga bulan kemudian, hubungan kami akan kembali baik. Ia bisa menjadi salah satu peneliti botani muda yang merevolusi pertanian desa kami. Ia masih bisa menggapai semua cita-cita dan hobinya. Ia masih hidup. Aku kakak terburuk.
““Kakak akan memberimu keadilan.” Bisikku, walau keadilan itu bersama iblis dan api neraka.
***
“Pukul dua belas malam. Kuseret langkah kakiku kembali ke bar Omnia. Entah karena devil on the crossroad memiliki zat opinoid atau halusinogen, atau aku sudah benar- benar hilang akal, sepanjang jalan yang kulihat adalah manusia-manusia berkepala hewan. Polisi berkepala babi hutan, pegawai bank berkepala ular kobra, pejabat dengan kepala alat kelamin menggantung di wajahnya, dan alih-alih senyuman khas masa pemilihan, walau itu di tengah siaran LIVE televisi, mulutnya mengeluarkan cairan hijau kuning pekat. Kualihkan pandangku ke jalanan, sialnya, bukan sembuh dan hilang halusinasi, yang kutengok kucing dan tikus di tempat sampah memiliki tangan manusia, wajah manusia, dan para pelacur pecandu fentanil malah punya sayap malaikat.
“Aku pasti sudah gila.” Penjaga di depan klub satu-satunya yang memiliki kepala manusia normal di tengah pemandangan gila yang terus terlihat di mataku. Mereka membawaku melewati pintu belakang, menuju lorong panjang dengan karpet merah tua, lukisan - lukisan era renaissance dengan tema para dewa dan malaikat. Lorong ini senyap, tapi temaram lampunya memberiku sensasi tenang yang tak kudapat selama tiga tahun terakhir. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati berukir mahluk bersayap membawa tombak panjang menusuk sesamanya berdiri megah. Catnya putih tulang, bersih, berpadu sulur emas metalik. Kontras dengan lorong panjang yang suram dan di dominasi merah hitam gelap. Kubuka pintu itu, dan ruangan serba putih membuat mataku berusaha menyesuaikan pandangan.
“Kau berhasil melihat wujud asli dunia ini, dan tidak serta merta meloncat dari gedung. Kuucapkan selamat, tuan Beaumont. Tekatmu lebih kuat dari para rasul menghadapi eksekusi mati dari umat sesatnya.”
“Hah? Rasul? Tak kusangka anda suka berkelakar religi Feruci. Pantas saja kau memakai nama lucifer. Aku kesini untuk perjanjian kita. Kau bunuh Ephraim Whitecraft, dan bayarannya sisa tabunganku, serta tubuh ini. Terserah mau kalian jual berapa organku.”
Ia membalasku dengan tawa riang, bersama tepuk tangan meriah. Seolah aku adalah aktor dalam panggung yang ia tonton. “Bravo! Bravissimo! Tidakkah kau melihat wujud asliku sekarang tuan Beaumont. Aku yakin minuman semalam mampu memberi kemampuan sementara untuk melihat sisi paling dasar dari jiwa mahluk fana.”
Kukedipkan mataku beberapa kali, tapi wujud Feruci nyaris tak dapat kulihat, ada cahaya putih membelakanginya. Dari cahaya putih menyilaukannya, siluet Feruci nampak lebih tinggi, dan punggung tegapnya mengepakkan delapan sayap putih bersih, membentang sepanjang jendela ruangan. “Manusia biasa akan terbakar kedua bola matanya melihat wujudku tanpa mantra pengabur. Tuan Beaumont, tekatmu membalas dendam Eleana membuatmu setingkat lebih kuat dari manusia fana. Kau anak sekolah minggu puluhan tahun lalu kan, tentu kau tahu siapa yang memiliki sayap seindah milikku ini.”
“Helel bin shahar.” Jawabku, kedua lututku lemas, tak mampu menjaga agar tetap berdiri di hadapan kekuatan luar biasa dari feruci. “Ya, dan tidak.” Jawabnya. “Itu nama surga yang sudah lama kulepas. Aku suka sebutan anak-anak zaman now, bagiku lebih keren dan memiliki power berlebih. Pangeran kegelapan, penguasa neraka, tuan para penyihir, Lucifer. Ya, antara kau dan aku, mari kita panggil saja namaku dengan sebutan Lucifer. Tanda tangan kontrak kita butuh nama asli, semoga kau tidak melakukan eksorsisme atau lari sih.”
Ia meredupkan cahaya tubuhnya, dan dengan jentikan tangan, aku bisa melihat lebih jelas Feruci sekarang duduk di kursi tinggi depan meja kerjanya. Di samping sang malaikat terjatuh, istrinya yang juga dikenal sebagai salah satu wanita paling berbahaya di muka bumi tersenyum teduh padaku.
“Oh sayangku, pantas kau sangat bahagia pada klien malam ini.” Suara merdunya terdengar mengalun bagai musik. “Ia memiliki mata dan hati yang bagus.” Lanjutnya. Entah apa maksud dari kata-kata itu. Apakah ia sama dengan feruci? Salah satu iblis? Bukan-bukan... kepalanya bahkan masih kepala manusia dan tidak ada tanduk maupun sayap di tubuhnya.
“Istriku penasaran padamu tuan Beaumont. Jujur ia cemburu semalam kemarin, tapi kami berhasil mendapat satu malam penuh gairah karena kecemburuan itu.”
Feruci memberi kode agar aku maju kedepan meja kerjanya, dan melihat secarik kertas kontrak yang ditandatangani menggunakan bahasa enochian. “Kami akan membunuh Ephraim untukmu, hanya satu nyawa untuk satu nyawa lainnya. Tidak lebih. Ketika kepala Ephraim berhasil dibawa anak-anakku kemari, maka jiwamu akan menjadi bayarannya. Kau tidak akan bisa mendapat penebusan dan pertaubatan, jiwamu adalah milikku sebagai salah satu penghuni neraka ketujuh. Bahkan juru selamat dan Bapa di tahta suci tidak bisa membawamu pergi. Apa kau setu-“
Kutandatangani perjanjian itu lebih cepat dari orang yang butuh uang dari lintah darat.
“Aku belum selesai menjelaskan resikonya tuan Beaumont. Kau punya jiwa seorang santo yang rela berkorban demi kebenaran. Kau merelakan diri lepas ke kandang iblis hanya untuk pembalasan dendam?”
“Segala hal yang diterpa matahari di bumi akan melahirkan bayang-bayang, tetapi pria ini tidak. Adik perempuanku mati sebagai pendosa di sekolah katoliknya, jenazahnya tidak diurapi, petinya dikunci dan dikremasi tanpa persetujuanku. Pria itu tidak tersentuh hukum manusia dan Tuhan, bahkan ketika aku mencoba mencari keadilan sendiri, mereka menganggapku gila karena kematian adikku. Aku tidak memiliki banyak uang tapi jika satu jiwa gelapku bisa menjadi bahan bakar Neraka, asal pria itu ikut terbakar bersamaku, aku rela.”
Senyum Feruci dan istrinya tertarik lebar dan tawa serta tepukan tangan kembali terdengar.
“Sayangku, buka wine kita. Hari ini aku akan bersulang atas tuan Beaumont dan balas dendamnya yang indah. Tuanku tenanglah dan nikmati sisa hidupmu di bumi. Kami akan mengantarkan keadilanmu yang telah ditinggal Tuhan dan Surga.”
Aku begitu lega mendengarnya. Eleana, kau melihatnya kan? Ini jalan pedang kakak untukmu.
Kuteguk anggur merah dengan iblis,
Agar tangisan dan kesakitanmu terbalas sepuluh ribu kali lipat.
[Bersambung]
Story commission written by Melty Eruru Melty Eruru's Facebook



Comments