top of page

All Things Tempered by The Sun - chapter 2

  • Melty Eruru
  • Nov 4, 2024
  • 12 min read

Updated: Apr 19, 2025



Babak kedua : Pas de deux – Andante Maestoso

✦ Levi


        “Mulai hari ini kalian adalah Levitichia, dan suster Madonna. Ayah kalian meminta misi ini diselesaikan secepat mungkin, tanpa cela, dan memastikan kepala dari Ephraim Whitecraft dibawa tanpa luka.”


        Ades menjelaskan naskah yang harus kami perankan tepat saat makan pagi. Mona, dari seluruh orang di dunia, menjadi seorang biarawati? Aku tak mampu menahan tawaku lepas terbahak-bahak. “Bukankah ini nostalgia, kakak tersayangku, kau besar di panti asuhan milik para biarawati dengan kelamin kering kerontang tak pernah disentuh,  dan mendamba menikahi Tuhan, sekarang kau menjadi salah satu biarawati itu, mana memakai nama Madonna (perawan suci) pula.”


        Sebilah pisau mentega terpelanting, menancap tepat di samping tanganku. Menghentikan tawa dan olok-olok pada kakak perempuanku tercinta, Mona seketika. Ades hanya tersenyum tanpa menghentikan ia kembali melempar garpu, nyaris melukai wajah cantik dan polosku yang amat sangat penting dalam misi ini. Menyebalkan.


        “Diam. Ades apakah aku bisa menolak misi ini? Aku tidak suka menyamar menggunakan gaun biarawati. Lagi pula jika ini hanya perburuan satu kepala dari pria paruh baya pengurus sekolah Katolik, kurasa Levi sudah cukup.”


        Ya, benar. Enak saja aku dipasangkan dengan Mona. Ia akan mencuri semua spotlight penyamaran, dan akting primadonaku. Panggung sekolah ini terlalu kecil untuk diisi dua Diva sekaligus. “Kenapa Feruci begitu terpompa seperti ini sebuah perburuan besar sekali seumur hidup?” Tanyaku, masih kesal karena kami harus berbagi tempat sebagai orang baik-baik.


        “St.Nikolai memiliki angka kematian murid sangat tinggi. Terlebih untuk sekolah Katolik yang doktrinnya mengutuk siapa pun yang membunuh dirinya akan dibakar dalam neraka tanpa pertobatan. Sejak tempat itu membuka diri sebagai sekolah elite, tiap tahun ada dua belas kematian. Dalam tujuh puluh tahun berdiri, sudah delapan ratus empat puluh korban. Hanya saja, catatan di dunia depan menuliskan sepuluh. Itu pun hanya kasus belakangan ini yang sempat mendapat sorotan media. Kalau aku boleh bilang, orang-orang yang berada di balik aliran dana St.Nikolai bisa mencederai bisnis gelap kita. Mereka lebih ahli, dan kekuatan politiknya besar untuk membungkam media.”


        Gore menengahi kami dengan tambahan data baru yang dia dapat hasil ‘menyelam’ ke darkweb kesukaannya atas perintah ayah. Wajahnya tetap pucat dengan kantung mata mengkhawatirkan, “ughhh, tidak kawaii sama sekali.” Umpatku dalam hati. “Bergerak berdua lebih aman, apalagi lokasi St.Nikolai jauh di dalam pegunungan.” Ia menguap lebar seperti seekor kucing saat menyalakan proyektor dan memaparkan denah St.Nikolai beserta topografi wilayahnya. “Seluruh bukit sepanjang St.Nikolai adalah properti pribadi milik keluarga Whitecraft. Pantas saja mantan inspektur polisi itu tak dapat menemukan celah selama tiga tahun, Whitecraft termasuk keluarga orang kaya lama, marga kuno dari era perang salib, dan juga salah satu dari tiga keluarga besar Arundel. Menyeret orang sepertinya ke pengadilan sama saja dengan mencoba menyeret Paus atas dosa sodomi para pendetanya. Tidak mungkin terjadi hingga kiamat.”


        “Selain itu, tanah St.Nikolai adalah hallowed ground, tanah yang dikuduskan. Ayah kalian tidak dapat masuk, aku pun tak dapat serta-merta datang jika nanti ada sedikit masalah selama misi, dengan pergi berdua, ibunda kalian ini bisa lebih lega, karena aku yakin dua putriku masih bisa kembali dengan utuh.”


        Kata-kata Ades membuatku dan Mona terpaksa akur sekarang. Kuhela nafas panjang, dan mengulurkan tangan pada kakakku tersayang, sebuah gerakan minta maaf dan berharap sepenuh hati misi ini bisa selesai tujuh hari saja. Siapa sih yang betah tinggal di tengah perbukitan tanpa mall, tanpa love hotel, tanpa bioskop, tanpa kafe dengan banyak kudapan manis lucu dan imut? Tidak perlu tekanan dari pihak sekolah, tidak perlu konspirasi sekte sesat berkedok Katolik puritan, aku yang mampu berakting sebagai murid paling berprestasi-pun akan meloncat dengan senang hati dari menara tertinggi, sebelum ikut jadi gila.


***

✦ Mona


        “Titah Ades adalah absolut.” Kuyakinkan itu dalam kepalaku yang mendidih karena ejekan pelacur kecil keluarga kita, Levi, yang mengolok-olok peran baruku  untuk perburuan besar dari Feruci dan Ades. Ades mengambilku dari tempat penuh kepalsuan dan kemunafikan di kaki gunung, menolongku melihat bahwa aku bisa memilih hidup sesukaku, bisa meneguk nafsu-nafsu duniawi tanpa perlu takut hukuman Tuhan. Jika ia berkata aku harus memotong tangan kananku dan membutakan mata kiriku, tanpa ragu akan segera kulakukan titahnya. Gremlin kecil pink itu mana tahu keindahan menemukan keluarga saat semua orang menganggapmu tidak waras? Yang ia tahu hanya mengumpulkan tangan dan menunggangi pria-pria paruh baya.


        Kukenakan gaun biarawati berwarna hitam putih ini dengan bangga. Aku tidak boleh mengecewakan bunda, jadi setelah Gore berhasil memalsukan data kami, kuubah ekspresi dan senyumku selayaknya anak gadis yang memilih dipanggil Tuhan untuk melayani umat. Kami pergi menggunakan mobil mewah milik yayasan yang digunakan menjemput para guru dan murid baru St.Nikolai, Levi sudah membaur seperti wabah Flu Spanyol, mendapat banyak perhatian yang didambakannya sebagai diva baru. Ia harus menonjol, sangat menonjol hingga mendapat perhatian Ephraim. Sedangkan peranku adalah bayang-bayang, aku harus tidak terlihat, selayaknya hantu di sudut gelap mata tiap bangun tengah malam. Kubuang keinginan menjadi gadis populer untuk sekarang. Aku adalah suster Madonna, dari biara di Siprus yang ingin mengabdi si St.Nikolai sebagai penjaga kafetaria. Tidak lebih.


        Gerbang tinggi St.Nikolai seperti sebuah benteng besar. Kutengok sekilas, tiap sudut tinggi memiliki kamera pengawas, ada dengung kamera tersembunyi di balik taman, bahkan patung para santo dan malaikat memiliki kamera di mata. Pantas saja Gore bilang aku tidak boleh bertindak sendiri. Sekolah ini nyaris tidak memiliki sudut mati.


        “feta.” “Ya?” Ulangku. Suster senior yang mengantar kami, para suster baru berkeliling sekolah, tiba-tiba menyebut kata feta dan menatap lurus padaku. “Kami senang sekali dengan keju feta dari biara Siprus. Suster Madonna membawakan kita banyak keju untuk pasokan sampai natal. Sampaikan terimakasihku pada suster Agatha, nenek tua itu bahkan menolak mati sebelum lilin ulang tahunnya mencapai angka seratus. Anda bisa lebih santai di tempat ini suster, St.Nikolai percaya bahwa tradisi dan modernitas harus berjalan seimbang. Jadi kami juga mengadopsi nilai-nilai modern.”


        Kubalas penjelasannya dengan anggukan lemah lembut. Tentu saja modernitas penuh aroma hedonis, sekolah ini cocok sebagai sarang cuci uang pejabat, bahkan orang buta pun tahu marmer St.Nikolai bukan marmer murahan. Semangat pengabdian pada Yesus kepala kau copot! Umpatku. Tempat ini bau aroma kemunafikan, Hanya saja, skalanya di atas biaraku dulu. Udara di St.Nikolai terlalu bersih, instingku sebagai seorang pembunuh profesional seolah ditantang dalam hening.


        Selayaknya sebuah biara, seluruh staf St.Nikolai berada di tempat ini. Ada asrama khusus para pengajar, para biarawan sepertiku dan para pastor, juga pekerja kasar. Blok timur untuk para pekerja kasar baik yang berasal dari warga lokal maupun pekerja asing dari asia tenggara. Blok barat untuk para biarawan dari berbagai ordo biara katolik se-Eropa, dan blok tengah, tempat paling elit sekaligus mencolok, untuk pengajar. Murid-murid perempuan dibagi dalam tiga klasifikasi kelas berdasar kecerdasan otak dan bakatnya. Kelas umum, kelas minat bakat, dan terakhir kelas St.Nikolai. Kelas elit yang hanya berisi murid pilihan, sama seperti jumlah murid Yesus, hanya dua belas orang tiap tahunnya yang dipilih masuk kelas St.Nikolai.


        “Tahun ini sepi lagi.” Keluh Annelise, suster yang ditugaskan mengaduk sup makan malam bersamaku. “Delapan belas tahun aku mengabdi di St.Nikolai, hanya gara-gara siswi bunuh diri tiga tahun lalu, semua orang menganggap sekolah ini sarat pembulian. Polisi gila itu tidak henti-hentinya meneror kami, para staff sekolah, menanyai kapan adiknya mati, apa saja kegiatan adiknya, sampai ke proses pengurapan sang adik.” Ia menghela nafas, membentuk tanda salib dua kali dan mengecup rosarionya. “Demi seluruh orang suci di atas langit, tuan Ephraim terlalu baik hati untuk membiarkan rumor itu diabaikan tiga tahun. Harusnya ia menuntut, nama baik sekolah ini beserta nama keluarganya diseret seperti badut tiga tahun lalu di media masa.”


        “Jadi rumor korban bunuh diri disini tidak diurapi benar?” “Andai saja benar, sekalian deh.” Umpatnya, melampiaskan emosi dengan menambah dua sendok besar bubuk paprika. Alamak~ Levi pasti sangat menikmati makan malam pertamanya ini. Gumamku yang sedikit terhibur membayangkan wajah merah padamnya yang tak pernah tahan makanan pedas. “Jika ada kematian di St.Nikolai, tuan Whitecraft lah yang membasuh tiap jenazah, membersihkannya, mengurapi, melakukan seremon terakhir bahkan memberikan peti terbaik sebelum mengkremasi. Bukan hanya murid, para staf, bahkan pekerja asing yang dulunya beragama lain, begitu merasakan ketulusan tuan muda, akan menerima salib Kristus tanpa paksaan. Padahal anak-anak yang bunuh diri itu tidak mendapat penyelamatan, tapi bagi tuan Ephraim, mereka tetap anak-anak Tuhan.”


        Apakah Ephraim Whitecraft keluar dari buku fiksi mimpi basah para ibu rumah tangga yang mendamba pasangan CEO muda berbakat dan berbudi luhur? Anjing, anjing, bahkan Gore juga tidak dapat menemukan borok Ephraim walau menyelam ke darkweb. Kalau ini di luar area sekolah, sudah kusulut rokokku. Ades memintaku berada dibawah bayang-bayang, jadi tidak. Kuputuskan memasak lebih banyak ayam goreng saus mentega, dengan potongan-potongan kecil gurih, menarik tulang-tulang kecil unggas itu terlepas dari daging sebaik mungkin. Setidaknya, memegang pisau membuatku lebih tenang. “Kuserahkan panggung megahnya untukmu Levi, kau suka tipe pria serba ‘suci’ seperti Ephraim kan. Jangan bikin malu nama besar keluarga kita sebagai pembunuh profesional fufufu...”


***


✦ Levi


        “Membosankan, sungguh membosankan.” Jariku kembali mencoret buku catatan. Pelajaran di tempat ini membosankan. Guru-gurunya juga membosankan. Anak-anak kelasnya? Jangan tanya. Para gadis perawan yang sama sekali tidak pernah bercumbu ini bahkan otaknya setara bocah usia enam tahun. Mereka begitu polos, murni dan sangat baik. Mencoba berperan jadi gadis menonjol dan Diva kelas pun tidak cukup membantuku memperoleh poin lebih menuju kelas khusus St.Nikolai. Aku malah diikuti segerombolan perawan naif sepanjang jalan. Bergerak makin tidak bebas.


        “Levitichia, kau tinggal di Salem kan? Apakah masih banyak keturunan penyihir di sana?” Kugelengkan kepala dan tersenyum. “Ini abad dua puluh satu, mana ada penyihir sih. Histeria masal hanya alasan pria puritan melakukan perkusi janda kaya raya dan perempuan yang bisa membaca.” Mereka mengangguk kagum, membeo omonganku dengan tambahan tepuk tangan meriah. “Sungguh penuh pengetahuan. Pantas saja St.Nikolai mau menerima Levitichia di tengah semester. Ayo kita buat klub baca dan belajar bareng-bareng!” Ugh, mata mereka terlihat seperti jatuh cinta. Aku suka petualangan cinta mendebarkan di sekolah, tapi mencumbu sesama perempuan bukan termasuk dalam listnya. Belum selesai memikirkan skenario alternatif, entah harus tidur dengan guru mana untuk menambah poin, para burung dara kecil ini kembali melontarkan pertanyaan aneh,  “Levitichia apa kau pernah menggandeng tangan anak lelaki?”


        “Hm? Tangan ya... antara kita saja ya ini, tapi aku sering melakukannya.” Kucoba memancing, siapa tahu kailnya bersambut. “Levitichia, bergandengan tangan itu... le-lewd.” Demi seluruh kekuatan gelap di muka bumi, aku ingin membenturkan kepala ke tembok terdekat. “Sepertinya aku terlalu banyak makan sup pedas, maaf tapi kita sambung besok ya, hari ini aku mau tidur lebih cepat.” Kupercepat langkah kakiku masuk dalam kamar. Peduli setan dengan suara kecewa para gadis naif itu, jika aku harus menjawab satu pertanyaan bodoh dari mereka, aku jadi paham seribu persen kenapa adik polisi itu loncat dari menara.


***


        Kamar tidur asrama elite ini berisi satu orang, tidak ada seorang gadis yang harus saling rebut pojok terbaik dalam kamar, karena ruangan seluas ini dimiliki seorang diri. Mona berkata, tidak ada kamera tersembunyi di kamar. Tapi jendela balkon memiliki sensor yang aktif jika seseorang berada terlalu dekat dengan pagar pembatas. Gore bilang sistem ini mirip pengamanan penjara bagi teroris kelas dunia. Dan tuan Ephraim Whitecraft memasangnya di seluruh balkon St.Nikolai sejak 3 tahun lalu.


        Kebetulan? Bukan. 


        Tidak ada kata kebetulan di dunia ini. Tidak ada keajaiban, tidak ada mukjizat. Segala yang terjadi adalah murni sebab akibat, dan serentetan proses kehidupan. Kucoba menghubungi Mona lagi, tapi tidak ada tanggapan. Mona nampaknya menikmati peran sebagai biarawati kurang pergaulan yang hanya berteman pisau dapur dan kuali sup. Aku mendapat peran paling penting untuk mengupas topeng Ephraim, si tuan segala kebaikan dan kasih sayang. Membayangkan tiap kebohongannya terungkap, membayangkannya meregang nyawa di bawah kakiku, membuatku terangsang berat. Aku akan memotong tangan Ephraim, mengawetkannya, ah tidak-tidak, akan kubuat cetakan dildo yang berbentuk tangannya, aku bisa masturbasi tiap malam sampai bosan dengan tangan itu.


        “Akan kuperlihatkan pada tempat kelewat membosankan dan tidak ada imut-imutnya sama sekali ini bagaimana meneguk kesenangan duniawi.”


        Tanganku bergerak cepat memijat selangkanganku, kubuka kedua kakiku selebar mungkin di tempat tidur, membayangkan kematian targetku yang perlahan, penuh erangan rasa sakit karena dipermalukan, ah ini puncak kenikmatan duniawi, adiksi yang melebihi kepuasan dari heroin. Kuakhiri finale malam ini dengan orgasme hebat, “Code name Leviathan, siap memporak porandakan St.Nikolai.”


***



        Hari Pertama. “Levitichia mendapat nilai sempurna! Sungguh pengetahuanmu soal teologi tak tercela. Benar-benar anak Tuhan.” Guru teologi memberi standing applause padaku. Kubalas senyum super manis setengah centil, sambil mencari celah ia akan menambah poin plus malam nanti. Pria setengah botak itu kikuk, tapi kulihat sudut matanya tidak lepas mengikuti lekuk baju dan rok panjang yang kukenakan.


        “Malam ini aku dapat satu mangsa ~”


        Hari kedua. “Levitichia kau begadang kemarin?” Aku mengangguk. Kuoles secarik senyum polos, dan memainkan poniku selayaknya gadis baik-baik. “Nanti di jam akhir ada kuis sejarah dunia kan? Aku harus dapat skor terbaik kalau ingin mengejar ketertinggalan karena masuk di tengah semester.” Eugh, rasanya ingin muntah mendengar ucapanku sendiri. Berperan sebagai anak baik memang mudah, tapi menjadi anak baik sekaligus menghisap penis pendek setengah layu milik para pengajar adalah hal lain. Semalam pria itu mencoba memuaskan fantasinya padaku dengan gaya misionaris, kuikuti geraknya, tapi ia malah keluar duluan dan terkena serangan jantung. Jangankan orgasme, mau penetrasi saja dia bingung masuk lubang bagian mana. Payah. Kuserahkan membersihkan bekas sperma menyedihkan milik guru teologi di bilik pengakuan dosa pada Mona. Ia menyelesaikannya tanpa cela, bahkan gosip yang beredar hanyalah guru teologi ketahuan membawa pelacur dari luar, dan terkena karma berbuat dosa di rumah Tuhan. Setidaknya dengan sedikit cumbuan di sana-sini sebelum ia tumbang, aku dapat surat rekomendasi naik ke kelas khusus St.Nikolai. Kabar buruknya, aku butuh setidaknya lima surat rekomendasi dari guru, atau sponsor langsung dari Ephraim Whitecraft.


        Guru sejarahku pria lebih muda dari guru teologi. Tuomas Vanska, lulusan Cambridge, masuk sepuluh besar peneliti abad pertengahan, dan juga sama seperti Whirecraft, berasal dari keluarga kuno yang sudah menjadi anjing gereja sejak abad 11 Masehi. Ia begitu berapi-api tiap kali menceritakan kisah perang salib dan perburuan penyihir. Debat kami sempat panas tentang kebenaran pengadilan penyihir Salem, tapi di akhir ia juga memberiku A untuk keberanianku menyuarakan pendapat. Sayang, butuh waktu seminggu sampai ia mau kuajak tidur, itu pun menunggu waktu study-tour ke museum lokal di kota, ia sangat berhati-hati agar citranya tidak jatuh seperti pak tua Teologi kami. Kukabari Mona dan Gore soal ini, dan mereka alih-alih simpatik, malah kompak mengirim stiker meme jelek di group chat keluarga. Ades dan Feruci juga hanya memberi kata “Semangat gremlin kecil ayah.”


        Semangat anak setan! Bentar, aku juga anak setan kan hitungannya.  Kuhela nafas dalam-dalam dan memasukkan amunisiku, tak lupa  pil spesial yang Ades siapkan, karena pria konservatif kolot seperti mereka hanya bisa terangsang dengan fantasi menghamili gadis muda polos.


        “Semoga yang satu ini tidak mati mendadak juga.”


***


        “Nilai sejarahmu sempurna! A+ di kelas pak Vanska yang ketat. Levitichia~ ajari kami dong.” Gadis-gadis di kelasku mengerubung selayaknya lalat pada daging busuk. Ugh, memangnya jalanku yang sedikit mengangkang setelah study tour tidak dapat menjadi penanda ya?


        Tuomas Vanska, guru sejarah kami yang dijuluki benteng Inquisitor Spanyol karena tekat kerasnya, ternyata memang pria super problematik. Di rumah pelacuran kami punya kode pada tamu yang datang. Pria seperti Tuomas adalah klien yang dihindari banyak pelacur, tuan control freak yang tak segan meratakan gigimu jika kau salah memberi sepongan, atau gigi tak sengaja menyentuh penis sucinya. Fantasinya adalah pemerkosaan, sodomi, dan menghukum anak-anak nakal yang tak mampu menjaga kemaluannya sepertiku. Oh, dua malam saat study tour ia menghukum kenakalanku dengan kata-kata aneh seperti membawaku kembali ke jalan Tuhan dengan penisnya, memberiku benih suci agar aku kembali dimurnikan, dan karena aku ikut menikmati kekasarannya, permainan berbalik karena ia sudah tak bisa mencapai orgasme dengan pelacur lain, ~ hanya vagina dan anusku yang mampu memberinya kenikmatan surgawi katanya.


        “pfft...hihihi...Surga keturunan orang suci dan terhormat serta patuh pada perintah Tuhan ternyata tidak jauh dari memperkosa gadis di bawah umur untuk membenarkan jalan hidupnya.”


        Kubusungkan dadaku penuh kebanggaan. Hanya tiga pria busuk lagi, dan aku bisa memenggal kepala Ephraim, mengambil tangannya, dan memuaskan  diri sampai terkencing-kencing squirting dengan jemari kakunya. Ah, ah, ah, ah~ membayangkannya saja membuat celana dalamku basah. Sial, masih ada jam pelajaran sekarang, kontrol euforiamu Levi.


        Bel berdentang, kami semua berdiri menyambut guru masuk. Mataku nyaris meloncat keluar dari kelopak, saat yang masuk bukan Tuomas Vanska, tetapi targetku dalam perburuan ini. Rambut pirang pucatnya seperti helai-helai perak baru disepuh, tersisir rapi dengan gel. Jas putih tulang, celana putih, sepatu putih, alih-alih pemilik sekolah, ia terlihat lebih cocok menjadi pengantin pria yang tengah mencari pasangan hidupnya. Aku bisa dengar jerit tertahan para gadis polos di belakangku, hanya karena Ephraim Whitecraft mengambil alih kelas sejarah, melempar senyum hangat dan menyapa kami dengan suara merdunya.


         “Aku datang membawa kabar duka dan bahagia sekaligus pada kalian gadis-gadis St.Nikolai yang diberkahi Tuhan. Tuan Vanska, dibawa ke rumah sakit tadi subuh. Ia terpeleset di kamar mandi, dan sayang sekali, tersetrum pengering rambut yang dikenakannya tergesa-gesa. Nyawanya masih aman untuk sekarang, tapi syok yang dialami beliau membuatnya tidak dapat berbicara sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Jadi, kelas sejarah akan kuambil alih, sampai guru baru datang dari yayasan kami. Kedua, kabar baiknya, tuan Vanska menyampaikan surat rekomendasi, pada nona Levitichia agar naik ke kelas khusus St.Nikolai. Ini adalah surat kedua yang datang di mejaku dalam waktu unik, saat ada kabar kecelakaan.”


        Ia berjalan ke arahku, mata itu menatapku lekat-lekat. Seperti seekor predator mengunci mangsa. Menarik, ayo, tatap aku lagi tuan goody-two-shoes Whitecraft, kunci aku dengan sorot teduh tanpa cela itu. Kupastikan aku yang memangsamu di akhir. Tubuh tingginya tegap dan wangi, aroma parfum berpadu dupa kayu cendana yang dinyalakan tiap misa pagi menguar lembut seperti feromon bunga karnivor penangkap lalat, yang memalsukan identitas predatorialnya. Ia berhenti tepat di depan mejaku, dan seulas senyum lebar menghiasi wajahnya.


        “Nona, kita harus menghentikan rumor tidak jelas seperti itu kan? Ini adalah institusi pendidikan berbasis agama, aku tidak suka staf pengajarku bergosip hal mistis tanpa bukti jelas.” “uh, ya tentu saja. Saya datang tengah semester, jadi saya juga ingin membuktikan kemampuan akademik yang layak diterima St.Nikolai.” Ia mengangguk, dan menyerahkan secarik undangan.


        “Malam musim panas di St.Nikolai selalu diakhiri dengan pentas seni. Akademik saja tidak akan membuat Anda masuk kelas khusus, nona. Maukah anda berdansa denganku di puncak perayaan nanti? Hanya satu lakon kok, nona pasti tahu balet The Nutcracker dari Pyotr Tchaikovsky? Jika nona bisa melakukan pas de deux denganku di panggung, nona tidak perlu tiga surat dari guru lainnya, dan kita bisa menepis rumor mistis pembawa sial yang menjadi perbincangan hangat di ruang guru sekaligus.”


        Membunuh adalah satu hal, tapi balet. Balet? BALET?


        Pria ini tidak memberiku ruang untuk berkata tidak. Hebatnya lagi, tanpa intimidasi, hanya bermodal secarik kertas undangan, yang kutengok-tengok, cuma dicetak di printer ruang guru. Jika aku mundur, misi kami kacau balau. Jika aku bilang tidak bisa, penyamaranku sebagai diva kelas juga sia-sia. Perjuanganku menunggangi dua guru sekolah ini pun, jadi tak ada apa-apanya. Aku menangguk, wajahku merah padam bak gadis perawan yang mendapat pinangan pangeran di buku dongeng. Gadis-gadis lain berteriak riuh menyelamatiku. Tapi aku tahu, maluku bukan karena tersipu dan berbunga-bunga. Aku marah. Ia menghinaku. Ephraim Whitecraft tengah mengolok-olok percobaanku memasuki kelas khususnya, aku yakin ia tertawa dibalik wajah sok suci itu!


        “Aku tak menyangka Anda penggemar pertunjukan klasik tuan Whitecraft.” Ungkapku, masih berusaha mencari sisa-sisa harga diri. Mata birunya menyipit, senyum di wajahnya makin lebar, dan ia tertawa kecil. “Di tahun dua ribu dua puluh empat ini, seleraku seperti kakek-kakek pensiunan ya? well, nona Levitichia, bisa dibilang aku juga pria yang menyukai seni pentas. Itu saja. Jika pas de deux kita membuatku dan penonton terkesan, maka bakat Anda bisa terdengar hingga ke maestro balet di Rusia. Itu sudah lebih dari cukup bakat akademik dan non akademik yang dibutuhkan kelas khusus. Jadi, semoga beruntung nona.”


[Bersambung]






Story commission written by Melty Eruru




Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page