top of page

Toksin Feminin

  • LIN
  • Oct 2, 2024
  • 21 min read

Updated: Jan 27, 2025



Prologue :

 

Roda takdir berjalan seperti bajingan. Mana mungkin manusia-manusia miskin bisa dapat keadilan? Ini kisah tentang Ades dan lika-liku kehidupan. Tidak berguna kalau kalian adu nasib jadi pahlawan kesiangan. Selama menyelami cerita ini, jangan lupa buat pegangan. Biar tahan goyah kalau Ades nanti bikin kamu terlena tidak karuan. Soalnya wanita ini ada gila-gilanya kalau berkaitan dengan hal di luar nalar kemanusiaan.

───────────────────────



Keroncongan sambil gigit jari bukan wacana yang perlu diherankan. Bagi Ades, masih bisa bangun walau ranjang sekeras bata bikin tulang pegal linu itu sebuah keajaiban. “Ma... pengen jajan,” aroma dinding berjamur kontrakan sederhana ini makin memperkeruh keadaan. Cicit Ades kecil barusan direspon penolakan.

 

“Gak perlu jajan-jajan segala. Jadi anak jangan banyak minta. Masih kecil udah ngerepotin orang tua,” ya gini deh ocehan manusia kalau terimpit masalah ekonomi. Ujungnya pasti anak jadi sasaran keluh kesah tak berbobot yang malah nyelekit di hati.

 

Ades termenung bungkam, netra menelisik panci-panci kosong yang jadi sarang nyamuk. Mana ada lauk? Berharap apa dari kerja serabutan orang tua, ingin berkhayal muluk-muluk? Waras itu opsional, karena mereka terlilit hutang yang gak bakal bisa lunas sekejap mata sekalipun mati membusuk.

 

Gebrakan pintu ugal-ugalan bikin jantung melompat, Ades meringkuk di sudut ruang kamar sambil terkatup membisu. Anak sekecil ini berkelahi dengan situasi riskan ditagih rentenir gahar, mereka datang tidak kenal waktu. Samar-samar obrolan orang tua nya terekam rungu. “Tuan, tolong beri waktu satu minggu—” Ades paham dialog papa tercekat, bogem mentah mengundang pekik ampun disusul tubuh ambruk menahan rasa ngilu. Pupil bergetar, tanpa sadar Ades tahan napas sampai wajahnya membiru.

 

Perasaan bocah usia tiga tahun dibuat takut.

Yang seharusnya memeluk boneka dan dapat fasilitas mumpuni malah terjerat rasa kalut.

 

Ades merangkak kikuk usai para rentenir itu berlalu pergi. Berusaha menenangkan hati orang tua lewat tepukan tangan mungil, dia ingin menuangkan afeksi. “Papa... Ades di sini,” termegap gemetaran, wajah si papa kecut tanpa senyum sama sekali.

 

Acuh, langsung berjalan ke arah istrinya yang buang muka. “Cuma ada satu cara. Harta kita juga udah habis gak bersisa,” pria kepala tiga itu tampak lebih tua, beban pikiran menggilas fisik jadi terlihat renta. Tempo hari mereka gadaikan barang berharga. Bahkan perabotan elektronik juga ikut terjual walau harganya tidak seberapa.

 

Ades kurang paham maksud orang tuanya, harapan yang tersemat dalam hati hanya ingin semuanya baik-baik saja.


✧ ✧ ✧



Mimpi apa semalam tiba-tiba bisa dapat perhatian? Ades heran hari ini kenapa orang tuanya mau repot merogoh kantong buat beli jajan. Bukannya tempo lalu bahkan enggan buat sekedar memberi makan? “Mama, aku udah gak sabaaar buat jalan-jalan!” bocah ini dibohongi pakai dalih bakal liburan ke tempat wahana permainan.

 

Papa datang mengais gandengan tangan. Lantas kepalanya dielus pelan sebelum berangkat ke tempat yang sudah ditentukan. Ades kecil bingung di tengah perjalanan. Pasalnya, Ades justru dibawa masuk ke distrik terbengkalai jauh dari pemukiman. “Sabar, ya? Sebentar lagi Ades dijemput sama orang dermawan. Terus dianterin naik mobil ke wahana permainan sambil jalan-jalan,” mama berucap agak ragu, ada gurat tak terdeskripsi dari raut wajah tertekan.

 

“Mama kok sedih? Sini Ades kecup!” jinjit kecil sambil manyun gemas, bocah ini pandai mengekspresikan afeksi. Ades terkesiap saat awak pria pakai jubah satin turun dari mobil bercat mengkilap, sempat ada sesi salaman dengan wajah orang tuanya yang memantapkan diri.

 

Jemari mungilnya dipaksa lepas dari gandengan. Ades kecil panik, berusaha melayangkan panggilan dengan suara kian parau berujung tangis sesenggukan. “Gamaau, lepasin! Maaa? Pa! Kenapa tangan Ades pakai diikat?” pikirannya keruh, mau kabur juga lengan ranting Ades mana sanggup menepis bisep pria dewasa.

 

Dia meronta sia-sia, tubuh ringkihnya terkepung. Lantas dibekap sapu tangan sampai pening, anak ini terhuyung-huyung sebab aroma pahit menusuk hidung. Tolong, Ades sudah cukup muak dengan cobaan bertubi. Kali ini kisah hidupnya makin carut-marut terkekang dalam sebuah organisasi. Sebuah fasilitas khusus yang melegalkan percobaan di luar nalar manusiawi.

───────────────────────

 

Genap satu bulan Ades terkurung di bawah naungan para ilmuwan dengan segudang ide anarkis. Tabiat mereka lebih kejam dari setan, Ades mendapati anak-anak lain seusianya tewas secara sadis. Peneliti di balik dinding kaca itu berkutat dengan racun fatal. “Sayang sekali dia hanya bisa bertahan selama 1 menit 30 detik,” tubuh bocah lelaki itu tumbang, menggelepar sekarat dengan urat-urat mencuat di sekujur tubuh.

 

Ades terpaku bergidik, merinding sampai ubun-ubun. Bukan sebatas siksaan fisik, para ilmuwan sinting itu kerap mencoba daya tahan antibodi anak-anak lewat racikan dosis tinggi. Terdengar interupsi asisten peneliti mencatat data perkembangan uji percobaan. “Hipotesis skala persentase antibodi Ades sekarang berada dalam taraf 80% imun racun,” ini jadwal optimalisasi eksperimen, tekstur cair sewarna emas disuntik lewat aliran nadi. Ades terkesiap, bekas jarum meninggalkan bilur ruam pada pori-pori, rasanya ngilu sekaligus ngeri. Dia terkurung dalam ruang penuh spesimen medis dan teknologi.



Pupil setengah rabun peneliti tua bangka itu berkilat penuh ambisi. “Bocah ini punya potensi,” injeksi bukan cuma sekali, dilakukan berkala dengan proses evaluasi setiap satu jam setelah observasi. Mengetahui bahwa durabilitas Ades lebih mumpuni daripada anak-anak lainnya, mereka tambah dosis racun dengan harapan ada kemajuan pesat di luar prediksi.

 

Lidah kelu, telan ludah rasanya sukar waktu melihat teknisi datang. Ades paham, jika para teknisi itu bawa perkakas mesin berarti sebentar lagi siksa fisik akan menghadang. Tuas arus elektrik ditekan, tubuh mereka dipaksa duduk di atas kursi pasung. “Kita lihat sampai mana mereka sanggup menahan tegangan listrik,” pungkas salah satu ilmuwan sambil memberi aba-aba, gesture tangan di angkat ke atas jadi awal mula setruman menjalar sampai otak.


  Anak-anak sepantaran Ades mulai meregang nyawa. Sementara Ades sanggup kendalikan stimulasi injeksi cairan emas dalam DNA. Rasa sakit setruman listrik diredam dengan akumulasi racun, Ades ubah konsentrasi toksin jadi imunitas melalui kontrol hormon untuk mempercepat penyembuhan luka. Terlaksana secara tak terduga, Ades termasuk hasil percobaan yang mumpuni untuk bertahan dengan sisa stamina.

 

“Kita bisa tingkatkan imun tubuh Ades lebih sempurna,” pungkas salah seorang awak ilmuwan, beradu pandang sebelum melontarkan perintah mutlak untuk mengamankan Ades sebagai bibit berharga.


✧ ✧ ✧


Jargon peduli sesama dengan dalih amal kemanusiaan jadi citra busuk organisasi ini. The Golden Bird adalah contoh nyata jika dunia penuh alibi. Fakta bila orang tuanya menjual dia demi pundi-pundi harta jadi bukti. Bahwa taraf kehidupan tidak bisa dibeli pakai omong kosong dan janji. “Kalau estrogen dengan reaksi aktif apel emas cukup setara, hasilnya memang bagus. Tapi terkesan kurang natural tanpa bumbu drama dan sentuhan ekspresi,” tukas Ades sambil melengkapi catatan mental yang dia buat sebagai patokan perkembangan diri.

 

Ades sadar jika tidak ada orang yang bisa dipercaya. Hidup ini hanya tentang pilihan, tertindas atau berjuang demi mempertahankan nyawa. “Kontrol hormon... aku paham! Harus ada pertimbangan keseimbangan kondisi stamina dengan energi,” kesempatan emas tidak datang dua kali, Ades manfaatkan kelebihan dalam tubuhnya tanpa memberi tahu para peneliti.

 

Waktu berganti, musim bergulir dan tahun telah terlewati. Ades mendewasa seiring naluri feromon jadi senjata yang bekerja secara mulus. Taktik jitu Ades bukan tentang baku hantam lalu melukai diri, dia tidak suka kulitnya tergores luka.

 

Pamor The Golden Bird telah mendunia, tidak heran jika relasinya menjamur dari segala macam bidang. Hal itu menarik minat organisasi rahasia spionase pasar gelap kriminalitas. Anak-anak hasil eksperimen yang lolos dari uji percobaan dipatenkan jadi calon agen mata-mata. “Taraf kelayakan kalian akan dimulai dari pelatihan strategi,” mandat pertama hari ini terkemuka, awak peneliti merancang arena untuk seleksi kualitas mereka.

 

Berbagai prosedur taktik jitu spionase terlaksana, Ades dan anak-anak pilihan sudah ditempa instingnya. Logika mereka terasah secara cerdik, bukan hanya naluri yang berubah lebih peka terhadap medan bahaya. Namun anak-anak ini dipaksa melakoni aksi bejat untuk misi dalam ranah penyusupan. “Ada indikasi pergerakan dari arah berlawanan. Laser itu mendeteksi sensor motorik tubuh manusia,” monolog Ades, menelisik sekitar arena penuh jebakan canggih.

 

Gesit beringsut sesuai perkiraan, Ades menekan tuas pintu arena selanjutnya. Di dalam medan buatan pelatihan ini ada uji kecerdikan, dia berpijak pada ruang tahap akhir. Ades kira akan ada perangkap lain yang menghadang, ternyata justru pasukan bersenjata jadi tantangan. Pria dan wanita, topeng mereka menutupi rupa; posisi sigap menodongkan ujung moncong laras panjang ke arah Ades.

 

Mulanya Ades coba cara negosiasi, tapi nihil karena dianggap melanggar kode etik spionase. Putar akal cari taktik mujur, pada saat-saat genting begini Ades kerahkan naluri erotisnya untuk menyiasati atmosfer. Dia berjalan secara sensual, melenggang perlahan ke depan moncong senjata. “Kalian ini pada kaku banget lagaknya. Ngerti gak sih, kalau...” genggam tangan membuat pola vulgar pada cagak laras panjang. Provokasi binal, seringai menggoda Ades mengiringi letupan hormon yang menyeruak dengan aroma feromon. “...sedikit hiburan, bisa nenangin pikiran, lho.”

 

Pada setiap frasa terucap, lonjakan estrogen mengalir deras dari syaraf ke sekujur tubuh. Kapasitas feromon melambung hingga pasukan bersenjata melonggarkan pelatuk. Mereka terlena dengan gelenyar abstrak yang sukar dijelaskan akal sehat, antara terpesona namun juga terjerat candu. Seperti mabuk kepayang sekaligus keracunan. “Aku mau main sama kalian biar kita sama-sama puas,” telapaknya merambat pada bahu salah satu wanita yang termegap, menganga takjub ketika Ades menyibak melabuhkan elusan di pipi.

 

Selaras logika kosong terpana karena pesona Ades, sekejap kemudian topeng mereka retak disusul tusukan tak kasat mata dari jarum setipis benang. “Ini seru, kan? Lihat tuh! Kalian mirip serangga yang kena perangkap jaring laba-laba,” intonasinya mencemooh secara feminin yang genit, tertawa culas di ujung kata. Degup memburu, antusiasme begitu berbunga saat dia dapati visualisasi mereka terkapar. Racun dari jarum itu berakibat fatal, melibas nyawa tanpa perlu repot adu fisik.

 

Ades sebut ini membunuh dengan pesona. Jadi cantik itu asyik, apalagi bisa mengendalikan hawa nafsu manusia.


───────────────────────


Definisi bahagia sejati itu apa, sih? Dikagumi? Jadi prioritas orang lain? Atau, jadi wanita idaman para pria? Menggeluti dunia gelap terselubung mengajarkan Ades jika khalayak petinggi itu manusia munafik. Pandai bermanis-manis mulut, sikap Ades yang mudah berbaur jadi jalan pintas kelancaran rencana. “Mikirin apa sih, tuan? Ngelamun terus gitu. Senyum gantengnya jadi luntur,” terjun ke misi riskan bukan perkara sulit bagi Ades. Setelah keluar dari fasilitas The Golden Bird, Ades resmi jadi agen yang bekerja di bawah naungan organisasi spionase.



Tidak jarang Ades langsung turun ke lapangan, mengumpankan diri lewat taktik jitu. Menggoda mangsa untuk sebuah pergumulan berbahaya. Seperti saat ini pada lokasi karaoke VIP, target digoda sembari menyertakan frekuensi intensitas feromon. Pria dalam status buron ini adalah sindikat narkotika, Ades ditugaskan mencuri berkas peta penyelundupan ganja.

 

Jarak terkikis lantas satu kancing paling atas dibuka perlahan. “Mau... aku bantu ngelepasin penat?” gesekan bibir menjalar ke daun telinga, vibrasi suara sensual Ades bergema. “Pakai oral,” imbuhnya menyulut birahi, tatapan berkilat mesum. Ades tidak pernah gagal, mangsa akan tunduk begitu terjerat dengan ‘sentuhan ekstra’.

 

“Sial, nyalimu besar juga nona. Kasih tunjuk seberapa hebat kamu bisa menelan sampai pangkal,” jangan tanya tentang norma atau penyesalan. Sejak Ades dipoles pelatihan sebagai mata-mata, fasilitas telah menekankan hak mutlak bagi para hasil eksperimen. Bahwa tubuh mereka adalah sebuah ‘aset’ dengan kepemilikan hak dari pihak organisasi.

 

Peduli setan, hidup Ades tidak lagi berjalan sewajarnya. Usai keluar dari fasilitas, martabat setiap individu anak hasil eksperimen terlucut tak bersisa. Impresi ‘lugu’ atau punya pikiran sesuai hakikat kehidupan itu sudah basi, tidak ada yang namanya mempertahankan status ‘virgin’ sampai dewasa. Semuanya dipereteli tanpa pandang bulu, alasannya agar prioritas misi di masa depan tidak terganggu.

 

Temaram lampu karaoke memantulkan siluet Ades, ejakulasi dahsyat tertelan seksi. Sabotase berjalan mulus, dari tadi Ades sudah ambil ponsel target dari saku celana. Detektor seukuran butir pil dia tempel ke kamera tanpa disadari. “Mmng— ngh... banyak banget, enak ya? Kita bisa ketemu lagi kalau kamu mau ngasih kontak,” pria itu termegap nikmat selaras mendongak. Libido meluap puas, kuluman mahir Ades sampai pangkal penis mengais tetes gumpalan air mani tak terlewatkan.

 

Rayuan Ades memang bikin hanyut.

Tapi juga bisa berujung maut.

 

“Mau minum dulu?” bibir gelas vodka disodorkan, feromon Ades membuyarkan kewarasan. Langsung tegak tanpa curiga kalau wanita ini bisa jadi hendak membahayakan. Usai dimanja oral seks, sekarang tiba-tiba pria itu tertohok pedih kesakitan. Jantungnya seakan diremas secara brutal dari dalam, tubuh kaku, syaraf mengejan. Napas putus-putus tersendat kewalahan.

 

Terbelalak, pria ini baru paham kalau Ades seorang mata-mata utusan. “Bajingan! Kamu—” ajal menjemput sebelum sempat lontarkan caci maki. Dia tergolek tewas, vodka barusan diam-diam sudah Ades campur dengan racun mematikan.

 

“Formula baruku ternyata sesuai harapan,” urusan jasad akan ditangani awak organisasi untuk dibereskan. Mereka sudah tahu di mana titik lokasi karaoke dari detektor yang Ades pasang ke ponsel korban.

 

Bagi Ades tidak ada yang mustahil untuk ditaklukkan. Semua mampu dia wujudkan walau jadi barbie para petinggi sebagai pemuas nafsu persetubuhan. Tapi, Ades tidak bisa hanya berdiam diri sebagai wanita favorite pejabat kegatelan. Dia ingin sesuatu yang lebih fantastis dan menyenangkan. Hobinya tentang racun perlu wadah lebih menguntungkan.


✧ ✧ ✧



Aroma maskulin beradu derit ranjang setiap malam tidak perlu diherankan. Terlonjak vulgar di bawah tubuh pria hidung belang tersohor jadi bagian dari keseharian. Desah mengudara, dengung rungu menangkap suara becek keenakan. Asap cerutu berkepul, gelas wine tersuguh di atas nakas kamar aristokrat megah sekelas bangsawan. “Aku bisa bantu soal lab pribadi yang kamu inginkan,” pria ini seorang jutawan, berkecimpung di pasar gelap obat-obatan.

 

Ades beringsut dari balik selimut satin, molek pahat tubuh telanjangnya mengais belaian. Cumbu merambat pada tattoo di punggung pria ini, lantas berbisik seduktif. “Bilang dulu, apa kamu mau jaminan?” gelenyar sentuhan Ades itu berbeda, punya sensasi unik dari feromon candu. Pamornya melejit di kalangan pejabat tajir melintir. Bukan sebatas pion mata-mata, kepiawaian Ades menawarkan servis pergumulan bikin siapapun ketagihan.

 

Rengkuh lengan gagah menuai remasan nakal. Jakun naik-turun, parau berucap sebab sukar menahan gemuruh nafsu di depan Ades. “Gak perlu mikir kejauhan. Jaminan atau apapun pokoknya beres,” pria ini hanya butuh liang celupan.


───────────────────────


Relasi Ades menjamur, punya koneksi orang ternama sampai jaringan terselubung dari pemerintahan. Banyak pihak yang dia manfaatkan sebagai penyokong cikal-bakal lab penelitian. Keinginan Ades terwujud tanpa halangan. Sepak terjangnya bergelut dalam dunia spionase jadi batu loncatan.

 

Tidak perlu khawatir terendus publik, tunjangan dana siap membungkam awak media. Fasilitas yang membesarkan Ades juga terlibat, siapa berani cari perkara? Para investor menopang keberhasilan lab pribadi Ades jadi nyata. “Nyonya, terlampir warta dari pabrik produsen bahan kimia. The Golden Bird ikut andil dalam data dan perlu akses terlebih dahulu,” tahun berselang lewat, kini Ades berhasil mewadahi pegawai sebagai rantai bisnis.



  “Setujui aksesnya, nanti berkas akan aku tanda tangani. Ada kabar soal pemasok racun?” toksin dari flora maupun ekstraksi fauna seperti kulit katak Amazon, bisa kobra hingga racun nekrotik laba-laba black widow dipasok dari perdagangan ilegal.

 

“Ekspedisi berlangsung lebih lama, nyonya. Menghindari adanya patroli dadakan dari pihak tak diinginkan. Jadi mereka cari aman,” sarana tempat tinggal pegawai ada di atas lab, Ades tidak tanggung mengucurkan akomodasi hidup bagi para pekerja. Wadah servis pelayanan seksualnya merambah di area sekitar lab, berkembang pesat hingga jajaran pegawai yang mendedikasikan diri sebagai kaki tangan Ades ikut bergelimang harta.

 

Arus pertumbuhan bisnis Ades kian luas, pegawainya sanggup menjadi juragan kaya. Bekerja dengan Ades memupuk para pegawai bisa memiliki ranah usaha. Pegawainya merekrut personel tenaga kerja sendiri, lantas mendirikan konstruksi baru di wilayah Ades. Nasib mujur Ades dan awak kaki tangan nya menciptakan kawasan hiburan, sebuah red district prostitusi tempat melepas gairah raga.

 

Kalau mau cari singgah buat mengais belaian, NIDUS bakal bikin kamu terlena. Hendak menumpahkan pening di lantai bar dengan secangkir alkohol ditemani wanita? Bisa. Atau, mau bermalam di penginapan unik dengan futon lembut dan ‘pelayanan ekstra’? Oh, jangan tanya sudah pasti dijamin luar biasa.

 

Ades bersolek di depan cermin, kimono berjumbai menyemai harum menggoda. “Malam ini klien ternama mau berkunjung. Jangan lupa siapkan pelayanan istimewa,” pungkas Ades sembari memoles riasan oriental jadi ciri khas. Angguk seorang pelacur muda mematuhi perintah, dia benahi kanzashi sanggul cantik Ades. Ornamen kembang gantung dengan berlian terpatri.

 

Tersurat satu nama ketika Ades berkecimpung dengan wadah pelacuran NIDUS, dia menata citra selayaknya oiran jelita paling memesona. Yuriko (幸子) berarti “Anak yang membawa kebahagiaan,” sebagai persona spesial jika dia akan memuaskan kebutuhan seksualitas. Membawa tajuk gembira bagi para klien yang haus sentuhan nafsu.


✧ ✧ ✧


Gemerlap lampion menghias interior, lonceng bergema, aroma sakura bersemuka di antara lalu-lalang wanita muda. Penampilan mereka mirip geisha, melabuhkan belai pada pria-pria yang merogoh kantong ekstra. Jangan harap cari kebaikan di dalam NIDUS, ini tempat poros maksiat bermuara dalam kegelapan malam.

 

Petikan senar shamisen mengiringi kedatangan sang bulan tertinggi. Perawakan Eropa bersila di balik tirai ranjang dalam kamar, eksistensi Yuriko paling dinanti. Pria ini salah satu penanam saham bisnis NIDUS, adapun dia hendak menikmati servis istimewa dari Yuriko. Apa yang Yuriko suka dari pergumulan ini bukan karena tuntutan kerja, namun karena rasa haus cinta. “Kamu jauh lebih menawan malam ini,” sahut pria itu sembari longgarkan dasi, kancing kerah kemeja terlucut disusul lentik jemari Yuriko mengais elusan gemulai.

 

“Sengaja banget ya bikin aku merona?” dentum euphoria berbunga merambat dalam dada. Masa kecil kurang kasih sayang menimbulkan kehendak ingin mencari kesenangan semata. Dibesarkan dalam fasilitas ilegal, fisik dan mental ditempa semena-mena. Timbul adanya dorongan ingin mengecap definisi romansa.

 

Nada merajuk manis, Yuriko mengais perhatian manja. “Kenapa murung terus? Akunya ikut cemberut nih,” perangai Yuriko ingin atensi lebih, dia suka ketika klien nya menyertai afeksi. Saat menjadi figur ‘Yuriko’, dia akan menghibur klien lewat servis mesum sampai empunya bahagia. Perasaannya meraung, dia mau seterusnya diguyur perhatian dan cinta. Diperlakukan selayaknya prioritas kesayangan, dibalut dengan konsep asmara.

 

“Bukan begitu, cantiknya aku. Ini murung karena beberapa pekan kangen ketemu sama kamu. Setelah lihat wajahmu rasanya beban di pundak langsung hilang,” urainya selaras melayangkan kecupan, dia rengkuh Yuriko dalam pelukan.

 

Kepala oiran ini disambut tepukan lembut, pipinya terusap ibu jari sembari menelanjangi tubuh tanpa malu. Yuriko suka, dia bangga ketika klien bisa sampai merindu. Walaupun terdengar romantis namun taraf ‘puas’ bagi Yuriko bukan melulu tentang cinta, dia ingin adrenalin dari pergumulan panas. “Rindu banget apa rindu biasa aja? Tapi, belum ada tantangannya kalau...” narasi kita digantung, Yuriko duduk di atas pangkuan klien sejurus gelombang feromon menyeruak.

 

Panggul bergoyang, sengaja ada gesekan cabul menyenggol cagak penis di balik fabrik kain celana. “Kalau kita belum mendesah bersama-sama. Malam ini aku janji mau buat kamu jadi pria paling beruntung sedunia,” imbuhnya menuturkan rayuan genit.

 

Mereka berakhir dengan peluh meriap mengiringi pergumulan vulgar, meliuk erotis terpayung purnama. Logika buram hingga klimaks menjemput batas nikmat raga.


───────────────────────


Sindikat pasar gelap menuntun Ades terlibat dalam perdagangan manusia. Eksperimen analisis racun butuh objek nyata, bisa berupa organ maupun bagian tubuh demi menciptakan hasil sempurna. Ades bersedekap dada, culas seringai menggoda beradu obrolan tentang harga final. “Sebut berapa tarif yang kamu tawarkan?” pertemuan empat mata, pasang banderol fantastis sesuai kesulitan. Kinerja Ades bukan sembarang kaleng-kaleng.

 

Perawakan bertindik gahar, punya peran dominan dalam komplotan penculikan orang. Dia terkekeh congkak, kepulan asap tembakau pahit memenuhi ruang. “Nominal seribu digit dollar pun aku sanggup. Asalkan kamu buat dia tewas tanpa terendus jejak,” kalau bicara soal taktik cerdas, jelas Ades jagonya. Sepak terjang di dunia spionase membuat naluri Ades paham langkah apa yang harus terlaksana.

 

Perangai sebagai jawara anarkis ‘pembunuh’ terkemas definisi iblis cantik. Merenggut nyawa dengan elegansi, tanpa carut-marut menggores aset tubuh. Piawai meluluh-lantak sugesti musuh dengan pesona, membuyarkan logika lewat semerbak feromon.

 

Sebut dia Asmodeus berarti “The demon embodiment of lust, manipulates the sexual desires of humans,” untaian nama yang berbanding kontras dengan peran Yuriko.

 

Kini Asmodeus melangsungkan aksi pada kediaman bos mucikari, terindikasi sebagai pengkhianat kasus pelik. “Lengah sedikit. Nyawamu melayang seketika,” monolognya bersungut-sungut, akal kancil lakon cerita kita menyiasati perangkap gas air mata. Narasi akan mengupas ranah sadis tentang profesi sampingan Asmodeus sebagai pembunuh bayaran terpercaya. Simpel saja, ada harga dan organ menguntungkan? Maka Asmodeus akan melibas habis target yang ingin kamu buat pulang tanpa kepala.

 

Perangkap terhubung benang abu-abu tipis di balik gorden rumah target, dia buat seperti pola sarang laba-laba. Mulanya target mengira jika itu harus dibersihkan, memicing sebal karena dia tidak suka rumahnya kotor. Begitu kena senggol kemoceng, sontak gas air mata menyembur dari plafon. Lantas bidikan jitu jarum beracun menembus folikel epidermis nadi leher. Setenang air menghanyutkan, secepat angin berembus di depan mata. Tumbang tanpa menunggu pekik histeris, mulut berbusa sejalur napas tersendat putus.

 

Ujung heels Asmodeus menyentuh kepala korban, tergolek miris sebelum cekatan dibereskan. “Bola mata ini sudah rabun. Ah tua bangka yang penyakitan. Tapi setidaknya bagian tubuhmu bisa buat bahan percobaan,” tanggapnya, ujung kuku menyusuri garis syaraf sambil kegirangan. Misi ini telah usai, Asmodeus bergerak cekatan menghapus jejak pembunuhan.

 

Jangan sampai satu di antara kalian jadi target Asmodeus, bukan hanya soal racun mematikan. Kamu juga akan menjadi seonggok bangkai berserakan.


✧ ✧ ✧



Imbalan menggiurkan terpampang pada bounty hunt situs pembunuhan. Ades mengendus keuntungan spektakuler, pasalnya target diduga narapidana kabur dari bui ini seorang pejabat ingkar yang doyan ‘jajan’. “Periksa reservasi dan data pengunjung dari seluruh cabang pelacuran,” akses prostitusi ada di genggam tangan. Mencari titik lokasi pejabat ini bukan hal memusingkan.

 

“Lokasi pria itu terekam kamera melipir ke salah satu pilar bordil penginapan,” kepala menunduk segan, berkas spionase gerak-gerik target diserahkan. Pegawainya menanti di pojok ruangan. Tidak ada yang tahu jika Yuriko adalah Asmodeus si pembunuh bayaran.

 

Patung neko bergerak seirama asap cerutu berkepul memabukkan. “Bilang ke pegawai di sana, jangan sampai ada biang kegaduhan. Pancing pakai pelayanan paling istimewa biar dia betah tanpa aksi kabur-kaburan. Nanti aku yang tanggung total biaya servis pelacuran,” Yuriko mengamit kipas sensu bercorak ombak lautan. Mendongak congkak dengan pesona mematikan.

 

Kita lihat seberapa hebat Yuriko memenangkan ajang perburuan sebagai yang pertama? Jangan macam-macam menantang oiran tertinggi jadi bahan persaingan semata.


───────────────────────


 

Buron satu ini jadi incaran banyak pembunuh bayaran, ada yang rela jauh-jauh menyeberangi perbatasan. Bahkan algojo berdarah dingin dari klub tinju bawah tanah ikut unjuk gigi untuk meraup imbalan. Yuriko bergerak cekatan, satu langkah lebih gesit dari orang-orang yang mengajukan diri pada situs pembunuhan.

 

“Nyonya, pejabat itu datang bawa senapan. Dia mabuk sempoyongan di koridor bar sambil teriak kesetanan,” langkah terbirit seorang pelayan mengadu takut. Yuriko tidak heran, sejatinya pribadi buron ini punya rekam jejak buruk sebagai narapidana gemar berontak.

 

Beranjak anggun, gemerincing kanzashi diterpa angin malam mengundang suasana berbahaya. Yuriko lekas mengusap pipi perempuan ringkih ini, kapasitas hormon distabilkan hingga deru napas memburu si pelayan berangsur tenang. “Sssh. Jangan takut ya, cantik? Aku punya racikan teh tradisional yang bisa meredam efek alkohol orang mabuk,” atensinya meluluhkan kecamuk batin, figur Yuriko sebagai peran pembawa kebahagiaan merefleksi figur ‘ibu’ bagi para courtesan.

 

Sinar rembulan menerpa sebagian rupa, siluet Yuriko bak kelopak mekar dalam cawan beracun. Dia berbahaya sekaligus memikat hati siapapun.

 

Tergagap kalang-kabut, hampir saja dia termenung membatu di tempat. Kelewat terlena sebab aura daya pikat Yuriko menjerat hati. “T-tentu nyonya! Aku akan lekas suguhkan tehnya,” cekatan menerima kantung teh Yuriko, beringsut pergi dengan permisi.

 

Lentik jemari menopang dagu, tawa lirih Yuriko terbawa angin malam. “Kamu kira bisa cari gara-gara di wilayahku?” monolognya terlontar penuh waspada. Racikan teh dari Yuriko adalah toksin maut yang sanggup menghentikan aliran darah di kepala.

 

Karena Yuriko bukan oiran biasa. Wanita ini ibaratnya primadona berduri hendak menerkam mangsa.


✧ ✧ ✧



Lembar kali ini berkisah pada jumpa pertama dua insan saling menuai kobaran api neraka. Kemari sebentar, kita tunggu siapa gerangan yang menunjukkan batang hidungnya. Dia berjalan tegap, pundak gagah itu menyita atensi penjuru mata. Terbingkai surai selayaknya samudera. Terpatri ekspresi seteduh langit biru angkasa. Wanita mana yang menolak naksir pada pandangan pertama? Sambutan para lacur tebar pesona, buah dada menyembul vulgar sembari melecutkan rayuan menggoda. “Tuan, mau lihat tarian istimewa? Ada pijatan buat pundak yang lelah seharian bekerja,” mereka tawarkan servis ekstra.

 

Empunya waspadai sekitar sambil menelisik target buron, sedikit bersenang-senang bukan jadi perkara. Anggap saja hiburan di tengah kesibukan beruntun di dunia. Serbuk feromon melayang di udara, tempat ini bukan wadah prostitusi biasa. Ada sentuhan energi tak kasat mata, bukan dibilang magis fantasi atau dongeng semata. Kemampuan terselubung dari hormon dan sensualitas, auranya terasa begitu pekat namun memabukkan pikiran manusia.

 

Terduduk nyaman di atas sofa bar, para lacur menyemai elusan manja. Mereka berjubel mengais afeksi, rupawan tampan satu ini jelas kaya raya. Jasnya berkelas mahal, surainya panjang dan sehalus sutra.  “Tempat ini kotor sekali, ya? Tapi boleh juga. Aku mau coba bermalam satu hari saja,” di mana kamu berpijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa warasnya begitu, tapi beda cerita kalau lawan bicaramu adalah pembunuh berantai.

 

Kimono tersibak, paha-paha mulus memanjakan mata. Agaknya mereka bingung menangkap maksud tersirat barusan. “Apa tadi katanya? Kotor...?” salah satu jalang garuk tengkuk hampir salah paham, yang lain saling lempar pandang. Perasaan tidak ada aroma kurang sedap dari mereka deh? Nyonya Yuriko jelas memberi fasilitas perawatan khusus kalau soal aset tubuh.

 

“Bukan kotor dalam arti kasat mata. Oksigen di sini terkontaminasi sesuatu,” intimidasi sorot netra pria ini seolah melubangi nyawa.

 

Mereka mulai tidak nyaman, apalagi saat seorang pelacur belia agak tersinggung. “Jangan sembarangan menghina kawasan punya nyonya,” hardiknya menggebu, jam terbang yang kurang jadi faktor kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi.

 

Rekan pelacur lain melerai perdebatan argumen. Yang lebih senior menunduk segan. “Maaf atas sikapnya, dia anak baru di sini. Kalau aku boleh tanya, siapa nama tuan?” cari topik sejuk, niatnya biar tidak ada konflik berkepanjangan.

 

Hm... nama? Kalau aku sebut namaku di depanmu, bisa bahaya. Soalnya—” tercekat, kerongkongan gatal. Jalang itu tersentak mundur beberapa langkah.

 

Memiringkan kepala, satu alis terangkat ambigu. “—nanti kamu pulang tanpa lima jemari utuh,” pungkasnya melanjutkan, intonasi bicara dibuat bercanda. Dia terbahak jenaka, puas melihat reaksi terkejut begitu kentara.

 

Pekik histeris mengudara, para lacur bersemburat jaga jarak ketakutan. Pria itu beranjak sambil mengusap jas dengan gesture jijik kena kotoran. Ketukan pantofelnya menggema di antara lacur-lacur bergidik gemetaran. “Pada nungguin apa? Aku bilang tadi mau bermalam satu hari di penginapan.”

 

Parau, rasanya nyali mereka ciut hingga tergagap. “R-reservasi, tuan. Anda harus melakukan reservasi dari jauh-jauh hari!” sanggah pegawai yang ikut campur tangan di antara kerumunan.

 

Dominasi pria ini seperti kobaran api neraka.

Misterius sekaligus mengancam jiwa.

 

“Serius? Repot banget sih. Aku bisa bayar berapa pun asal langsung dapat kamar,” maunya instan, tapi langkahnya salah buat menyikapi keributan. Enggan menanti terlalu lama, pikirnya si buron keburu habis di tangan pembunuh lain.

 

Tidak mau pergi dengan tangan kosong, minimal dapat informasi berguna. “Panggil atasan kalian sekarang juga,” dia mulai jengah, berulang kali melirik arloji.

 

“Mana mungkin bisa begitu tanpa janji pribadi, tuan. Di sini ada aturan. Tolong ikuti prosedur sesuai tata pelayanan,” sanggah pegawai yang menelan liur susah payah. Takut jadi sasaran empuk kalau salah penyampaian informasi.

 

Pertemuan dan pertikaian itu beda tipis.

Jumpa pertama roda takdir kedua lakon bengis.

 

Sayup-sayup senandung merdu tertangkap rungu, wangi semerbak menguar selaras ekspresi orang-orang di sini terjerat pesona. Yang mulanya tegang dengan dahi mengerut, kini berseri semringah seperti menemukan jalan kebahagiaan nyata. Berjalan elegan di menuruni anak tangga, gerakan badan begitu anggun sekaligus sensual memikat hati siapa saja.

 

Sigap menunduk hormat, kemudian mereka langsung terbirit bersembunyi di balik punggung figur Yuriko. Wanita-wanita pelacur itu seperti anak gadis mengadu ke ibunya, cari kesempatan biar si biang onar dimarahi. “Siapa yang nakal? Kamu nih, datang-datang jangan bikin takut para bidadariku dong,” berkacak pinggang, ekspresinya dibikin galak-galak manis tapi seduktif.

 

Pria yang kena tegur itu ikut terlena, ambisi tentang misi pembunuhan terganti rasa penasaran luar biasa. Bagaimana bisa? Oiran bersurai ungu ini kedatangannya mengacak kepulan udara dengan feromon. Dia hadir seperti kabut dari lubang jelaga. Setapak langkah alas geta maju lebih dekat, membawa tepukan kipas lipat mendarat ke puncak kepala.

 

“Pria nakal harus diberi pelajaran. Bawa dia ke penginapan,” titah Yuriko menyertai protes para pelacur yang khawatir nyonya kesayangan mereka kenapa-napa.

 

Perangai menenangkan, dia bilang kepada mereka untuk kembali bekerja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan, karena Yuriko paham bagaimana seluk-beluk kelemahan pria. “Tenang, nanti setelah aku beri hukuman. Bisa dipastikan dia berubah jadi jinak.”


───────────────────────

 


Berawal dari ‘hukuman’ berakhir dengan persetubuhan. Yuriko heran, dia tidak pernah keliru menakar racikan. Tapi secangkir sake dengan campuran racun yang tertegak barusan, dia justru tidak kunjung dijemput kematian. Yang ada malah makin beringas menyentak hujaman.

 

Gertak tertahan, gemuruh libido membeludak dalam satu kesan afeksi paling berbahaya. “Mngh— nama- ah! Ah... —hic. Nama mu?” Yuriko tersentak, ceruk uterus dirajam penis tergilas beringasan. Menggaruk dinding lewat sensasi urat cagak piston jantan, tersundul gagah hingga berkedut tidak karuan.

 

Diobrak-abrik kelewat perkasa, intensitas persetubuhan menjalar pening. Kadar testosteron dia tempa melebihi batas lazim, tapi pria ini masih menjulang tegap tidak goyah. Mengangkang terekspose vulgar, lekuk molek pahat tubuh begitu sekal tersuguh basah. “Feruci. Panggil namaku di sela desah selagi kamu masih bisa bernapas,” perangainya penuh misteri, mahir mengontrol sugesti.

 

Selagi masih bisa bernapas, katanya? Yuriko suka adrenalin yang mengancam nyawa. Mangsa satu ini bisa jadi bahan eksperimen paling sempurna. “Ferucci— Ahng... uh!” cumbu becek saling lumat, pagut meradang saat Yuriko menyisipkan racun dari saliva. Lilitan lidah berpadu dengung parau, Feruci senang stamina wanita ini mampu mengimbangi nafsunya.

 

Kontrol hormon Yuriko melonjak ugal-ugalan. Rona mendidih sampai ke daun telinga, tapi Yuriko belum puas kalau Feruci belum mati perlahan. Keduanya bergumul dalam satu ekstasi candu sama-sama ketagihan. Saling memenuhi hasrat dengan cara penuh kegilaan.


✧ ✧ ✧

 


Terbangun tanpa busana, terbaring di tengah ruang dengan kepulan toksin merambat dari lilin aroma terapi beracun. Feruci baru sadar dia lengah dalam permainan, sigap kenakan pakaian lantas menggeser pintu shōji bilik penginapan satu per satu tanpa izin. Siapa gerangan berani protes, dia tidak segan melibas habis di depan mata. Sekalian saja jadi pembantaian asal target incaran berhasil jatuh dalam genggaman.

 

Wajahnya kecut, peluh meriap di antara hawa panas persetubuhan. Salah satu bilik terbuka, aroma pahit menggulingkan kewarasan. Korban buron sudah tewas di atas ranjang, kondisi membiru dengan mulut berbusa keracunan. Ambisi Feruci belum terima fakta, dia kalah dari tipu muslihat seorang oiran.

 

“Jangan bersembunyi, cantik.”

 

Eksistensi Yuriko muncul di balik pintu yang terbuka. “Pujian barusan tulus atau cuma bohongan?” lengan ramping itu melingkar apik di pinggang Feruci dari belakang. Kepala bersandar ke pundak pria yang terpaku di tempat.

 

Jarum pada sela jemari Yuriko hampir saja melecutkan injeksi tidak kasat mata. Reflek Feruci lebih sigap dari perkiraan manusia biasa. “Tulus, asalkan mau jawab— siapa kamu sebenarnya?” tandasnya gahar, membalik posisi hingga tubuh Yuriko terimpit ke dinding.

 

“Aku ini siapa ya... si cantik kesayanganmu? Nona oiran idamanmu? Pilihin satu julukan paling bagus,” romansa yang memenuhi kepala Yuriko ingin mengais atensi, bersilat lidah dengan obrolan manipulatif mempermainkan keseriusan suasana.

 

Kesayangan? Dengar hal itu Feruci jadi tertantang mewujudkan fantasi anarkis. Tentang bagaimana rasanya ‘terbunuh di tangan keluarga sendiri’ dengan versi lebih sinting. “Istri. Julukan paling tepat, istri tercinta?” sahutnya sambil mengecup kening Yuriko seperti lagak suami mau pergi kerja pamit ke istri.

 

Puncak komedi ada di depan mata, mana ada tiba-tiba orang baru bersetubuh semalam mau dijadikan istri? “Huh? Apasih! Jangan bercanda. Selera humormu gak banget,” di balik kimono ada kantung serbuk beracun, nekat mau melakoni aksi pembunuhan— Yuriko justru terpagut cumbu penuh afeksi. Debar memburu dalam dada berjubel menyeruak di antara respon terkejut.

 

Waduh— bahaya!

Yuriko lemah kalau soal romansa.

 

Pagut terlepas, juntai saliva membasahi sudut bibir. “Seorang Asmodeus ini bisa menghabisi kamu tanpa perlu sebilah pedang atau peluru. Hari-harimu aku jamin sengsara seperti orang tenggelam dalam cawan racun,” pungkas Yuriko, mengungkap identitas profesi sebagai pembunuh bayaran tanpa basa-basi busuk. Biar pria ini pikir dua kali dan tidak bertindak gila.

 

Feruci kian terpacu untuk menyusun skenario ‘mati di tangan orang tercinta’, terlebih saat dia rasakan gelenyar hormon dalam tubuh Yuriko berjubel mengobrak-abrik testosteron. “Oh? Bagus dong, sayang. Kamu pasti suka dapat suami yang bisa jadi bahan eksperimen setiap saat,” provokasinya manipulatif.

 

Belum apa-apa sudah panggil sayang.

Dasar pria nekat punya nyali kebal ancaman.

 

Terdengar seperti penawaran, tapi kenapa Yuriko malah salah tingkah mirip remaja puber diajak pacaran? Hey, ayolah ini langsung lamaran! Bahkan mau dijadikan istri yang bukan sebatas ajakan permainan. “Kamu—” pucuk tusukan sanggul bambu yang terlumur racun ditodong ke depan muka Feruci.

 

“Jangan anggap aku remeh,” imbuhnya menggertak, sebelum adegan berlabuh pada jilatan Feruci di pucuk runcing bambu pipih tersebut.

 

Mengais racun tak bersisa, dia tersenyum bangga. “Aku Lucifer. Pria yang setara untuk bersanding di samping Asmodeus mana mungkin beranggapan remeh?” tandasnya sambil mengapit dagu Yuriko, ada janji benang merah tak kasat mata. Dia serius ingin membangun sebuah keluarga.

 

“Bunuh aku dengan cara paling sadis. Aku rela menegak racun berdosis fatal sekalipun. Syaratnya hanya satu. Jadi istriku,” kuku Lucifer mengawang di atas epidermis pipi Yuriko. Intimidasi seksi Yuriko mengawali obsesi tentang kepemilikan mutlak.

 

Biar Lucifer jadi tawanan.

Dan Asmodeus jadi pengantin kesayangan.

 

Yuriko menyetujuinya bukan semata karena haus cinta. Tapi mereka tidak jauh berbeda dalam satu perahu penyumbang dosa neraka. “Ades. Itu namaku, Ades yang ada di balik dalang sepak terjang seorang Yuriko dan Asmodeus,” sambungnya menyertai satu usapan seduktif pada abdomen Feruci, dia akan membunuh Lucifer bagaimanapun caranya.

 

“Ades. Gaun apa yang kamu ingin kenakan di hari pernikahan kita?” melodi bengis mengiringi penghujung dialog mereka, terpayung purnama di bawah kabut malam.

 

“Aku mau gaun berdarah, pesta pembantaian dan jeritan manusia.”

 

Karena keduanya adalah perangai setan paling keji di dunia. Ades tidak peduli tentang Lucifer, mereka berdansa dalam satu kubangan api jelaga. Ades dan Lucifer membangun keluarga, mereka mempermainkan dunia. Cinta dalam definisi abadi bersama, hidup Ades akan selalu terikat dengan Lucifer di setiap langkah menyusuri panggung fana. Lucifer menjadi figur suami, objek eksperimen, rekan dalam kubangan malapetaka sekaligus pemuas nafsu pergumulan raga.

 

Ini dia tajuk “Toksin Feminin” yang berbahaya sekaligus bikin candu. Tuntas sampai di sini, membawa tetes racun untuk membunuh kamu.


───────────────────────

END.



Commission Story Written by LIN

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page