top of page

Curiosity Killed the Cat

  • Elleanor Owen
  • Nov 7, 2024
  • 11 min read

Updated: May 18, 2025

Summary : Sebagai penyuka eksperimen, sering kali Gore bergerak atas dasar penasaran. Kali ini, ia hampir dibunuh oleh rasa penasaran tersebut.

 

***

 

Tidak pernah sekalipun Gore berpikir akan berada di posisinya sekarang; menatap lekat tiga bungkus benda asing di meja belajarnya dengan perasaan gundah. Kedua tangannya dilipat di dada, dan pikirannya melayang pada kejadian di kelasnya tadi siang. Saat beberapa siswa berbincang tentang pengalaman seks mereka di belakang kursi Gore, bercerita dengan penuh kebanggaan. Bukan maksud pemuda bersurai kuning itu untuk mencuri dengar. Namun, dengan suara mereka yang cukup keras hingga membuat beberapa siswi menatap mereka jijik, bagaimana mungkin Gore dapat melewatkan semua itu?


Kenyataannya, Gore tidak dapat menyangkal bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, ia menyimpan secuil rasa penasaran terhadap topik pembicaraan tersebut. Terlebih di dalam keluarganya sendiri, setiap anggota perempuan telah–bahkan terbiasa melakukan itu layaknya makanan keseharian. Berbeda dengan Gore yang menganggap itu hal di luar jangkauannya untuk sekarang.


“Apa sih enaknya ngeseks itu? Sampai Ades sama yang lain kelihatan suka banget,” gumam Gore sembari memejamkan mata. Tanpa ia sadari, kepalanya membayangkan sosok wanita paruh baya yang dipanggilnya Ibu itu terlihat ‘bercahaya’ setiap kali selesai bekerja sebagai wanita penghibur. Tidak hanya itu, kedua anggota perempuan lainnya juga sama, terkhususnya Levi yang lebih sering ditemui Gore. ‘Cahaya’ itu terlihat lembut sekaligus menggoda, sering kali menarik perhatian Gore untuk bertanya dari mana itu berasal.


“Mau ditaruh mana wajah gue kalau nanyain langsung–”


Klek!’


“Gore, bantuin gue, dong. Kayak biasa.”


Pintu yang dibuka tiba-tiba diiringi suara familier menyebabkan tubuh Gore menegang seketika.

           

Matanya terbelalak, dilanjutkan dengan tangan yang mengambil bungkusan di meja tadi lalu menyembunyikannya di laci. Setelah dirasa selesai, barulah Gore menyambut tamu tidak terundang itu dengan wajah kesal. Di depan pintu telah berdiri adik perempuan angkatnya dengan senyum semringah. Tangan kanannya melambaikan potongan tangan bersih tanpa darah dan masih terlihat segar.


“Lagi ngapain lu? Gak biasanya gak main-main sama eksperimen lu.”


Dalam hati Gore menghela napas lega. Setidaknya Levi tidak melihat benda yang disembunyikannya tadi.


“Bukan urusan lu,” balas Gore ketus sembari mengarahkan kursi putarnya berhadapan dengan perempuan bersurai merah muda tersebut. Keduanya bertukar tatap untuk beberapa detik, hingga akhirnya Gore menyadari sesuatu; ada ‘cahaya’ berkilau di wajah Levi, disertai bau maskulin yang asing. Sebelah alis Gore terangkat, tanda tanya terpasang di wajah.


“Lu habis dari mana? Perasaan gak pernah punya parfum kayak gini.”


“Biasa, habis main sama klien gue. Ini kenangannya,” balas Levi santai, dan dihadiahi wajah keheranan Gore.


“Lu gak bosan main terus? Lagian apa enaknya coba?”


Senyum di wajah Levi hilang seketika, tergantikan dengan kening yang berkerut dalam serta kedua alis bertautan. Mulutnya sedikit terbuka tanpa mengucapkan sepatah kata. Selang dua detik, barulah ia kembali bersuara.


“Lu seriusan nanya gitu? Gak mungkin cowok seusia lu–”


Tanda tanya di wajah Gore semakin kentara ketika Levi tidak melanjutkan ucapannya. Terlebih ketika Levi memasang seringai mencurigakan, Gore merasakan firasat buruk.


“Gw curiga... lu masih virgin?”


Saat itu juga wajah Gore memerah padam.


“Bukan urusan lu!” teriak nyaring Gore, tidak terima. Namun, bukannya mendapat respons yang diinginkannya, seringai di wajah Levi kian merekah.


“Ya ‘urusan’ gue, dong. Kita kan keluarga, wajar dong nanya ginian.”


“Sejak kapan lu peduli sama yang namanya ‘keluarga’? Dan juga, gak usah dekat-dekat!”


Masih dengan seruan protesnya, Gore mengacungkan telunjuk kepada Levi yang mulai berjalan mendekatinya.


“Ayolah. Tinggal jawab iya atau gak aja kok sulit? Berarti lu ngaku dong kalau masih virgin?”


Pertanyaan Levi mengejutkan Gore hingga melebarkan kedua mata. Kendati keinginan hati tetap ingin menyangkal, logikanya telah menerima kenyataan bahwa ia memang baru saja mengakui kebenaran tersebut secara tidak sengaja. Melakukan perlawanan lain hanya akan memperburuk kebohongannya. Memikirkan hal tersebut, Gore mengembuskan napas panjang sembari melempar pandangan ke arah lain, berucap pelan, “iya, gue virgin. Puas lu?”


Keadaan Gore yang tidak melihat ke arah Levi menjadi awal petakanya. Tanpa ia sadari, sang perempuan kembali berjalan mendekatinya, dan langsung mengambil posisi duduk di pangkuan Gore. Tidak membiarkan pemuda bersurai kuning itu merespons, kedua tangan Levi lebih dulu menangkup pipi saudara angkatnya itu, mengarahkan padanya dan langsung mencuri ciuman pertama Gore. Aksi tidak terduga itu menyebabkan Gore langsung melebarkan kedua matanya, terkejut. Tubuhnya membeku, tidak mampu memberi perlawanan. Selang tiga detik, barulah Gore mendapat secuil kesadarannya kembali untuk melawan. Naas, ia terlambat. Tangan kiri Levi telah bergerak ke belakang kepalanya, menahan leher Gore guna memperdalam ciuman panas mereka.


“Mmh, nggh...”

Hanya erangan tidak berdaya yang dapat tercelus dari mulut Gore. Mata yang semula terbuka kini terpejam. Tangan yang berusaha mendorong menjauh tubuh yang lebih kecil itu kini terkulai di pundak Levi. Detak jantungnya berdebar kencang ketika lidah Levi terjulur, menjilati bibirnya. Namun, lidah itu belum puas. Ia berusaha menyusup masuk bibir Gore yang tertutup rapat, melakukan penetrasi dan mendominasi; mengajak lidah lawannya beradu, menciptakan suara decak ludah yang nyaring. Selanjutnya, tangan kanan Levi bergerak turun dari pipi Gore ke leher dan dada. Jemari lentik sang perempuan mengusap sensual dada Gore yang masih terbalut pakaian itu, lalu menyusup masuk. Usapan seringan bulu dilakukan Levi, meninggalkan sensasi asing nan candu bagi Gore. Tidak cukup sampai di sana, Levi bahkan sengaja menggerakkan pinggulnya, menggesek selangkang Gore untuk memancing gundukan di sana.


Bohong namanya jika Gore berkata ia tidak hampir kehilangan kewarasannya.


Sialnya—atau mungkin untungnya—pasokan oksigen Gore kian menipis, menyebabkan akal sehatnya kembali. Sontak kedua tangannya mendorong tubuh Levi menjauh. Dorongan yang kuat itu menyebabkan Levi terpaksa bangkit dari pangkuan Gore dan menghentikan ciumannya. Berbeda dengan Levi yang hanya terkejut tanpa terlihat kelelahan, wajah Gore memerah padam dan napasnya terengah. Sisa saliva dari peraduan lidah mereka terlihat di ujung bibir Gore, dan menetes turun ke badannya.


“Hah, hah ... lu gila! Apa-apaan itu?!”


Setelah berhasil mengatur napas, teriakan nyaring Gore terdengar. Namun, itu tidak diindahkan oleh Levi yang justru tertawa.


“Apanya yang apa? Harusnya lu ngerasa beruntung karena gue jadi yang pertama untuk lu. Lagian siapa juga yang mau main sama cowok polos tanpa pengalaman? Jarang banget.”


Sembari berucap, Levi menjilat bibir bawahnya, ingin menggoda Gore. Tatapannya terarah pada selangkang Gore, mendapati usahanya telah membuahkan hasil; ada gundukan di sana, menyebabkan celana tersebut terlihat sesak, dan membutuhkan ‘perhatian’ lebih. Dalam hati Levi tertawa, tidak menyangka ciuman saja dapat membuat Gore mengeras.


“Jadi, anggap aja ini pelajaran kecil biar lu gak ngecewain calon cewek masa depan lu. Dan juga, kalau gak dilanjut, sayang, lho. Coba lihat celana lu,” ucap Levi dengan nada menggoda. Menuruti ucapan lawannya, Gore melihat ke arah yang dimaksud. Wajahnya semakin memerah ketika baru menyadari respons alamiah tubuhnya berkat aksi Levi. Rasanya aneh dan menyesakkan. Seakan ada sesuatu yang mengganjal, dan harus segera dikeluarkan. Bagi Gore, pengalaman pertama itu sedikit menyakitkan. Akal sehat Gore menyarankan untuk menuntaskan itu sendiri. Namun, nafsu berahinya berkata untuk berserah kepada Levi yang lebih berpengalaman.


“Ck, sialan—iya, iya! Gue ngerti. Gue mau lanjut.”


Akhirnya, hasrat seksual Gore pemenangnya.


“Kalau gitu—”


“Tapi!”


Tepat ketika Levi berniat menerjang, Gore lebih dulu mengangkat tangan kanannya, melakukan gestur agar perempuan itu berhenti. Dihentikan untuk kedua kalinya membuat wajah Levi menunjukkan kekesalan yang kentara. Kendati demikian, ia tetap mencoba menahan diri. Setidaknya, mendapatkan waktu pertama Gore akan menjadi bayaran yang setimpal, pikir Levi dalam hati.


“Gue punya dua syarat.”


“Mau ngasih enak aja perlu syarat segala. Apaan?”


Melihat Levi yang berhasil dikendalikan, Gore merasa sedikit tenang. Setidaknya ia tidak perlu merasa terpaksa ketika berhubungan badan dengan saudarinya sendiri.


“Pertama, gue gak mau main di sini. Gue gak bakal ikhlas kalau tiap hari bakal keingat kejadian ini terus. Kedua, ini bakal jadi yang pertama dan juga terakhir. Kalau lu berani maksa, gue gak bakal bantu lu ngawetin koleksi lagi.”


Selesai mendengar persyaratan yang diajukan Gore, Levi mendengus. Meski begitu, ia tetap menurut.


“Iya, deh. Ya udah, ayo ke kamar gue sekarang.”


Sebelum keduanya pergi, Levi memberikan koleksi tangannya kepada Gore, membiarkan pemuda itu menyimpannya sementara di lemari pendingin. Saat Levi berjalan keluar, barulah Gore mengambil tiga bungkusan kecil di laci, dan menuju tujuan.



***



Sejauh yang Gore ingat, ini bukanlah kali pertama baginya berkunjung ke kamar Levi. Namun, ia tahu ini adalah kali pertama baginya untuk melihat secara saksama isi ruangan tersebut. Kamar itu memiliki dinding berwarna merah muda tua, dihiasi perabot pada umumnya, seperti kasur, beberapa lemari, hingga meja belajar. Satu hal yang membedakan tempat itu dengan kamar pada umumnya ialah keberadaan aneka jenis sex toy yang terpajang rapi di dinding. Gore bahkan curiga jika beberapa mainan lainnya tersimpan di deretan lemari yang tertutup. Tanpa ia sadari, Levi yang berada di belakangnya dan menutup pintu kamar memerhatikan kilauan penasaran terpancar di manik Gore.


“Suka apa yang lu lihat? Kepikiran mau pakai mainan yang mana? Atau cosplay? BDSM? Apa pun itu, gue bakal ikuti, deh,” ucap Levi antusias yang menarik perhatian Gore untuk menoleh ke arahnya dan menggelengkan kepala kuat. Dalam hati Gore berusaha mengendalikan diri untuk tidak tampak inferior di hadapan Levi yang lebih berpengalaman.


“Gue gak mau pengalaman pertama gue pakai gituan. Yang biasa, deh. Biasa aja,” balas Gore sembari mengeluarkan benda yang berhasil ia ambil dari lacinya tadi dan menunjukkannya kepada Levi; tiga bungkus kondom.


“Lu … sejak kapan punya benda begituan?”


“Tadi siang gue belinya.”

Kemudian hening. Levi tidak lagi bertanya, hanya menatap Gore tidak percaya. Barulah setelah lima detik berlalu, tawa sang perempuan terdengar keras.


“Siapa sangka, ternyata lu udah nyiapin begituan! Sudah punya target, nih?”


“Berengsek, lu pikir gue apaan?”


Bukannya mereda, tawa Levi kian menjadi, menyebabkan semburat merah semakin kentara di kedua pipi Gore.


“Lu ketawa lagi, gue pergi.”


“Hahaha! Iya, iya. Aduh, sampai sakit perut gue.”


Mengabaikan Levi yang tertunduk dan memegangi perutnya, Gore mendengus sembari berjalan ke kasur. Ia melempar pantatnya di sana, menunggu Levi selesai dengan ‘urusan’nya. Sembari menunggu, atensi Gore tertuju pada selangkangnya. Gundukan di sana tidak sebesar saat di kamarnya, tetapi itu masih terasa mengganggu. Ia memutuskan untuk melepas celana, merobek bungkus kondom, dan memasangnya pada kejantanannya.


“Belum apa-apa lu udah pamer kontol? Nafsu banget.”


Tanpa Gore sadari, Levi telah berdiri di hadapannya dengan wajah menggoda. Belum sempat Gore menanggapi, Levi lebih dulu mendorongnya hingga punggungnya menyentuh empuknya kasur. Kemudian sang perempuan menanggalkan pakaiannya hingga tidak bersisa, lalu menduduki perut Gore.


“Padahal lebih enak main tanpa pelindung, lho.”


“Persetan soal enak atau gak. Lu kalau mau main sama gue perlu ikutin peraturan gue,” balas Gore ketus, dan dibalas dengan tawa Levi.


“Galak banget. Untung sayang.”


Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Levi menundukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada Gore, dan kembali meraup bibirnya. Hampir sama seperti sebelumnya, Levi melumat benda kenyal itu dengan ganas. Lidahnya juga ikut serta, menerobos masuk pertahanan mulut Gore yang tertutup rapat. Peraduan lidah kembali terjadi, dan bongkahan pantat Levi menggesek penis Gore yang dilapisi kondom. Meskipun telah menggunakan pelindung, sensasi empuk nan kenyal masih berhasil meninggalkan candu pada Gore. Tubuhnya bahkan mulai mengikuti tempo gerakan Levi, tidak sabaran memasukkan penisnya yang mengeras ke dalam vagina basah Levi.


“Mmhh~ Lihat siapa yang pengen cepat masuk.”


Di sela ciuman mereka, Levi menggoda Gore yang memejamkan mata, fokus menikmati lidah yang bercampur saliva satu sama lain. Saat itu juga, Levi memasukkan penis Gore ke lubangnya. Dengan pengalaman Levi yang selalu bermain tanpa pelindung, keberadaan kondom sedikit mengganggunya. Namun, melihat wajah Gore yang terlihat menikmatinya, sang perempuan akan bertahan hingga saudaranya itu berhasil mencapai orgasme.


Ciuman itu diakhiri oleh Levi yang menarik wajahnya menjauh. Jejak saliva tersisa di sudut bibir Gore. Namun, wajah Gore tidak lagi ‘menyedihkan’ seperti sebelumnya. Kali ini, kilatan nafsu menggebu terlihat di matanya. Kedua tangannya bahkan berani memegang pinggang Levi, seakan tidak ingin membiarkan kenikmatan itu terlepas begitu saja. Melihat Gore yang sudah mulai ‘berani’, Levi tertawa pelan.


“Coba aja lu gak pakai pelindung, gue jamin lu bakal ketagihan sampai mampus.”


Gore tidak menjawab. Itu karena apa yang dikatakan Levi benar. Malahan, Gore memang sengaja menahan diri. Kecanduan ‘bermain’ dengan Levi adalah hal terakhir yang ingin Gore bayangkan.


“Berisik. Mending lu cepat gerak, deh.”


“Belum ada sejam lu lepas status virgin lu, dan sekarang sudah berani main nyuruh-nyuruh? Dasar cowok.”


Meski terdengar angkuh, Levi tetap menuruti permintaan Gore. Dengan kedua tangan bertumpu pada perut lawannya, perlahan Levi mengangkat tubuhnya, lalu kembali turun. Awalnya, gerakan itu lambat, dan Levi memerhatikan saksama ekspresi di wajah Gore. Ketika dirasa Gore sudah terbiasa, barulah Levi mempercepat gerakannya. Naik dan turun berulang kali, mengapit penis keras itu dengan dinding vaginanya yang rapat. Suara kulit yang bertabrakan terdengar nyaring, pula napas terengah satu sama lain.


“Nggh … aah~ lebih cepat. Lebih cepat lagi–”


Kedua tangan Gore yang memegang pinggang Levi mulai membantu gerakan sang perempuan untuk lebih cepat. Bahkan Gore juga ikut menggerakkan pinggulnya, membiarkan penisnya menghantam bagian terdalam Levi lagi dan lagi. Diiringi desahan erotis Levi, perlahan akal sehat Gore dikaburkan oleh nafsu. Saat ini, kepala Gore hanya memikirkan cara untuk segera mencapai klimaks.


“Ahn, ahn~ ngghh … lu yakin ini pengalaman pertama lu? Soalnya–aah … lu lumayan juga.”


Di tengah gerakan naik turunnya yang intens, Levi berucap dengan suara terengah. Namun, Gore tidak membalasnya. Sang pemuda justru membuka mata, disambut dengan kedua payudara Levi yang memantul mengikuti gerak tubuhnya. Tertarik dengan bentuknya, tangan kanan Gore melepas pegangannya pada pinggang Levi, beralih untuk menangkup dan meremas salah satu buah dada Levi. Erangan nikmat tercelus dari mulut sang perempuan, dan tatapan penuh nafsu ditujukkan pada Gore.


“Hah, hah … kalau, hah … kalau lu lepas kondom, gue bakal ijinin lu nyusu.”


Selesai Levi berucap, Gore langsung melepas cengkeramannya dan menampar payudara itu. Suara tamparannya keras, tetapi Levi hanya tertawa.


Setelah itu, keduanya kembali hanyut dalam nafsu tanpa sepatah kata. Hanya ada suara tubuh yang beradu, beserta desahan dan erangan yang bersahutan. Berulang kali hingga penis Gore semakin keras dan menegang berkat remasan vagina Levi. Selang beberapa entakan, akhirnya, Gore pun mencapai pelepasannya; cairan putih nan kental muncrat di kondomnya, dan sisanya meluber keluar hingga mengenai tubuh Gore sendiri. Di waktu yang sama, ternyata Levi juga mengalami hal serupa; ia orgasme, memuncratkan cairan klimaksnya dan membasahi penis Gore. Tubuhnya menegak karena tegang, kemudian terbaring lemah di dada Gore. Namun, bukan Levi namanya jika satu ronde sudah memuaskannya.


“Gimana rasanya? Klimaks sama adek lu sendiri?” tanya Levi sembari memainkan telunjuknya di tubuh Gore yang masih berpakaian lengkap. Namun, bukannya menjawab, Gore justru membalikkan keadaan. Dengan mudah ia melempar tubuh Levi–dalam keadaan penis yang masih menancap di dalam Levi–ke samping, berganti menindih sang perempuan. Napas Gore terengah, tetapi wajahnya masih menggambarkan keinginan untuk melakukannya lagi. Namun, sebelum ia sempat bertindak, Levi kembali bersuara.


“Sebentar. Gue udah ga sanggup. Lu mintanya pas gue habis main di luar, sih. Coba pas belum, sepagian pun gue layani.”


Pernyataan Levi membuat perasaan Gore campur aduk. Senang karena ia memiliki alasan untuk menahan diri, kecewa karena penisnya yang masih terasa kurang dipuaskan. Meski begitu, Gore tetap memutuskan untuk menarik tubuhnya menjauh dari adik angkatnya, lalu berguling ke sisi yang kosong, berbaring dan memejamkan mata.


“Ya udah. Toh tadi gue juga bilangnya cuma main sekali.”


“Ya kali cowo baru puber kayak lu puas gitu aja.”


Kemudian Levi bangkit, menatap Gore dan penisnya bergantian. Melihat kejantanan yang masih menegang tersebut, sebuah ide terbesit di benak Levi.


“Sini gue ajarin hal baru lagi.”


Tanpa menunggu Gore menjawab, Levi memosisikan tubuhnya kembali di atas Gore. Namun, kali ini mereka tidak berhadapan. Wajah Levi tertuju pada penis Gore, sedangkan pemuda bersurai kuning itu dikejutkan dengan vagina basah sang perempuan.

“Biasanya cewe suka main kayak gini. Gue mainin kontol lu, lu jilatin memek gue,” jelas Levi sembari melepas semua kondom Gore, menatap lekat lelehan spermanya yang masih tersisa.


“Berengsek, lu ngapain lepas–ahn!”


Belum selesai Gore protes, Levi lebih dulu menjilati cairan putih Gore dengan lidahnya. Setiap sisi penis itu ‘dibersihkan’nya, bahkan sesekali juga mengecup kedua testis Gore. Barulah setelah itu Levi memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya, melahapnya rakus. Sensasi asing kembali menyerang tubuh Gore, membuatnya tidak mampu berpikir atau pun bergerak selain mendesah keenakan. Ia tidak mengindahkan vagina Levi yang beberapa kali menggesek wajahnya. Pikiran sang pemuda hanya terfokus kepada kenikmatan di bawah sana.


Dalam hati Gore menyetujui ucapan Levi; bermain tanpa kondom menambah kenikmatannya. Hanya dengan mulut saja sudah membuatnya ‘gila’ seperti ini, bagaimana jika langsung dijepit dengan vagina Levi?


Levi yang telah terbiasa dengan ukuran penis Gore mulai menggerakkan kepalanya naik dan turun. Lidahnya masih senantiasa menjilati setiap sisi kejantanan yang kembali mengeras itu. Ukurannya kembali membengkak, aliran darah tubuh Gore berfokus di bawah sana. Dalam keadaan yang tidak lama klimaks, dengan mudah Gore merasakan orgasme keduanya.



***


            Malam itu, selesai mereka berhubungan badan, Gore baru menyadari betapa ‘mengerikan’nya nafsu Levi yang besar kemungkinannya sulit dikendalikan. Hari itu Gore ‘aman’ karena sang perempuan telah menghabiskan sebagian besar energinya.


“Sekarang lu ngerti enaknya ngeseks, kan?”


Setelah Gore berhasil menghentikan godaan Levi–yang terasa tanpa akhir itu–keduanya kini berbaring di ranjang sang perempuan. Berbincang sembari menatap satu sama lain, saat itu Gore dapat melihat ‘cahaya’ yang sama ketika Levi pertama kali masuk ke kamarnya.


“Biasa aja.”


Tidak ingin menunjukkan kekalahan, Gore bangkit dari tidur dan mulai mengenakan kembali celananya. Sedangkan Levi, ia menopang kepalanya dengan tangan, menatap lekat setiap gerakan Gore.


“Wajar sih kalau lu masih kurang. Soalnya gue memang mainnya terlalu bentar, ya.”


“Terserah apa kata lu.”


Selesai berpakaian, Gore melempar pandang pada Levi.


“...gue ga bakal bilang makasih untuk ini. Lu udah lebih sering ngerepotin gue soalnya.”


“Auw, gue juga mau kok kalau lu minta lagi. Kapan-kapan kita main lagi, onii-chan~”


Sebelah mata yang dikedipkan beserta suara yang dibuat sok imut, aksi Levi itu membuat bulu kuduk Gore meremang seketika. Suasana intim yang susah payah terbentuk kini hancur sepenuhnya. Hal tersebut juga mendorong Gore untuk mengambil salah satu bantal di kasur, dan melemparnya tepat ke wajah Levi.


“Najis.”


Gore segera melangkah pergi, keluar dari kamar Levi dengan membanting pintu tersebut. Tujuannya sekarang adalah kembali ke istananya, kamarnya. Dalam perjalanan, Gore berharap agar tidak ada seorang pun yang mengetahui ini, ataupun Levi yang sengaja menyebarkannya ke semua orang.

 

END



Commission Story Written by Elleanor Owen

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page