Mengail Perhatian, Memancing Kesabaran
- Sheville
- Nov 6, 2024
- 28 min read
Updated: Jan 27, 2025
Kehadiran Para “Pendosa”, Kian Kacaukan Hari
Ku Bersumpah dengan Darah dan Nyawa, Agar Diriku Tidak “Lari”
“Cinta” Kupersembahkan Pada Mereka, Memantik Niat Keji dalam Sanubari
🍁🏢🍁
Jika aku boleh mendamba, aku ingin membunuh semua hal yang merepotkan agar hilang dari dunia.
Dedaunan jingga luluh lantak berjatuh dari dahan bukanlah panorama asing yang dikecap para penduduk negeri. Sebab musim panas dengan teriknya yang menghujam mayapada, menjelma musim gugur sebagai penutup tirai periode triwulan yang penuh golakan mentari.
Benar, musim gugur. Waktu yang sangat tepat untuk membelai angin sejuk melandai lewati seluruh bentala bumi dari ufuk ke ufuknya. Masa yang sangat amat cocok untuk menghirup udara dalam dengan segala ketenangan yang memeluk semesta begitu sendu dan teduh.
Hingga semua ekspektasi itu dilumat dengan nahas oleh festival sekolah yang hendak diadakan akhir pekan nanti.
“Demi apapun yang ada di angkasa raya, aku hanya ingin mencari ketenangan sambil menemukan hal baru yang menarik …. bukannya terjebak di antara hal membosankan seperti ini,” aku mengeluh sembari jemari memijat kening, alis berkerut sambil lidah ini berdecak nyaris memuncratkan liur.
Aku mengutuk diriku setahun silam yang asal memilih sekolah sialan ini sebagai destinasi tempatku mengemban ilmu. Bayangkan saja kawan, akademi yang lumayan tersohor ini agaknya tak akan pernah bosan untuk membuat perayaan musiman. Ah, tidak hanya hal-hal seperti festival biasa. Aktivitas selayak tur sekolah, perayaan ulang tahun sekolah, hari ibu, hari anak, hari ayah, hari kakek, hari nenek, hari sepupu atau hari-hari apalah tetek-bengek semacamnya kerap diadakan. Mereka mungkin memang sengaja menciptakan kesibukan-kesibukan tak berarti hanya untuk mendorong para murid yang bernaung di dalamnya untuk terus aktif. Ya, aktif; dimana kami — murid — sebagai subjek dari kata kerja itu harus bergerak banyak untuk melakukan hal.
Lihatlah aku sekarang, dipeluk kanan-kiri bahkan segala sisi oleh keaktifan tersebut.
“Gore, menurutmu gorden kelas baiknya warna kuning atau jingga?” Salah satu jawatan meminta pendapat dikala aku sibuk menata dekorasi tembok. Tidakkah ia menyaksikan aku sedang bergumul dengan kesibukanku sendiri?
“Ah, apapun cocok, kuning saja biar lebih cerah,” aku berusaha menjawab tak acuh biar tidak dicecar pendapat lainnya, tapi kawan lain malah menghampiriku.
“Gore, dekorasi yang kamu tempel itu ditaruh agak keatas dikit!”
“Ah, tapi sudah terlanjur ini —”
“Terlalu ke bawah loh itu! Nanti enggak kelihatan!”
“Akh, baiklah,” aku menjawab penuh nada keengganan sambil berteriak, terus kenapa enggak bilang dari tadi?!!!!, dalam hati.
“Gore, habis ini tolong bantu yang laki-laki angkat meja ya!”
“Gore, tolong temani aku antarkan berkas pelaporan peminjaman properti!”
“Gore —!”
“Gore —!”
Lihat? Ini baru hari pertama. Aku tak sudi barang sejengkal nurani bahwa ini akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, hingga menyentuh Sabtu di penghujung pekan. Terlihat sebentar? Salah besar, kawan. Bagiku yang dirundung nestapa sebab wajib berpartisipasi dalam acara musiman yang tidak penting dan biasa seperti ini, waktu berputar dari ujung minggu ke ujung minggu yang lain itu sangat amat lama! Seakan terjebak di dalam neraka yang kupikir mungkin jahanam semestinya tidak serusuh ini (alih-alih mungkin berisik akibat siksaan).
Saat aku melangkah dan melihat ke jajaran kelas satu dan kelas tiga; ruangan-ruangannya tidak sekacau kondisi kelas dua. Dua kelas ini sangat longgar jika aku perhatikan. Ya, tentu saja ada alasan. Kelas satu belum genap menginjak setahun mengendus gaya hidup dan tradisi sekolah yang penuh perayaan, sementara kelas tiga …. murid-muridnya kulihat banyak menunduk pada buku-buku bacaan seperti dirongrong tekanan. Tentu saja untuk menghadapi ujian. Ujian hidup? Bukan, tetapi ujian tahunan untuk menentukan kelulusan.
Jadi siapa yang paling berpengaruh dalam perayaan musim gugur ini? Kelas dua. Kelasku salah satunya. Ah bajingan, aku tidak tahu ini akan terjadi saat aku masih kelas satu. Tidak kusangka aku akan bersua juga dengan era ‘anak tengah’ dan mengalami hal-hal seperti ini di musim gugurku yang tenang.
Membicarakan keaktifan kelas dua … kami wajib berpartisipasi banyak, salah satunya dengan membuat wahana. Kami sekelas sepakat untuk membuat kafe kecil. Ya, sebuah wahana yang aku jamin sejuta persen akan banjir pengunjung di jam-jam makan siang. Oh tidak, memikirkannya saja membuatku mual dan ingin pulang cepat-cepat. Terperangkap oleh penjara tak kasat mata bernama ‘persiapan festival’ hanya buatku semakin dipeluk kemalasan, tapi apa juga yang harus dinubuatkan? Pagi hingga sore aku menimba pengetahuan, petangnya bertumbuk dengan perancangan wahana bersama kawan.
Indahnya hidup sebagai murid sekolah teladan.
Koreksi sejak awal saja, sebenarnya aku pun letih pura-pura dungu menyamar selayak siswa sekolah menengah. Jika ingin membuka kedok, baiklah aku akan menjelaskan dengan cuma-cuma (berhubung aku sedang berbaik hati berbagi kisah). Selama ini, aku bersembunyi dibalik identitas ‘pelajar’ hanya untuk memakbulkan kewajibanku sebagai warga yang baik nan patuh pada negara. Anak seusiaku rata-rata belajar di organisasi pendidikan seperti sekolah, bukan? Baiklah, aku lakukan.
Tapi memang alam mau berdusta soal ilmu yang bisa didapatkan dimanapun? Bung, bukalah mata hati dan batinmu cepat-cepat. Ilmu dan pengetahuan itu mudah didapatkan dimana saja, berterimakasihlah pada teknologi maju yang telah mendominasi dunia. Jadi tidak perlu munafik perihal sekolah dan keperluan ijazah untuk waktu-waktu mendatang — kuyakini dengan segenap jiwa pekerjaanku di masa depan juga tak membutuhkan kertas formalitas itu. Koneksi? Relasi? Nafasku sejak awal sudah penuh akan hak-hak istimewa yang jauh dari orang biasa, bahkan sebelum kuberikan segenap hidupku kepada keluarga baruku sekarang. Hidupku sudah enak, tidak perlu hal biasa juga pasti berjalan lancar.
Nah, nah, membicarakan korelasi keluarga dengan festival sekolah inilah yang membuatku semakin mabuk kepayang selayak ilalang. Perayaan ini saja sudah menjadi satu dari segala masalah hidupku (koreksi, sebenarnya ini hanyalah subjektivitasku belaka) yang aku pusingkan beberapa hari belakangan, tapi agaknya ada masalah lain yang buatku ditampar kenyataan.
Wahana kelas dua — ya benar, kelasku salah satunya — wajib aturannya untuk mengundang anggota keluarga.
“Hhhhhh ….”
“.... kau sakit, Gore?”
Aku mengerjap mata. Tak menyangka kawan di depanku bertanya.
“Ah, enggak kok,” jawabku sekenanya.
“Oh ….” ia lantas mengedip mata dua kali, sebelum akhirnya berkata, “habisnya keningmu agak berkerut dan barusan kamu menghela nafas gitu …”
“Ah, itu,” aku memutar mata, berkilah. “Bukan apa-apa, santai aja.”
Percakapan buntu dan berhenti sembari masing-masing dari kami terus berjalan menaruh pelaporan properti.
Sial. Aku sampai tanpa sadar mendesahkan nafas keras-keras saat memikirkan perihal undangan anggota keluarga. Bagaimana hal itu tidak membuatku kepalang frustasi? Tak mungkin aku sedemikian begini jika tak ada sebab — untuk apa pula aku repot-repot memikirkan sejak dimula.
Keluargaku itu …. bagaimana bilangnya, ya? Sangat jauh dari kata ‘biasa’. Keluargaku ini cenderung …. punya pemikiran ‘kreatif’ mereka masing-masing. Eksistensi mereka semua seakan tak luput dari ingatan setiap jiwa yang mungkin saja pernah bertemu sapa dengan mereka. Tapi justru itulah, perkara ciri-ciri yang kupaparkan ini pasti akan memicu ‘keributan’ atau ‘kehebohan’.
JADI, aku menekankan dengan segenap raga, bahwa jika keluargaku datang ke sekolah — terutama kelasku, kupastikan sejuta persen akan membuatku repot. Apa hubungannya dengan kerepotanku, bukankah mereka cukup berkunjung dan duduk manis saja? Tidak, kawan. Salah besar. Bukan tepat di waktu yang presisi itu yang akan membuatku teruk, tapi akibat dari kedatangan mereka itu sendiri.
Seperti yang sudah aku beri poin; keluargaku ini ‘tidak biasa’. Menyambut mereka secara tatap muka akan kujamin membuat setiap impresi langsung dirundung banyak tanda tanya penuh penasaran. Inilah yang kutakutkan. Jika kawan-kawanku sampai melihat mereka dan menyaksikan tingkah polah yang akan mereka haturkan di publik sejagat sekolah …. ya.
Aku pasti langsung disambut oleh seribu satu pertanyaan.
Oh ayolah takdir …. tidak bisakah aku berpikir jernih barang sesaat untuk tidak memikirkan hal ini? Aku sudah dilabeli sebagai ‘pendiam’ di kelas selama hampir dua tahun masa, dan aku sudah sebisa mungkin tak banyak mengumbar tanpa aba perihal keluargaku serta kehidupan pribadiku. Sebab, jika publik sampai tahu bagaimana kami sekeluarga bersembunyi dibalik topeng warga negara yang baik … yah, pupus sudah kehidupan damaiku ini.
Maka dari itulah, jangan sampai mereka datang di perayaan festival musim gugur sekolahku nanti!
Sudah enam hari berlalu. Demi kemulusan rencana agar keluargaku tak tahu menahu pasal kegiatanku di sekolah selama genap sepekan ini, aku akan bersikap pura-pura tolol dan lupa. Biar dikata aku akan digunjing sebagai ‘anak teladan’ atau apapun itu yang tak sesuai realita, toh, yang penting hasil akhirnya. Agak menyedihkan aku harus mengorbankan ‘pekerjaan’ku yang lain hanya demi persiapan festival, akibatnya aku kerap pulang larut. Pulang sekolah di waktu petang menjelang malam benar-benar tidak masuk dalam kamus hidup seorang Gore.
Untungnya, keluargaku bekerja dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ibu, Ayah, dan dua kakak perempuanku, mereka punya dunianya sendiri (tentu saja termasuk aku). Jadi, anomali agenda sepulang sekolahku pastinya tidak akan banyak menarik atensi mereka.
“Pulang larut lagi, Adikku Sayang?”
…..
Oke, kecuali satu entitas cilik yang sebenarnya umurnya tua tak jauh dariku tapi masih melabeli dirinya kakak. Suara itu tidak lain dan tidak bukan milik dari gadis bersurai merah muda berparas manis jelita (ini berdasarkan penilaian orang-orang ya, bukan dariku). Si Kakak yang menyapaku begitu manis pula senada dengan iras, bertengger di tangga berpangku pada birai, hanya buat perutku bergejolak hebat. Si Kakak — bernama Levi. Aku memanggilnya begitu.
“Hu uhm,” aku hanya melengos sembari berjalan ke lantai atas, ke sebuah ruangan dimana segala ketenangan milikku bersumber. Aku hanya berharap Levi tidak mencecar dengan berbagai pertanyaan yang akan berujung malapetaka untukku, tapi bagaimanapun juga, Levi adalah Levi.
“Udah enam hari loh ini, masa iya lu ada kelas tambahan selama itu?” tanya yang berdendang dari roman Levi diwarnai gelitik genit penasaran. “Yakin enggak ada hal lain? Pasti ada apa-apa.”
“Enggak ada apa-apa banget, tuh?? Kegiatan gue juga ini, bukan kegiatan lu. Sana hush hush, balik sama ‘boneka’ tangan lu!” Aku cepat-cepat melangkah, tapi rajungan pasta ikan …. ia malah berpose manja menghalangiku di tengah-tengah tangga sembari rentangkan tangan.
Aku mendengus, berusaha melewati badannya yang sebenarnya bisa saja aku tubruk suka-suka, tapi masalahnya ini di tengah-tengah anak tangga. Salah senggol sedikit bisa saja salah satu dari kami tergelincir dan menggelinding ke bawah — ah itu merepotkan nantinya.
“Pembohooooong …. kau pembohong …,” ejekan datang dari mulut si tengil ini, sudah pula pakai nada menyebalkan dari salah satu tokoh kartun yang banyak digandrungi anak-anak. “Levi tahu banget adik Levi ini punya kegiatan lain yang disembunyikan dari anggota keluarganya. Hayo, ngapain aja? Mau bilang ‘pekerjaan’ tambahan juga dusta banget karena bukan style lu buat kerja habis pulang sekolah.” Levi malah menjejal banyak kata.
Aku mengelus dada, menarik nafas panjang, kemudian kuhembuskan kuat-kuat sampai kepulan nafasnya mengenai wajah Levi — gadis itu berkedip-kedip mengernyit ( harusnya aku makan petai biar ia tahu rasa sekalian nafas dari kebusukanku ini).
“Bacot juga lu ah …. kalau kuberi tahu, janji jangan tanya macam-macam lagi!” desisku menahan emosi.
Levi mengangguk, seringai picik keluar dari birai bibirnya. Ah, sudah kuduga, ia memang penasaran dan ia tahu persis selangkah lagi mengorek fakta yang sebenarnya.
“Gue ada festival sekolah, dan gue ‘terpaksa’ ikutan bantu. Nah, terjawab kan? Sekarang, minggirlah,” tidak menaruh banyak kata-kata yang mengundang rasa penasaran, kemudian aku pelan-pelan menggeser badan Levi yang menghalangi. Agaknya gadis itu menurut, membiarkanku naik ke atas.
“Heeeeeee …. sudah gue duga!” Levi terkekeh. Ia mengekor menjejak langkah di belakangku sambil berkicau ria. “Enak banget yah sekolahnya sering ngadain festival? Gara-gara itu lu yang pemalas nyaris karatan ini akhirnya aktif bersosialisasi, ya? Ututututu … anak teladan sekaliii ….”
Apapun itu, tolong tahan kesabaranku yang selangkah jatuh ke jurang asa. Perangai Levi hanya buat kepalaku pening seubun-ubun.
“Ya, ya, ya …. tolong ya jangan ganggu gue, mau tidur dulu nih!” Akhirnya aku bersua dengan daun pintu kamarku tersayang. Lantas, aku mencebik ke arah Levi di belakang. “Shush!” Sejurus kemudian aku menutup pintu, mengindahkan Levi yang entah memasang ekspresi apa.
Festival musim gugur adalah besok, dimana hanya menghitung mundur kurang dari dua puluh empat jam. Tinggal sedikit lagi, maka bebanku akan sirna setelahnya.
Aku menubruk diri ke pulau kapuk, hanya bisa berharap esok hari berjalan dengan semestinya tanpa hambatan.
Kuharap begitu.
🍁🏢🍁
Sabtu pagi cerah, sepertinya takdir berpihak pada festival.
Benakku mematri sedikit harapan agar turun hujan. Tapi keinginan tidak dijawab alam, jadi kuhadapi hari ini sama seperti biasanya. Awal yang bagus sebagai permulaan, karena saat impresiku melukis sosok gadis berambut pink muncul seperti setan fajar di depan kamar, ternyata tak ada siapapun menjumpa denganku sepanjang jalur yang kutapak dalam rumah. Kulewati koridor sepi penuh dekorasi klasik kastil mewah dengan atmosfer hampa tanpa kehadiran anggota keluarga maupun pelayan.
Ketika aku akan berpikir bertemu dengan Levi dan Mona — kakakku yang lain — di ruang makan, ternyata eksistensi mereka absen disana. Hanya ada pelayan yang menyiapkan sarapan. Ia tak acuh padaku, meski seberkas senyum tipis masih terlukis di bibirnya. Kulihat di atas meja, beberapa menu sarapan terhampar, menggoda untuk dilahap. Kuambil beberapa sandwich daging asap, lantas pergi dari sana menghindari munculnya anggota keluarga lain.
Aku melewati ruang lab, ruang keluarga, ruang tamu, dan lorong-lorong sembari tetap membawa kaki keluar rumah. Masih tidak mengendus kehidupan siapapun selain hanya satu-dua pelayan lewat. Oke, ini sedikit aneh. Paling tidak aku biasa bertemu Ibu atau Levi, tapi ini tidak sama sekali. Hanya menjumpai dua peliharaan (bisa dibilang begitu) sekaligus penjaga kesayangan kami di dekat pintu keluar.
“Halo, Stan,” sapaku kepada kucing jingga bertelinga lancip ini. Ia menatapku, kemudian sedikit mendengkur saat jemariku mengusap bulu di tubuhnya. “Aku akan berangkat ya.”
Beel, tanaman hijau yang bertengger tak jauh dari tempatku berpijak, sedang mengunyah sesuatu. Entah apa yang dilahapnya, mungkin tikus lewat atau ‘makhluk nakal’. Apapun itu, bukanlah ancaman berarti.
Hatiku penuh perasaan damai luar biasa, sebab tak bersua dengan siapapun yang berpotensi mengacau jiwa raga. Aku memang sengaja tidak mengecek seluruh sudut rumah yang luasnya sebesar kastil ini, kuyakin beberapa di antara mereka ada di salah satu ruangannya atau sedang keluar entah kemana. Terasa janggal sebenarnya, tapi untuk apa kupikirkan? Yang terpenting adalah kenyataan. Tidak ada yang menegurku, berarti tak ada yang tahu tentang perayaan musim gugur. Jika tak ada yang tahu, maka tak mungkin mereka datang.
Jika mereka tak datang, maka aku bisa bernafas lega. Satu dari beberapa kekhawatiran terhapus sebelum waktunya.
🍁🏢🍁
“Permisi, bisa berikan buku menunya?”
“Tolong, aku ingin memesan sesuatu!”
“Gore! Antarkan ini ke meja nomor sepuluh!”
Atmaku bergerak kesana kemari menelusuri meja demi meja, pesanan demi pesanan, tamu demi tamu. Pusing? Sangat dusta jika aku bilang tidak. Diam-diam aku mencerca kesialan yang merayap padaku, karena aku mendapat tugas sebagai pelayan kafe untuk wahana kelas. Bukan aku yang mau, tapi semua pembagian tugas diambil secara acak dengan undian (kecuali yang mendapat tugas memasak, mereka sengaja dipilih terlebih dahulu, tentu saja).
Sebenarnya, semua berjalan cukup lancar tanpa secarik hambatan. Tamu yang berduyun masuk rata-rata adalah sanak saudara, kenalan, atau orang tua murid kelasku. Sebagian hanyalah tamu asing, sebagian lagi keluarga nyasar dari kelas lain. Tak apa, yang penting bukan entitas yang buatku gelisah.
Aku menggeleng sedikit. Tidak mungkin mereka datang, tenang saja. Aku mengubur serpihan cemas yang senantiasa menghantui masa perayaan ini, mencoba terus aktif melayani tamu selayak pelayan baik.
Jam makan siang adalah puncak dari segala hiruk-piruk tiap wahana yang menawarkan makanan, salah satunya adalah kelasku. Tidak ada jeda untuk menarik nafas. Tidak ada celah untuk barang merenggang kedua tangan agar berhenti bergerak menjamu tamu. Bulir peluh merayap turun pada lajur pipi dan belakang punggung, bahkan pendingin ruang sudah tidak bisa diharapkan untuk mengatasi hal ini. Tidak sampai situ, antrian mengular tumpah ruah hingga memenuhi koridor depan kelas. Tengkukku meremang, memprediksi ini akan menjadi kegiatan paripurna mengacak sendi-sendiku yang berkarat sebab jarang bergerak banyak. Mataku menangkap kawan lain sama heboh dan sibuk, aku yakin tidak hanya aku yang kerepotan.
Yang bisa dilakukan untuk melewati semua ini adalah menjalani kegiatan sambil bersabar.
Tiga jam berlalu. Jam makan siang telah habis masa. Manusia yang memenuhi antrian koridor sudah habis. Wahana mulai sepi, menyisakan beberapa tamu yang masih mengobrol setelah menyantap hidangan. Bagus, inilah saat yang aku tunggu-tunggu. Beberapa jam sebelum perayaan berakhir, aku bisa menghirup kedamaian. Diselimuti oleh segala euforia yang mendorong untukku santai sesaat …..
Tiba-tiba ada suara keramaian dari kejauhan.
Ricuh atau kisruh apapun itu, untuk apa aku hirau? Mungkin ada artis datang, atau ada suatu kecelakaan, atau pertunjukkan murid keliling. Aku masih tetap berdiri, menjaga depan kelas sembari bersandar di bingkai pintu. Aku berjengit sedikit saat sumber kehebohan itu semakin dekat menggelitik rungu, kuyakin akan melewati kelasku tak lama kemudian.
Dua anak datang dari arah keramaian, berjalan melewatiku sembari berbisik.
“Itu yakin mereka bukan lagi cosplay? Keluarganya siapa sih? ”
“Mana kutahu. Mereka tadi naik ke lantai dua, pasti anak kelas dua.”
“Mencolok banget dandanannya.”
“Tapi bapaknya ganteng banget loh.""
“Ganteng sih, tapi siapa di era ini yang ngecat rambutnya sebiru itu?”
Mataku terbeliak, mulutku sedikit membuka, berusaha mencerna dialog yang baru saja mengalir dari roman mereka. Seakan ada yang janggal hingga buatku berwalang hati.
Bapaknya ganteng?
Rambutnya biru?
Aku bahkan belum sempat menelan ludah yang tersekat di tengah tenggorokkan ketika sumber dari keriuhan itu datang mendekat. Aku melihatnya jelas dengan mata telanjang, mau kukucek berkali-kali kelopak mata, hasilnya tetap sama.
Itu mereka.
Empat figur, serentak melangkah arogan dari ujung koridor. Paling depan adalah pria tinggi bersurai biru panjang, diikat apik dengan topi menghias kepala. Ia dibalut setelan formal hitam, bros tersemat di beberapa sudut fabrik. Tongkat terpasang di tangan, berketuk seiring dengan langkahnya.
Di samping pria itu, ada wanita berambut ungu panjang memakai gaun hitam menutup seluruh atma. Sinar matahari menembus dari celah jendela, menyinari semburat lekuk kaki jenjang tertampak dibalik rok hitam tipis menerawang yang dipakainya.
Di sisi kanan ada wanita lain yang umurnya jauh lebih muda, memiliki rambut merah dan kacamata berwarna senada. Tekstil hitam ketat memeluk seluruh tubuhnya yang melekuk seksi, dengan jas merangkul dua bahu dari belakang.
Terakhir adalah yang jalan paling belakang, gadis berambut pink pendek dengan gaun kasual sederhana, pita biru melekat pada atas kepala. Aku benar-benar-sangat-amat tidak asing untuk menangkap irasnya yang bergolak penuh seringai culas. Netra merah mudanya bertumbuk lekat-lekat dengan netra kuningku, seakan menantang dan menertawaiku.
Aku. Detik ini juga. Bersaksi kepada sejawat mayapada.
BANGSAAAATTTTTTTTTTTTTTT.
Demi Neptunus dewa atau planet nun jauh disana, satu kata ‘bangsat’ tidak cukup untukku mengekspresikan rasa. Aku berusaha tak mengindahkan puluhan tatapan memaku pada empat sosok itu, beberapa pirsawan saling berbisik, bahkan ada yang tak tahu malu memotret mereka.
Hingga empat orang yang menjelma duta sekolah dadakan itu sampai di depan kelas. Merekalah makhluk-makhluk yang paling aku hindari keberadaannya muncul di sekolah — siapa lagi jika bukan keluarga ‘tidak biasa’ ku.
Rasanya aku ingin kabur atau terjun dari lantai dua demi menghindari pertemuan laknat ini.
“Gore, siap-siap ada tamu datang, ayo layani!” Kawanku yang juga bertugas sebagai pelayan berbisik. Ia berdiri sejajar denganku, kemudian menunduk memberi hormat. Aku tidak mengikuti gerakannya, untuk tamu yang ini, aku tidak sudi.
“Selamat datang di Kafe 2-A, tuan dan nona-nona sekalian ….,” Kawanku mengucap salam. Jawatan lain di dalam kelas ikut menyambut dengan sahutan-sahutan selamat datang seperti biasa.
“Kami ingin makan disini,” cetusan itu datang dari si pria rambut biru — aku sebut dia Feruci, Ayahku. Ada senyum culas menghiasi iras. “Boleh tolong antarkan kami ke meja, Pelayan?”
“.... kau sajalah yang menyambut —” aku beringsut ingin pergi, memberi tanggung jawab melayani tamu pada temanku yang satu itu. Tapi sejurus kemudian, kemalangan menghambat langkahku saat perintah berdendang dari tamu sialan ini.
“Kami mau pelayan yang namanya Gore ini yang layani kami.”
Seluruh mata terpasang lamat-lamat ke arahku, menjelma panggung khusus untuk ditonton cuma-cuma. Pasti ada banyak pertanyaan di benak mereka. Salah satunya aku yakin seperti, “kenapa harus Gore? Keluarganya kah?” Sementara Feruci masih mengulum senyum, tiga wanita yang lain ikut memasang air muka yang sama. Astaga, aku paling benci menjadi pusat perhatian …. SIAPAPUN TOLONG KELUARKAN AKU DARI SITUASI INI!!
“Oh, silahkan Gore,” kawanku yang mungkin sudah berekspektasi akan melayani mereka, kini menjauh. Sekarang giliranku yang terjebak. Atmosfer jadi jauh lebih sunyi, entah karena kedatangan keluargaku membuat terpana, atau sengaja agar mereka bisa menyimak tindak-tanduk kami.
Aku menarik nafas dalam sampai —
“Lu kalau nyamar jadi pelayan di rumah, cocok juga tuh kayaknya! Hihihi.”
— aku nyaris kentut untuk mengeluarkan udara yang ingin ku hembus demi mencapai puncak kepala dingin. Nada itu datang dari si sialan Levi. Bocah tengil ini semakin memantik api di tumpukan minyak.
“Jangan bikin kelamaan, Pelayan! Masa mau membiarkan kami berdiri di depan? Kami sudah lapar nih, mau makan,” kali ini datang dari wanita bersurai merah. Ia bicara begitu lancang sekali sambil membenarkan posisi kacamata. Dialah si Kakak Maniak, Mona.
Aku bisa merasakan pasang mata dari seluruh jawatan menatap tajam ke arahku seakan menyuruh, ‘Gore cepat itu dilayani tamunya!!!’ ARGH, apakah kalian tidak bisa mendengar suara hatiku berteriak dari tadi?! Oke, mungkin aku terlalu frustasi hingga hiperbola.
“Baiklah, aku minta maaf tuan dan nona-nona yang KUHORMATI. Silahkan lewat sini,” aku menunduk kepala, bersikap bak pelayan professional. Kuarahkan mereka ke salah satu meja kosong dengan label nomor 7. Keempatnya duduk serempak, sampai wanita bergaun hitam akhirnya bersuara.
“Kursi yang kududuki goyang, apa kau bisa menggantinya dengan yang lain?” tanyanya dengan nada lembut, meskipun ada secercah jahil mewarnai intonasi.
“Akan aku cek terlebih dahulu,” karena ini adalah permintaan Ibuku, Ades — entitas yang paling tidak merepotkan dibanding tiga yang lain, setidaknya — aku berusaha sabar menghadapinya. Saat kucek, kursinya tidak goyang.
“Ini sudah tidak goyang,” pungkasku yakin. Tapi saat Ades duduk lagi, ia sengaja menggerakkan tubuh. Pastinya kursi ikut bergetar.
“Tapi ini masih goyang,” ia mengernyit dahi.
Kutarik kata-kataku soal entitas tidak merepotkan ini.
“Jika Anda duduk manis dan tenang, kursinya tidak akan goyang,” aku membalas dengan nada paling sopan yang pernah kumiliki.
“Tapi aku tidak nyaman duduknya …. tubuhku nanti nyeri,” Ades mengelak, irasnya menunjuk ekspresi kesakitan yang ganjil. Belum sempat aku membalas, si Feruci ikut membeo.
“Kamu tidak lihat istri saya kesakitan?” Ia mendesak dengan jemari terketuk-ketuk di meja.
“Hhhh ….. baik, Nyonya. Segera aku ganti kursinya,” aku mengalah, penuh keengganan mengganti kursi dengan yang terdekat. Sepertinya Ades puas, lantas ia langsung duduk manis penuh tenang tanpa gerak-gerak.
“Kalian menyajikan apa di kafe ini? Lihat menunya dong!” Mona berkuak, membangunkanku kembali pada kondisi hina.
“Sebentar ya, Nona. Ini baru mau kuberi buku menunya,” akhirnya kuberi buku menu, masing-masing satu ke hadapan mereka. Keempatnya membuka buku bersamaan.
“Aduh! Mataku kelilipan.”
APALAGI KALI INI?
“Tolong bacakan aku semua menunya dong, aku jadi tidak bisa membaca dengan jelas,” dua fonetik manja yang datang dari Levi.
“Anda bisa MEMBACA SETELAH SELESAI KELILIPAN,” aku mendengus, tanpa sadar tangan menggaruk fabrik baju terlampau emosi.
“Tapi mataku sakit banget nih, tegakah membiarkanku tidak bisa makan hanya karena tidak tahu menu-menunya?” Mulailah dia, melancarkan sejurus kata-kata manja nan genit. Aku ingin membalas, tapi aku merasakan hawa di belakangku selayak pirsawan dari drama komedi berbisik-bisik.
“Rusuh banget ya, itu keluarganya Gore beneran?”
“Tapi nggak ada mirip-miripnya, tuh. Rambutnya saja kayak power rangers.”
“Keluarga atau bukan, mereka terlihat manja sekali ya ke Gore.”
“Gore keliatan enggan banget ngelayani mereka.”
“Cantik-cantik banget ceweknya —”
Ini baru permulaan dan aku sudah dipermainkan oleh tajuk drama ‘keluarga’ yang ironi. Gigi bergemeretak, kepalaku berdenyut.
“Tolong bacain dong … pelayan~”
“Iya, iya. Sini, saya bacakan satu-SATU,” aku beringsut, mendekat ke sisi Levi. Sedikit kasar kurampas buku menunya, sudut mataku menangkap kekeh kecil dari mulut Levi.
ANAK SETAN INI!
Kutunjukkan jari tengahku diam-diam dibalik lembar buku, agar bisa dilihat oleh gadis gendeng ini.
“Omelette, nasi goreng, sandwich tuna mayo, pud—”
“Pelan-pelan dong bacanya …. aku nanti gampang lupa.”
Rengekan yang disusul cekikik kecil dari Mona, sementara kutilik Feruci dan Ades tersenyum usil.
Kuku jariku nyaris membolongi buku menu.
“...... Omelette ….. nasi goreng ….. sandwich tuna mayo ….” mulutku menutur jajaran menu yang tertera dengan perlahan sesuai yang dimau. Apapun yang hari ini kau lakukan padaku kerdil pink, pasti akan kubalas dikemudian hari, sialan!
Tampaknya Levi sudah cukup puas, ia melampirkan senyum imut sembari kepala manggut-manggut.
“Bahan susu buat pudding gimana, nih?” Selesai satu, muncul yang lain. “Gue lagi kepengen pudding, tapi gue nggak mood kalau susunya bukan dari susu kedelai!”
Sejak kapan kau peduli perbedaan susu sapi dan kedelai, Mona?!?!
“Aku tidak bisa memaparkan dengan jelas, Nona. Itu rahasia dapur kami, dan aku ini CUMA PELAYAN, bukan koki,” kutekankan bagian terkait, intonasi suaraku sudah tak keruan.
“Kok begitu? Seharusnya semua bagian dari kafe ini diketahui jelas oleh seluruh murid di kelas, bukan?” Feruci angkat vokal sembari mengelus dagu. “Baik itu koki, pelayan, siapapun harus tahu bahan-bahan yang terkandung di dalam makanan yang tersaji. Kalau misal ada tamu yang alergi sesuatu dan kau tidak bisa memaparkan bahannya dengan jelas, siapa yang mau tanggung jawab?”
Kisik-kisik gunjingan datang dari berbagai arah — entah dari tamu yang masih makan, atau dari teman sekelas.
“.... Aku akan membawa resep kami dulu,” dongkol sampai meletup ke ubun-ubun, hebat sekali aku sanggup bertahan di tengah siksaan ini. Aku melipir ke area dapur, mencoba meminjam buku resep.
“Pst! Gore, itu keluargamu, ya?” salah satu kawan yang menjadi koki bertanya. Aku mencebik.
“Menurutmu?” Aku sudah kadung pening akan derita, tidak ingin menjawab sesuatu yang menjadi sumber kerepotan dan penghinaan. Aku kembali ke meja dimana mereka berempat masih bertengger.
Dan itu adalah awal dari segala penyiksaan sadis yang memotong seluruh bagian dari kewarasan seumur hidupku dalam tiga jam ke depan.
🍁🏢🍁
“Kenapa nasi goreng warnanya tidak sepekat ini? Bahannya pasti dipilih asal-asalan!”
“Kami minta maaf, Nona. Soalnya kami hanya buka kafe SETAHUN SEKALI dan INI BUKAN DI RESTORAN BINTANG LIMA,” semburku tanpa aba pada Mona yang masih rewel terhadap bahan makanan.
“Oh, sepertinya cappucino ceri ini terlihat enak. Aku pesan ini, ya. Cerinya jangan terlalu banyak, takut terlalu sepat.”
“Seratus kali kuhaturkan maaf, Tuan. Tapi cappucino rasa ceri TIDAK ADA DI MENU KAMI,” aku mencoba mengais sisa-sisa ketabahan menghadapi permintaan Feruci.
“Loh? Apa aku salah dengar ya? Tadi aku simak dapur kalian punya ceri,” ia mencoba berkilah.
“Itu ceri yang kami stok untuk menu CHEESE CAKE,” sambarku. “Tidak ada capucino ceri, sekali lagi saya menekankan.”
“Bagaimana, nih? Pelayanan kafe 2-A tidak memuaskan sekali ya. Pasti persiapannya tidak matang sampai-sampai tidak menerima request dari tamu,” semirik menghias bibir Feruci, mata biru bersirobok dengan mataku yang sudah berkedut. “Padahal bahannya ada.”
Aku menangkap siluet dari ketua kelasku di kejauhan mengacungkan dua jempol seraya bibir berucap tanpa suara, “sudah turuti saja!”
Aku mendecak lidah. “Baik, Tuan. Satu capucino ceri, akan saya catat.”
“Kalau aku pesan omelette tanpa kuning telur,” Ades mulai memesan, mata lentik berkedip-kedip membaca menu. “Jangan lupa sayurnya diperbanyak …. oh iya, jangan pakai minyak ya masaknya …. aku tidak mau sampai tumbuh jerawat.”
Aku tidak menanggapi dengan vokal sebab terlalu lelah, jadi aku hanya mencatatnya di kertas pesanan yang kutulis —
“Ah, enggak. Yang tadi tidak jadi deh … aku beli sandwich telur saja. Isinya pakai tomat, selada, kuning telur, sausnya pakai saus tomat sebanyak —”
“Hah? Yang tadi enggak jadi?” Alisku naik, memastikan pesanan Ades yang seperti rentetan kereta.
“Tidak jadi, dong. Kan aku sudah bilang,” Ades menengadah padaku, tersenyum sangat lembut sampai aku pusing.
“.....” Aku mencoret pesanan Ades yang sebelumnya, diganti dengan yang baru saja dikatakan —
“Oh, dipikir-pikir salad saja kali ya? Cocok untuk diet. Yang tadi enggak jadi, coret saja. Saladnya yang buah ya, pakai susu kental manis vanilla, jangan dicampur pakai biji selasih.”
Aku hampir mematahkan pena.
“..... Nyonya APAKAH SUDAH YAKIN mau pesan itu?” Suaraku serak.
“Hu-uhm.” Ades mengangguk lembut, meski aku bisa menangkap kerlipan nakal yang senada dengan milik Levi.
Saat aku sibuk menulis pesanan Ades, mulailah Levi merengek.
“Ah, gimana nih? Levi bingung banget mau minum susu coklat atau susu stroberi … Tolong rekomendasikan mana yang cocok untuk Levi yang imut ini, Pelayan yang baik~”
“Stroberi sepertinya cocok untuk nonanya yang KECUT dan ASEM,” nada suaraku kali ini tidak bisa kukontrol.
“Gasp! Levi dikatain kecut dan asem …. hiks. Parah banget, tidak ramah bintang satu …” Levi mulai menitikkan air mata buaya betina.
“Wah, wah …. Parah ini. Aku akan menulis pengaduan pada sekolah karena salah satu murid sudah mem-bully tamu festival, apalagi anakku,” Feruci ikut serta mendukung akting Levi. Wajahku pesam, dijamin siapapun yang melihat air mukaku pasti akan mengira aku akan meledak. SIAPA YANG SESUNGGUHNYA DI BULLY DISINI?
Tentu saja teman-teman sekelas langsung memasang wajah panik, diam-diam memberi kode menyuruhku minta maaf, seakan memberi beban padaku sendirian di tengah-tengah drama picisan alay. Yang benar saja?!
“Maaf atas kelancanganku nona YANG OHOK-CANTIK-Ohok. Susu stroberi cocok untuk nona manis–OHOK HOEK– sama seperti warna stroberinya yang pink–OHOK,” aku langsung mual setelahnya.
“Hm~ Hehehe! Oke kalau gitu Levi pesan susu coklat yaa.”
AKU CEKIK KAU SEKARANG JUGAAA!!!
“Jika ingin menjadi pelayan yang cakap, jangan memasang wajah yang masam begitu, itu bukan contoh yang bagus,” Ades berkomentar tanpa aku meminta. “Rambutmu berantakan, belum disisir. Bajumu juga kusut banget, sangat tidak pantas. Kalau kafenya sih oke ya ….. meski ada beberapa hiasan kelihatan norak, sih.”
“Kami tidak menerima KRITIK dan SARAN Nyonya, tapi aku SANGAT AMAT BERTERIMA KASIH atas masukannya,” kuusahakan menekan intonasi agar tidak kelewatan terbawa suasana yang terlanjur meradang. Bagaimanapun Ades jelas tahu bagaimana aspek pelayanan baik karena dia pemilik rumah bordil terkenal di salah satu distrik kota. Tapi, bisakah dia mencari waktu yang tepat untuk memberi masukan bak kritikus restoran?
“Yasudahlah! Aku pesan pudding espresso saja untuk dessertnya,” Mona sekenanya memesan. Rasanya aku ingin mengguncang tubuhnya dan mengatakan bahwa PUDDING ESPRESSO ITU TIDAK ADA DI MENU JUGA (bahkan aku tidak pernah mendengar atau tahu keberadaan pudding espresso).
MEREKA KENAPA SIH?!
Memesan menu menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit. Demi apapun, mereka datang untuk mengacaukanku saja. Tidak ada misi yang menarik kah, sehingga semuanya lengkap datang hanya untuk membuang waktu pada hal yang tidak berguna seperti ini?
Kuberikan daftar pesanan ke bagian koki, mereka menggeleng-geleng kepala.
“Lu bantu kami lah, Gore!”
Aku tercengang. “Hah? Gue? Gue udah puyeng ngejabanin mereka, masa gue juga harus masak untuk mereka?!”
“Mereka keluargamu, kan? Selera mereka aneh dan unik gini, aku jadi takut mereka tidak akan suka dengan masakan kami,” salah seorang teman koki berkilah, kulihat wajahnya mengkilap dibasahi peluh.
“Bagian gue itu cuma melayani, tahu!” Aku bersikeras, suaraku naik satu oktaf. “Pokoknya gue enggak masak. Lagian mereka mana peduli soal rasa! Sudahlah bikin saja asal!”
Aku berharap bisa meraih oksigen saat menunggu makanan dimasak, tapi tentu saja itu tidak mungkin karena suara Mona memenuhi seluruh kelas tanpa aba.
“PENDINGIN RUANGANNYA ENGGAK BERFUNGSI, YA? PELAYAN GORE, GIMANA NIH?!!”
Semua mata langsung dipaku padaku.
Tarik nafas, buang perlahan. Tangan terkepal, siap melayangkan tinju — tidak, tentu saja memberi service terbaik sesuai yang diminta.
“Pendingin ruangannya tetap berfungsi kok, wahai TAMU KELASKU YANG KUHORMATI,” aku mulai melancarkan satiran ekstra. Biar saja adegan ini jadi tontonan, sudah terlanjur kalut sampai jadi gosip seantero sekolah. Aku bingung karena selama mereka beraksi, atmosfer sekitar tidak seramai biasanya. Semuanya sibuk melihat kami. Kedatangan keluargaku benar-benar menciptakan panggung tersendiri, seperti yang diharapkan dari mereka!
Tapi boleh enggak aku kabur saja? Jangan menyeretku ke teater yang kalian ciptakan!
“Oh ya? Aduh, tapi kok tetep panas, ya?” Levi ikut-ikutan, menyanggah manja sembari tangan mengipas-ngipas tubuh.
“Itu karena keberadaan Nona penuh-penuhin tempat ini, makanya jadi panas,” ujarku, mencoba mengejek balik (tentu saja dengan nada paling sopan).
“Buka baju aja kali ya,” Mona melepas jas yang menggantung di bahu, sekenanya mengucap demikian seperti bukan apa-apa.
“GOBL- maksudku, tidak perlu, ya Nona. Ini tempat umum dan ada BANYAK YANG MASIH dibawah umur,” aku menyemat kembali jasnya ke dua bahu Mona, sengaja sedikit menjambak rambutnya sampai ia terpekik kesakitan.
“Kalau begitu, tolong kipasin kami,” Feruci bergabung dengan sandiwara lagi, kakinya menyilang di bawah meja, sedikit bersandar pada kursi dengan gaya sok.
“Semua harus kena anginnya, ya,” Ades memberi pesan.
Gila. Aku menjelma jadi pelayan pribadi keluargaku sendiri.
Karton kardus yang dilapisi origami di sudut kelas, akhirnya kujadikan kipas dadakan. Kugerakkan dengan kasar di dekat mereka, naik turun, menciptakan gelombang angin yang cukup membuat semua poni mereka berkibar.
“Ih, kurang kencang,” Mona melempar komplain.
Aku semakin kasar mengipasi mereka.
“Aaaah, rambut Levi jadi berantakan nih …. yang lembut dong kipasinnya!”
Saat aku berniat melempar karton ke atas meja mereka —
“Pesanan untuk meja nomor 7!”
Ah, pas sekali. Aku beringsut pergi sambil menghentakkan langkah kaki keras-keras sebagai unjuk bahwa kesabaranku sudah diambang batas normal. Menyusun makanan yang sudah dipesan, nampan penuh hidangan. Saat semua pesanan kuantarkan ke meja ‘neraka’ itu, aku bingung karena Levi tidak ada di tempat duduknya.
“Kakaknya ganteng banget loh, boleh enggak kapan-kapan Levi main ke rumah kakaknya? Kita bisa …. ngobrol-ngobrol manja,” Levi berbisik centil, menghimpit salah satu teman pelayanku yang sedang berdiri tak jauh dari tempat Levi duduk tadi. Saat temanku lengah dengan dua pipi bersemu dan badan bergetar canggung, tak ayal Levi mulai menggerayangi tangan temanku mesra, sebelum aku menariknya menjauh.
“Nona, dilarang keras MENGGODA salah satu dari pekerja kami,” tubuh Levi terseret, gadis itu hanya memajukan mulut satu senti, merajuk seraya kukembalikan ia ke tempat asalnya.
Akhirnya semua mulai menyantap makanan yang dipesan sesuai permintaan mereka sendiri. Kulihat Ades masih adem ayem menikmati salad buahnya — bagaimanapun pesanannya paling normal. Mengingat menu Mona yang paling ajaib, aku yakin belum semenit ia pasti akan berkuak.
“Nasi gorengnya kurang asin! Gimana nih? Tambahkan garam lagi dong!”
Dia malah mengeluhkan makanan utama yang tidak diberi request apa-apa.
“Tapi makanannya sudah tersaji, Nona. Syukuri saja apa yang telah dihidangkan,” aku memijat kening. Berdenyut hebat sekali.
KLONTANG!
“Aduh! Tuh kan, sendokku sampai jatuh. Ambil dan ganti yang baru, dong!” Mona menyuruh suka-suka. Aku menggigit bagian dalam mulutku, geraham saling beradu, kecamuk amarah sudah diujung tanduk. Aku pasrah mengambil sendoknya. Saat aku pergi ingin mengganti sendok, keluhan-keluhan lain datang silih berganti.
“Ini daun mintnya kurang selembar, tidak mirip dengan apa yang difoto di menu,” kali ini datang dari Feruci. Ayolah Ayahku yang budiman, bisakah kau bersikap LEBIH DEWASA dengan bersyukur dan menerima segala yang diberikan?
“Uhm …. nasi dibalik omelettenya berminyak, dikeringin dong ….” keluh Levi.
“Buah dan susunya terlalu manis …..,” Ades menggeser piring salad, menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. “Bisa diabetes nanti kalau begini.”
“Kalau tidak berniat makan dan memesan di kafe kami, anda semua BISA KELUAR dan mencari ke wahana yang lebih AFDOL untuk MEMUASKAN KEINGINAN KALIAN!” Tak sadar suaraku sudah membahana ke seluruh ruang kelas, mencapai oktaf tertinggi. Steker kesabaranku ternyata sudah tercabut dari stop kontaknya.
Seluruh ruang hening.
Namun senyap bergulir cepat, suara cekikik geli dari bilah bibir Ades datang tak lama, matanya berkedip-kedip. Disusul oleh seringai di wajah Mona, tawa kecil dari mulut Levi, kemudian desah nafas kecil penuh kepuasan dari Feruci.
Keluarga sialaaaaaaaAAAANN!!!!
Mereka benar-benar datang untuk sengaja mengejekku, mengolok, dan mempermainkan aku disini. Jadi bahan bulan-bulanan teman sekelas dan pastinya mendesak amarahku untuk sengaja diletupkan, karena kapan lagi murid pendiam bisa marah?
Langit, biarkan aku tenggelam ke bawah tanah, mengubur diri bersama sisa-sisa kewarasanku yang mungkin pulih dalam tiga puluh tahun ke depan.
🍁🏢🍁
Sejauh ini, ini yang paling jauh.
Itulah yang kupikirkan saat deru nafasku membara hebat menyaksikan empat eksistensi biadab itu akhirnya mengelap mulut mereka masing-masing dengan tisu. Piring-piring kotor bekas santapan serta gelas-gelas tinggi dengan sisa minuman, menumpuk di meja nomor 7 itu. Setelah dikeroyok oleh berbagai komentar, komplain, permintaan aneh-aneh (yang tentu saja terus berlanjut sampai dua setengah jam), akhirnya aku bisa merasakan secuil waktu luang, sebelum Feruci dan yang lain bangun dari kursinya masing-masing.
“Benar-benar wahana kafe yang menarik. Kurasa, masih banyak yang harus diperbaiki dari kafe ini,” Feruci melancarkan kata-kata, terselip arogansi yang kental dari intonasi. Matanya melirikku. “Sekolah ini sepertinya membutuhkan edukasi tambahan untuk mendidik murid-muridnya bersikap lembut dan sopan.”
Aku menyipitkan mata. Bulir keringat sedari tadi mengalir tumpah ruah membasahi tengkuk dan punggung berkat perangai kurang ajar mereka. Kali ini aku sudah terlampau malas menanggapi ocehan penuh bumbu sindir yang serta-merta ditujukan padaku.
“Hah …. kenyang,” Mona membusungkan dada, menyibak rambut merahnya sedikit dengan gaya sok, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menjiplak dari balik baju ketat. Ia merenggangkan tubuhnya sedikit, kemudian menyeringai padaku.
Aku mendecak lidah.
Feruci tanpa berkata apa-apa mulai membawa kaki keluar kelas, disusul Ades yang tersenyum, kemudian Mona. Paling terakhir keluar tentu saja si biang kerok Levi. Gadis itu mengedipkan mata padaku dengan centil, kemudian melambaikan tangan dengan tengil.
Kusempatkan membalas lambaiannya dengan dua jari tengah, sebelum sosoknya menghilang dari balik pintu.
Mereka adalah pengunjung kloter terakhir, dan wahana akan tutup lima belas menit kemudian.
Mereka akhirnya pergi, disambut sahutan ‘terimakasih sudah berkunjung’ dari seluruh jawatan.
Kalian pikir penderitaanku selesai? Kalian pikir aku akan bersorak girang kemudian menyandarkan tubuh sambil leha-leha meringankan beban pikir? Salah besar, kawan. Karena bisa dipastikan gelombang lain kesengsaraan akan datang dalam —
Tiga.
Dua.
Satu.
“Goree—!!!”
Bejubel menghimpitku tak keruan, teman-teman mulai berkicau ganas dengan berbagai pertanyaan bak reporter jadi-jadian. Semuanya tumpang tindih memenuhi gendang telingaku tiada ampun, membuat kepalaku penuh sampai otakku mau meledak. Maka, semua interogasi yang dilempar dari mereka hanya kubalas dengan jawaban enggan dan tak acuh.
“Gore, itu tadi beneran keluarga lu enggak, sih?! Kok lu enggak pernah cerita-cerita?!”
“Enggak tahu, kayaknya bukan. Ngapain juga gue cerita,” kujawab sekenanya.
“Gore—! Ibumu yang pakai baju hitam itu? Beneran? Kelihatan masih muda, ya!”
“Enggak tahu, mungkin iya.”
“Kalian semua ngecat rambut?”
“Yang punyaku ini alami, kocak.”
“Kakak lu oke juga, kapan-kapan kenalin lah?”
“Males banget, lu pedekate aja sendiri,”
Dan tentu saja masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan tak penting lainnya. Aku menutup dua telinga, mencoba bersikap kepala dingin meski jiwa sudah dimasak sampai gosong. Bahkan penutupan festival masih dipenuhi oleh gunjingan mengenai aku dan keluargaku.
“Kamu lihat kan ya, yang menjelang sore tadi, ada sekelompok orang yang dandanannya heboh itu?”
“Oh iya, iya! Kenapa?”
“Itu beneran keluarga murid, tahu! Kabarnya dari anak kelas dua.”
“Walah, mau ke festival saja kok sudah kayak mau ke event cosplay, ahahaha!”
“Hey, begini-begini mereka semua cakep, lho!”
“Siapa sangka Gore yang pendiam ternyata punya keluarga super nyentrik?”
“Lu harus ngerasain tadi pas digoda salah satu saudara ceweknya, bah!”
Kacau dan pupus sudah sisa-sisa ketenangan yang aku harapkan. Luluh-lantak citraku sebagai anak yang bisa menjaga image. Aku dan keluargaku sukses menjadi sorotan serta topik panas seantero kelas — tidak, nyaris seluruh sekolah. Aku sudah tak bisa berbuat apa-apa, mencoba berkilah atau menutup-nutupi hasilnya sama saja. Jadi, yang bisa kulakukan adalah berpasrah dengan berat hati. Meski kisik-kisik rumor mulai merajalela tanpa bisa dikontrol, yang aku harapkan sekarang adalah mereka semua amnesia seketika terhadap kejadian hari ini.
Saat beres-beres wahana selesai, selanjutnya adalah penutupan dan pesta kecil-kecilan. Sejujurnya aku tak ingin mengikuti rentetan acara yang tidak penting ini, apalagi saat lembayung sudah mewarnai langit. Beberapa teman masih ada yang berani mengungkit kejadian ‘itu’, dan tentu saja aku tak ingin membuka diri. Bersikeras ku berkata bahwa aku tidak peduli tentang keluargaku dan hal-hal yang berkaitan dengan mereka, menjawab sesingkat mungkin, dan berusaha menghindar jikalau bisa.
Sabtu ini benar-benar hari terkutukku, penuh penyiksaan batin bertubi-tubi dari pagi hingga malam. Lelah yang mencekik seluruh tubuh terbilas habis dengan letih mental yang mencabik hati.
🍁🏢🍁
Tidak seperti anak-anak lain yang memilih nongkrong, mengobrol ria, atau melipir ke tempat-tempat hiburan malam hanya untuk menghabiskan waktu dan uang. Aku memilih langsung pulang ke rumah begitu segala tetek-bengek perayaan selesai. Tentu saja penuh rintangan, karena ada segelintir kawan kurang ajar mencoba menggodaku.
“Sekarang gue ngerti kenapa lu selalu pulang cepat dan males nongkrong, pasti mau ketemu keluarga tersayang, ya?”
“Cie Gore, mau pulang cepet karena mau family time?”
“Titip salam buat kakak lu!”
Aku tanggapi seluruh rentet provokasi itu dengan cebikan tak suka, mencoba mengindikasi bahwa aku sangat-amat terganggu dengan kata-kata mereka. Sebenarnya mereka sepenuhnya tidak salah, sebab aku langsung pulang ke rumah karena ada urusan dengan keluargaku.
Tentu saja sebuah urusan yang harus segera diselesaikan.
Saat kakiku menapak area rumah, adrenalinku kembali meledak-ledak. Aku tak mengindahkan dengkuran Stan, atau Beel yang masih mengunyah mangsa, atau beberapa pelayan yang menatapku dengan tak acuh, atau jebakan maut yang kurancang sendiri di seantero rumah. Aku lewati semua itu dengan satu pikiran lurus tertuju pada tempat semua anggota keluargaku biasa berkumpul.
Dentuman kaki yang kuhentak keras-keras menggema ke seluruh lorong, mencapai ruangan paling ujung, paling terang di antara yang lain — dan yang kusambut pertama adalah sosok gadis rambut merah muda lagi, disusul Mona, Feruci, dan Ades yang duduk di sofa sambil bersandar dan menyilang kaki.
“PUAS KALIAN?! HAH?!” Suara bentakan yang sudah kutahan sedari siang akhirnya keluar juga. Gelegarnya memantul sampai langit-langit ruang tamu, tak sadar membuat lampu gantung sedikit bergetar. Kutatap mereka satu-satu, semuanya memasang raut wajah yang kompak; usil, tengil, dan mengejek. Tanpa dilantun dengan vokal yang lantang, aku tahu bahwa mereka berkata, “gimana? Perangai kami membuatmu kesal, kan? Iya kan?”
BRENGSEK.
“Selamat datang, Adikku sayang. Pulang-pulang kok malah dikasih omelan gitu, sih?” Levi berdiri di samping sofa Ades, ia sok memelintir ujung rambut.
“Lu, jalang cilik!!” Aku bergegas menghampiri Levi, lantas mengguncang tubuh kecilnya dengan kasar, mencengkram dua lengan kuat-kuat hingga kuku-kuku jariku nyaris menusuk epidermisnya. Tapi bukannya meringis kesakitan, si kerdil ini malah menyeringai puas sambil membasahi sudut bibir dengan lidah.
“Hehehe, ada apa? Mau ngajak berantem?” Levi menantang sembari kepala dimiringkan.
“Nggak, mau ngebunuh!” balasku dengan bengis, mendorong tubuh gadis itu hingga nyaris bertubruk dengan sofa yang diduduki Ades — nyaris, ia tidak kenapa-kenapa karena refleknya terlalu bagus. Sayangnya aku tidak membawa senjata atau racun apapun di kantong baju.
“Hey, jangan kasar-kasar sama Levi. Nanti kalau tubuhnya lecet, ia tidak bisa bekerja,” Ades menegur.
“Diamlah, diam!” Aku berjengit, masih dirundung amarah yang membengkak, aku menggaruk rambut frustasi. Tatapanku masih dikunci pada Levi. “Kau pasti yang laporin soal festival sekolah gue ke mereka, kan?!”
Levi kembali menegakkan tubuh, tangan menyilang di depan dada dengan arogan. “Kalau iya, kenapa?”
Ah, sudah kuduga dialah biang keladinya.
“Kenapa sih, lu segitu marah? Festival kan emang seharusnya dihadiri siapa aja, termasuk anggota keluarga dari murid sekolah,” Mona menyanggah, ikut angkat bicara.
“Bukan itu masalahnya, tolol!” Aku mencela. “Masalahnya adalah kalian dan segala tingkah-polah bajingan kalian yang menyiksaku, argh!”
Aku kembali menghadap Levi. Sebenarnya masih ada yang ganjil di hati.
“Lu tega banget, enggak mengundang kami sekeluarga ke festival sekolah lu, padahal ketentuannya bilang kalau murid kelas dua wajib mengundang anggota keluarganya.”
Mataku melebar. Tentu saja, ini dia lubang perkaranya. Aku ingat tidak pernah menyebutkan soal itu ke Levi.
“Kok lu bisa tahu soal itu?” tanyaku dengan nada tinggi, disusul cekikik kecil dari Levi, tersenyum penuh kemenangan.
“Gimana ya …. seorang ‘teman’ dari sekolah lu yang ngasih tahu soal itu,” Levi menjawab, sedikit lebih kalem sembari membenarkan pita di kepala. “Bayangkan, sebuah festival sekolah dimana banyak jajanan dan orang-orang …. wah …. pasti ramai dan menyenangkan! Mana mungkin gue ngelewatin kesempatan emas kayak gitu? Pastinya gue langsung laporan ke Ades, Feruci, dan Mona. Siapa tahu mereka mau ikut? Eh, ternyata semuanya ikut~”
Aku menepuk jidat keras-keras hingga tempurungku berdenyut nyeri. Setan cilik gendeng ini tentu saja punya kenalan ‘banyak’, aku tak memprediksi hal ini terjadi.
“Okelah jika lu segitu ngebet sama festival, terus gue tanya ke yang lain. Kenapa kalian sudi banget dateng ke acara itu, hah? Bukan tipe kalian banget, tau enggak? Buang-buang waktu!” cibirku, sejurus kemudian melihat Ades menggeleng-geleng kepala.
“Loh, itu tidak buang-buang waktu, tahu. Seorang Ibu tentu saja ingin sekalian memastikan jika ‘anaknya’ ada di lingkungan sekolah yang baik dan benar,” Ades menatapku, wajahnya memang lembut nan teduh, namun sedetik kemudian ia tersenyum jahil. “Aku juga ingin tahu teman-temanmu seperti apa, pergaulan macam apa yang kamu lalui? Yah, tampaknya semua aman-aman saja ya? Hehehe.”
Feruci terbatuk kecil, Mona menggeleng-geleng kepala, dan Levi terkekeh geli.
Aku semakin naik pitam. Itu omong kosong belaka. Peduli apa Ades sampai harus memperhatikan hal tersebut dariku? Aku yakin, jika aku hilang nyawa pun, Ades tak akan peduli, apalagi harus mempedulikan kehidupan sekolah? Bah, jangan harap membuatku terkecoh dengan alasan klasik itu.
“Gue seneng sih, soalnya orang-orang pada liatin kita,” Mona menambahkan. Kali ini ia yang melancarkan alibi. “Dari parkiran sekolah, sampai balik lagi, semuanya pada merhatiin. Ekspresinya macem-macem, bikin gue geli sendiri. Mereka enggak pernah kah melihat sesuatu yang ‘seindah’ gue?”
Aku tahu persis, Mona memang senang menjadi sorotan publik. Ia dan perangai maniaknya memang tak lekang oleh waktu, dasar cewek kurang belaian!
Feruci tidak banyak bercakap sedari tadi, jadi aku melempar pandangan ke arahnya, mendesak penjelasan. Ia malah membalasku dengan sesapan kopi, kemudian menghembuskan nafas.
“Kamu ini seharusnya senang dan bersyukur,” mulailah ia, pasti akan mencerocos selayak Ayah pada umumnya. “Kamu memiliki keluarga yang perhatian ke kamu, menyempatkan waktu untuk datang disela-sela kesibukan kami.”
Feruci menyeruput kopinya lagi, kemudian ia melirik padaku penuh arti seraya mengejek, “keluarga lain mana ada yang seperhatian kami.”
“Pret!!” Aku berlagak menyulut ludah. “Perhatian apanya kalau yang kalian lakukan hanyalah mengolok-olokku!”
“Itu tidak mengolok-olok. Itu adalah …. bentuk kasih sayang,” Ades menambahkan. “Lagipula sekalian mengetes juga, sejauh apa seorang Gore yang pemalas ini bisa melaksanakan tugasnya sebagai ‘pelayan’? Bukankah itu …. menarik? Tidak pernah dilakukan? Siapa tahu di misi atau kerjaan selanjutnya, kamu bisa menyamar jadi pelayan sungguhan?”
“Jadi pelayan rumah juga kayaknya cocok, sambil bunuh waktu daripada lu gabut, ya nggak?” Levi mencerocos, disusul tawa kecil dari yang lain.
Alih-alih meredam emosi, kini aku disemprot menjelma bahan bulan-bulanan keluargaku. Nafasku naik turun seperti banteng kesetanan, sikap semua anggota keluarga yang kelewat kacau ini membuatku digempur muak. Dimakan frustasi dan dengki, aku memutuskan untuk pergi ke kamar.
BRAK!
Aku menutup pintu dengan kasar, melempar diri ke pulau kapuk, menutup kepala dengan bantal. Akhirnya aku bisa menyentuh ketenangan setelah sekian jam bertumbuk dengan kenyataan. Ingatanku melayang pada rentetan peristiwa penuh hina tadi siang, membuatku stress dan lelah.
Mereka semua sampai rela mengorbankan jadwal pekerjaan mereka, HANYA UNTUK mengejek dan menghinaku habis-habisan di sekolah. Mereka rela membuang waktu berharga mereka, hanya untuk tiga jam penuh dusta memperhatikanku saat festival. Aku semakin terpancing oleh dendam kesumat mendengar penjelasan mereka tadi. Mereka hanya ingin aku marah. Mereka hanya ingin mendobrakku, memancingku, dan membiarkanku kesulitan. Yang benar saja?!
Kedatangan mereka yang terlambat memang menjadi panggung megah sorotan pirsawan sekolah. Keterlambatan yang terjadi karena aku yakin seharusnya mereka masih punya urusan. Tapi astaga, bela-belain menyisihkan waktu hanya untuk menyiksaku …. Memangnya kalian tidak ada motif atau alasan lain yang lebih menarik, atau apa, gitu?!
…..
Kadung emosi surut, tiba-tiba secarik kata-kata menelasak masuk ke impresi.
Itu tidak mengolok-olok. Itu adalah …. bentuk kasih sayang.
Aku bergeming. Perlahan aku menyingkirkan bantal dari kepalaku, bangkit sebentar, menatap ke depan.
Sudut bibirku tertarik.
HAH! Sudah kuduga, keluargaku memang ‘tidak biasa’.
Bentuk kasih sayang, katanya? Kasih sayang yang ditorehkan dengan cara menghina dan mengetes kesabaran. Kasih sayang dihaturkan dengan menyisihkan sekian waktu yang mereka miliki untuk menyulut gejolak emosi yang membara.
Kasih sayang yang diberikan dalam relung ego, keji, dan durjana.
Aku bangun seutuhnya, duduk di atas kasur sambil terkekeh-kekeh seperti orang gila. Ades tidak salah. Untuk kata-katanya yang satu itu, ia tidak salah.
Keluarga lain mana ada yang seperhatian kami.
Kata-kata dari Feruci, kuakui masuk dalam gawang fakta. Siapa juga yang sampai segitu perhatian datang dengan anggota keluarga lengkap, sebagai serdadu yang siap merongrong dengan penderitaan hakiki? Ini adalah kelebihan keluarga baruku yang sama sekali tak setetes pun dimiliki keluarga lama.
Oh sial. Sepertinya perangai mereka tadi siang cukup merusak akalku.
Bentuk kasih sayang yang begitu ‘tidak biasa’, yang sangat ‘tidak bisa diprediksi’, yang sangat ‘keji dan berandal’. Oh tidak, ‘keistimewaan’ itu …. malah membuatku senang. Inilah kenapa aku memilih keluarga ini, bukan? Sebagai bentuk pelarianku atas kehidupan lama yang membosankan, menjelma kehidupan baru penuh adrenalin hebat mengacak jiwa.
Kuhaturkan nafas panjang, sudah kembali memeluk kestabilan emosi, menggapai kepala dingin.
“Jadi begitu, hm? Oh, betapa manisnya,” aku berbisik, melirik ke arah barisan bahan kimia dan alat uji coba pembunuhan yang sedang kukembangkan, seraya melukis seringai licik yang ganjil pada bibirku.
“Kalau begitu …. suatu hari nanti, aku pasti akan membunuh kalian.”
Ku bersumpah penuh dendam dengan udara dingin di sekeliling kamar sebagai saksi bisu, menyaksikan pernyataan cintaku yang paling dalam kepada keluarga yang kukasihi.
🍁🏢🍁
Commission Story Written by Sheville



Comments