Antagonis Manis
- LIN
- Jul 7, 2024
- 27 min read
Updated: Jan 27, 2025

Prologue :
Perlu waspada kalau sudah bicara soal wacana erotis. Kali ini lakon kita pandai bermulut manis. Manis tapi bisa bikin target mati secara bengis. Lagaknya seksi, mahir merayu para mangsa berkumis. Kita bakal menyelami cerita yang dijamin seru abis. Sini coba mampir ke red district NIDUS, tenang ini bukan wahana perlu karcis. Khusus mereka yang dompetnya gak kembang-kempis. Cerita ini mengupas banyak reka adegan intim sekaligus sadis. Awas kalau kamu berani baca tapi malah histeris.
───────────────────────

Sindikat kriminalitas pembunuh bayaran terselubung dalam sebuah ranah iconic. Orang awam pasti ngira kalau red district NIDUS isinya kawasan singgah buat melepas pelik. Aslinya banyak tokoh berpamor elit yang diam-diam jajan cewek cantik. Salah satu bar sekaligus markas bordil pada area NIDUS punya tema unik. Ornamen bangunan ini tersusun dengan interior Jepang klasik. Lampion gantung bertengger apik. Hiasan topeng kitsune dipakai sebagian remaja jual diri buat cari sensasi eksotik. Kita bisa lihat wanita di sini berpenampilan selayaknya oiran atau geisha, kulit mereka halus dengan wajah ciamik.
“Izin melaporkan, nyonya. Target kita sudah binasa,” perawakan usia muda, kepalanya nunduk sambil jaga intonasi bicara. Dia mana paham kalau si nyonya aslinya Asmodeus yang berkecimpung dalam pasar gelap manusia.
Petikan senar shamisen berhenti melantunkan melodi. Definisi pantas bagi Yuriko ibaratnya bulan tertinggi. Jangan harap bisa satu ranjang sama dia kalau kamu golongan kelas teri. Soalnya patokan harga Yuriko emang ngeri. “Apa kamu mau mencoba teh oriental buatan saya juga?” pelan, tapi mengintimidasi.
Sontak si lacur muda bergidik takut mati. “M-maaf nyonya. Tidak, terima kasih— saya pamit undur diri,” tercekat di penghujung adrenalin yang makin kehilangan nyali. Dia gemetar ngerapiin nampan teh sambil terbirit pergi. Akal cerdik Yuriko selalu mujur, taktik kali ini pakai cara menggiring korporat ke sarang bordil buat dikibuli. Lantas nyuguhin teh yang sudah terkontaminasi. Makanya jangan lancang sok menaruh curiga terus cari informasi. Asmodeus benci gerak-gerik mangsa tanpa perlawanan tapi gesit seperti predator penuh alibi.
Aku sebut ini sebagai racun berduri.
Satu tegakan, satu nyawa tereliminasi.
Surai ungu, sanggulnya kencang, wibawa elegan. Aksesoris di ujung tusuk kondenya berjumbai berlian. Figur oiran yang mustahil tergapai orang jalanan. Kuas lipstick ngepoles bilah delima pakai sapuan pelan. “Siapa gerangan yang lagaknya sok ngelawan. Aku jamin berujung kematian,” refleksi pantulan cermin menampilkan siluet Yuriko bermonolog sambil ketawa mengerikan. Nakas kosmetik berisi racikan. Banyak formula racun dengan efek fatal sanggup membunuh secara instan. Yuriko pandai berkutat dengan ramuan.
Makin malam, bar makin ramai dengan pria haus belaian. Awalnya mereka emang cuma ngehabisin botol sake, lama-lama jadi pingin dengar desahan. Di belakang gedung bar ada tempat khusus penginapan. Banyak bilik remang pakai lilin aroma terapi, jalang di sini siap buat kasih pelayanan. Tunjangan fantastis dari kolega penting juga para jutawan menyokong perdagangan sesat Yuriko, persetan dengan saingan. Pihak mana yang berani gali-gali kebenaran? Relasi Yuriko kuat, jumlah pekerja tersebar luas bukan sebatas bisnis recehan. Mulai dari prostitusi hingga jual beli organ. Anak-anak haram dari rahim pelacur dipekerjakan.
Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Puncak keemasan mampu diraih tanpa keluhan sama sekali. “Gimana soal senjata? Beres ditangani?” Pernikahan Yuriko beberapa tahun lalu dengan seorang penyuplai senjata jadi batu loncatan tersendiri.
“Stok senapan akan datang di dermaga malam ini nyonya,” kaki tangan di bidang kombat makin banyak terjalin. Yuriko gak salah ambil pilihan. Sebab figur bersurai biru sebatas pinggang— suaminya itu notabenenya pembunuh bayaran. Merangkap sebagai pebinis bar di berbagai kawasan.
“Tuan, gak mampir menginap sekalian? Kita akan melakukan sebuah tarian,” geisha muda lain memanggil pakai nada manja terus berkedip genit haus belaian. Awak karyawan Yuriko, pria-pria berpenampilan preman. Mereka telan ludah, udah nengok sana-sini soalnya parfum para lacur itu mirip feromon kemaksiatan. Nada khas kecapi disusul senandung lacur menyisir kegelapan.
Dikomporin biar seru, prinsip Yuriko semakin banyak mangsa terjerumus maka bisnisnya kian menjanjikan. “Jangan sungkan. Bukan masalah hanyut dalam kenikmatan,” bisiknya pelan. Emang dunia udah gila, aslinya pria kekinian kalau digoda dikit udah oleng sambil celup sana celup sini pecicilan.
Coba deh, sekarang kita bicara empat mata. Apa yang bisa kalian harapkan kalau terlahir dari rahim pelacur tanpa kejelasan silsilah keluarga? Bokap gak tau siapa. Nyokap doyan ngangkang sampai kadang anaknya sendiri dia lupa. Ini dia alur cerita utama kita. Lakon kali ini bakal ngubah nasib, sekalipun label anak haram melekat dalam garis hidupnya.
───────────────────────

Daruma di pojok ruang bergoyang, lonceng patung neko bergema selaras pelayan melaporkan kejadian. Hari ini ada satu sumbu perkara yang jadi sorotan. “Lokasinya tidak jauh dari NIDUS, gang hunian para pelacur. Jasad tewas dengan kondisi babak belur. Diprediksi sudah jadi mayat selama beberapa hari,” dia sodorkan berkas evakuasi, menanti titah Yuriko.
“Bergegas. Jangan sampai terendus pihak berwajib. Bereskan kegaduhan,” surainya tergerai bebas, Yuriko ambil langkah gesit buat tangani kejadian gak terduga kayak gini. Bisa jadi ada hal-hal yang berhubungan dengan bar mereka sebagai barang bukti. Malah panjang urusannya nanti.
Pirsawan baca harus siap mental kalau kita ketemu sama lakon cerita. Narasi sampai pada lajur kisah di mana Yuriko berhasil datang ke lokasi utama. Tempo perjalanan dilibas cepat, terpayung purnama. Ternyata pintu hunian korban terkunci, bau bangkai berpadu anyir getih menyeruak jijik bikin pening kepala. “Dobrak pintunya, pecahkan juga jendela.”
Usut punya usut jasad korban teraniaya perkara rumah tangga. Suaminya bajingan mokondo yang gak segan main kekerasan buat nuntasin perkara. “Nyonya, putri mereka masih hidup,” sebatang kara, kering kerontang dengan tulang rusuk menyembul ketara. Gak ada respon tanggap, dia mengais makanan sisa. Pias pasi menelan getir rasa daging kadaluwarsa. Sembunyi di balik rak dapur, kumal banget terus tremor ketakutan kena pengaruh trauma. Lihat ibunya mati di depan mata, jelas bocah ini udah rusak secara logika.
Selagi ada kesempatan, buat apa disia-siakan? Yuriko pikir si bocah bisa dipekerjakan. Hitung-hitung bibit jalang baru, atau paling mentok semisal dia ringkih kemudian sakit-sakitan, organnya bakal dijual jadi keuntungan. “Hei gadis cilik, siapa namamu?” pasang senyuman. Yuriko handal kalau soal curi perhatian. Tapi agaknya si bocah gak mengemban kelayakan pendidikan. Dia bahkan sukar mengeja nama sendiri, terkesan acak-acakan. Tipikal anak haram dianggap sampah buangan. Dari identitas yang ditemukan. Bocah itu ternyata usia 11 tahun, kurang wajar kalau dia juga gak bisa baca kartu nama Yuriko, malah bengong kebingungan.
Merotasikan bola mata, Yuriko malas bertele kalau udah bicara soal kebodohan. “Amankan dia. Aku bisa gunakan si bocah jadi objek percobaan,” formula racun Yuriko bervariasi jenisnya, mudah kalau dia mau jadikan gadis ringkih itu buat uji reaksi bahan-bahan mematikan.
Tapi kadang yang mulanya kayak figuran. Bisa jadi nyimpen kejutan. Tunggu aja gimana si bocah ingusan, malah sanggup bikin Yuriko kesenangan.
───────────────────────
Kuas tinta tergores cekatan, gila nih bocah kesurupan? Habis diberi materi calistung asal-asalan sama karyawan Yuriko, berbekal coretan kuas dan kertas sobekan. Eh, dianya malah bisa nulis sederet kalimat tanpa kesalahan. Udah gitu daya ingatnya bukan sembarang kamu remehkan. Alfabet tersusun rapi pada barisan lembar pembelajaran.
Lancar membaca tanpa tunggu kelamaan. “Yu— Ri— Ko,” tepuk tangan. Kita yang udah bangkotan aja kadang udah baca alamat masih suka keliru ingatan.

Surai merah jambu dia paling mencolok seperti kelopak sakura di antara debu-debu jalanan. Telapak menyapu pipi, Yuriko bisa paham satu keunikan. Bocah ini punya kelebihan. “Sakura. Itu nama kamu sekarang,” sudut bibir menyeringai culas, Yuriko pikir Sakura bisa jadi bahan permainan. Dia mau tunggu dulu sampai kapan Sakura bisa bertahan. Suasana bar dan pergaulan NIDUS kerap bikin orang yang kurang punya keteguhan. Bisa jadi setengah gila karena kecanduan.
Yuriko pergi ketika panggilan klien tersohor hadir, ada sebuah urusan. Ini dini hari, Sakura tidur di kamar lantai bawah penginapan tempat anak-anak haram masih dalam tahap penyeleksian. Futon miliknya agak keras, tapi dia enggan protes atau melawan.
“Kamu mau ke mana? Di luar betulan ngeri, wanita-wanita itu terlonjak seperti binatang,” teman sebaya Sakura menahan pergelangan. Entah gimana dia bisa nekat, mengendap pergi pingin ngebuntutin Yuriko buat jawab rasa penasaran.
“Maksudnya, mereka mendesah sambil pasang ekspresi keenakan?” frontalitas Sakura ngundang wajah terkejut si teman.
Terus gadis sebaya itu ngangguk meratapi nasib terpaksa nantinya akan dipekerjakan. “Emang udah bukan hal tabu kalau di sini sarangnya perzinaan.”
Bukan nyeleneh lagi, Sakura gak berpatok sama asumsi moral. Dia justru antusias, pendar netra berbinar sambil loncat kecil. Katanya. “Kalau gitu aku mau lihat! Pingin 'belajar' hal baru lagi,” konotasi negatif dari daya tangkap cerdas Sakura ternyata juga condong ke sesuatu yang buruk.
Antagonis manis kita akan segera beraksi!
✧ ✧ ✧

Tatami di balik kerangka shoji pintu geser setiap bilik penginapan tercecer bercak basah. Siluet wanita-wanita itu terpantul dengan tungkai dibuka lebar. Sakura melewati lorong penginapan, desah mengudara samar berjubel terdengar rungu dari tralis ventilasi. Semakin dia naik ke atas, eksterior koridornya juga kian megah. Sejalur lapisan kayu porselen di ujung penginapan, ada satu pintu berukir emas agak terbuka. Sepi sekali di sini, atensinya berlabuh pada aroma parfum maskulin. Ayahnya gak pernah pulang ke rumah dengan wangi seperti ini. Dia nyelonong masuk tanpa permisi.
Tegap, pundak berlapis jas berkelas. Surai klimis pegang beberapa berkas. Doi udah ada di samping sofa sambil nyiumin aroma parfumnya, terus gak sengaja ketahuan karena suara napas. “Apa? Seorang bocah? Aku gak ingat Yuriko bakal ngejanjiin sesi pelayanan,” temperamental, bicaranya gahar. Urat pelipis mendidih dengan gurat dahi berkerut gundah. Dia banting dokumen-dokumen itu sampai berserakan, gumpalan asap cerutu menguar.
Sakura pernah lihat situasi seperti ini. Walaupun dia kurang paham pria tersohor itu mengumpat pakai bahasa asing, tetapi Sakura yakin ada satu cara jitu buat menangani. “Wangi. Kamu yang terbaik hari ini,” pinta manja, dibuat nada merajuk sampai mangsa kita pikir dua kali. Apalagi Sakura berani pegang jambang kasar si target terus dilanjut berbisik seksi.
“Gimana kalau aku bantu masturbasi?” enteng betul, dikira kayak nawarin jajan ciki. Dia ini bandar ekstasi, habis ngajuin negosiasi sama Yuriko perkara jalinan relasi.
Telapak menjalar dari sebatas usapan ke garis rahang menuju jambang di sisi lubang telinga. Gurat lugu Sakura menyertai lagak mahir menggoda buat anak seusia dia. Merangkak ke pangkuan, puncak hidung berkelana dari dagu ke ceruk leher si pria. “Jalang kecil. Kamu berbakat soal hal ini,” lengan melintang kokoh di sisi panggul Sakura. Endusan seduktif menyulut nafsu, dia hirup aroma parfum maskulin yang makin lama tersisip sangit abu cerutu. Telunjuk buat pola abstrak di area dasi, Sakura lepas simpulnya secara tiba-tiba.
“Ini pasti hari yang lelah ya, tuan? Tapi ada aku yang bisa langsung kamu pakai,” afeksi tersampaikan. Mulut manis, pandai bermuka dua dengan akting dibuat-buat seolah memanjakan. Tempo lalu pikirannya merekam bagaimana cara Yuriko tersenyum, sekarang Sakura praktikan.
Gairah melambung ke ubun-ubun, si pria sigap main agresif mendaratkan cumbu. Gelenyar panas berkerumun, lingua bertaut saling lilit seperti kias sensual. Balur saliva terjilat mesum pada gerakan bibir di setiap pagut, Sakura terbuai libido. Naluri bergerak tanpa canggung, kuku mengais garukan nakal di sekitar garis leher dekat jakun. “Mngh— ah- mmh...” dawai nafsu mengundang desah lolos tatkala telapak kasar pria itu bermuara pada puncak payudara. Masih belum begitu terbentuk sekal.
Terkesiap nikmat, kepala mendongak. Juntai liur bergulir ke dagu, bias netra sayu. Gundukan piston jantan digesek ke paha Sakura, pelan tapi mencipta kesan bergidik merinding dengan imajinasi vulgar. Surai lengket di bagian dahi— poni teracak seksi. Dia terjamah begitu lancang, kimono melorot sampai batas siku. Sundulan puncak lidah pria itu meliuk kenyal dengan pola mahir menyenggol titik ranum puting. Puting mencuat Sakura dipelintir vulgar, rangsang menjurus ke arah leceh. Tercubit— disentil, pun tak ayal tersedot mesum. “Ahng... iya— lebih basah lagi, nggh...” membusur binal, Sakura terpejam nikmat diguyur stimulus geli-geli keenakan.
Cerdik, lakon kita juga tidak pasif. Malah tindak-tanduknya piawai mempermainkan sugesti manipulatif. Omongan semacam ini hal tabu yang gak logis anak sepantaran Sakura bisa katakan. Dia meniru, pengalaman pernah mendapati ibunya diam-diam masih terima pelanggan. Jadi lacur panggilan, bawa pemuda main ke rumah saat ayahnya pergi keluar tanpa kejelasan. “Yang seperti tuan gini tiap pulang ke rumah kalau jarang dilayani istri, sayang sekali...” sejenak jeda, tangan berani tangkup titik vital penis di balik setelan satin. “Padahal kan tuan juga butuh ngelepas penat. Jadi aku bakal bantu dengan sepenuh hati,” Sakura terkekeh gemas di ujung kata, nyuguhin tubuh setengah bugil.
Perangai licik, tingkah pandai berkamuflase.
Dasar pembual cilik bisa saja bikin pria kegirangan. Bersimpuh di tengah paha, gigi depan Sakura tarik turun zipper pakai tempo lamban. Kepulan napas panas berjubel memenuhi atmosfer ruang, dia tiup puncak penis sebelum pangkal zipper benar-benar leluasa terbebaskan.
“Mhm, udah tegak banget— pasti gak sabar? Sini kenalan dulu pakai ciuman,” kulup penis dijilat melintang, lubang uretra Sakura cumbu dengan kecupan-kecupan geli. Dia mau lihat, seberapa bengkak penis ini kalau makin ereksi? Tidak muat tergenggam satu tangan, pola masturbasi dikocok seksi. Lajur urat bergeronjal gagah, insting leceh menuntun Sakura menjalar ke area testis berkedut— dia remas selaras penis ditempelkan ke pipi.
Ruas jemari Sakura membingkai struktur menjulang batang berdenyut yang tergenggam. Tetes liur berlumur licin di ranah sensitif penis, berawal dari puncak kepala hingga gesekan bibir Sakura membalur saliva ke testis. Debar memburu, adrenalin terpacu. “Agh— mhm.. di situ, gadis manis,” tepukan di kepala Sakura menyertai satu jambakan sensual.
Fantasi liar melipir di pikiran.
Dari sebatas kocokan.
Sakura ingin menyesap dengan kuluman.
Permukaan atas lidah menyapu elusan ke sisi batang, awalnya terkesan asal-asalan. Setelah Sakura dengar sebuah pujian. “Lihat, ini vulgar. Kamu makin cantik kalau ngocokin penis sambil dijilatin gini,” yang ada Sakura makin kecanduan. Udah dibilang, waras itu opsional kalau syaraf otakmu terlanjur salah nangkap pengertian. Dia pikir memang segala hal soal intimasi memang asik dilakukan.
Ujung lidah menyusuri jalur urat, bibir menyesap lembut puncak kulup. “Mmngh... ahng—” vibrasi gumam desah tertahan Sakura menjalarkan gelenyar statis, bilah kenyal jilatan lidah mengawali satu hisapan. Batas kepala penis digelitik gulir sundulan, selanjutnya melilit sensual. Sundulan mahir, dia gesek secara konstan. Terkulum binal, piawai menjejal sumpalan oral sampai tersedak liur di penghujung sentakan.
“Oghh... uh—ong- hmf—” kerongkongan perih, sisa pangkal penis gak muat tertelan. Spontan, Sakura makin kelabakan. Paha gempal pria ini sengaja mengapit lehernya biar makin tertekan. Saliva bercucuran di dari sela rongga mulut menjuntai di setiap sodokan. Pelupuk Sakura merebak air mata, rungu berdengung, pandang buram di setiap hantaman penis bengkak menohok gesekan. Ekspresi dibuat hilang akal, oral seks meradangkan libido dengan gerak jantan. Sensasi tersedak sekaligus rasa pening berdenyut nikmat menuai ketagihan.
Pekik feminin menahan sirkulasi napas. Relung keruh selaras intensitas gairah makin panas. Pipi menggembung, hidung kembang-kempis, lututnya yang bersimpuh sudah kebas. Reflek bola mata bergulir juling ke tengah, friksi kedut penis kian bengkak berdenyut penuh sesak. “Ekspresimu mirip betina pingin dikawini,” sahutan cabul terlontar di sela reka adegan porno.
Sakura hampir ambyar, batang hidung menabrak bulu halus lantas dagu digempur zakar memberat. Tepukan epidermis menggema, bilur nikmat tercetak dari rupa bercucuran peluh yang termegap kewalahan. “Mnghfh.. huff— angm...” lembap, rongga mulut Sakura sanggup memanjakan tonggak perkasa seorang pria dewasa.
Carut-marut.
Detak-detik kotor menjemput klimaks, kedut mulai acak-acakan. Sakura mendengung lega, terselip lenguh seksi saat ejakulasi dahsyat mengguyur kental air mani ugal-ugalan. Banyak, tumpah ruah mengalir sampai dia terbatuk usai menuntaskan sisa kuluman. Lidah terjulur, seolah bangga menunjukkan. “Aku telan semuanya,” belum selesai, ternyata si pria masih punya sisa semburan.
Parau, napasnya tersengal kemudian berkata. “Sial, ekspresimu masih terngiang. Agak mendekat,” dia sodorkan penis untuk melegakan muncratan. Tercecer kental di hidung, jejak putih menjuntai ke pipi hingga sebagian luber pada sela surai, geraman jantan menuai kepuasan. Visualisasi Sakura dengan bingkai lugu ternoda sapuan lengket air mani benar-benar memesona.
Aromanya khas, bergumpal kental. Ujung surai Sakura tersisip tetes sperma. Terlalu hanyut dalam palung gairah, keduanya mana sadar jika sejak menit pertama Sakura menggoda— ternyata Yuriko sudah bersedekap dada. Sakura menyeka sisa tetesan kental di dagu, masih terlena setengah sadar berusaha menumpu lutut berdiri. Girang, dia tunjukkan kedua telapak mungil yang licin bersemu kesan bening dari air mani.
“Wajah tuan itu sekarang tidak lagi meletup-letup kayak mau marah. Berhasil aku redain buat nyonya!”
───────────────────────

Genit jadi definisi pantas buat gelagat Sakura. Dia pandai merajut komunikasi sejak dibiasakan punya agenda belajar membaca. Tersemat pita hitam dengan jumbai renda. Cantik, bertengger manis di bagian belakang kepala. Gores pensil eyeliner dia tepatkan pada sudut mata, mengikuti pola Yuriko yang duduk bersila di depan kaca. “Ini udah bagus belum ya?”
“Cantik, Sakura. Bagus, tapi aku mau nanya. Kira-kira apa alasan kamu godain klien tempo hari?” Yuriko serahkan kanzashi perak berjumbai, terus dipasangin Sakura ke sisi sanggul, posisi agak miring.
Dia ketuk dahi, ingat-ingat kelakuan orang tua. Terus bilang kalau ibunya kerap melangsungkan hal intim tiap si ayah murka. “Kadang ibu langsung ciuman di depan kamarku. Aku juga pernah lihat mereka melakukan aktivitas seksual di sofa ruang tengah, ibu pandai merayu lho. Setelah itu alis menukik ayah gak bikin pola kerutan jelek, langsung tenteram batal nyiksa.”
Simpul obi motif bangau hasil tangan cekatan Sakura melintang rapi. Sakura punya akses buat leluasa menapaki NIDUS dan melihat bagaimana pergaulan di sini. “Apa aku ada misi?” belum apa-apa sudah penasaran soal apa yang akan terjadi.
“Belum, emang kamu gak kepikiran pingin kabur dari sini?” jahil, Asmodeus pandai mengombang-ambingkan perasaan dengan intuisi. Dia coba pancing keinginan Sakura yang mungkin masih tersembunyi.
Di luar nalar, si bocah malah geleng kepala sambil bicara tentang opini tidak sehat. “Lagian oral seks yang kemarin enak. Dia bilang aku berbakat,” orang sinting mana punya anggapan kalau pandai memanjakan klien dengan tubuh harus dibikin makin giat.
Yuriko beringsut pergi, dia tinggalkan pesan ke Sakura. “Ikuti insting natural yang bikin kamu paham tentang dunia. Sekalipun kamu bakal terjerumus ke jalur kenikmatan raga.”
✧ ✧ ✧
Hinakazari bergoyang diterpa sepoi, menjelang petang terpayung bibir langit menenggelamkan matahari. Sakura baru paham kalau ada zen garden oriental, dipenuhi pelanggan bar pada halaman belakang penginapan. Dia kira mereka bincang sambil menegak kopi. Ternyata beberapa oiran gak segan berhubungan badan, menyibak kimono mereka tanpa bawahan celana dalam. Seorang wanita belia tampak terpejam berdiri di dekat bonsai kolam koi, satu tangan menutup muka dengan kipas lipat. Cagak bambu jadi pegangan, tersentak beringas membias desah mesum. Makin angkat panggul ketika figur pria kaukasia menyulut tamparan sensual di pipi pantat.

Ada lacur bercumbu di balik jajaran payung antik pada sudut taman, kaki bertumpu di dinding sambil menyibak bra. Bilur nikmat meresap pada raut muka, pagut lembap meloloskan kecipak basah. “Nngh— mnh...” mereka tidak peduli etika asusila, santai saja bersenggama.
Sakura melihat rentetan cabul ini. “Ah sayang sekali... menetes di rumput,” monolognya, lihat segumpal bulir mani pria tercecer. Dia sentuh bibir dengan telunjuk, fantasi kotor muncul seperti reflek alami. “Harusnya bisa aku telan,” sambil menyempitkan paha, sudah berkedut tersulut nafsu lihat pemandangan erotis di depan mata.
Monolog itu terdengar oleh seorang pelayan yang mengantar kudapan. Dia tatap Sakura dari tumit ke ujung kepala, terheran-heran. “Barusan kamu bilang apa?” dia pastikan. Siapa tahu salah dengar, apalagi untuk bocah baru menapak ke NIDUS yang masih jauh dari usia patokan. Masa iya sih ada anak punya pikiran sekotor bajingan?
Memiringkan kepala lucu, lagak Sakura gemulai. Ada persamaan melekat dari Yuriko secara transparan. “Aku bilang kalau sayang menetes ke rumput. Kan bisa aku telan,” lagak bicara lugu tapi penuh penekanan. Dia gemas, serius gak bohong. Namun ada syaraf otak yang keliru, perlu dibenahi.
Pelayan itu berkedip gak percaya, berusaha mengalihkan pikiran. Usai bergegas beresin pesanan kudapan. Dia tarik Sakura masuk ke ruang rias para lacur yang menata penampilan. Diperhatikan lebih jelas dia baru sadar, bocah ini putri pelayan lain yang mati teraniaya si suami hingga tewas mengenaskan. “Kamu harus ngerti. Arti bersenggama gak boleh dilakuin sama sembarang orang,” pucuk kain hangat terusap di pipi belepotan sisa kue mochi Sakura.
Lacur lain ikut andil, tergerak hatinya untuk meluruskan jalan kebenaran. Mereka anggap Sakura masih terlalu muda untuk menghadapi kengerian. “Kamu cantik, alangkah baiknya kalau nanti ketemu sama orang tercinta. Baru boleh ngelakuin hubungan intim, paham ya?” nada membujuk, sekantung permen diberikan.
Sudah dibilang kalau terlahir jadi antagonis. Pasti dikasih tabiat baik juga bakal tetap bengis. Penutur para pelayan dan jalang itu dianggap Sakura terlalu dramatis. “Tapi aku tetap pingin belajar soal sensualitas. Menyenangkan bisa buat pria takhluk karena pandai memanjakan vitalitas!” ngomongnya ceriwis.
Yang lain terdiam sambil ngebatin kalau Sakura ini ironis. Masih kecil sudah mengendus aroma seks hingga timbul pandangan skeptis. Tapi di satu sisi, mereka juga gak bisa memberi saran agamis. Toh ini bar dan penginapan bordil yang isinya para pendosa sarang iblis.
───────────────────────

Semilir harum feminin menyeruak dari semprotan parfum Sakura, dia berlagak gemulai di depan kaca. Kilat netra bersemu nafsu, Sakura menapaki bilik dengan aroma terapi di depan tirai ranjang istimewa. Dia tahu, ini klien Yuriko, pria itu tengkurap dengan handuk kimono selaras menanti belaian raga.
Insting vulgar dari dasar naluri Sakura lagi-lagi ambil kendali. Minyak herbal di sudut nakas dia teteskan secara seksi. Melucuti kain handuk hingga sebatas pinggang, lantas duduk mengangkang di atas punggung si klien dengan lagak mengundang birahi.
“Hari yang melelahkan, ya?” terlumur sensasi hangat juga tekstur licin memanjakan epidermis. Pijat lembut menekan pundak, menjalar bias nikmat dari reaksi klien yang melenguhkan napas lega. Ide mesum menyulut aksi bejat. Intens, perlahan namun pasti sapuan telapak Sakura menjalar ke bagian bawah.
Dari pijatan.
Berubah jadi elusan.
Celana dalamnya basah digesek selaras bulir minyak melintang di garis tulang punggung, desah tertahan. Sakura sundul klitoris dengan gerak leceh, dia suka jika pria incaran berhasil masuk ke jebakan. Ujung jemari bermuara pada daun telinga, bisiknya menuai ajakan. “Ada yang perlu aku pijat sampai tuan keenakan,” pakai intonasi mendayu, sekat baju atasan dilonggarkan. Payudara sengaja dibuat menyembul kulit punggung tanpa batasan.
Seduktif, aksi mulus Sakura menyulut nafsu. Beranjak ubah posisi, kini Sakura terduduk bertumpu lutut di sudut ranjang sembari berbisik lugu. “Aku sudah menunggu,” penasaran, siapa gerangan lacur dengan suara muda yang mahir merayu? Saat pria itu menyelaraskan posisi terlentang, pagut lembap menyambut bilah ranum, empunya terpejam sayu.
Melumat lihai dengan tarian lidah, merogoh basah hingga ke langit-langit mulut. Legit juntai saliva tercecer nakal, selanjutnya bermuara pada gigitan lamban menarik bibir bawah. Kepulan napas menguap, atmosfer ruang makin panas. Desah lolos mengiringi lajur lentik jemari Sakura, berlabuh manja ke bisep pria yang ikut hanyut terbawa adrenalin. “Mngh— ngh...” debar memburu, Sakura tangkup sisi rahang tegas, penis tergerak ereksi di sela adegan mesum.
Gemeletuk gigi bertabrakan, Sakura suka bagaimana pria ini punya motorik tangan yang cakap menangkup sekal pantatnya. Cumbu terlepas di ujung relung sesak mengais sirkulasi udara. “Ahm... hn— mph...” atensinya menyita logika. Gelenyar elektrik seakan meletup geli saat jemari pria ini tergelincir masuk ke liang vagina.
“Aku kira kamu Yuriko, perangaimu mirip. Tapi, apa ini? Surai merah muda, tubuh belia. Siapa namamu?” digerus lancang, menjamah kedut dinding basah dengan rotasi jari tengah. Intensitas rangsang melonjak, Sakura tamatkan netra biru pria Eropa yang berkilat melecehkan. Gurat libido tercetak ganas.
Jilatan agresif Sakura menyisir ranah sensitif di area leher, lidah berkelana pada tonjolan jakun. Mendamba tubuh jantan pria ini tanpa celah sedikit pun. “Malam ini gak akan aku biarkan melamun. Soalnya kamu ketemu sama aku— si cantik Sakura yang bakal bikin kamu terkagum,” intonasi lirih dengan lagak anggun.
Lubrikan basah mengalir dari sela liang, bercucuran lengket sembari mendongak nikmat saat titik vital dirogoh jemari. Pandang Sakura berkabut lekas ingin disetubuhi. Melontarkan kata kotor sambil tercekat desah. “Uhng— ah... lagi. Lebih, aku pingin dikobeli,” pinta frontal terucap seksi.
Pria ini gemar mempertontonkan aksi di depan publik, Sakura digiring ke balkon dengan posisi panggul terangkat menungging. Kewarasan hilang, tersisa opsi gila. Bukan gemetaran panik, Sakura kian tertantang, tak segan angkat satu kaki di atas tralis pembatas. Ikut mengumbar kedut ranum. Denyut jantan kulup dicelupkan main-main, zakar memberat saat pangkal keras penis seperti cagak tegak menjejal gesekan urat. Kontrol melewati batas, penetrasi liar disentak sekali hantam menohok gagah.
“An— ngh... mmph-” membusurkan tubuh, tertohok nikmat dengan rasa pedih berpadu geli merayap konstan. Otot menegang, netra bergulir ke belakang diguyur rasa keenakan. Sempoyongan, hilang keseimbangan. Gempuran liar tanpa aba melaju dengan tempo berangasan. Tetes liur menjuntai kotor selaras pekik lolos tak tertahan.
“Hang... ah! Sekalian aja, pingin dirusakin— u-ogh... gyah—” Kembang-kempis mengatur sirkulasi napas, rasanya seperti digilas penis sampai ke otak. Lentik jemari merayap pelan, telapak mengusap tekstur tonjolan penis menyembul pada ranah bawah pusar. Pipi pantatnya ditampar nyaring, lantang meloloskan desah. Menyingkap sisa kimono. Bersemu padam dengan ekspresi hilang akal.
Adegan vulgar bersenggama.
Diterpa semilir angin malam tanpa busana.
Orang-orang di bawah sana bergumun, sebagian dari mereka tutup mulut tidak peduli. Ada yang buru-buru pergi. Pula, beberapa lacur sadar jika itu klien penting Yuriko yang tidak seharusnya lancang dilayani. Fantasi nyeleneh dalam diri Sakura mendesah lega, suka jika orang melihat dia menyuguhkan tontonan sensual tanpa malu dipergoki.
“Tubuh kamu ini pantas dicabuli. Kamu memang terlahir buat buka tungkai lebar terus disenggamai,” sarkasme leceh tidak terekam rungu dengan jelas, Sakura terlonjak belingsatan. Tercelup, ditarik, tercelup kemudian disentak tanpa aturan. Lantas geraman gagah dengan denyut zakar terasa memberat parah, klien ini hampir menjemput klimaks.
Sundulan gagah itu menonjol di perut bawah, mengusik rahim sampai pening kepala. “Ahng— ah! Ah- mentokin lagi! Lagi...” mengangkang terekspose bak jalang birahi, mengusut citra paling binal yang sanggup digempur penis, terhajar brutal dari liang merekah tersentak tanpa jeda.
Puncak candu digapai dengan sentakan ugal-ugalan. Carut-marut sampai Sakura kelojotan. Dari tumit hingga kepala bergetar nikmat sampai kelabakan. “Ha— Ah! Banyak— makin bengkak, penuh...” kedut bengkak penis bergesek dengan pijatan lubang menjejal rasa keenakan. Tumpah ruah berjubel menyembur telak, Sakura oleng, terhuyung-huyung ke belakang sebab tungkai gemetaran usai otot menegang kepayahan.
Perkasa, sanggup melumpuhkan mangsa. Sakura hanyut dalam candu bersetubuh. “Hng.. masih terasa kedutan,” melantur agak oleng, bicara sambil menekan perut bawah. Paha merapat gel-geli keenakan, liang vagina merebak merah.
Terkatup — Menganga.
Orgasme dahsyat muncrat ke sela tralis balkon, titik legit di dalam vagina bercucuran lengket. Hampir terkencing, sensasi gelitik berjubel memenuhi seluk dinding liang. Bilur nikmat dari bekas cengkeraman panggul meninggalkan jejak ruam, Sakura ambruk, obsidian menangkap siluet Yuriko di bawah. Bertatap dengan seringai culas, bukti nyata seolah berkata jika dirinya juga bisa semena-mena.
✧ ✧ ✧

Semaunya tanpa batasan. Dia sebut ini sebagai kebebasan. Tapi akhirnya Sakura kebablasan. Berujung pingsan kelelahan. Netra membias cahaya, bisik samar menyertakan satu utas nama kala kelopak mata mengawali kesadaran. “Sakura,” kelopak wisteria ditumbuk pada cawan petri, sejumput bisa fauna melata Yuriko teteskan lewat pipet silikon. Ruang kamar ini milik Yuriko, reflek lakon cerita kita terduduk bingung.
“Fisikmu letih semalam, ruam itu menjalar di permukaan epidermis. Jangan sembarang ngasih akses klien terlalu bebas,” cekatan mencelupkan ujung runcing jarum dengan hasil racikan racun. Yuriko sematkan ke belakang pengait anting tanpa jejak mencurigakan.
Posisi saling berhadapan, Yuriko serahkan perkamen lukisan intim dengan pola senggama. Seperti bacaan kuno, isinya teknik merayu pria dengan ilustrasi vulgar. “Kalau mau mereka luluh. Jangan sungkan buat bikin gebrakan,” kuku telunjuk mengangkat dagu Sakura. Intimidasi Yuriko terkesan menggoda sekaligus disegani.
Kemudian mengikis jarak mendaratkan satu kecup pipi lembap. “Lihat, kan? Kamunya tertegun, antara penasaran tapi gak bisa melawan. Ini namanya daya pikat,” bahkan nada suara diolah sedemikian rupa. Bisikan Yuriko punya nada sengau yang bernafsu, seperti serak basah tapi menggugah gairah.
Sakura sentuh pipi oiran yang merangkak maju, tubuhnya direngkuh dengan gerak-gerik tertata. Surai Sakura tersibak jemari, Yuriko menyisir lembut bersemu sudut senyum memancarkan pesona. Wanita dewasa pandai bersiasat. “Masih perlu banyak belajar. Aku bisa dampingi kamu sebagai oiran termuda mulai saat ini,” ekspresi Yuriko terpancar berubah-ubah, dari sorot serius penuh ketegasan. Selanjutnya bisa beralih memelas, alis melorot sedih, dibikin sesuai emosi.
“Aku? Oiran...” situasi masih dicerna. Siapa sangka? Yuriko tertarik melihat sebagian pribadinya tercermin dalam diri Sakura. Potensi yang berhak dikembangkan dalam kegelapan juga indikasi bibit unggul.
Hening.
Menit berikutnya Sakura terkekeh gemas mencakup pipi Yuriko, baru kali ini jiwanya seolah kembali hidup dari keterpurukan nasib. “Aku mau, pingin jadi sehebat nyonya. Tolong bantu aku,” tukasnya menggebu. Disambut elusan kepala.
“Aku bisa bikin kamu menguasai dunia. Kedengaran luar biasa, bukankah begitu Sakura?” kilat ambisi berkobar dari pendar netra. Sama-sama licik, punya kemiripan perilaku bejat. Yang satu pandai menjerumuskan manusia. Sedang si belia— Sakura, punya logika tidak beres yang mau mengejar kenikmatan raga.
───────────────────────

Harta? Masalah seujung jari kelingking mudah didapatkan Sakura kapan saja. Derajat pelacur lain di penginapan tersungkur tidak setara sama dia. Bayangin deh sekarang, dia dicetuskan nyonya sebagai oiran termuda. Pun, bukan sembarang pria bisa habiskan satu malam intim dengan Sakura. Yuriko sendiri yang punya kuasa. Dia seleksi siapa saja klien berstandar memenuhi kriteria. Sakura pandai memancing mangsa. Yuriko kerap mengumpankan Sakura bagi target yang sukar digoda.
“Ha— amh... ang-” narasi kita tersulut libido di puncak purnama. Malam liar dua raga bergejolak saling gesek, Sakura dirajam penis mendobrak ceruk liang sampai tersedak. Gelombang panas menyeruak, lubrikan lengket beradu decit ranjang. Klien kali ini tercatat sebagai buron Yuriko dan harus binasa.
Ekspresi Sakura menuai kesan drama. Akting mahir mengubah mimik rupa. “Ayo dong, cuma segini kamu bisa genjotin aku?” dialognya punya pikat daya. Persuasif sekaligus manipulatif, menjerumuskan pria ke dalam lumbung zina.
Gertak tertahan, emosi meledak selaras hantaman brutal menjejak telak ke liang vagina. Buas menerkam Sakura, belingsatan mengais sodokan perkasa. “Ahng— ah- ssh... mng—” gigit bibir, main puting disodorkan ke depan mulut pria yang menganga.
Tingkah makin binal, watak pandai berkamuflase dengan tutur kata menjerat pria. Yuriko dalang dari skenario mesum gelagat Sakura makin mahir menggoda. Belajar meniru posisi seks, kendalikan raut wajah sampai menyuarakan rayu maut bikin leleh terlena. “Penisnya terasa enak, sayangku?” bukan main belia ini nyari celah pakai obrolan frontal bawa-bawa alat kelamin pria.
Becek.
Interupsi mendadak, ketukan pintu mana mungkin kedengaran kalau dua orang dimabuk senggama. Sakura goyangkan panggul dengan rotasi mahir memutar pangkal piston jantan. Bulir klimaks menjejal ruah di sela liang, berjubel tersembur. Pria berbisik melecehkan bicara soal pijatan vagina. “Ejakulasi kali ini sensasinya luar biasa,” menuai goda dengan lidah terjulur masuk ke lubang telinga Sakura.
Sebelum ajal memaksa tumbang di depan mata. Klien bertato ini kejang dengan napas tersengal payah. Efek racun Yuriko yang ditegak dari sake sebelum sesi intim mulai terasa. “Rupanya kamu lengah. Masuk ke sarang bebuyutan tanpa curiga,” dia sambar lapisan tisu, gumpalan air mani digosok bersih.
Yuriko masuk usai target menggelepar tak berdaya. Bungkam sebentar, lihat Sakura tidak berhenti menahan tangan korban secara romantis. Digenggam lantas tercumbu di setiap ujung jemari. “Kamu mau dibelikan arloji seperti itu?” pikirnya belia ini tertarik dengan aksesoris mewah milik si pria.
“Bukan, aku cuma pingin... tangan,” ragu, Sakura sendiri dilema. Sebenarnya apa? Kepuasan seksualnya terpancing dari anatomi tangan pria. Denyut nadi mereka di pergelangan, ruas jemari, kerangka tulang tangan— semua Sakura suka. Dia hobi menyisir urat gagah para lelaki dari siku sampai ke ujung kuku.
Saatnya bilang waduh.
Soalnya bakal muncul alur gaduh.
Tentang darah juga adegan membunuh.
───────────────────────

Jingga merayap dari kaki cakrawala. Petang ini Sakura punya niat mau bersua. Awalnya sih biasa saja, jujur tentang ketertarikan menjurus ke arah obsesi tangan pria. Lama-kelamaan obrolan makin berbahaya. “Malah kepikiran buat ngawetin tangan terus menuhin etalase kaca,” pemikiran itu diucapkan Sakura.
Belati dari laci diserahkan tiba-tiba. “Kalau gitu nunggu apa? Wujudkan saja,” enteng, Yuriko bicara soal menghilangkan nyawa. Maju mundur takut mendekam dalam jeruji besi, keraguan Sakura tampak ketara.
“Udah, gak perlu dipikirin. Aku bisa jamin keselamatan kamu sampai rencana terealisasikan semujur mungkin,” kita cuma bisa dengerin. Tapi Sakura mulai tertarik buat cobain. Biasanya yang berawal dari coba-coba, jadi keterusan buat ngelakuin.
Terhasut, emang dasarnya Sakura udah bejat. Mau diapa-apain juga dia tetap nekat. “Gimana caranya?” imajinasi anarkisnya mikirin soal koleksi idaman isinya potongan tangan buat dilihat-lihat.
“Harus punya rencana,” Yuriko kegirangan, suka menamatkan proses jati diri Sakura yang terbentuk makin jauh dari jalur kebenaran.
Sakura ditarik mendekat, Yuriko bersiasat punya misi perdana pembunuhan. “Mau aku ajarin cara memotong tangan?”
✧ ✧ ✧

Pejabat muda otoriter yang diam-diam berkecimpung di ranah perjudian melipir pergi ke penginapan. Rupawan tapi aslinya mah dia bajingan. Sok berlagak bijak di depan publik, kalau malam cari jalang buat ngelepas nafsu kesetanan. “Woi! Mana para pelayan?” teriak gebrak meja nunggu lacur yang disiapkan. Yuriko biasanya enggan. Tapi kali ini si pejabat bawa nominal fantastis di luar tarif satu malam, dia tajir melintir bukan sekelas jutawan.
“Emang masih kurang? Aku tambahin, bilang berapa?” bossy, prinsipnya semua bisa diatasi pakai cuan. Begitu lihat Sakura masuk disusul Yuriko, langsung melongo kesenengan. Eksklusif, malam ini bakal bergumul panas sama dua perempuan favorite para pelanggan.
Bulan tertinggi juga oiran termuda. “Kamu jangan marah-marah, nanti akunya sedih...” kedip lugu, perawakan mungil, wajah lucu. Pokoknya yang lihat Sakura pasti langsung luluh.
Aktingnya bukan sembarang genit ala biduan.
Didikan Yuriko bisa bikin lumpuh lawan.
Surai silver terus ada beberapa helai merah tersisip, pemuda ini punya rupa menarik. “Kalau mau merayu cepat deh lepaskan ikat pinggangku. Ada hadiah buat ditelan,” sembarangan. Belum apa-apa sudah menampar penis ke pipi Sakura sambil merem-melek keenakan.
Yuriko beringsut mendekat. Cumbu merebak intim dari pagut nikmat. Menjejal lidah berkelit melilit, saliva dia hisap sensual sambil menekan tengkuk. Sapuan seksi bermuara pada ceruk leher, indikasi makin agresif ditambah stimulus rangsang menggesek cagak penis. “Mngh... ngh— ah,” kimono terlucut nakal, puncak ranum disundul kenyal lengkung lidah si pemuda.
Sakura bersemu rona, gelenyar statis bikin bergidik saat ibu jari pemuda ini berkelana ke ceruk liang sambil ditekan. Bermula dari klitoris dipermainkan, berujung jemari tergelincir dalam pijatan. Denyut lembap dinding vagina, lengket menjejal ruas jemari idaman. Duh, Sakura tidak tahan. Dia suka tentang tangan.
Tangan.
Melebarkan tungkai, tersentak penetrasi liar. Aduh, sensasinya menjalar. “Ahng... mmh— ah...besar,” kedua tangan pria ini mencekik ruas leher hampir meninggalkan jejak memar. Tempo beringas menggempur kasar.
Tersedak di ujung pita suara parau, Sakura terangsang mendapati tangan pria itu melekat erat pada kanvas epidermis leher. Libido berjubel merayap dari kesan kokoh tangan pemuda yang menahan akses napas. Risau, kelojotan makin kembang-kempis. Dihantam binal namun berusaha menggapai udara, relung sesak terdesak lonjakan tubuh. Panggul maju-mundur, dirogoh penis ke ceruk uterus. Obsidian bergulir ke belakang, liur berjuntai leleh di sudut bibir sampai ke dagu. “Ngh— ogh... ahk! Ah—” puncak kepala menabrak dipan ranjang, pening melanda. Logika kabur bersama satu klimaks menjemput dahsyat.
Serpihan lembut kristal puntung rokok beracun dari asbak nakas ditiup pelan oleh Yuriko, bibirnya membisik rayu kotor perihal lubrikan. “Licin, kan? Sakura ini kebanggaanku. Dia pandai memuaskan,” lantas direspon pakai anggukan. Menit selanjutnya detik debar berhenti, dia mengalami kelumpuhan. Pemuda itu terkapar mengenaskan. Padahal baru saja menyembur mani sambil menggeram keenakan.
Kita cukup bungkam.
Jangan ikut-ikut menerkam.
Sakura terduduk dengan napas patah-patah, akhirnya lega. Cekik barusan menguras tenaga. Dia pandangi jasad korban yang masih hangat, menyisakan aliran darah dari titik syaraf raga. “Prosesnya menyenangkan, ya? Ternyata seru ngelihat epidermis mereka membiru, terus jantungnya melemah tanpa bisa melakukan apa-apa,” udah deh, Sakura ini emamg definisi cegil sesungguhnya.
Mana ada cewek kekinian yang suka bermain dengan korban? Dibikin hanyut sampai klimaks, kemudian makin terangsang melihat tangan. “Sayat dulu pelan-pelan,” Yuriko ngasih contoh tahap pemotongan. Pemuda itu melongo, hendak berteriak namun lidah kelu dengan sekujur tubuh kaku, syarafnya mati secara instan.
Bulir getih merembes dari folikel epidermis yang terkoyak runcing logam belati. Sakura memandangi. Otak merekam detak-detik pilu terus meniru. Cekatan dan sempurna. Sensasi logam belati terbenam di antara lapisan daging bikin Sakura ketagihan. “Gini ya, nyonya? Woah— lihat deh! Muka dia meringis kesakitan luar biasa,” makin dilanjutin, makin gila juga kita para pembaca.
Telapak Sakura menggesek penis yang masih setengah ereksi, dikocok konstan sembari meneruskan aksi bengis. “Anyir, tapi sepadan sama rasa candu. Aku suka lihat urat-urat ini makin layu. Dia seperti orang tua! Mukanya kisut, efek racun nyonya bekerja tanpa tunggu lama,” ada euforia menyergap di dalam batin Sakura. Manusia memang renta. Bagi Sakura ini mirip seperti kulit jasad ibunya dulu yang makin busuk di setiap detik.
Mentalitas rusak.
Jadi punya kecenderungan bikin orang jadi samsak.
Oh bukan, jangan ngira samsak tinju. Sakura punya rencana buat memperbanyak korban buat diajak main, terus menemani mereka sampai badan membiru. “Putus deh! Asyik, aku dapat koleksi pertama,” girang waktu semburan darah muncrat ke alas ranjang. Gumpalan lemak terkoyak dengan pola acak, berjuntai-juntai dari sekat potongan tangan. Otot berjumbai halus, tetes getih tercecer kental di atas noda sperma.
Menjijikan bagi yang waras.
Menyenangkan bagi yang buas.
✧ ✧ ✧
Sakura makin beringas. Kedekatan dia sama Yuriko membuahkan satu kesan sadis. Dari belajar memotong, lambat laun mahir berbuat anarkis. Malah jadi pribadi bengis. “Kurang banyak, masih mau lagi...” pinta merajuk, bersandar di sisi Yuriko buat cari perhatian. Dia suka kalau surainya disisir Yuriko dengan jemari, kemudian dipuji usai melakukan aksi pembunuhan.
“Aku beliin tabung lucu lagi ya buat simpan tangan baru nantinya. Mau dikasih stiker bentuk boneka?” tetap tenang, kawan. Posisinya sekarang kita bisa lihat adegan di dalam ruang kamar Sakura yang ada rak pajangan. Isinya? Tangan.
“Mauuu. Nanti aku pisahkan kepala dari tubuh pakai cara yang diajarkan nyonya,” tabung-tabung berjajar dengan desain kaca unik, mulai dari bentuk persegi sampai ala kapsul dengan puncak melengkung.
Anak ini tumbuh dalam rengkuh kegelapan. Makin di luar tindakan lazim bermain dengan nyawa untuk mengejar kepuasan. Mutilasi korban? Hal biasa bagi Sakura yang diajarkan Yuriko, kemudian jadi bibit psikopat tidak ketara sebab ditutupi wajah rupawan. Lagak polos mendukung Sakura mahir dalam menyiasati pembunuhan. “Sakura, coba panggil aku mama pakai nada manis yang bikin pria-pria itu luluh kesenengan.”
Hening dulu, Sakura belum paham maksud Yuriko bagaimana. Dia suka membayangkan Yuriko sebagai sosok ibu baru yang lebih terjamin bikin hidup bahagia. “Maaa, Sakura hebat nggak hari ini?” manja, nada dibuat agak melengking lucu.
“Hebat, bisa membinasakan manusia. Si cantik idaman mama. Kamu mau kan disayang-sayang jadi putriku, Sakura?” Yuriko punya tabiat licik dengan iming-iming diajarkan banyak teknik baru membunuh mangsa. “Hidup nyaman, finansial terjamin mujur tanpa perlu susah cari pundi harta. Apalagi ya... Oh! kamu juga bakal makin cantik sama mama,” imbuhnya sambil ngepoles lipstick ke bilah bibir Sakura.
Mana ada yang nolak kesempatan emas. Jelas diterima tanpa perlu cemas. “Sungguhan? Aku berkenan, aku sigap bantu kalau ada misi bikin orang tewas!”
Ini dia kisah Antagonis Manis. Namanya berubah jadi Leviathan, biografi baru dengan identitas yang dimanipulasi Yuriko. Anak kedua, paling centil tapi juga tidak segan menggerus nyawa.
───────────────────────

Leviathan. Kolektor tangan. Hobi main ‘kuda-kudaan’. Gemar berduaan sama korban. Sekarang usianya 17 tahun, jangan anggap remeh lho, dia bisa bikin kamu kewalahan. Tipikal pribadi easy going, gampang berteman. Famous soalnya cakep abis terus wanginya gak nahan.
“Udahan kali ya? Pak guru juga gak kelihatan ada. Balik aja lah ke kelas,” terik mentari siang ini nemenin penjaskes. Disuruh lari beberapa putaran, tapi pada bandel balik ke kelas. Salah sendiri, gurunya juga ngilang tiba-tiba.
Ketua kelas ngadem di depan kipas angin. Satu tegakan air isotonik ngelegain dahaga. Dia kepikiran. “Kayak gini di ruang guru biasanya pada bawa makanan. Mereka kulineran tapi gak ngajakin murid,” gerutunya mirip biang gosip komplek.
“Eh tapi tadi aku lihat guru penjas kita gak ada di ruangan, mungkin lagi kelayapan?” siswi lain menimpali. Topiknya berlarut kurang jelas soalnya pada ke kantin buat isi perut cari ciki. Ada yang milih tidur di kelas sendiri. Ada juga yang langsung ganti seragam terus pergi.
Sini sebentar, narator mau kasih paham lokasi guru penjas yang hilang tanpa pamit.
✧ ✧ ✧
Pesona remaja memang bikin nafsu melonjak. Siapa sangka? Potret pendidik yang jadi contoh teladan malah ngendus ketiak Sakura di gudang. Tadi waktu belia ini mau persiapan lari, dia tarik tangan pak guru buat alasan lagi sakit perut. Dikiranya mau ke UKS, malah jalan menuju gudang sambil nyodorin bra yang dilucuti pengaitnya.
Lantas bicara. “Olahraga bikin gerah, ya?” pasang tampang lugu, makin berbahaya saat target berhasil tergoda. Leviathan punya seribu satu cara. Sekarang bergumul ria. Meloloskan desah binal, pipi bersemu rona. Menjalar belaian ke seluk molek raga. Menikmati tiap detik digagahi guru olahraga.
“Nngh... ah! Mmh—” matras basah, puncak ranum payudara terjilat serampangan. Laju tempo gurunya belingsatan. Urat penis bergesek kasar terimpit dinding lembap memancing Leviathan kelojotan.
Termegap, bercucuran peluh sembari napas tercekat tiap sodokan ujung kepala penis gurunya menyambar titik legit di bawah sana. “Enak— khng, ohk—... ah ah—” dia beringsut tak berdaya, sambil mencakar punggung, pula menegang kaku saat urat penis mendobrak orgasme kedua.
Mengais atensi secara vulgar.
Adegan porno ini makin liar.
“Hu— ha! Satu, dua. Ayo, pak guru! Hantam yang kencang,” dia hitung selayaknya pemanasan olahraga, Leviathan suka sensasi testis berat yang menampar paha.
Terjamah piston jantan sampai berkedut kepayahan. Vagina merebak merah di setiap celupan. Lengket, lubrikasi bening mencipta kesan licin gampang masuk makin tenggelam. “Iya! Iya— mmh... gitu, bener! Hu, ahng...” gigit bibir, semburan mani menyeruak dalam. Berkubang di dalam ceruk uterus.
Bermain dengan para guru jadi hobi baru. Beberapa dari mereka hilang tanpa jejak dengan alibi palsu. Usut punya usut sih guru-guru yang hilang pada pindah ke sekolah baru. Aslinya mah jadi korban Leviathan buat nambahin koleksi tangan di dalam tabung kaca lucu.
✧ ✧ ✧

Kasus serupa nggak terjadi sekali permainan. Biasanya Levi punya taktik mulus bilang pingin nambah jam pelajaran. “Matematika itu susah, mungkin boleh buka les privat kalau berkenan?” lakon kita paham guru kumis tipis ini mata duitan.
Telak sudah kena jebakan! Gurunya mengiyakan. Tanpa kecurigaan. Diajak pulang ke rumah, disuguhi teh buat perjamuan. Dalam hati terkekeh senang, soalnya Levi udah merencakana. Apa tuh? Pembunuhan.
“Kalau X² kamu cari koefisiennya, kita bisa pakai cara cepat. Lihat variabel Y, kemudian—” kerongkongan gatal. Napas Levi terlalu dekat di telinga. Gusar, sebab telapak gadis ini juga merayap dari paha ke gunduk jantan vitalitasnya.
Mengerjap polos, bibir manyun pasang tatapan mengundang. “Kok diam sih? Aku dengarkan,” kurang ajar, payudara di balik kancing seragam digesek ke lengan gurunya.
Ayolah, pasti pada paham apa yang terjadi satu jam setelahnya? Jelas 'tabrak-tabrak masuk' sampai saling bertukar saliva. Bahkan Levi sempat membuka galeri ponsel gurunya, ada potret keluarga. Sudah beristri tapi ternyata doyan vagina siswa.
“Ahn— ngh... ejakulasi banyak banget, udah lama ya gak dapat yang sempit kayak aku?” dirajam penis begitu dalam, seluk liang tersembur air mani. Gurunya mendongak, geram gahar tersulut pijatan kenyal vagina Levi. Hingga tetes terakhir mana mungkin dikasih kendor, jelas makin belingsatan sendiri.
Tapi yang namanya main sama anak iblis.
Pasti berujung bengis.
Pria itu terkapar mengais tenaga. Tapi memicing saat Levi menggigit lehernya kelewat kuat sampai getih tercecer sakit. “Apa-apaan kamu ini?” tersengal, pelafalan kata dia sudah patah-patah. Terbungkam cumbu, namun urat di tangan tersayat kuku.
Spontan meronta.
Dari sayatan berubah jadi tikaman. Merobek struktur susunan urat, Levi tekan denyut nadi hingga getih bersimbah di luar batas aman. Jerit berdengung, intensitas Levi memburai otot tangan bikin atmosfer dirundung kengerian. “Sssh... jangan berisik, pak guru. Nanti jelek hasil potongan tangan,” logam pipih siletnya sudah terlumur racun Yuriko, percuma mau belingsatan sekalipun juga tetap lumpuh tanpa pergerakan.
“Aha! Ini sesi kesukaanku, suara tulang yang terlepas dari sendi,” gemeletuk nyeri bertabrakan dengan desis minta ampun, betulan terkesan ironi. Levi makin berseri, ekspresi pak guru matematika yang hobi kasih nilai anjlok di setiap ujian sekarang pucat pasi. Merana seperti orang kelabakan, gesture sekarat dengan air mata berlinang ke pipi.
Lentik jemari Levi menyibak surai korban, bisik nakal menyuarakan rayu. “Dinikmati dong. Kan tadi dikasih jatah. Sekarang giliranku bersenang-senang,” intonasi tanpa dosa, suaranya imut. Tapi kelakuannya bikin nyawa terenggut.
Anatomi tubuh orang di tangan Levi udah kayak barang tanpa harga diri. Copot melompong dari sisa tulang siku, dikira mainan lego gampang banget kalau soal mutilasi. “Ini masuk list koleksi,” tangan itu dia timang seperti anak bayi.
Diajak bicara kemudian terdekap walau ada geronjalan daging masih bergelantungan jijik. Korban kehabisan darah, lunglai kemudian kejang dengan reaksi kesakitan. Tergolek mati dengan mata melotot takut waktu paham tangan dia hilang digendong Levi. Potongan tangan itu sigap diawetkan tanpa basa-basi. Masuk ke dalam tabung lucu dengan puncak berpita.
“Tangan siapa lagi, ya?”
Ada dermawan yang mau menawarkan tangan buat Leviathan? Mending mundur duluan. Atau mungkin mau dilayani Leviathan sampai klimaks keenakan? Aku sarankan kalian kabur terbirit kalau dia mulai merayu pakai godaan. Nanti berujung kematian. Sampai sini dulu kisah “Antagonis Manis” tuntas dengan sederet adegan mengerikan. Awas, jangan kebanyakan jajan perempuan. Kalau ketemu Leviathan baru mampus mati jadi koleksi potongan tangan.
───────────────────────
END.
Commission Story Written by LIN



Comments