Demi Kursi Feruci
- Sheville
- Jun 8, 2025
- 10 min read
Ego tinggi menjulang kebangetan
Mengidamkan kursi yang sangat merepotkan!
🪑👑🪑
Ratusan lampu sorot menyiram seantero aula pameran, ramai orang hilir-mudik dibubuhi suara ramai nyaris tiap sudutnya. Ada ratusan barang terjaja, membentang puluhan etalase penuh objek antik nan mewah. Kemilau cahaya memantul dari besi-besi, emas, perak, hingga berlian, buat mata disuruh memilih mau dimanja atau disilaukan. Manusia lalu-lalang secara acak, kumpulan ras seluruh dunia menjejal lobi …. ada satu penampakan hitam-biru menyempil di antaranya.
“Hmm ….,” bergumam ia sambil mengelus dagu, mematut kepala di hadapan centong nasi berwarna emas. Kerlap-kerlip glitter dengan batu-batu giok di sekeliling gagangnya membuat benda ini semakin menarik atensi di mata biru sang empu.
“Silakan pak, hanya ada satu di dunia! Jika belum terjual, minggu depan akan dikirim ke delegasi lelang, jadi dipastikan harga melejit seratus kali lipat!” Sales mulai menyenggol perhatian, pria kuncir kuda menilik sambil mengangkat alis.
“Apa yang mau dibayar mahal kalau ini sebenarnya hanya dilapisi emas, bukan centong dari bahan emas,” ocehan pria itu masih dikawal dengan tatapan tajamnya. “Ini palsu.”
Merah padam wajah Sales, ia langsung memaki. “Anda jangan sembarangan bicara ya! Apa anda mau saya laporkan—”
“Ya, ya … lapor saja.” Kata-kata ringan darinya keluar bersamaan surai biru bergerak mengikuti langkah kaki, menjauhi stan yang baru disinggahi. Ia sedikit mengibas rambut seakan angin ikut tertunduk pada sikap arogansi. Ialah Feruci, si paling ingin diagungkan seantero jagat bumi.
Pria muda berpakaian hitam-putih luntang-lantung menyejajari langkah Feruci. Nafas sedikit tersenggal, hati khawatir takut tertinggal. Tapi ia tidak mengucapkan kata barang sepenggal. Ialah salah satu karyawan Feruci yang menemani keliling pameran, sebut saja ia Faisal.
Faisal melirik Feruci sedikit. Sudah satu jam makhluk ini menyusuri setengah gedung, sepertinya tidak ada barang atau bisnis bagus yang memancing perhatian sang Tuan. Faisal menghela nafas, mungkin kali ini ia bisa sedikit terbebas dari tugasnya selain mengekori—
“Wow….”
Suara berat menyentil telinga, angan-angan Faisal dipotong oleh wajah Feruci yang terpana. Tampaknya ada sesuatu mulai menggugah hasrat sang Tuan. Dilihatlah arah pandangnya, yang ternyata menuju sesuatu yang luar biasa di luar nalar.
Terbasuh lampu sorot keemasan, berada di atas karpet merah bertabur serbuk perak, kursi mewah berdiri kokoh dengan empat kakinya. Kursi saja? Bukan sembarang kursi! Jikalau dilihat dari bawah, kusen empat kaki dipahat dengan ukiran berlapis emas, lantas ditimpa oleh bantalan beludru berwarna putih gading, senada dengan dua pegangan tangan di kanan kiri. Yang membuat spektakuler ialah sandaran kursi berbahan beludru sama yang setinggi delapan belas kaki.
Mari ditekankan lagi. Sandaran kursi setinggi delapan belas kaki.
Siapa yang membuat kursi semenjulang itu?! Puncaknya nyaris mengenai lampu sorot. Tidak proporsional tetapi sukses menyita atensi pirsawan. Bak objek yang terkena hidrosefalus garis keras. Blitz kamera muncul silih berganti di sekitar, heboh semua orang melihat kursi yang ‘tidak biasa’ itu.
Kursi yang ‘tidak biasa’, tentu saja target audiensnya adalah oknum yang ‘tidak biasa’ juga.
Oh, my, God! Feruci mulai mendekat ke target seperti magnet.
Beautiful! Ia menyelip di antara kerumunan untuk memperjelas pandangan. Faisal ikut menyelip di belakang.
Amazing!! Satu tangan mengelus dagu, bibir tersenyum nyaris menampakkan gigi.
Ini yang Aku cari selama ini!
“Kamu,” Feruci melirik Faisal. “Ambil kursi ini, taruh di Baron’s Hall.”
Beneran di luar nalar pun tidak habis pikir. Sinting abis karena bagaimana mungkin kursi setinggi harapannya punya uang berlimpah ini bisa masuk ke dalam ruang kastil tempat tinggal Feruci??! Memangnya segampang itu? Satu sampai lima staff Rumah Dosa tidak akan cukup untuk mengurus kursi bombastis.
Faisal inginnya malas menanggapi, jadi ia hanya mendecak sedikit berani.
“Duh, kenapa bapak enggak urus sendiri dan mindahin pake sihir aja?”
Alih-alih dijawab, Faisal langsung dijejali pemandangan Feruci melotot padanya tanpa kata. Jelas sang Tuan tidak sudi. Untuk kesekian kali, Faisal menghembus nafas dengan berat hati, tidak bisa menolak permintaan Yang Mulia Feruci.
Faisal maju ke pemilik pameran kursi, siap memulai transaksi. Di saat asisten sibuk melakukan titahnya, Feruci membayang-bayang kursi itu ada di kastil, jadi ia tersenyum pada detik-detik terakhir sebelum ia lanjut bekerja mencari dan mengurus koneksi bisnis. Sisa urusan soal kursi biarlah para staf Rumah Dosa yang mengurus, asalkan kursi keren itu sudah ada di ruangan ‘yang seharusnya’.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Feruci.
Faisal menghubungi sisa staff di Rumah Dosa, menjelaskan dan mengingatkan perihal kiriman kursi super yang akan datang keesokannya, tentu beserta pesan Feruci yang mengharuskan kursi itu ada di ruang Baron’s Hall.
“Kenapa lu sampe menegaskan kedatangan kursi ini, Sal? Kursi gede emang segede apa sih?” Rekan staff di seberang sana mencibir Faisal, sementara si empu balik mencerca.
“Lu bakal pusing kalo liat dan masukin sendiri ke kastil.”
Tapi ingat-ingatlah, terkadang rencana dalam angan tak sanggup memenuhi ego duniawi semata.
🪑👑🪑
Semua orang di Rumah Dosa tahu betul Tuan Rumah mereka senang mengoleksi objek-objek mengagumkan, sebagian besarnya dipamerkan di Baron’s Hall …. Faisal sudah membicarakan hal ini kemarin, yang Evan tahu kursi yang akan datang ini sangat tinggi.
Evan tidak memusingkan sampai ia menerimanya sendiri, tentu bersama staf lain. Diantarkan langsung menggunakan truk besar dengan keamanan super ketat tadi pagi. Sempat dibantu petugas memasuki gerbang kastil, sekarang giliran tugas staf mengantarkan sampai kursi ini duduk manis di ‘tempat’nya.
“Boleh jelasin nggak, kenapa Pak Feruci beli kursi ini buat dimasukin ke kastil? Mau dipake buat kerja?” Rey, salah satu staff menyentuh bahan beludru kursi, dielusnya hati-hati sambil bertanya-tanya dalam impresi.
“Jangan tanya gue, lu pasti bisa paham pola pikir dia kan?” Ulrich, rekan lain menyenggol ucapan Rey, tangannya siap-siap memegang kusen ukir.
“Hati-hati jangan sampai ngerusak kursinya! Bisa habis kita kalau ni benda kenapa-napa,” Rey ikut memegangi kursi di sisi berlawanan.
“Mungkin kita bisa gimmick dikit biar muat masuk ke dalam.” Faisal, sebagai staf yang diberi tanggung jawab oleh Feruci ikut mendekat.
Bentuk vertikal dari kursi merepotkan itu pelan-pelan ditidurkan melintang, Faisal dan Rey bertugas memegang sisi puncak kursi, sementara Ulrich dan Evan memegang di sisi kaki dan bantalan. Langkah kompak mengiringi kursi itu masuk ke dalam kastil dari pintu utama. Ukuran pintu utama masih buat mujur sebab lebih besar daripada ukuran lebar kursi itu.
Ujung cagak sandaran pintu sudah masuk kastil setengahnya, langsung disambut pening kepala sebab rute menuju Baron’s Hall setelah pintu utama adalah …. membelok.
Belok ke kanan, masuk ke pintu yang jauh lebih kecil daripada pintu utama. Rey dan Faisal sudah lebih dulu putar rotor otak bahkan sebelum Ulrich dan Evan benar-benar masuk kastil.
“Hei, kenapa diam?” Evan bertanya setengah teriak.
“Ssshh!! Bentar napa, kita lagi mikir cara belokin kursinya dulu,” Faisal menyambar. “Yaudah sini, coba kita masukin kursinya ke dalam.”
Berempat kembali bergerak, kursi itu masih ditiduri secara horizontal masuk ke aula utama.
“Oke, putar dulu posisi kita kayak jarum jam … nanti aku dan Faisal masuk duluan lagi ke koridor sebelah.”
Kursi itu pun diputar telentang searah jarum jam, dan saat ujung cagak kursi sudah selaras dengan pintu koridor, mereka mulai bergerak lagi. Pelan-pelan Faisal dan Rey berpindah sedikit, berpegangan pada pucuk kursi supaya tidak terhimpit bingkai pintu.
Tentu saja langsung disambut oleh belasan pilar kastil dengan langit-langit ruang yang jauh lebih rendah daripada tinggi asli kursinya.
“Mampus,” umpat Rey. “Ini kita baru seperdelapan jalan menuju Baron’s Hall.”
“Hey! Lagi pada ngapain?” Suara tinggi wanita menyapa dari pintu lain di seberang koridor. “Ohhh!! Gilak, kursinya gede banget?”
Yang berteriak adalah Levi, anak kedua dari Tuan pemilik Rumah Dosa. Gadis itu menghampiri, melihat-lihat empat karyawan rumahnya kerepotan memasukkan kursi raksasa.
“Ini siapa yang beli? Feruci ya?” Kepala kecilnya melongok, melihat jumput keringat menetes-netes dari tubuh para staff. Tidak ada satupun yang membalas, Levi semakin yakin jawabannya.
“Maaf Nona Levi, kita mau sedikit membelokkan kursinya dulu nih,” Rey angkat bicara. “Mohon tunggu sebentar ya, kalau mau lewat.”
“Aaah …,” Levi menepi sedikit, kepala masih mendongak merasa kagum dengan kursi yang masih setengah menyangkut antara lobi dengan koridor dibatasi pintu.
Perlahan, kursi itu digerakkan sedikit vertikal ke atas ujungnya nyaris menyentuh langit-langit koridor. Sedikit lagi sampai seluruh badan kursi berpindah, meninggalkan kaki kursi yang masih di luar ruangan.
“Aduh, ini udah mentok loh. Gimana cara belokinnya?” Ulrich menggaruk kepala. Levi masih di dekat mereka, sambil cekikikan ia melihat staff kerepotan.
Minimal bantuin kek! Yah maunya sih bilang begitu, tetapi mereka tidak tahu apakah nanti malam mereka masih hidup atau tidak jika kata-kata itu di vokalkan.
“Itu lu bisa lihat masih ada jarak kan antara pinggir pintu sama kaki kursi, nah itu pepetin aja biar bisa kita miringin dikit kursinya,” Evan memberi saran, sigap langsung dilaksanakan. Membentuk kemiringan agar kursi itu bisa benar-benar berkelok, keempat staff menggesernya dengan sangat amat pelan. Buat kursi atau kastil tergores sama sekali bukan ide bagus. Dengan niat dan usaha yang meluap, menggeser sedikit demi sedikit, inchi demi inchi …. akhirnya kursi itu benar-benar masuk ke lorong, siap untuk dipindahkan (dengan gaya berbaring horizontal tentu saja).
“Astaga, memang kursinya mau dibawa kemana sih? Kantor Feruci seingatku arahnya nggak lewat sini.” Levi berceletuk.
“Mau ditaruh di Baron’s Hall, Nona.” Faisal menjawab. Balasannya adalah kelopak mata Levi yang mengerjap, melongo sesaat sebelum tertawa.
“Hahaha, semoga beruntung deh, ya!” Levi terkekeh, kemudian melenggang pergi menyisakan suara olokannya yang membuat empat staff pembawa kursi menelan ludah.
Kembali pada posisi dimula, dua orang membawa kursi bagian atas dan yang lainnya membawa bagian belakang, terseok-seok menyusuri koridor sempit dengan belasan pilar. Jalur yang dibuat tidak bisa melenggang lurus begitu saja, mereka harus berkelok-kelok menghindari pilar-pilar dan itu memakan waktu yang sangat lama. Tidak jarang keempat staff kerepotan itu tukar sahutan satu sama lain.
“Hei, hati-hati bagian kirinya nyaris kena tembok!”
“Eh, eh, kenapa kursinya miring?! Rey, peganglah yang benar!”
“Oi, lihat bener-bener dong itu nabrak pilarnya!”
“Ada ribut-ribut apa ini?”
Yang terakhir asalnya dari seorang wanita, Ades namanya. Di sampingnya ada wanita lain yang lebih muda berkacamata, Mona. Awalnya mereka ingin lewat saja, tetapi dua pasang mata dipaksa menyusuri benda super yang menyusahkan empat orang sekaligus itu.
“Kursi siapa ini yang beli?! Gede banget, buset. ” Retoris yang Mona lontarkan justru dijawab oleh ibundanya yang terkekeh pelan, pasang wajah geli-geli manja.
“Menurutmu siapa lagi di rumah ini yang sudi beli barang super selain Ayahmu?” Ades mendekat ke arah kursi dan staff. Kursinya ditidurkan dulu di lantai, masih terjebak di antara pilar-pilar. Sementara empat karyawan kelelahan itu melakukan gerakan senam random untuk pulihkan tenaga.
“Ini mau ditaruh di …?” Ades bertanya.
Semuanya saling pandang, akhirnya Faisal mewakili jawaban. “Di Baron’s Hall, Nyonya.”
“Ah, yang bener bisa masuk kesana?” Mona bertanya, ada nada remeh dan mengejek di sela-sela kata.
“Harus bisa, dong … kalau tidak nanti Tuan Besar marah,” Ades tersenyum, tapi seluruh orang disana tahu Nyonya besar ini sebenarnya juga mencemooh.
Daripada menakut-nakuti begitu, lebih baik tolong kami dan bantu pikirkan cara memindahkan kursi ini tanpa susah payah!
Maunya sih, ngomong begitu. Seluruh isi otak para staff pengangkut melintas kata-kata putus asa yang sama, tapi tak ada satupun yang berkuak, atau esok pagi nama mereka hanya akan tinggal kenangan.
Ades melangkahkan kaki, menjauh dari koridor sambil menggeleng-geleng kepala merasa tak habis pikir dengan suaminya. Raganya disusul Mona yang pasang muka ledekan serupa.
Semua staff melempar pandang, hati ingin melempar tanggung jawab juga.
“Ayo selesaikan tugas ini maka setelahnya kita akan bebas,” ucap Faisal. Ia yang berdiri lebih dulu, tangan sudah memegang kusen kursi dan bantalan putihnya. Yang lain menyusul, siap memindahkan kursi sialan ini lagi. Bertarung dengan langit-langit yang pendek, sekat-sekat ruang yang kecil, juga pilar-pilar dalam jarak yang berdekatan. Belum lagi beberapa benda koleksi yang dipajang di seantero kastil juga buat ruang semakin sempit, gerak pemindahan kursi semakin terbatas, dan bisa dibayangkan seberapa stresnya empat orang itu.
Tidak ada staf lain yang membantu, atau lewat sama sekali.
“Pasti sengaja biar mereka tidak terlibat,” Ulrich mencebik. “Padahal tadi aku udah menelepon beberapa, tapi pada nyari alasan semua.”
“Ya sudahlah, ini tinggal dimasukin ke pintu itu, jalannya ke situ kan,” Evan bergerak, dua tangan nyaris bergetar mengangkat kursi. Tapi saat ia beringsut, entah kenapa tiga kawannya yang lain bergeming.
“Kenapa kalian diem?”
Puluhan kalinya mereka saling pandang, lantas bersamaan telan ludah dan bulu kuduk merinding disko.
“Van, kita melupakan bagian selanjutnya,” ujar Rey.
“Lebih baik kita belah kursi ini jadi dua,” tandas Ulrich.
“Atau kita pergi, pura-pura tak tahu keberadaan kursi ini, langsung lepas tangan aja.” Faisal menyerocos.
Bingunglah Evan, ia lantas memeriksa jalur selanjutnya, dan ia mendapatkan urat harapannya putus.
Sebab mereka akan menjajaki tangga sempit dan berliku.
Hanya muat untuk satu orang.
Agak mustahil bisa dilewati kursi setinggi delapan belas kaki.
“Oh …”
Kira-kira tiga sampai lima menit mereka terdiam, memikirkan seribu satu cara ampuh mengirimkan kursi ini pada tempat semestinya, sesuai titah tuan pemilik.
“Rubuhkan temboknya?”
“Belah kursinya?”
“Paksa masuk?”
Setelah merenung, bahkan tanpa bicara keempatnya sepakat opsi terakhir. Semua sudah tidak peduli mau kursinya akan bergesek dengan tembok atau bagaimana. Tujuan utama tim pengangkut kursi adalah satu: kirim benda menyebalkan ini ke Baron’s Hall, kemudian tinggalkan sejauh-jauhnya.
Jadi mereka masukkan puncak kursi itu duluan menaiki tangga. Nahas, belum ada seperempat bagiannya masuk …. kursi itu terjebak. Tidak bisa bergerak maju lagi. Stuck total.
“Ah.”
Semuanya melihat asal suara, rupanya dari anak bungsu Tuan Rumah, Gore. Ia menatap aksi empat karyawan rumahnya berusaha menyelesaikan konflik kursi aneh yang nyangkut di antara tangga.
“Oh, tuan Gore. Mohon maaf jalannya uh …. tertutup,” Faisal terbata menjelaskan, sisa kawannya menggigit bibir canggung.
“Siapa sih yang ngide beli kursi segede ego Feruci ini? Jangan bilang dia sendiri?”
Tidak ada jawaban yang bertandang pada pertanyaan Gore justru adalah jawaban itu sendiri.
“Hahhh …..,” laki-laki itu menggaruk kepala kepalang kesal. “Terus, gimana caranya gue mau ke ruang makan?”
“Anda bisa akses lewat jalur utara ….,” Ulrich berusaha memberi solusi, tapi sepertinya semakin membuat Gore tidak sudi.
“Gue udah nyampe sini loh, dan gue disuruh muterin jalur yang dua kali lebih jauh cuma buat makan? Yang bener aja, sialan.” Gore mencerca panas.
“Yasudah, ini kursinya kita turunkan dulu ya,” Rey coba redakan emosi Gore dengan usaha, tapi ketidakmujuran bersua karena …
“Anu, Rey. Ini kursinya beneran stuck,” cicit Evan dari bawah.
Gore tepuk jidat, beberapa detik kemudian ia membawa tubuh menjauhi tempat kejadian perkara tanpa bicara. Jelas lelaki itu pilih jalan memutar, dibanding harus menyaksikan kekonyolan diluar nalar.
“..... Terus ini gimana?” Basah delapan telapak tangan itu berusaha menggeser kursi ke atas, ke bawah, pakai cara lembut, pakai cara kasar … ada pergeseran sedikit membawa kelegaan, tapi selanjutnya tersangkut lagi.
Seharian penuh berkutat dengan sesuatu yang tampak tolol ini membuat kesabaran dan kejiwaan menipis. Matahari pun tidak mau lama-lama menonton usaha yang tiada habisnya itu. Mereka mencoba memanggil rekan staf lain yang sedang menganggur, beruntung beberapa ada yang mau membantu, tapi nihil semua usaha yang dikerahkan.
“AKAN GUE BELAH KURSI BANGSAT INI JADI DUA!” Ambang batas sudah dicapai, ketika Rey benar-benar membawa kapak untuk mencincang benda itu—
“Ada apa ini? Masih belum sampe juga di Baron’s Hall?”
Suara berat menggema, langsung buat udara senyap dan niat jahat apapun itu dipadamkan (termasuk usaha membelah kursi). Pria bersurai biru dengan jas hitam kebanggaannya berdiri di bawah tangga, melihat kursi yang ia banggakan tersangkut begitu saja di kediamannya sendiri, dikelilingi staf-stafnya yang kebingungan dan pening.
“Anu, pak,” terbata-bata Faisal menjawab dengan serak. “Nyangkut.”
Feruci langsung mengelus dagu dengan kening berkerut, memasang pose berpikir. Para staf itu berharap paling tidak sang tuan rumah bisa memberikan solusi. Disaat Feruci membuka mulut, dan harapan untuk menyelesaikan ini semua memuncak ….
“Sudah nyangkut gini, mau bagaimana lagi,” pria itu mendesah, kaki memutar, memamerkan punggung pada tempat kursinya terjebak, lantas menjauh dari benda raksasa itu, termasuk para staf yang semakin resah.
“Pak?” Evan memanggil Feruci. “Terus, ini bagaimana?”
Langkah Feruci berhenti, kepala ia putar sedikit sampai bisa menatap Evan di belakangnya. Senyum kecut dilontarkan seraya mengeluarkan titah baru.
“Buat kalian saja, aku malas mengurusnya,” tiada beban, kata-kata itu Feruci keluarkan.
“......”
Sunyi. Senyap. Pirsawan pun bisa merasakan bunyi angin berhembus lewat. Tidak ada yang berceletuk, tak ada suara apa-apa selain derap langkah kaki para staf menjauhi tempat kejadian perkara. Semuanya meninggalkan kursi itu, kecuali dua orang.
Rey yang masih memegang kapak.
Dan Faisal yang bertanggung jawab membeli kursi itu di pameran. Keduanya saling tatap, pupil mata bergulir bergiliran antara ke rekan atau ke kursi yang tergugu.
Akhirnya Faisal menghela nafas.
“Kursi ini buat kita.”
“Kalau gitu,” Rey mengangkat kapak. “Gue belah jadi seratus ya.”
🪑👑🪑
Commission Story Written by Sheville



Comments