Buaian Bunga Tidur
- Khairunnisa Han
- May 12, 2025
- 13 min read
Suasana yang mengelilingi Rumah Dosa masih sama, suram. Tapi untuk mereka, itu adalah tentram. Tidak ada suara selain denting alat makan bertemu piring yang sesekali terdengar. Belum ada yang bersuara dan memang tidak ada yang ingin bersuara karena tidak ada yang harus segera didiskusikan.
Hening masih menggantung di tengah-tengah mereka, bahkan setelah sarapan usai. “Mona, nanti malam kamu ikut saya. Levi, kamu ikut dengan Ades. Lalu, Gore, siapkan yang sudah saya minta kemarin.” Feruci, masih seperti biasa, lugas dalam penyampaian tugas mereka masing-masing dan tidak seorang pun membantah.
Orang lain menyebut tempat ini, planet ini adalah dunia, namun tidak untuk mereka. Semuanya hanyalah area bermain, diciptakan sekadar untuk bersenang-senang. Tidak seorangpun akan menolak kesenangan yang datang, lagipula, rasanya sudah seperti kewajiban untuk terjun ke dalam misi-misi yang menantang gairah. Meski namanya kewajiban, yang ini lain, karena jauh lebih menyenangkan.
Biasanya, agenda sarapan mereka akan berhenti di situ. Hari ini sedikit berbeda, sebab Levi menyunggingkan senyuman seolah-olah hendak melakukan hal yang jail. “Ngomong-ngomong, apa kalian enggak kepikiran punya anak sendiri?” Pertanyaan Levi memang terdengar polos, namun dengan watak keluarga mereka, barangkali tidak. Mona menatap tidak senang, sementara Gore membuat ekspresi jijik—barangkali karena tidak semenarik racun-racunnya.
Anak-anak terlihat jelas tidak menginginkan hal itu, kecuali Levi yang memang sedang bermain-main. Ades menatap ketiganya bergantian, seperti menimbang-nimbang sebuah kemungkinan. Tadinya, pertanyaan itu cukup membuat Feruci terkejut, lantas diliriknya Ades dari sudut mata. Dia tidak begitu menyukai ide liar yang terucap dari bibir Levi, tapi jika Ades yang meminta, seluruh dunia pun akan diberikan.
“Lucu enggak sih?” Bukannya berhenti, Levi justru sibuk memanas-manasi. “Maksudnya, kita tuh enggak ada yang mirip ya. Tapi nih, semisal Feruci sama Ades punya anak terus mirip sama mereka, gimana? Lucu tau!” Barangkali, Levi berpikir dengan begitu saudara-saudaranya dapat setuju padanya.
Tentu saja, tidak. “Apaan sih, enggak jelas lo,” balas Mona dengan ketus. Lagipula, memang hanya Levi saja yang heboh sendiri. Bahkan Gore pun setuju padanya, sementara mereka biasanya tidak terlalu akrab satu sama lain.
Levi memutar bola matanya, tak acuh pada sanggahan Mona dan anggukan Gore barusan. “Lagian, siapa tahu ya, nanti itu anak lebih berbakat dari kalian—kita. Terus, jangan-jangan kita diusir. Iri enggak sih?” Levi masih terus menambah-nambahi. Entah untuk menggaet respon dari saudara-saudaranya, atau dari orang tua angkatnya.
“Eh anjing enak banget itu mulut nyocot,” timpal Gore. “Lo sama aja. Kalo itu anak ada juga lo diusir juga!” Alis Gore bertaut menjadi satu, kali ini terpancing sempurna amarahnya. Padahal biasanya dia hanya diam mendengarkan.
“Ih tapi kan—”
“Bacot ya bacot,” potong Mona, dia bahkan tidak membiarkan Levi mengutarakan kata-kata yang tidak jelas asal-usulnya. “Gua enggak peduli sama isi pikiran lo. Tapi kalo lo bikin skenario sendiri, iri sendiri, lo tolol. Lagian kalopun ada kenapa? Kayak bisa nyaingin skill gua—”
“Cukup.” Semua pembicaraan berhenti, bersamaan dengan Feruci yang menaruh alat makannya kembali ke meja. Tidak ada kata-kata lain yang terucap, hanya pandangan tajam yang dihadiahkan pada ketiga anak itu satu per satu. Sebab suasana sarapan mereka yang semestinya tenang itu berubah menjadi ricuh.
Ades menggelengkan kepalanya; memang terkadang sepotong kata dari Feruci dapat mengubah suasana di dalam ruangan. “Sudah. Selesaikan makan kalian, lalu bersiap,” ujarnya, hanya sedikit lebih lembut dari Feruci. Itu saja sudah cukup untuk membuat anak-anak mengangguk.
Untuk sementara, semuanya menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang muncul silih berganti. Matahari sudah semakin tinggi dan hari mereka harus berjalan sesuai rencana. “Kita bertemu kembali nanti malam,” ucap Feruci yang segera bangun, pergi meninggalkan ruang makan terlebih dahulu. Semuanya terdiam untuk sementara, hanya Levi yang mengedikkan bahunya.
Sementara Ades masih tetap di bangkunya, menatap ketiga anaknya satu per satu lagi. Biologis atau bukan, dipanggil ibu atau tidak, mereka adalah anak-anaknya. Tapi mungkin, akan berbeda rasanya jika memiliki anak biologi seperti manusia biasa lainnya. Masalahnya, Ades tahu mereka bukanlah manusia biasa dan mengidam-idamkan sesuatu yang biasa itu tidak ada gunanya.
Hari masih berjalan seperti biasa, lalu berakhir hampir seperti biasa. Ades duduk menatap dirinya di dalam cermin dengan tangan yang sibuk menyisir rambut, tepat dengan langkah kaki Feruci yang memasuki ruangan. Masih ada cipratan darah menempel pada pakaiannya. “Belum tidur?” tanya Feruci, suaranya cukup berat malam ini, mana tahu memang lelah.
“Belum.” Ades menyimpan kembali sisir di tempatnya sebelum menoleh pada Feruci. “Aku masih kepikiran soal pertanyaan Levi tadi pagi,” ujarnya—seperti yang sudah diduga oleh Feruci. Pertanyaan seperti itu mudah sekali untuk mengakar dalam pikiran. Sedikit lengah, seluruh isi kepala akan dimakan dan tidak ada hal lain yang terpikirkan.
Namun bukan itu masalahnya, karena pada hakikatnya, masalah ada pada tubuh Ades sendiri. Ades memang terlahir sebagai perempuan, lengkap dengan vagina dan rahim, tapi dia tidak cukup beruntung—boleh jadi juga beruntung—sebab kehamilan bukanlah sebuah keniscayaan baginya. Jangankan Ades yang tubuhnya memang sudah dimodifikasi, bahkan perempuan biasa di luar sana pun punya masalah yang sama. Tetap saja, Feruci tidak bisa membiarkan Ades tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ingin rasanya Feruci membersihkan dirinya terlebih dahulu, tapi tidak saat ada sesuatu yang lebih mendesak. Berjalan mendekat, Feruci kemudian menangkup pipi Ades dengan kedua tangannya. “Kenapa kamu masih memikirkan hal yang tidak perlu?” Pertanyaannya itu keluar dengan pelan, namun tajam dari bibir Feruci. “Kamu tahu sendiri kalau kita tidak akan bisa, Laba-Laba Kecilku.”
Tidak ada yang lebih tahu soal dirinya sendiri kecuali Ades. Sebuah senyuman pahit muncul di wajahnya bersamaan dengan tangannya yang menggenggam tangan Feruci, menarik sepasang tangan yang lebih besar itu dari pipinya. “Hanya penasaran,” jawabnya. “Bukankah menarik jika kita memiliki satu kopi dari diri kita? Bayangkan seorang anak setengah iblis dan manusia, lalu memiliki kemampuan mengatur hormon sepertiku dan keahlian bisnismu. Boleh jadi anak itu tidak akan terkalahkan.”
Jawaban itu tidak menarik, justru mengundang decihan dari Feruci. “Kamu … benar-benar menginginkannya?” Feruci kembali bertanya. Dia tidak selalu setuju dengan ide-ide Ades, tapi tidak pernah menolaknya mentah-mentah. “Kalau kamu mau, dunia pun akan aku berikan,” tambahnya.
Tentu saja, semua hal mungkin diwujudkan oleh Feruci. Meski begitu, keraguan tetap menggantung, membuat suara Ades terhenti di pangkal tenggorokan. Ades tahu pasti, jika ingin mewujudkan hal itu, maka Feruci harus terpaksa menggunakan kekuatannya yang dia tidak sukai. Dunia ini memang hanya taman bermain untuk mereka, tapi Feruci tidak suka bermain curang dalam permainannya.
Hidup mereka sudah cukup bahagia sekarang, lantas apa lagi yang dicarinya? Mereka bukan manusia biasa, mengapa mengidamkan sesuatu yang biasanya hanya untuk orang-orang biasa?
Ades tidak ingin menampakkan keraguannya, sedangkan Feruci bukan orang yang mudah untuk dibodohi. “Pikirkan baik-baik,” tambahnya. Tidak perlu disuruh pun, Ades akan melakukan hal itu. Bagaimana jadinya hidup mereka jika itu benar-benar terjadi?
Belum ada yang tahu, sebab percakapan mereka berhenti begitu saja. Keraguan masih terasa di pangkal lidah Ades, sementara ada rasa pahit yang mengganjal di langit-langit mulut Feruci. Sepahit apapun itu, akan ditelannya untuk Ades. Jika bukan sekarang, maka nanti pun tetap akan sama.
Rembulan semakin tinggi di langit, menyinari dunia dengan pendarnya yang elok, menemani decitan ranjang yang beradu dengan lantai marmer. Dentangan jam kuno hampir memenuhi sudut-sudut ruangan, suaranya cukup untuk menutupi suara-suara bising yang dari dua sejoli yang beradu kasih. Separuh dari malam terlewati sudah; mereka pun sama saja, merasa sudah cukup untuk malam itu. Belum ada suara yang keluar, hanya suara napas masing-masing yang memenuhi indra mereka.
Feruci masih membenamkan wajahnya pada ceruk leher Ades, sibuk bernapas dalam aroma tubuh yang hanya dimiliki Ades. Lantas jemari Ades datang untuk membelai helai rambut Feruci yang basah oleh keringat. “Terima kasih,” ucap Feruci sebelum memberikan sebuah kecupan di pipi Ades. Rasanya sayang sekali bilamana harus berhenti saat itu juga, namun juga sudah dirasa cukup untuk malam itu.
“Mm-hm.” Gumaman lembut muncul dengan gelengan kepala pelan. Feruci masih berada di atasnya, mengekang Ades di antara kedua lengan. Sementara tangan Ades menyentuh dada Feruci, seolah-olah sedang menggelitik dengan ujung-ujung jarinya yang lentik. “Oh iya,” katanya, “semuanya sudah kupikirkan baik-baik.”
Secepat itu? Mungkin Ades tidak ingin mewujudkan keluarga biologis. Lagipula, sudah seharusnya seseorang tidak berpegang pada kehampaan. “Jadi, apa jawabanmu?” Feruci tidak bisa memastikan sendiri, masih tetap butuh konfirmasi dari Ades. Boleh jadi, prasangka buruknya itu salah.
Benar saja—alih-alih menyerah, Ades justru mengangguk. “Kamu bisa kan?” tanya Ades, namun tak sekali pun terdengar seperti pertanyaan dan justru terdengar seperti sebuah tantangan. Bahkan omong kosong pun akan dijadikannya sesuatu yang maujud. Tidak ada salahnya sesekali menantang Feruci.
Lagi-lagi, Feruci mendecih dan memutar bola matanya. “Kamu ragu?” Lantas dikembalikanlah pertanyaan itu. Senyuman yang terpampang di wajah Ades dapat dimengertinya; Ades tak pernah ragu. “Akan aku berikan. Tapi hanya mimpi dan kamu harus tahu syaratnya terlebih dahulu.”
Semua hal di dunia ini ada karena sebuah transaksi. Jika menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus dibayar. Sudah pasti ada harga yang harus dibayarkan oleh Ades jika dia menginginkan hal yang tidak mungkin itu menjadi nyata. “Beri tahu aku,” balasnya.
Mata mereka beradu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Feruci menghela napasnya. “Kamu hanya akan bangun saat kamu benar-benar ingin bangun. Jika kamu jatuh terlalu dalam, maka aku pun tidak bisa melakukan apa-apa.” Feruci menyampaikannya dengan singkat dan lugas, tidak ada barang sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Kendati demikian, Ades tetap tersenyum dan mengangguk. “Aku terima tawaran itu,” jawabnya. Ades tidak lagi ragu-ragu untuk menyampaikan keinginannya. Wajah Feruci tampak tidak senang, namun dia tidak pernah mengatakan tidak untuk Ades.
Ah, itu adalah jawaban terburuk yang pernah didengar oleh Feruci. Mau bagaimana lagi? Jika Ades memang menhendakinya, maka tugas Feruci cukup mewujudkan itu menjadi sebuah keniscayaan. “Tutup matamu,” ujar Feruci. Dengan begitu, ruangan mereka diselimuti oleh keheningan sedangkan ruang dan waktu seakan-akan terdistorsi.
⋆☆⋆
Masalah sadar atau tidaknya Ades dalam dunia mimpi ini, Feruci tidak mengetahuinya dan memilih untuk tidak mencari tahu. Meski dia tahu sesuatu yang pasti: dia tidak akan membiarkan Ades untuk berada di dunia mimpi selamanya, jika diperlukan Feruci akan menarik paksa Ades untuk lepas dari buaian mimpi, dan dia tahu pasti bahwa negeri yang dipijak bukanlah sesuatu yang nyata. Semua kemungkinan sudah mulai bermunculan dan selama itu juga, Feruci memikirkan jalan keluar dari setiap kemungkinan. Sebab mereka—Feruci dan Ades—tidak bisa eksis dalam dunia dunia yang berbeda.
Mereka kembali jauh, tepat saat pernikahan mereka masih seumur jagung. Tanpa disadari, sudut-sudut bibirnya mulai tertarik. Rasa kasmaran itu belum menguap sama sekali. Hanya ada sedikit perbedaan, mereka memiliki anak perempuan kecil yang sibuk merangkak mengelilingi ruangan yang luas.
Ades berdiri terpatung, anak kecil itu menarik-menarik gaun Ades dengan jemarinya yang kecil dan gemuk. Belum pernah dia melihat anak kecil yang begitu menggemaskan, terlebih dengan kemiripan dengan wajah mereka berdua. “Lihat,” ujar Ades seraya mengangkat si Anak dengan hati-hati, memamerkan pipi gembil kemerahan yang basah oleh air liur. “Mirip kamu tapi gendut,” katanya.
“Jorok,” balas Feruci. Tapi memang begitulah adanya anak-anak, terutama di usia seperti itu, kalau bukan berlumuran air liur sudah pasti berlumuran lumpur. Meski begitu, senyuman di wajah Ades terlihat berbeda dari biasanya. Feruci sama sekali tidak peduli pada anak itu, yang dia pedulikan hanyalah perasaan Ades.
Mereka akan menghabiskan beberapa tahun ke depan di dalam mimpi ini. Hanya saja, beda dunia berarti waktu pun berjalan dengan cara yang berbeda, beberapa tahun mereka di dalam mimpi hanya akan memakan beberapa jam di dunia nyata. Paling lama, mungkin hanya satu malam selama Ades tidak terbuai dalam bujuk rayu mimpi yang memikat. Feruci berada di sana sebagai pendamping, meskipun dia bisa saja ikut campur—tapi tidak dilakukannya.
Dari sebuah senyuman yang mampu mengikat hati Feruci sebagai tawanan, lahir tetesan-tetesan air mata yang merembes dari mata Ades. Semakin deras saat Ades menempelkan wajahnya pada wajah yang penuh liur. “Terima kasih, sudah memberi aku anak selucu ini,” ucapnya. Tidak ada yang berubah dari Feruci, dia masih berharap Ades tidak terbuai terlalu jauh.
Semuanya berjalan sesuai dengan yang Ades inginkan. Dimulai dari satu, lalu lahirlah dua anak yang aktif mengisi kekosongan Rumah Dosa. Sungguh jauh perbedaannya dengan hari-hari yang biasa mereka lalui, entah apakah masih ada di dalam ingatan Ades tentang hal itu. Anak-anak memang berbeda, mereka berisik, penuh tawa, tapi juga mudah sekali untuk menangis.
Tidak peduli dari mana datangnya mereka, bahkan dari iblis seperti Feruci sekalipun, anak-anak tetaplah anak-anak. Ades tampak menikmati hari demi hari yang berjalan begitu cepat. Mungkin karena dunia ini dia yang menciptakan, Feruci dapat merasakannya tapi tidak dengan Ades. Sementara dia tahu di luar sana, penghuni Rumah Dosa sedang menikmati tidur malam mereka juga.
Perbedaannya begitu tipis, karena yang lain akan terbangun di kemudian hari. Akan tetapi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Ades menjelang terbitnya fajar nanti. Feruci kembali melihat apa yang terjadi di depan matanya, Ades yang menikmati menghabiskan waktunya dengan anak-anak kecil yang aktif. Dia begitu cantik, seperti bunga yang bermekaran di musim semi.
Melihat hal itu tidaklah buruk, namun dengan kesadaran penuh, Feruci tahu betapa gawatnya jika mereka terus tertidur. Untuk beberapa tahun ke depan di dalam dunia yang dibuatnya sendiri ini, masih tidak apa-apa. Senyuman bak bunga di musim semi itu masih menyihirnya, maka akan dibiarkan Feruci untuk beberapa saat lagi. Jika waktunya sudah dekat, maka akan diingatkannya kembali jika perlu.
Ketiga anak kecil itu tumbuh dan berkembang dengan baik, mereka penuh senyum. Barangkali karena Ades terus tersenyum pada mereka. Perlahan, rasanya seperti kenyataan semakin terserap dari diri mereka. Feruci tetap berada di sana, menemani Ades melewati setiap langkah penting dalam hidupnya dan hidup anak-anak mereka. Setiap hal selalu dirayakan, sehingga Rumah Dosa bukan seperti Rumah Dosa yang berada di dunia nyata.
Malam menyingsing, rembulan semakin tinggi di langit, dan Ades baru kembali dari kamar si Bungsu. “Lihat,” ujar Ades yang terlihat tergesa-gesa untuk duduk di sebelah Feruci. “Gambarnya lucu kan?” Ades menunjukkan kertas yang berisi coretan asal-asalan dari krayon berwarna-warni.
Tetap saja, Feruci tidak sebahagia Ades, dia pun tak mengerti esensi dari coretan asal-asalan itu. “Iya, lucu.” Dusta meluncur dengan natural dari bibir Feruci yang kemudian disambut dengan alis Ades yang menyatu dengan amarah. “Kenapa?” Feruci lantas bertanya.
“Bohong.” Mungkin mereka telah terlalu lama bersama, Ades sudah hapal seluruh bahasa tubuh Feruci. “Tidak apa-apa kalau memang tidak lucu untuk kamu,” katanya. Feruci sudah mau berkorban, hidup dengan anak-anak tidak seperti yang dikehendakinya hanya untuk Ades sudah cukup untuknya. Tidak semua laki-laki begitu, bukan?
Sepertinya dia memang tidak bisa berbohong soal itu, sudah jelas Feruci tidak menginginkan anak-anak seperti Ades. “Tapi kamu bahagia?” Pertanyaan yang sama kembali dilayangkan, seolah-olah Feruci tidak tahu jawabannya. Meskipun pada akhirnya, jawabannya selalu sama, masih dengan anggukan antusias. Feruci tidak membutuhkan hal lain, termasuk anak-anak, yang dibutuhkannya adalah kepastian akan kebahagian laba-laba kecilnya.
Mentari dan rembulan datang silih berganti, anak-anak mereka tumbuh dengan sehat. Semakin besar mereka, semakin mereka paham akan dunia yang mereka tinggali dan ingin terjun ke dalamnya. Masing-masing ingin bersaing untuk menjadi Feruci dan Ades kedua, tapi mereka selalu mendapatkan respon yang sama. Tawa kecil yang terdengar seperti cemoohan dari Feruci menghiasi hari-hari mereka dan tak seorang pun tersinggung.
Hidup mereka memang bukan seperti orang lain dan mereka pun tak berharap untuk menjadi orang lain. Semakin cemoohan itu terdengar, semakin yakin diri mereka untuk melampaui orang tua mereka. “Mereka tumbuh dengan bakat yang hebat,” ujar Ades di suatu sore, tepat saat mereka menikmati waktu minum teh di halaman belakang. “Karena kamu ayah mereka,” tambahnya.
Kali ini, Feruci dengan cepat membantah, “Karena kamu ibu mereka.” Kehadirannya tidak begitu berarti dalam hidup anak mereka, Feruci hanya ada untuk memenuhi keinginan Ades baik yang disampaikan padanya ataupun tidak. Jelas tidak ada alasan kenapa anak-anak itu bisa tumbuh hebat kecuali Ades lah ibu mereka.
Feruci tidak melakukan banyak hal, dia masih ingat dia yang menciptakan dunia mimpi ini. Bisa saja dia mengatur alurnya, tapi tidak dilakukan sebab Feruci ingin Ades yang memilih rute hidup mereka. Sebab itu kehadirannya tidak ada sangkut-pautnya dengan tumbuh kembang anak-anak mereka. Ades jauh lebih banyak berperan dibandingkan Feruci, untuk hal itu tentu akan diakui.
“Aku tidak bisa melakukan ini sendirian,” balas Ades, Feruci pun mengamini pernyataan itu. “Kamu selalu mau melakukan apapun yang aku minta, meskipun kamu tidak selalu terlihat senang. Tapi kamu sendiri memang kadang-kadang tidak memiliki ekspresi.” Penjelasan yang cukup panjang itu membawa sebuah tawa kecil dari Feruci.
Sudah banyak sekali siklus hidup yang dilaluinya, hampir semuanya sama saja. Boleh jadi inilah siklus hidup paling menarik dari semuanya. Terlebih, begitu Feruci harus menyaksikan anak-anak yang wajahnya mirip mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu dari mereka bahkan hampir terlihat seperti kopi dari dirinya, sementara yang satu lagi terlihat hampir mirip dengan Ades. Feruci hampir lupa kalau kehidupan di Bumi juga bisa menjadi menarik.
Mereka sudah mendekati usia dewasa, akhir-akhir ini bahkan Feruci ikut sibuk dengan pendaftaran ulang di universitas. Bukan main, anak sulung mereka baru saja diterima di salah satu universitas terbaik dalam negeri. Si Sulung sangat bisa untuk pergi ke negeri tetangga, namun, agaknya pergi ke luar negeri terlalu berlebihan untuk anak yang selalu ingin dekat dengan ibunya. Tidak menjadi masalah, karena mereka tumbuh di bawah sayap Feruci dan Ades dan ada fakta lainnya yang Feruci tidak lupakan.
Lagi-lagi, Ades menangis saat mobil yang membawa si Sulung pergi menjauh dari pintu utama Rumah Dosa. Pada setiap pencapaian anak mereka, Ades selalu menitikkan air mata dan Feruci selalu ada untuk merangkul dan menyeka air mata dari wajah Ades. “Kamu menangis lagi,” katanya dengan intonasi mengejek. Meski begitu, sebuah kecupan manis tidak pernah absen setelah Feruci menyeka air mata Ades.
Ades tertawa kecil, kepalanya bersandar pada bahu Feruci selagi matanya masih melihat mobil yang perlahan hilang ditelan jarak. “Lihatlah, anak kita sudah besar sekarang,” ucap Ades dengan lirih, seakan-akan tidak menghendaki waktu yang terus berjalan. “Cepat sekali waktu berjalan. Tahu-tahu, mereka sudah dewasa dan pergi dari rumah. Padahal kemarin makan pun masih berantakan.”
Setiap air mata yang menetes membuatnya sangsi, boleh jadi Ades tidak ingin kembali pada kenyataan. Dia begitu bahagia, dengan anak mereka yang wajahnya mirip sekali dengan mereka. Bukan hanya bahagia, Ades selalu bangga akan apa yang anak mereka capai. Ades merasakan semua perasaan yang Feruci tidak dapat rasakan.
Bimbang semakin menelan dirinya, namun Feruci juga mempersiapkan diri jika memang Ades belum ingin terbangun. Kalau memang begitu, mungkin nanti dia akan bangun ketika kisah di sini usai. Tapi saat itu terjadi, hatinya akan menjadi sangat hancur ketika akhirnya bebas dari buaian bunga tidur.
Feruci tidak akan memaksa Ades untuk segera bangun. Tidak jika hati Ades belum puas dengan skenario bahagia yang telah dibangun. Tangan Feruci masih melingkari pinggang Ades, mendekapnya erat entah mengapa, mungkin karena mereka sudah terlalu lama di sini. “Aku tidak tahu kamu bisa selembut ini,” celetuknya.
“Aku pun tidak tahu,” sahut Ades. “Mungkin karena sekarang aku sudah rindu sekali dengan anak-anak kita.” Perkataan Ades terputus oleh helaan napas yang terdengar cukup berat, seolah-olah sedang melepaskan sesuatu. “Bisakah kita pulang sekarang? Aku mau pulang ke rumah dan bertemu anak-anak kita,” ungkapnya.
Sama seperti pertanyaan Levi, perkataan Ades sukses membuatnya terkesiap. “Pulang? Rumah? Anak-anak? Kita sudah di rumah.” Feruci tidak yakin ke manakah mereka harus pulang. Sebab masih tinggi kemungkinan bujuk rayu dunia mimpi sudah menguasai Ades. Tapi boleh jadi Feruci juga salah.
Ades justru menggelengkan kepalanya, sebuah senyum jail muncul, kontras dengan parasnya yang anggun. “Kamu lupa anak-anak kita? Mona, Levi, dan Gore?” tanya Ades. Feruci seperti dipermainkan dalam permainannya sendiri, tapi tidak ada yang lebih diinginkannya kecuali kembali. Kata pulang tidak pernah terdengar semenyenangkan ini.
“Kamu masih ingat,” bisiknya pelan seraya tangannya mendekap Ades lebih erat. Feruci bahkan tidak dapat menyembunyikan seringaian bahagianya. “Baiklah, ayo kita pulang,” ujarnya. Tangan Feruci segera menggenggam tangan Ades, membawanya pergi dengan sebuah bisikan lainnya, “Tutup matamu.”
⋆☆⋆
Jika sebelumnya mereka hanya mendengar gelak tawa dan ingar-bingar kebahagiaan, kali ini yang mereka dengar adalah betapa gaduhnya ruang makan di pagi hari. “Mereka ribut lagi,” keluh Ades, tapi dia sama sekali tidak marah. Senyuman di wajahnya justru semakin menjadi-jadi. Rasanya seperti sudah lama sejak terakhir kali dia mendengar suara ketiga anaknya.
Setiap hari, ketika ketiga anak itu bersatu, pasti akan datang keributan. “Kalian tumben banget sih telat, abis ngapain hayo semalem?” Levi sibuk menuding, air muka penuh keusilan itu menatap mereka bagaikan menuduh. Namun itu hanya membuat Feruci dan Ades saling menatap, lalu mengedikkan bahu mereka—tetap saja anak-anak semakin curiga.
“Ye, bacot lu, lagian bukan urusan lu sih!” Mona menapik pertanyaan itu, barangkali ingin membela. Tetapi, boleh jadi memang sudah jengah sebab mereka terlihat seperti belum selesai bertengkar. Bukan hanya dengan kata-kata, tapi Mona juga sengaja menyentil pelipis Levi, cukup untuk membuat si gadis berambut merah muda itu menyergit kesakitan.
Sementara anak mereka yang satu lagi, Gore, masih sibuk menguap. Kepalanya bahkan bersandar pada meja makan. “Kenapa enggak ikut berantem juga?” tanya Feruci, alisnya terangkat sebelah melihat kelakuan Gore yang apatis. Meskipun ini bukan pertama kalinya Gore bersikap seperti itu.
“Males. Bacot sih,” sahut Gore, singkat dan sesuai ekspektasi. Dia hanya membiarkan kedua saudaranya sibuk bersilat lidah, saling mengatai, bahkan menyentil dan memukul satu sama lain begitu saja. Selama dia tidak diikutsertakan, lebih baik diam sambil menunggu makanan dihidangkan.
Semua pertengkaran kecil yang memulai hari mereka itu membuat Ades tertawa kecil. “Ya ampun, kalian ini,” ujarnya. Tawa itu cukup untuk membawa Mona dan Levi kembali ke kursi mereka dan berakhir diam. Sama saja, mereka tetaplah anak-anaknya, menatap mereka membuat Ades tenang dan senang. Mungkin ini yang orang-orang sebut dengan bersyukur.
Makanan mereka datang, mengintervensi keheningan yang menggantung dengan janggal setelah tawa Ades. Ketiga anak itu hanya dapat menatap heran dan bertanya-tanya dalam hati, tapi kemudian mereka bersikap seolah-olah tidak peduli seperti biasanya. Sementara Ades masih tersenyum dan Feruci menatapnya lekat-lekat. Hidup di dunia nyata jauh lebih baik dibanding tenggelam dalam buaian alam mimpi yang tak pasti.
Commission Story Written by Khairunnisa Han



Comments