top of page

Surat Kasih

  • Zira Kay
  • Jan 25, 2025
  • 3 min read

Updated: Jun 6, 2025


Bisikan Tuan Iblis pada Suratnya yang Keseribu



Untuk peramu yang menggerayang sukma sang ‘iblis’, kasihku Ades. Dari tuan yang meminta jari-jemarimu untuk ia puja, Feruci


Halo, nona peramu. 


Bagaimana kiranya kabarmu? Perlu aku bercerita kepada angin biar engkau mau membalas surat-surat yang telah kupinta untuk diantar kepadamu? Kalau dirasa perlu, lain kali aku akan melakukannya. Namun daripada itu; saat ini aku lebih berharap seribu kasih yang kutuang guna tinta di surat ini dapat tersampaikan kepada Nona Ades dengan baik. 


Kemarin aku melewati tempat di mana kamu berusaha meracuniku, dan itu berhasil membawa diriku untuk berkemauan menulis surat kepadamu—nona bersenjata racun—yang dijanjikan akan jadi istriku kala itu. 


Kalau dipikir ulang, pertemuan kita sungguh menarik, Nona Ades. Sampai saat ini, aku belum berhenti memikirkannya. Termasuk perihal keluarga buatan yang sudah lama aku dambakan. Kau benar bersedia jadi istriku, bukan, Nona? Pun, sudah terlalu terlambat untuk berkata bahwa kau akan mundur; walau aku percaya kalau pembunuh bersenjata racun sepertimu pasti tidak akan pernah mundur. 


Apalagi jika menyangkut soal nyawaku.


Kiranya, kapan kau akan berhasil membunuhku, Nona Ades? Aku sangat menantikannya. Apalagi jika kau berhasil bunuh aku ketika kita sudah resmi sebagai suami-istri. Itu akan menjadi berita kematian yang menarik. Bayangkan judul beritanya seperti ini: Seorang Pembunuh Tewas Dibunuh Istri. Sungguh menarik, bukan? 


Lalu omong-omong, saat kubilang yang cocok berperan menjadi istriku hanya kamu, aku telah berpikir ulang, dan kupikir saat itu aku benar-benar serius. Untuk menciptakan keluarga yang telah lama kudamba, kamu adalah orang yang paling cocok memerankan peran ‘ibu’ juga ‘istriku’. Jadi kuharap ucapanku kala itu tidak kamu anggap sebagai rayuan sekilas. 


Pun, saat kamu berkata tubuh elokmu tiada bisa beri aku anak, aku benar-benar tidak peduli. Sebaliknya, itu adalah keuntungan bagiku, kita jadi bisa ‘bersenang-senang’ dengan bebas. Ketahuilah aku sudah sangat menantikannya dari saat ini. 


Oleh karena itu, sampai jumpa lagi di saat kita bertemu nanti, Nona Ades. Lalu mari lakukan semua yang sudah dinantikan dari sejak surat ini ditulis. 


Kutunggu kau jadi istriku.


 




Melebur Sukma Nona pada Bisikan Surat si Tuan



Dari nona yang menunggu mati si tuan di tangannya, Ades. 

Untuk tuan iblis yang lihai berucap rayu, Feruci. 


Haruskah aku menyapamu kembali, Tuan? 


Dari banyaknya surat yang kau kirimkan, aku tidak menyangka kau akan menulis surat yang berisi perihal keinginan dan mungkin sedikit kerinduan darimu. Lalu, harus diakui bahwa ini cukup mengejutkan untuk seorang tuan yang tidak kenal ampun; yang tiba-tiba menulis surat hanya karena teringat usai melewati tempat di mana ia gagal diracuni. 


Berarti kau rindu padaku, bukan? 


Lalu soal sedianya aku menjadi istrimu, kau masih meragukan atau bagaimana? Tanpa bersuara sekali pun, kamu—tuan iblis—sudah tahu jawaban pastinya. Ditambah tawaranmu itu adalah jalan pintas untukku. 


Pernikahan ini seperti akses yang kau berikan agar aku lebih leluasa mencoba membunuhmu, ‘Tuan’. Pun aku tahu, kau pasti sadar akan hal itu; kau memang sengaja melakukannya. 


Sungguh otak yang lihai dalam melakukan hal licik. Itu sudah identik padamu, ya, Tuan?


Omong-omong karena kau membahas tentang pertemuan pertama kita, aku cukup terkejut kau akan mengingat rayuan spontan yang keluar dari mulutmu. Tidak hanya itu, kau juga memperbaikinya; buat aku yang baca jadi merasa tertarik untuk membalas. Ya, baiklah. Katakan saja memang begitu alasanku untuk balas suratmu yang isinya mengejutkan, bahkan tampak seperti pengakuan. 


Apa sebegitu rindunya tuan iblis kepada nona bersenjata racun? Lucu sekali. 


Aku juga membaca kata ‘bersenang-senang’ di dalam suratmu. Sekilas itu buat jemalaku merasa diberi tantangan dan menganggapnya menarik. Tiada hal perlu dipikirkan dengan kondisi tubuhku yang seperti ini. Pun dengan ‘bersenang-senang’ lebih sering, mungkin saja aku berhasil masuk berita dengan judul Seorang Pembunuh Tewas Dibunuh Istri. 


Aku juga sangat menantikannya. 


Oleh karena itu Sekalian saja mari kita kembali bertemu jika kau ingin, Feruci. Bisa juga kau langsung menikahiku di tempat. Membayangkan tentang menghabiskan hari untuk membunuhmu sungguh buat aku hampir lupa diri. Bahkan kalau bisa aku ingin bertemu sekarang juga dan mencoba melakukan pembunuhan lagi kepadamu. 


Sampai jumpa nanti, calon ‘suami'-ku.




 


Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page