Let's Get This Party Started
- Gavin As
- Jan 6, 2025
- 24 min read
Updated: Jul 16, 2025
Kepulauan ini merupakan suatu negeri pemilik bangsa bermasyarakat unik. Ketika negara lain mengalami pertemuan budaya antara satu sama lain, bangsa ini merasakan percampuran tidak dalam ruang, melainkan melalui waktu zaman; di mana kemajuan dinamika konsep teknologi abad ke-21 bertemu kokoh statisnya budaya feodal tua yang masih dan terus merajarela di seantero pulau.
Budidaya warisan milenium dahulu melahirkan bangunan-bangunan megah penggema identitas jiwa zaman, abadi sampai sekarang, bisa didengar semua manusia penjuru bumi. Di antara semua bangunan masa lalu, terdapat satu yang melompat jauh keluar zamannya dan melangkahi garis batas awal tujuannya ada, menjadi simbol tunggal abad pertengahan. Lain tidak lain, ia adalah kastil.
Kastil.
Bangunan tinggi menjulang disusun ribuan batu jerih payah pekerja keras orang-orang bawah, simbol digdaya abad pertengahan. Negeri ini memiliki tali emosional hangat akan masa lalu. Ketika bangsa sedarah lainnya melangkah pergi tinggalkan jejak masa-masa itu, menutupinya dengan kasar selimut turisme dan kebutuhan materialistik lain, kastil-kastil di negeri ini masih mengandung hidup keluarga-keluarga walau burung besi terbang bebas di langit dan televisi tipis merajai rumah-rumah. Seribu lebih kastil berdiri di negeri tradisional ini. Popularitas masing-masing dalam kalangan pelancong memiliki berbagai sebab; estetika arsitektur, kisah masa lalu, pemandangan alam, dan alasan-alasan lainnya. Termasuk kastil tua berdiri memandang suatu sungai lebar di baratnya yang akan mencapai umur satu milenium hanya dua puluh tahun lagi di masa depan bernama Kastil Arundel─sekarang dikenal atas nama ‘Rumah Dosa’.
‘Rumah Dosa’ merupakan nama lain Kastil Arundel bukan dari masa pedang dan tombak menguasai medan tempur. Penyematan predikat lain pada bangunan tua tersebut terbilang baru, kurang dari dua puluh tahun.
Tidak ada garis batas waktu jelas kapan nama deskriptor tersebut mulai diutarakan penduduk sekitar. Tidak ada tahun. Tidak ada bulan. Hanya ketika kaki suatu keluarga masuk menapak tanah Kastil Arundel, ‘Rumah Dosa’ barulah menyelinap ke dalam kamus percakapan masyarakat tanpa ada tahu alasan pasti kenapa dan bagaimananya.
Keluarga penghuni kediaman kastil mewah nan megah tidak memiliki nama, setidaknya penamaan keluarga tradisional umum; rahasia, atau mungkin tidak punya memang. ‘Seven Sins Family’, nama mereka sebagaimana publik kenal, mendatangkan kabar-berita ngeri tapi tidak tanpa hiburan tersendiri ke penduduk sekitar sejak mereka datang. Hidup berdampingan keluarga itu menakutkan dan menyegarkan pada saat bersamaan, dekat namun jauh, tidak ditolong kenyataan kalau Kastil Arundel berdiri mendongak tinggi dari milik penduduk lain─deklarasi jelas laut angkasa antara mereka seperti bumi dan bulan.
Penguasa palsu pada atas mereka, orang-orang biasa.
Temali tambang menggambarkan hubungan Seven Sins Family dan orang sekitarnya secara sempurna; penuh tegang khawatir yang tidak mau naik lebih dari garis batas perubahan, melesu turun kala mau melewatinya. Dalam suatu wujud aneh, penduduk sekitar Rumah Dosa hormat pada mereka. Hidup tenang, bekerja dalam diam perbedaan derajat, di kedamaian paksa menguntungkan dan membawa uang selama lebih dari dua dekade, terutama bisnis minuman alkohol.
Hubungan tegang antara keluarga dan penduduk lokal bisa saja dianggap permusuhan oleh pihak luar, kesalahan persepsi yang biasanya langsung selesai dengan mengunjungi Arundel. Namun, bagi Nathan Ruta─pangeran konglomerat alkohol asal London─kesalahpahaman itu akan jadi pelajaran berharga saat mau mencoba merebut kekuasaan Dinasti Rumah Dosa.
Empat mobil van hitam polos melaju dalam kecepatan tinggi, masuk Arundel dari arah kota kecil di utara. Mereka hampir tidak terlihat di bawah selimut gelap malam suram, mustahil bisa ditangkap mata bila bukan karena barisan sinar tiang lampu sekarat trotoar yang menerangi jalan. Bergerak dalam satu konvoi tapi menjaga jarak, satu-persatu bertemu di jalan utama, menuju satu tempat yang sama─Kastil Arundel.
Duduk empat pria dalam masing-masing van. Pandangan mereka tajam penuh fokus, pancaran kriminalitas prajurit bayaran muncul diperkuat sinar lampu, dengan fitur lain wajah ditutup topeng hitam, lengkap peralatan taktikal tingkat militer. Mereka punya tugas masing-masing, ada pembaca peta, yang melihat rambu, dan tentu menyetir. Tapi, bisa dipastikan kalau semua merupakan individu berbahaya dan bersenjata.
Termasuk Michael, pria yang sedang mengecek senapan sub-mesin.
“Tempat itu kelihatan ngeri sekali dari sini.” komentar Michael, memandang bayangan hitam Kastil Arundel terhadap langit malam. Mereka baru lewat batas wilayah Arundel. Namun, sosok kastil itu tampak sangat berkuasa.
Hammy, duduk di kursi penumpang depan, terkekeh. “Kau penakut banget ya. Kita di sini cuman buat menculik anak orang. Setelah itu, kita langsung saja pergi dan terima uang bayaran. Gampang, kan?”
“Gampang sih. Tapi, mereka orang kaya, kan? Pastinya bakal punya banyak pengawal.” balas Michael setelah mengisi magasin peluru senapan.
“Maka dari itu kita sekarang keluarkan senjata kaliber besar, bukan cuma pistol saja.” ucap lelaki lain, Sam, duduk di samping Michael dengan senapan sejenis. “Bos Ruta mau kita datang lengkap dan berhati-hati. Gak biasanya, loh. Memang yang kita serang ini siapa sih?”
“Seven Sins Family.” balas si pengemudi. Namanya Harphy, ketua operasi serangan secara keseluruhan. “Kita memang harus hati-hati dalam misi ini. Kita sedang melawan dia.”
Michael menaruh senapan pada pangkuan. “Siapa?”
“Tuan Feruci.”
Kereta mobil van berhenti satu-persatu tidak jauh dari kompleks kastil, di bawah barisan pohon besar, di Jalan London, depan Gereja St. Nicholas. Jumlah tiang lampu jalan minimal jumlahnya. Tidak ada seorang pun di jalanan, benar-benar sepi, dan itu bekerja bagus untuk mereka. Orang lokal tidak perlu tahu konflik yang akan datang.
“Satu. Dua. Tiga. Sekarang!”
Semua pintu mobil dibuka bersamaan. Mereka melangkah keluar, maju lari di bawah kegelapan dalam gerak formasi setara regu tentara, mendekati kompleks kastil melalui Taman Angmering. Detik operasi telah dimulai. Mereka punya lima menit untuk menguasai gerbang depan.
Harphy mengangkat tangan, jari membentuk gestur, dan mereka semua segera menempel pada tembok batu pemisah taman dan jalan. Kunci gembok bergantung di gagang pintu besi taman. Gestur lanjutan diberikan. Sam datang memberikan alat pemotong besi, yang diterima Harphy. Gembok itu hancur jadi dua di tangannya.
Dengan terbukanya pintu taman, mereka memecah jumlah jadi dua regu. Regu pertama masuk ke dalam taman di bawah pimpinan Hammy. Regu kedua lanjut maju dengan hati-hati ke gerbang depan bersama Harphy, terdapat dua penjaga di sana.
Sentak tembakan pertama datang dari arah gerbang depan, suaranya sepi dan sunyi, hasil kerja silencer di ujung senapan. Dua penjaga itu seketika rubuh menghantam beton. Mayatnya lekas mereka sembunyikan di balik semak belukar seberang jalan. Tempat masuk utama dan satu-satunya─biasanya─telah regu Harphy kuasai lebih cepat dari rencana.
Regu Harphy tidak langsung masuk. Setelah membuka gerbang, mereka menunggu di sana sembari memeriksa sekitar, kemudian menghubungi regu Hammy dengan walkie-talkie di pundak.
“Harphy memanggil Hammy.”
Suara statis muncul. “Hammy di sini. Menunggu di batas Taman Angmering. Bagaimana keadaan di sana?”
“Dua penjaga ternetralisir. Tidak ada tanda-tanda penjaga lain. Bagaimana di sana, menemukan penjaga?”
“Negatif. Kosong. Kami tidak melihat siapa-siapa di sini.”
Mereka semua mengantisipasi pertempuran senjata api, balasan besar dari penjaga keresidenan kastil, setidaknya puluhan hingga ratusan penjaga mereka prediksi akan ada mengintari Rumah Dosa. Namun, tidak ada orang menyapa mereka, baik dengan kata-kata atau gonggongan pistol. Kenyataan kalau penjaga yang mereka temui bisa dihitung dengan jari-jari satu tangan membawa kejutan menyenangkan, walau sedikit mencurigakan.
“Rasanya sedikit mencurigakan, tidak sih? Sedikitnya penjaga di sini seperti disengaja.” Michael mengantarkan pikirannya ke Hammy. Laki-laki itu tidak menoleh, tapi tetap mengambil kata-katanya.
“Masuk Harphy. Seluruh tempat ini cukup mencurigakan, tidak ada penjaga di mana-mana, bahkan di atas kastil. Apa harus kita lanjutkan?” tanya Hammy ke sang ketua operasi lewat walkie-talkie.
Mendengar pertanyaan Hammy, Harphy mengambil beberapa detik, berpikir dan menghitung. “Ya, harus.” balasnya. “Kita membuat banyak uang dari operasi ini. Jangan sampai uang jutaan itu hilang cuma karena kau takut, Ham. Hitung saja hari ini hari keberuntungan.”
Hammy mengangguk. Setelah memastikan kalau tidak ada penjaga di sekitar untuk kedua kali, Hammy dan kelompoknya lari keluar dari garis pohon, turun menyeberangi jalan kastil yang biasa dilalui kereta kuda atau mobil, hingga mencapai jembatan yang bersambung ke pintu tengah kastil menuju halaman utama.
Pundak Michael menempel tidak terlalu lembut di tembok dinding batu setinggil empat meter lebih, diikuti rekan-sekawan lain di belakang─dia sendiri dekat punggung Hammy. Segera, kelompok Harphy datang dari gerbang depan. Semua enam belas berkumpul.
“Aku lihat pintu masuk belakang tadi, masuk dapur sepertinya.” sebut Sam. Tangannya menunjuk bangunan bagian belakang kastil, ada pintu di sana.
Hammy lekas menambahkan. “Dan ada gerbang di utara.” jarinya menunjuk yang dimaksud. “Apa kita menyerang kedua pintu itu juga?”
Harphy mengiyakan. “Kirim setengah regumu ke pintu utara, aku kirim setengahku ke pintu belakang.”
Perintah Harphy diterima anggukan semua. Gestur diberikan, dan empat pria dari masing-masing regu menuju gerbang utara dan pintu belakang, sementara Michael, Harphy, Sam, dan Hammy─termasuk empat lain─tetap di gerbang masuk tengah.
“Semua sudah diposisi?” tanya Harphy melalui walkie-talkie. Semua pintu telah mereka kepung. Semua senapan sudah dikokang, ruang tembak diisi timah perunggu yang akan mencabut nyawa lawan.
Respon balasan masuk walkie-talkie. “Kami sudah di gerbang utara.”
“Kami juga sudah.” respon regu lain, di pintu belakang.
Harphy menekan tombol walkie-talkie. “Satu. Dua. Tiga. Masuk! Masuk! Masuk!”
Semua tiga regu mengisi kastil tanpa masalah.
Regu pertama, lewat gerbang utara, menyapu lapangan terbuka kastil dan menemukan... hal-hal tidak penting. Terdapat satu gudang kayu kecil tidak signifikan yang bisa dengan mudah dijatuhkan sedorong angin kencang kapanpun. Ia terhubung dengan padang bunga-bunga khas dalam negeri, dan didekatnya gegaris pohon buah yang bila siang akan dibayangi tembok kastil. Sepertinya tidak lebih dari sebuah tempat di mana pelayan The Seven Sins Family menyimpan alat-alat dan kebutuhan bahan berkebun, jauh dari lokasi yang harus diperiksa mendalam. Setelah sekali lagi memeriksa area ini, mereka lantas pergi, berjalan menuju area tengah kastil yang cukup jauh.
Di sana regu kedua masuk menyusur halaman, senapan sub-mesin naik dan terangkat, siap sedia pada arah-arah kemungkinan serangan datang. Mereka berjalan pelan, baris saling melindungi, dan tanpa suara. Tempat ini merupakan beranda depan bangunan utama. Enam CCTV bergantung di beberapa sudut bangunan. Tapi, tidak ada nyala cahaya merah tanda hidup pada mereka. Semua CCTV di wilayah kasti sudah mati. Regu Harphy membunuh seluruh koneksi di gerbang depan. Kelompoknya punya kekuasaan penuh. Air mancur cantik berdiri di tengah-tengah, mengalirkan air segar berpola bunga; mengelilinginya adalah lapangan hijau berpohon dan lingkar jalan tanah tempat kereta kuda berhenti. Tempat ini di mana keluarga penghuni menerima tamu.
Dan sekarang, mereka sedang kedatangan satu rentetnya.
Kaki regu kedua berhenti di tempat kala mereka sampai di pintu depan, mengepungnya. Pintu berwujud kembar, cukup untuk dua baris manusia masuk bersamaan. Tidak ada orang lain selain mereka di sini.
“Regu tiga, masuk.” Harphy menekan walkie-talkie-nya.
Balasan datang. “Regu tiga di sini. Kami sudah masuk. Berada di dapur sekarang dengan enam pelayan rumah.”
Regu pertama tiba tidak lama, berkumpul bersama di pintu masuk. Informasi ditukarkan, tapi tidak ada yang penting atau diperlukan. Harphy memilih untuk langsung masuk.
Ditekuk terbuka pintu kembar itu. Berhenti mundur tepat sebelum membentur dinding, ditahan dari membuat suara keras yang bisa membangunkan penghuni rumah. Mereka semua tumpah ke dalam. Bergerak lekas, bayangan-bayangan hitam kabur, di antara furnitur ruangan penyambut tamu, masuk ke ruang utama, mata laras dijaga tetap menghadap sisi dan sudut-sudut gelap tidak tercerahkan lampu mewah langit-langit. Barulah sampai di ruang makan.
Harphy buka pintunya. Mereka masuk ke dalam, satu-persatu, dan disambut oleh lebih dari sepuluh kru dapur Rumah Dosa yang terikat tali di kursi maupun lantai. Harphy tidak perlu mereka semua, hanya butuh yang paling senior, dia pasti akan menjadi sumber kaya informasi tentang kediaman ini. Sisanya sandra tidak bernilai.
“Hai, kau, pak tua,” Harphy todong laras senapannya ke pelipis pelayan senior, lubang pelurunya menoyor-noyor rambut putih si kepala dapur. “Bisa kau kasih tahu kami di mana kamar anak-anak Tuan Feruci?”
“M-maaf, tuan...” pintanya. “Tidak mungkin saya mem-”
Belum selesai pelayan senior itu bicara, bokong senapan Harphy sudah mengirimnya jatuh ke lantai. Darah mengucur dari rahang si pria ubanan, sudah tidak pada posisi idealnya. Desah sakit keluar darinya, ditemani napas cemas rekan kerja sekelilingnya.
“Lebih baik kau, atau salah satu dari kalian, buka mulut.” komentar Hammy yang berjongkok dekat salah seorang pelayan wanita.
“Bicara, sekarang.” senapan Harphy sudah naik di udara, dan akan jatuh menghantam kepala pria tua itu bila bukan karena suara salah seorang pelayan muda─dan baru.
“Akan aku beritahu! Jadi, tolong, jangan bunuh kami!” mintanya, menangis, kedua tangan menyatu dalam kepalan doa.
Harphy, di balik topeng, tersenyum. “Itu lebih baik.”
Pembicaraan mereka tidak begitu panjang. Pelayan muda itu membeberkan lokasi kamar semua anak Feruci, dari yang tertua sampai termuda, seakan-akan tengah menumpahkan saus tomat pada pizza yang akan dimasak, ditemani cerca dan hinaan ‘pengecut’ dari pelayan senior. Harphy berikan tiga kali tepukan ringan pada muka si pelayan muda sebelum memimpin semua prajuritnya─kecuali dua─ke lokasi yang dimaksud.
Bukan suatu penyerangan. Tidak ada gonta-ganti peluru, kemudian tidak ada ledakan ataupun api yang melahap satu ruangan. Ini merupakan penyerbuan.
Empat belas orang menyisir luas kastil. Michael dan Sam, dan lima lainnya, berpisah dari Harphy dan Hammy menuju lantai dua. Laras senapan lurus ke atas, menjaga pelannya langkah naik anak tangga keramik cantik yang melingkar lurus. Mau putra atau putri Feruci pasti akan menelan ludah saat menemukan banyak pria asing bersenjata masuk rumah ingin menculiknya. Siapapun mereka, melawan jumlah ini, tidak mungkin bisa melawan.
Levi mengenakan pakaian tidur. Piyama biru langit datar dengan garis luar merah muda khas bunga mawar yang mengalir dari kerah dan pundak hingga menuju lingkar akhir kaki celana, lembab air tertinggal pada telapak tangan dan muka. Baru Levi menyelesaikan urusan belakang di kamar mandi rumahnya, napas dia bahkan masih segar bunga kebun pasca sikat gigi dan air pembersih kumuran. Mungkin, itu harum yang para penyusup cium saat si gadis rambut merah muda terkesiap melihat mereka semua.
Sunyi jatuh di antara mereka. Tidak pasti berapa lama, yang pasti tidak lebih dari dua detik. Kilat muncul di kejauhan, cahayanya masuk menembus jendela terselimut gorden, dan kaki Levi melesat pergi.
“Itu si anak Feruci!” sebut Sam. “Tangkap dia!”
Michael melompat maju dengan dua orang lain, keluar dari formasi mengejar anak gadis itu, mengarungi koridor kastil dengan senjata disimpan di pinggul. Sam pergi ke sisi lain, mencari jalan lantai dua berbeda untuk menangkapnya. Mereka kehilangan Levi hampir dalam satu menit.
Derap singkat suara kaki Levi mengisi koridor. Langkah telapak kecil yang berpisah pendek menjelajahi permukaan lantai kayu tanpa sulit, kenyataan kalau dia tengah dikejar segerombolan pria tidak muncul pada bobot gerakannya. Jejak Levi memendek, perlahan mendekat ke satu sama lain, dan berhenti berlari saat pintu perpustakaan menyapanya dari pelosok pandang. Dia masuk ke dalam dan harum buku lama yang lebih tua dari pengertian manusia mengenai nasionalisme merasuki hidung.
Rambut kuning pirang milik adik laki-lakinya menyambut. Di bawah lampu kuning, warnanya terasa lebih benderang. Gore duduk di atas sofa empuk milik seorang raja di masa bubuk mesiu, dua kakinya naik melipat santai. Terbuka sebuah buku tua pada pangkuannya. Cahaya lampu menunjukkan judulnya, yang seharusnya bisa memberitahu topik apa yang sedang dibaca Gore; Poison of The Lost Past.
Seperti biasa, pikir Levi, sang adik membaca bukan untuk kenikmatan literasi melainkan guna memperdalam pengetahuannya tentang racun─sesuatu yang begitu dicintai.
Tumbuh semangkuk ide dalam kepala Levi. Kemunculannya memberi saran untuk pergi meninggalkan si adik dalam ketidaktahuan, jangan menyebutkan apa yang sedang berlangsung di rumah. Betapa lucu kalau tiba-tiba Gore dikelilingi pria bersenjata tiba-tiba saat baca buku. Rencana jahil itu dia dorong maju ke depan kepala.
“Halo, adikku tersayang~” Levi mendekat, suaranya jelas mengejek.
Gore merobek pandangan dari buku bacaan. Ekspresi kesal dari seseorang yang tidak senang waktunya berduaan dengan buku diganggu sangat jelas pada matanya. Setelah menaruh garis penanda di sepanjang halaman buku yang belum selesai dibaca olehnya, Gore tutup buku tersebut.
“Apaan? Ganggu orang lagi baca, tau.” ucapnya, menghela singkat.
Singkat kekehan Levi. “Gak ada apa-apa~”
Gore melihat panjang seringai tipis di atas rahang tajam kakak keduanya itu. Telinga bisa mendengar suara cekikikan yang tidak ada keluar dari mulutnya dan pancaran aura jahil muncul sejelas merah bunga mawar. Pertunjukan Loki untuk Thor. Tidak perlu pikiran seorang jenius untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
“Kenapa sih?” tanya Gore, menaruh buku bacaan di meja terdekat.
Levi tidak mengutarakan apa-apa lagi. Dia melangkah lebih dalam ke hutan buku dalam sunyi, masuk menyelinap di antara susunan kompleks rak-rak kayu dua kali lipat lebih tinggi dari pria dewasa. Ramai hentakan kaki dari arah masuknya Levi memberi jawaban cukup untuk pertanyaan Gore, yang sekarang atau yang nanti. Gore ikut ke mana Levi pergi setelah angkat badan dari sofa.
“Hei! Berhenti!” Michael masuk ke dalam perpustakaan. Gema teriakannya mengisi perpustakaan saat dia melihat Gore di dalam.
Mata kuning si laki-laki muda memberi mereka tatapan tajam menghina sebelum menghilang masuk ke dalam lorong panjang dan raksasa perpustakaan Rumah Dosa. Michael terlalu lama mengangkat senapan sub-mesinnya untuk mengancam si bocah Feruci.
Michael beri gestur ke dua di belakang. “Ayo, kejar anak itu!”
Mereka masuk lebih dalam melewati sofa tempat Gore baca buku. Michael melirik sekilas buku di meja tapi tidak memperdulikan judulnya. Fokusnya ada sepenuhnya pada lorong rak buku. Kedua krunya berpisah dengan satu gestur sederhana. Michael mengambil lorong tengah sementara dua lainnya masuk yang kanan dan di kiri. Ada banyak lorong buku di sini. Namun mereka tidak punya jumlah yang cukup untuk menutupi semua.
“Astaga, tempat ini luas.” Michael berbisik ke dirinya sendiri seraya kaki terus melangkah pelan, maju mengisi udara dengan bunyi telapak kaki. Senjata sekarang terangkat naik, menghadap depan. Michael mengecek atas rak, memeriksa dari antara buku, bahkan menjatuhkan beberapa dan tidak sengaja menghirup bau aneh. Dia hempas tangan di depan wajah. Saat perempatan lorong dicapai, dia ambil arah kanan.
Harusnya Michael bertemu satu kru yang mengikutinya saat mengambil belok kanan. Namun, dia malah menemukan kehampaan. Lorong di mana dia semestinya muncul tampak sunyi; begitu bersih dan rapih.
“Hey, Ro?” Michael panggil namanya. “Ro, kau di mana?”
Hampir tidak ada suara di udara perpustakaan. Kalau suara muncul, ia tidak lebih dari kercipan kecil mirip kuku tajam tikus gorong-gorong menggores dinding besi penjara, itulah apa yang telinga dengar. Michael rasa tidak mungkin tempat mewah dan dirawat sebagus ini memiliki tikus. Suara itu pasti suatu hal lain, tidak terlihat oleh mata, namun seharusnya bukan hewan pengerat.
Michael menemukan sumber suara itu setelah lima menit.
Dalam satu lubang persegi panjang, di mana lantai koridor antara rak buku seharusnya ada, tergeletak salah satu kru yang ikut bersama Michael. Terlentang tubuhnya, tangan dan kaki menekuk ke arah tidak semestinya, dan napas kecil dia memaksa masuk cerai-berai pudar kehidupan. Ratusan jarum panjang sejari tengah menembus semua bagian badan, yang terbuka maupun tertutup pakaian. Tidak butuh waktu lama baginya mengetahui kedatangan Michael. Getar bergulir matanya, pelan-pelan naik, menatap.
Tidak ada darah tumpah berceceran, bahkan jarum yang menembus daging muka tidak menyebabkan merah mengalir keluar, seperti disegel teramat rapat lubang-lubang tusuknya. Cairan hijau dalam sum-sum punggung jarum masuk penuhi ruang nadi, gencar membukanya. Tabir ketidaktahuan pergi dilempar.
Badan mengejang, seluruh fisik cerminan wujud Tuhan pecah seribu serpih. Tangan menekuk tidak karuan. Kaki bergetar tanpa acuan. Apapun yang awalnya merekat tegas kesatuan badan, kini hilang, patah dan robek, bergoyang tanpa arah selayaknya boneka panggung hilang tali tembus pandangnya. Jurang mulut lebar terbuka, mencoba teriak, dicekik ngeri saat sadar hanya suara serak getah basah keluar dari kerongkongan yang meleleh.
Michael berdiri tak berdaya. Dia tidak bisa merobek pandangan, seakan-akan sebuah tangan masuk memegang otak dan pikiran, dan memaksanya menonton penderitaan sunyi. Aksi voyeurisme sakit.
Dia berusaha menggapai walkie-talkie di atas bahu. Dia mau melaporkan apa yang terjadi, yang kedua matanya tangkap. Tapi, teriakan di balik puluhan rak buku merampok fokus.
Michael lari menuju sumber suara, meninggalkan badan meleleh dan dingin sendirian. Koridor perpustakaan berubah pudar. Judul buku pada barisan rak-rak hilang, menyisakan lompatan huruf dan angka yang meneriakkan ‘lari’ dan ‘kabur’ lebih keras, selalu cepat. Saat Michael mencapai pusat suara, apa yang dia lihat menarik lepas sedikit detak jantung.
Badan menempel pada rak perpustakaan. Dua pasak besi sepanjang satu kaki utuh menusuk perut, organ dalam hancur bagaikan kertas basah yang dipijak sepatu, tembus hingga punggung dan memakunya bak lukisan klasik di bagian kosong rak buku. Kru kedua telah ditemukan. Jarum kecil tertancap pada pipi kiri wajah bertopeng.
Michael hati-hati mendekatinya. Dia masih bernapas, kasar tapi hidup, dan semakin keras suaranya dengan setiap langkah maju diambil. Mata Michael lari dari satu sisi ke sisi lain, mengecek sudut kemungkinan serangan datang.
“Hei, Rico,” Michael buka suara saat wajah mereka satu jengkal dekatnya, dan sadar tidak ada serangan susulan. “Apa kau bisa mendengarku?”
Sang rekan tidak memberikan respon suara, hanya menoleh ke Michael, dan itupun menatap tanpa adanya fokus di mata.
“Hei, bisa kau-”
Uap panas menelan muka sang rekan, bocor lewat celah tipis jahitan linen topeng. Tingkat intensitasnya mendorong Michael mundur. Pembusukan si pria terjadi begitu cepat, akselerasinya terlalu lekas untuk diakibatkan faktor alami. Jarum lepas dari pipi, menciptakan suara unik besi hampa pada lantai kayu. Tidak seperti kru sebelumnya, pria ini tidak berteriak─malah menangis, mengeluarkan cairan kuning kental dari kedua mata.
Setiap sudut pakaian taktis yang dia kenakan dirembes cairan kental warna merah berbayang kuning─kontras sekali terhadap kain hitam bajunya─dari ruas bahu sampai batas mata kaki. Identik seperti di topeng, uap panas sesekali muntah dari segala macam bukaan, termasuk celah jahitan setipis apapun.
Dalam lima menit, bahkan sebelum jari panjang jam menyentuh puncak, badan yang awalnya berdiri tegak dan masih bernapas berubah, menyisakan genangan merah dilengkapi coretan kuning di sekitar sepatu bot. Cairan itu terlihat menyakitkan, namun bersih, dan Michael bisa memandang dua mata lebarnya sendiri di sana.
“Aku harus lari dari sini...”
Sebelum ekor bisikan sesunyi suara burung itu bahkan bisa keluar semuanya, mengalir dari lidah, kaki lapis sepatu bot Michael sudah lari mengejar pintu keluar yang tidak ada di pandangan. Suara sepatu basah menggema dalam luas dan panjang koridor perpustakaan yang terasa tidak mau berhenti atau mempunyai batasan.
Sam. Mata Michael melebar.
Bayangan Sam, atau konstruk yang mirip, muncul saat Michael berbelok; di kedua sisinya figur prajurit krunya, mereka di bawah bingkai pintu. Pandangan berubah kabur. Semua terlihat seperti gelombang panas udara kacau dan buih gelembung air asam. Sebelum lama-lama, pandangan dia hilang jadi hitam pekat; bukan dari Michael menutup mata, tetapi lantai kayu mencium muka.
Dari pandangannya si lain, pertemuan mereka tidak begitu sederhana.
Tatkala Sam menatap sosok Michael, dia tidak melihat pria yang berbincang bersamanya setengah jam lalu. Sam melihat penghinaan, berjalan lamban dan menyeret kaki, tumpukan daging basi dalam wujud manusia. Sampah basah yang Sam baru sadar merupakan potongan daging tumpah ke lantai. Apa yang
‘Michael’ tentang makhluk itu hanyalah pakaian familiar yang kini terkapar bebas di antara kaldu merah dan kuning.
“Sam, kita harus pergi.” ucap salah satu kru yang gemetaran.
Sam mengangguk setuju, dan bersama mereka, keluar dari perpustakaan.
Pintu mendesah, menutup dengan tamparan kunci besi.
● ● ● ● ●
Senjata Sam dan tiga kru lurus ke depan. Kaki mereka lincah menyusuri koridor. Getar badan disembunyikan disiplin paksaan hasil kerja di militer selama puluhan tahun.
Mereka harus menemukan perempuan rambut merah muda itu. Levi harus bertanggung jawab atas kengerian tadi. Dendam tertanam, mulai tumbuh di hati setelah melihat apa yang terjadi.
Empat orang itu segera bisa memenuhi balas dendam muda pada Levi ketika si gadis mereka temui di akhir koridor perpustakaan, tertawa dan berjalan tanpa rasa salah maupun dosa. Dengan senapan sub-mesin menatap tubuhnya, Levi langsung menyerah. Terangkat tangannya ke udara dan ditemani ucapan dengan bahasa tubuh lembut menggoda yang terlalu dibuat-buat.
“Oh, bapak-bapak mendapatkanku! Mau mendapatkan kesempatan nikmat bersama seorang~?”
Suara Levi mirip kain belundru sutra matang, mencapai semua bagian badan mereka, jemari yang menggapai nafsu terdalam di balik rompi taktis. Mereka bisa saja melucuti celana saat itu juga bila bukan karena teriakan Sam tiba-tiba.
“Kemari! Kami akan membawamu pergi...” teriak Sam, kalimatnya terlalu lembut dari apa yang dia harapkan.
Levi dekati mereka, berdiri di antara senjata dan nafsu jinak. Sam jambak baju si perempuan di pundak, menyeretnya kasar. Bila jambak dan tarikan itu lebih kuat sedikit saja, pakaian Levi sudah pasti akan rontok dan robek, mementaskan kecantikan tubuh putih berserinya ke seluruh mata tersedia.
Prajurit bayaran di belakang Levi memilikinya di mata senapan, tapi hilang ketika benda itu jatuh, dan begitu juga badan dia─darah kotor terciprat, mengucur dari kepala sudah tidak utuh.
Gonggong pistol terdengar satu milidetik setelahnya.
Mona dimuntahkan kegelapan sudut koridor. Asap panas berdansa di ujung pistol kaliber besarnya. Suara ciuman selubung peluru dan lantai memulai suatu pertarungan yang tidak pernah menguntungkan para penyerbu.
“Tembak dia!” perintah Sam keluar, suara keras, di atas paru-paru.
Dua tentara bayaran tersisa membalas bukan dengan suara, tapi dengan gonggongan senjata mereka sendiri. Selumbung peluru jatuh dalam intensitas yang akan membuat pianist profesional tersipu malu, tapi betapa biasa-biasa saja bila dibandingkan teriakan keluarnya setiap peluru dari mulut laras senapan.
Mereka merobek apapun yang ditemui. Rak-rak sepanjang koridor hancur, berubah jadi potongan kayu kecil, terbang ke mana-mana memenuhi udara. Buku di dalamnya meledak saat mereka hantam, memecah kertas dan mengirimnya ke penjuru koridor. Mereka merusak dan menghancurkan semua hal.
Semua, kecuali Mona.
Mona bergerak sebelum mereka bisa menarik pelatuk, lantas bersembunyi di balik rak buku setelahnya. Ketika mereka mengisi ulang magasin, Mona keluar, dan menarik pelatuk. Tiga peluru melesat dan menusuk badan salah seorang tentara bayaran, merobek jantung, usus, dan hati. Yang lain mengisi ulang tepat pada waktunya, Mona dibidiknya, dan dia tarik pelatuk─tembakannya meleset jauh ke atap. Dia berteriak kesakitan. Pisau telah terbenam ke dalam pahanya, lalu satu lagi menembus pinggul. Levi mengamati hasil karya karsanya dengan gembira tidak terbantahkan seraya mau menarik keluar bilah lain dari saku pisau di paha yang sekarang sudah tidak tertutup celana piyama. Itu tidak terlanjutkan, namun.
Levi jatuh, dadanya hampir mencium lantai. Kepala pria itu meletus berubah jadi bubur dan sari otak tanpa bentuk ke seberang belakang.
Sam berdiri sendiri di antara tiga mayat kawannya. Semua terjadi di bawah sepuluh detik, tidak cukup untuk Sam memanggil bala bantuan dari Harphy. Dan ketika dia mau melakukannya sekarang, dua peluru merobek dada dan satu lain meledakkan kepala. Tubuh Sam runtuh ke tanah, punggungnya pertama.
Setelah memastikan kalau tidak ada gonggongan senjata api lagi, Levi pun berdiri dan memperhatikan empat badan di sekitarnya. Dia cemberut saat sadar kalau Mona tidak meninggalkan salah satu hidup buat mainannya.
“Yah! Lu ngebunuh mereka semua, ih! Gua kan mau mereka hidup, tahu!” Komplain Levi jatuh ke telinga tuli. Mona sedang sibuk memastikan kalau mereka semua sudah mati dan tidak memikirkan perkataan adik saudarinya. Dan mereka sudah mati. Dengan kepastian itu, Mona berdiri tapi tidak dulu menaruh pistolnya ke sarung di pinggang.
“Berapa banyak penyusup ini?” tanya Mona, menoleh ke saudarinya yang sedang mengagumi tangan kekar salah satu mayat tanpa kepala. “Levi!”
“Huh? Oh! Gua nggak tahu, sih. Tadi sempat dengar banyak langkah kaki di lantai pertama, tapi yang lu bunuh ini yang gua gak sengaja ketemu. Mungkin, lu harus periksa langsung, deh.”
Mona mendongak. Dia sadar sekarang, dirinya juga mendengar langkah kaki, mendekat dan berjumlah dua orang. Mungkin bukan kelompok yang Levi maksud tapi pasti bagian dari para penyusup.
“Sembunyi.” ucapnya ke Levi. Saudari mudanya itu mengiyakan dan berdiam tekuk lutut di belakang rak buku. Mona, sementara itu, bersembunyi di kegelapan pojok ruang.
Dua pria bersenjata siap sedia muncul dari pojok koridor, berjalan di atas garis edar sama seperti kelompok sebelumnya. Mereka datang bukan karena seseorang memanggil bantuan─Sam sudah terlambat─tapi karena suara keras adu senjata. Tidak lama bagi mereka untuk menemukan badan Sam dan regunya di ujung koridor.
“Anjing! Panggil Harphy! Ada orang di lantai dua!” ucap salah satunya.
“Anjing, memang.”
Empat pisau menusuk kaki dan paha. Gerak apapun yang otot bawah mereka berikan, sekarang hilang. Badan dengan mudah jatuh. Dari kegelapan, Mona berjalan keluar dan laras pistolnya menatap mereka bergantian.
“Senjata kalian, lemparkan.”
Mereka butuh waktu untuk fokus ke Mona karena rasa sakit. Saat dunia sudah tidak lagi bergoyang karena bingung, mereka lemparkan senapan sub-mesin. Tangan diangkat ke udara. Menyerah sudah.
“Oh, ada dua lagi!” Levi berkomentar setelah keluar dari persembunyian dan mendekat. Tangannya bertepuk seperti akan memakan makan malam. “Boleh aku bermain-main dengan mereka, kakak cantikku~?”
Mona mengambil senapan sub-mesin yang tergeletak. Tidak ada senjata api atau tajam pada badan mereka dilihatnya. Mustahil mereka bisa kabur dengan kaki seperti itu, dan permainan Levi bukan sesuatu yang pria bisa tolak. Mona berikan anggukan untuk pertanyaan adiknya sebelum memunggungi mereka dan pergi.
“Ah! Baiklah!” Levi setengah mendesah. Pandangannya lantas beralih pada dua pria terbaring, dan perlahan mendekat dengan dua kaki dan dua lutut di atas lantai. “Akanku perlihatkan penampilan dunia dewasa sesungguhnya kepada bapak-bapak sekalian~”
● ● ● ● ●
Suara tembak-menembak di lantai dua cukup mengejutkan kelompok Harphy dan Hammy yang masih memeriksa ruangan-ruangan di bawah. Mereka tidak mengirim pesan. Mereka pikir semuanya akan baik-baik saja, lagipula adu pukul dan tembak adalah modus operandi umum. Namun, semua dikirim mundur ke dapur, tempat para sandera berada, saat ketika suara adu tembak berakhir dan tidak ada di antara Sam atau Michael membalas kontak.
“Apa yang tadi terjadi, huh!?” Harphy datang meneriaki pelayan muda yang memberi informasi tentang Rumah Dosa ini. Kepal tangannya siap memukul.
“Saya tidak tahu! Rekan-rekan anda pasti menemukan sesuatu!” punya dia, tangannya gemetaran.
Harphy pandangi sekelilingnya, menemukan muka-muka khawatir dan takut kecuali di muka paling tua antara mereka yang memiliki senyum tipis puas balas dendam. Tidak tahu pasti apa yang terjadi, Harphy tinggalkan si pelayan muda dan berjalan menuju si pria tua. Tangan yang beraksi, dia angkat si tua bangka di lengan, menekuknya, dan Harphy dorong dia maju.
“Pegang mereka semua! Kita akan pergi ke bagian lain kastil!” ucap Harphy ke Hammy, yang memerintahkan sisa kru tentara bayaran untuk melakukan aksi yang sama.
Dengan pelayan rumah siap digunakan sebagai tameng manusia, kelompok Harphy mulai berjalan menuju sisi lain kastil yang belum mereka jamah. Rumah Dosa lebih luas dari kelihatannya di lantai pertama─pasti lantai dua juga begitu, mereka pikir. Berkerumun ramai-ramai, Harphy pastikan kalau tidak ada orang mau menyergap mereka, dalam pengertian kalau tidak ada yang cukup berani untuk melakukannya.
Di sana Harphy salah besar.
Darah muncrat. Kepingan helm kevlar pecah bersama daging dan remukan tengkorak ia seharusnya lindungi. Bola mata tertembak maju, mencium pelayan perempuan di pipi yang dahulu-manusia itu tawan. Gada abad pertengahan yang menghantam terbang ke samping, ke wajah prajurit bayaran lain di belakang. Ia buka tengkoraknya, mengirim serpihan tulang, daging kenyal, dan bola mata pipih ke semua orang di ekornya.
Mona berkuda-kuda di antara dua mayat berdiri. Dua mati, sisa lima.
Semua orang, mau tentara bayaran atau pelayan kastil, berlarian selayaknya koloni tikus yang baru saja ditemukan kucing kelaparan. Fokus tentara bayaran berubah. Lepas sudah para tawanan, mereka mengangkat senapan sub-mesin dan menembaki Mona. Dalam kekacauan tembak-menembak, Hammy melihat semua pelayan berlarian ke arah yang sama.
“Harphy! Awas!” teriak Hammy.
Dari bawah Mona datang. Harphy melompat mundur, menghindari ayunan gada yang bisa menghancurkan rahang. Aksi itu membuat Mona terbuka lebar. Mengangkat senapannya, Harphy muntahkan semua sisa isi magasin ke dada Mona. Wanita itu melangkah mundur tergopoh-gopoh. Pegangan pada gadanya lepas begitu saja.
Kekehan lega keluar dari mulut Harphy, tapi segera mati saat dentingan puluhan peluru terpakan dan lantai terdengar. Dia melangkah mundur, memberi jarak antaranya dan Mona.
“Apa-apaan...” napasnya tercekat. “Hammy!”
“Hammy sudah pergi, Harphy! Dia lari!” ucap salah seorang bawahannya.
Harphy tidak bisa dilihat di manapun. Dia menghilang.
Harphy dan sisa tiga prajurit bayaran lain melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sejak nama ‘Seven Sins Family’ mereka dengar. Mereka lari, secepat apa yang mereka bisa. Tanggal benda-benda yang bisa memberatkan mereka. Helm. Rompi. Tas. Mereka tanggalkan semua. Mona perlahan akan pulih.
Setidaknya, mereka sudah siap setelah itu.
Harphy dan Hammy pergi ke dua arah berlawanan. Takdir mereka tidak akan saling bertemu lagi, dan mereka tidak akan saling tahu takdir itu.
Hammy mengikuti para pelayan rumah. Berlari melewati belok dan putaran, mata memastikan kalau dia terus melihat punggung pelayan paling belakang. Pasti tempat aman ke mana mereka pergi. Kalaupun mereka tidak mau diajak bekerjasama, yang memegang senapa di sini adalah dirinya dan bukan mereka.
Hammy terus berlari, tidak sedetik pun kaki mau berhenti. Sampai dirinya masuk ke ruangan luas modern penuh televisi yang menyiarkan rekaman CCTV langsung.
CCTV? Mereka sudah mematikannya. MEREKA SUDAH MEMATIKANNYA.
Satu televisi menyiarkan pemandangan setan wanita melompat-lompat di atas kejantanan prajurit bayaran, penuh girang dan tawa, memakai cuma baju piyama. Celana tergeletak jauh, sudah tidak melindungi sepeser kaki mulus yang terbuka lebar. Mulut menjilati sepuluh jemari milik prajurit lain di samping─pisau menancap di wajahnya─sampai liur mengalir berantakan pada punggung tangan.
Televisi lain memproyeksikan sosok iblis merah melangkah susuri lorong lebar dari ujung layar. Rambut berhamburan bebas tanpa batas. Harphy berada di belakang tembok─di ujung lain layar─bersembunyi, mengisi ulang senjatanya. Cahaya menerangi layar saat dia keluar menembak, tapi berhenti ketika Mona menghantam senapan sub-mesin Harphy hingga pecah. Dia lari, hilang dari layar. Mona mengikuti, berjalan.
Paling ringan di antara itu semua adalah layar televisi di mana Gore tengah mengobrak-abrik mobil mereka, proyeksi dari CCTV gerbang yang seharusnya sudah dimatikan.
”Selamat datang,” ucap pelayan senior paling tua itu, menyeringai. “Karena kalian, kami jadi terganggu untuk menonton hiburan malam.”
Hammy mengangkat senjata, pandangannya menyapu ruangan. Kesadaran kalau bukan hanya staf dapur yang ada di ruangan menggetirkannya. “Diam! Angkat tangan kalian.”
“Oh, tidak,” jawabnya, mengangkat palu konstruksi setinggi dada. Staf lain mengikuti contoh si tua, mengangkat berbagai macam benda tumpul dan tajam, beberapa dengan senang hati membawa tangan kosong.
“Jaga jarak... aku memegang senapan!”
Tangan menarik lepas magasin dari senapan sub-mesin, merubahnya jadi tidak lebih dari sebuah rongsokan besi. Hammy menoleh, lebar mata menatap pelayan muda─pembeber informasi Rumah Dosa ke Harphy─berdiri di samping, pisau mengambang di atas kepalanya.
“Sudah tidak.” bisiknya.
Pintu menutup, teriakan menyusul, dan darah membesut di bawahnya.
● ● ● ● ●
Kelompok Harphy masih terus berlari, tidak berani berhenti, menelusuri koridor panjang dan lebar tertutup tembok di segala sisi. Senjata mereka tidak bisa dilihat di mana pun, dibuang karena isi magasin telah habis. Lampu berusia ratusan tahun berkedip di atas mereka.
Prajurit bayaran paling belakang jatuh, tersandung benda bukan kayu. Dalam sekejap, cepat dan gerak khas predator yang melompat saat korban melintas, ia melilit pergelangan kaki.
“Anjing, apa ini...”
Akar berurat setebal lengan pria dewasa meremukkan kaki. Teriakan sakit meletus dari mulutnya dan air mata mengalir dari mata. Harphy berhenti, juga dua lain. Dia berusaha menjangkau mereka, keputusasaan mengotori mata, tapi kekuatan mendadak menariknya seperti mangsa laba-laba ke dalam pintu hitam, di mana tidak ada cahaya masuk dan tidak ada cahaya keluar.
Jeritan basah minta tolong milik manusia dibengisi dalam keadaan tidak lazim menggema di seluruh koridor kedap-kedip cahaya. Lolongan itu berakhir dengan rengekan remuk tulang.
“... Lari.”
Ruang depan tempat pertama masuk menyambut, membuat napas mereka terhela penuh terima kasih. Rasa itu harus mati saat suara langkah menggema di lorong mencapai telinga. Mona masih mengejar mereka. Harphy melihat keliling dalam panik, memerintahkan prajurit tersisa tuk sembunyi, sendirinya mengambil persembunyian di balik perapian mewah.
Niko, bersembunyi di bawah meja besar, merogoh radio panggil satu arah dari kantung celana, benda elektronik tersisa di pakaian. Tangan, gemetar, masih lihai menyetel frekuensi. Ruta harus tahu kalau musuhnya terlalu berbahaya.
Beep. Frekuensi tepat dicapai.
“Niko, apa yang kau lakukan!” bisik Harphy, tapi terdengar bagai teriakan.
“Mengirim pesan!”
Mona masuk, dan semua tinggi-rendah suara mati. Tidak ada di antara mereka berani bahkan berbisik. Termasuk benda. Jarum jam antik di tengah dinding tidak lagi berdenting. Namun, Niko, dia berusaha mencuri menit.
“Bos Ruta...” bisik Niko. “Di sini Tim Harphy. Objektif kami sudah hancur. Kami tengah diburu penjaga kediaman Feruci. Keluarga ini berbahaya. Saya ulangi. Berbahaya.”
Niko menoleh, memeriksa apakah ketahuan atau tidak. Kelihatannya tidak. Dia masih hidup, masih bernapas. Niko melirik Harphy dan memberikan gestur jempol.
Tombol ‘kirim’ radio panggil ditekan. Beep.
Gada menghantam pipi Niko. Tulang tengkoraknya merobek kulit dan kelaur dalam kepingan. Sekali lagi, gada Mona menghantam muka Niko. Lidah putus akibat tekanan dengan rahang. Semua serpih melompat keluar kepala, mendarat dekat ujung sepatu Harphy.
“Hei,” Mona melirik Harphy dari kolong meja. “Di sana rupanya.”
Harphy melesatkan kaki lebih dulu daripada matanya bisa membelalak. Meja Harphy lompati, kakinya hampir kena ayunan gada Mona. Berguling di atas lantai saat mendarat, Harphy buka pintu utama dan langsung berlari keluar tanpa peduli satu kru dia tinggalkan dalam Rumah Dosa.
Mona menghabisi orang itu setelah mengambil radio panggilan dari tangan Niko. Kematian orang kedua terakhir Mona pastikan mewah. Satu hantaman di tulang ekor, satu hantaman di punggung, kemudian satu hantaman ke kepala.
Melumpuhkan, menyesakkan, dan mengakhiri.
Harphy sudah lelah. Tidak bisa menolong satu regu, bahkan dirinya sendiri.
Tangan jatuh menumpu badan yang bertekuk lutut. Mendekat, bunyi mesin di kejauhan menarik pikiran dan niat hidup perlahan bangun. Harphy menyeret maju kakinya, menyerah saat lampu mobil menyorotnya sekilas. Kendaraan itu berhenti, sampingnya menghadap sang kapten regu.
“Tolong... Tolong aku...” suara Harphy tidak bisa lebih dari bisik.
Sopir mobil keluar, tidak mengindahkan pinta Harphy, dan membuka pintu penumpang. Sepatu hitam hak tinggi menapak tanah. Paha mulus nan lembut keluar diundang lutut, membawa lainnya. Gaun sama gelap jatuh menyelubungi tapi tidak menutupi umpan rasa. Kain tipis nan halus pada dada memperlihatkan kulit dalam kekaburan menggoda yang semu, mengundang mata tuk melihat sayap pundak yang tak ditutupi apapun. Mahkota panjang sosok itu melayang di dingin udara, ungunya mengalahkan hitam malam.
Pintu di belakang Harphy terbuka. Mona berjalan mendekat, masih pegang gada haus darah, cairan merah itu menetes dari bola besinya. Mona bergantian memandang Harphy dan si sosok baru.
“Ades.” Mona berdiri di samping Harphy dan mengangguk hormat kepadanya, memberi pengetahuan pada Harphy kalau ini bukanlah pertolongan yang dia harapkan.
Tangan Ades naik setinggi telinga. Telapak dibuka, mengekspektasi sesuatu. Radio panggilan ditangkapnya setelah Mona lempar. Ades memberi sedikit perhatian ke benda itu sebelum fokus tertuju sepenuhnya ke Mona.
“Kerja yang hebat, anakku, Mona. Sekarang, kamu bisa kembali.”
Sekilas Mona melirik Harphy. Namun, daripada pandangan ingin membunuh, Mona memandang seperti anak kecil kehilangan nafsu makan; menghina dan mengejek. Mona mengangguk, berjalan balik, dan menutup pintu.
Kepala Ades pelan-pelan memutar ke Harphy. Tersenyum.
● ● ● ● ●
Ruta duduk di atas kursi kerja hitam. Jemari sibuk menekan satu sama lain, bergetar penuh kebingungan, sampai melupakan tumpukan kertas pada pojok meja kerja. Pesan kemarin masih membuat jantungnya berdegup. Dia ingin teriak sekencang-kencangnya, keras, sekeras-kerasnya. Bingung. Khawatir.
Selain pesan itu, tidak ada pesan lagi datang dari Kelompok Harphy.
Bel pintu berbunyi, tanda orang masuk. Ruta hampir meledak ke orang yang datang bila dia tidak sadar orang itu adalah targetnya.
Tuan Feruci.
“Tidak perlu lama-lama,” ucapnya, telapak terangkat ke wajah Ruta. “Saya datang ingin mengembalikan sesuatu yang saya percaya adalah milikmu.”
Feruci menaruh radio panggilan pada meja kerja. Sedikit bercak darah menempel di sisinya, dan benda itu sendiri masih hidup, menunjukkan frekuensi pribadi milik Ruta.
“Dalam membuat rencana ke depannya, akan lebih bijak bila anda tidak bermain-main dengan saya. Diri anda sudah memiliki panutan sempurna di kedua orang tuamu, jadi saya pikir tidak perlu mencoba ambil jalan di luar punggung mereka. Itu artinya anda tidak menghormati mereka.” senyum Feruci tipis tapi berat akan kelicikan.
“Urusan saya di sini sudah selesai,” imbuhnya, berjalan mundur. “Semoga hari anda menyenangkan.” dan Feruci pun berbalik, meninggalkan denting bel di kantor Ruta.
Ruta memandang pintu. Satu. Sepuluh. Tiga puluh. Detik, kemudian genap satu menit. Napas baru keluar. Kertas berjatuhan ke lantai saat meja terhempas sedikit ke atas setelah Ruta menendangnya. Sakit pada tulang kering tidak menang melawan rasa sakit dalam dada. Punggungnya menyerah ke sandaran kursi dan tangannya meremas dada. Apakah sudah tidak ada cara lain? Ruta sudah melempar uang ke pilihan paling mahal. Tidak mungkin dia bisa menerima fakta kalau dirinya kalah.
Mata jatuh pada radio panggilan di meja. Bercak merahnya berteriak sunyi, saksi bisu atas kengerian apa yang orang-orang suruhannya rasakan. Ruta menghela napas berat. Dua tangan berkeringat dinginnya mengelap wajah. Setidaknya dia masih hidup. Pemikiran Ruta bukanlah lagi pikiran predator haus darah dengan keinginan menggulingkan gajah, melainkan pikiran mangsa yang berhasil kabur bertahan hidup akibat kesalahan. Dia ingin minum. Dia ingin mandi.
Dia ingin tidak mau bersaing lagi dengan Tuan Feruci.
Commission Story Written by Gavin As on Facebook



Comments