Narasi Buah Hati tentang Ibu
- Zira Kay
- Jun 6, 2025
- 3 min read
Updated: Jun 11, 2025

Secarik Kisah antara Ibu dan Putranya
Alkisah, semesta berujar bahwa jenamanya akan dikenang sebagai insan tanpa jemala; tanpa kasih; dan tanpa welas asih.
Ia pernah mati, tapi bukan secara denotatif. Dahulu ia buang jenamanya biar ikut hancur bersama tuan dan nyonya—orang tuanya. Namun, ia kembali hidup kala rayu diucapkan oleh dua jemala yang rasanya tiada mampu ia sebut sebagai manusia—atau memang sebaiknya tak perlu disebut sebagai manusia.
Dalam rengkuhnya, ia tumbuh menjadi seorang anak yang tak mendamba kasih, tapi diberi seribu kasih oleh nyonya elok yang berperan sebagai ibu. Pun, laksana merawat buah hatinya sendiri, Ades; nyonya yang dimaksud, tiada pernah absen untuk sekadar memastikan seluruh kabar anak-anaknya.
“Oh, ini koleksi kepalamu yang terbaru, Gore?” Seperti kali ini, di ruang yang hanya menyimpan teriakan tanpa suara, Ades memperhatikan setiap hal baru yang dimiliki oleh putra angkatnya.
“... Ya. Akhir-akhir ini banyak yang menarik perhatian,” jawabnya mengundang kekeh. Ades berbalik meliriknya, menepuk bahunya, sebelum berujar, “Kau semakin berkembang,” pujinya. Namun, entah kenapa pujian itu sedikit menyentuh kalbunya.
... mungkin, jauh di dalam lubuk hati, sebenarnya ia punya kemauan untuk menerima seluruh kasih dari sang ibunda.

Perihal Tulus Kasih sang Nona
Dikatakan oleh suara yang memekik bahwa keseluruhan ia telah kotor bahkan hancur. Beberapa berujar bahwa daksanya elok, tapi menjijikkan. Adapula yang bilang kalau parasnya manis, tapi mengerikan.
Namun, tiada siapapun mengerti bahwa atmanya adalah yang paling lugu dan suci di antara mereka. Entah bagaimana dengan yang lain, tapi menurutnya ia satu-satunya yang mengemban dan mendamba kasih di kala semuanya hanya berpikir perihal nafsu—semua nafsu.
Mungkin, di manik ratusan insan ia adalah nona yang menggoda hasrat; sangat penuh dengan gairah. Akan tetapi, kala kalbunya dipertemukan dengan sang ibunda yang merengkuhnya sejak kecil, refleks egonya merangkak berujar ribuan terima kasih.
“Ibu, kita akan ke mana habis ini?”
Kini, di antara jutaan manusia, dengan tulus ia melantangkan kata ‘ibu’. Lalu sebagai balas, diterimanya senyum manis sang ibunda. “Hmm ... mau lanjut jalan hingga ‘ayah’ selesai dengan urusannya?”
“Boleh!” Diraih lengan ibunda, didekap seakan akrab. Mungkin pikirnya ini hanyalah lakon, tapi sebenarnya murni ia tulus bersikap sebagai seorang putri.
“Ibu ... ibu. Andai engkau tahu, lebih dari tulus aku mengucapkan kata ‘ibu’—atau mungkin aku memang sekadar dara yang mendamba kasih.”

Sebuah Cerita Singkat Milik si Sulung
“Mona, nanti kamu ada kelas siang?”
Kala ia menatap langit tuk sekadar melempar sumpah serapah, lamunannya dibuyarkan oleh ibunda yang gemar mengatur riuh. Ia menoleh ke belakang untuk sekadar beri bungkam sebagai jawab; menatapnya dalam-dalam, sedang angan bergulat.
Mona adalah sulung; setidaknya untuk sekadar formalitas di dalam kartu keluarga. Mona adalah anak angkat tuan dan nyonya; seorang anak yang di hadapan publik tertawa akrab. Namun, ia adalah ia, tiada terikat dan bebas beri unjuk perihal rasa yang dikhawatirkan warga. Oleh karena itu, sedikit jemalanya terganggu kala nyonya yang berperan sebagai ibunda bertanya dengan lembut perihal agendanya.
Dia meletakkan seribu rasa hormat kepada ibunda, hanya saja kalbu, jemala, dan daksanya belum terbiasa menerima kasih tiba-tiba dari sisi lembut sang nyonya.
“Ah, iya. Aku ada kelas,” jawabnya singkat.
Mendengarnya, ibunda melukis senyum di parasnya; di langit milik mentari sambil berkata, “Hati-hati saat ke sana.” laksana seorang ibu yang khawatir kepada anaknya.
Mona masih belum terbiasa. Habisnya tampak terlalu kontras antara bagaimana biasa nyonya bersikap dan kala sisi keibuannya keluar. Namun, jika ditanya perihal pendapatnya, jujur ia berkata bahwa ada rasa kagum terhadapnya.
Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X


Comments