top of page

Sampai Tak Ada Jejak

  • Shikanoo
  • May 23, 2025
  • 12 min read

——


“Sudah puas hatikah kamu bersenang-senang sekarang, Edmond?”


Sosok itu berdiri di tengah kegelapan. Kehadirannya bagai refleksi dari cermin antah berantah. Gamang dengan sepasang manik terang yang menatap lekat-lekat. Ini seperti melihat bayangan diri sendiri, kalau saja tak ada darah yang tiba-tiba merembes di sekujur badan dan kulit pucat menghiasi wajah.


Tes.


Tes.


Cairan kental menetes ke lantai seperti melodi pengantar tidur. Kemerduan yang sangat kontras dengan bola mata yang membeliak lebar—menyorotkan ketakutan, kehilangan cahaya kehidupannya perlahan-lahan.


Di antara hening yang menyelimuti, suara itu kembali menggema.


“Puas kamu, E D M O N D?”




***


BRAK!


Gore terperanjat dari tempat tidurnya karena dentuman keras di luar kamar. Membuyarkan segala mimpi yang dia dapat. Bisa dia dengar suara langkah kaki saling berkejaran bersama jeritan seseorang dan raungan keras.


Ah, Stan…. Hari-hari.


Ia mendengus pelan. Tidak bohong jantungnya berdegup kencang saat ini. Bukan hanya karena aksi kejar-kejaran di luar kamarnya—toh, ini memang pemandangan normal di Rumah Dosa—tetapi juga karena mimpi yang akhir-akhir ini menghampiri Gore. Mimpi yang benar-benar mengganggu kualitas tidurnya.


Egmont…. Ngapain, sih, orang mati datang ke mimpiku terus-terusan?


Masalahnya Gore masih punya proyek yang harus diselesaikan. Klien dari Ades menyuruh dia untuk mengungkap seorang hacker. Niatnya ingin tidur sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan, tapi setiap terpejam mimpi itu selalu datang—lagi, lagi, dan lagi. Menyebalkan! Kantong matanya pasti sudah lebih hitam sekarang.


“Ugh.” Ia harus segera beranjak. Jaringan internet berjalan terlalu cepat. Gore tidak rela membiarkan lawannya mengambil start lebih dulu hanya karena dirinya kesulitan tidur. Lelaki pirang itu duduk di depan perangkat komputernya. Serta merta menenggelamkan diri dalam perangkat dan jaringan untuk melacak segala log aktivitas klien dan apa saja yang janggal. Mungkin ia bisa mendapat petunjuk lain atas peretasan apa saja yang dilakukan si hacker ini; identitasnya, tempat tinggalnya, kehidupan sehari-harinya, keluarganya….


Gore merebahkan diri ke sandaran kursi.


Argh…. Ayo kita cari hiburan sedikit.



***



Masker gas melekat pada wajah Gore selagi ia melangkah masuk ke Rumah Kaca. Dengan hati-hati mendekati seseorang yang menggelepar—mengejang-ngejang dengan mulut megap-megap di atas tanah. Pelayan itu tampak susah payah mencuri oksigen untuk paru-parunya, tetapi racauan halusinasinya tetap tidak berhenti seperti beberapa saat lalu ketika jebakan Gore tengah bekerja.


Gore tidak bisa menahan sunggingan puas di bibirnya. “Haha! Berhasil!” serunya. Eksperimennya menggunakan tanaman selama berbulan-bulan ini benar-benar tidak mengecewakan. Tanaman itu hanya seukuran pot kecil hingga sedang. Gore melakukan modifikasi pada bagian spora hingga bisa melepaskan spora psikoaktif—cara kerja yang mirip jamur halusinogen. Namun, dengan tambahan toksin di dalamnya.Jebakan yang sempurna untuk melumpuhkan lawan tanpa perlu effort besar. Ditambah lagi tanamannya ini tidak dapat dengan mudah diidentifikasi karena tanamannya yang indah membaur dengan bunga-bunga lain di dalam Rumah Kaca.


Gore masih memandangi tumbuhan hasil budidayanya itu dengan penuh bangga, ketika suara wanita mengalihkan perhatiannya. “Kamu kelihatan bersenang-senang, Gore.”


Yang dipanggil langsung berdiri dan menyapanya. “Biasa. Satu lagi jebakanku sukses!” Tangannya membawa pot kecil yang dimaksud dengan sumringah.


Ades ikut senang mendengarnya. Kemudian ia bertanya, “Gimana progress-nya?”


Mengerti yang dimaksud ibunya, Gore menjawab dengan lebih serius. “Sistem yang diserang udah aku amankan dari jauh. Aku udah dapat lokasi IP dan aksesnya juga. Tapi, butuh waktu buat ekstrak kode-kode programnya buat nyari informasi mendalam soal siapa dan apa maunya hacker ini. Apalagi menyangkut personalnya. Tenang. Beberapa hari lagi juga semuanya kelar.”


Ades mengangguk paham. Ia lantas mempersilakan Gore kembali melanjutkan kegiatannya. “Jangan lupa panggil pelayan lain untuk membuang kotoran di sini.”


Ah iya. Gore hampir lupa dengan eksistensi korbannya yang kini tergolek dengan mulut berbusa. Melihat ibunya yang tak bereaksi apa-apa, bahkan sekadar tutup mulut pun tidak, Gore jadi merasa pelayan ini terlalu berlebihan. Mungkin nanti aku coba biar lebih menarik dari ini reaksinya.


Pemuda itu meletakkan bahan eksperimennya. Membuka masker ketika sudah di luar rumah kaca lalu meregangkan badan—mengerang pelan. Matahari di langit atas kepalanya terlihat menyilaukan.


Kalau dipikir-pikir, mungkinkah dirinya terkena efek samping dari eksperimennya sendiri? Halusinogen dari spora tanaman itu mungkin menempel di pakaian atau kulitnya. Meski sedikit, Gore tahu betapa kuatnya hasil zat kimia tersebut. Bisa jadi tumbuhan tersebut yang membuat ia terus-menerus memimpikan hal yang sama. Kalau merujuk dari perilaku korbannya tadi, jelas si pelayan melihat, mendengar, serta merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada—tidak nyata—dan mimpi juga saudara kembarnya bukanlah suatu hal yang sepatutnya hidup.


Yang sudah mati tak pantas menyandingi yang hidup.


Mungkin ia harus mulai bereksperimen pada sesuatu yang tidak biasa dilakukannya. Membuat penawar racun.


***


Gore tidak bercanda kala ia berkata semuanya akan kelar dalam beberapa hari. Jika itu menyangkut lokasi dan pergerakan si hacker, maka, ya, dia baru saja memecahkan teka-teki skrip pada jaringan sistem lokal klien, juga secara global yang akhirnya terhubung pada perangkat si lawan. Ia bertindak seakan ialah si hacker itu sendiri; menaruh perangkap virtual; menjebak lawannya agar tak dapat lagi beraksi di dalam server—terisolasi selagi Gore lanjut menggali informasi personal si hacker. Dengan koneksi yang dimiliki Feruci dan Ades, bukan perkara sulit menelurusi forensik digital dan membongkar VPN yang digunakan. Heh. Receh, pikirnya.


Dalam satu kedipan mata, nyawa si hacker sudah ada dalam genggaman tangan. Tinggal menunggu hama itu datang sendiri kepadanya untuk meminta pengampunan. Rencana Gore adalah mencoba untuk bernegosiasi dengannya. Dia akui hacker ini bukan amatiran. Kemampuannya seperti peretas dengan pengalaman bertahun-tahun. Gore pikir, dengan negosiasi kecil, ia bisa memanfaatkan skill orang itu entah sebagai anak buah atau dijadikan kolega bisnis.


Hanya saja, Gore tidak mengantisipasi akan adanya serangan balik yang dilakukan oleh si hacker terhadapanya.


Tidak.


Kepada keluarganya.


Gore menatap layar komputer dengan bola mata membulat lebar-lebar. Ia tidak salah baca. Pesan yang dia terima berisi semua informasi mengenai keluarganya—Feruci, Ades, Mona, Levi, Stan, Beel, juga dirinya. Ada foto masing-masing anggota keluarga serta rumah tempat tinggal mereka. Tak hanya itu, bahkan ada gambar-gambar yang kelihatannya diambil diam-diam saat mereka berperan di luar.


[ ] Kamu pikir sudah menang melawanku?


[ ] Apa maksudnya ini? 

Gore mencoba tetap tenang.


[ ] Seperti yang kamu lihat sendiri. Aku tahu semua tentang kalian, keluarga kaya raya yang tinggal di kastil megah. Terkenal dengan bisnis sukses dan koneksi luas. Tapi, aslinya kalian cuman kumpulan orang-orang psikopat.


[ ] Katakan, berapa banyak nyawa yang sudah kalian renggut demi kesenangan dan uang?”


[ ] Kalau nggak ingat, aku bisa kasih ringkasan data LENGKAP lagi padamu. 


Satu lagi dokumen Gore terima.


Gore harus membalas sesuatu.


Gore harus melakukan sesuatu. Orang ini sudah tahu terlalu banyak. Ia harus segera bertindak!


Namun, lampiran lain yang diterimanya membuat Gore mematung seketika.


[ ] Oh, ya. Kayaknya aku juga harus ingetin kamu sama ini. Gimana? Bikin kangen, kan, Edmond Rothschild.


Foto keluarga. Keluarga lamanya. Dua orang yang dulu pernah menjadi ibu dan ayahnya, berdiri dengan pakaian mewah nan elegan. Sementara, di antara mereka, dua anak bagai pinang dibelah dua tersenyum ke arah mereka. Itu adalah Gore yang dulu, Edmond Rothschild, bersama saudara kembarnya, Egmont Rothschild.


Gore berharap ini hanyalah satu dari halusinasi lain akibat tanaman spora miliknya. Sayangnya tidak. Hacker ini sungguh mengetahui semua tentangnya.


[ ] Kirim uang tiga juta dollar dalam 24 Jam.


“HA—!?”


[ ] Informasi ini sama berharganya seperti segudang berlian, lho. Banyak orang rela membayar separuh hidupnya demi bisa mendapatkannya.


[ ] Hidupmu dan keluargamu ada di tanganku, Bocah. Turuti atau semua informasi ini bakal bocor ke tangan banyak orang.


Sial! Lebih dari sekadar masalah uang, Gore tidak ingin menyerah begitu saja. Ada reputasi keluarganya yang menjadi taruhan besar di sini. Salah langkah sedikit semua yang dia miliki—kehidupannya kini—akan lenyap dalam satu kedipan mata. Lagipula, apa yang bisa menjamin si hacker akan menepati janjinya?


Gore termangu tanpa tahu harus berbuat apa sekarang.


Dia butuh bantuan. Sebenci-bencinya Gore melibatkan orang lain dalam pekerjaannya. pemuda itu lebih benci membiarkan hacker yang terlalu banyak tahu ini lolos begitu saja.


Tidak selama kaki dan tangan ini masih ada!


Pada akhirnya Gore memutuskan untuk berkonsultasi kepada Feruci. Ayahnya tidak sedikit pun terlihat panik—tenang seperti biasa. Seakan ini bukan masalah besar. Malah, ancaman hacker itu lebih terdengar seperti meremehkan keluarganya—dan dirinya.


Feruci memberi isyarat ke pelayan yang kebetulan tengah membersihkan ruang tengah. “Panggil Mona,” titahnya.


Tak berselang lama, perempuan berambut merah itu melenggang masuk dari pintu besar dengan badan yang sudah dipermak sedemikian rupa. Pasti mau ngeluyur nyari mangsa, pikir Gore. 


“Apaan?” tanya Mona setengah kesal. “Sibuk, nih. Kalau bisa cepetan sebelum spotlight gue hilang.”


“Sayangnya kamu harus nunda dulu senang-senangnya, Anakku.” Feruci tersenyum miring. Senang sekali pria ini mengusik kesenangan anaknya. Mengacuhkan Mona yang keberatan, ia melanjutkan. “Misimu kali ini adalah membantu Gore melenyapkan hacker yang mengancam kedamaian keluarga kita. Infiltrasi kediamannya. Eksekusi segera dalam waktu 24 jam.”


Menyinggung soal keluarga adalah cara tepat mencuri perhatian Mona. Gadis itu tentu tidak akan diam jika ada siapapun mengganggu panggungnya. “24 jam?” Ia tergelak. Tantangan yang tiba-tiba datang memacu adrenalinnya. “Bisa diatur,” katanya penuh semangat.


“Lo yakin? Waktunya sedikit banget,” tanya Gore khawatir.


“Lo remehin gue?” Mona merangkul adiknya. “Tenang. Gue turun ke lapang, dan lo awasin dari kamar lo, aihin perhatiannya. Lokasinya secured, kan?” Gore mengangguk. Si kakak menepuk punggungnya. “Good! Kalau gitu ayo! Ada koleksi yang pingin gue pamerin hari ini.”


Feruci memperhatikan kedua anaknya pergi meninggalkan ruangan. “Good luck,” katanya menyimpulkan senyum.


***


[ ] Waktumu tinggal 10 jam, Bocah. Terserah mau sampai kapan berpikir, tapi setelah itu, kamu tahu apa yang bakal terjadi.


Pesan itu diterima Gore selagi ia mencoba bernegosiasi sekaligus memantau Mona melalui earpeice dan pelacak di komputer. Bagaimana ini? Dia tidak bisa fokus. Tawarannya untuk menambah jangka waktu dengan nominal  jaminan lebih besar ditolak mentah-mentah. Mona masih cukup jauh dari lokasi target. Gore mengutak-atik sesuatu lagi di perangkatnya untuk terhubung dengan si hacker via suara. Ia tidak bisa menghabiskan waktu untuk mengetik.


“Apa alasan aku harus percaya kamu bakal berhenti setelah dapat uang itu.” Gore bertanya tanpa basa-basi. Suaranya sengaja ia samarkan untuk menyembunyikan identitasnya—meski, sebenarnya, orang ini sudah tahu siapa dirinya. Toh, si hacker juga melakukan hal yang sama. Suaranya mirip tikus kejepit.


“Hei, ayolah. Aku ini pebisnis. Aku meminta tebusan yang lebih dari yang kuterima di job-ku sekarang. Kalau aku sudah terima uangnya, aku anggap kamu yang beli informasinya. Barang pindah tangan. Win-win.” 


“Siapa bilang kamu nggak akan back-up datanya setelah terima uang?”


“Emang, ya. Otak kriminal itu beda.”


Ngaca! teriak Gore dalam hati.


“Begini ya, Bocah Ingusan. Setelah kalian membayar uang jaminan itu, kalian sudah bukan urusanku lagi. Cuman mitos lama yang nggak menarik sama sekali buatku. Kalian nggak punya rasa takut, buat apa aku lanjut? Musuh kalian urus sajalah sendiri,” katanya.


Dia terdengar serius dengan perkataannya. Seperti profesional yang bukan pertama kali berurusan dengan hal begini. Meski begitu, rencananya dan Mona sudah jelas. Tidak ada uang tebusan melainkan nyawa hacker yang akan menjadi bayarannya sendiri.


[ ] Terus distraksi dia, Gore! Gue udah di lokasi.


Gore membisukan sambungannya dengan si hacker sebelum membalas Mona. “Iya. Orangnya pasti ada di sana. Gue lagi terhubung sama dia!”


Gore bisa melihat Mona berkelit cepat ke tempat yang dimaksud. Ada sedikit kelegaan terasa di dada. Gore bisa membayangkan sepuluh detik lagi akan terdengar tawa maniak si kakak perempuan yang tengah menguji coba senapan kesayangannya.


“Jangan lupa, waktu terus berhitung mundur. Terlambat satu detik saja perjanjian kita hangus dan semua dokumen ini bakal pindah tangan. Gimana pun aku orang yang nepatin janji dan berprinsip tooth for a tooth. Termasuk—”


[ ] Gore—


Gertakan itu sudah tidak ada artinya sekarang.


Mereka sudah menang.


[ ] —Tempatnya kosong!


“Termasuk kalau kalian sendiri yang melanggar perjanjiannya.”


[ ] INI JEBA–!!


Dengung keras serta gemuruh hebat tiba-tiba terdengar, sebelum alat komunikasinya tiba-tiba hening. Mona!? MONA!!??” Sambungannya terputus. “Berengsek!” Ia tidak memperkirakan titik koordinat itu sebagai jebakan. Ia sudah memeriksa semuanya. Ada banyak tanda yang menunjukkan bahwa si hacker bermarkas di sana! 


Si hacker tertawa lantang. “Kepercaya dirian kalian memang perlu dipuji. Kamu pasti nggak mengira aku bisa baca pergerakan kalian. Aku tahu semua kebiasaan kalian, bocah-bocah tengil.”


“Kalian kalah telak.”


Kursi tempat Gore duduk terjengkal ketika ia bangkit dengan penuh amarah. Ia mencoba memutar otak, mencari cara untuk menghubungi Mona lagi. Namun, semua yang dia lakukan sia-sia. Ia juga tidak bisa melakukan negosiasi apa pun karena si hacker juga tidak dapat tersambung, pesannya juga tidak terbalas—atau mungkin malah tidak terkirim.


Hingga tiga jam tersisa, Gore mulai frustasi dan putus asa. Mungkin ia harus meminta bantuan lagi kepada orang tuanya. Ia benar-benar tidak punya pilihan lain.


Di saat itu, ia mendengar pintu kamarnya didobrak tanpa ijin. “Woi, Koala! Ayo ikut gue!” Suara melengking Levi memekakan telinga.


“Berisik lo anjing! Nggak lihat apa gue lagi misi!?” seru Levi gusar sekaligus kesal.


“Misi apa? Mengerami telor? Pantat mulus lo itu lumutan lama-lama kebanyakan duduk.” 


“Lo—” Levi tidak mendengarkan dan malah menarik tangannya tiba-tiba. “Woi! Lepasin!”


“Nggak! Pokoknya lo harus ikut gue!”


Langit terlampau gelap, dan jalanan kota sudah sepi karena malam memang sudah larut ketika Levi membawa Gore keluar rumah—ke sebuah toko reparasi kecil di pinggir kota. “Ngapain kita ke sini?”


Levi tak menjawab dan tetap menggeret Gore masuk. “Si ganteng udah dataang!”


Ngeongan terdengar.


Gore membeliak melihat sosok yang lebih tinggi di depannya. Berdiri mengelus-elus senapan yang masih mengeluarkan asap dan bau mesiu kuat.


Gadis itu melirik. Pipinya kemerahan di antara cipratan darah dan seringai menghiasi wajah. “Yo,” sapanya.


“Mona!?”


***


Pemukiman kumuh, padat, dan terasing dari keramaian kota; sangat tepat dijadikan sebagai tempat berkamuflase memang. Apalagi di tempat terpencil begini. Tapi, ini terlalu klise. Tinggal interogasi penduduk di dekat titik koordinat, ancam mereka—kalau tidak mau menjawab tembak kepalanya—lalu temukan kediaman si hacker.


Ini terlalu mudah, pikirnya mula-mula.


Namun, ada satu hal yang sedikit mengusik Mona ketika mulai menelusuri dan menyusup ke dalam tempat itu. Titik yang dimaksud pada ponsel ternyata masih terlampau jauh. Ketika ia terus berjalan, tahu-tahu dirinya keluar dari tempat tersembut. Tersasar di tanah tersegel dengan bangunan terbengkalai di balik pagar tingginya.


Masih klise. Dasar kroco.


Stan yang sedari tadi bersamanya lebih dulu melangkahi pagar dan berlari ke dalam gedung. Ia mengeong nyaring; memberi tanda bahwa jalurnya aman—tak ada perangkap. Mona lantas mengekor sambil tetap mengawasi sekitarnya. Sejauh ia berjalan masih tidak ada apa-apa. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada tanda-tanda ancaman. Tempat ini kelewat tenang.


Mona terus mengikuti Stan yang menunjukkan lokasi target lewat penciuman tajamnya. Mengarah ke sebuah ruangan terpojok di lantai menengah. Ia pikir memang itu tempatnya—berkamuflase dalam gudang terbengkalai. Ia memberi sinyal ke Gore, lantas tanpa ragu langsung mendobrak ruangan tersebut. Namun, yang Mona temukan hanyalah kekosongan—terlalu resik untuk sekelas gedung terbengkalai. Hanya ada satu komputer menyala di ujung ruangannya.


“Gore ruangannya kosong!” katanya melalui earpiece. Ia mendekat ketika komputer itu tiba-tiba menyala, menampilkan kumpulan running text yang tak terbaca.


Di saat Mona telah berdiri lebih dekat dan mampu membaca apa yang ada di layar sana, barulah ia sadar bahwa dirinya telah salah langkah. “BANGSAT! INI JEBA—!” Suara nyaring terdengar dari luar ruangan, disusul rangkaian peledak aktif meruntuhkan lantai dan langit. Seketika gravitasi menarik tubuh Mona dengan cepat. Waktu mendadak memperlambat dengan sendirinya. Bak sengaja memberi Mona kesempatan untuk melihat tumpukan besi panjang di balik punggung dan tumpukan beton di depan wajah yang siap merenggut nyawanya cuma-cuma.


Oh tidak. Siapa dirinya kalau mati semudah ini!?


“STAN!”


Kucing kecil itu sudah berubah menjadi monster setinggi dua meter lebih. Dengan tubuh kuatnya, ia menerjang ke arah Mona lantas menggendongnya pergi ke area yang lebih aman. Napas Mona tersenggal-senggal. Tadi itu hampir saja. Ia tersenyum lebar. “Haha! Bajingan! Awas lo hacker anjing! Gue temuin gue gecek lo sampe habis nggak bersisa!” serunya. 


Stan berhasil mengendus sisa bau manusia yang tersisa di sana, membawa mereka ke sebuah toko reparasi pinggiran kota. Mona dengan lihai menyelinap tanpa menimbulkan sedikit pun suara. Ia melompat turun ke basement lewat akses rahasia yang ditemukannya, menyusuri lorong ke sebuah ruangan server.


Dobrakan pintu disusul oleh berderet senapan otomatis. “Bangsat!” Penghuni ruangan itu—tak lain dan tak bukan si hacker, dengan panik menembakkan pelurunya ke sembarang arah. Namun, Mona dengan mudahnya berkelit dan berputar di udara. Menjadikan dinding server sebagai pijakan untuk kemudian bertolak ke arah lawan. Sejujurnya ia gatal ingin balas memamerkan dua senjata di tangannya ini. Akan tetapi, mengingat ada dokumen penting keluarganya yang perlu, Mona menahan diri.


Satu tendangan melayang ke kepala lawan tanpa sempat ditangkis. Si hacker langsung tersungkur ke tanah. Mona menginjak leher si hacker “Alah. Sedikit doang gapapa kali. Gue harus kasih si anjing ini pelajaran!” Ia tersenyum kelewat lebar. Matanya menyorotkan semangat yang janggal di mata manusia biasa. Kening si lelaki dicium manis oleh moncong senapan. “Say hello to them, Loser~”


***


“Beneran mati nih dia?” Levi berjongkok di dekat mayat musuh.


“Ya lo pikir aja, Anjing. Orang udah jadi daging cincang gini,” sahut Mona ketus.


Gore masih tak percaya dengan yang dilihatnya. Selain karena keberadaan ruangan server sebesar ini di balik toko reparasi kecil, orang yang beberapa jam lalu mengancamnya dan tertawa penuh kemenangan, kita sudah tak berbentuk lagi wujudnya. Ia bisa melihat koyakan daging di sekitar genangan darah itu. Sementara beberapa bagian tubuhnya sudah tercerai berai tak wajar. Gore menduga Mona memutilasi musuhnya ini dengan menembakkan senjata kesayangannya bertubi-tubi ke satu tempat yang sama sampai bolong dan akhirnya putus sendiri.


Walau Gore sendiri tidak bisa membayangkannya, tapi apa, sih, yang tidak bisa dilakukan perempuan gila itu kalau sudah pegang senjata?


Mona merebut tangan kanan yang hampir dicuri Levi.  “Gue udah amanin bagian tubuh yang penting-penting. Nih.” Ia melempar tangan tersebut ke Gore. Lalu mencomot kepala yang menggelinding karena tidak sengaja tertendang Levi yang tengah protes. “Nih juga. Cepetan urus datanya.”


Gore merasa isi perutnya naik ke tenggorokan. Tapi, mau tak mau harus dia tahan. Satu menit sebelum waktu 24 jam habis, lelaki muda itu telah berhasil membersihkan semua data yang ada di data penyimpanan server. Cepat-cepat ia mengembalikan tangan dan kepala tadi ke pemiliknya.


“Mona, nanti lo hancurin tempat ini pakai pacar lo biar beneran bersih.”


“Dih, ooogah,” tolak Mona mentah-mentah. Ia bersedekap. “Heh, lo belum bayar gue, ya. Enak aja suruh-suruh.”


“Ha!?”


Mona melesatkan pisau tepat ke samping kepala Gore. Menancap ke rak server di belakangnya. Gore membuka lipatan kertas yang menempel di sana. Keningnya sontak berkerut mahal. Kertas itu berisi tagihan dari menggunakan jasa Mona sebagai pembunuh bayar. “Goblok! Apa-apaan ini!? Mahal nggak ngotak!”


“Bodo. Nggak mau tahu pokoknya gue tunggu bayarannya di kamar gue.”


Ah, bangke! Tapi, Gore tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Bagaimana pun Mona sudah banyak membantunya di misi kali ini. Pemuda itu berdecak. Dimasukkannya kertas tadi ke dalam saku celana.


“Hei, hei! Bayaran gue juga ditunggu, ya~”


Gore melirik Levi tajam. “Bayaran apaan!? Nggak ada! Lo cuman nganterin gue ke sini ngapain dibayar.”


Levi mulai merengek. “Iiih! Nggak adil! Nggak mau! Pokoknya lo harus bayar gue, Gore! Emangnya nyeret lo ke sini nggak pakai tenaga apa!? Gue nggak minta banyak, lho. Kan bisa pakai badan lo itu bayarnya.” Ia mengedip-ngedip centil.


“Nggak, ya, nggak. Gue lebih ikhlas ngasih ke Stan daripada ke lo.” 


Perempuan itu tetap tak mendengarkan. Malah ia mulai mendekat, tetapi cepat-cepat Gore tahan mukanya. “Aaah! Minimal bantu bikinin bahan kimia buat bersihin tangan orang ini dooong! Goree…!!”


Gore menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Astaga…! Pada akhirnya ia mengiyakan daripada badannya jadi taruhan nanti malam. Misi sudah selesai, ia ingin tidur nyenyak malam ini tanpa seorang pun mengganggu.


Levi melompat girang. Ia mengambil sepasang tangan si hacker dan berjalan bersama dua saudaranya—menggendongnya seperti tengah membawa bayi kesayangan.


***


Kegelapan lagi-lagi mengerubungi. Sunyi. Hampa. Gore lagi-lagi berdiri di tengah-tengahnya.


“Puas kamu senang-senangnya sekarang, Edmond?”


Gore menoleh kepada suara yang berbicara padanya. Mengalihkan kegelapan ke ketenangan kamar. Sunyi digantikan dengkur nyenyak Stan di pangkuan.


“Puas kamu, Edmond?” tanya Egmont lagi. 


Manik kebiruan masih setia beradu lama. Lantas, Gore tersenyum kecil. Sambil mengelus kucing di pahanya, ia menjawab dengan tenang. “Ya,” ucapnya. 


“Aku sangat bersenang-senang.”


———fin———





Commission Story Written by Shikanoo on Facebook


Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page