top of page

Belati Pertama

  • Writer: Tri
    Tri
  • Jan 12
  • 3 min read

Kastil Rumah Dosa masih sepi saat itu. Belum banyak pelayan, masih mengandalkan Bulb dan Stan sebagai penjaga utama. Tepat seminggu lalu anak kecil berambut merah menurunkan kakinya di Rumah Dosa. Anak yang tidak banyak bicara namun dengan jelas menyampaikan kemahirannya berburu.


Dedaunan kering: kuning, coklat, merah dan hitam menghiasi halaman belakang kastil. Area dimana pepohonan rimbun cukup padat menyembunyikan danau diantaranya. 𝑘𝑟𝑒𝑠. Sepatu hitam Feruci tanpa peduli menghancurkan daun-daun mati di langkahnya. Langkah santai nyaris tanpa tujuan, seolah ia hanya menikmati pergantian musim. Nyaris.


Bukan dari radar dan intuisi sang iblis, tapi dari ekor matanya Feruci menangkap sesuatu. Sosok kecil bergerak di antara pepohonan. Bukan menjauh, melainkan mengitari. Mengamati.


Feruci tersenyum tipis. Sebab dari betapa berisiknya lantai hutan saat itu, tidak terdengar suara langkah yang tergesa. Selain hembusan angin dan suara hewan di kejauhan tidak terdengar apapun. Keheningan semacam ini hanya dimiliki oleh pemburu yang tahu caranya bernapas bersama alam. Sosok si pemburu tahu cara bergerak. Setidaknya, tahu dasar-dasar mengincar mangsa.


Ia terus berjalan. Menoleh ke danau kecil tempat bebek-bebek berenang malas, memandangi pantulan langit kelabu di permukaan air, membiarkan waktu berlalu. Satu-satunya tujuan Feruci hanyalah memancing keberanian sang pengintai tanpa benar-benar menurunkan kewaspadaannya sendiri. Feruci tahu dirinya sedang diburu, dan dia tahu si pemburu tahu. Kesadaran ini, bagi si pemburu terasa seperti sentuhan dingin di tengkuk. Bukan ancaman, melainkan undangan.


Angin sesekali berhembus. Di celah pepohonan terbuka, hembusannya tidak tertahan. Mendadak kencang. Lebih kencang agak tidak wajar, menarik kepala Feruci hampir menoleh, sosok itu muncul dari belakang, lalu dengan cepat bertumpu pada satu kaki yang ternyata tanpa alas, berbalik arah dengan gerakan tajam dan tak terduga.


Serangan datang dari depan. Pisau menancap di dada Feruci, tajam tanpa ragu, seperti keputusan yang akhirnya diambil setelah menahan napas terlalu lama.


Darah merembes keluar, hangat dan gelap. Namun pisau itu tertahan, tertanam terlalu dalam, seolah daging Feruci sendiri menahannya. Layak mencoba menarik pedang Excalibur, Mona, si sosok pemburu yang tubuhnya saat itu jauh lebih kecil dan lebih pendek, sedikit terangkat. Seluruh berat badan bertumpu pada pegangannya di pisau.


Feruci tidak menunjukkan rasa sakit. Ia hanya tersenyum, mempertegas tusukan ini bukan luka, melainkan jawaban yang telah lama ia tunggu. Kekaguman Feruci muncul bukan hanya tentang Mona menaiki angin atau menusuk langsung dari depan, melainkan juga bahwa Mona tidak lari. Tatapan anak itu penuh amarah. Kebencian yang mentah, tidak takut, terasa jujur dan berbahaya. Mengingat fakta ini adalah anak yang sama yang mendorong rendah hawa membunuhnya saat mengintai Feruci beberapa detik tadi. Tatapan dihadapannya, Feruci suka.


“Ini pisau andalanku.” geram Mona tanpa ditanya. Menjawab pertanyaan imaji kenapa dia tak lari. Satu kaki Mona bertumpu pada kaki Feruci, kedua tangan menggenggam si pisau. Posisi yang menunjukan dia tidak takut dengan musuh nyata di depan, dia hanya peduli 'teman'—pisau andalannya belum bisa ia tarik.


Feruci terkekeh pelan. Ia berlutut, menurunkan tubuhnya agar kaki Mona kembali menapak tanah. Tangan Mona tetap mencengkeram pisau itu, keras kepala seperti naluri predator yang enggan melepaskan mangsa. Feruci mengeluarkan sebuah belati dari balik bajunya. Menyodorkan belati dengan tangan terbuka. “Pisau itu bisa kau musiumkan,” katanya tenang. “Aku akan memberimu lebih dari sekadar pisau dapur.”


Mona mengerti. Ayah barunya ini tanpa banyak kata memberi izin untuk ia menjadi dirinya sendiri. Untuk menyukai hal-hal yang orang lain anggap salah; mengoleksi senjata demi kegunaan yang tak akan diterima norma sosial. Ia menerima belati itu, menerima janji yang tak pernah diucapkan dengan kata-kata. Janji tersirat yang menjamin kehidupannya mulai saat ini akan dihiasi banyak hal, lebih dari sebilah pisau dapur.


Matanya berbinar, bibirnya berusaha keras menahan senyum. Belati itu indah. Tidak terlalu berat, hitam pekat, tampak kokoh dan jelas sangat tajam. Warna merah akan sangat cocok menghiasi teman baru di tangannya. Mona terpaku seolah dunia di sekitar menghilang.


Feruci berdiri. Pisau dapur yang tadi tertancap di dadanya tiba-tiba terlepas, jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul. Mona bahkan tidak meliriknya lagi. Tidak juga Mona melihat bagaimana luka di dada Feruci menghilang atau bagaimana baju Feruci kini kembali rapi tanpa bekas tusuk.


Kepala Mona ditepuk pelan, sentuhan singkat nyaris seremonial, seperti pengesahan tanpa saksi. “Itu hadiah untuk menemani perburuan kecilmu,” kata si ayah. “Rambut merahmu cocok dengan musim gugur.” Pujian itu tersirat, mengomentari tentang cara Mona bergerak di antara pepohonan, tentang kesabaran Mona menunggu angin. Sekaligus bentuk merendahkan, bahwa Mona beruntung hanya karena sekarang warna pepohonan sedang sama dengan warna rambutnya.


Mona mendecak. “Kau sengaja menurunkan kewaspadaanmu.” Mona tahu. Fakta bahwa Feruci menunggu dia maju adalah bukti nyata bagi Feruci tusukan itu hanyalah sapaan.


“Tentu saja,” jawab Feruci sambil tersenyum singkat, sedikit mengangkat bahu. Berbalik berjalan pergi, ia meninggalkan Mona di antara daun-daun gugur. “Musim dingin nanti kita lihat seberapa hebat kau berkamuflase di antara salju.” Suaranya terakhir terdengar sebelum menghilang di balik pepohonan.


Mona berdiri terpaku, dadanya dipenuhi kegembiraan asing, hangat dan berdenyut, bercampur rasa gentar yang membuat dunia terasa lebih nyata. Ia yakin kini berada di keluarga yang tepat. Dan ia tahu ayah angkatnya bukan makhluk yang bisa mati hanya karena satu tusukan di dada.



by Tri

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page