Kemanusiaan Dibalut Monster-Plant
- Gavin As
- Oct 25, 2025
- 15 min read
Updated: Jan 6
Terdapat sebuah peribahasa tua, lahir dari cerita kuno dukun-dukun penyembah ruh nenek moyang, tercetak pada semua prasasti peradaban tanpa jumlah semenjak umat manusia sadar mereka bisa meninggalkan jejak peninggalan pada bumi hijau dan biru ini memakai batu, yang menyebut bahwa hanyalah kebaikan saja yang bisa menciptakan dan kejahatan cuma mampu merusak. Tatkala ungkapan itu pertama kali dimuntahkan dari mulut manusia, kedua kali kemudian ditulis pada papan tanah liat, umat manusia sejak saat itu selalu memberi penghargaan meriah dan tepuk tangan naif yang keras sekali, seakan mereka telah menemukan rahasia tersembunyi paling besar milik alam semesta.
Filsafat omong kosong tua bangka yang membawa segala sesuatu ke atas meja makan realita kecuali hal-hal penting selain menjadi dagingnya debat kusir dan serta diskusi tanpa ada akhir―dan sumber kebingungan mendalam dari Beelzebub.
“Masa sih kejahatan cuma bisa merusak?” ucapnya, pertanyaan berbisik yang menyambut tidur setelah seharian bekerja menyenangkan dalam kastil-disebut-rumah Keluarga Dosa.
Tercipta dari gejolak api neraka sendiri, panas pembakar segala macam hal yang buruk dan terbebas dari menghukum yang baik-baik, Beelzebuh selalu memiliki satu pemahaman kalau dirinya ada di atas mereka yang tercipta dari tanah, menganggap dirinya istimewa. Dan bagaimana tidak bisa kisah-kisah menceritakannya?
Jawablah, siapa pun yang berani bertanya, pertanyaan ini.
Tatkala umat manusia masih berjongkok di atas tumpukan sampah kerang yang mereka ambil menggunakan tangan kosong di pantai, siapa yang menakuti pemangsa sehingga tiada darinya masuk goa tempat tinggalnya?
Api.
Tatkala umat manusia pertama kali menguasai logam, entah kuningan, perunggu atau besi, sampai baja, siapa yang ada di sana untuk membantu mereka menempai sampai bisa perang diarungi sebegitu merusak, matahari dibawa turun ke bumi?
Api.
Tatkala umat manusia mulai menggapai kecerdasan di atas hewan-hewan lain, siapa yang memasakkan makanan sehingga mereka bisa mencerdaskan diri sendiri dan membangun peradaban karenanya?
Api.
Demikian kekuasaan dari api bumi fana. Seseorang sudah tidak perlu menebak apa yang bisa dilakukan api tanpa umur, bukan?
Beelzebub, dengan pengetahuan sempurna turunan maha benar penciptaan di masa purba, sudah dalam ketepatan akurat menilai kalau makhluk diciptakan dari api sudah seharusnya akan selalu lebih baik dari mereka-mereka yang tercipta dari asal yang mana dahak proses perut dan jus akhir pencernaan akan berakhir. Tidak ada makhluk akan sempurna kalau mereka terbuat dari asal sedemikian rupa menjijikkan.
Feruci, Sang Pencipta Beelzebub, memandang bahwa cuma asal sempurna saja lah yang pantas menjadi bahan terciptanya pelayan Keluarga Dosa. Keluarga yang berharga sudah sepantasnya mendapat pengikut berharga tinggi pula.
Makhluk tercipta dari sumber segala macam bentuk pemberontakan manusia ke dan terhadap segala macam interpretasi tiran kosmik merupakan nilai ironi dari Sang Pencipta Beelzebub. Sengaja atau tidak sengajanya bisa diperhitungkan sendiri oleh orang-orang yang paham nilai kepribadiannya.
Beelzebub memang istimewa, bukan cuma secara metafora, sebagaimana anak kecil kepada orang tua atau peliharaan kepada pemiliknya.
Berapa banyak makhluk di dunia fana ini bisa mengatakan, benar-benar yakin, kalau mereka menikmati ketakutan?
Sedikit, itu sudah pasti.
Psikopat?
Mereka tidak menikmati rasa takut. Mereka bisa saja menyimulasikan ekspresi senang di saat korban-korban menyajikannya, tapi mustahil bagi mereka untuk bisa menelan nikmat koneksinya, sebagaimana ke gelombang emosional lain; gembira, sedih, marah, dan sebagainya, selamanya mencoba mengunyah semua perasaan itu dan mendapatkan kehambaran mutlak; tidak akan bisa dengan baik, selayaknya bayi baru lahir.
Pemangsa macam apa yang tidak mampu merasakan hasil buruannya dengan sempurna? Pemangsa yang gagal, sudah pasti.
Beelzebub telan rasa luhur menakjubkannya melalui lidah dia, seperti di saat dia merasakan manis dan asam, dan rasa ingin tahu penyusup bersenjata, rasa keinginan balas dendam musuh keluarga, dan berbagai sisi emosi yang bisa dihubungkan pada seluruh siapa pun di dunia ini.
Semua itu, membuatnya tumbuh lebih jauh. Malam ini merupakan puncaknya.
Beelzebub tidak pernah punya kemanusiaan, harafiah atau metafora, terlebih dalam wujudnya yang dibentuk dalam bungkus cetakan tanaman pemakan manusia yang mengerikan, setelah menelan benih tetesan api neraka. Bentuk itu kini mengalir, menjalar merasuki semua interior rumit Rumah Dosa seraya ditemani rasa ingin tahu yang ganjil.
Panjang otot-otot hijau itu mengalun lewati batu dan kayu tanpa pandang bulu, tanpa peduli akan apa yang didorong dan ditekan. Di permukaan daging palsu, garis urat nadi berdenyut penuh kesenangan milik seorang suami, memompa bukan darah ke mana pun mereka pergi, terisi oleh hasil sisa dari begitu banyak jiwa dan ruh yang tanaman bernama akrab Bulb itu makan. Pertama kali dalam hidupnya, sejak sadar akan hidup, akan napas dan cairan mengalir sepanjang badan, Beelzebub melakukan sesuatu yang merdeka dan bebas dari keinginan Tuannya.
Matahari masih menjalankan tugasnya di sisi timur bumi, hanya datang dalam lima jam dari sekarang. Semua penghuni Rumah Dosa sedang istirahat, beberapa sudah tidur dan masuk ke dalam dunia mimpi. Levi bukan salah satunya.
Dia ingin mengunjungi pegawai Rumah Dosa. ‘Gue cuma ingin main game aja, kok!’ balasan biasanya kalau bertemu dengan Mona di jalan koridor.
Namun, malam ini, Levi tidak melakukan―tidak bisa.
Dia akan meninggalkan kamar di saat menemukan pintu kamar tidak bergerak meski gagangnya sudah diputar, dan didorong; kosong bahkan dari hela lega nikmat napas kayu sekilas yang biasa muncul, hanya hentak-hentak tertahan badan kayu ke bingkai batu. Bagaimana mungkin pintu yang masih perawan, bebas dari hentak dan putaran kunci bisa terkunci?―kamar ini sengaja tidak diberikan kunci. Siapa pun bisa masuk, tidak pernah ada yang tanpa mengetuk.
Pasti ada sesuatu di balik pintu. Apa pun benda itu, ia memiliki berat yang bisa menahan dorongan Levi. Dirinya memanggil, coba menarik perhatian, tetapi hanyalah ketelanjangan aneh udara kosong menyambut, dan ditemani suara-suara mirip detak urat nadi.
Apa yang dicari merupakan jawaban, dan ponsel muncul di bawah pencerahan pencariannya.
Dari atas meja diambil, kunci layar dibuka segera, kemudian memanggil kedua saudaranya.
Gore yang pertama dipanggil. Daripada disambut salam manis dan lembut ala-ala adik lelaki khas shota di film-film animasi, “Hai, Kakak!”; Levi malah disambut oleh kalimat dingin tanpa emosi hangat, minim kepedulian, dari sisi lain ponsel. Tiada suara lanjutan selain “Oh, ok,” dan bunyi koneksi mati yang berulang-ulang. Dasar adik tidak bisa diuntung. Kalau dia sekarang di sini, kejantanannya sudah Levi pelintir.
Mona, tentu saja, jadi panggilan kedua Levi.
Kalimat kasar bisa terdengar baik dari pengeras suara ponsel, atau secara nyata di lorong koridor, keluar; cukup kasar untuk bisa menendang naik kategori film ‘semua umur’ keluar batas sensor sampai ke kategori ‘remaja’. Meskipun jelas amarah yang muncul akibat sang adik membangunkannya dari tidur, Mona tetap melakukan apa yang Levi minta, memeriksa bagaimana keadaan pintunya. Mona mendorongnya dan hasil yang sama seperti Levi muncul.
Macet.
Hela napas keluar dari bibir Mona, seakan tengah mengumpulkan nyawa. “Gua akan melakukan sesuatu. Lu diam saja, gua bakalan ada di situ bentar lagi.”
“Aduh, aduh! Gue bakalan ditolongin sama kakak cantik!” balas Levi.
“Kontol, lu,” merupakan kalimat terakhir yang Mona berikan pada Levi sebelum mengakhiri percakapan mereka.
Levi taruh badannya di atas kasur yang mendesahkan lelah setelah menahan berat penuh aksi, hanya untuk melompat darinya di saat suara meledak, tapi bukanlah dari ledakan, bergetar di luas dan panjang koridor. Dia dekati pintu kamar, menempel telinga pada permukaannya, mendengarkan suara langkah kaki semakin dekat di antara detak-detak aneh.
“Jangan berdiri di belakang, Levi,” ucap Mona, setengah berteriak dan setengah berbisik. Levi lompat menjauh, ledakan pecahan kayu yang sebelumnya merupakan pintu menyusul, menghantam lantai dan tembok tanpa melukai.
Itu semua merupakan cara unik bagaimana sang kakak menunjukkan rasa cinta ke adik-adiknya, tidak peduli seberapa kasar atau keras semua terlihat di mata orang lain. Ekspresivitas Mona selalu sukses menaruh senyum pada muka Levi.
“Ah, kakak akhirnya datang!”
Tangan Mona menghentikan Levi di tengah larinya, menahannya tepat di dahi, sebelum bisa memberi pelukan yang pasti akan menekan muka ke antara buah dada.
“Kita punya masalah,” ucapnya, mendorong Levi menjauh.
Levi membuka mata sekarang, tertutup tadi semenjak si kakak membuat lubang kebebasan untuknya, dan akhirnya tahu dari mana suara aneh detak-detik ala jantung itu berasal: puluhan akar berbagai macam ukuran yang merumput sepanjang muka lantai dan tembok, pada permukaannya tergambar urat-urat yang seperti saudaranya yang lebih dari akrab dengan bibir Levi.
“Itu... apaan?”
Levi meninggalkan Mona sendirian di bawah bingkai kayu yang pintunya sudah tidak ada, mendekat ke salah satu akar aneh itu, memberikan perangsang indra dalam bentuk non-seksual dan selain jilatan. Ia jelas berat dan penuh cairan vitalitas yang tidak beda dari milik manusia.
Cuma ada satu hal yang bisa mereka lakukan sekarang.
“Lu ngapain coba sekarang?”
Mona mendekati Levi yang berjongkok, mukanya diwarnai cahaya layar ponsel.
“Ya, jelas, ngasih tahu papa sama mama,” bisik Levi, sama sekali tidak mencuri kesempatan menatap ke sang kakak, tetap tertempel pada kata-kata digital pada layar ponsel yang terus memanjang. Tombol ‘kirim’ dianya tekan.
“Mereka lagi sibuk kerja paling, tahulah, membunuh orang-orang nggak punya guna itu,” komentar Mona, tidaklah memperhatikan saudara rambut merah jambunya, fokus ke sekeliling yang dpenuhi akar-akar berdetak.
“Ya, iya sih,” bisik si adik, setelah melihat kalau simbol centang di kotak pesan masih menunjukkan satu daripada kembar biasanya kalau terkirim. “Oke, kalau gitu kita sekarang mesti apa? Mau diperiksa asal akar-akar ini?”
Angguk Mona, seakan sudah jelas jawabannya. “Aneh gak sih menurut lu kalau pegawai rumah gak ngasih tahu soal... kejadian ini?” Gestur Mona mengarah ke sekeliling pakai senjatanya.
“Kita pergi ke sana,” tambahnya.
Levi cemberut, dalam pengertian, bukan kenakalan kebanyakan ditoleransi.
Mereka berjalan pergi dari koridor lokasi kamar. Kemanapun mereka melangkah, mata selalu disuguhi jari-jari akar menempel pada terlalu banyak permukaan. Bentuk akar tumbuh menjadi lebih besar seraya mereka masuk lebih jauh, jumlah kemunculan terlampau banyak, lebih dari yang dikoridor kamar, bahkan menusuk masuk ke antara batu-batu tembok sehingga menempel kuat. Namun, ada cukup jarak di lantai supaya mereka bisa berdiri di atas kedua kaki sendiri dan berjalan dalam laju biasa.
Orang tua mereka akan sangat benci melihat kekacauan ini.
Mereka tiba tidak lama di bagian kamar koridor kamar pegawai. Seluruh pintunya dilumat cabang dahan kuat juga pekat. Mona buka pintu terkunci itu menggunakan senjata sama yang sebelumnya membuka pintu Levi―jenis senjatanya baru saja Levi ketahui, belantan besi berkepala besar.
Pegawai pertama yang dibebaskan memberikan jawaban sama seperti pegawai yang terakhir bebas, tidak tahu apa-apa mengenai kejadian baru terungkap ini, selain fakta kalau mereka semua sendiri terperangkap dalam kamar sendiri. Kesamaannya alasan membuat dua alis Mona dan Levi naik, buat mereka memandang satu sama lain. Di luar itu, semua pegawai yang mereka bebaskan regu kerja pagi, yang artinya semua sedang beristirahat saat kejadian selayaknya mereka berdua.
Sekarang, pertanyaan yang tepat untuk dikeluarkan adalah, di mana regu kerja waktu malam?
Mereka berdua pergi meninggalkan kumpulan pegawai yang masih digugat oleh bingung akan akar-akar di sekeliling, melanjutkan perjalanan terpaksa ini ke dalam perut utama kompleks Rumah Dosa. Rumah ini selalu lebih dari besar, namun terasa sempit sekarang. Setiap kali langkah diambil, kepadatan akar-akar tumbuh lebih rapat, jadi lebih sulit untuk mengatur stabilitas diri atas kedua kaki. Levi mengambil pijakan ke salah satu tubuh akar, dan ketika tidak pecah akibat beratnya, mereka berdua mulai mengambil langkah juga padanya.
Mereka masuk bagian terdalam. Serangan asing atas indra dimulai.
Indra paling pertama yang diserbu aroma tidak sedap merupakan hidung mereka yang tidak akan disalahkan orang kalau mengiranya itu berasal dari ratusan bangkai binatang. Mereka terus berjalan meskipun begitu, berhenti cuma saat ada figur hijau menyerang mata dengan tiba kemunculan bayangannya. Kulit hitam―legam, seperti mineral unam―dan hijau pada rambut panjang. Dia merupakan orang yang kedua pemegang masa depan Keluarga Dosa tidak pernah lihat sebelumnya.
“Hei! Lu siapa, sat?” tanya Mona, kepada dirinya sendiri dibandingkan hal lain, dan Levi paham untuk tidak perlu menjawabnya.
Reaksi penasaran serta kebingungan di awal berubah cepat di saat Mona dan Levi melihat kalau tubuh si figur diselimuti darah bukan miliknya, tidak ada luka tunggal pun menempel di badannya, bahkan sekecil apa pun yang mungkin bisa sembunyi dan itu, kalau ada, tidak akan bisa mengeluarkan volume darah sebanyak yang kedua perempuan temukan.
Ratusan akar dan dahan mewarnai permukaan yang bisa ditemukan di koridor dengan hijau sampai bawahnya sama sekali tidak terlihat. Semuanya berdansa dalam nada fokus melingkar di sekeliling si figur, berlari sepanjang tembok dan lantai hingga membentuk cincin.
Kalimat panjang tidak perlu lahir guna menjelaskan isi pikiran Mona dan Levi. Mereka berdua paham, dan tahu, dari satu kilas tatapan saja, bahwa figur tersebut bertanggung jawab akan apa yang terjadi di Rumah Dosa.
“Aloha!” teriak Levi, menekan panjang huruf ‘o’ dalam suaranya secara berlebih. “Siapa di sana? Lu nggak kelihatan pantas ada di sini, deh! Juga, kenapa lu bermandi darah kayak gitu pas lu nggak punya luka sama sekali, sih?”
Pertanyaan itu mendapat jawaban, atau mungkin tidak.
Mulut figur itu bergerak, terbuka ke bentuk-bentuk tertentu yang seharusnya bisa memberi kata-kata, tapi sama sekali tidak ada suara keluar dari dia, satu napas pun tiada bisa ditangkap darinya. Levi mengerutkan dahi, dan dia melihat kekesalan telah perlahan tumbuh di kecantikan ala timur milik saudarinya.
Mona, bermandikan buih-buih panas amarah, mengaum pada sosok itu dengan gigi muncul menyeringai, yang lalu berubah jadi rentetan serangan ketika si sosok masih juga menjawab pakai keheningan bertekstur yang sama.
Mona mengirim pukulan memalu bermuka mirip gelombang yang menolak keras melihat kapan ujung akhirnya sendiri hadir, mengubah batu jadi ratusan puing-puing semudah tanah dikikis kekuatan besar yang sama; pula, seharusnya, menghancurkan apa yang bisa dilihat seperti daging. Serangan disampaikan oleh tangannya berjumlah puluhan. Haruslah mereka mendapat jawaban. Namun, jauh dari imajinasi si wanita rambut merah, bukan lah dalam pukulan atau tebasan datangnya, melainkan tampar mengalihkan dan hindaran cepat, tanpa ada satu pun respon ofensif.
Dia terus mengucapkan keheningan bertekstur itu kepada Mona. Suara bukan saja yang tak keluar. Terengah-engah bahkan, tidak muncul dari bibir yang tanpa henti bergerak itu. Mona dibuat menderita marah yang menyeringai dan mendidih.
Levi panggil si adik, masih memperhatikan apa yang terjadi di hadapan antara Mona dan si pendatang.
“Ke sini, lah! Bantu kami! Ada penyusup di rumah, nih!” merupakan kalimat pertama yang keluar dari mulut setelah panggilannya. “Lagi di mana sekarang, hah?”
“Baru lewat kamar-kamar pegawai.”
Levi hampir meminta lebih banyak informasi darinya, supaya tahu kira-kira bisa kapan bergabung dengan mereka, ketika nada sama yang berulang-ulang, tut-tut-tut, muncul dari pengeras suara ponsel. Berkedut keras kelopak mata kiri. Dasar bangsat. Tanpa ada basa-basi lebih jauh muncul di kepala, Levi lompat maju membantu Mona dengan pisau yang diambil dari persembunyian di belakang gaun tidur.
Gore, tentunya, tidak meninggalkan mereka untuk bertarung sendirian. Di saat koneksi ponsel terputus, Gore sudah berjalan pergi dari tempat mana sebelumnya dia berada beberapa menit lalu, melewati jalan membingungkan―bukan untuknya―dan muka-muka kebingungan, semua demi mencapai saudari-saudari bikin kesalnya.
Dia mencapai mereka, dan mereka tengah bertarung melawan dia―akuratnya, menindas dia, dan pun buruk hasilnya.
“Berhenti!”
Kalimat itu berasal dari kerongkongan Gore, bukan saudarinya yang terlampau sibuk teriak minta penjelasan dari reproduksi palsu manusia itu atau saudari lainnya yang melakukan hal sama, hanya saja dalam nada halus perca sutra.
Keduanya mendarat mengampit Gore setelah dilempar sang pria rambut hijau. Dia punya kapabilitas fisik di atas rata-rata manusia. Mona dan Levi merasakannya, tapi sama sekali tak menganggapnya aneh ataupun harus anggap serius itu―mereka menghadapi musuh luar biasa kuat hampir selalu setiap bulan.
“Akhirnya! Hadir sudah Pangeran Tidur!” Levi berdiri tegak, meregangkan tangan kanan dan kiri. “Kenapa sih telpon tadi dimatiin? Susah banget pasti buat cari jalan ke sini, kan?” ucapnya, ditemani seringai.
Gore memutarkan matanya, dari kiri ke kanan. “Gua bukan lagi di kamar tadi.”
“Memang di mana lu tadi?”
“Dia pasti di perpustakaan,” potong Mona yang sudah berdiri tegap.
“Iya, gua di sana tadi,” jawab Gore. “Gua baru keluar setelah sadar kalau semua akar ini menjalar ke mana-mana di perpustakaan. Anehnya, mereka malah menjauh dari kursi tempat gua duduk. Gua pikir mereka sederhananya cuma gak menyerang manusia, nyebar tanpa arah doang, tanpa akal; teriakan yang menggema di lorong perpustakaan mengubah pikiran gua.”
“Terus lu datang ke sini?” Mona lah yang sekarang bertanya kepada Gore.
Gore mengangguk. “Dan yang terjadi di sini menguatkan teori gua. Lu sama Levi masih hidup, kan? Semua akar dan dahan ini gak menyerang kalian berdua, atau gua, bukan karena mereka takut ke kita, sederhananya mereka gak mau membunuh kita bertiga... karena kita bagian dari Keluarga Tujuh Dosa.”
Dia memandang lurus ke si pria aneh di depan mereka. Langkah satu maju Gore ambil, menjauhkannya dari kedua saudari. “Dirimu Bulb, bukan?”
Bulb, pendeknya nama iblis itu, panggilan makhluk bunga mulut besar pemakan manusia, sekarang milik faksimili figur otot maskulin berpakaian kosong di depan yang tersenyum lebar tanpa menunjukkan gigi setelah mengangguk. Meski berubah, kini jadi yang jauh dari awal, satu perintah tetap menempel nyata di kepala mustahil berubah selain ke versi lebih kuatnya:
Jangan pernah menyakiti anggota keluarga Sang Tuan.
Bulb dikelilingi putar dan gerak sepuluhan dahan tumbuhan panjang, hijau dan diselimuti lendir, melayang di sekitar dalam dansa melindungi. Setelah pertarungan tampak mencapai garis akhir, mereka mulai turun, menunjukkan keseluruhan sosok telanjang Bulb; dan berlawanan dengan betapa indah bentuk badan yang dimilikinya, tiada genital pria di antara kakinya―menghasilkan desah kecewa dari Levi.
“Apa lu pernah dengar kalau iblis itu bisa kencing?” hela Gore, setelah sadar ke mana pandangan Levi berakhir, dibalas cuma sama dengusan gila hormat.
Bicara dengan Bulb itu seperti sedang memanjat gunung cari sumber air sungai dimulai dari kakinya, di mana semua mulai terbuka perlahan-lahan melalui pertanyaan melelahkan yang harus keluar hati-hati secara bagaimana bentuk penyampaiannya. Selalu pelan, sejelas dingin dan panas, informasi yang membuat semua buram hilang seketika.
Beelzebub bicara tidak seperti khalayak manusia biasa, setidaknya tak seperti manusia dewasa. Dia berbicara dalam bentuk suara aneh, bunyi tinggi-rendah nada kekanak-kanakan, pakai bunyi jauh dari fisiknya sugestikan, mirip bayi, yang berarti dia tidak mengeluarkan suara apa pun yang bisa dimengerti ketiga anak Tuannya. Bulb, sebaliknya, mengerti semua kalimat manusia, banyak yang dia dengar: “Sialan lo!”, “Jangan makan aku!”, “Lari, lari dari sini!” dan lain-lainnya. Demikian, dia tak bisa mengekspresikan mereka dengan lidah. Lagipula, mendengar dan berbicara adalah dua kemampuan berbeda. Dia tidak punya yang kedua.
Untungnya, Gore sudah ada di sini.
Dengan kemampuan cerdasnya, pertanyaan akurat―keluar tidak melalui jeritan kencang penuh ancaman, seperti dari Mona tadi―akhirnya bisa diberikan. Mereka merupakan pertanyaan sederhana, jawabannya ‘ya’ dan ‘tidak’, sesuatu seseorang dengan kemampuan bicara setingkat bayi mampu jawab, hanya memakai angguk dan geleng kepala. Banyak informasi ditarik Gore dari Bulb.
Bulb, meskipun sadar akan apa yang dirinya telah dilakukan kepada banyaknya pegawai yang tidak tahu sejumlah berapa, tidak yakin kalau ada penyebab sendiri dari perubahan badan dari tanaman besar pemakan orang jadi manusia wujud maskulin tanpa gender. Transformasi datang sama tiba-tiba, sebagaimana keinginan memakan semua dan segala yang bernapas di sekeliling bisa dia temukan.
Sungguh disayangkan pegawai tugas malam harus berdiri di jalannya. Namun, itulah apa yang perut laparnya butuhkan, menuntut semua jenis perhatian yang bisa didapatkan.
Bulb memberi anggukan untuk pertanyaan terakhir Gore. “Apakah cuma itu saja yang kamu ingat sejak pertama bangun? Benar tidak ada hal lain lagi?”
◊◊◊◊◊◊
Feruci pulang.
Kepulangannya membawa campuran pahit rasa ragu di antara anak-anak dan pegawai sang kepala keluarga, marah atau sedih, mungkin tak bisa ditebak imajinasi, karena mereka terkejut saat Feruci tersenyum tenang ala-ala bangsawan penuh hal bijak di balik kontur bibirnya.
Dibanding amarah merusak atau sedih menenggelamkan, rasa bangga lah yang keluar dari tampan tajam Feruci, serupa profesor biologi setelah menemukan kalau hasil kerja kerasnya hidup―bahkan, bisa lebih berkembang sendiri.
Untuknya, Bulb merupakan anak sendiri, yang keempat. Semua tanggung jawab atas dirinya milik Feruci. Dengan alasan itu, Feruci memeluknya, membawanya keluar dari kastil ke tanah belakang, di mana ratusan batu nisan berdiri mendeklarasikan lahan kuburan. Dia akan makan di sini, bukan akan yang hidup, tetapi mereka yang mati; korban-korban kekejian manis Keluarga Tujuh Dosa sampai perutnya kenyang. Bumi diputar dan dibalik tangan-tangan tumbuhan yang mulai pergi dari banyak interior kastil, tanpa harus kembali berubah jadi tumbuhan yang mengundang jijiknya Mona, semua di bawah perhatian kasih sang pencipta.
Di saat makan malam berakhir, seragam baru Beelzebub terima secara langsung dari Feruci. Dia, di bawah kebajikan penguasa tujuh lingkaran api neraka, boleh saja memilih antara tetap dalam wujud manusia atau kembali jadi tumbuhan raksasa, apa pun sang kepala keluarga perbolehkan, kecuali menyakiti anggota keluarga―itu akan terus berdiri.
Feruci, berdasar segala macam kebijaksanaan hatinya miliki, memberi satu titah penting yang diterima akan senang hati penuh loyalitas oleh Bulb; dia tidak boleh pergi dari batas area kastil tanpa izinnya. Bersama itu, mendapatkan tujuan baru:
Pertahankan Rumah Dosa. Dari ancaman luar, dan dalam.
◊◊◊◊◊◊
“Hasil mengkonfirmasi hipotesaku sebelumnya,” ucap Gore kepada Ades yang berdiri di samping. “Tubuh Bulb, mau yang berwujud manusia atau tumbuhan, punya ketahanan tinggi dari semua racun yang ada di dalam koleksiku.”
“Dan koleksimu adalah koleksi paling lengkap yang pernah aku temukan,” balas Ades, komentar bukan main-main.
Mata Ades memperhatikan bagaimana suntikan glisofat, jenis herbisida paling efektif dalam pengetahuan umat manusia, menghasilkan perubahan nihil ke lengan terpotong Bulb―dua jam sudah menunggu, untuk perubahan yang sama sekali tidak akan datang.
Fakta ini mengundang senyuman tipis pada jelita sang Bunda Rumah Dosa.
Dia hadir memperkenalkan perubahan signifikan dalam arus dinamika Keluarga Tujuh Dosa, pembaharuan unik, sama seperti efek setelah batu dilempar ke kolam, menciptakan gelombang yang kemudian mengubah cara hidup binatang yang ada di atau butuh genangan air kecil itu. perlahan, pertama-tama, dan kemudian akan terus datang lalu meskipun begitu.
Genap satu minggu sudah si manusia rambut hijau muncul, pun Mona dan Levi mulai menggunakan tubuhnya seperti mereka itu anak-anak dan baru saja mendapat boneka, dan apa yang mereka lakukan kepadanya tidaklah sepenting―di atas kertas setidaknya―apa yang dilakukan Gore.
Mona memakai Bulb sebagai sasaran latihan, mau saat diam atau bergerak, tuk menguji ketajaman pisau dan pedangnya serta kekuatan penetrasi peluru senjata api kesukaannya. Di sekali kesempatan, Mona menembak Bulb dengan senapan laras panjang dari jarak tiga kilometer sementara si makhluk faksimili tengah berjalan tanpa tujuan di kompleks koridor kastil. Hal itu adalah sesuatu yang bisa diekspektasi dari sosok seperti Mona. Dan, sesuatu bisa diekspektasi dari Levi saat dia bertemu dengan si iblis tanaman di kamarnya.
Levi itu gadis yang kreatif. Feruci tahu ini; Ades mengolah itu lebih jauh. Mereka berdua bisa menebak apa yang akan terjadi ketika Levi menemukan jalannya ke ruang istirahat Beelzebub.
Dia paham kalau si iblis hijau tidak punya alat kelamin bergantung di antara paha bawah sana, kosong, mulus seperti patung manekin toko baju pasar modern. Namun, bagaimanapun juga kenyataannya, si rambut merah jambu akan bisa mencari jalan lain melalui instrumen berbeda. Seks bukan tentang genitalia saja. Lagipula, semua dahan dan akar itu bisa menggantikan kelamin yang hilang, bukan aksesoris semata. Mereka bisa melingkar di tubuh, mengikat tangan dan kaki ke posisi menggoda, bunuh dingin dalam pelukan membawa kehangatan, menyentuh titik-titik jari manusia biasa tak akan bisa capai tanpa meninggalkan kebosanan di sisi lain.
Kembang mekar berlendir selalu muncul setiap tubuh Levi disentuh Bulb.
Semua permintaan, seaneh apa pun itu, akan diterima Bulb. Dia, berdasarkan ucapan Levi yang keluar bersama desahan, cuma berbicara satu bahasa: bahasa pelayanan selamanya.
Karena itu Beelzebub butuh makan banyak, lebih banyak selalu setiap kali diri fana baru selesai memenuhi pinta-pinta keluarga. Sayang, Bulb belum punya kontrol sempurna akan nafsu makan. Belum ada daftar waktu khusus, harus meminta pakai gestur mimikri aneh saat ingin mengonsumsi sesuatu. Belum. Sampai akhirnya, dia mendapat penjaga khusus, diberikan untuk mengadministrasi―dan sejujurnya, agar Bulb tidak main makan pegawai, agar semua aman.
Tidak. Ini dilakukan bukan karena Feruci atau Ades mencintai pegawai mereka, meski ada rasa hormat atas pekerjaan mereka, tentunya; lebih kepada, menghindari kehilangan sumber daya manusia yang bisa dihindarkan. Kehilangan satu? Masih bisa diurus, mudah mencari pengganti. Kehilangan setengah dari pegawai? Itu butuh fokus lebih, tanpa juga menyebut pelatihan pegawai baru lagi.
Setelah makan, di saat perutnya penuh, Bulb dapat ditemukan dalam bentuk tanaman di ruangan khususnya. Tidur, mungkin. Namun, akibat bentuknya, tidak ada orang bisa tahu jelas apa penyebabnya; mencerna makanannya sama seperti singa tertidur setelah berburu atau tidur sesuka keinginan pribadinya?
Tidak ada yang tahu. Belum ada yang menanyakan hal itu.
Selama dia berada dalam kontrol keluarga, tidak akan ada masalah yang keluar darinya. Di Keluarga Tujuh Dosa, tiada hal lebih mengontrol daripada kebutuhannya pikiran, jiwa, dan tubuh.
Commission Story Written by Gavin As on Facebook



Comments