top of page

Makan Apa Malam Ini?

  • Shikanoo
  • Oct 22, 2025
  • 9 min read

Makan apa malam ini?


Pertanyaan konyol. Rumah Dosa tidak pernah kekurangan. Makan apa malam ini? Apa pun yang diinginkan para penghuninya. Chef pribadi siap melayani. Pelayan-pelayan siap menyajikan. Dari makanan paling langka sampai paling tidak masuk akal—kalau memang mau—akan tersaji dalam satu kedipan mata. Untuk apa lagi mempertanyakan hal itu?


Kapan, sih, uang jadi masalah bagi pasangan Feruci–Ades, dan anak-anaknya?


Di Rumah Dosa, kata lapar tidak berlaku, dan tidak akan pernah berlaku.


Hanya saja kali ini, situasinya sedikit berbeda.


Makan apa malam ini? Menjadi pertanyaan yang menentukan nasib dua orang di sebuah kabin tua—di pinggir danau, di tengah hutan rimba. Mona dan Gore duduk dengan wajah yang sama-sama menekuk dan kedua tangan memeluk perut.


Krrruyuk….


Ini sudah kesembilan kalinya lambung mereka meraung macam singa kelaparan. Ah, bukan macam lagi. Mereka memang kelaparan.


“Ngantuk banget gilaaa!” gerutu Mona sambil bersandar ke dinding kabin. “Gore, lo cari makan gih! Berburu kek, mancing kek, apalah. Pokoknya yang bisa buat ngisi perut!”


“Dih, kok gue!?” Si bungsu protes. “Gue pingin tidur. Lo ajalah sana!”


“Dikira gue nggak pingin tidur juga apa!?” Si sulung tambah sewot. “Udah berapa hari ini kita di sini, dan masih nggak ada tanda-tanda target bakal muncul. Bisa-bisa kita mati konyol duluan gara-gara kelaparan!”


Misi kali ini sebenarnya sederhana. Mereka hanya perlu mengintai aksi para penyelundup senjata. Dari informasi yang didapat, kabin ini adalah tempat singgah mereka sebelum melewati perbatasan negara—tiga kilometer di Utara.


Sayangnya, tanggal apes tak pernah tertera di dalam kalender. Bukan hanya soal terjebak di tengah misi tanpa makanan berhari-hari. Apesnya Gore sudah ada dalam keapesan itu sejak Feruci memanggilnya pertama kali untuk misi ini di Rumah Dosa. 


Ikutlah dengan Mona, katanya. Yang benar saja! Itu sungguh sebuah ide yang buruk. Gore menentang keras. Toh, dia yakin Mona bisa menjaga dirinya sendiri. Hutan dan gunung sudah seperti taman bermainnya. Kalau pun harus berdua, staff Feruci atau anak buah Mona, ‘kan, bisa. Kenapa harus dirinya yang ikut?


Lebih efisien kalau kamu yang ikut. Begitu alasan yang Feruci berikan. Menurutnya, Gore yang mampu berpikir dengan kepala dingin bisa membantu Mona saat dalam bahaya. Mengingat si sulung itu kerap membabi buta ketika tak ada anggota keluarga mengawalnya. Bisa bahaya kalau aksi mereka sampai tercium militer di batas negara. Urusannya akan jauh lebih merepotkan nantinya.


Karena itulah, Gore diharapkan bisa menjadi penahan Mona agar tetap dalam kendali dan tidak lepas kontrol. Namun, tetap saja itu bukan alasan yang masuk akal.


Memangnya aku ini apa? Pawangnya!?


Kenapa tidak Levi saja?


“Ah, tolol. Pertanyaan bodoh.” Gore menepuk jidat, mengatai dirinya sendiri. Levi sudah macam bensin yang dilempar ke kobaran api. Membiarkannya berduaan dengan Mona? Yang ada kabin ini rata duluan dengan tanah sebelum para penyelundup itu datang.


Levi hanya akan menambah, ikut, atau bahkan menjadi trigger Mona lepas kendali. Gore tidak ingin mengakui ini, tapi sepertinya memang mau tak mau harus dirinya yang turun ke lapang.


Kembali ke pertanyaan tadi, makan apa mereka malam ini? Baik Mona atau pun Gore, tidak ada yang membawa makanan. Di kabin pun tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Seandainya Gore tetap menentang ide buruk itu, dirinya sekarang tidak akan terjebak di kabin tanpa kejelasan begini. Seharusnya ini menjadi misi biasa yang akan selesai hanya dalam semalam. Tapi, mana targetnya!?


Menurut perkiraan, para penyusup biasanya akan datang ke kabin setelah tengah malam—sebelum fajar. Sore hari sebelum mereka berangkat misi, Mona sempat makan. Begitu pula dengan Gore. Jam sepuluh malamnya mereka sudah siaga di tempat, dan memutuskan untuk menahan diri tidak makan karena Mona dan Gore pikir beberapa jam lagi juga mereka sudah akan pulang.


Saat tengah malam tiba, Mona memutuskan untuk membuat shift jaga—tidur bergantian tiap satu jam. Gore setuju. Mereka beberapa kali bertukar posisi, sambil tak sedikit pun menurunkan kewaspadaan. 


Pukul satu malam, sepi.


Pukul tiga malam, hanya terdengar suara burung hantu dari kejauhan.


Pukul lima pagi, matahari sudah hampir menyingsing, masih juga tidak ada tanda-tanda seseorang melintas. Jebakan yang Gore pasang terpantau masih rapi, persis dengan yang dia siapkan di awal, dan tidak menunjukkan sinyal dari trigger apapun. Tidak terlihat ada korban terkapar di sana. Mungkinkah misi kali ini bocor dan target mereka bergerak selangkah lebih maju? Mengganti rencana untuk mundur, misalnya? Hanya itu kemungkinan yang bisa Gore pikirkan.


Bukan masalah menunggu satu–dua hari lagi. Toh, keluarga mereka tidak akan khawatir dengan itu. Sudah biasa. Apalagi Mona yang kerjaannya keluyuran mencari mangsa. Masalahnya adalah—lagi-lagi—mau makan apa? Biarlah kelakuan macam iblis, kalau kata orang-orang, tapi tubuh ini tetaplah tubuh manusia biasa. Mereka butuh makan. 


“Ya, makanya biar nggak mati konyol lo cari makanlah sana!” Gore kembali menyahuti Mona yang tampak bermalas-malasan di lantai. “Fisik lo, kan, lebih bagus dari gue. Bisa kali buat berburu”


“Eh, tolol. Justru karena fisik dan refleks gue lebih bagus, gue yang harus diam di sini. Kalau penyusup itu tiba-tiba muncul, emangnya lo bisa gerak cepat? Nggak, kan? Gue, sih, bisa langsung libas.” Mona beralibi panjang lebar. “Toh, lo di sini cuman buat nahan gue biar nggak lepas kontrol. Aslinya ini misi gue sendiri. Jadi, shuh.” Gadis merah itu mengibaskan tangannya.


Gore menggerutu. Ucapan Mona ada benarnya, dan itu membuat dia kesal.


Kesal karena tak ada yang bisa disangkal atau diperdebatkan lagi.


Alhasil, dengan berat hati Gore mengambil salah satu senapan laras panjang dari tumpukan koleksi yang Mona bawa, lantas masuk ke hutan untuk berburu.


***


Dor!


Gore mengokang senapannya setelah satu peluru dimuntahkan. “Tsk!” Meleset. Sudah dia duga ini tidak akan mudah. Gore memang punya pengalaman berburu, keluarga lamanya punya jadwal hunting lesson sendiri untuk anak-anaknya, tapi itu sudah sangat lama. Gore bahkan sudah tidak ingat dasar-dasar yang harus diperhatikan saat berburu. Tapi, ia juga tidak punya cara lain. Metode membunuhnya sekarang—membuat jebakan—butuh waktu lebih lama dari persiapan sampai menunggu mangsa tertangkap. Sementara mereka butuh makan secepatnya.


“Ayolah, Gore. Lo emang udah lama ngga berburu, tapi jangan sepayah ini, dong! Masa rusa sebesar itu nggak kena!?” rutuknya ke diri sendiri.


“Lama amat lo nyari makan! Dari gelap sampai udah terik gini!”


Teriakan di earpiece semakin menambah kekesalan Gore. “Baru dua jam gue keluar! Sabar!” serunya, lantas mencabut alat komunikasi itu dari telinga. Memakainya hanya mengacau konsentrasi saja.


Gore berdiri dari balik semak tempatnya bersembunyi. Rusa tadi kabur ke arah barat. Dia menimbang haruskah mengincar target yang sama atau mencari sesuatu lain—daging kelinci atau daging burung bukan pilihan yang buruk. Tapi, memburu mereka yang lebih kecil pasti lebih susah. Ada pilihan lain, sebenarnya: ikan. Namun, Gore tidak tahu cara efektif untuk memburu mereka selain memancing dan dengan membuat bom—yang mana dua-duanya butuh waktu lama.


Kruyuuuk…!


“Ugh!” Mungkin lebih baik dia bergerak dulu untuk mengalihkan perhatian dari perut cerewetnya. Kali saja nanti dia bisa menemukan yang lebih dari daging rusa.


*** 


“Payah lo!”


“Bacot! Gue lapar, yang penting keisi dulu meski cuman kodok sama belalang bakar!” Gore tak memedulikan cemoohan saudaranya dan tetap membolak-balik hasil berburu siang tadi. Lima ekor belalang dan dua ekor kodok sudah hampir gosong di atas api yang juga dia buat sendiri. Setelah dirasa cukup matang, Gore mengambil salah satu tusuk.  “Kalau lo nggak mau ya cari aja sendiri s—” 


Mona sekonyong-konyong menyambar sate milik Gore dan melahapnya dengan rakus. “Hei!” Tidak berhenti sampai sana, si gadis menyambar lagi satu tusuk—jatah terakhir milik Gore. “WOI! BANGSAT! Itu jatah gue!” Ia hendak merebut kembali miliknya, tetapi niatnya terhadang oleh moncong pistol yang tahu-tahu tertodong di depan mata. Gore mau tak mau membeku di tempat selagi si sulung menikmati makanan—hasil masakan-NYA.


“Hm~ Enak. Tapi, nggak kenyang.” Mona membuang tusuk satenya. “Cari lagi sana.”


“Mending gue tidur.” Enak saja sudah tidak dapat jatah hasil berburunya SENDIRI, masih harus keliling hutan lagi untuk memuaskan perut perempuan satu ini. “Gantian lo sana, Anak Hutan.”


“Pede banget lo bisa jaga kabin, heh.” Terdengar nada bicara Mona yang meremehkannya. 


Gore tak memedulikan itu. Fokusnya sekarang adalah untuk istirahat—sebagai satu-satunya cara memulihkan energi selain dengan makan—lalu mungkin setelah itu ia bisa lanjut berburu. Toh, Mona sendiri yang bilang dia paling bisa diandalkan menjaga kabin dan mengawasi keadaan sekitar. Ditinggal tidur lima jam tidak akan masalah, kan?


Sayangnya, baru semenit pemuda itu memejam mata, ia harus terbangun lagi oleh teriakan orang di depan rumah. “Gore! Target muncul!” Sontak yang dipanggil melonjak bangun dari posisi dan langsung menyambar senapan. Ia berlari menghampiri Mona.


“Man–!?” Baru ia melangkah, tiba-tiba sesosok makhluk hitam besar berlari cepat ke arahnya. Refleks Gore berkelit ke samping—menghindari serudukannya. “What—Babi hutan!?”


“Tangkap tolol! Jangan cuman dlihatin!” Mona berteriak sambil mendekat ke kabin. Menembaki binatang berkaki empat yang tingginya hampir setengah badan mereka. Namun, binatang itu dengan lincah berlarian di dalam kabin menghindari tembakan Mona. Seakan massa tubuhnya bukan sesuatu yang berarti. Sampai kemudian hewan liar tersebut menyelip di antara mereka dan kabur ke dalam hutan.


“Lo bilang targetnya kelihatan!?”


“Ya itu targetnya!”


“Itu babi hutan, Mon! Bukan penyusup!”


“Yang bilang target kelihatan itu penyusup siapa!?” Mona menggaet tangan Gore dan menariknya berlari menyusul babi tadi. “Makan malam mewah itu nggak boleh lepas! Ayo!”


Mewah dari mananya!? Gore tersaruk-saruk mengejar langkah Mona yang gesit dan cepat. Beberapa kali tersandung dan terbentur dahan pohon rendah demi seekor babi hutan yang kemunculannya macam setan. Mana ukurannya tidak seperti babi hutan biasanya! Kalau babi itu mengamuk dan malah balik menyerang, mampuslah mereka.


Ucapan adalah doa. Agaknya Gore harus belajar untuk tidak bicara sembarangan. Hewan besar itu tiba-tiba berbelok tajam—memutar balik arah ke Mona dan Gore—lantas melesat secepat kilat. Lebih cepat dari sebelumnya seakan berniat membunuh apa pun yang menghadang jalannya saat ini. 


“Mon! Babinya balik ke sini!”


“Bagus!” Mona dengan sigap membidik sasaran dan menarik pelatuh senapan. Namun, tidak ada satu pun peluru yang keluar. “Lah!? Kenapa pelurunya udah habis lagi!?” protesnya. “Punya lo, mana sin–!”


Gore yang panik terlanjur menembak asal si babi hutan dan malah menghabiskan perlurunya. “Ah, shit!”


“BEGOOO!!”


Gagal berlindung maupun menyerang, keduanya berakhir diterjang si babi hutan sampai tersorok ke sisi daratan yang tak rata. Menggelinding ke jurang yang tidak terlalu dalam bersama babi hutan yang juga gagal mengurangi kecepatannya sendiri.


Mona berhasil menahan diri untuk tidak menggelinding dengan menggapai akar pohon yang mencuat, sedangkan Gore baru bisa berhenti ketika punggungnya menabrak pohon besar. Disusul babi hutan tadi berguling kencang—berhenti menghajar perutnya. “ARGH!”


“HAHAHA! MAMPUS!” gelak Mona. “Tapi, good job! Lo berhasil nangkap babinya!”


“Iya, tapi gue kegeprek, Mon!” Gore mengaduh pelan. Badannya mendadak linu-linu. Kaki dan bahu kirinya sakit untuk digerakkan—sepertinya terkilir saat menggelinding tadi. “Bantuin…!”


Mona dengan hati-hati menghampiri saudaranya seraya memastikan babi hutan raksasa itu benar-benar mati. Ia menghajar kepalanya berkali-kali sebelum kemudian menyingkirkannya dari Gore dan membantu membenarkan posisi si pemuda itu. “Nggak sekarat, kan, lo?”


“Kaki sama bahu gue terkilir.”


“Yang bener aja lo.”


“Menurut lo?”


“Terus bawa ini babi gimana?”


“Ya mana gue tahu!? Kuat kali lo sendiri.” Gore mencoba berdiri sambil mengaduh pelan. “Gue masih bisa jalan sendiri tapi kalau harus nyeret itu benda, nggak dulu,” katanya. Posisi mereka sedang di tengah jurang, perlu jalan menanjak untuk kembali ke atas. Bisa-bisa cideranya tambah parah kalau harus membawa babi itu. Belum lagi misi utama mereka tak kunjung ada hilalnya. Tidak lucu kalau Gore harus berhadapan dengan musuh dengan kondisi tidak bisa menyerang tidak bisa pula lari. Menyedihkan.


Pelan-pelan Gore mendaki jurang yang untungnya tidak terlalu curam itu dan langsung duduk sesampainya di atas. Ia sempat melirik lagi ke bawah. Memperhatikan Mona menyusulnya sambil menggeret si babi naik. Sudah dia duga tubuh perempuan itu memang terbentuk berbeda. Seksi di luar buldozer di dalam. Mengerikan.


“Duduk dulu?” tawar Gore ketika Mona sudah berdiri di sampingnya.


“Keburu lapar. Ayo,” titah Mona. “Oh, sekalian cek track yang lo pasang jebakan, deh.” Perasaan Mona mengatakan kalau buruan hari ini bukan hanya babi hutan, tetapi juga sesuatu yang lebih besar—yang sudah berhari-hari mereka nanti kehadirannya.


Gore sendiri tidak yakin jebakannya sudah bekerja atau belum. Namun, tidak ada salahnya mampir sebentar ke sana. Toh, dari tadi mereka jauh dari kabin entah berapa lama. Kalau si target memang menunggu waktu lengah Gore dan Mona, ya inilah saat yang tepat.


Dan, benar saja.


Kurang lebih empat sampai lima mayat terkapar dengan kepala dan leher tertusuk panah kayu panjang. Sepuluh meter dari sana, lubang besar yang dalam telah terekspos permukaannya. Kalau dilirik, sisa orang dari para penyusup sedang kejang-kejang di antara kumpulan ular dan serangga berbisa. Gore bersiul puas. Terkadang yang simpel memang yang terbaik.


“Itu mereka! TEMBAK!”


Mona yang mendengar suara tak terduga dari arah belakang langsung melesat dan melayangkan tendangan. Ia tak perlu melihat siapa, atau berapa banyak orang yang akan dia hadapi. Cukup hajar tangan mereka, rebut senjatanya, dan sisanya tinggal melihat bagaimana belasan peluru menembus tengkorak orang-orang tersebut. Gore rasa ia tidak perlu khawatir Mona salah serang. Sudah pasti jelas orang-orang itu komplotan si penyelundup juga. “Heh. Membosankan.” Mona melempar senjata rebutannya dengan sembarang.


Buruan malam itu melimpah ruah: mayat manusia, senjata selundupan, mobil baru, dan—tentu saja—babi hutan seukuran singa dewasa di jok belakang. Mona dan Gore menyusuri jalanan malam dengan hati riang gembira. Misi akhirnya selesai. Oleh-oleh yang didapat pun bukan main nilainya.


Pada akhirnya, pertanyaan makan apa malam ini? terjawab oleh sebuah hidangan babi asap berapel merah yang tersaji di atas meja makan panjang. Dinikmati oleh Mona, Gore, dan seluruh anggota keluarga penghuni Rumah Dosa. Siapa sangka hewan liar itu bisa jadi selezat dan semewah ini di tangan seorang koki.


Mona dan Gore yang duduk bersebelahan saling melirik. Tanpa menghentikan kunyahan di mulut, keduanya mengangkat kepalan tangan. Memperadukannya singkat.


Misi sukses besar, dan semua orang berbahagia dengan perut kenyang.



– fin –




Commission Story Written by Shikanoo on Carrd

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page