Exile Under Blood
- Gavin As
- Jul 3, 2025
- 33 min read
Updated: Jul 16, 2025
Universitas Tinderwood.
Bangunan merah akibat batu-bata konstruksinya menyapa pandangan pengemudi mobil, atau motor, yang masuk ke dalam kompleks pendidikan strata atas.
Kendaraan lalu-lalang dalam kecepatan rendah, suara mesinnya sama rendahnya pula, pada aspal hitam yang dirawat setiap bulan. Hukuman bagi pelanggar aturan tata lalu lintas universitas sungguh serius, tak main-main, bahkan mahasiswa cerdas pernah terlibat; yaitu kendaraannya ditangkap dan disimpan keamanan kampus sampai waktu tersendiri.
Hembusan angin bawa tangan-tangan tembus pandang, mendayu beri ajakan dansa ke segala hal; rumput padang yang menoreh lapangan hijau di antara bangunan, dedaunan pohon setinggi tiga orang, bendera simbol kota pada pucuk tiang besi, dan rambut merah pekat menggelombang Mona di kelenturan hangat udara.
Pohon memayungi Mona. Bayangan kerasnya berdansa, memberi satu perlindungan berlubang tusukan tajam cahaya matahari siang tidak mau kotori fisik wanita anak pertama Seven Sins Family. Buku warna merah dan biru berjudul Strength and Power terbuka pada tangan.
Merah mata si mahasiswi berdayung dari kiri ke kanan, berulang kali menarik maksud, makna, serta arti kalimat tanpa ada kesulitan besar dalam membedakan surat dan siratnya. Sentuhan tangan lembut menyembunyikan ratusan kematian dan kemurkaan membalik kertas ke halaman kemudian.
Kursi panjang Mona seorang duduki. Sudah ada lima laki-laki mencoba memancing pembicaraan dengan mengisi sampingnya. Tidak ada langgeng satu pun. Mereka mau menggoda Mona, berpikir bisa membungkus wanita jauh di atas kapabilitas mediokernya. Mona fokus pada apa yang dibaca. Jendela kacamata menggantung pada hidung, berikan kesan cerdas lugu, Mona biarkan menjawab. Setidaknya, mereka bisa hidup dalam delusi kalau si wanita merespons pendekatan bagaikan penggemar itu.
Di antara mereka, lelaki murah yang melempar badan ke tanah hanya untuk bisa menarik perhatian dia, paling Mona anggap mengganggu adalah pengemudi mobil yang berhenti di dekatnya dan, dalam imajinasi cuma tidur bisa gapai, memberi kata-kata tidak senonoh. Mereka pasti menutupi benda kecil di belakang mobil. Setidaknya, pria yang datang dan duduk di samping Mona punya keberanian untuk masuk radius tinjauan.
Mona ketawa keras di dalam hati. Dasar jantan.
Tutuplah buku dalam sekali entak tangan. Dalam pandangan laki-laki, pantas Mona digoda. Dia tidak mengenakan pakaian seksi atau terbuka; tapi gayanya, sungguh bagai bunga mawar tunggal antara lautan dedaunan hijau semak-semak.
Baju panas, sweter, memeluk dekat dengan tebal yang sama sekali tidak selubungi liuk-lengkung tubuh; kerah tingginya lagi menutup setengah leher. Sementara di bawah, bergantung pada pinggang, ada rok hitam motif garis tegak lurus gelap berwarna sedikit pudar; panjang ia berhenti sedikit di atas lutut bersih dari luka masa kecil. Sabuk kulit sewarna mengikat pinggang, menyatukan kedua kain beda jenis dan tugas. Sepatu loafers hitam polos berakhir pada kakinya, melindungi kaki yang sudah dilapisi kaos warna sama terlebih dahulu, milik si wanita panas dalam gelombang keratin merah. Garmen selain hitam, satu-satunya warna berbeda, merupakan jaket blazer merah darah yang melapisi atasan sweter, mengikat maksud mode pakaian Mona.
Buku sudah hilang dari tangan, masuk tersimpan dalam tas selempang hitam ukuran sedang, terbuka resletingnya, baru Mona beli seminggu lalu di salah satu pusat perbelanjaan mahal pusat kota. Kotak makan besi tahan karat keluar menggantikan di mana buku tadi, sendok dan garpu menempel di samping badannya. Benda bersuhu hangat itu Mona taruh di atas paha yang kini rapat.
Uap harum keluar kotak makan setelah ditarik lepas tutupnya. Sepotong steik medium-rare dilapisi gemerlap saus pedas manis menyambut penuh harap-harap pandangan Mona, bersama kentang goreng mata emas yang sempurna dan sayuran hijau ditambah kacang-kacangan. Koki Rumah benar berikan tenaga tanpa ragu ke sajian makan siang kali ini.
Pisau di kiri. Garpu di kanan. Mona mulai makan, diawali korekan garpu pada daging.
Kelopak turun katup mata. Mona tidak taruh fokus sama sekali kepada makanan. Pandangan lepas dari makan siang kala ia mekar kembali, bebas perhatikan sekitar sambil mengunyah daging yang meleleh begitu mudah di dalam mulut. Gerak tangan tidak ada pikiran panjang di baliknya, otomatis, bawa satu potong demi satu potongan.
Perpustakaan dan Pusat Sumber Daya Akademik, bangunan bata merah yang memberi sapa hangat paling pertama ke semua tamu; peduli kecil apa mereka bagian dari civitas akademika maupun tamu luar universitas, masuk ke dalam kompleks kampus.
Mona t’lah duduk di pandangan depan bangunan itu kira-kira selama tiga hingga empat jam. Sejak jam pertama, orang keluar-masuk pintu kembarnya bisa dihitung jari. Biasanya, seharusnya, tempat itu dipenuhi mahasiswa semester akhir―Mona masih pertengahan―dikekang pekerjaan tugas akhir. Kerja mengetik selama lima jam di balik meja selalu dia anggap menyakitkan; mau secara fisik atau mental, sama saja.
Ponsel sudah menghilangkan notifikasi pesan isi tugas, tanda bila telah dibaca. Demikian cara masuk tugas tidak mengurangi keseriusan nada Ades, sukses diucapkan selayaknya dihantarkan langsung.
Tugas Ades bukan kegiatan yang Mona nantikan pakai suka cita dalam mata atau ‘kan dikerjakan dengan senyum; ialah kewajiban, harus dilakukan serius. Lengkung senyuman cuma muncul saat Mona menenggelamkan diri ke arus hobi favorit, yaitu menembak, dan melakukannya di ladang luas nan buka pakai senapan jitu yang akan pancing lebih dari sedikit alis naik akan asal-usul sumber Mona bisa mendapatkannya. Apalagi rekan kelasnya saat ini susah-kepayahan mencari bagian-bagian komputer untuk dirakit untuk tugas kampus.
Apa pun bisa dibeli bila ada koneksi tepat, sepertinya, dan Mona akui itu sebagai kebenaran hidup.
Kotak makan telah kosong dari hal-hal penting, meninggalkan sisa saus terlalu cair sebagai jejak kalau pernah ada sesuatu di sana. Mona pasang atasan penutup dan taruh kembali ke dalam tasnya, sebelum bokong lepas dari kursi dan berjalan pergi entah ke mana―jelas bukan ruangan kelas yang hari ini tawarkan.
Tugas Ades harus serius dilaksanakannya. Ini benar. Pemahaman Mona mudah untuk dimengerti, oleh keluarganya dan dia sendiri. Meskipun begitu, Mona tidak bisa menolong untuk merasakan sesuatu tentang misi hari ini. Ketertarikan mungkin kata yang tepat untuk mendeskripsikannya, dan ikut bersamanya dua atau tiga pertanyaan yang patutnya dikeluarkan langsung di hadapan Ades. Bukan mengenai moralitas pertanyaan itu, Mona sendiri cukup ragu apa dia masih memilikinya, tetapi akan bagaimana tepat misi ini secara tidak sengaja.
Sasarannya, individu yang harus dia akhiri pada misi ini, adalah senior Mona sendiri. Dan bukan senior biasa yang cuma sekali kenal dan tidak lagi interaksi, melainkan sosok yang membuat darahnya mendidih murni dengan ketertarikan benar-benar.
Aleksander, nama individu laki-laki yang harus dia akhiri napasnya.
Rambut coklat-emas panjang dibiarkan berantakan, kadang ditarik ke belakang bila ada kesempatan, dan membingkai muka kurang ekspresi, kulit putih cerah bermata biru dingin. Lelaki itu merupakan ketua klub menembak di kampus―terkenal karena dia tampan, mau di dalam kalangan mahasiswi semester atas dan apalagi bawah.
Mona bisa mengerti kenapa alasan itu bisa populer. Dia bukan wanita aseksual dan aromantis hingga menolaknya mentah-mentah. Namun, yang menarik tentang dia untuknya ada pada kemampuan menembak senapan. Mona akui bila Aleksander merupakan satu-satunya sosok yang melampaui dirinya. Pantas untuk dikagumi dan dipandang tinggi, bahkan oleh Mona, lalu dijatuhkan nanti; nanti itulah sudah sekarang.
Dia kembali ke rumah di mana misi akan dimulai.
Rumah Alibi.
Engsel pintu mendesah pelan tanda harus diperiksa. Sinar masuk cuma sebentar. Jemari menjentik saklar samping kerangka jendela, berikan cahaya lebih permanen sekaligus menyeluruh.
Konotasi nama tempat ini jauh dari seram kalau dibandingkan sebutan penduduk sekitar kalungkan atas rumah asli Mona; Rumah Dosa. Rumah Alibi, ia punya kesan komedi situasi, sampai cuma dipakai sendiri. Tetangganya mustahil bisa tahu kalau tempat ini bahkan punya nama. Mona tidak pernah cerita. Kalaupun itu diceritakan, pastinya akan mengundang tawa daripada merindingnya bulu kuduk, terutama dari orang berhumor terlalu tinggi, yang kemudian membuat Mona marah sampai menggorok siapa pun itu pelontar hinaan. Terlampau banyak masalah mampu dimuntahkan topik sesederhana nama.
Lampu ada satu. Ia ada di tengah langit-langit ruangan, bergelantungan lurus dari tiga tali baja dikuliti cat pekat. Kandil besar. Di bawahnya, puluhan cetar cahaya putih-kuning ditahan di udara dalam wujud melingkar. Mereka cukup untuk menerangi ruang tamu supaya lampu-lampu lebih kecil tak perlu bekerja.
Cahaya jatuh pada furnitur sepuluh warna tepat di bawahnya, yang agak condong menuju utara, menatap pada tembok. Mona habiskan waktu sendiri di sana; pakai buku, laptop, atau pisau dan pistol.
Mona simpan alasan eksistensinya selalu di sini setiap kali orang punya pertanyaan akan keberadaannya kalau suatu kejadian luar biasa meletus.
Tugasnya akan sama pula nanti.
Terdapat tiga fokus utama untuk diperhatikan tamu-tamu tatkala mereka masuk ke dalam tempat ini. Paling besar di antaranya merupakan dua sofa empuk warna dominan krim lembut, satu lebih panjang dari yang lain, mana posisinya setengah menutupi sisi meja kayu persegi panjang dibuat dari kayu dihitamkan panas.
Semua furnitur punya gaya yang melengkapi satu sama lain walau warna sedikit berbeda, tepatnya di kontur, berdiri di atas karpet bulu berang-berang langka buatan wilayah di utara jauh. Sulit mendapatkannya.
Terdapat dua objek memandangi kongregasi furnitur tersebut; sebuah lemari yang terlampau simpel, berisikan buku-buku bersampul hidup di dalam bayang-bayang pewarna merah―mungkin orang bisa melihat sesuatu tidak tepat mengenainya seakan-akan ia tidak berasal dari kenyataan, sama seperti benda yang akan dianimasikan dalam kartun anak-anak lawas─dan yang lain merupakan televisi tanpa adanya tanda-tanda kekotoran warna akibat panas
Rumah Alibi menjadi puncak kemewahan di mata orang-orang biasa.
Mona tidak merasakannya sama sekali.
Bangunan ini memiliki sentuhan sembunyi sederhana, pantasnya disebut sebuah gubuk atau gudang di mana petani mesti menunggu hari panen raya, lantas kerja keras sepanjang hari, tanpa henti, dan akhirnya menyimpannya di tempat sama. Dari suatu sisi, mirip sekali antara keduanya dalam fungsi.
Semua aspek mewah, berbagai macam manifestasi daripada hedonisme sekarang ada dalam Rumah Alibi: vas-vas bunga isi imitasi sintetik di pojok ruang tamu, lukisan merah darah berbingkai emas diberikan teman karena itu ‘mengingatkannya’ terhadap Mona, dan bermacam aksesoris rumah mustahil bisa uang saja dapatkan bila kosong relasi; di mata perempuan hidup dalam Rumah Dosa, terlihat sangat pucat akan dari apa yang dimiliki Mona di rumah sesungguhnya itu.
Ini pula, disayangkan Mona, termasuk koleksi senjata apinya.
Kalau ada orang bisa mendengar isi pikiran Mona, sudah pasti dia akan mengecap si gadis rambut merah ini arogan, sombong, tak tahu diri; dan itu bisa diterima, karena benar dan ia sadar.
Mona paham bagaimana Rumah Alibi jauh berbeda dari bangunan yang digunakan sebagai perbandingan. Tiada bisa ada gudang mampu menyaingi tempat ini dalam kemewahannya, bahkan rumah-rumah kompleks sekalipun. Kenyataan itu tidak akan bisa mengubah pemahamannya, namun.
Mona taruh badannya pada sofa, tidur sepanjangnya, punggung pertama kemudian kakinya melebihi batas ujung. Sepatu loafers istirahat dalam rak di bawah jendela, dan ia tidak sendiri, bersama berbagai macam sepatu keluar jalan-jalan lainnya. Tas selempang bersandar pada satu kaki meja.
Mona perhatikan langit-langit krim bersih. Permukaannya mulus, sedikit bergumpal, tercermin pada merah kembar. Dalam caranya sendiri, mereka bantu pikiran Mona menyusun rencana lebih mudah.
How to murder Aleksander?
Siar sunyi baris kalimat. Rencana mulai berkutat, isi kepala saat badan berdiri dan ambil langkah masuk ke dalam kamar tidurnya. Fase pertama misi tengah dikerjakan.
Kamar dibuka pintunya setelah kurang lebih tiga puluh menit berlalu. Dia keluar, dan gaya fashion beda dari sebelumnya telah menempel pada tubuh.
Dibanding corak pakaian sebelumnya, yang meskipun cantik, ia memberi kesan ‘lebih hebat nan tinggi darimu’ lewatnya pancaran nilai-nilai akadamik disembunyikan dalam kepala; sekarang Mona mengenakan moda baju yang jauh lebih mengundang. Tidak dalam konteks sensual, tentu.
Mulanya dari atas, dengan sweter cukup tipis supaya tetap bisa merasa sejuk walau terang benderang matahari di atas kepala, kemudian rok pendek sedikit tinggi dari lutut mulus. Dadanya yang menonjol diselempangkan tas―ukuran sedikit kecil dibanding yang sebelumnya, cukup diisi bedak, kosmetik, buku, atau benda lain yang belum tentu Mona bawa―dan diakhiri sepatu bot yang malu-malu mau menyentuh lutut. Semuanya memiliki corak warna-warni coklat, bervariasi bayangannya.
Logam elastis dalam sofa bengkok dan bunyikan desah kala badannya kembali duduk pada kelembutan luarnya. Di saat, hampir, bersamaan, Mona ransang pikiran untuk menampilkan ke mana dirinya harus pergi, dan bayang muncul begitu saja sebelum Mona melepas bokong dan berdiri.
Dia harus menemukan seseorang.
Seseorang yang menyukai Aleksander.
◊◊◊◊◊
Mona mengarungi bahu jalan utama kompleks perumahan. Gerak kaki mengisyaratkan anggun dan cantikan sikap sederhana, diberikan tanpa ada paksaan palsu di dalamnya biasa dilakukan wanita-wanita ‘murah’. Bersandar pada bahu kanan merupakan badan hitam langsung payung merah marun yang menutupi estetika badan bagaikan permata merah spinel atau rubi dari panas mematikan matahari siang. Mona bersiul, dan lantunan dijawab oleh burung-burung gerjang bertengger pada batang pohon dilewatinya.
Jalan setempat tampak sepi. Mona bisa menghitung dua sampai empat mobil lalu lalang, di mana puluhan bisa muncul biasanya. Namun, saat ini, itu bukan fokus bagi dia.
Sunyi lekas hilang di saat kaki membawa Mona semakin dekat taman di pusat rajut perumahan tempat tinggal. Biasanya ramai, pula pun sekarang, di cuma memiliki sedikit perbedaan. Percakapan akademik; debat dan diskusi, mengisi udara, berasal dari kelompok kerja mahasiswa dan mahasiswi yang, kalau saja ini masih masa sekolah menengah atas, akan biasa jadi bahan perundungan. Di sini, tentu, sudah tidak zaman. Terkadang suara olahraga; dentum bola basket, napas memburu atlet lari dan jogging, hingga sentak permukaan hitam-dan-putih catur ikut bantu mengisi. Dan dari bagaimana kerja kelompok umumnya berjalan, ikut melayang pula gosip-gosip murahan dari lidah dan jari yang tidak bekerja.
Kaki masuk taman. Bentuk atmosfir lain langsung membasuh indra sang wanita serba coklat-merah, lekas serta cepat, seolah-olah sudah keluar dari dimensi sepi. Mona suka dikelilingi banyak orang. Di antara mereka, sapa dan tegur naik yang dibalas kembali oleh Mona. Oh, betapa Mona cinta dikelilingi penggemar.
Panas, sekarang ia cuma hawa.
Taman punya banyak pohon, lebar dan tinggi, membuat bayangan cukup luas sampai sedikit menyisakan bagi cahaya mentari untuk jatuh pada tanah lapang hijau dan coklat, terutama bagian dengan kursi, meja, dan akomodasi bersantai lain guna pengunjung. Mona kuasai salah satu yang sangat dekat akan gerombolan mahasiswi tengah kerja kelompok―dan bergosip ria. Informasi macam apa pun, sekecil ‘siapa suka siapa’ atau sebesar ‘kasus tabu kampus’, pasti akan bisa ditarik dari kuali berita mendidih tersebut. Apa yang menjadi pertanyaan sekarang, adalah berapa lama Mona butuhkan untuk menarik informasi dia mau?
“Eh, tau gak, kalau si Laura suka sama Aleksander?”
Delapan kata badan kalimat itu, adalah tanda Mona harus bergabung.
◊◊◊◊◊
Belai helai merah selalu tampak mencolok bila dibandingkan sesaudari hitam dan pirang, milik bukan-temannya, tarik banyak macam perhatian yang kadang terlalu lebih.
Mona merupakan segala yang mereka bukan; indah nan anggun, cantik serta elegan, keluar wujud pancaran cerah darinya. Mimpi hidup para wanita ini, dan lebih dari itu, tidaklah Mona berusaha keras sama sekali untuk ada di sini. Mungkin, tepat karena itu, mereka malah buka tangan daripada menolak Mona bagaik kelompok gadis jahat sok keren yang populer dalam komunitas feminim kampus. Mereka, dalam ketidaktahuan tentang misi berdarah Mona, dibutakan status―lebih―tingginya, dengan harapan mendapat cipratan dari Mona, melempar diri selayaknya anak-anak cari perhatian ibu.
Mereka sudah bergosip ria sebelum Mona bergabung. Sekarang, dengan Mona tampil di sini, waktu akan membuktikan separah apa perubahan intensitas topik pembicaraan.
Satu dari empat wanita lanjut bicara, panjangkan kalimat awal yang tadi menarik perhatian Mona ke dalam lubang kelinci perbincangan ini. Mona mendengarkan, dan dia temukan kalau perempuan ini sama sekali tidak bisa bercerita, semua yang dihantarkan... tidaklah menarik. Semua kata lidahnya ciptakan cuma hutan nada penuh informasi yang seharusnya digambar lebih jauh, bukannya ditinggalkan begitu saja. Mata Mona berkedip-kedip dalam ketertarikan palsu dibuat-buat, tepat dalam tebakan, mereka semua buta akan itu, seraya si wanita terus bicara tanpa arah mengenai apa yang dia katakan tadi.
Mona lantas bertanya, “Kok kamu bisa tahu, sih?”
Mona cukup yakin dirinya sedang bicara sama bendungan, yang dengan sedikit putaran pada pegas mekanik kuno, wanita ini langsung menumpahkan banjir bandang yang membasuh Mona pakai informasi, relevansinya kepada misi bisa saja dipertanyakan, baru. Melalui mereka, Mona bisa tahu, tepatnya mengkonfirmasi rasa curiga, tentang wanita ini.
Laura.
Oh, betapa nama itu tidak asing baginya, terkesan kenal, cukup dekat.
Mona ingat Laura. Setidaknya, dalam cara bagaimana seorang Ratu bisa menaruh memori tawa akibat aksi lucu badut pagelaran istana dalam kepala sekali muncul. Orang seperti dia tak perlu ada di kepala dalam bentuk selain cara tersebut.
Waktu Mona sadar pertama kali akan keberadaan Laura, itu bukan saat kejadian panas membakar; keji nan jahat, maupun kejadian yang membuat jantung geram, melainkan kegiatan biasa, cenderung membosankan, dalam kelas siang.
Mona suka menjawab berbagai macam pertanyaan dari banyak profesor dan dosen; baik karena benar-benar tahu jawabannya atau untuk mendapat pesona dari mahasiswa-mahasiswi lain, antara itu keduanya mampu muncul tanpa awalan. Tetapi, suatu hari, seorang perempuan tomboi―baik dalam estetika dan cara membawa dirinya―mencuri kesempatan jawab Mona. Dalam momen tersebut, berbagai macam memori mencakar masuk dan lantas dia ingat siapa perempuan itu.
Dia siapa yang kelompok penggosip ini sedang bicarakan.
Laura punya penampilan layaknya anak laki-laki. Mona tidak pernah ingat gaya lain menempel di badan dia. Biasanya kaus oblong melapisi badan, dan ini ditemani jaket hanya cocok dipakai orang berbadan lebih besar darinya, dengan celana longgar berkaret ketat dekat mata kaki, kemudian diakhiri sepatu sneaker hak tinggi, dan ditemani topi sederhana yang warnanya senada rambut panjang.
Gaya Laura bukan sesuatu yang aneh. Untuk sebagian kecil lelaki, mode begitu malah menggoda. Rasa tidak suka―tepatnya sesuatu yang membuat Laura tidak mampir pada radar ‘orang menarik’ Mona―berasal dari sikap pick me yang menyelimuti Laura bagai lalat ke sampah. Dia selalu bertindak, mencoba sekeras mungkin, beda dari kebanyakan wanita di sekelilingnya. Memori sudah lari didorong sekarang. Teringat Mona akan banyak kata keluar dari mulut Laura, tiap-tiapnya dinodai indikasi pick me, dan mengkerdilkan perempuan lain.
Apa cuma aku, ya, yang gak pernah takut sama panasnya matahari?
Lalu, apa cuma aku doang yang gak suka pakai perawatan wajah?
Iyuh! Temenan sama perempuan itu banyak drama, loh! Mending aku main sama laki-laki aja, damai, tau gak!
Atau, mungkin ini favorit Mona karena betapa absurdnya itu; apa cuma aku doang yang potong durian pakai pisau kater?
Mona bukan tipe wanita yang akan mendukung wanita lain hanya karena mereka sama-sama punya alat kelamin mirip dan tanpa alasan jelas lain. Dia ingin melihat dirinya sendiri jadi pusat perhatian orang-orang, gender mereka tidaklah Mona pedulikan. Dirinya bisa mengakui kalau ucapan keluar dari mulut Laura selalulah aneh. Mungkin, bagi laki-laki, terdengar tinggi. Namun, kenyataannya sungguh merendahkan wujud sendiri.
Salah satu wanita, rambut dia pirang kotor sedikit coklat, melanjutkan di mana teman sebelumnya tinggalkan cerita. Dia cerita dalam suara yang murni dan halus, jauh lebih jernih, buat Mona serius mendengarkan. Untuk pertama kali.
Ternyata―kata ini akan muncul banyak sekali bila bicara mengenai sang Laura―di dalam banyak lingkar pertemanan yang Laura masuki, selalu ada kesempatan kalau dia akan berusaha dekat sama semua lelaki di sana, yang tampan dan ganteng terutama, mempromosikan diri jadi tomboi bebas drama, dan ketika mereka merasa aman, tarik tali tepat agar semua rahasia mereka tumpah kepadanya; ini tentu, termasuk hubungan mereka dengan pacarnya masing-masing, atau perasaan antara satu sama lain yang bisa saja dijadikan bahan adu domba.
Rahasia ini tidak diam di satu tempat. Ia seperti air, dan mulut Laura itu air terjun di negeri utara khas sirup mapel. Cepat tersebar ke dalam berbagai kelompok fakultas kampus.
“Jangan kasih tahu siapa-siapa ya,” kata wanita yang menceritakan itu, menyerupai nada suara Laura saat memberikan rahasia banyak mahasiswa kepadanya. “Cuma kamu, loh, yang aku ceritakan soal ini!”
Wanita lain, satu ini duduk di sampingnya dan mempunyai rambut pirang keseluruhan, masuk bawa gosip baru. Dan daripada memotong sebelumnya, ini melanjutkannya.
Yang ini merupakan berita untuk Mona, sebagaimana ke lainnya.
Kalau ada mahasiswa laki-laki populer di kampus, tidak peduli fakultas apa dia berasal, Laura pasti akan mencari tahu informasi soal dia, utamanya informasi tidak menyedapkan. Tapi, kalau ada mahasiswi populer, kejadian lebih panjang terjadi. Dia akan menyebarkan gosip negatif soal mereka, dan tingkat keburukannya beragam, tergantung siapa yang Laura ajak bicara kala itu. Sekali, itu pernah mengenai aborsi. Kening Mona menekuk, dan bukan akibat rasa simpati ke korban gosip liar Laura.
Laura merupakan wanita populer―bisa didebat―dan jelas ada di atas empat perempuan ini, tapi tidak akan pernah ada di atas Mona. Bagaimana mereka berempat mendeskripsikan Laura, terlihat jelas kalau dia melihat diri sendiri sebagai tokoh utama game flash harem ditunjukkan ke perempuan, berbondong-bondong ingin rebut perhatian laki-laki.
Mona tertawa dalam hati. Deskripsi itu mengingatkan dirinya kepada Levi, adik perempuannya. Tapi, bahkan Levi masih lebih baik dari Laura. Jauh.
Apa pun minuman yang dikunyah mulut Laura, itu membuatnya percaya kalau dia harus memiliki monopoli atas semua laki-laki, mau tampan ataupun jelek, di kampus; dan itu membuatnya bersikap agresif kepada semua wanita lingkungan kampus. Terutama Mona.
Nama sang putri pertama Ades disebut wanita rambut hitam, terakhir dari empat tukang gosip. Alis Mona bertautan menjadi satu kerutan merendahkan yang dapat menekuk lemas kaki laki-laki dan pria, minta maaf karena masih bernapas dalam hidup tidak berguna mereka.
Mona mendengarkan penjelasan si wanita rambut hitam pakai fokus yang setengah-setengah, tidak serius, mengenai apa yang Laura benci tentangnya. Dia suka cerita ironis.
Terawal, katanya, sebelum nama Mona populer seperti sekarang, dimulai pada pertemuan pertama antara mereka berdua di tahun kesatu perkuliahan. Laura memperkenalkan dirinya ke Mona, direspon olehnya tanpa sama sekali ada ketertarikan. Mona ingat saat itu. Dari ingatan yang sama, Laura pun tidak ambil pusing atas responnya, lanjut mengenalkan diri ke rekan kelas lain.
Apa yang berubah?
Popularitas Mona, naik ke atas seperti roket antariksa di masa semester pertama―bisa Mona berterima kasih kepada kemampuannya untuk tampil bangga, terutama pencapaian pribadinya di komunitas olahraga menembak kampus, tapi terbuka ke semua jenis orang di saat bersamaan―merubah si gadis tomboi. Dari rival potensial acuh tak acuh, jadi musuh bebuyutan penuh gairah mau menjatuhkan. Setidaknya itu bagaimana Laura melihat hubungan aneh ini.
“Nah, itu kenapa kebetulan banget, loh, kamu ketemu kita di sini!” ujaran wanita rambut hitam itu mendorong alis kanan Mona untuk naik.
Dia menjelaskan lebih jauh kalau ada gosip dan rumor tengah berlayar di banyak lingkaran fakultas, bahkan kampus, dan mengancam akan keluar ke pembicaraan rahasia umum publik pendidikan; semua merujuk pada Mona jadi pelaku utama, di mana gosip tersebut mengatakan, Mona―mahasiswi populer Universitas Tinderwood―ditemukan berkencan dengan orang tua jauh di atas usianya.
Itu, tentunya, kerjaan Laura. Mona tahan tawa.
“Orang tua ini, dia punya rambut biru?” tanyanya.
Si wanita mengangguk. Di momen itu, tawa yang sudah mendidih dalam dada akhirnya keluar, bukan dalam bentuk murninya, namun disaring begitu sering sampai-sampai ia mengambil wujud kekehan manis yang akan buat hati pria berdetak sedetik lebih cepat.
“... itu ayahku.” ucapnya, dibalas pandangan tak percaya, yang kemudian digantikan tawa lega keempat mahasiswi tersebut. Mona memperhatikan bila kelompok-kelompok lelaki di sekeliling mereka pun ikut memberi ekspresi kelegaan, dalam wujud lebih tenang. Tampaknya gosip basah Laura benar sudah tersebar luas dan lebar.
Mona harus melakukan sesuatu ke Laura.
Ah, benar. Dia bisa campur misinya dan kejatuhan Laura ke dalam paket lapis ikatan pita merah indah.
Dan menghadiahi Ades dengannya.
◊◊◊◊◊
Akhir pekan datang capai pintu dalam balutan isyarat kemegahan tidak diperlukan, memberi anotasi kosong mengenai apa yang Mona sebut hidup. Hari-hari sebelumnya merupakan kedamaian, beri keheningan biasa indra rasakan. Tentu saja, selama lima hari itu, Mona jauh dari diam menganggur. Faktanya, itu merupakan waktu paling sibuk dalam jangka sebulan.
Mungkin. Kalender masih menunjukkan pertengahan bulan, pertengahan tahun pula pun. Kejadian masa depan bukan sesuatu yang Mona bisa ketahui, sayangnya.
Hari ini, itu yang Mona ketahui, merupakan hari pertemuannya dengan si Aleksander. Dalam situasi hangat, tentunya. Dia sedang bermain permainan jangka panjang. Aleksander akan mendapatkan kematiannya, itu janji Mona kepada sang Ibu ketika wanita rambut ungu tersebut menanyakan pembaruan misi tiga hari lalu. Dia berbaik hati memberi putri tertua keluarga kesempatan menikmati pekerjaannya.
Mona bertanya pada dirinya sendiri setelah memutus panggilan ponsel, apakah begitu cara wanita tersebut menampakkan cinta keibuannya?
Tidak buruk, kalau benar.
Lapangan buka diri di hadapan, luas dan panas, sepi biasanya, ditemani keramaian orang-orang kini―mahasiswa dan mahasiswi, semua―membawa senjata api pada pundak, pinggul, dada, punggung dan segala di antaranya. Danau manusia itu terkonsentrasi pada bagian selatan rumput hijau kosong, di mana pondok kayu dan bata sebanyak jari dua tangan berdiri.
Mona ada di bawah langit-langit salah satu pondok, dari panas dirinya terlindungi, menikmati sejuk dikirim dansa pepohonan di samping lapangan. Tangan memegang senapan jitu antik, terbuat dari kayu tua tapi tidak keropos badannya, dengan ukiran indah terpahat di sisinya.
Lapangan sebenarnya tidak kosong. Tak terlalu.
Pada mulus muka lapangan, antara dansa panas udara, berdiri puluhan papan target yang punya ragam wujud: lingkaran tiga warna, segitiga garis banyak, bahkan papan yang mengambil citra putih manusia. Mona tersenyum pada papan target paling akhir.
Dia perhatikan senjatanya. Ini merupakan senapan paling tua, diproduksi pada tahun 1913―satu tahun sebelum perang modern pertama, dalam ruang penyimpanan pribadi Mona. Didominasi coklat, yang mana hitam umum pada keturunan modernnya.
Kokangan aksi-gerendelnya Mona tarik, perlihatkan ruang peluru kosong, hampar peluru. Ia akan terisi ketika giliran tiba.
Fokus ditarik saat suara familiar notifikasi pesan masuk muncul. Mona tak buka aplikasi, hanya melihat layar, yang buat matanya menyipit aneh.
‘Di belakangmu,’ tulis pesan itu di sana.
Berdansalah kelembutan rambut merahnya dalam sekali tarik, memberi izin untuk melihat, menangkap figur seindah putih itu sendiri, Aleksander.
Gaya kasual santai memeluk dari kepala sampai kaki, bawa kesan serta pesan bila kekacauan bukan bagian dari hidupnya yang akan selalu berjalan sesuai keinginan; dan itu pula sama seperti pakaian Mona sekarang―pakaian sama dirinya kenakan saat ambil jalan-jalan di hari lalu.
“Menungguku?” Aleksander beri senyuman tipis, manis gula putih.
“Sedikit saja, sih,” ucap menggoda Mona. “Aku sempat pikir kalau kamu lari entah ke mana, makan jajan jauh dari sini, mungkin; takut kalah nantinya!”
Tawa Aleksander lembut bagai kapas sudah diekstraksi. “Kalah, ya? Aku? Ayolah, Mon. Serius dikit, lah, di kompetisi ini! Kalau aku benar-benar kalah, kepalaku akan sujud ke kakimu, deh.”
Suaranya pasti keluar keras. Mona dibuat kaget tiap ada kesempatan tuk berbincang, akan bagaimana tiada pernah orang menoleh padanya. Dan ini, lebih mengejutkannya, selalu Mona temui lapisan halus jelas residu bagai kain satin di dalam daun telinga, seakan-akan habis dijilat sentuhan pelan, sampai ke rongga kepala. Bila suara Aleksander naik tingkat ke satu anak tangga saja, Mona percaya dirinya akan jatuh kedutan ke tanah akibat kenikmatan aneh serupa disentuh cottonbud.
Muka Aleksander. Ah, Mona fokus pada aspek lain sekarang.
Cerah hidup di sana, api semangat menyalakan percaya diri. Ekspresi yang familier bagi Mona―sama-sama terpasang di wajah. Oh, tidaklah dirinya mampu membenci. Sebenarnya, betapa sukanya dia.
Muka tampan bukanlah dicipta tangan-tangan ilahi begitu saja, melainkan dibangun kerja keras kesadaran diri akan estetika manusia penuh bangga. Mona bisa buang waktu banyak sentuh rahang kuat Aleksander, taruh jemari pada tempat mereka seharusnya tidak boleh sentuh sama sekali pada badan sekepala lebih tinggi darinya itu.
Mona tersenyum, pada apa yang mencerahkan.
Aleksander sangat menyenangkan setiap ada kegiatan klub. Di seantero kampus, dia rasa, Aleksander satu-satunya laki-laki yang tidak jatuh hati akan kecantikan dan elegansinya.
Oh.
Betapa sedih Mona tatkala tawa dan tampan itu tidak lagi akan ditemukan setelah akhir bulan ini.
Rentetan suara senapan berteriak lantang beberapa meter di samping mereka, menggema terhadap keterbukaan lapangan. Mona memilin leher ke suara yang membuat Aleksander melihat jauh ke belakangnya. Barisan wajah familier anggota klub menyapanya.
“Ayo, deh. Mau lihat bagaimana hasilnya mereka?”
Bengkok ujung bibir Mona. “Tentu.”
Mereka berjalan mendampingi. Dengan sepasang mata memperhatikan.
◊◊◊◊◊
Sudah tiga jam semenjak matahari keluar dari ufuk barat. Pilihan berani Laura untuk menemui Aleksander tanpa ada pemberitahuan sebelumnya tak pernah muncul lebih terang.
Si tomboi rambut hitam itu punya asumsi pribadi kalau, setelah sering kali melihat Aleksander dari balik jendela kelas, saling sapa lebih dari lima waktu berbeda, dan pun berbincang santai di koridor fakultas kampus, haruslah ada pertemuan benar-benar yang baik dilaksanakan.
Laura kenal pria itu lebih dari siapa pun. Itu kenapa dia bisa tahu pria itu akan ada di klub menembak laksanakan kompetisi internal. Mona akan ada di sana, itu pula Laura tahu.
Tapi, Laura gadis besar. Dia bisa urus diri ketika berdiri dekat Mona.
Bukan ini, tapi. Bukan ketika wanita aneh rambut merah penyuka om-om itu berdiri terlalu dekat sama pria yang hatinya mau tenggelamkan pikiran dan tenaga sedalam mungkin.
Laura pandang kehangatan tumbuh dari dekatnya mereka, merasakan, dan insting pertama dari hati setelah itu adalah untuk meludah. Foto cetak si wanita merah di kamar akan jadi korban nanti.
Tangan meremas tembok bata lapis plester. Kalau badannya sekuat jock, butuh lebih jauh sebenarnya, pasti akan muncul retakan di sana.
Dia akan terus memperhatikan, meski buta akan seringai tipis Mona.
◊◊◊◊◊
Merah kembar sudah melihat Laura. Hanya mereka saja yang mampu.
Duanya merasa bukan secara langsung, tampak di pandang dan begitu biasa. Serupa akan bagaimana Mona bisa jilat emosi para pengawal di lantai koridor antara diri dan sasaran; niat membunuh mirip bocor dari Laura, kepala rasakan cuma dari melihat dansa angin samping dinding paling dekat―begitu, dibanding milik jiwa-jiwa mati pada lantai pecah bekas aksi pistol dan granat, Laura jelas jauh lemah.
Hela napas keluar dari dada yang panas tawa dalam.
Laura harus disingkirkan pakai rencana licik mulus akal, terlampau simpel kalau pakai senjata―tak ada kepuasan, peluru masih mahal untuk dibuang ke dalamnya, dan potensi keterlibatan polisi akan bikin keruh suasana.
“Sudah siap mulai?” Aleksander tarik senapannya dari belakang.
“Lebih dulu darimu.” Mona turunkan miliknya, moncongnya mau sentuh lantai.
Jarak dengan garis tembak hilang, masuk ke regu masing-masing. Masih pada tahap awal. Keduanya akan menghadapi anggota klub lain. Bagi mereka berdua ini akan mudah, tidak sebaliknya.
Tiga jam.
Kompetisi ini akan hidup sampai layar ponsel menayangkan angka dua belas dan dua nol. Bukan waktu panjang kalau semangat dinikmati.
Gonggongan lubang bor senapan laras panjang mengecat udara lapang sekali lagi pada pukul sembilan pagi setelah fase persiapan usai, saling sapa penuh hasrat, kira-kira setengah bawa motif makin rupawan dalam warna.
Kompetisi dimulai.
Potongan kertas maupun karton, ukuran tidak seragam dan bermacam bentuk, terbang ke arah acak kala peluru cepat hipersonik datang menembus badan papan sasaran. Di udara, kertas mengambang sedikit lama dari karton; sama-sama hancur, tapi, dan sama-sama robek.
Dansa asap singkat dari macam-macam jenis senapan jitu―sendiri Mona bawa senapan usianya jauh di atas generasi kakek-neneknya orang di sini.
Kekalahan anggota lain di hadapan Mona dan Aleksander bukan sebuah pertanyaan ‘apa’, melainkan ‘kapan’. Mona mencapai tembakan kepala lima kali dari enam percobaan, sempurna bila dibanding rekan seregu yang antara tiga sampai empat. Dia boleh sombong, sudah seharusnya; tapi Mona tetap rendah hati, selamatkan mereka yang kalah dari rasa malu.
“Itu sudah bagus, kok. Gak apa-apa, bisa lain kali, oke? Tinggal latihan lebih banyak,” ucapnya ke salah satu anggota klub perempuan.
“Mungkin scope-mu agak bermasalah?” katanya ke anggota klub lain, kali ini laki-laki.
Dua kalimat itu, dan banyak lagi yang sebelas-dua belas, keluar dari bibir manis Mona. Tulus, atau dikeluarkan cuma guna menjaga citra diri? Entahlah. Mona sendiri abai akan tujuan akhirnya. Dia mau mengalahkan Aleksander, paling besar di antaranya. Peduli setan mengalahkan ikan-ikan kecil.
Di regu lain, Aleksander secara mudah mendapatkan skor sempurna dan tembakan terbaik, enam kali coba dan enam kali menembak kepala imitasi karton dan kertas bayangan manusia.
Mona yang memperhatikan pasca kesuksesannya sendiri bertanya-tanya apa pria itu pernah membunuh manusia sungguhan?
Tidak, sepertinya.
Kompetisi terus berjalan. Setiap gonggong mesiu dibuat hentak gerendel pada bokong peluru makin menekan kesengitan, berulang dan berulang, buat harum hijau awal-awal hilang diganti bubuk hitam, mengisi lidah sebagaimana ia sudah mengisi hidung.
Keberadaan Laura berkembang, berubah, jadi cerca kekosongan hitam di belakang memori; suara ledakan terukur senapan merubah fokus dari hal mengganggu ke sesuatu yang lebih mengasikan.
Sampai waktu dilupakan sejenak, dan teringat kala final akhirnya muncul.
Mona. Aleksander.
Semua orang klub menembak sudah menebak ini. Tidak menghentikan mereka dari menonton penuh ketertarikan seraya kedua orang mengambil posisi masing-masing.
Badan Aleksander berbaring pada dada di atas tanah. Senapan jitunya memanjang, ikut berbaring; badan modern, warna hitam, berat untuk dibawa biasa, dan kaliber besar, berpangku pada palang besi berbentuk huruf ke dua puluh dua yang terbalik.
Mona pilih posisi berbeda. Jauh beda.
Tubuhnya duduk tegap, bokong empuk menekan pada tanah hijau yang senang menerima; satu kaki menekuk sedikit masuk dekat lingkar dada dan tangan lawan sisi ditarik sampai siku bertemu lutut, senapannya tidur di atas datarnya lengan. Mona lihat melalui scope-nya, menemukan muka putih polos menyapa.
Senapan telah terisi peluru. Mona lima, pula Aleksander.
“Siap!” seorang anggota berteriak. “Mulai!”
Gonggongan keras tembakan pertama dua senapan muncul di saat yang sama, lahirkan gema bikin sakit telinga kalau asing dari olahraga ini, dipotong singkat hantaman gerendel setelah ditarik mundur sebelumnya. Peluru kedua telah masuk, panas dan siap.
Sekarang bisa dimulai tanpa tunggu aba-aba. Mereka bebas mengambil kesempatan menembak; siapa cepat, itu lebih baik.
Gelegar tembakan kedua muncul segera, saling sapa di luar ekspektasi, sedikit beda dalam jeda. Mona duluan, Aleksander baru menyusul. Siul peluru belah angin, isi gendang telinga sekejap saja. Gerendel senapan ditariknya, lempar keluar bungkus kuning kosong diselimuti asap putih, ruang belakang moncong dimasuki peluru, pantang meninggalkannya lama kosong.
Mona melipat jemari pada stok dan pelatuk, cepat dan ketat, yang dijaga erat. Telinganya belum mendengar letupan lain dari samping, pilih fokus pada diri sendiri. Pekat abu-putih muncul, berputar kala peluru terbang kemudian, keluar dari tabung senapan. Ini tembakan ketiga. Tangan sudah memberikan kokang masuk peluru selanjutnya―barulah dia mendengar letusan lain dari mana Aleksander berada.
Sendirian aluran keringat yang basuh pipi, antara dari pelipis atau kening, tidak mau Mona tanya sumbernya. Kemarahan matahari siang hari membawa kemungkinan alasan dan sebab. Letus cahaya sinari mata sekilas sesudah pelatuk ditarik, terlampau lekas untuk bisa punya arti lebih dari tanda peluru sudah dimuntahkan. Mona dalam hitungan keempat, miliknya sedikit unggul dari Aleksander.
Fokus.
Timah panas muntah untuk yang kelima kali sesegera ledak cahayanya menyapa dari pucuk moncong, lurus sesuai busur sasaran scope. Sambutan Mona merupakan kekosongan ruang peluru saat gerendel ditarik. Dia mundur, lurus ke belakang, gapai satu bilah amunisi susun lima peluru―Aleksander menembak miliknya yang keempat―kemudian hantam masuk dalam ruang selongsong, isi ulang.
Aleksander sudah menembak peluru kelima, isi ulang cepat-cepat.
Tembakan nomor urut enam, paling akhir, Mona telah meletus setengah detik sebelum Aleksander bisa mengunci gerendel senapan. Bokong senjata antik duduk pada tanah, sandaran bagi badan yang telah lepas pose kaku, kala giliran keenam sang pria akhirnya muntahkan peluru.
Semua adu tembak ini memakan waktu di bawah dua puluh detik.
“Selesai, berakhir!” teriak anggota klub yang sama, selesaikan kompetisi tembak-menembak.
Teriak dan tepuk tangan berubah cepat menuju ketumpulan pada telinga Mona. Ini belum berakhir, dan waktu dia rasakan di sini, cuma akan menjadi selimut untuk sesuatu yang pedas serta jauh asiknya.
◊◊◊◊◊
Hilang sudah segala macam tanda dan gestur hidup dari badan Laura, bohongi keadaan berlawanan beberapa jam lalu, di mana semangat mengalir lalui semua sistem darah setelah sosok Aleksander jatuh ke pandangan untuk dikunyah sampai kenyang. Dia bersandar pada kursi panjang, menatap langit penuh bintang masih bebas tidak dipenjara polusi udara, dengan mata sama matinya.
Bangunan Perpustakaan dan Pusat Sumber Daya Akademik berdiri tidak jauh darinya, tengah memberi semangat hampa sensasi, tatap Laura pakai puluhan jendela sudah ditutup tirai. Di atasnya, bentuk-bentuk daun berdansa terhadap gelap, ciptakan suara aneh bila tidak menyeramkan dalam situasi yang seharusnya menenangkan.
Tiada benda atau kegiatan yang bisa memperbaiki sakit hati, lebih-lebih setelah mata memaparkan tontonannya tadi. Di atas rerumputan hijau, satu orang wanita dan satu orang pria, dibasuh hangat matahari, tembak sasaran masing-masing penuh kekompakkan seakan musik lah yang tengah mereka ciptakan.
Betapa romantis. Dan betapa sedih untuknya cuma... menonton.
Laura tidak menunjukkannya. Matanya, meski tampak mati, sekeras batu menatap depan, sudut tajam membentuk, tunjukkan betapa dalam perasaan tidak suka dirinya miliki ke sisi lain pandangan.
“Apa sih mau lo ngajak gua ke sini? Gua masih ada urusan penting buat diurusin daripada ketemuan gini.”
Mona belum mendekat dari lingkar pandangan Laura semenjak kepala mendongak persilahkan si gadis tomboi untuk menaruh bokong di atas kursi panjang. Tangan ada di bawah buah dada, bentuk silang tajam, ketika senyuman tajam tulus, serahasia mungkin merendahkan, muncul.
“Lu sadar, kan, kalau gua ngelihat lu tadi?”
Kalimat keluar dari mulut Mona merantai badan Laura. Jantungnya bisa saja copot keluar kalau tidak ada tulang dan daging ada di antaranya dengan kebebasan luar.
“Maksud lo apa?” suara dia murni dan suci, tapi Mona rasakan perasaan bersalah keluar dari tiga kata-katanya.
“Si Aleksander. Lu suka dia, kan? Apa jadinya ya kalau perempuan yang bahkan dia gak tahu nama lengkapnya sering stalking kayak gitu?”
Dusta warnai mata perlahan melebar Laura. “Gimana lo bisa tahu?”
Mona ambil duduk di sampingnya. Terikat terlalu banyak perasaan, Laura temukan badannya menolak pendekatan Mona tapi sulit melakukan apapun demi menampilkannya, bahkan sesederhana bergeser ke ujung berlawanan kursi panjang.
Dingin bunga-bunga es hidup pada permukaan angin, sudutkan tajamnya ke leher dua wanita, seakan-akan satu salah kata mengartikan matinya napas dan keluarnya darah merah dari kerongkongan sampai habis.
“Gua punya telinga,” jawab Mona dengan nada menghempas dinginnya malam. “Dan gua juga punya mata.”
Kosong.
Tiada satu kata muncul pada permukaan pikiran Laura, bohong terasa beku pada tenggorokan, bahkan. Mona menjilatinya bagai susuk manis tanpa penutup, tiap rasanya terbuka bebas. Dia menelan ludah. Mungkin berbohong buang waktu dan kesempatan? Kalau jawaban dari pertanyaan itu bisa mendorong Mona pergi dari sisi Aleksander, maka dia akan ambil.
“Ya, gua suka dia,” jawabannya setelah mengumpulkan semua bentuk keyakinan diri, keluar tidak mengecewakan. “Apa urusannya sama lo? Suka juga sama dia, huh?”
“Nggak.” Gelengan Mona memberi dua macam perasaan di hati Laura; lega, pertama; kemudian pertanyaan di kedua.
“Terus lu ngapain narik gua ke sini, emang?” suara Laura menekan.
Mata Mona, sejak tadi memandang jauh ke taman yang dibasuh cahaya hidup-mati lampu, berganti pemandangan seraya kepala membawanya untuk tatap Laura. Hangat ada pada wajah dia cuma senyuman tipis merah sewarna rambut panjangnya.
Malam punya pengaruh besar akan kontras.
“Ini adalah tebusan akan semua kesalahan yang pernah gua lakukan ke lu,” ucapan Mona lembut dan pelan, hilangkan ekspresi macam-macam dari si lawan bicara. “Gua mau lu ketemu sama dia.”
◊◊◊◊◊
Tumbuh dalam perut, sebuah perasaan yang tak pernah dirinya anggap bisa ada, di mana ia seharusnya mati kepada perempuan sepadan, terutama untuk sosok Mona. Ini sensasi aneh ketika mereka pertama muncul di muka hati, diarungi hujan racun manifestasi penolakan paling tinggi bisa keluar dari kepala, ditutupi sedemikian rupa.
Sekarang sudah menerimanya. Mungkin, karena waktu, semua hal bisa... berubah benar-benar, termasuk perasaan akan seseorang.
Laura tinggal selama dua minggu bersama perempuan yang dia klaim sangat-sangat benci. Tapi di sini, Laura berbincang bebas sama nama yang dihabiskan ratusan hari cuma untuk kotori, taburkan benih-benih rumor buruk selayak petani di musim panas akan tanah perawan nan lapar.
Kadang dia merasa tidak enak. Kadang.
Gosip masih keluar dari antara bibir Laura, semakin tinggi sejak dirinya hidup di bawah langit-langit sama dengan subjeknya. Sebenarnya tidak ada gosip baru, semua sama seperti yang sudah-sudah, diubah sedikit agar tetap ada pedasnya.
Mata melihat apa yang ada di sini, dan mulut mengibarkan bagai bendera merah neon di gelap malam; koleksi senjata terlalu banyak bagi mahasiswi klub menembak, dan―dari apa yang dilihat―kejarangan menceritakan orang tuanya. Biasanya, ketika anak orang yang cukup kaya untuk memiliki supir pribadi dan pelayan keluarga datang untuk koordinasi, mereka akan selalu memuntahkan satu atau dua cerita tentang orang tua; berapa banyak rumah mereka miliki, bagaimana kemewahan rumah dan mobilnya, apa saja mainan dimiliki dalam rumah bagai kastil.
Mona tidak melakukan itu. Dia tidak pernah cerita, dan Laura tak pernah mau bertanya―apakah ini hasil perlahan naik rasa kagumnya akan Mona?
Gosip yang diceritakan Laura kebanyakan mendarat pada mahasiswa yang sudah dekat dengannya, dan banyak dari mereka memberi pertanyaan kalau dikeluarkan pria asing, pasti akan membuat kulit gemetar.
Celana dalam Mona warnanya apa?
Oh, bra-nya pasti besar banget itu! Ukuran E-cup!
Laura tidak yakin harus merespons bagaimana, tapi dia tersenyum setiap kali mereka bertanya hal-hal dalam begitu, jadi satu-satunya gerbang tempat mereka masuk dan tahu soal Mona. Dia tidak menjawab, namun. Tidak bagus membuat rumor baru ketika subjek pembicaraan hidup di bawah genting yang sama. Laura masih punya otak.
Dua minggu telah lari lekas meski dilonggarkan sedemikian rupa sudah. Hari pertama, masuk minggu kedua, pistol lengkap atas corak kaligrafi bahasa kuno mustahil ada orang pakai sehari-hari di benua mereka sekarang hidupi, tiada bisa mengartikan, Mona berikan. Diberikan ia dalam pertemanan senyum manis, mengubah suara Laura biasa gunakan untuk mengejek Mona di belakang punggung menuju kehalusan setengah haru.
Laura tidak sadar kalau pada hari jadi pertemuannya dengan Aleksander, perubahan besar dalam hidup akan muncul, di luar batas imajinasinya.
◊◊◊◊◊
Hari yang Mona janjikan tiba sudah.
Aula Utama Kampus penuh dekorasi dan pula orang-orang ragam jasa dan status. Apa yang sedang dirayakan dalam tempat ini sangatlah penting, semua bisa ditemukan menghidupi suasana; pengunjung dari para kalangan mahasiswa biasa, petugas anggota penyelenggara, sampai penjabat kampus berbagai fakultas.
Sirkus kepada yang di atas, guna tunjukkan angan-angan mengangkat martabat sudah tinggi Universitas Tinderwood. Nama Aleksander menempel pada daftar pemainnya.
Kemenangan Aleksander dalam kompetisi internal klub memberikannya tiket emas masuk barisan orang-orang punya tujuan memberi harum kepada nama kampus. Dia akan disoraki senang hati, bersama pemenang kompetisi internal klub-klub lain di seluruh kampus; tinju, renang, sepeda, dan lain-lain.
Ramai. Sibuk.
Tempat ini menyelimuti gerak lekas dua wanita, rambut merah dan satu hitam, antara jajaran kursi dan orang-orang yang berbolak-balik dari berjalan atau mendudukkan diri.
Tujuan mereka bukan salah satu dari ratusan kursi tanpa tuan, bukanlah pula salah satu orang yang siap menonton perayaan di sini. Apa yang mereka capai ada di bagian belakang aula, di mana
Apa yang mereka cari ada di bagian belakang aula, mana lima ruangan khusus bagi pemenang kompetisi internal klub berada, dan cuma satu yang mereka mau kunjungi. Suasana ramai pergi, diubah jadi sepi; pengunjung dan petugas, suara mereka diredam tembok bata plester putih sedikit kasar pada permukaannya.
“Hai!” sapaan dari Mona buat dua orang depan pintu yang atasnya tertulis PEMENANG KOMPETISI MENEMBAK di papan kayu cantik. “Aleksandernya ada?”
“Dan anda?” tanya salah satu.
Universitas Tinderwood dari dulu selalu menawarkan jasa pengawalan kepada mahasiswa dan mahasiswi berbakat saat akan pergi keluar kota; lima perorang. Tampaknya, Aleksander menerima tawaran unik kampus.
“Nama saya Mona, teman satu klub Aleksander.”
Salah seorang pengawal masuk ke dalam ruangan, sebentar, kemudian keluar dan mempersilahkan Mona dan Laura masuk. Di sana, tiga pengawal lain duduk pada sofanya masing-masing, mengepung Aleksander yang duduk santai pada sofa paling besar.
Aleksander menoleh dari kertas pidato di tangan. “Eh, ada Mona,” ditaruh kertas pada meja. “Kenapa, nih? Mau ngasih selamat?”
“Itu,” setuju Mona. “Dan, aku mau ngenalin seseorang.”
Ibu jarinya menunjuk ke sisi kiri, pada sosok Laura yang sudah memberi lambaian kecil malu-malu.
“Hai! Nama gua Laura!”
Lepas Aleksander dari sofa, menawarkan tangan kepadanya. “Kamu bisa panggil aku Aleks!”
Mereka berbincang bebas seakan-akan Mona hilang. Ini memberikan dia kesempatan untuk melihat sekeliling, pada bagian ‘tidak penting’ ruangan ini; ke tembok, pada puluhan furnitur bermanfaat baginya di ruangan ini, seperti meja, kursi, sampai karpetnya. Mata ganti sasaran, berganti tatap pengawal satu-persatu; tiga orang sibuk dengan kesantaian masing-masing, dua main ponsel dan satu melihat novel tidak jelas judulnya. Tempat ini cukup besar untuk diisi sepuluh orang―jauh lebih kecil dari kamar Mona.
Tatapan sekilas menyapu Aleksander dan Laura. Gadis itu mengeluarkan kotak hadiah yang Mona berikan sebelum datang ke sini. Dia tersenyum. Ini saat yang tepat.
Mona hempaskan jaket kulit, buka tepat di celah tengah, perlihatkan tiga deretan ketat pisau dan pedang pendek, seperti tawon siap menyengat orang sekelilingnya pakai jarum tajam tanpa efek samping mati bak lebah madu.
Belum siapa pun di ruangan bisa bereaksi, dua pisau sudah menembus daging dengkul salah seorang pengawal yang sibuk menonton sesuatu pada ponselnya. Benda elektronik itu jatuh, retak, pecah, menarik perhatian semua, dan bukan karena teriakan belum muncul―leher sudah dipotong, tinggalkan daging terbuka memuncratkan darah seperti pipis di karpet.
Mona sudah ada di udara―lagi, mereka lambat―lompat berpijak sofa ada aksesoris mayat. Mata pedang pendek akar dua tangan, siap tusuk.
Kakinya, lengkap sepatu hak tinggi tebal, menghancurkan paru-paru pengawal selanjutnya, suara tulang pecah terdengar jelas, dan udara basah keluar dari mulutnya. Dia jatuh sebagaimana yang sebelumnya seraya tangan ciptakan mahakarya jurang sepanjang leher.
Pengawal yang memiliki waktu cukup untuk benar-benar bereaksi adalah nomor tiga. Dia memandang apa yang dibawanya, tongkat besi―dia bawa itu ke pertarungan pisau. Dia tidak mundur, tarik napas sedalam mungkin, kemudian menerjang si Mona sebagai pilihan akhir. Kertas terbang ke mana-mana setelah melompat, berpijak pada meja tempat duduknya tadi.
Mona suka tantangan.
Besar badan pengawal itu, lapis otot-otot, hampir membuatnya setinggi langit-langit ruang, pastinya jauh lebih tinggi dari Mona. Senyuman selalu ada di mukanya, terlebih ketika berhasil menghindari sabetan tongkat besi yang bisa melukai paha.
Tangan Mona menebas angin, lesatkan puluhan pisau kecil keluar, dan tak beruntungnya―atau beruntung, dari pandangan si pengawal―salah satu pisau yang harus menembus leher sedikit ke pinggir, menubruk tembok dalam suara keras; kesempatan bagi si pengawal untuk teriak minta pertolongan ke pengawal di luar.
Terbukalah pintu ruangan, muntahkan dua pengawal luar masuk, hanya tuk dihantam dua pisau pada sudut-sudut atasnya, menutup ia balik ke rangka kayu persegi panjang.
Lima detik sudah berlalu. Laura dan Aleksander diam bisu, mulut kosong kata-kata bisa keluar ke udara sudah diwarnai bau tengik besi dan daging.
Mona sudah berdiri di atas mayat pengawal nomor tiga saat dua lainnya masuk. Hampir putus kepala si pria berotot saking dalamnya potongan Mona. Dia beri seringai pada mereka, hilang secepat ia datang.
“Semua otot itu sama sekali tidak berguna,” ejeknya.
Dia terkam mereka, dua pedang pendek di tangan.
Keberlangsungan pertarungan Mona dengan dua pengawal tidaklah lama. Setelah melompat dari bangkai mayat, Mona mendarat pada satu di kiri pakai kedua kaki, mencuri napas saat hantam pundak, paksa pria itu bertekuk lutut. Lekas berputar, memotong sepuluh jari milik satu di kanan yang coba ikut-ikut menangkap pada waktu yang sama.
Tongkat besi menghantam mundur Mona, tepat kena di tulang rusuk. Ia tidak merusak tulang manapun, kurang kuat, dan meskipun rasa sakitnya bisa ditahan, ia sukses keluarkan erangan sakit dari bibir Mona.
Kaget masih merantai Laura. Di telapak tangan, kotak hadiah yang Mona kasih tahu sebelum masuk aula untuk diberikan ke Aleksander bergetar, pula sebagaimana badannya. Dia mau teriak saat lidah sudah beku bicara apa-apa. Belum ada suara keluar, tubuh sudah jatuh hilang kesadaran setelah Mona lihat aksi itu dan hantam lehernya.
Ganggu banget, anjing.
Pandangan Mona belok dari Laura, menuju Aleksander. Lebarnya pojok empuk sofa menahannya dari pergi maupun lari. Mona kasih satu kedip manis, sebelum lompat serbu dua pengawal sisa.
◊◊◊◊◊
Setengah dalam ruangan ini sudah mati. Tak ada orang bernapas kecuali tiga, dan satu antara itu tergeletak dengan kesadaran sudah lepas. Siapa pun yang menonton, tidak ada sebab betapa kedap suaranya ruangannya, akan melihat Mona berdiri di hadapan Aleksander dengan pistol ringan di tangan lapis sarung; itulah isi kotak hadiah harus Laura berikan pada sang laki-laki.
Sejak awal memang bukan rencana untuk Laura bisa memberikan kotak hadiah, sekarang mekar terbuka dekat kaki.
“Any last word?”
Pertanyaan Mona datang setelah wanita itu menarik napas dalam-dalam dan menutup mata, nikmati harum darah seakan dia itu seorang penjabat gila harta bertemu tumpukan emas. Namun, jawaban Aleksander membuatnya sedikit mengangkat alis.
“Lima menit. Terlalu sebentar untuk kita berdua, Anak Angkat Lucifer.”
Takut habis dari muka. Khawatir, ia sudah pergi seperti domba-domba gembala kala serigala sahut bulan. Desir bayangan burung gagak tumbuh dari bawah telapak kaki Aleksander, meraksasa diri selimuti semua sisi dan sudut ruang; hilang sudah keakraban spasial Mona bangun, digantikan oleh hitam kelam masal. Layaknya dikepung malam.
Pandangan Mona ke mana-mana, ditarik menuju satu titik fokus cahaya oleh jentikan jari. Aleksander memanggil, tapi bukanlah si Aleksander.
“Inilah Aku, Raum. Adipati Neraka, pemimpin tiga puluh legiun kaum iblis dan kaum terhina. Kau mengenalku sebagai Aleksander.”
“Ruangan ini... ini kekuatanmu?” tanya Mona tanpa ada perubahan tanda nada seakan-akan tetap sedang berbicara sama teman satu klub.
“Benar. Ruangan ini merupakan domain-ku. Di sini, waktu tidak berjalan; ruang tidak berputar. Planet. Bintang. Galaksi. Mereka semua berhenti untuk menunduk hormat pada eksistensiku, pada kuasaku.”
“Mereka pasti menghormatiku teramat sangat,” balas Mona.
Tembok sudah bukan lagi putih, melainkan hitam legam layaknya langit malam bila bintang direnggut Tuhan; permukaannya pula lembut, bulu-bulu burung ditempa satu pakai jahitan sehalus sutra para penjahit fana mustahil bisa tiru. Dibandingkan ruangan sebelumnya, tempat ini minim―tidak, bukan minim, tapi benar-benar kosong dari furnitur penting selain tahta yang Raum duduki.
Napas kesal menendang keluar dari Mona, jemari kanannya menyentuh jembatan antara alis. Misi ini akan gagal. Bukan. Tidak diakibatkan pesimisme tiba-tiba dirinya akan kalah bertarung, melainkan lahir akibat kata-kata dari si iblis selanjutnya.
“Aku mohon padamu, Adipati Neraka ini, memohon kepadamu―Oh, Mona, untuk jangan membunuhku. Masih banyak hal aku harus selesaikan di sini; tugas, peran, dan fungsiku, semua hal ini penting. Untuk mati, artinya aku kembali ke neraka. Untuk mati, artinya aku bertemu Ayahmu. Aku tidak mau melakukan itu―masih belum.”
Harus Raum lepas kalau Mona setuju. Misinya akan gagal total.
“Tahu betapa sulitnya merancang semua ini?”
Sang Adipati Neraka kenal pertanyaan retoris ketika mendengarnya, dan kesunyian menjadi jawaban darinya. Dirinya dengar bagaimana suara Mona mulai naik, meninggi.
“Wanita ini...” Mona mau tendang badan Laura. Tapi, sadar kalau mereka ada di dimensi lain, mengganti kata-kata. “Aku harus melatihnya, tahu? Tolol. Dia itu sangat, sangat tolol. Tidak bisa diam mulutnya, selalu menyebarkan rumor soal rumahku, dan kalau dia selamat dari ini, aku jamin rumahku kalau dia akan tambahin banyak rumor bodoh.” Kirinya naik garuk kepala bagian belakang. “Harusnya rencana ini sempurna; kamu mati, aku pingsan, dan dia bangun dengan pistol ini di tangan.”
“Sempurna!” Mona menutup erat mata.
Tertancap lah pisau pada pundak Raum―Aleksander. Matanya bertemu milik Mona yang berkedut-kedut tanpa irama. “Aku harus menolak tawaranmu, Aleksander. Kamu harus mati.”
Raum bergestur penuh pengertian di semua angguknya, tanpa rasa sakit muncul pada kanvas ekspresi mulus tampan, ketika darah muncrat ke mana takdir mau secara terus-menerus; terkaman gigi tajam dan besar pedang buta henti, terus tusuk, terus sayat. Raum sunyi, diam, kosong dari teriak meminta ampun biasa korban-korban Mona hantarkan. Tumpahan darah, menempel mau di mana saja, masuk kembali ke dalam luka dan sendirinya menutup.
Telapak kaki terhubung dari pundak sofa sampai tanah tanpa ada lantai, selangkangan lapis rok pendek ditengah-tengah. Panjang menutup Raum dari kesempatan begitu saja―tangan siap jatuh tusuk lubang mata.
“Aku berikan penawaran padamu,” ucap Raum.
Mona pandang si iblis. “Bicara,” ucapnya sembari memijat dahan pisau.
“Biarkan aku hidup,” jawab Raum. “Aku akan bantu kamu menyalahkan orang itu, Laura. Bukan sang Anak Angkat Lucifer; oh, tidak, pelakunya ialah manusia ini!”
“Yakin?”
“Aku tidak akan bohong, Mona.”
Mata pisau, menatap bundaran Raum, perlahan menjauh.
“Kurang. Kurang! Berikan aku lebih banyak, Aleksander―uang, koneksi klien-klien besar, dan barang-barang cuma makhluk sepertimu bisa memiliki hak untuk mendapatkannya. Semua itu, dan kalau setuju, senjataku tak akan pernah menyentuh badanmu. Mudah, bukan?”
Anggukan, jawabannya. Benar, semua itu mudah untuk Raum.
“Selain itu,” Mona remas dahan pisau, siap menyerang kalau suara tidak didengarkan. “Aku ingin loyalitasmu.”
Jelas sudah apa maksud dari perkataan Mona. Ketika dia membutuhkan Raum, maka haruslah muncul sang Adipati Neraka; apapun alasannya, tidak peduli kapan, peduli kecil di mana.
“Oh, Lordess of Greed,” jawab Raum setelah memutar bola mata.
Goda dentingan suara logam dorong kepala ke samping, pada tanahnya bukan lantai, tempat jatuh geletak lencana bentuk tengkorak gagak seukuran flashdisk. Warna hitam dan putih, punya kontur aneh kala diambil, campuran antara kain dan perak. Tawa kecil Mona, ini merupakan bukti hutang sang iblis dengannya.
“Sekarang bersiaplah,” Raum berdiri dari sofa setelah Mona memberikan kesempatan untuk berdiri. “Kita akan mulai prosesnya.”
“Aku siap.”
Punggung tangan Raum hantam Mona.
Semua kembali gelap dan gelap menjadi semua.
◊◊◊◊◊
“―kembali lagi bersama kami di Midmorning News.”
Suara halaman buku dibuka temani suara televisi di ruang tengah Rumah Dosa. “Pada siang hari ini, Pengadilan Hukum Kota menyatakan saudari Laura Tangerin Rarben―dikenal juga akan sebutan ‘Pembunuh Lima’, bersalah dalam kasus sadis serta kontroversial, di mana dia berhasil membunuh lima orang dan melukai dua lainnya saat perayaan yang seharusnya menjadi suka cita Universitas Tinderwood. Dalam dua pekannya proses hukum, pengadilan memberi hukuman penjara dua puluh tahun pada terdakwa―putusan terlalu rendah di mata Jaksa Penuntut Umum, yang menuntut penjara seumur hidup tanpa adanya kesempatan pembebasan bersyarat. Di lain hal, pihak Universitas Tinderwood dengan tegas menolak untuk membantu menutupi tindak kejahatan yang dilakukan saudari Laura, memperkuat posisi mereka sebagai universitas unggul dan bersih, dan dengan itu mengesahkan pengeluaran saudari Laura dari keaktifan sebagai mahasiswi...”
Gore masih mengunyah makanan favoritnya, sembari baca buku, di saat Levi menaruh badan di samping―di atas sofa empuk cukup untuk tiga atau empat orang. Tangan halus gadis itu mulai menggerogoti jajanan masam di pangkuan Gore, acuh-tak-acuh akan batuk kasar Gore.
“―sangat disayangkan,” suara di televisi berlanjut. “Kalau apa yang terjadi dua minggu lalu merupakan hasil sifat idolisme akut, mematikan bukan saja bagi diri sendiri tetapi pula orang-orang sekitar kita, sehingga sangat penting bagi kita agar lepas dari jerat bualan-bualan imajinasi.”
“Denger, tuh. Gak bagus kebanyakan punya idola di kamar, apalagi kunci diri sendirian.” Gore menunjuk-nunjuk Levi pakai jajanannya yang berbentuk sedikit bundar.
“Males, ah. Masih enak, kok. Hehe.” kekeh Levi, sandarkan punggung ke ujung sofa. “Oh, ya, ngomong-ngomong, kalau pengadilan ini sudah selesai, berarti nggak bakalan ada fotografer gratis, dong?”
“Fotografer gratis?” tanya Gore tanpa ada ketertarikan khusus.
“Papparazi!”
“Ugh,” balas gerutu Gore. “Ya, bagus, deh. Gua gak mesti bikin mereka hilang satu-satu pake racun, mending hilang sendirinya aja. Hidup kayak dimata-matai banget, susah mau bikin jebakan di lapangan kalau ada orang bisa potret gua tiba-tiba.”
Levi tunjuk merah yang datang dominasi layar televisi. “Eh, lihat!”
“Apa yang terjadi sangat disayangkan. Semua pihak, saya harap, akan mendapat ketenangan,” ucap Mona pada banyak mikrofon saluran televisi.
“Setelah kasus ini, apa yang akan anda lakukan?” tanya salah seorang wartawan pria.
“Ada banyak hal sedang bergemuruh di kepala saya, akan apa yang saya mungkin lakukan nanti―yang pertama, mendukung teman saya, Aleksander, untuk pulih; yang kedua, kembali ke keluarga saya.”
Puluhan kamera menyala beberapa kali. Gore bisa bayangkan sakitnya mata kalau Mona tidak pakai kacamata. Satu unsur paling dia perhatikan di wawancara sang kakak bukanlah pertanyaan atau jawaban yang muncul, tapi lencana kini menusuk kerah bajunya.
Apa itu selalu ada di sana?
“Lantas, bagaimana sikap keluarga anda selama kasus ini?” tambah satu jurnalis dengan mikrofon didekatkan pada bibir Mona.
“Itu tidak perlu ditanyakan lagi,” Mona menatap kamera yang menyiarkan wawancara ini pada Levi dan Gore. “Mereka selalu mendukung.”
Senyum tumbuh pada kedua adiknya.
Commission Story Written by Gavin As on Facebook



Comments