Narasi Buah Hati tentang Ayah
- Zira Kay
- Jun 11, 2025
- 3 min read

‘Ayah’ dan Anak Laki-lakinya
Tuan tiada pernah melepas rasa—atau menaruh rasa. Tugasnya di dalam keluarga sementara hanyalah menjadi bungkam dan mengawasi; menjaga seluruh tuan dan nona yang dibalut dengan kata ‘keluarga’.
Sekali, maniknya menangkap selira sang bungsu yang hendak meraih tujunya. Kala itu, sedikit ia merasa manik mereka sempat bersua. Buat angannya yang meniru suara para penjilat seketika jadi bungkam dan beri fokus.
Di sisi lain, yang disebut bungsu menghindar tatap dengan cepat. Pikirnya, rasa hormat sudah lebih dari cukup teruntuk mengisi hubungan janggal di antara mereka. Namun, yang berperan sebagai ayah tiba-tiba muncul di hadapannya—dengan paras sulit dibaca. Terkanya sang ayah hanya akan mengawasi dari jauh, tapi kali ini ia dihampiri.
“Kenapa?” Dingin sudah biasa menjadi jawab untuk tuan yang sekadar menghadirkan eksistensinya. Tiada sekalipun ia beri kesempatan kepada amarahnya untuk menegur sang bungsu, justru ia malah tersenyum tipis.
“Kau mau ke mana dengan barang itu? Mencari sesuatu?”
“... Huh?”
Tiada perlu bertanya lebih jauh, sang ayah langsung membantunya membawa barang yang diperlukan untuk sesuatu. “Kemarilah. Kuajarkan sesuatu kepadamu hari ini.”
Hari itu—ia melepas rasanya. Tak sekadar mengawasi, ia habiskan waktunya bersama sang bungsu.

Perihal Tulus
Elok maniknya tiada pernah meragu perihal kasih di antara mereka, sebuah keluarga. Sebagai dara, menurutnya kasih bisa dibelah menjadi beberapa banyak makna lagi—yang mungkin salah satunya mengandung kata hormat.
Tiap hari nona meghabiskan waktu untuk beri ‘main’ dan mengambil untung. Lalu, kalau memang begitu dibutuhkan untuk meraih hati sang publik, kadang sandiwara akan dilakukan biar semua jadi diuntungkan. Rasanya terdengar manis di telinga sang pendengar kala lidahnya berujar perihal “Ayah” dan “Ibu”. Namun—tiada ia bisa mengelak—kalau sebenarnya kalbu hanya mendengar satu yang terasa manis.
Kata “Ibu” Manis sekali terdengar di kalbunya, sedangkan kala ia berucap kata “Ayah”, seketika kalbu bisa bungkam tiada merasa apa-apa. Lalu, hari ini, seharian ia berada di luar bersama sang ‘ayah’ sebab suatu hal; buat ia perlu menjalankan sandiwara dengan mengatur kata.
“Apa ada barang yang ingin kau beli? Biar sekalian,” ujar sang ayah. Levi, yang dilabeli anak tengah, tampak meragu sebentar sebelum menggeleng pelan.
“Nggak perlu ... Yah.”
‘Ayah’. Hari ini banyak sekali ia mengucapkan kata itu. Mungkin, suatu saat nanti, tulus yang ia rajut hanya untuk ibunda juga menjadi milik sang ayah.

Andal sang Ayah dan Hormat sang Putri
Sering dunia jadi dicap berdusta sebab angin membawa berita yang belum sempat diusap bersih. Kabarnya, nama nona pernah tersebut dan mengudara hingga ke seluruh jagat raya perihal satu hal: bahwa dirinya tiada pernah melihat dunia sebab hidupnya adalah dunianya.
Namun, menurutnya berita itu bukan seluruhnya dusta. Tiada ia bisa mengelak kalau tuan yang dilabeli sebagai ayahnya merupakan sosok yang mengandalkan ia. Walau segala hormat selalu ia junjung terhadap tuan dan nyonya yang menjadi ‘sang penyelamat’ dalam ‘cerita anak’, tapi berani ia tetap berkata kalau itu merupakan harga yang harus dibayar agar bisa menjadi dirinya sendiri.
Ia dapat diandalkan sebagai sulung; sebagai pembunuh; dan sebagai dirinya sendiri. Tiada ia merasa direpotkan oleh sang ayah—sebaliknya, juta bahagia menyelimuti sanubari yang telah lama ditutup lara. Sebab dengan begitu, tanpa ragu ia bisa beri unjuk perihal siapa dia kepada semesta.
“Aku mengandalkanmu, Mona.” Sang ayah pernah berkata begitu; laksana benar menaruh harap kepada sulung yang menjadi pilar dalam sebuah keluarga. Lalu, ia mengukir senyum khasnya; seakan selalu siap menghadiri gelap nya dunia.
Andal dan hormat. Begitulah mereka.
Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X


Comments