top of page

2 Nerve Chord

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 1, 2020
  • 2 min read

Updated: Nov 28, 2024

Sejak pindahnya kami ke dome, hidupku lebih bahagia. Setiap pagi aku bangun oleh sapaan Tim, tanpa mendengar suara keluhan atau dengungan mesin. Rutinitas pagi kami dimulai dengan bersamaan menghirup gas yang mereka sebut VX, gas yang hanya berefek baik untuk kami.


Selanjutnya adalah makan, makanan akan datang melalui sebuah belt. Kami tidak memiliki bagian yang mereka sebut gigi, well... ada, tapi ukuran kecil dan lokasinya tidak membantu kami makan dengan baik, jadi makanan yang datang hanya berupa cairan. Makanan akan datang tiga kali sehari, pagi, siang dan sore.


Kemudian saling membersihkan diri, membasuh satu sama lain dengan kain dan cairan khusus, untuk kemudian dibilas dengan air.


Setelah itu, kami bebas melakukan apapun. Tim senang menonton pertunjukan opera yang ada di TV, bukan, lebih tepatnya, hanya pertunjukan opera saja yang terus dimainkan di TV. Kadang dia “membaca” buku penuh gambar yang tersedia di salah satu rak. Aku tidak yakin apakah dapat disebut membaca karena aku mendengar Dokter berkata kami tidak bisa membaca. Bukan kami tak berusaha, namun terlalu banyak huruf dan kombinasi kata yang harus kami pelajari, untuk apa semua itu kalau kami bisa melihat, bicara dan mendengar.


Sedangkan aku lebih senang bermain dengan alat musik, atau mendengarkan radio. Alunan nada kadang menggiring kami menggerakkan tubuh. Tidak jarang Dokter melihat kami dari atas dome, menertawakan tarian kami yang mereka sebut aneh. Apa peduliku, Tim ada di depanku dan kami hidup dengan bahagia, bukankah itu yang terpenting?


Ada saat dimana aku merasa panas karena mendengar ejekan mereka, tapi Tim mengingatkan bahwa mereka datang dan pergi sedangkan kami selalu ada untuk satu sama lain. Baik di dalam hati maupun perilakunya, Tim yang terbaik.


Hari-hari kami di dalam lab adalah yang paling menyakitkan, mereka memberi kami banyak suntikan. Mereka paling suka menyuntik bagian di antara tulang kami, katanya karena tulang dan persendian kami terlalu rapuh. Mana mereka peduli dengan rasa sakitnya.


Tidak jarang bagian dari tubuh kami dikupas untuk disembuhkan kembali, dipotong, lalu disembuhkan kembali. Luka jahitan sudah memenuhi seluruh tubuhku. Berapa kalipun aku berteriak kesakitan, tidak ada yang mendengarku. Aku mengerti bila mereka tak melihat air mataku,  terlalu banyak lendir aneh keluar dari wajahku untuk menyamarkan warna bening air mata.


Dalam semua episode menyedihkan tersebut, Tim yang selalu ada. Dia tidak banyak bicara, hanya menatap dan memegang tanganku, memberiku kekuatan. Padahal dia merasakan hal yang sama, namun Tim selalu bisa menjadi lebih kuat. Dia satu-satunya yang berharga untukku. Aku harap maut menjemputku duluan nanti, aku yakin aku tak akan bisa bertahan tanpa Tim.



Related Posts

See All

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page