Blindside
- Dolphinium Corona
- Nov 6, 2024
- 8 min read
Updated: Feb 11, 2025
Nasib sial datang dari mana saja, tak peduli seberapa pun keras kau melawan.
Suatu hari, kamu hidup di dunia yang sempurna. Ayah ibu yang selalu ada di sisimu, memberikan segala hal yang kau inginkan, hanya demi satu permintaan, berikan nilai terbaik. Bukan anak pejabat, bukan anak bangsawan, tapi sekedar ganti ponsel 2 tahun sekali bukanlah sesuatu yang sulit. Tidak kelaparan, tidak kedinginan, tentu saja terlihat sepele kalau tidak pernah merasakan kesulitan.
Kemudian ada teman-teman yang selalu mendukungmu dalam suka dan duka. Mendapatkan hadiah dan kejutan di hari ulang tahun, lalu menangis bersama saat harus mengulang ujian mingguan. Suka dan duka dilalui bersama. Seperti itu kan seharusnya, kalau punya teman sejati?
Tapi yang namanya hidup, kalau belum pernah berada di titik terendah dan paling hina, maka seseorang belum sepenuhnya hidup kan?
"Hey hey, sudah menyerah lari? Kenapa ekspresimu kosong begitu?" Seorang wanita berambut ungu memegang dagunya.
"Feruci, yang ini membosankan." Ujar wanita dengan rambut merah muda.
"Sudah hampir tiga hari, untuk ukuran anak seumuran dia, cukup lah usahanya." Sang Ayah menimpali.
"Gak asik, buang-buang waktu. Harusnya aku tinggal di rumah bersama Gore." Suara dingin dan bosan terdengar, tapi ia tak bisa melihat dari mana asalnya.
"Sudah-sudah. Mari kita selesaikan, lalu pulang." Pria yang dipanggil ayah itu tersenyum menepukkan kedua tangannya. "Waktu habis. Saatnya pergi, kalau ingin prates, katakanlah pada penjaga neraka. Sampaikan salamku juga."
"Bye bye!"
"Kurang seru, Feruci. Lain kali carilah korban yang lebih menyenangkan." Levi berkata dengan nada merajuk.
"ltu benar, carilah target yang bisa mengancam nyawaku."
"Hey hey, tenanglah anak-anak. lni pekerjaan. Kita tidak memilih korban, klien kita yang menentukan." Feruci tertawa dan menepuk kepala kedua anak gadisnya. Kemudian ia melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Ades, menariknya mendekat dan menciumnya lekat-lekat.
Ades merespons dengan desahan nikmat tanpa sungkan, ia memejamkan matanya dan membiarkan Feruci mengambil alih.
"Sudahlah, aku akan pergi cari korban sendiri malam ini. Kalian juga pasti setelah pulang akan bergelut di kasur kan?" Mona menggerutu sebelum ia berjalan duluan, Bersiap menghilang dalam gelap malam.
"Pulanglah besok, ibu akan masak besar untuk merayakan keberhasilan Gore menyelesaikan racun barunya sebelum tenggat waktu."
"Ya ya, aku ingat kok."
"Dan jangan sampai masuk berita." Feruci menambahkan.
"Feruci, aku sudah besar. Berhenti memperlakukanku seperti Levi."
"Hey!" Levi langsung protes, merasa tidak terima.
Mona hanya menjulurkan lidahnya ke arah adiknya itu, sebelum akhirnya ia benar benar pergi. Entah ke mana, mungkin ke salah satu bar langganan, mencari mangsa tak bersalah. Tapi tak ada yang khawatir. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali, karena tidak akan ada yang bisa mengusik keselamatan anak sulung itu. Justru, semua orang yang bertemu Mona malam ini lah yang harus khawatir.
"Jadi... kalian akan bergelut di kasur malam ini? Aku boleh lihat? Bosan sekali perburuan kita selesai begitu saja. Paling tidak berikan aku hiburan lain." la tersenyum manis, tidak sesuai dengan permintaan yang barusan ia lontarkan.
"Tidak boleh. Malam ini khusus untuk ibu dan ayah, kami akan mencoba sesuatu yang baru. Kamu carilah teman bermain. Bukannya kemarin ada guru baru yang kau ajak main?" Feruci tertawa sambil meremas bokong Ades. Diikuti dengan desahan dari pemiliknya tentu saja.
"Cih. Ototnya saja yang besar, tapi penisnya kecil. Klasik. Mengecewakannya klasik."
"Oh... Pria malang." Ades ikut tertawa sambil menutup mulutnya. "Jangan terus kau kejar kalau begitu, nanti kamu kehilangan guru lagi. Yang kemarin rekor hanya bertahan 2 bulan kan?"
"Bukan salahku mereka menyedihkan." Levi memutar bola matanya.
"Ara-ara... Anak gadisku kasihan sekali." Ades mengelus rambut Levi dengan lembut. "Kalau begitu, cobalah ke NIDUS. Ada gigolo baru, asal tidak kau habisi, bolehlah aku pinjamkan kepadamu beberapa hari."
"Besar?"
"Besar lah. Sudah ibu coba. Mana mungkin aku berikan barang murahan untuk anakku tersayang?"
Levi melirik ayahnya yang sama sekali terlihat tidak terusik.
"Oke deal. Tapi nanti ceritakan padaku soal sesuatu yang baru itu. Bikinan Gore ya jangan-jangan?"
Feruci hanya tersenyum. Sementara Ades tertawa lagi. "Nanti ibu ceritakan kalau enak."
"Ah ibu, seleranya ketinggian."
"Kamu yang seharusnya menaikkan standarmu, sayang." Levi memanyunkan bibirnya untuk sesaat.
"Yaudah, aku pergi dulu kalau begitu. Dadah Feruci, dadah Ades. Sampai jumpa besok!"
Levi mencium pipi ayah dan ibunya sebelum ia juga pergi menghilang di antara kerumunan.
"Kalau begitu, mari kita pulang, sayangku?" Feruci menawarkan lengannya kepada Ades, yang menyambutnya dengan senyuman terbaiknya yang telah terlatih selama bertahun-tahun sebagai seorang wanita penggoda.
Ada kilatan membara di mata Feruci, Ades bisa melihatnya. Tatapan yang panas dan membuatnya bergairah dan basah. Untuk sesaat, ia berpikir untuk mengajak Feruci bercinta satu ronde di mobil. Tapi seolah tahu persis apa yang ia pikirkan, Feruci menunduk dan berbisik di telinganya.
"Di rumah. lngat mainan baru kita kan?"
Ades menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang, memikirkan 'mainan· baru mereka yang tersekap di ruang bawah tanah mereka. Sudah siap menanti kedatangan mereka. Ades menjilat bibirnya dengan tidak sabar.
Mangsa yang menggeliat, berteriak dan menangis. Betapa membayangkan saja sudah membuatnya begitu terangsang sampai rasanya ingin menyentuh bagian kemaluannya saat ini juga.
Feruci tertawa, matanya memicing melihat ekspresi Ades yang tampak begitu binal. la tahu tidak pernah sia-sia baginya mempersiapkan mangsa untuk Ades. Ekspresinya yang seperti ini selalu membuatnya panas. Begitu nikmat, istrinya yang cantik dan luar biasa berbahaya.
Bersama, mereka masuk ke dalam mobil Setelah kecupan singkat yang panas, mesin mobil dinyalakan dan mereka melaju membelah keheningan malam, kembali ke rumah mereka yang nyaman.
Nyaman untuk mereka, tidak untuk yang lain. Karena tidak akan pernah ada penyusup yang bisa keluar dengan selamat jika mereka berani memasuki kastil Feruci, keluarga pembunuh bayaran paling berbahaya dalam sejarah.
***
Dari dalam kamarnya, Gore bisa mendengar kedatangan kedua orang tuanya. Langkah kaki mereka, suara tawa mereka, pekikan bahagia ibunya dan tentu saja, suara gemerisik baju yang ditanggalkan.
Gore memutar matanya. la tahu apa yang baru saja disimpan ayahnya di basement untuk ibunya. Dengan cepat ia memencet tombol mute raksasa di mejanya. Seketika, suara-suara dari laur menghilang. la tak lagi mendengar suara kedua orang tuanya yang siap bercinta di tengah jeritan korban mereka yang ada di basement.
Gore sengaja membuat kamarnya kedap suara karena alasan ini.
Bukannya ia jijik atau takut, ia hanya tidak tertarik. la lebih suka berkonsentrasi dengan eksperimen miliknya tanpa gangguan.
Gore kembali melayangkan pandangannya ke arah CCTV yang mengarah ke luar rumah mereka. CCTV yang berada di dalam rumah sengaja ia tutup, tidak ingin menyaksikan kegiatan seru ayah dan ibunya. la punya seleranya sendiri kalau butuh.
"Hm?"
Matanya menangkap sesuatu yang bergerak, hanya sekelebat, lalu hilang.
"Masa binatang? Stan dan Beel masih menjaga dengan normal kan?"
Gore mengarahkan kursornya untuk mengecek Beel dan Stan. Mereka tidak tampak terusik. Mungkin ia salah lihat? Bagaimana pun juga, sudah 3 hari ia terjaga, terlalu asyik dengan racun barunya sampai lupa tidur.
"Sebaiknya aku tidur saja mumpung sudah selesa-hm?"
Lagi-lagi Gore melihat semak-semak di pojok luar rumahnya bergerak, meskipun tidak ada angin.
DING
Ponselnya menampilkan notifikasi. Dari kakaknya, Mona.
Order baru, racun yang kemarin itu, yang dipesan Pejabat Johnson. Satu lusin lagi.
Gore memutar matanya. Kemudian ia mengetik balasan,
Dia kira mudah dapat bahan bakunya? Katakan padanya, Iowan politiknya itu masih menutup impor untuk bahan bakuku. Aku tidak ado jika racun yang itu.
Tidak sampai 30 detik, Mona sudah membalas.
Sudah dibuka.
Gore tersenyum.
Harusnya dari kemarin ia lakukan ini. Katakan padanya, 3 hari siap.
Mona tidak menjawab lagi, tapi ia tahu pesannya sudah dibaca.
Rasa kantuk Gore menghilang. Mengetahui bahwa dia dapat orderan baru membuatnya gatal ingin mulai meracik, tapi lagi-lagi, matanya menangkap sesuatu. Kali ini, ia tahu ia tidak salah lihat.
Gore menelepon Mona.
Satu dering, dan Mona sudah mengangkat telepon darinya.
"Apa? Sudah aku baca, sudah aku sampaikan." Suara Mona dari uiung sana terdengar agak bosan.
"Bukan itu, kamu tadi pergi bersama Feruci dan Ades, bahkan Levi kan? Katanya bukannya kalian sudah selesai dengan target itu? Makanya Feruci dan Ades sudah pulang."
"Memang. Pakai tanya."
"Um, kita punya masalah. Mayat kalian hidup lagi."
Hening. Hening sesaat dari arah tempat Mona.
"Mon-"
"HAH? HIDUP LAGI?" Mona tahu-tahu berteriak. Gore dengan kaget menjauhkan ponselnya.
"lya, ada di CCTV, lagi ditahan sama Beel dan Stan, dia tidak bisa apa-apa sih."
"Tunggu! Aku segera kembali!" Suara Mona tampak bersemangat, terlalu bersemangat. Seperti anak kecil yang dapat mainan baru.
Tidak salah sih.
"Jangan kasih tahu Feruci dan Ades, mereka sedang sibuk kan? Biar aku saja." "Perlu telepon Levi?"
"Chat saja, kalau dia tidak lihat, salah sendiri. Aku sendiri cukup."
"Oke."
Telepon terputus, dan Gore bangkit dari kursinya. la meregangkan tubuh dan mengambil jaketnya.
"Padahal baru juga mau tidur."
Kemudian ia berjalan keluar dari kamarnya.
***
"Oh ho ho... Lihat siapa yang kita punya di sini..."
Mona yang baru turun dari motornya, menenteng helm di tangannya, menghampiri seorang laki-laki muda yang terjerat sulur-sulur tanaman. Wajahnya ketakutan, matanya terbelalak lebar, sementara keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"MHHMMM!!!" la berusaha berteriak ketakutan, tapi sulur-sulur tanaman itu tidak hanya menjerat tubuhnya, tapi juga menyumpal mulutnya.
"Mona. Cepat sekali sudah sampai, kamu tadi di mana?" Gore yang baru keluar dari dalam rumah sambil menguap.
"Tidak penting. Yang lebih penting, dari mana datangnya tikus ini?"
"Entahlah... Dia cukup ahli juga, sebelum tertangkap, aku sempat kesulitan melihatnya di kamera canggih kita."
"Kau menghubungi Levi?"
"lya, tapi aku tidak tahu ia membacanya atau tidak-eh sebentar, ponselku bergetar."
Gore mengeluarkan ponselnya dan mengecek pesan masuk. Ada satu pesan dari Levi.
lkut!
"Katanya Levi mau ikut, kita tunggu dia kalau begitu?"
"10 menit, kalau lebih lama aku mulai duluan." Mona mulai mengeluarkan berbagai pisau dari berbagai tempat di bajunya. "Aku tidak sabar bersenang-senang..." Mona mulai menjilat pisau-pisaunya dengan tatapan liar di matanya.
"Tapi berarti, makhluk ini, berhasil mengelabui tidak hanya dirimu, tapi juga Levi, Ades, dan bahkan... Feruci? Masa sih?" Gore mengerutkan dahinya.
"Hm... Sepertinya tikus kecil kita punya rahasia. Bagus lah, jadi ada alasan untuk menyiksanya semakin lama, agar ia mengatakan seeeemuuuaaaa rahasinya." Mona tertawa bengis.
Sementara itu, lelaki muda di hadapannya berusaha menjerit dan berkali-kali menggelengkan kepalanya.
Levi datang tepat lima menit kemudian, dengan di antarkan mobil mewah yang tampak seperti hasil buatan di luar negeri.
"Kamu datang juga, siapa itu?" Mona melirik ke arah mobil itu. "Mana mobilmu?"
"Masih di NIDUS." Jawab Levi santai sembari membenarkan bajunya sedikit. Jelas sekali ia baru saja selesai berbuat hal-hal yang heboh. Wajahnya sedikit merah dan berkeringat, bibirnya basah dan agak bengkak, serta lipstiknya terlihat belepotan. Kancing bajunya hilang dua buah, dan stockingnya tampak robek.
"Minimal mandi dulu." Gore mengernyit.
"Gak sempat. Tadi mainnya di mobil itu."
"Ew. Terlalu banyak detail." Gore menutup mata.
"Jadi... apa yang kita punya ini? Kok dia masih hidup, tadi kan sudah mati?" "ltu juga pertanyaanku." Gore menimpali.
"Siapa yang peduli, kita jadi punya lebih banyak waktu bermain dong, kan yang tadi dikuasai Feruci dan Ades sebelum mati?"
"Aku peduli. Aku sangat tertarik." Levi duduk di atas lelaki malang itu, tepat di tempat di lehernya.
la tersengal, tak bisa bernapas. Matanya semakin terbelalak, panik, ketakutan.
"Beel, coba lepas mulutnya." Levi meminta kepada tanaman ajaib mereka.
Dengan patuh sulur-sulur yang menyumpal mulutnya langsung pergi.
"Jadi... kamu hidup lagi?" Levi bertanya. "Jangan coba berteriak, percuma, jawab saja. Eh tapi boleh deh kamu berontak, jadi lebih asyik kan?"
Levi tersenyum manis, tapi matanya berkata lain. Ada kilatan berbahaya di sana, hasrat untuk menyiksa makhluk hidup sampai mereka luluh lantak berantakan.
"A-aku... Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan!" Laki-laki itu berkata dengan suara serak yang bergetar, jelas sungguh ketakutan.
"Jangan pura-pura bodoh, percuma saja. Sekarang katakan, bagaimana caramu tetap hidup? lni informasi yang menarik." Mona menggertak, ia menyenggol pipi makhluk malang itu dengan ujung sepatunya.
"AKU BERSUMPAH! AKU BELUM BERTEMU KALIAN SAMA SEKALI! INI PERTAMA KALI AKU KE SINI! AKU MOHON, KASIHANILAH AKU!"
Gore berjengit sedikit mendengar ratapan pilu itu. Dengan wajah datar ia berjongkok di sebelahnya.
"Nama?"
"J-John... Nama belakang... a-aku tidak tahu. lbu tidak pernah memberi tahu nama ayahku..."
Levi langsung menarik wajahnya. Pandangan John pindah ke wanita yang duduk di atas tubuhnya. "Kamu... tidak berusaha berbohong kan? Namamu bukan Jonathan kan?"
"Bukan! Aku bersumpah, namaku John! Bukan Jonathan!" ia berseru panik.
"Hmmm..." Gore mengamati wajahnya. Sekarang saat diamati dari dekat, memang sedikit berbeda. "Kamu, punya kembaran?"
"Kemba... ran? A-aku tidak tahu." John tampak bingung.
"Sepertinya dia jujur.'' Gore mengangkat bahu. "Atau dia mata-mata yang sangat ahli dan berusaha membuat kita bingung."
"AKU BERSUMPAH! AKU TIDAK BEGITU! AKU HANYA MENCARI AYAHKU!"
"Ayahmu?" Mona menaikkan satu alisnya.
"A-aku menaruh pelacak di mobilnya. Beli di internet. Pelacak yang biasa ditaruh di koper." John berkata dengan panik. "Aku ikuti! Mobilnya ada di sini!"
"Oohhh..." Kompak ketiga saudara itu bergumam bersama.
"Sepertinya mainan Feruci dan Ades yang ada di basement punya anak rahasia." Gore berkata.
"Kembar? Satunya dibuang?" Levi menimpali sambil mengelur pipi John yang tak berani bersuara sedikitpun.
"Apa pentingnya, bunuh saja. Beres kan. Toh yang lain juga sudah mati." "TUNGGU! Ayahku.. ayahku mati?" John berkata dengan suara bergetar.
"Ohhh... apakah bayi kita merindukan ayahnya?" Levi berbicara dengan nada mengejek, seolah menggoda anak kecil.
"Aku... Aku... lbu... lbu tidak ada. Aku hanya ingin mencari ayahku... Tapi dia mati juga? Tidakkah kalian bisa membiarkanku pergi? Aku bersumpah tidak akan mengatakan apa-apa pada siapa pun... Aku mohon..."
Mona menginjak wajahnya, membuat John menjerit pilu.
"Misteri sudah terpecahkan. Waktumu habis, anak manis. Saatnya aku bermain sekarang."
Dengan satu kali hujaman, Mona menusuk matanya, sementara Levi tertawa senang. Tangannya menggerayangi selangkangan John.
"Saat manusia berada dalam puncak adrenalin, biasanya kemaluan mereka akan bereaksi, rupanya kau juga ya. Sudah kuduga."
"AAAAAAAAAAAAAA!!! KUMOHON!!! HENTIKAN!!! HENTIKANNNN!!! AAAAAA!!!"
Gore mendesah kemudian berjalan balik, berniat masuk ke rumah. "Kalian berdua, jangan lupa bereskan. Aku mau tidur."
"Loh! Tidak ikut?" Levi berseru.
Gore hanya melambaikan tangan, perlahan suara jeritan pria makin tak terdengar.
***
"Selamat pagi Feruci, Ades. Apakah uh... permainan kalian tadi malam menyenangkan?" Gore bertanya dengan sedikit tidak ingin.
"Wah apa ini? Tumben sekali kamu tertarik, apa ini namanya puber? Mau ibu carikan mainan untukmu? Katakan saja ingin yang seperti apa, ibu pasti bisa sediakan."
"Eh bukan-bukan!" Gore cepat-cepat menggeleng. "lni bukan hal itu sama sekali."
"Hmm... lalu?"
"Ah... Tadi malam ada yang datang ke rumah kita."
Feruci yang sedang memeriksa emailnya langsung menutup laptop. "Tumben? Sudah kalian bereskan kan?"
"Tentu saja. Tapi... bukan itu masalahnya."
"Oho... Coba, memangnya apa?" Feruci tersenyum.
Gore bisa merasakan, bahwa ayahnya sudah tahu segalanya. Tentu saja. Ayahnya adalah Lucifer, pembunuh bayaran paling berbahaya yang ada di bumi saat ini. lni pasti adalah salah satu dari permainan yang ia atur untuk anak-anaknya.
"Tuan Andrew, um... mainan yang kalian mainkan tadi malam, dia memiliki dua anak kan? Yang kalian bunuh dan buru bersama selama tiga hari, Jonathan. Kemudian satu lagi, John."
"Siapa John?" tanya Feruci, masih menyunggingkan senyum.
"Anak selingkuhannya. Harusnya mereka kembar. Tapi ia menukar bayi istri sahnya yang meninggal saat baru lahir, dengan anak dari selingkuhannya."
"Hmmm. Lalu?"
Gore mengangguk, ayahnya tidak mengoreksi pernyataannya, ia berada di jalan yang benar.
"Kau tahu ada pelacak kan, mana mungkin tidak tahu saat mengundang Tuan Andrew ke sini sebelum ia disekap. Tapi kau biarkan."
"Kenapa?"
Menanyakan dirinya sendiri? Jelas ini ujian. Jangan-jangan Mona dan Levi sudah tahu, ia satu-satunya yang dapat tugas ini karena tinggal di rumah.
Gore menghela napas pelan. la sudah kena jebakan ayahnya ternyata.
"Karena aku menolak untuk ikut perburuan kalian."
Feruci tersenyum dan kembali membuka laptopnya. Percakapan selesai. Semua sudah terpecahkan.
Gore menggerutu dan meletakkan kepalanya di meja dengan kesal. Sementara Ades tertawa dan meletakkan sarapan di hadapan Gore.
"Pagi adik manis! Bagaimana, sudah dapat jawabannya?" Mona turun dari lantai atas dan langsung mencomot roti panggang miliknya dan menepuk-nepuk kepalanya dengan jahil.
"Ugh. Sudah kuduga, kalian semua kerja sama mengerjaiku."
"lni kan misi bersama, mana boleh ada yang malas-malasan?" Mona tertawa dan duduk di sampingnya.
"Levi?"
"Pergi lagi bersama mainannya. Sepertinya yang diberikan Ades kemarin, ia sangat suka."
"Ah begitu kah? Aku senang mendengarnya." Ades berseru dari depan oven. Wangi ayam panggang merebak ke seluruh ruang makan.
"Ades, kau tidak pernah khawatir mainan ibu dirusak Levi? Nanti kekurangan sumber pemasukan dong?" Gore akhirnya mengangkat wajahnya dan mulai menusuk telur orak-ariknya dengan sebal.
"Dih, sudah besar masih merajuk!" Mona tertawa terbahak. Tuman dijahili sedikit juga."
"Mengurangi waktu tidurku." la menggerutu. "Tuan Andrew menutupi jejaknya dengan rapi, butuh waktu lumayan untuk membongkarnya."
"Rajin-rajinlah berlatih adik kecil." Mona tertawa. la menjejalkan semua roti panggangnya ke dalam mulut dan berdiri dari kursinya. "Aku pergi dulul"
Feruci tersenyum, "Hati-hati di jalan, jangan tabrak orang karena kamu tidak sabar." Mona mengangkat bahu.
"Jangan pulang telat." Ades berpesan.
"lya, iya. Daaahl"
Ades kemudian berpaling pada anak laki-lakinya yang masih menggerutu.
"Bagaimana? Apa kamu bersimpati kepada anak laki-laki itu? Umurnya tak jauh beda denganmu kan?"
"Kenapa, memang harus? Aku hanya kesal karena dikerjai." Gore mengangkat bahu.
Ades dan Feruci bertukar pandang dan menyeringai. Bahkan tanpa bicara apapun, mereka memikirkan hal yang sama. Gore cocok sekali menjadi anak mereka, meskipun hanya anak yang mereka pungut sekedar iseng.
"Yah, lagipula, harusnya John bersyukur."
"Kenapa?" Feruci melirik ke arah Gore. Ades juga menunggu jawaban anak lelakinya.
"Kan mereka semua sudah mati, mayatnya dijadikan satu saat dibereskan, lalu mereka sama-sama bisa bertemu di alam sana."
Feruci dan Ades bertukar pandang, lalu kompak tertawa terbahak.
"Oh Gore-ku yang manis." Ades mengelus rambutnya pelan.
"Apa? Kenapa?" Gore mengernyit bingung. "Benar kan?"
"Tentu saja, Gore. Kau sangat benar."
Gore mengedikkan bahu, memutuskan untuk tidak ambil pusing.
Hari ini pun, semua berjalan normal di rumah keluarga yang mendorong dunia kepada kehancurannya.
Commission Story Written by Dolphinium Corona


Comments