top of page

Cerita Citra Trio Tercela

  • LIN
  • Jul 31
  • 13 min read



Lingkaran hidup Rothschild adalah sarang naif membosankan. Akar dinamis keluarga itu hanya mengekang Edmond dengan rantai aturan. Semua tindak-tanduk wajib berpedoman. Alur nasibnya terbalut arahan. Apa yang dilakukan Edmond berdasar atas tuntutan. Hal-hal itu tersingkap dengan bisik para pekerja penuh gunjingan. Cerita ini menyelami impresi orang-orang di bawah atap kemewahan.


───────────────────────



Sangkar bergelimang harta para Rothschild sebenarnya terbingkai topeng drama. Kamu tidak tahu betapa muak kami harus sedia menyuguhkan watak basa-basi ramah. Setiap saat, di depan kolega yang bertamu sambang. Setiap detik, di pandang rupa sejawat kala menginjakkan kaki pada latar emas ini. Tak terkecuali pula saat bersemuka dengan kedua tuan muda.


“Mitos berkata jika salah satu dari sepasang anak kembar identik akan mati terlebih dahulu,” malam hari ialah waktu untuk melepas sulur kepalsuan. Tatkala para penghuni mansion terpejam dalam bunga tidurnya, kami bisa leluasa merilis desis gunjing.


Kami tengah berbenah dengan sisa pekerjaan, menutup jendela. “Menurutmu, siapa yang akan terperosok dalam kematian ironis?” Rothschild dikaruniai dua pewaris, Egmont dan Edmond. Namun kursi penerus keluarga hanya tersedia untuk satu jawara. 


“Kita tahu jawabannya. Tentu saja yang enggan bermawas diri serta kerap berkutat dengan objek konyol,” terkekeh remeh, kami lirik prototipe ‘rongsok-tak-berbobot’ Edmond di bawah kolong ranjang. Adapun, kita tidak sembrono main rampas. Kepalang malas sebab bocah itu pasti merakit yang baru.


Pada ventilasi paling ujung, di permukaan kaca jendela tersemat jejak coretan embun. Seperti bekas rumus tematik yang digores dengan ujung telunjuk. Siapa lagi kalau bukan Edmond? Cara belajarnya eksentrik. Terkadang, kami akan dikejutkan dengan posisi Edmond terduduk pada tepi balkon. Lengkap dengan buku dalam genggam.


Pernah juga, hari itu kami hendak memindahkan posisi almari tua ke gudang. Selama proses saling gotong pada masing-masing sisi, firasat kami berkata jika objek ini ganjil. Seolah muatan di dalamnya lebih berat dari  bilik kosong. Begitu engsel pintu kami buka, betapa tercengang mampus kita dibuat. Sekonyong kaget menjerit lepas, Edmond ada di dalam sana sambil menelisik lembar jurnalnya.


“Dasar orang kaya banyak tingkah. Dia butuh bimbingan konseling. Masa cari perhatian sampai sebegininya?” kami dirundung heran. Bagi kami, Edmond justru mengikis sia-sia peluang emas sebagai penerus keluarga.


Segala kegemaran Edmond pantas disebut aksi tidak berfaedah. Tiada imbas baik dalam prospek masa depan. Saat ini misal, padakala pergantian hari menyusun agenda sesi privat studi eksklusif. Kendatipun dia tetap bergumul tekun dengan kewajiban, kami tidak melihat bara menggebu di antara kerling Edmond. 


Sebaliknya, kami mendapati percik gairah hadir pada jendela netra Edmond usai jam pembelajaran tuntas. Di mana ia akan mengusung perkakas asing dari balik nakas. Lantas, jemari kecil itu akan beroperasi dengan rangka alat. Kalau kata Edmond, ini instrumen ajaib. Tapi opini kami berkata jika itu tidak lebih dari sampah. Mirip barang loakan di karung rombeng. 


“Coba lihat bagaimana jari-jemari Egmont menari dengan piawai di atas tuts piano. Dia sangat mengesankan. Apa kamu tidak tertarik dengan kesibukan lain? Memadu senar biola mungkin,” kami pikir, Edmond beranjak untuk mengiyakan pinta nasihat kita. Apalagi, dia mengambil badan biola dari rak alat musik dengan mimik berseri.


Usut punya usut, biola bukan untuk diteladani jadi minat. Edmond justru memereteli senarnya sebagai bahan skema temuan nyeleneh. Berujung kita yang kena celaka. Sebuah perangkap tercipta di luar nalar duga. Ketika kita berjalan, senar tipis itu luput dari penglihatan. Ternyata sudah dirancang melandai pada kaki meja. Tanpa aba-aba, sontak kami tersungkur jelek menghantam bidak kayu sofa.


Kami bersungut-sungut atas lagak aneh Edmond. Gunjingan terburuk mengudara bersama gerutu penat. “Aku yakin, dia sengaja melakukan ini demi terlihat berbeda daripada Egmont. Pecundang kecil yang ingin seluruh atensi hanya tertuju kepadanya.”


Diganjar tajir dengan harapan cemerlang di depan mata, tapi justru melakoni hobi payah tanpa pikir panjang. “Berhenti terpaku dengan benda-benda itu. Lebih baik habiskan waktumu bersama Egmont. Siapa tahu dia bisa menjadi cermin bajik untukmu,” rasanya mulut ini berbusa setiap kali menyokong kesabaran. Tutur-penutur kami tidak digubris barang sejenak lirik, dia akan pergi begitu saja. 


Dari mana datangnya asumsi wajar jika dia ingin terlihat berbeda? Hanya karena kami selalu membandingkan keduanya sejak lahir? Lelucon macam apa itu? Kami selalu bersikeras mengurusnya, mulai dari fajar tersemat di atas langit hingga larut menjemput. Kami senantiasa ada, bahkan sebelum bocah itu belajar merangkak dan tumbuh gigi. Kami mengaturnya bukan karena tak berbekal dasar. Kami yang paling paham soal kegiatan berkualitas bagi Edmond.


“Perjamuan siang ini dihadiri relasi penting ayahmu. Kamu harus terlihat rapi,” kita berhadapan dengan pemuda cilik yang tak bergeming, menyisir kemilau pirangnya dengan hati-hati. Angguk singkat Edmond jadi respon acuh. Detik ke depan, dia melenggang pergi tanpa sepatah kata.


Kami sedikit bingung, hari ini Edmond lebih banyak diam. Apa yang kami tidak mengerti adalah bentuk ekspresi kesenangan Edmond. Masa kecil memang seharusnya terwujud oleh momen bermain riang. Bukan tuntutan kriteria sempurna penerus Rothschild. Apalagi dasi martabat keluarga, memaksa pribadimu wajib penuhi ekspektasi orang di sekitar.


Anak-anak dan rasa penasarannya menyukai kejutan. Sementara, Edmond tidak terhibur dengan segala hal yang semua hasilnya sudah bisa diperkirakan. Tentang cara bagi Edmond perihal mengungkapkan rasa gembira. Tentang kegandrungan asyik di luar rutinitas jenuh. Hal yang mustahil dia dapat dari guru les privat. Maka dari itu, Edmond berusaha membuat sesuatu dari dalam diri, untuk dirinya sendiri. 




“Jangan bilang dia pergi memasang perangkap untuk para kolega yang hadir? Bisa repot kalau tidak segera dihentikan,” beberapa menit lagi Edmond harus ikut duduk menampakkan rupa di tengah perjamuan. Namun, eksistensi sang tunas muda menghilang dari kacamata pengawasan kita. Balkon? Nihil. Bersembunyi di gudang bawah tanah? Kosong.


Kita berkelana mengitari seisi mansion. Detak-detik bergulir sejalur sudut demi sudut kami telisik. Hingga siluet punggung Edmond mengetuk tepi netra. Dia bersemayam pada ruang terbalut dinding yang sesak oleh deret bingkai foto. Potret tampak depan para tokoh tersohor beradu senyum formalitas. Visualisasi pria-wanita dalam kondisi terbaik mereka. Orang-orang penting bertopeng sandiwara terbungkus busana mewah. 


Aroma kekayaan menghujani secercah pendar cahaya matahari. Sorot kuning madu berlabuh bagai pantulan senada yang meleleh di atas tubuh Edmond. Sinarnya dengan lembut tumpah secara teduh, nyaris tidak terlihat bahwa ini waktu siang hari. Seakan, tersirat arti bahwa Edmond ialah definisi kebebasan itu sendiri. Dia tidak terkekang waktu. Dia punya segala keistimewaan khusus. Hingga ia bisa hidup di atas kedua pijak kakinya sendiri dengan nyaman, kapanpun.  


Bocah yang seharusnya jadi pion ulung kandidat penerus, kini berbalik arah dengan arus lamban. Dia menatap kami. Bukan oleh kerling memelas, tidak juga lirikan sinis. Melainkan, binar keberanian untuk melawan. Pandangan lain dari wujud arah berbeda di dunia pilihannya sendiri. Kami sadar, seiring postur Edmond tidak menunjukkan posisi tampak depan. Ketika kepala si pemuda kecil itu berpaling ke samping, kami tertegun. Seakan Edmond berusaha menyampaikan kepada kami jika ia hendak berontak, hendak menentang takdir.


Edmond adalah Edmond, dia tidak butuh kepura-puraan busuk. Tubuhnya tidak terkurung dalam bingkai, raga Edmond keluar dari figura. Metafora bahwa Edmond tidak sudi berada di jalur yang sama dengan mereka. Saat itu pula, kami sadar jika kami gagal mewujudkan dunia ideal bagi Edmond muda. Kami tidak bisa mengabulkan taman bermain penuh kegembiraan sejati untuknya. Kami abai akan fakta bahwa kami selalu memaksa Edmond berlagak dewasa sebelum usianya. Kami lalai akan fakta bila Edmond terlalu dini menghadapi realita. Sepandai apapun Edmond menggayung ilmu pengetahuan, dia hanyalah anak kecil penuh kesenangan.


“Memang benar, Edmond bukan pemenangnya. Tetapi dia adalah satu-satunya yang sanggup merobohkan perisai ini,” Rot(h)en Schild berarti ‘Perisai Merah’. Kami yakin, suatu saat nanti Edmond pasti mendobrak tameng naif keluarga ini. Kami percaya, di kemudian hari. Edmond akan menemukan dinding baru rumah yang tak dipenuhi oleh deret figura tokoh-tokoh munafik. Dia akan pulang pada jalan kebahagiaan yang pernah terukir dalam angan, huni tempat dirinya bertumbuh tanpa tuntutan menjadi sempurna.



✧ ✧ ✧




 

Tahan gairahmu agar tidak hanyut terbawa arus. Wacana ini adalah aksara tentang perspektif di balik kacamata pekerja NIDUS. Tentang Sakura yang mekar dalam palung tempat kawanan hidung belang melegakan haus. Perihal kembang muda yang kembali hidup tuk mengais kebahagiaan lebih mulus. Mari kita telisik gunjing bersama perawakan geisha lewat tirai desas-desus. Apakah mereka menyayangi Sakura dengan tulus? Atau justru menyesali pilihan Sakura sebagai pemuas nafsu pria-pria akal bulus? 


───────────────────────



Semerbak wangi dersik angin meniup kelopak sakura beterbangan. Kusuma lembut itu terselip pada celah jendela. Lagu malam ini disertai tajuk rumpi asik sembari menoreh poles rias. Senda gurau kami tercekat, interupsi tatami di balik kerangka shoji pintu geser berderit. Sontak, hening menyelimuti siluet elegan sang bulan tertinggi hadir dengan tawanan pesona. Jemari Yuriko bertaut gandeng membawa perangai gadis kecil. 


Kita ingat, kaos lusuh menyelimuti selira ringkih itu. Dia bersembunyi di belakang punggung Yuriko, lengkap pula kepal tangan kering-kerontang remat kimono nyonya. Seakan, Yuriko adalah tiang kehidupan bagi si bunga muda. Pangku kepala kami terbekuk tunduk akan sanjung hormat di depan bulan tertinggi. Formalitas semata biar tidak terjadi huru-hara.


Pandangan kami akan tunas cilik itu berubah. Mulanya, kita pikir si bocah bukan perkara penting. Toh, dia juga tidak menuai sepatah bait lisan di beberapa pekan awal. Bungkam tanpa cerita. Tidur dan makan di bawah satu atap bordil kupu-kupu malam NIDUS. Namun, waktu adalah teka-teki tak terduga. Roda nasib yang bergulir membanting setir takdir. Bocah kemarin sore itu kian terseret arus. Hasutan gairah terbelit dalam raga mungilnya, antusiasme mengulik rasa penasaran si gadis soal segala hal.


Yuriko bahkan mencipta utas nama 'Sakura' untuknya. Kenapa sangat istimewa? Kita tidak mengerti. Seolah Sakura adalah putri kecil kesayangan Yuriko. Entah, firasat kami berbisik jika Sakura semakin dekat dengan sosok bulan tertinggi. Menghabiskan momen sesuka hati, pun bernaung singgah begitu intim. 


“Bukankah terlihat seperti siasat picik, huh? Menyita perhatian nyonya Yuriko sementang dirinya bisa menaruh wajah lugu. Anak itu berubah seperti pengacau kecil yang pecicilan,” nyaris setiap malam di mana bocah seusianya terpejam pulas, Sakura justru wara-wiri melangkahi sudut demi sudut lorong bilik persetubuhan. Kelayapan selaras derap kecil mengamati reka adegan senggama panas. Jejak kaki Sakura akan tinggalkan bekas cap telapak. Betapa repotnya kita saat harus membereskan tingkah serampangannya. 


Esok, dia akan mengukir langkah berlari kesana-kemari. Main rebut kipas lipat bermotif salur naga milik kami, sembarang sambar juntai simpul obi. Matanya juga jelalatan mengintip ekspresi pekerja lain ketika terlentang dijamah pengunjung. “Jalang kecil kurang ajar! Dia berani rebut klienku semalam. Bujuk manisnya terlampau mujur hingga paruhbaya itu terlena,” perilaku Sakura terlalu berani tanpa peduli ada batas.


Gosip itu merambah buah bibir di khalayak pekerja NIDUS. Rumah tunasusila ini justru Sakura jadikan talun permainan. Selaku anak yang tidak pernah mencicipi rengkuh kasih sayang. Pun, sudut bibir Sakura senantiasa tersungging berseri-seri. Kenapa pula dirinya begitu kerasan? Kita heran. “Nyonya Yuriko terlalu memanjakan Sakura. Gadis itu jadi tidak punya aturan. Alhasil, jati dirinya terjerumus pada moralitas cacat.”


“Sakura, kamu tahu? Prostitusi bukan suatu teladan. Saku masa depanmu tidak berpaku pada seputar pelacuran,” memupuk wejangan selaras berkutat dengan bingkai alis dan serbuk putih harum pada peta wajah. Dia tampak merekam bagaimana cara kita bersolek mengayunkan kuas perona pipi. Pupilnya mengikuti tangan-tangan kami tersisip benahi bra penopang dada. Membuat gunung payudara terangkat sekal untuk dipamerkan secara vulgar.


Sayangnya, tutur-penutur kami berujung jadi angin nihil bagi Sakura. Belia itu menemukan jiwanya di antara pangku hangat para pria. Menikmati dekap damba yang bertabur puja. Kami lihat senyum Sakura terpatri semringah setiap godanya berbuah manis. “Hei, lambat-laun para pria tambun berdompet tebal menggandrungi Sakura. Maksudku, jala rayu kita tersisih oleh pikat daya bocah bau kencur?” bisikan kami terbenam lirih.


“Aku dengar ibu kandung Sakura selalu datang dengan tubuh babak belur sebelum dia hilang dari peredaran. Bahkan, tidak ada pengunjung NIDUS yang tertarik menidurinya. Jika Yuriko membawa Sakura kemari untuk pertolongan. Bukan berarti gadis itu bisa bersikap sembrono,” cuitan sore dibekali pergibahan dapur. Kami tidak peduli soal bagaimana si bocah pernah terbelenggu petak sempit rumah kumuh dan tidak bisa menghirup kebebasan. Gadis cilik yang nyaris tumbang dirubung kelaparan. Abai akan fakta bahwasannya watak begajulan Sakura adalah bentuk masa kecil kurang bahagia.





Kita membawa nampan teh dan kudapan untuk nyonya. Ketika pintu terbuka, tepi lirikan mata kami jatuh pada helai merah muda yang terlentang di atas paha nyonya. Wajah gadis itu agaknya lumayan murung, kerut dahi terbungkus sedih. Sementara, nyonya bersenandung sambil menyisir lembut surai Sakura dengan celah jemari. Kami menangkap satu dengung halus dari bilah bibir nyonya, bertuai kasih layak seorang ibu menenangkan putrinya. “Pohon sakura di siang hari memang mempesona. Tapi pohon sakura di malam hari jauh lebih menyala.” 


Lembayung terganti bingkai purnama, jingganya luput dengan gemerlap cahaya lentera. Saat berpamit pergi setelah meletakkan teko teh. Menit ke depan, lagak Sakura mekar bersama hingar-bingar malam. Kesedihannya luntur oleh kalimat penyejuk Yuriko. Seakan tersirat arti bahwa terlepas dari masalah apapun yang dia hadapi, Sakura di NIDUS adalah sosok yang berbahagia.


Sungguh mengecewakan. Sakura terlalu gegabah menentukan jalur hidupnya. Kami tergerak berjalan di belakang punggung ramping terbalut kimono itu. Belum henti ketenangan terusik, bukan lagi soal gerak-gerik Sakura yang berlari gesit. Kali ini perihal puncak euphoria si kembang muda yang kini melagukan gelak tawa. “Tunggu! Sakura, itu terlalu berbahaya. Kamu bisa terjatuh kapan saja,” kami hendak menggapai pundaknya, namun ia beringsut lebih cepat seperti kapas awan yang duduk membelakangi bibir jendela. 


Kedua tangan Sakura berpegang erat di rangka tepi, dia menengadah dengan tubuh diayunkan keluar. Laksana kelopak gemulai cantik bebas dari sangkar kelam masa kecil. Menadahi semarak NIDUS sebagai jamah erotis sanggama. Tempat yang dia inginkan. Singgah untuk pulang yang menerima dirinya tanpa cela. Bahana gelak tawa Sakura mirip harmoni kedamaian. Kami mendengarnya, cekikik ringan mengudara tanpa beban dari si bunga muda. 


Kunang jajar lampion mirip pecahan bintang menyapu netra kami. Sontak, kita berkedip silau sejalur lensa mata bersemu binar buram. Potret horizon jelaga bertabrakan kontras dengan hujan cahaya mengecup paras Sakura. Visualisasi kota isi kepala Sakura terlalu terang untuk kita pahami. Seolah, keindahan miliknya bertolak belakang dengan realita gelap yang pernah dia hadapi. Sekaligus menyiratkan dua sisi berbeda dalam satu rumah pulang, NIDUS.


Inilah dunia Sakura. Jiwanya hidup menjadi bagian pergumulan raga. Kamu tahu manifestasi warna cinta? Jawabannya merah muda. Seperti Sakura yang bisa membuat semua pasang mata jatuh terlena. Dia mendapat singgah untuk pulang sebagai jati diri baru dalam buai erotika.


Maka, tajuk “Citra Cerita Sakura” usai sampai di sini.


✧ ✧ ✧




 

Sudah berani ngomongin soal Anna? Berarti kamu harus siap hadapi bocah di luar nalar manusia. Ini bukan dongeng gadis panti cerah ceria. Melainkan ruang satiris para pekerja yang terlanjur penat kepala. Tentang bumbu gosip tingkah-polah Anna di balik lirikan mata. Awak penghuni Stepping Stones Hill nyaris hilang logika. Karena lagak Anna lebih liar dari biang kerok prahara.


───────────────────────




Kepulan asap cerutu menyibak tirai sejuk udara jenggala. Awan biru yang menggantung bebas tampak kontras jika dibandingkan dengan atap dome. Dahulu, kita sempat terjun pada geladak eksperimental The Golden Bird. Masa-masa itu rampung di penghujung lembar baru. Pernah dengar soal panti pada ranah terpencil? Area berbanjar gunung dan bukit, Stepping Stones Hill namanya. Bagi kami yang terbiasa berkecimpung dengan siasat picik The Golden Bird, alih profesi jadi penjaga panti terasa monoton. 


Mengasuh anak-anak, berkutat dengan berkas adopsi, menyiapkan troli makanan, serta hal kejemuan lain. Kita butuh lonjakan adrenalin, bukan sebatas topeng haha-hihi sejak para bocah bangun tidur sampai mereka terlelap kembali. Maka dari itu, kami mencari kesenangan sendiri dalam wilayah belantara. Permainan orang dewasa.


Kami ingat, siang itu di tengah laga perburuan hewan liar. Seorang gadis kecil mengintip dari balik pepohonan. Kita terpegun, kenapa dia tidak gemetar mendengar ledakan peluru menembus seekor rusa? Kenapa pula dia justru berpendar antusias ketika cipratan darah merebak anyir? “Apa dia gila? Dasar psikopat kecil.”


Kendatipun kami mengusirnya pulang ke panti. Dia enggan beranjak. Tetap datang di kemudian hari, esok, lusa dan seterusnya. Seiring arus mengalir, anak berkepang dua itu jadi bagian dari pergumulan dewasa kami. Turut terlibat dengan aksi tidak lazim di luar usia sepantarnya. Mulai dari coba-coba hisap puntung tembakau, duduk di antara humor mesum kami, bahkan ikut terjerumus dalam pergulatan senjata.


Eksistensi Anna seperti pemantik girang di tengah jenuh. Tidak jarang juga, kami manfaatkan bocah itu sebagai bahan taruhan. “Menurutmu, berapa banyak batang kayu yang bisa dia potong hari ini? Tebakan paling tepat akan mendapat sebungkus rokok,” kita tidak peduli kaki rantingnya nyaris terseok akar menyeruak. Mana mungkin kita ambil pusing? Toh, dia sendiri yang mengumpankan diri. Persetan, sekalipun kuku Anna patah oleh benturan kapak. Masa bodo meski matanya meradang karena tertancap serpih dahan.


Kita punya kuasa di atas jati diri labil si bocah ingusan, mencekoki Anna dengan tabiat yang lemah akan tertindas. Dia tidak paham jika tengah terjebak siasat menyimpang. Abai akan fakta bahwa senakal apapun Anna, di balik netra itu tetap ada sulur keraguan. Anna tampak bimbang ketika kelinci dalam genggamnya menggeliat takut. Bila sang tunas muda pada dasarnya tidak ditopang pengetahuan mumpuni. Acuh walau tubuh kecil Anna sulit mengikuti permainan kami.


Kami pikir, kehadiran Anna adalah pelampiasan semata. Biar tidak jengah mengurus panti dan tenggelam oleh rasa bosan. Nahas, roda nasib kita tidak berputar di satu poros yang sama. Kalian tahu, kan? Anak-anak adalah fotokopi terbaik dari orang dewasa. Ibarat kata, mereka cermin dengan kejutan tak terduga.


Anna memproses semua permainan kita jadi tabiat bengal. Sifatnya meledak dengan kebrutalan. Lewati batas lumrah atas tindak kenakalan wajar bocah sebaya. Sebuah bentuk pertahanan diri Anna atas hukum rimba. Anna hanya mengerti jika dirinya tidak boleh terlihat lemah. Sehingga, tingkah gadis cilik itu mengusung konflik tiada reda. 


Histeria tangis memecah keheningan malam. Anak panti tersedu-sedan gelisah. Prahara datang seperti getah parasit. Kalian pikir, sudah berapa kali kesabaran di dada kami raib? Tak terhingga. “Anna pasti berulah,” derap kaki kami berlari panik selaras mendobrak pintu kamar.


Bukan main bikin ubun-ubun meledak. Reka adegan tidak etis jadi sambutan kurang ajar. Ketika engsel kenop berderit, kita mendelik naik pitam dengan asap panas melebur di puncak kepala. Cacat moral berujung reka adegan leceh, ternyata Anna sedang bermain dengan gagang senjata. Mengusung belai cabul pada liang genitalnya. 


“Ini tidak bisa ditolerir lagi. Anna terlalu nakal. Dia mengusik kedamaian panti. Pekerjaan kita jadi semakin berat,” berbagai taktik telah kita lakoni untuk sembunyikan senjata Anna. Entah bagaimana caranya, logam tajam itu akan berpulang kembali pada genggam si bocah biadab. Ini namanya derita, kerja ekstra gara-gara satu pelaku binal. Kita berakhir tenangkan anak panti lain hingga larut. Jangan tanya, kantung mata kami terlihat seperti bekas lumuran tinta hitam. 


“Saat aku tegur, dia malah melontarkan sumpah serapah. Mulutnya benar-benar laknat. Sialan,” kami tepuk jidat, kewalahan mengatasi masalah Anna yang bebal dari petuah. Padahal, rusaknya lisan Anna termasuk rekaman umpatan kami yang sering dia dengar. Sentilan nasihat pun tidak mempan bagi Anna. Masuk kuping kanan, keluar telinga kiri. Sama saja nihil. 


“Justru bagus dong kalau Anna jadi nakal. Berarti kita punya bahan hiburan,” sebagian dari kami tertawa, menikmati kemelut panti. Tidak ada satu hari tanpa pekik gelagapan. Tidak pula satu hari tanpa geger belingsatan dari seluruh sudut panti.


Pernah, serumpun dermawan bertandang hadir membawa parsel mainan. Sebelum ketiban nasib apes, kita lekas mengurung Anna terkunci pada kamar paling ujung. Kami pikir, dengan cara itu semuanya beres dan berjalan mulus. Dengan harap citra panti tidak tercoreng, biar satu hari ini saja Anna sirna dari pandangan. Lain cerita di ambang petang ketika kami usai menjamu para dermawan. Rasanya buntung lebih berpihak ketimbang untung. Karena Anna hilang di balik pintu yang terbelalang melompong.



“Anna masih belum kembali?” sendyakala berjumbai terlukis pada hamparan langit. Seiring ufuk terbenam di balik pelukan gunung. Pergantian waktu kerja kami juga mulai bergulir. Kita berkutat dengan kesibukan panti. Sebagian dari kami berinisiatif mencari Anna. Derap hening menyusuri jalanan belukar dalam kaki hutan. Kami tetap bungkam selaras tepi netra memotret siluet Anna dari atas pohon. 


Gadis itu duduk pada dahan kokoh, merangkul satu lutut ditekuk jadi topangan dagu. Tanpa alas kaki seperti seorang Anna dengan segala jejak liarnya. Namun, ada satu hal yang membuat kami agak tertegun. Tentang bagaimana cahaya kelereng Anna tak bergolak buas. Bingkai pandangan bocah itu luruh laksana bias merah senja layu. Anna beristirahat dari lagak 'berusaha-terlihat-kuat' di luar kenakalannya. Dersik rimbun pepohonan mengitari tubuh mungil si bocah. Ibarat manifestasi sentuhan teduh untuk pundak ringkih Anna.


Retina kami menangkap satu badan senjata, sebuah machete. Tertancap pada batang dahan di sisi Anna layak teman yang bersanding. Bilah logam itu berkarat dan lusuh tanpa pancaran kilau. Seperti Anna tanpa pendar bahagia, metafora bahwa Anna sudah lelah mengikuti kemauan orang-orang di sekitarnya. “Mungkin dia butuh waktu sendiri. Ayo kita pergi,” bisik kami meninggalkan Anna larut dengan dunianya sendiri.


Dunia di mana mimpi-mimpi Anna menggantung mustahil. Tentang imaji bilamana dirinya tumbuh pada situasi yang berbeda. Situasi di mana privasinya lebih dihargai. Situasi tatkala orang-orang memberi validasi atas kepribadian. Mengayomi personalitas Anna sebagai anak kecil. Bukan tempat penuh desakan tindas-menindas. Bukan pula tempat yang mengelu-elukan kemahiran di atas karakter pribadi. Lamun Anna melayang bersama bayang semu, jika mungkin ia bisa menggali versi dirinya yang lebih damai dalam situasi tersebut.


Begitulah kota kecil isi kepala Anna yang tidak akan sanggup kami pahami. Tetapi kami yakin, Anna akan dipertemukan dengan dunia baru versinya sendiri. Kehendak takdir tidak akan berbohong. Tepat ketika sepasang suami-istri mengulurkan tangan untuk Anna. Saat itu pula, kami percaya jika Anna telah pulang pada rumah yang pernah dia impikan.



✧ ✧ ✧



END.





Commission Story Written by LIN

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page