Elegi Api
- LIN
- May 23
- 28 min read

Prologue :
Tolong tarik napas untuk sejenak menggali nyali, sebab aksara ini tercipta dari ukiran
abu pendosa menjadi selembar elegi. Takutnya kamu malah ikut tewas di tangan tuan Feruci. Kemari sebentar, aku ajak menyelami kisah-kasih malaikat bergelimang kesombongan bagi taman surgawi. Dia yang tubuhnya terbungkus kerak api, Lucifer pangkal mati. Abadi dalam neraka tanpa perputaran matahari. Namun kehendak bergelut dengan rasa bosan mulai menjalar pada skenario fana bumi. Jika Lucifer menampakkan wujud sebagai manusia di antara tali reinkarnasi. Apa mungkin kamu juga akan terjebak
perangai putra si penjual roti?
───────────────────────

CHAPTER I: "FELIX CARÊME: TALI REINKARNASI"
Semerbak legit karamel leleh mengetuk hidung bangir bayi laki-laki. Lekuk daun telinga apik terbingkai paras rupawan. Celoteh halus ‘baa‐baa-baa’ menguar lepas seperti rayuan wangi susu. Tubuh mungil itu ditimang-timang sayang. Ia tampak bak gumpalan kapas tenggelam di antara lengan kokoh sang ayah. Utas jenama ‘Felix Carême’ bergema samar dari mulut wanita yang mengecup keningnya hati-hati.
Siulan uap hangat mendarat ke pipi Felix. “Oh, tungku pandai besi kesatria militer Jepang? Apakah aku terlahir sebagai putra seorang Samurai lagi?” monolog batin terbilas sandiwara layak tindak-tanduk bayi agar tak menjemput curiga.
“Bukan, uapnya tidak sebanding dengan asap pahit bara api untuk melebur logam hitam katana. Kepulan ini membawa harum huckleberry pie. Mirip yang pernah aku santap ketika dibesarkan oleh bangsawan Eropa,” ayunan jari-jemari gembil Felix menjejaki pahat rupa ibunda. Ada juntai bekas adonan mengering pada pipi sang puan.
“Manis,” sembari menjilat ujung telunjuk, buih aroma gurih mentega melayang di udara. Pendar jendela kerling belo Felix menangkap potret anak adam dan hawa dengan apron bernoda selai merah.
“Ah, begitu ya. Kali ini sepasang penjual roti,” kaki Felix menendang lugu angin kosong, jempol bulat sepucuk kacang kedelai dibilas ciuman kupu-kupu.
Aduh, gemasnya lebih dari kadar gula. Narator dan pirsawan baca pasti sudah luluh terlena. Apalagi pipi Felix tumpah ruah merona! Tapi jangan salah sangka. Bayi lugu ini pemilik singgasana neraka.
Helel Ben Shahar, menjawat julukan Morning Star. Kamu juga bisa sebut sebagai Lucifer. Siapa gerangan yang tidak mengenalnya di setiap perkamen kegelapan? Kompas jiwa Lucifer terbit dari balik lumbung jelaga kematian. Kini ia bersemayam dalam raga fana untuk ke sekian kali. Sukma Felix Carême tak lekang oleh residu jejak lintas kehidupan masa lampau. Rak ingatannya masih tertata rapi. Sejak ia mengais gerbang napas di atas panggung dunia, tiada sepenggal rumpang pada bilik memori arkais.
Syaraf bayi Felix masih terlalu ringkih untuk sinkron merespon motorik fisik. Otoritasnya tetap dibekuk batasan biologis. Lagi pula, topeng tipu daya Felix akan hambar bila terlalu dangkal menyusun alur. Kendatipun ia sanggup menggeluti gagang pena di usia satu tahun. Atau mengeja abjad resep kue jahe pada nakas dapur orang tuanya dengan gusi tanpa gigi.
Lantas jika itu terlaksana, apa yang Felix harapkan? Haus pengakuan? Halah, sudah bosan. Krisis perhatian? Armada iblis nerakanya bahkan lebih dari ribuan!
Jalan bercabang terdengar penuh tantangan ulung. Daripada harus berpijak di tengah arus monoton yang berakhir tanpa cita rasa. Biar asam garam roda kehidupan mengalir dengan sendirinya. Adrenalin giras pada denyut nadi akan terasa lebih nikmat, bukan? Segala konsep keterbatasan elok buruk dan busuk hanyir hukum pribumi memuaskan dahaga. Ketika jantung berdampung riuh di tengah pasang-surut nasib, di situlah kobaran gelora api mengganas pada setiap aliran darah Felix. Dia ingin menikmati hikayat hidup tanpa aksi culas.
“Benang-benang surainya mengingatkan aku akan awan biru. Seolah dia adalah penghuni langit,” tangan pria itu bergulir di atas garis samar kulit kepala Felix, butiran tepung gandum terjatuh lembut menghujani celah anak rambut.
Sorot teduh ibunda menyingkap cinta, dia terlalu hanyut dalam wadah kelereng obsidian makhluk mungilnya. “Mungkin surga sengaja menerbangkan Felix sebagai buah hati kita. Iya kan, malaikat kecil ibu?” tutur puan disambut cekikik gemas putra semata wayang.
Nahas, mereka tidak sadar jika kepalan tangan Felix dijerat rantai reinkarnasi. Bila tak semua tunas nyawa yang tumbuh di atas bumi hadir dari taman surgawi. Karena bendungan ego seorang malaikat tamak menjalar bangkit dari rahim sulur api.
✧ ✧ ✧

Dinding tebal ruang kelas menelan gumun kagum teman sebaya Felix Carême, bocah dua belas tahun yang namanya terukir di antara barisan papan atas nilai ujian. Menara sekolah ditilik seperti hierarki strata sosial. Ilmu adalah hidangan mewah tak terbayar, mengenyam bangku pendidikan saat itu ibarat untung sabut bagi Felix.
Citra ‘putra si penjual roti dengan segudang prestasi’ adalah gita klasik yang bertebaran. Nasib mujur Felix bukan sebuah ambisi, dia justru fokus melebarkan sayap relasi. Bertemu banyak pribadi dan merangkul sejawat tanpa ragu. Kiprah Felix berkecimpung dengan khalayak sejak dini untuk mengeruk jati diri belum berhenti. Alih-alih buang waktu pada hari kemarin yang telah pupus, Felix melempar jaring koneksi untuk takdir esok yang belum lahir.
Supaya perdebatan dilema tentang: “Jadi apa ya nanti setelah dewasa?” tidak berakhir sia-sia. Tema kehidupan Felix masih diselimuti kabut tanda tanya.
“Eh, pangeran cilik sudah pulang rupanya? Ibu pikir hari ini ada kelas tambahan,” kemilap kuas kuning telur menyapu permukaan kulit roti. Suara derap kaki putra sulungnya menyita interupsi.
Tetek bengek akademis beres tanpa repot stress. Tumpukan angka matematika penuh barikade akar kuadrat yang bikin keringat dingin? Bubar barisan sekejap kedip mata. Tiga paragraf soal naratif cikal-bakal pusing tujuh keliling? Aman tanpa jejak migrain. Pekerjaan rumah dari sekolah bisa dilahap bablas.
Tiada keluh sampai melepuh.
Apalagi resah kepalang gerah.
Embusan napas menggantung lisan 'O' sebelum ia ikut berkutat di belakang meja dapur. “Itu tadi tugasku selesai dikumpulkan paling pertama. Jadi boleh langsung pulang,” cetusnya enteng, mengangkat wadah pengaduk nyaris oleng. Membantu orang tua sudah jadi lagu lawas penenun teladan di tengah waktu senggang Felix.
“Pinter banget dong anak ibu satu ini,” langkah sigap sang puan beradu menahan lengan ranting Felix. “Hati-hati ya, sayang.”
Padahal kalau mau bikin loyang melayang juga semudah jentikan jari. Tapi jangan salah kaprah, tidak ada sihir hinggap di pucuk trisula garpu. Bukan pula terselip rapalan mantra di antara hujan mutiara gula pada kawah adonan. Felix enggan terlalu banyak bergantung dengan sentuhan magis. Seperti kompetisi tanpa jalan pintas, konsep permainan hidup di setiap batasan ini yang menjadi hiburan.
“Tadaaa, sudah jadi! Lihat nih roti buatan Felix,” katun tebal melapisi telapak, tangan bertumpu menarik tepi loyang persegi keluar dari bibir oven. Ruah rekah saturasi cokelat keemasan roti Italia ‘focaccia dolce’ tersaji lezat.
Tepukan bangga ayahnya menyambut puncak kepala dari belakang. “Tingkat kematangan pas. Tekstur juga sempurna. Hebat betul, sih? Putra siapa dulu coba?”
Dada membusung tegap. Gosokan dagu terpatri percaya diri. “Pastinya putra kesayangan ayah dan ibu,” biar riang dalam topeng sederhana Felix yang mengambil peran. Monopoli kali ini mendayung arus tanpa beban.
Sekarang, ke mana kamu akan pergi dengan dua kaki tangan tak berbekas noda? Suci sekali di ujung lembar wacana. Jangan angkat kaki begitu saja. Nanti tersandung muslihat iblis di depan sana. Masih ada buntut cerita yang menunggu kita.
✧ ✧ ✧

Peta relasi Felix kian menjamur dari satu kelas ke seantero lingkup kawan bangku sekolah. Hingga suatu ketika tak terduga, gembar-gembor sayembara kue ulang tahun terlecut oleh buah bibir putra tunggal pemilik tanah dermaga. Rambutnya klimis ampun, lalat hendak hinggap pun terpeleset was-was. “Kalau menang bisa bikin kaya tujuh turunan, lho!” kedamaian pagi runtuh oleh gelegar suara dramatis.
“Terus terus, apalagi?” pupil Felix bergerak runtut, merekam dasi licin teman sebaya yang lebih silau daripada pantulan lonceng.
“Ssst. Sini Felix. Mendekatlah,” si penggagas tajir mengais kibasan tangan, bibir menjorok maju dengan jarak terkikis lamban. Telapak mengurung sisi daun telinga putra penjual roti. “Papaku bilang kandidat juara bakal jadi bintang tabloid kota. Dan, uh... apa sih? Itu, pasti namanya melejit karena dapat sorotan utama. Mirip-mirip pusat parkiran gitu deh,” bisiknya terbawa sepoi dahan taman belakang.
“Pusat perhatian,” celetuk Felix meralat frasa, diam-diam ada dialog tunggal dalam lubuk hati. “Dasar nepo baby dungu.”
“Nah, iya tuh! Pusat perhatian,” sundulan siku bertumpu di pundak. Detik ke depan, surai kebiruan Felix sudah menegang kaku mirip kincir angin. “Rambutmu kok berdiri semua. Kena setrum petir dari mana?” garis-garis celah giginya diranggas hitam keropos.
“Tidak ada. Ini namanya respon antusias,” relung Felix meregang sempit, kembang-kempis di ujung helaan kronis. Bagaimana tidak? Bau mulut pentolan berduit melintir itu mirip selokan busuk.
“Aku—” jeda wacana. Kerongkongan Felix sesak terbatuk singkat. “Aku harus pergi. Ayah dan ibu sudah menunggu,” pangkasnya menutup bincang, langsung terbirit tidak tanggung-tanggung.
“Aneh,” gerugut bocah yang mengeluarkan sekepal permen mahal. Ketika buntalan kristal sirup beku tersebut menggelinding di atas lidah. Tiba-tiba pita suaranya terjepit rasa gatal. Hitungan jari kemudian, bahu ikut tersentak ke atas dikawal tubuh berjengit terlonjak. “Hiccup!” kelopak melebar, ia terbelalak kalut setiap sirkulasi napas berubah putus-putus.
Sekali saja Felix bercanda dengan sihir yang bikin meringis. Dia bilang supaya akhir pertemuan hari ini sedikit humoris.
Ayo cepat bersiap pakai apron. Kalau perlu bawa lilin paling unik yang pucuk apinya tidak pernah padam. Kita angkat kaki untuk terlibat sayembara yang sudah menanti di lembar berikutnya.
✧ ✧ ✧

Gegap gempita menyelimuti gelanggang sayembara. Ribuan langkah kaki beradu terbuai harum rupa-rupa kue ulang tahun tersuguh memesona. Bangku penonton dibalur bising yang menembus suasana terik tengah kota.
Partisipan dari toko roti ternama sebuah pemukiman elit menjamu sambut langkah juri, dagu terangkat congkak. Kue ulang tahun buatannya seperti sinar cerlang menyakitkan mata. Berlian tidak masuk akal terbenam di puncak, ada butiran intan mengkilap norak.
“Tuan! Aku persembahkan menara tart berkelas yang akan membuai seluruh penjuru hadirin ulang tahunmu. Bukankah parutan emas ini lebih istimewa dari keju mu... rahan— errr,” ekor dialognya luruh. Garuk tengkuk mengupas kikuk. Ia terkecam bungkam saat wajah kecut juri tak berpaling barang satu detik terkesima. Bagai budak sapu ingus, alhasil dia tertimbun malu.
Kepakan sayap anak dara menggilas waktu tatkala petak langkah juri bertuan ke meja paling ujung. Pancawarna biru menarik atensi, krim lembut dengan pola awan manis terduduk di sepanjang tepi dinding roti. Kue itu tampak seperti taman langit berpilar astor putih. Seakan menarik tanganmu tenggelam bersama kelembutan hati. Sehingga harapan bajik perihal tambatan usia melambung tinggi terkabul sampai angkasa.
Paruh baya yang menyandang titel Maestro Fornaio (ahli roti) terpaku oleh kue ciamik keluarga Carême. Angguk tipis disusul gerakan kumis melengkung flamboyan, punggung bungkuk pria itu berlalu pergi di penghujung detik babak penentuan. Felix dan kedua orang tuanya menunduk segan.
Atmosfer menipis di bawah kacamata intimidasi para juri. Semarak sayembara kian redup. Peluh kontestan tergelincir payah seiring tinta merah menari di atas lembar penilaian. Ambisi optimis jajaran kandidat mulai goyah, tumit mereka mati rasa, serpih gigitan kuku terseret embusan gelisah. Detak-detik kisik sayup opini antar juri menobatkan juara bergulir lambat.
Derit pijakan mimbar memancing bulu kuduk berdiri, tangga nada pria pemuka ajang bergengsi ini terlontar nyalang. “Apresiasi terhormat bagi perjuangan kalian yang telah berusaha dengan segenap hati. Kini para dewan juri telah menentukan yang terbaik dari barisan kue pilihan.”
Perut tambun menonjol kencang, ikat pinggang itu tampak kewalahan, berjubel oksigen ia telan bulat-bulat. “Maka, pemenang sayembara jatuh kepada...”
Hening.
Jarum jam tak bergeming.
Kilat blitz meledak serentak seperti guntur di siang bolong. Cahaya putih mencuri potret keluarga Felix. Hujan kelopak bunga bersarang di atas kepala. Tepuk tangan gempar bertemu sorak gebyar juara memekak telinga. “Pemenang sayembara jatuh kepada... Carême's Bakery!” lengking disusul senggak heboh.
Buncah euforia meradang hebat, jantung ayah dan ibu nyaris melompat kabur. Felix menganga terkesiap, tali ekor kuda surainya ikut melorot kendur. “S-serius? Kita menang?”
“Felix! Serius, sayang. Kita menang!” ibunda menggiring pelupuk haru. Dekap mengurung tubuh Felix begitu erat. Bahkan tak terbesit dalam benak orang tua Felix, perihal toko roti sederhana mereka bisa melampaui kontestan termasyhur. Angan bunga tidur itu sekarang menjadi realita di depan mata kepala.
Bahagia mengantar kepulangan Carême's Bakery, keluarga Felix mengemban citra figur juara sayembara dan mengantongi imbalan fantastis. Bingkai foto mereka terpampang di halaman depan tabloid kota. Tersemat tajuk sensasional hiperbola yang sontak mengundang arus peluang baru.

✧ ✧ ✧

CHAPTER II: "JOKER THE REAPER"
Lonjakan reputasi drastis pasca sayembara mendongkrak pintu kementakan finansial. Kualitas lezat Carême's Bakery menggugah candu. Sensasi nikmat irisan bantal roti yang hanyut dalam mulut menggoda minat pelanggan. Bata toko yang mulanya telanjang, kini telah dibelai lapisan cat kalis. Kanopi usang terganti atap elegan dengan sentuhan artistik. Label Carême's Bakery menarik prospek kerja sama dari berbagai arah bisnis, entah itu berusaha meraup eksploitasi sepihak. Atau bahkan sengaja jadi benalu ‘aji mumpung’ ketenaran.
Nahas, hari sial tidak ada di kalender. Prahara akan selalu hadir di puncak gemilang. Carême's Bakery ketiban buntung kasus pencurian. Bukan satu dua hitungan jari toko dibobol. Alhasil, instansi setempat kerap melakukan patroli area. Namun, getah dari masalah ini justru diperkeruh pungutan dana atas nama ‘jaminan keamanan’.
Para biang keladi berseragam kerap membangun kedok secara halus. Tangga nadanya dibuat-buat lebay mirip sinetron bualan. “Begini, nyonya. Administrasi berkas kasus acap kali terkendala. Jadi... ekhem.”
Lipatan dahi mengerut serius. “Dana jaminan keamanan pasti mempercepat efisiensi proses laporan. Kasus pencurian toko nyonya akan lebih diprioritaskan dalam kurun waktu singkat,” paparnya memelintir diksi alibi.
Mau tidak mau, ibunda merogoh kantong pribadi. “Saya harap pelaku lekas diringkus,” ayunan tangan terulur menyerahkan beberapa lembar uang. Dan Felix bersumpah, aroma sangit pendosa menguar dari tubuh para insan kolot itu.
‘Fulus’ tergenggam, semringah pula langsung bersemayam. “Aman saja, nyonya Carême! Kita akan mencari tersangka bajingan.”
Wacana kita sebentar lagi hendak mengupas fakta. Tentang mereka yang mencoreng wadah kejujuran dengan noda dusta.
✧ ✧ ✧

Menginjak usia remaja, intuisi Felix menyergap curiga. Tumbuh prasangka sangsi atas aparat yang merenggut hak-hak manusiawi sebelah mata.
Para sontoloyo dengan embel-embel ‘tameng negara’ kembali unjuk gigi. Frekuensi kasus pencurian belum kunjung reda. Petang itu, dersik pijak Felix mengendap di balik pilar toko. Sementara, jari-jemari berkutat dengan pola lipatan imitasi burung dari origami. Mulutnya menganga, lantas tiupan serbuk abu terbalut butir pekat berlabuh melambai. Kerlip dari telapak tangan sang iblis sekejap bersalin menyerupai bibit api. Siulan angin datang bergumul mengitari secarik origami. Detik ke depan, timbul sebuah detak, pula tumbuh larik-larik bulu kelam secara ajaib.
Seekor gagak sepekat warna kayu eboni.
“Lacak mobil mereka pergi,” titah Felix jauh dari intonasi bercanda. Rahang mengeras kaku, pula sebuah gejolak amarah bangkit dari setiap tekanan kata.
Sayap legam terbentang gagah di puncak tarikan udara, menggelepar naik hingga terbang begitu tinggi menembus angin. Radar penglihatan Felix punya strategi mirip cermin dua arah. Lensa pupilnya ‘reflektif’ layak konsep panel kaca. Sehingga, apa yang disaksikan gagak utusannya, otomatis akan terpantul di depan kelereng netra Felix sebagai pemandangan nyata.
Benar saja, titik jumpa golongan berseragam mendekam pada markas terpencil. Ban mobil berhenti setelah menempuh jarak jauh dari hiruk-pikuk kota. Tidak lama kemudian, gerombolan pria bau arak ikut menyambut batang hidung mereka. Firasat Felix belakangan tidak keliru. Sindikat pencuri toko roti keluarganya ternyata bersekongkol dengan instansi aparat. Senda gurau dedengkot lapuk berlencana tersebut jelas diliputi gema tawa kepala-kepala maling brengsek.
“Jadi, kalian ingin menantang maut di depan penguasa neraka?” sejak saat itu, satu per satu wajah bejat mereka menggenang dalam ingatan Felix bagai sayatan murka. Hingga jingga petang terbenam menelan jelaga. Tendensi kriminal muncul sebagai jelma dendam angkara.
✧ ✧ ✧

Purnama bersembunyi di balik sarang kabut. Dengkur malam larut termakan kengerian. Coba dengar gelitik decit di atas payung cerobong asap toko roti. Usahakan langkahmu tak bersua, tetap tenang dan siaga. Fokus ke arah perapian dapur Carême's Bakery yang sudah padam. Utas tali tunggal menggantung dari atas, serat-serat kokoh tampak bergoyang oleh beban berat. Adegan berikutnya, sepasang kaki turun mengikuti lajur tali sepanjang lorong vertikal lubang cerobong asap. Beban tubuh mendarat sempurna ke dalam hunian Felix.
Awas, pencuri ulung datang menjarah. Aksi cerdik beringsut menyabet barang berharga, tak luput pula asal geledah brankas. Gali-gali uang di balik tumpukan resep, main rampas harta benda. Karung hasil gondolan dipukul ke pundak. Moral pupus bersama tamak. Si bajing tengil pergi meninggalkan tempat tanpa rasa bersalah mencekik. Akal bulus awak rampok kini memanjat tali, keluar dari lorong cerobong asap. Tumit berpijak terbirit ke loncat ke sisi atap, batang tubuh cungkring itu berhasil kabur.
Kakinya tunggang-langgang membuka badan pintu sedan bobrok yang terparkir di area gang sepi. Deru mesin rewel memancing amarah, setir digepuk kasar, pedal berkali-kali terinjak hingga jempol kuku ikut menusuk sepatu. Sesaat hening ketika tepi netra melirik spion, gelumat berisik semak belukar pinggir jalan memecah insting naluriah. “Mungkin cuma perasaanku saja?” kemudian, tidak lama ekor kucing hitam terjulur keluar. Dia mendesah lega.
Roda pun bergulir dengan knalpot yang terbatuk nyaris rontok. Sontak, dia tancap gas langsung amblas mendobrak keheningan malam. Di tengah laju perjalanan, rasa gatal meriap dari pangkal tenggorokan. Partikel debu bekas arang cerobong asap lenyap mengendap dalam saluran napas. Ada suara ‘achooo’ yang tak tertahan. “Toko roti sialan,” malang melintang, lisan tertelan letupan bersin menggaruk gelitik sirkulasi udara, lagi dan lagi.
“Apa yang terjadi dengan debu-debu arang ini?!” kepalang panik dalam hitungan detik, kemelut asap keluar dari lubang hidung. Percik bak bintik-bintik kembang api merilis kejutan gila di setiap runtutan bersin yang lolos tanpa jeda. Sensasi panas menggaruk sepanjang garis kerongkongan, pedih dan anyir. Debu arang itu lebih tajam dari bubuk mesiu.
Juntai api merayap dari tulang ekor ke tengkuk. Konsen hirap, hilir nyali meregang patah ketika hawa kehadiran tak kasat mata seolah mengurung bangku belakang. Pupil gemetar menyisir kaca spion. Bias siluet figur pemuda misterius mekar di balik temaram. Wajahnya terbenam bersama bayang-bayang lentera yang mengintip masuk ke celah jendela. Tajam dan berbahaya.
Jerit derita pecah, nyali ciut ketika sentuhan dingin pucuk kuku sosok kelam menekan urat nadi lehernya. “Menghirup serbuk neraka adalah seni kematian yang indah, kamu tahu itu?” desis rendah setipis sayup angin menyulut bulu kuduk berdiri.
Felix Carême adalah ancaman.
Eksistensinya hadir dari tirai kegelapan.
“Berhenti, atau— a-aku akan... membunuhmu!” gagap menyertai lisan runyam di ujung tanduk akhir hayat. Belati terulur dengan genggam tremor konyol.
Sudut bibir Felix terangkat culas, pijar sihir berpendar di pucuk telunjuk. “Oh, wow? Membunuhku?” satu jentik jari, satu maut meregang nyawa.
Gema raung miris rampok bapuk merobek sunyi. Pinta ampun melolong ironis. Partikel hitam debu kian meradang, berubah layak sulur kobaran ganas. Epidermis bajing tengik menyusut sangit secepat cahaya, setir kemudi dibanting. Bumper bobrok ini menabrak tiang listrik, lidah api menjalar naik ke badan tiang di bawah kendali mistik dari rapal magis Felix. Gardu ambruk menimpa atap sedan hingga ringsek, ledakan terjadi.
Sebelum huru-hara menyita atensi. Ia menghapus jejak eksistensi. Jengkal tubuh Felix hirap berhamburan seperti kepingan mozaik ilusi.
✧ ✧ ✧

Gugur daun mengiringi geger pagi. Insiden tewasnya cecunguk komplotan menggalang asumsi liar para dalang berseragam dan sekutu preman. Mereka saling lempar tatap sinis, mengawasi toko roti keluarga Felix dengan tempo ambigu, berseliweran maju-mundur ragu-ragu. Kasus ini terlalu riskan bila terpampang media sebagai utas pembelaan. Dalam tanda kutip, ‘korban termasuk saku antek-antek pihak berwajib’. Otomatis jika mengambang di permukaan publik, intuisi jelih masyarakat pasti mengendus motif buntut pencurian belakangan ini.
Alhasil, konklusi palsu mengelabuhi desas-desus warga. Pihak berwajib mengusut rekayasa manipulatif dengan dalih kecelakaan tunggal. “Pria ini mengemudi di bawah pengaruh alkohol sehingga hilang kendali. Terjadi tabrakan fatal dan gardu ambruk karena guncangan hebat badan mobil. Faktor ledakan disulut oleh bocornya tangki bensin,” tiada sepatah pembelaan. Hanya sebatas berita kaleng di balik bungkam tipu daya.
Praduga nihil pihak berwajib tak berdasar barang bukti. Bahkan tidak tersisa jejak sidik jari. Felix lolos secara utuh tanpa kecacatan aksi. Tahu jika alibi magisnya jadi jalan pintas pengelakan borgol jeruji, intrik negatif Felix timbul guna menyulut konspirasi. Biar pihak berwajib kalang-kabut mencari solusi.
Waktu bergulir, rotasi matahari menggelinding di ujung musim dalam kurun waktu singkat. Sepak terjang kriminalitas Felix terlecut piawai, skenario pencurian sengaja dilakoni dari satu atap toko ke hunian lain. Tidak pandang bulu merebak hingga sudut-sudut pemukiman. Sepele bagi Felix untuk menyelundup di antara bayang-bayang malam. Jejak Felix tak terendus aroma barang sekilas tiupan angin, anjing pelacak pun berakhir seperti macan tanpa taring, tidak berguna.
Puncak keresahan warga meledak saat riwayat musim dingin menghujani jagat raya, ketika kristal salju berhamburan pada kanvas jalan bata. Pencuri ini seribu kali lebih cerdik dari akal kancil. Tidak ada bekas cap sepatu di atas gumpal-gumpal putih yang tertangkap mata kepala manusia, bersih tanpa celah.
Jelas bukan lawan sepadan. Bayangkan saja trik sihir bersanding dengan akal cetek aparat negara yang lupa daratan.
Maraknya kasus perampokan berujung kisruh, berkas laporan menggunung kacau. Otak senior kepala plontos komandan aparat sempat mengawal interogasi di balik dinding markas. “Katakan, siapa yang ikut merecoki aksi penjarahan toko tanpa perintahku?”
Benang perdebatan mereka tidak menemukan titik terang, satu per satu anak buahnya enggan menyampaikan pengakuan. “Bos. Aku tidak pernah sembrono mengutil harta benda di luar arahan,” titah begundal yang menyipit bingung. Mimik muka diguyur keringat heran.
“Toh, kedok kita juga riskan terkuak kalau asal beraksi tanpa instruksi. Apalagi main colong toko orang sebelum ada aba-aba,” timpal rekan sepermainan yang ikut menggulung tanda tanya besar.
Pasalnya, surat kabar ikut andil melansir gosip sarkas dengan narasi satir yang mendesak pihak berwenang. Rumor panas kasus ini jadi ‘selentingan tajam’ sampai ke batang kalam sindaco (walikota). Somasi pun terbit sebagai teguran tertulis.
Gebrak nyalang menghardik emosi, komandan beruban itu mencabik-cabik berkas kasus. “Brengsek,” seluk pikiran digerogoti jengkel. Realisasi investigasi mustahil terlaksana bila warga tidak kondusif, tentu insting mereka lebih siaga mengendus subjek janggal. Bisa-bisa malah jadi boomerang, kemungkinan paling buruk justru instansi keamanan sendiri yang tertindih mala bahaya. Persekutuan busuk mereka akan tersingkap.
Belum surut pening. Dalam hitungan menit, panggilan darurat mengutus komandan turun ke wilayah pemukiman setempat. Laju cepat pedal gas menggilas waktu. Dia pergi tergopoh-gopoh dan gelombang masa telah berpadu sigap, menghadang jalan di setiap tikungan. Warga menuntut pihak berwajib. “Berantas habis gembong kriminal yang merampas ketenangan kami! Gelandang tersangka pencurian ke dalam bui!” wajah lusuh seorang renta angkat bicara.
Benggolan jidat pihak berwajib terkesiap, ekspresi sepah menenggak gertakan warga. Impresi mereka dihimpit desakan kiri-kanan. “Harap tenang! Kasus ini sedang ditinjau—” frasanya mengawang tercegat gonggongan protes.
Salju bersarang pada rambut ikal pihak berwajib yang kepalang frustrasi. Riuh rendah amukan warga menutup jumpa di balik kaca hitam sirene aparat. Kepul pekat knalpot mobil kontras dengan hujan salju ketika pelat mereka dilempari kayu bakar. Felix diam-diam meniup upik abu dari bongkahan oak yang tergeletak di sisi tong sampah.
Dalam genangan hening tatkala kaki-kaki warga bubar mengurung diri waspada di dalam atap rumah, kupu-kupu bagai bara si jago merah timbul dari perapian bekas unjuk rasa. Percik samar menyibak atmosfer beku. Melandai jauh hingga terbawa arus udara bebas, makhluk kecil itu hinggap dan bermuara di antara ranting markas para aparat. Merekam semua bilik obrolan tanpa setengah kata terkikis luput.
Kolusi penjeblosan para pencuri dalam bui sampai ke liang rungu Felix. Skema gadungan para bajing berseragam akan menjarah rekan komplotan, seolah mereka berhasil diringkus total. Lantas dalam kurun tujuh hari, jerat hukum dicabut bebas dari sangkar jeruji. Skenario dengan dalih ‘para narapidana kabur ke luar negeri’ akan mengangkat tajuk utama alibi.
Kikik geli Felix merambat dalam relung. Kepalanya menengadah lamban, gigil beku napas mengudara di antara benturan atmosfer putih. “Wacana remeh. Aku bisa mengantar kalian bebas dari jeruji bui ke dalam gerbang ajal,” monolog beradu selaras sayap kupu-kupu pada ranting halaman markas target terkelupas bak ilalang ringkih. Butiran percik api yang dilibas tarian angin menjelma masuk di antara hisapan batang nikotin mereka. Puntung rokok para berandal bangsat itu jadi senjata makan tuan, ibarat kompas arah bagi Felix, dengan mudah ia mengetahui lokasi rutan para sindikat yang hendak melancarkan drama.
Sejenak henti di pucuk laman. Harap mawas diri sebab aksi Felix akan menggilas kematian. Bagaimana mungkin kamu lolos dari genggam penguasa neraka tanpa jeritan? Bahkan gembok tahanan akan lebur menjadi akhir kekalahan.
✧ ✧ ✧

Pojok berita bulan Desember diguncang penangkapan enam tersangka biang pencurian. Berbagai stasiun radio, kancah media, dan gulungan warta menyiarkan ketangkasan pihak berwajib atas aksi gesit pencidukan gembong rampok. “Putusan telah disahkan. Para tersangka akan dijatuhi vonis penjara,” kutip kepala perwira. Upaya ini tak ayal cukup jitu membungkam orasi warga serentak. Kebisingan redam walaupun sebenarnya mereka masih terbelenggu resah.
Dalam kamus Helel Ben Shahar, bentuk penghakiman murni pendusta adalah bayaran nyawa. Sang iblis tidak menjanjikan surga. Apalagi ampunan belas kasih manusia. Ketika jam pasir pada sudut nakas kamar Felix Carême mendesis surut, saat itu pula denyut nadi menggebu luar biasa. Kuku-kukunya dibelai api, helai surai Felix berkibar membaur dengan layang beku penghujung tahun.
Penumbra biru berdansa di balik sayatan angin, hantaman telapak kaki Felix menerjang bumiraya. Figurnya terselip lincah bertuan pada gerbang rutan. Adegan ini membendung napas, gerak-gerik pemuda itu lucut dari sorot mercusuar tanah area tahanan. Tengkuk seorang sipir dibekuk lumpuh, lalu seragam korban direnggut. Lengkap dengan lencana dan baut borgol di sisi ikat pinggang.
Jangan berkedip, sekali lagi, kunci pandangan lurus di depan wajah Felix tanpa sekilas lirik. Ia telisik pahat rupa sipir yang tergolek tak berdaya. Struktur rahang Felix bergeser, gemeletuk gigi menyesar dari pangkal gusi, tulang tengkorak gingsir dipugar seperti transformasi mengerikan. Kamuflase sihir sang iblis disusul perubahan tangga nada, tembolok suaranya juga memberat aneh.
Gembong rampok itu tentu meneguk hak istimewa, mereka tidak bergulat di dalam sel apek dengan aroma tinja. Atau mengalami dislokasi tulang punggung oleh alas beton. Enam target pembantaian Felix bersarang pada sayap barat penjara, di belakang pagar penuh duri, bui paling ujung yang asing dan tak terjamah. Mereka seperti raja di dalam sangkar emas, jeruji itu hanya sebagai formalitas palsu. Malah terlihat mirip penginapan khusus di tengah koridor gelap. Ada kasur empuk, radio tape, bahkan baling-baling kipas yang sejuk.
Derajat mereka sebagai anak buah komandan pihak berwajib terdengar seperti ‘ketimpangan otoritas’. Di mana timbul penyelewengan relasi kuasa, memanfaatkan situasi hingga pola ‘superioritas’ terjadi tanpa batas pengawasan. Ancaman kerap disertai perundungan pada narapidana lain, berlaku pula untuk para sipir yang enggan tunduk di bawah intimidasi mereka.
Presensi samar sosok berpundak bengkok tak terbaca firasat. Datang tanpa atmosfer, pula tak meninggalkan deru napas di bawah atap tebal lorong bui. Semua terkesiap memutar kepala bebarengan. Hanya sejumput binar lampu minyak pada dinding lorong yang menyisir penerangan.
Sayup pendar ekspresi Felix (yang berkamuflase menyerupai sipir penjara) berlindung di bawah topi melorot. “Makan malam sudah siap,” nampan kayu dengan enam piring diantar masuk lewat celah bawah ruji. Sebelum dia tarik tangan keluar, aksi gesit awak komplotan menyambar pergelangan.
“Tua bangka,” cengkeram melilit, gores kuku mengoyak epidermis. “Buka gembok sel dan masuk ke dalam sini,” hardiknya lantang.
Tuan sipir bermaksud menepis kabur. “Aku enggan,” namun urung, sebab gerigis dingin ujung besi garpu terhunus merobek daging. Salah geser sedikit saja, denyut nadi bisa terlibas muncrat.
“Dengar. Penolakan sama dengan bogem mentah di lapangan bengkel kerja napi esok. Kami akan menghajarmu hingga tak bersisa,” riak kerongkongan berkelit gahar, tatapan bedebah kriminal itu mengeras.
Desakan ultimatum berbahaya tersebut tak ayal menyudutkan figur sipir. Padahal, dalam hati Felix sudah kegirangan. “Mereka mengundang jiwa iblis dalam kandang peristirahatan,” pungkasnya di balik sandiwara dramatis, berlagak gemetar seperti ikan kecil terjepit menggelepar. Langkah gontai Felix mengawali tindak-tanduk ketiadaan pilihan. Anak kunci meliuk masuk ke dalam lubang gembok, tangkai besi tersentak lepas dari pangkal grendel ruji besi penjara.
Mata sebilah belati dari piring makan malam mereka teracung buas. “Tunjukkan kepiawaianmu. Buat kami terkesima,” cecarnya kasar.
Gelagat Felix berangsur santai. “Nyanyianku pasti terasa hambar bagi kalian,” tangan kanan merogoh kain lengan seragam yang dilingkis sebatas siku. “Jadi, aku punya hadiah lain.”
Dentum melambai pelan, kalian jangan sampai hilang keseimbangan. Tetap duduk tegap dengan kepala mendongak penuh perhatian. Lihat benda apa yang menjadi tajuk pertunjukan.
♠ Spade.
♥ Heart.
♦ Diamond.
♣ Club.
Juga dua kartu maskot tambahan,
Joker.
Felix menciptakan sulur mistik sekejap tarikan kilat. Satu deck bridge card (atau kamu biasa sebut ‘kartu remi’) muncul secara ajaib dari balik lengan seragam bagai suara kepakan sayap beruntun.
“Trik sulap akan selalu mengesankan penonton, betul?” keheningan intim tersirat buai magis tak kasat mata. Di bawah dekapan tembok tebal bilik jeruji ini, enam target Felix ditelan ilusi.
Jentikan telunjuk memburai kartu itu beterbangan. Tiupan samar kemudian, seluruhnya kembali tersusun rapi di atas telapak Felix. “Kamu bisa mengacak kartu ini,” setumpuk deck terulur, dialih tangan ke salah satu awak rampok yang terperangah bodoh.
Mereka saling bersemuka pandang, bimbang. Detik ke depan, jari-jari kakunya sudah berkutat di antara lipatan kartu dengan sembrono. Mengocoknya asal tanpa tempo elegan. “Gini doang? Ah, bualan! Lagi pula, sulap itu artinya kan pal... su— eh?! Mana?” tanpa sadar, sekelebat kerlip mata, bridge card dalam genggam sudah raib.
Tuan mengangkat topi sipirnya. “Di sini,” letupan kartu seperti konfeti menyembul keluar dari helai-helai surai. Tipu daya picik mengelabuhi debu pikiran mangsa Felix yang kini tercengang mangap. Segmen pertunjukan kita belum usai, sang iblis berkutat luwes meramu deretan remi hingga tersuguh presisi setara busur setengah lingkaran. Mirip seperti kipas yang disibak terbalik.
“Pilih satu,” punggung kartu menyembunyikan indeks simbol. Kontur wajah pak sipir terselip bayang-bayang redup.
“Serahkan kepadaku,” seorang di antara enam begundal, mewakili pemilihan kartu. Katanya, dia punya ‘tangan wangi’ kalau soal mencuri. Intuisi berbisik jika punggung kartu dari arah kanan tampak menggoda atensi, langsung saja dia sabet sejurus tangan buru-buru menyelipkan badan lembar tersebut di balik telapak. Antek lain ikut mengintip indeks logo apa yang berhasil diamankan.
Sudut bibir Felix terlukis culas. Lesung pipi seram tenggelam cekung. “Bisa dijamin jika aku tidak mengintip apa pun,” dia melagukan tepuk-tangan selaras kerjap lampu gantung dalam bui ini berkedip. Keenamnya terperanjat bergidik, sebab resonansi suara radio tape pada sisi nakas melantunkan lagu janggal. Melodi sumbang layak sebuah lirik yang diputar mundur berdengung bising.
Demonstrasi sulap kartu Felix terkesan bak rantai hipnotis menguliti akal sehat. “Letakkan sendok garpu kalian.”
Reflek, barisan pencuri itu berhenti mengunyah makan malam. Suara liur bercucuran dalam kawah mulut merangsang emosi. Peluh tergelincir, embusan beku udara salju menguar dalam suhu baja petak bui ini. Diam sejenak, Felix menjorok maju. Wajahnya terukir beberapa jengkal ruas dari posisi enam mangsa yang terpaku diam. “Tarik dasiku,” tandasnya.
Keraguan melipat nyali, ada gemuruh berdampung-dampung. Hitungan ke tiga, saat mereka tarik dasi sipir itu, lidah Felix menjulur. Lipatan sebuah kartu dimuntahkan. Selanjutnya, kartu tersebut terapit jemari. Felix membuka sudut-sudut yang berkerumut lusuh.
Joker.
Geligis terpekur takjub. Jendela netra mereka berkelana dengan saksama. Mengetahui selembar apa yang sejak tadi digenggam sembunyi, kini terpampang sama persis di depan kepala. “Itu... k-kartu yang aku pilih,” pungkas gagap menggelayut nada, enam pria tersebut memutar leher ke kiri-kanan. Saling bersinggungan pandang.
“Sekarang perhatikan puncak performa spektakuler ini,” sentilan ringan Felix mendarat di atas gambar maskot Joker permukaan lembar remi. Tanpa basa-basi busuk, ilustrasi badut pelawak istana itu lenyap dari kanvas kartu. Menyisakan putih melompong.
Batas antara realita dan ilusi menipis. Manusia-manusia di hadapan Felix tercekik distorsi indra, nalar pria bengal ini galat membedakan bayangan khayal. Ketukan cermin pada dinding mengejutkan fokus. Gemerincing topi lonceng seorang badut menggaruk telinga. Potret ilustrasi Joker yang hilang tahu-tahu sudah bersemayam di dalam kaca, hidup dan nyata.
“Kita sudah cukup terkesima,” tandas yang tadi paling lantang menyuarakan perundungan. “K-kamu boleh angkat kaki,” denial melawan ketakutan mencekam. Aslinya terlampau gelagapan.
Panik melanda saat dirasa kejanggalan tak wajar mengancam nyawa. Tiba-tiba, sugesti alam bawah sadar mereka justru meluncurkan dopamin berlebih. Hingga gelak tawa lolos tanpa limit. Perut terbuncang-buncang tidak aturan, benturan organ dalam saling bertumbuk ngilu. Napas tersendat kalut sebab kontraksi diafragma mengejan tanpa jeda.
Felix menikmati adegan kelakar terpingkal-pingkal enam mangsanya. Kehendak otak dan fisik mereka bentrok, kakak tertua gembong rampok itu meronta. Daging lidah sengaja digigit hingga putus demi membungkam ledakan tawa. Tekanan mental mendobrak aksi nekat, ada pula yang mencabik bibir sendiri oleh belati. Namun nihil, semburan tawa tidak melambat barang satu detik pun. Mereka tersiksa dalam reka panggung lelucon sang iblis.
Gejolak ombak api timbul dari kedua telapak Felix hingga kartu-kartu itu melayang. “Babak penutup akan mengakhiri penderitaan,” lembar badan remi terlecut melesat secepat tiupan kaliber peluru. Kilas anarkis membabat habis pendosa yang berjumbai tangis darah, anatomi tubuh mereka dibancang tali api. Lumatan kulit terkelupas koyak, isi perut tercerai-berai oleh tebasan kartu yang mengiris biadab.
Cipratan merah membara bertamu pada sudut maskot kartu Joker, terselip di antara gelambir daging para jasad narapidana. Felix meninggalkan badan lembar Joker itu sebagai bentuk cemooh hina. Seakan, menyinggung ego tameng seragam para perwira. Bilamana mereka tidak lebih baik daripada komedian culun layak badut tanpa wibawa.

✧ ✧ ✧

Redaksi melansir wacana gempar, tewasnya enam komplotan rampok membawa sekonyong-konyong gebrakan. Respon khalayak publik berbanding terbalik dengan gundah-gulana instansi berwajib. Semarak warga justru membunga lepas di antara langit salju penghujung tahun. Bagaimana tidak? Kecemasan perihal utas kriminal yang mencekik rasa aman penduduk setempat, kini sirna tanpa jejak gelisah.
“Kami akan mengidentifikasi motif pembunuhan para narapidana. Maskot kartu Joker adalah satu-satunya barang bukti yang tertinggal di lokasi kejadian. Hingga detik ini pelaku masih dalam status penyelidikan,” papar komandan berlencana.
Kendatipun proses pemeriksaan terlaksana, petunjuk tak menjumpai titik terang. Pengakuan pihak terkait di tanah rutan bercakap jika mereka tidak dengar kegaduhan apa-apa. Posisi bui para gembong rampok yang terpencil dari jeruji tahanan umum jadi rintangan ulung. Tiada saksi mata yang bisa ditunjuk sebagai rujukan fakta. Sosok pelaku masih menggantung tanda tanya.
“Sidik jari yang ditemukan tim forensik mengacu pada sipir paruh baya. Namun, mustahil dicerna logika. Oleh karena pria itu sudah tergeletak tak bernyawa di area depan gerbang. Bahkan tiga puluh menit sebelum pembantaian terjadi,” desir angkara kapten aparat bersungut-sungut. Harga dirinya terpijak atas arti tersirat olok-olok kartu Joker.
Rekan sejawat mengusap muka kasar, nalarnya kendur di puncak kegilaan misterius yang terjadi. “Aku tidak habis pikir. Jika kasus ini terekspos lebih detail ke gawang masyarakat. Jajak pendapat kritis tentang: ‘Bagaimana bisa lokasi penjara narapidana pencurian terpencil dari jeruji umum?’ pasti melebar sebagai isu sensitif. Hak istimewa mereka akan menjadi garis besar prasangka. Sekali lagi, kedok kita bisa terungkap!”
Konfrontasi pelik insiden ini benar-benar buntu. “Sial,” gengsi martabat jelas tertampar fakta, bahwa dirinya tidak becus menjegal kepala pelaku. Persekongkolan aparat pun ambruk sudah, semua kawanan sindikat telah tergilas binasa. Rencana gadungan mereka gagal total.
Runtutan badai prahara yang terjadi tak ayal menanggalkan asa pihak berwenang. Felix tetap mengecap kebebasan, masih bisa bersiul merdeka di atas derita para tameng negara. Disetarakan sedemikian rupa juga jelas bukan tandingan manusia, musuhnya adalah iblis neraka.
Skandal kematian gembong rampok jadi cikal-bakal mitos ‘Joker The Reaper’ mencuat sampai ke kuping warga. Seorang pembunuh para narapidana yang meninggalkan kartu Joker mengukir legenda. Terdengar seperti malaikat pencabut nyawa yang bermain di atas harkat para perwira. Mencoreng nama baik pihak berwajib layak topeng culun tanpa tanda jasa.
✧ ✧ ✧

Peredaran bumi berputar begitu cepat, begitu pula goresan aksi Felix saat melabuhkan cerita. Predikat ‘licin hukum’ melabeli rekam jejak Felix, ia menggeliat gesit dari borgol pihak berwajib. Hingga detik ini, lakon kisah kita masih bergumul dengan aksi pembunuhan. Telapak tangan putra Carême itu hanyut bersama amis darah perburuan narapidana. Taktik jitu Felix menarik perhatian masa, di mana setiap satu penghuni bui tumbang, maka warga akan melambungkan sanjung. Joker The Reaper dianggap lebih sigap mengibarkan jubah keadilan, daripada lencana karat para aparat tidak kompeten.
Wara-wara kaburnya sepasang buron dari rutan mengusung konfrontasi pekan akhir. Usut punya usut, ada indikasi bahwa keduanya bagian dari ‘pasar gelap’. Juga termasuk mengenyam koneksi culas. Katanya, mereka ditopang kuasa sosial bawah tanah. Sehingga bisa tergelincir lolos secara cuma-cuma.
Dan di sinilah tuan penguasa neraka bertamu muka dengan kepala sasaran, gemerlap distrik hiburan malam jadi titik jumpa. Dua perlente itu keluar dari atap kasino, jas necis berkilap apik tersuguh tanpa secuil debu. Di kiri dan kanan, masing-masing awak gagah ajudan mengekor. Para pria itu seperti algojo yang siap baku hantam mengawal pergerakan si terpidana kabur. Sang iblis sudah bersemayam di bangku juru mudi, surai birunya digulung masuk ke dalam topi. Saat pintu Alfa Romeo terbuka, suara velg yang berdecit senyap mengawali laju otomotif klasik.
Lekas kencangkan sabuk pengamanmu.
Jangan sampai berakhir menjerit kelu.
Siasat Felix dimulai. Pedal gas terpijak, jarum speedometer terus merangkak naik. Tepi netra bergulir awas, mengamati lagak tenang mangsa yang kali ini terasa asing di bangku penumpang. Ranting perasaan abstrak berkerumun waspada. Felix mencagut bayang purnama, di bawah semampai pohon arah barat daya. Dia sengaja memilih rute yang keliru. Raung mesin bergema nyalang begitu desis angin menerpa dingin.
“Hey, pemuda. Jalan ini bukan arah menuju lokasi yang aku sebutkan,” aroma tembakau menguar pekat, bisikan berat menembus keheningan dalam mobil.
Empunya tak bergeming, menelan seluruh frasa dalam tipu muslihat. Buku jari memutih di tepi setir kemudi, pahat rupa Felix menyusut tatkala bias cahaya samar menyapu hening. Hanya dersik daun yang mengisi respon hampa.
“Tidak mau menjawab?” deguknya rendah. Tak menyesap gelagat emosi, pula tiada sumbu gegabah. Justru tiupan dengus remeh tanpa gentar.
“Atau aku harus memanggilmu Felix Carême?” desau rendah mencegat nyali. Sejak kapan identitas Felix terbongkar? Bahkan tidak satu pun badan aparat sanggup mengendus buntutnya. Adrenalin menanjak hebat, Felix mengerjap heran. Pancaran sinar berjubel lampu mobil dari arah depan menyengat tajam.
Satu hal yang Felix sadari selaras stimulus suhu beku logam mencium ceruk lehernya, adalah fakta bahwa ia terkepung. Skema buron yang kabur dari tahanan ternyata sebatas jebakan. Perangkap ulung sebuah kelompok tak dikenal ini secara terorganisir memancing batang hidung Felix. Logam tersebut, pelat elektroda stun gun berbasis teknologi. Tanpa baut monoton dan tidak terpaku mekanis kuno. Bagai senjata yang datang dari masa depan.
Orang-orang ini berbeda dari instansi keamanan di kotanya. Mereka berada jauh di atas tingkat kemajuan zaman. Bahkan lidah Felix tidak sempat merapal diksi sihir, pemuda itu terbelalak kaku. Pelupuk nanar tatkala sambaran rasa sakit merebak dahsyat ke seluruh tubuh. Percik tegangan listrik tinggi menjalar lengket, sensasi ditikam tepat pada pipa syaraf sanggup melenyapkan daya otot. Terjadi kelumpuhan mendadak, kebas sekujur tak terkendali.
Konsep ‘keterbatasan’ wadah fana Felix sebagai manusia tetap memiliki limit stamina. Felix tergeletak tak berdaya, mengais sepenggal napas di atas bangku kemudi dengan jerih payah sia-sia. Gelap menjemput siluet retina. Detik itu markah cerita kita terhenti sebab tuan iblis ditawan paksa.
✧ ✧ ✧

CHAPTER III: PENUMBRA BIRU : "FERUCI"
Kontaminasi aroma keladak bahan kimia yang memenuhi sirkulasi terasa begitu pahit. Tabung inkubator uji coba terpampang, nukleasi gelembung larutan tidak lazim terhubung selang rumit. Fasilitas ini nyeleneh, Felix memicing pening selaras ringis nyeri meradang pada tepi bibir yang terluka. Gemeretak tulang berderit ngilu saat punggungnya berusaha tegap.
“Dia sudah sadar,” celetuk bising orang-orang elusif ‘smokel’ (perdagangan gelap) itu bertalun dingin. Debum amplop cokelat dilempar meluncur ke depan meja figur tersandera, berkas identitas Felix tercecer lepas dari garis perekat kertas yang robek. Semuanya: potret wajah Felix, rupa kedua orang tuanya, riwayat hidup, latar belakang, bahkan hal krusial termasuk sepak terjang pelanggaran undang-undang.
Gelombang panas radar inframerah dengan detektor pergerakan jadi kendala. Ruang gerak Felix terbelenggu di atas kursi dengan empat kaki bervoltase, dia akan tergilas tegangan jika bertindak agresif. “Apa tujuanmu?” dialog Felix mendayu kalem.
“Jati dirimu. Kami akan beberkan pada jaring berita. Termasuk deklarasi tindak kriminal. Tidak luput pula, mengumpankan namamu di muka instansi pengadilan. Ketukan palu hakim tentu disadur narasi hukum. Dan kamu akan berakhir terperosok dalam liang eksekusi,” tangga intonasinya berjumbai ancaman, geram dan terkesan menuntut.
Riak ekspresi Felix menyentuh titik paling tenang, senyum itu terukir seperti teka-teki. “Menyeretku ke meja hijau sama dengan mengusut bom bunuh diri. Saat pertanyaan: ‘Apa motif Felix Carême di balik aksi kriminal?’ terlontar dari bibir hakim. Dengan tegas aku proklamirkan kebusukan aparat. Bukti konkret ada di tanganku. Persekutuan gembong rampok dan para perwira berseragam, pungutan liar berkedok jaminan keamanan, juga induk perkara pencurian di awal lonjakan karir toko keluargaku. Bahkan, aku sanggup menyingkap titik akurat lokasi markas tersembunyi tabiat sekongkol mereka.”
Felix memiringkan kepala, dia bergumul dengan barisan frasa yang terbingkai fakta komprehensif. “Bersikap vokal di depan ruang pengadilan jelas mengundang decak kagum warga. Biang tragedi berdasar oleh sikap aparat yang tidak kompeten. Kekacauan tak terduga akan merugikan instansi negara. Butterfly effect yang timbul justru terdengar bagai senjata makan tuan, bukan begitu?” imbuhnya, tanpa kegelisahan menggigit dialog. Pemuda itu tak tersedak barang secuil gagap.
Mustahil seorang Morning Star akan kehilangan pendar cahaya. Pamor sang penguasa neraka pasti tetap bersinar layak fajar terbit dengan segala pesona.
Pria-pria berdasi kalis tersebut menyipit takjub. Seolah, jalan pikiran Felix memenuhi takaran porsi asumsi. Lipatan dahi beringsut pudar, tarikan pipi menyisir satu kekaguman di balik topeng mimik rupa. “Kami mengantongi penawaran untukmu, Felix. Sebuah peran dengan esensi berpengaruh di balik tirai terselubung,” lagu kalimat lisan yang terucap tiba-tiba bertolak belakang dengan nada desis ancaman.
Felix tertegun, jendela biru netra mengikuti engsel koper senjata yang terpajang di bawah dagunya. “Bisnis berdarah?”
“Lebih tepatnya, menjaga konstruksi dunia yang kita rancang. Misimu adalah menghabisi sasaran hama secara terstruktur, mereka yang berpotensi fatal untuk medan peredaran ilegal ini harus kandas. Jangan ragu tentang akomodasi dana. Upah fantastis pasti menanti,” tutur poros penjamin emisi sekuritas aktivitas underground economy. Konklusi utamanya adalah satu profesi bengis bagi Felix, pembunuh bayaran.
Tuas proyektor ditarik turun, hologram representasi visual data organisasi bertajuk ‘Graine Noire’ terlampir bagan detail. Mulai dari penyajian deskriptif bagaimana disekuilibrium kondisi dunia, hukum rimba golongan miskin yang terbelit kesenjangan, konteks nepotisme, tolak ukur baik-buruk cacatnya lapisan sosial hingga krisis kelaparan. Semua dikotak-kotakkan sesuai dominasi daulat Graine Noire.
“Upaya anarkis yang kamu perbuat hanya menggoyahkan benteng keseimbangan. Pembantaian membabi buta tanpa arah pasti sukar berujung untung, kan? Tidak semudah itu pula bagi kami untuk menumpas pion bertalenta sepertimu,” berkas identitas Felix Carême di atas meja dikeruk masuk kembali. Agen anonim itu mengais secarik dokumen perjanjian.
Kompromi tidak tinggal diam sampai di situ. Akal terang Felix memanfaatkan situasi. “Upahku sebagai pembunuh bayaran terdengar seperti uang suap tutup mulut. Ingat, ‘kartu As’ Graine Noire telah ku genggam. Jika aku angkat bicara di depan publik, praktik terlarang organisasi kalian bisa memanjang jadi skandal besar.”
“Rasio profesimu di pihak kami tidak berpatok sebatas pundi-pundi nominal. Kami sanggup menopang bantuan dari segala aspek. Reputasi? Proteksi identitas? Suplai senjata? Dengan syarat menjaga rahasia dunia gelap dan Graine Noire,” pucuk pena diserah tangan, detak-detik jarum jam pada dinding tebal fasilitas ini seolah menelan rasa bimbang.
Di bawah lampu gantung benderang, Felix terpagut solusi konflik. Usai meramu keputusan, ia berpikir jika cara kotor ini adalah celah mujur. Kesempatan emas meraup implikasi dalam organisasi berpengaruh signifikan di balik layar terdengar layak, kehidupan kali ini tidak akan berakhir menjadi narasi klise seri pembunuh narapidana, sebuah alur tak terduga babak baru cerita pasti lebih menyenangkan. Hitam di atas putih pun terukir paten. Kursi bervoltase itu diredam mati dan Felix menghirup kebebasan. Jarak pandang tuan kini terbujur lurus pada satu runtutan abjad, grafik silsilah sejarah organisasi Graine Noire di layar proyektor masih terjaga. Utas nama yang tidak asing berkecimpung dalam otoritas gelap mencuri intuisi.
The Golden Bird.
Graine Noire lahir dari payung organisasi The Golden Bird. Gugus markah memori kehidupan-kehidupan lampau Felix masih bertengger jelas. Sang iblis mengerti seperti apa tabir palsu The Golden Bird. Menuai citra atas alibi Charity for Humanity yang kontradiktif dengan ambisi bejat menguasai dunia di balik tirai. Felix paham jika fasilitas ini adalah sarang para diktator tersembunyi.
“Bantuan perdana kita berpusat pada kapasitas potensimu, Felix. Optimalisasi vitalitas daya tahan dan stamina. Persentase tanggapan fisik lain kemungkinan terjadi, sekitar 50% dalam jangkauan hipotesis. Bisa berupa mutasi sel oleh deviasi imun tubuh, terkadang juga muncul aberasi kekuatan di luar nalar. Telan kapsul ini,” persegi bahan logam anti korosi seukuran telapak orang dewasa, dikeluarkan dari rak penyimpanan volumetrik cairan. Badan selaput oval cembung terselimut saturasi warna emas menyapa mata, sebuah kapsul. Tidak berbau, hanya saja begitu berkilau. Semuanya terasa berkesinambungan dengan The Golden Bird. Felix tidak semena-mena meneguk kapsul itu, dia tahu efek jangka panjang ekstrak apel emas kerap berimbas pada konsekuensi rawan.
Cangkang lonjong kapsul dilibas santai sekali telan. Sementara, benih api melahap kobaran tepat pada pangkal lingua. Badan selaput kapsul tersebut lebur, bulir-bulir konsentrat apel emas tergilas lenyap. Tidak ada satu tetes pun cairan apel emas yang larut dalam tubuhnya.
Felix menggunakan nama alias ‘Lucifer’ sebagai tanda pengenal pada pergumulan darah. Saat ia menghempas korban tanpa celah, maka tajuk ‘Lucifer’ adalah peran yang mewakili dirinya pada tiap jerit meregang musnah.
Perjalanan Lucifer melakoni profesi rantai keji di bawah gayung materil Graine Noire berjalan mulus. Pernah, suatu ketika seorang tikus berdasi target ke sekian Lucifer dibabat habis. Keanehan menyentil logika agen Graine Noire. Saat organisasi itu menampakkan batang hidung di titik lokasi. Lucifer, berdiri dengan segenggam cambuk mirip ekor penuh duri yang terbungkus sulur lidah api.
“Kita tidak ingat pernah memberi tipikal senjata dengan wujud unik satu ini,” tandas salah seorang pengutus misi. Kacamata hitam ditarik turun, seluk pandang memicing skeptis.
Lucifer meregangkan pundak, otot wajah tuan iblis tidak berkerut panik. “Aku pikir kalian sudah mencerna pertimbangan matang, kan? Sejak project bantuan saat itu. Ini tanggapan fisik ekstrak apel emas yang aku telan, lho. Dampak manifestasi kekuatan,” gagasnya meyakinkan.
Argumen Lucifer masuk akal. Alhasil, mereka percaya-percaya saja. Padahal, sosok pion bertalenta itu bukan sembarang manusia. Walaupun dalam proses objektif misinya, Lucifer sendiri tidak melulu bergantung pada kuasa magis, apalagi untuk hal-hal sepele (kecuali sangat terdesak). Namun tetap, sejak saat itu 'dalih kapsul emas' jadi tonggak kelonggaran aksi. Sehingga ia bisa menggunakan sihir secara bebas di setiap kesempatan.
Dedikasi Lucifer dalam mengemban mandat Graine Noire ialah jembatan ulung. Kontribusi atas fondasi kepercayaan Lucifer yang tidak pernah lalai pada agenda misi berujung nasib jaya. Carême's Bakery jadi rangka awal dia berproses. Album kenangan itu masih tersimpan rapat, koneksi teman-teman sekolah sejak dia mengenyam bangku pendidikan, sayembara kue, hingga kini ia meninggalkan toko roti keluarganya. Tuan iblis berkilah pada kedua orang tua bila ia hendak menjemput karir gemilang di kota.
Fokus pada tujuan selaras di cawan pasar gelap dunia, sokongan material dan proteksi Graine Noire merajut tali afiliasi. Relasi-relasi unggul terjalin atas kepiawaian Lucifer bertahan di atas konsistensi profesinya. Punggung kesuksesan Lucifer kian melebarkan sayap.
Usaha bermula pada mangsa distribusi senjata, kemudian didongkrak oleh berbagai aktivitas komersial terselubung. Salah satunya memprakarsai bar dan cafe remang di balik tembok bawah tanah. Arus profit terus melonjak, ekspansi baru terbuka semakin luas, permintaan pasar ilegal berjubel datang dari segala arah. Kedudukan bisnisnya sanggup berdikari setara dengan Graine Noire.
Dia menobatkan diri sebagai ‘Feruci’ (dieja: Ferrucci, filosofi nama Italia, merujuk akar kata latin ‘Ferox’ yang berarti ‘ganas’ atau ‘liar’) atas identitas jati diri baru. Di mana nilai-nilai masa depan Feruci telah berkembang menjadi tujuan absolut. Lebih garang menembus batas manusiawi, lebih beringas mencabar kompetitor bermantel watak sombong.
Feruci menikmati sanjungan manis orang-orang naif yang menjilat sepatunya. Sebelum cawan racun seorang puan elok telak merampas kewarasan. Tepat saat penguasa neraka dibekuk ikatan emosi mendasar manusia, cinta. Ialah sebuah narasi picisan dibalut seni berdarah, pekerjaan Feruci (pembunuh bayaran) menghantarkan titik temu dengan Ades. Puncak adorasinya terhadap Ades adalah bahasa romantika yang kepalang mendamba, Feruci teramat jatuh cinta.
Dari situ, fokus hidup Feruci berubah. Begitu pula fantasi gila sang iblis, perihal hasrat penantian Feruci atas cara kematian yang dia impikan. Di kehidupan kali ini, sebagai pembunuh bayaran, ‘dibunuh’ adalah definisi ‘kematian ironi yang pantas’. Namun tambatan kematian Feruci bukan tentang tewas di bawah tangan ‘pembunuh terkeji’, itu terdengar seperti skenario murahan. Jalan pikiran tuan ingin menggapai mahkota penghormatan terakhir yang berkelas, ‘dibunuh oleh keluarganya sendiri’. Karena itu, Feruci membentuk keluarga. Sebuah singgah untuk para pendosa menemukan jalan pulang.
Feruci memikul peran sebagai ayah bagi anak-anaknya. Sekaligus suami dengan seribu satu diksi puja untuk Ades tercinta. Dalam hakikat fananya, Feruci menduduki kursi kepala keluarga. Dari aroma karamel yang menyambut awal narasi pertama, berujung satu kesaksian takdir Feruci di ‘Rumah Dosa’.
Maka, rumpun aksara dalam susunan kisah 'Elegi Api' ini termaktub tuntas dengan kobaran api neraka.
✧ ✧ ✧
END.
Commission Story Written by LIN



Comments