top of page

Chapter 13 : Kematian Cross

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 10, 2020
  • 3 min read

Updated: Jul 27, 2024

“Kau sedang apa?” Tanya Zero pada [Redacted] yang terlihat sibuk dengan kain perca dan benang jahit. Adiknya sedang memainkan sebagian kain yang ada didepannya.


“Membuat sesuatu untuk diingat, sebentar lagi aku akan mati kan?” Jawabnya tanpa menoleh pada Zero.


“Berhenti mengatakan hal yang menyakitkan.” Kata Zero sambil ikut duduk bersama mereka. Diangkat si adik ke pangkuannya untuk bermain bersama anak kecil itu. [Redacted] hanya diam melanjutkan apa yang sedang dia lakukan.



“Aaaa, berhenti menarik rambutku! Hey!” Zero berusaha melepaskan si adik yang sedari tadi menarik-narik rambutnya. Si adik hanya tertawa-tawa melihat ekspresi Zero.


“Perjanjiannya sudah deal?” Tanya [Redacted].


“Aaa! Sudah! Hey! Lepas!” Jawab Zero masih sibuk dengan si adik. [Redacted] kembali terdiam seolah pikirannya dipenuhi sesuatu. Zero menyadari itu, tapi dia memutuskan untuk diam, dia ingin [Redacted] mengutarakan pikirannya sendiri tanpa harus dia tanya.



Malam berganti larut, setelah si adik tertidur di pangkuan Zero, [Redacted] menghampiri mereka. Sebuah boneka ditangan [Redacted]. Sebuah boneka manusia berambut biru.


“Kenang-kenangan terakhir ya...” Komentar Zero.


[Redacted] mengangguk.


“[Redacted], ada apa?” Zero menyerah, [Redacted] memang bukan tipe yang bisa mengutarakan pikirannya terang-terangan. Dia tahu hostnya sedang memikirkan sesuatu.



“Zero, kau berikan boneka ini pada adikku. Ini adalah permintaanku yang harus kau lakukan.” [Redacted] menyodorkan bonekanya pada Zero kemudian menuju pintu keluar.


“Hah? Kau mau kemana?” Kebingungan, Zero mengikuti [Redacted] keluar.


“Kau diam dirumah. Jaga adikku.”

Masih dalam keadaan tidak percaya dan bingung Zero melihat kepergian [Redacted] yang semakin menjauh.


Tunggu… jangan-jangan…

Zero sempat bingung, namun dia memutuskan untuk mengejar [Redacted] setelah meletakkan si adik dan boneka tadi di tempat tidur.


“Mall ini menghalangi pemandangan. Kalau harus mati, aku akan memilih bunuh diri di mall ini. Setidaknya aku bisa menurunkan reputasinya.” Teringat perkataan [Redacted] dulu mengenai salah satu mall terbesar di kota ini. Zero terus berlari, berharap dia belum terlambat.


“Dari tempat parkir yang ada dekat sungai, aku bisa menyusup masuk melalui tangga darurat.” “Sungguh, kau tahu semua ini darimana [Redacted]?” Teringat juga percakapan tentang mall itu. Dulu Zero menganggapnya hanya sekedar basa-basi, tapi ternyata tidak.


Zero sampai di tujuan lebih lamban, kekuatannya sudah terambil oleh Kannon, dia tidak bisa lebih cepat. Sesuai dugaannya, [Redacted] sudah berdiri di ujung atap mall.


“Kau membiarkan adikku sendirian dirumah?” Tanpa menoleh, [Redacted] bertanya seolah tahu kini Zero ada dibelakangnya.


“Dia bersama boneka yang kau buat, dia tidak sendirian.” Zero mengatur nafasnya.

“[Redacted], tunggu sebentar..” Kondisinya sama dengan saat pertama mereka bertemu, bedanya sekarang, jantung Zero berdegup kencang. Jauh didalam hatinya dia tahu hari ini tidak akan berakhir seperti dulu.


“Aku akan segera kembali, kan?”


“[Redacted], sebentar saja…” Zero ingin mengucapkan sedikit salam perpisahan, kau tahu, seperti di film-film. Bertukar kata-kata indah di akhir pertemuan.

Baru satu langkah Zero mendekat, saat itu juga [Redacted] melompat.


“[Redacted]!” Zero berlari ke ujung atap, segera melihat kebawah, berharap ada tangan yang masih bisa dia raih. Kenyataannya berbeda, pemandangan tubuh [Redacted] yang rusak terdampar di atas aspal lah yang dia lihat sekarang.


Zero melangkah mundur, berusaha menenangkan dirinya. Sebagai malaikat, ini bukan pertama kalinya dia menyaksikan kematian. Namun kali ini berbeda, ini adalah kematian manusia yang paling dia sayangi. Sungguh jauh berbeda. Ditengah campur aduk suasana hati, dia berusaha bangkit, tidak lagi berwujud manusia, dia menyentuh jasad orang tersayangnya yang sudah terkapar. Beberapa orang mulai mengerumuni mereka.


***


Esoknya si ibu pulang ke rumah, menemukan anaknya tinggal satu orang sekarang. Rumah itu pun sibuk untuk beberapa hari, berita bunuh diri [Redacted] menyebar keseluruh kota, membuat proses pemakamannya ramai oleh media. Si ibu dengan aktingnya bisa dengan mudah menutupi kematian anaknya. Beralibi anaknya bunuh diri karena masalah pekerjaan. Zero yang menyaksikan semua itu hanya bisa diam menahan amarah. Jangan ditanya seperti apa emosi Zero sekarang, dia sendiri tak tahu dia bisa seemosi itu. Sedih, marah dan rasa kecewa semua bercampur jadi satu.


Manusia yang bereinkarnasi membutuhkan waktu untuk muncul kembali ke bumi. Zero yang kini berada dalam bentuk kasat mata hanya bisa pasrah menunggu [Redacted] pulang ke rumah.


***


Setahun berlalu, suara familiar terdengar oleh Zero.


“Bagaimana keadaan adikku?”


Zero dengan senang hati menoleh ke arah suara itu, melihat [Redacted] dalam bentuk tak kasat mata, lengkap dengan tanda bunga lotus di bawah telapak tangannya.


“Sejauh ini baik-baik saja, ibumu terlihat agak waras.”


“Itu karena uang asuransinya sudah dia terima kan?”


“Ya.”



Mereka berdua kembali menatap si adik yang sedang main sendiri di ruang keluarga. Si ibu sibuk merokok di halaman belakang sambil menelpon seseorang.

“Selamat datang kembali.” Zero tersenyum sembari menepuk kepala [Redacted] pelan, merangkul tubuhnya [Redacted] disebelahnya.


“Ya.” [Redacted] mengambil tangan Zero kemudian mengenggamnya erat, seolah tak ingin pergi jauh lagi darinya.



Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page