Chapter 14 : Perjanjian Lain?!
- Tri

- Dec 9, 2020
- 3 min read
Updated: Jul 27, 2024
Sejak kelahirannya kembali, [Redacted] meminta Zero memanggilnya dengan nama Cross. Nama yang mengisyaratkan dia telah menyebrangi alam untuk tetap hidup. Dia tidak ingin menggunakan nama pemberian kedua orangtua laknatnya.
Zero kini terikat kontrak antara tuan-pelayan dengan Cross. Cross bertanya apa bayaran yang Zero berikan pada Kannon untuk itu, namun jelas Zero tidak menjawab. Zero ingin berfokus pada kehidupan baru mereka.
Beberapa bulan Zero membangun tempat tinggal untuk mereka, sedangkan Cross berusaha membiasakan diri dengan tubuh dan hidup barunya sebagai budak. Mereka akhirnya siap kembali untuk menjemput si adik.
Sesuai dugaan, si ibu mulai bersikap semena-mena pada si adik. Si adik bahkan diminta bertingkah dan berpakaian seperti wanita untuk dipekerjakan ditempat yang tidak baik. Si ibu juga masih terus memeras mantan suaminya untuk memberinya uang, alasannya untuk kebaikan si adik, namun nyatanya uang itu dia pakai untuk berfoya-foya.
Tentunya Cross sangat marah melihat hal itu, dia tidak ingin adiknya mengingat semua ini ketika dia terlahir kembali.
“Zero, Bantu aku sesuatu” Kata Cross pada Zero yang sedang tiduran dipojok ruangan.
“Bantu apa? Katakan yang jelas.”
“Bantu aku membuat perjanjian dengan Kannon.”
“Hah?!” Seketika Zero bangun dari tidurnya. “Kau mau apa?!”
“Tenang saja, kali ini tidak akan melibatkanmu.”
“Bukan itu- Kau sudah membuat perjanjian dengan dua Kannon!!”
“… Antarkan saja aku ke tempat Kannon.”
“Tidak akan! Tidak akan pernah!” Perjanjian macam apa yang ingin Cross lakukan?! Zero membalik badannya dan kembali tiduran, berharap Cross mau mengurungkan niatnya.
Jangankan mengurungkan niat, Cross malah semakin penasaran. Dia bergegas keluar rumah. Zero yang mengetahui hal itu mengikutinya dari jauh. Cara yang digunakan Cross sama dengan cara Zero dulu, dia bertanya pada mahluk-mahluk lain mengenai keberadaan Kannon. Cross tidak berhasil menemukan informasi berharga, hari demi hari dilewati dengan Cross yang keluar mencari informasi tiap malam. Sebenarnya Zero kasihan, tapi dia tak ingin Cross terlibat lebih jauh dengan Kannon.
Hingga suatu malam, seorang pria bertopi merah muda menemui Cross di sebuah taman. Pria itu adalah Juntei, salah satu Kannon yang membuat perjanjian dengan Cross, hanya saja Cross tidak tahu karena dulu Zero yang bertemu langsung dengan Juntei.
“Kudengar kau mencari Kannon?” Sapa Juntei pada Cross yang sedang berjalan melewatinya.
“Ya. Kau… manusia?” Tanya Cross memperhatikan Juntei dari atas kebawah, penampilannya sama sekali tidak memberi petunjuk kalau dia bukan manusia.
“Ahaha, maaf, bukan. Aku Kannon.”
Terlihat ekspresi terkejut diwajah Cross. “Jangan bercanda.”
“Tidak, tentu tidak. Aku mendengar seseorang mencari Kannon dikota ini, jadi aku datang kemari.”
“Bagaimana kalau dia ternyata seorang iblis?” Tanya Cross dalam hati. “Buktikan bahwa kau Kannon.”
“Hmm.. tanda lotus dibawah telapak tanganmu itu, itu kau dapat karena kau berada di tubuh baru kan?”
“…” Cross terdiam, mulai mempercayai apa yang dikatakan orang didepannya.
“Ahaha, aku ada disaat keeper mu membuat perjanjian. YA KAN?” Kedua kata terakhir Juntei teriakkan ke arah tempat persembunyian Zero.
Merasa sudah ketahuan, Zero keluar dari persembunyiannya.
“Selama ini kau mengikutiku? Kenapa tidak langsung beritahu aku tempat mereka?” Ucap Cross sambil memperlihatkan wajah kesal pada Zero.
“Kau tahu alasannya! Aku tidak setuju dengan ini!” Cross memalingkan wajahnya, ingin menunjukkan bahwa dia kesal.
“Ahaha~ jadi, kau mau membuat perjanjian atau tidak? Aku bisa mengantarkanmu ke tempat kami kalau kau mau.” Juntei memotong pembicaraan mereka berdua.
“Aku mau!” Jawab Cross.
“Tidak! Jangan!” Zero memegangi tangan Cross.
“Zero, sekarang juga aku minta kau lepaskan tanganmu.”
“Kalau begitu biarkan aku ikut.” Pinta Zero sambil terus menggenggam tangan Cross.
“Aku tidak akan melibatkanmu lagi, Zero.”
“Justru itu, biarkan aku ikut. Aku hanya akan mendampingimu.” Terlibat atau tidak itu urusan nanti, dia ingin melihat perjanjian macam apa yang akan dibuat hostnya, dan kalau bisa, mencegah perjanjian itu terjadi.
“Oke, hanya mendampingi.” Zero melepaskan tangan Cross.
“Kenapa aku tidak langsung membuat perjanjian saja denganmu sekarang?” Tanya Cross pada Juntei di perjalanan menuju markas para Kannon.
“Karena aku tahu yang kau butuhkan bukan cuma kekuatanku? Entahlah, hanya feeling sih, tapi aku merasa permintaanmu pasti akan besar ahahaha.”
“Pasti karena pengalaman kan?” Celetuk Zero.
“Kira-kira begitu ahaha.”
Zero pun akan berpikiran sama apabila dia ada di posisi Juntei. Dia mengerti betul seberapa besar dan absurdnya keinginan-keinginan Cross.
“Sudah siap?” Tanya Juntei.
“Ya?”
Jawaban Cross direspon oleh satu tombol ditekan di smartphone Juntei.
Mereka tiba-tiba berpindah ke sebuah tempat. Tempat yang familiar untuk Zero, tempat perjanjian dengan Kannon.

Comments