top of page

Chapter 15 : Permintaanmu Terlalu Banyak

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 8, 2020
  • 4 min read

Updated: Jan 28, 2025

Di tempat itu ada Kannon lain yang sedang melayani clientnya. Zero tak pernah melihat dia sebelumnya, seorang pria berambut pirang dengan pakaian serba hitam.


“Ah sedang ada tamu, kau masih lama, Nyoirin?” Tanya Juntei pada Kannon tadi.


Oh, namanya Nyoirin.


Nyoirin melihat ke arah Juntei, tanpa menjawab, dia menjentikkan jarinya. Seketika Juntei, Cross dan Zero berada di ruangan kosong yang berbeda.


“Ah oke, dia marah padaku.” Kata Juntei lagi.


“Tadi itu apa?” Tanya Zero.


“Itu kemampuan Nyoirin, dia dapat memanipulasi materi, termasuk kita. Dia memindahkan kita ke ruangan kosong buatannya haha.”


Secepat itu?! Dalam waktu kurang dari beberapa detik, dia membuat ruang kosong dan membawa mereka kedalamnya? Zero hanya bisa tertegun memikirkan kekuatan orang tadi.



“Sebentar, akan kupanggil Juichimen.” Kata Juntei sambil membuka smartphonenya.


“Kenapa harus orang itu lagi?!” Gusar Zero, agak trauma dengan pertemuannya terakhir kali. Bukan trauma karena takut, tapi karena gayanya menyebalkan.


“Karena aku tahu kau akan membutuhkan dia?” Jawab Juntei.

Juichimen tiba-tiba muncul di ruangan.


“Oh, hai! Eugh apa-apaan ruangan kosong seperti ini?!” Dia segera membuka smartphonenya, terlihat mengetik sesuatu. Tak lama muncul dua buah sofa, meja, dan sebuah dispenser kopi lengkap dengan gelasnya. “Sempurna.” Ujar Juichimen sambil duduk di sofa. “Silahkan duduk saja, jangan malu-malu.”


Cross dan Zero duduk di sofa seberang Juichimen, sementara Juntei sibuk menyiapkan kopi untuk mereka.



“Itu juga kekuatanmu?” Tanya Zero.


“Bukan, tentu bukan, kekuatanku bukan ini, ya kan Zero?” Tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Zero, yang tentu saja dibalas Zero dengan membuang muka. “Ini kekuatan Nyoirin, kalian pasti sudah bertemu dengannya barusan. Aku hanya memintanya membuatkan barang-barang ini ahahaha.”


Oh jadi tadi mengetik di smartphone itu… dia meminta temannya memunculkan barang-barang ini?


“Biasanya kalau ada client yang datang bersamaan, kami akan membiarkan client yang baru datang untuk menunggu dipojok ruangan, tapi karena Nyoirin tidak terlalu suka keramaian, ya…” Juntei menjelaskan sambil meletakkan kopi di meja.


“Kenapa dari awal tidak buat dua ruangan saja?!” Tanya Cross dan Zero dalam hati.



“Sudahlah, masuk ke intinya, apa permintaanmu?” Tanya Juichimen yang sudah siap dengan gadget ditangannya.


“Ah, dia akan menuliskan permintaannya, sama seperti dulu.” Gumam Zero dalam hati.

Zero mengambil kopi didepannya.


"Aku ingin memiliki kekuatan untuk menghapus. Bukan hanya benda kasat mata, namun juga memori, perasaan, dan sebagainya.” Cross menerangkan.


“Kau ini! Kau bisa memintaku untuk melakukan itu!” Terlihat Zero sudah gatal ingin memarahi Cross.


“Lalu kau lagi yang akan menanggung bayarannya?” Balas Cross.


Zero terdiam. Dia tidak ingin lagi merespon karena tahu kemana arah percakapannya. Bagaimanapun juga tidak mungkin Cross membiarkan dia terus menerus berkorban, sama sepertinya.



“Heee... hanya menghapus? Apa menariknya?” Tanya Juichimen.

Lagi-lagi Kannon meremehkan permintaannya.


“Mungkin aku juga bisa menghapus keberadaan Kannon.” Cross berkata dengan yakin.

Juichimen hanya tertawa mendengar permintaan itu. “Ahahahaha ini lucu! Ahahaha! Kau pikir kau sekuat apa!? Ahahaha” Juichimen tak bisa berhenti tertawa sedangkan Juntei hanya menggelengkan kepalanya.


“Kalau aku melakukan perjanjian dengan seribu iblis, apa kekuatanku akan cukup?” Ujar Cross.


Seketika Juichimen berhenti tertawa.


“Cross! Kau-” Zero baru mau marah.


“Diam Zero.” Kata-kata Zero langsung dipotong oleh Juichimen.

“Kau tahu apa artinya melakukan perjanjian dengan seribu iblis? Bukan hanya menjadi budak kami, kau akan menjadi budak neraka! Tidak akan ada istirahat dalam 16 jam shift kerjamu!“


“Bukan masalah.” Jawab Cross.


Juichimen tersenyum kecil melihat jawaban langsung dari Cross.

“Aku suka tekadmu. Sayangnya perjanjian dengan seribu iblis butuh resiko besar. Resiko untuk kami sebagai perantara, juga kesehatan tubuh dan jiwamu.”


Cross hanya terdiam.


“Aku tidak bisa membiarkan tubuh dan jiwa orang yang akan menghapuskan Kannon hancur duluan kan?” Sindir Juichimen kembali.


“Jadi... tidak deal?” Tanya Cross.


“Tidak sepenuhnya. Aku akan memberimu kekuatan untuk menghapus. Bayarannya adalah... akan lebih banyak iblis terlibat dalam shift kerjamu.”

Dalam arti lain, Kannon ingin melihat sekaligus mengetes seberapa kuat Cross. Ide dari Cross mereka balik untuk menghancurkan Cross perlahan-lahan, sangat culas, seolah-olah jiwa Cross hanyalah mainan mereka.


“Anggap saja latihan untuk bisa menguasai seribu iblis kan ya” Juichimen tertawa sambil menolehkan mukanya pada Juntei.

Mereka merencanakan sesuatu, bukan sesuatu yang baik.


“Ok.” Cross menjawab singkat.



Zero menghela napas, dia tahu bahwa Cross tahu sia dijadikan permainan oleh para Kannon, namun Zero juga tahu keputusan Cross bukan hal yang bisa lagi ditawar.


“Host mu benar-benar menarik, Zero! Wajar kau begitu menyukainya! Ahahahaha” masih sambil tertawa, dia mengetik sesuatu di gadgetnya. “Mumpung kau ada disini..”


Juichimen mulai menjelaskan. “Aku yang mengurus perjanjianmu dengan kami. Lalu Juntei,“ Telunjuknya mengarah pada Juntei ”dia yang mengurus tubuh baru kau dan adikmu.”


“Yang ini... Senju,“ Juichimen menampilkan foto seorang pria dari smartphonenya.

“Dia mengurus proses reinkarnasi jiwa kalian. Lalu Sho..” Foto pria lain muncul. “Dia yang bertugas mengambil jiwamu setiap harinya.”


Cross hanya terdiam berusaha mengingat wajah mereka.


“Ingat mereka baik-baik agar kau tak menghapus orang yang salah, bisa jadi kau yang terhapus.” Juichimen memperingati seolah memberi nasihat. Namun Zero mengerti bahwa ini adalah ancaman.

Zero memang belum pernah mencoba menggunakan kekuatannya untuk melawan Kannon. Ancaman tadi baru saja mengimplikasi kalau kekuatannya digunakan untuk melawan Kannon, efek kekuatan itu akan berbalik pada mereka.


“Karena sudah deal..” Juntei mengarahkan tangannya bersalaman pada Cross. Cross bermaksud menjawab tangan Juntei, sebelum Juntei mencengkeram pergelangan tangannya.


Cross tersentak.


“Tenang saja, itu hanya menambah tanda di pergelangan tanganmu.” Ucap Zero.


“Heyyyy sudah terbiasa rupanya! Zero, my friend!” Ujar Juichimen sembari bangkit dari duduknya.


Juntei melepas cengkeramannya, meninggalkan bekas empat kelopak lotus pada tangan Cross.


“Empat kelopak untuk empat Kannon..kan?” Tanya Cross melihat ke tangannya.


“Tepat! Nah, sekarang...” Juichimen mengisyaratkan mereka untuk keluar ruangan.

Tanpa banyak bicara lagi, Cross dan Zero bergegas keluar dari ruangan, menuju ruangan gelap. Satu langkah Cross dan Zero masuk, ruangan gelap tadi kembali menjadi taman tempat Juntei pertama kali menemui Cross.

“Sudah puas?” Tanya Zero, membuang napas lelah.


“Ya.” Cross menjawab. “Ayo kita bersiap menjemput adikku.”




Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page