Chapter 16 : Ayo Buat Grup!
- Tri

- Dec 7, 2020
- 3 min read
Updated: Jul 27, 2024
Hari itu tiba, si ibu kembali marah kepada si adik untuk alasan remeh. Si ibu menodongkan pisau mengancam si adik. Cross dan Zero yang melihat itu segera menjalankan rencana mereka. Zero merasuki tubuh si ibu, menghunuskan pisau tepat ke jantung si adik.
Si ibu histeris, merasa gagal. Bukan, bukan merasa gagal sebagai seorang ibu, namun merasa gagal memalsukan kematian anaknya. Dia ingin anaknya terlihat bunuh diri.
Panik dan kalut, si ibu lari keluar rumah segera setelah membersihkan cipratan noda di bajunya.
Di dalam rumah, si adik terdiam bersimbah darah tidak bernyawa.
Cross meluapkan emosinya dengan teriakan dan tangisan, sementara Zero berusaha tegar. Zero sudah pernah merasakan apa yang sedang Cross rasakan. Dia tahu bagaimana cara mengontrol emosinya sekarang.
Walaupun begitu, Zero akhirnya tetap pecah berlinang air mata. Kedekatannya dengan si adik memicu terlalu banyak emosi untuk dikontrol.
Suara sirine mobil polisi berjam-jam setelahnya yang memecah duka mereka. Polisi datang atas laporan tetangga yang kebetulan melihat si ibu lari dengan bercak darah di tasnya.
Cross dan Zero segera menggunakan boneka pemberian Kannon, menjebak jiwa si adik didalamnya. Segera pula mereka pergi dari situ, menuju tempat tinggal mereka yang baru. Tempat tinggal yang telah disiapkan oleh Zero.
“Jadi aku Delta, kau kakakku Cross?” Kata anak itu. Anak itu adalah si adik yang baru saja hidup kembali dengan nama baru, Delta. Delta diartikan sebagai parameter terjadinya perubahan. Adiknya lah yang membawa Cross mengambil keputusan-keputusan perubah jalan hidupnya
“Ya, kau bisa memanggilku Cross, ini Zero.” Ucap Cross diikuti lambaian tangan Zero pada Delta.
“Aku... Tidak ingat kalian.” Jawab Delta pelan.
Tentu saja. Sebelum kesadarannya pulih, Cross telah menghapus ingatan Delta sepenuhnya.
“Tidak apa-apa, itu memang efek amnesia.” Jawab Cross.
“Kau baru saja kembali dari rumah sakit, apa kau ingat? Kau mengalami kecelakaan yang membentur kepalamu.” Zero melengkapi.
Itulah skenario yang mereka sepakati. Skenario bahwa ingatan Delta hilang akibat kecelakaan. Dia akan lebih aman begini, pikir mereka.
“Kau bebas pergi dari tempat ini kalau kau mau.” Ujar Cross. Berusaha memberi opsi agar tidak terlihat terlalu memaksa. Walau dalam hati, dia sangat berharap Delta tidak pergi.
“Kenapa aku harus pergi dari kakakku?” Tanya Delta balik.
Jawaban Delta yang sangat polos membungkam mulut mereka. Mereka mengira Delta akan curiga atau apa, tapi mereka lupa Delta bukan orang seperti itu.
“Y.. ya siapa tahu kau tidak nyaman dengan kami?” Tanya Zero gelagapan.
Delta melompat dari tempat tidurnya, memeluk Cross tanpa ragu.
“Nyaman kok! Terima kasih telah merawatku selagi aku sakit, kakak!”
Pelukan itu dibalas dengan pelukan erat dari Cross. Setetes air mata turun dari pipi Cross. Akhirnya, dia bisa memulai hidup yang dia impikan.
***
Hari-hari mereka lalui bersama, Zero dan Cross mengajarkan Delta banyak hal.
Awalnya Delta sering meminta keluar rumah dan bermain bersama, namun melihat kondisi Cross yang tidak tahan sinar matahari, Delta mengerti. Delta mengurangi aktifitasnya diluar rumah.
***
Tahun berlalu hingga di satu malam.
“Hey, bagaimana kalau kita membuat sebuah grup?” Usul Delta.
“Grup apa?” Tanya Cross.
“Grup yang akan mengabulkan permintaan orang-orang.”
Mungkin yang ada dipikiran Delta adalah grup yang melakukan banyak kebaikan, sesuatu yang positif. Namun dipikiran Cross dan Zero, mereka membayangkan grup seperti Kannon, mengabulkan permintaan dengan cara kotor.
“Anggap saja permintaan orang-orang tersebut seperti quest dalam game! Bukankah lebih menyenangkan kalau ada quest seperti itu di dunia nyata?” Lanjut Delta.
“Kau pikir kau bisa apa? Pfft.” Zero menggoda Delta, juga berusaha menghilangkan pikiran negatif di pikirannya.
“Zerooo!!!” Delta menarik rambut Zero hingga dia terjatuh.
“Kau! Mana sini rambutmu!”
Delta dan Zero kembali bertengkar, saling menarik rambut, seperti dulu.
“Boleh juga, membuat grup…” Ucap Cross pelan.
“Kan? Kakak setuju kan?!” Delta langsung menyingkirkan Zero, segera mendekat ke arah Cross.
“Ya ya, kalau itu bisa membuatmu sibuk hingga berhenti menggangguku, aku juga setuju.” Gerutu Zero sambil melempar bantal sofa pada Delta.
“Seperti tombol ini...” Delta mengambil joystick playstation. Ada empat simbol disitu. Simbol silang, itu seperti namamu Cross. Sebuah lingkaran, itu berbentuk seperti 0, Zero!
Simbol segitiga, itu aku, Delta.” Delta menjelaskan.
“Pertama, namaku, Zero, kalau dituliskan bentuknya oval, bukan lingkaran. Lalu bentuk segi empat itu mau kau buang begitu saja hah?” Sanggah Zero sambil menarik rambut Delta lagi.
“Tidak perlu memikirkan hal-hal kecil seperti itu! Dasar orang tua!” Delta kembali menyerang Zero. “Siapa tahu nanti kita bertemu orang lain yang bisa menjadi segi empat disini!”
Cross terdiam mendengar perkataan adiknya. Dalam hati dia tidak ingin ada orang lain yang mengganggu atau masuk kehidupan barunya.
Zero seakan menangkap perasaan Cross, bertanya. “Memang kau bisa punya teman?”.
“Tidak tahu.” Delta menghentikan serangan bantalnya. “Tapi aku mau punya teman.”
Zero dan Cross terdiam.
“Kadang aku merasa aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Aku mengerti aku tidak seharusnya dilibatkan di semua urusan kalian, tapi aku juga... aku.. ingin punya teman.”
Delta menatap mata kedua orang didepannya.
“Kalau kau bisa membagi waktumu, kau bisa punya apapun, termasuk teman.” Ujar Cross.
“Baiklah, kita jalankan grup ini sekaligus untuk mencarikanmu teman, bagaimana?” Usul Zero.
“Benarkah- Yay!!” Delta menjatuhkan dirinya kehadapan Cross dan Zero, memeluk mereka berdua.
Dari situ, Serious Gaming terbentuk.

Comments