Chapter 19 : Halo Anggota Baru
- Tri

- Dec 4, 2020
- 4 min read
Updated: Jul 27, 2024
“Jalannya memang kesini?” Tanya pria tadi. Mereka sedang menuruni lembah di dekat sungai.
“Ya, sengaja kupasang penghalang kasat mata agar tidak ada yang tertarik ke tempat ini. Tapi efeknya, tidak ada yang membersihkan rumput liar ini.” Lanjut Zero yang berjalan didepan pria tadi.
“Kau bisa menggunakan kekuatanmu untuk membersihkan rumput ini kan?” Decak Pria tadi.
Zero terlihat sedikit berpikir “Hmm… bisa…. Tapi aku malas.” Jawabnya sembari tersenyum.
Pria tadi hanya berdecak sambil berusaha membersihkan tanah yang menempel disepatunya.
“Kau bisa melihat jelas dalam gelap kan?” Tanya Zero.
“Bisa.”
“Bagus. Ayo terus jalan.”
Sekarang pria tadi tahu kenapa Zero bertanya seperti itu. Matahari tidak menembus bagian bawah jembatan ini, apalagi setelah memasuki pintu rahasia yang menempel di dinding, ruangan lembab dan sempit yang hanya berisikan tangga menyambut mereka setelahnya.
Melihat ke dasar anak tangga, pria tadi bergumam “Berapa anak tangga untuk sampai kebawah sana?”
“Ada 7 lantai ke bawah, berapa kira-kira anak tangganya?”
“Cih. Kenapa kalian memilih tempat seperti ini? Merepotkan.”
“Untuk melindungi rahasia besar dibawahnya~ Mwahahaha.”
“Oh- Ya-” Respon pria tadi dengan nada datar.
Mereka turun dan terus turun, hingga sampai diujung anak tangga. Hanya ada satu pintu didepan mereka. Zero membuka pintu, membiarkan sinar dari dalam ruangan menerangi seisi anak tangga.
“Zero! Kau pulang!” Terdengar suara lelaki menyambutnya dari dalam.
“Yup, aku bawa teman baru ~” Zero menunjukkan pria tadi seolah dia adalah hadiah dari ayah untuk anaknya.
“Hey! Kakak bilang tak boleh bawa orang dari luar, Zero! Lihat orang ini, begitu menyeramkan, mencurigakan!” Triangle mendekat dan memeriksa pria tadi dari dekat.
Pria tadi hanya diam, dia terfokus pada ruangan besar yang ada didepannya. Ruangan yang di satu pojoknya berisi komputer berspesifikasi tinggi.
“Dia pengecualian, dia akan bekerja disini mulai besok.” Kata Zero sambil meninggalkan mereka, berjalan ke ruangan lain.
“Hey! Aku belum sepakat tentang itu!” Teriak pria tadi.
“Aku juga belum sepakat!” Teriak Delta.
.
Pria tadi berdecak, merenyitkan alisnya pada Delta yang sejak tadi seolah mengajaknya bertengkar.
Delta kembali ke komputernya. “Buat dirimu nyaman, aku masih ada pekerjaan.”
“Jadi ini Sega? Anggotanya hanya kau?” Tanya pria tadi sambil merebahkan dirinya di sofa.
“Ada kakakku, tapi dia selalu tertidur.”
“Hah? Jadi kalian cuma bertiga?”
“Yup, Zero yang bicara dengan klien, kakakku membuat keputusan, aku yang eksekusi.”
“Kau mengerjakan semuanya sendirian?!”
“Tentu! Hebat kan?” Jawab Delta sambil terkekeh bangga.
“Dia orang yang memaksa masuk jaringan kita akhir-akhir ini.” Kata Zero yang tiba-tiba datang dari ruangan lain.
“Woahaha, itu kau?! Kukira script kiddie! Kau meninggalkan begitu banyak jejak!” Ejek Delta tanpa lepas dari komputernya.
“Fuck you.” Pria tadi menjawab ejekan Delta kemudian bangkit menuju tempat Zero berada.
“Ini dapur. Biasanya Delta akan meminta delivery makanan padaku sih, tapi tempat ini bisa dipakai memasak juga kalau kau mau.” Kata Circle.
“Lurus disana itu kamar mandinya, yang disebelah kanan itu ruang server.”
“Ruang server? Boleh aku masuk?”
“Tentu.”
Susunan superkomputer membuat Cube takjub, tapi rasa takjubnya berubah menjadi rasa heran saat melihat pintu lain di ujung ruang server.
“Itu kamar tidur, Delta dan kakaknya tidur disitu.” Ucap Zero yang sudah ada dibelakangnya.
Zero memandu jalan, membukakan pintu kekamar tidur.
“Apa aku harus masuk?” Tanya pria tadi.
“Kau harus bertemu dengannya nanti.”
Cube masuk ke kamar itu. Dalam kamar terdapat sebuah tempat tidur besar dengan lemari di sisi temboknya.
“Ini?” Tanya pria tadi memandang mahluk yang sedang tertidur itu. Mahluk kecil berambut biru dengan kulit biru pucat.
“Panggil saja Cross. Kalau kau jadi bergabung, sepertinya kau akan menjadi pengambil keputusan kedua. Semacam cadangan kalau Cross masih tertidur disaat ada situasi penting.”
“Kalau aku tidak jadi bergabung, apa kau akan membiarkanku keluar dari sini?”
“Tergantung~” Zero mengangkat tangan Cross, menyingkap jaket panjangnya, memperlihatkan empat tanda bunga lotus dibawah telapak tangannya. Dalam sekejap pria tadi mengerti.
“Dia tertidur karena efek perjanjian? Jadi semua yang disini terikat dengan Kannon?”
“Tidak, Delta tidak. Dia manusia biasa.”
“Hmph omong kosong.”
“Apa kau melihat tanda lotus ditangannya? Atau kalau mau, coba saja sekarang kau tanyakan tentang Kannon padanya, aku yakin kau yang akan lelah ditanya balik olehnya, dia agak cerewet.”
Pria tadi mencoba mengingat, Delta memang mengenakan jaket tanpa lengan dengan tangannya yang dibiarkan tanpa penutup. Padahal biasanya para pengikat kontrak akan berusaha menutupi tanda perjanjian.
“Ayo, akan kutunjukkan tempatmu bekerja.” Zero memadu jalan kembali bersamanya ke ruang tengah tempat Delta tadi berada.
“Kakak sudah bangun?” Tanya Delta menyambut mereka saat mereka memasuki ruang tengah.
“Belum, mungkin belum waktunya.” Jawab Zero sambil membereskan spot kosong disebelah tempat kerja Delta.
Pria tadi terfokus pada tangan Delta yang sedang sibuk mengetik, berusaha mencari tanda lotus. Tidak ada tanda. Tak ada dimanapun. Apa orang ini memang manusia biasa? Tanya pria tadi dalam hatinya.
“Hey! Aku sedang bekerja!” Teriak Delta sambil melepaskan tangannya.
“Disini tempatmu bekerja.” Zero memecahkan lamunan pria tadi, didepan Zero yang hanya berjarak dua meter dari tempat kerja Delta, terdapat meja dengan tumpukan kardus. “Kau tinggal meminta mau komputer macam apa, aku akan membelikanmu secepatnya.”
“Tunggu! Aku juga ada pekerjaan di tempat lain! Aku tidak bisa langsung bekerja disini.” Ujar pria tadi
“Kau tidak harus kemari pada jam kerja, tidak juga harus tiap hari kesini. Aku akan memberimu email bila ada pekerjaan agar kau bisa mengerjakannya dimanapun.” Ujar Circle. “Masalah gaji akan kubicarakan melalui email. Kau bisa membawa barang-barangmu kemari bila kau mau.” Lanjutnya.
“Pekerjaanmu tidak akan sebanyak milikku, santai saja. Aku kan SENIORMU.” Delta kembali mengejek pria tadi. Kali ini si pria membalas dengan menendang kursi kerja beroda yang sedang dipakai Delta.
“Hey!” Teriak Delta kesal.
“Dia sudah datang?” Sebuah suara terdengar dari arah dapur, suara Cross yang baru bangun.
“Kak! Lihat orang baru itu!” Delta segera membalik badannya sambil menunjuk pria tadi.
Cross hanya menatap pria tadi, begitupun si pria, hanya terjadi tatap-menatap.
“Mulai sekarang, Code name mu Cube/Square.” Cross berucap.
“Hah?!”
“Ya juga... Hanya tinggal code name itu yang tersisa! Karena aku seniormu, aku akan memanggilmu Cube.” Delta bangkit dari duduknya, menyodorkan tangan untuk bersalaman.
Pria tadi terfokus pada arah dibawah telapak tangan Delta, masih berusaha mencari tanda lotus. Tanpa sadar, dia menarik tangan Delta. Delta menganggap pria tadi, yang sekarang dipanggil Square/Cube, hanya berusaha membalas salamnya.
Setelah memastikan tak ada tanda lotus, Cube melepas tangannya.
“Jadi…” Cube sedikit berfikir. “Jadi aku benar-benar diterima di Sega?” Tanyanya lagi, berusaha meyakinkan. Semua ini terasa terlalu cepat.
“Tentu saja!” Delta menepuk punggung Cube sambil tersenyum padanya.
Itu pertama kalinya seseorang, selain ibunya, tersenyum secerah itu pada Cube.
Sejak hari itu, Cube resmi menjadi bagian dari Sega.

Comments