Chapter 22 : Just Another Day
- Tri

- Dec 1, 2020
- 4 min read
Updated: Nov 8, 2025
“Oh, Cube! Selamat datang.” Sambut Delta dari arah dapur.
“Ya.” Hari ini tidak ada banyak pekerjaan Cube datang ke Console hanya karena merasa bosan dirumah.
“Kau sedang apa?”
Dengan sebuah apron, Delta terlihat sibuk membuat sesuatu. “Memasak untuk makan siang.” Jawabnya.
“Kau tidak minta delivery dari Zero?”
“Nah. Aku sedang mood masak hari ini. Cube, buka mulutmu.” Sesendok makanan entah apa itu disodorkan ke mulut Cube.
“Ini bisa dimakan kan?” Tanya Cube ragu-ragu.
“Coba saja~ Kalau kau mati aku bisa menambahkan dagingmu disini.”
Cube membuka mulutnya, membiarkan Delta menyuapinya.
“Bagaimana?!” Tanya Delta.
“Tidak buruk.” Lebih tepatnya enak, tapi Cube tidak ingin mengatakannya, dia tak suka menghadapi sikap angkuh Delta saat dipuji.
“Aha, berati enak kan?” Delta tersenyum lebar.
“Cih, dia mengerti” Ucap Cube dalam hati.
“Oke, akan kubuat porsi besar untukmu, tunggu ya!” Delta kembali memasak.
“Ya ya.” Baru saja Cube akan mengarah ke toilet…
“Tunggu!” Delta mendekatinya, memegang jaket Cube yang ia lingkarkan di pinggang.
“Ini sobek kenapa? Lubangnya lumayan besar loh.”
Cube terkejut bagaimana Delta bisa menyadari sobekan di jaketnya sementara dia sendiri tak tahu kapan jaketnya sobek.
“Entah” Jawab Cube singkat.
“Lepaskan lepaskan! Akan kujahit setelah makan siang nanti!”
“Ck. Ibuku bisa membetulkannya nanti.”
“Tiiidak~ Lepaskan sekarang!”
Cube mendecak. Sejak kapan sih Delta jadi seperti ibunya? Dia melepas jaketnya dan memberikannya pada Delta. Setelah melihat Delta meletakkan jaketnya di sofa, Cube melanjutkan perjalanan ke toilet.
Imej Delta yang sedang memasak mengingatkan dia pada ibunya. Ada rasa semacam… rindu? Tapi bukan... Cube berusaha keras mengalihkan pikiran namun suasana toilet ini tidak membantu. Toilet dipenuhi oleh berbagai mainan milik Delta, dan yang paling parah… bau shampoonya. Entah kenapa sekarang Cube mengingat jelas bau shampoo yang Delta pakai. Merasa tak nyaman di toilet, dia keluar, disambut Delta yang menyodorkannya makanan. Makanan itu sama sekali tidak buruk, Cube menyukainya. Dia menghabiskan delapan piring sendirian.
“Ha! Seenak itu kah makananku.” Delta tertawa sembari membereskan bekas piringnya.
“Porsiku memang biasanya segitu bodoh.” Cube kembali duduk di sofa, memainkan devicenya.Tak lama, Delta kembali dengan sebuah kotak. Oh, itu peralatan menjahit miliknya. Delta duduk disebelahnya, mulai menjahit robekan di jaket Cube.
“Cross mengajarimu semua ini?” Tanya Cube.
“Ini? Tidak~ disaat aku bosan, aku mencoba banyak hal.” Cube mengerti. Dengan kemampuan multitaskingnya, Delta dapat mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Tidak ada siapapun disini yang menemaninya, wajar bila dia mulai mencoba berbagai macam hal.
Wait… kenapa dia tidak mencoba jalan-jalan keluar dari Console saja?
“Kau tidak mencoba pergi keluar? Banyak hal yang bisa kau coba disana.”
“Aku ragu orang diluar sana bisa menerimaku atau tidak”
“Maksudmu?”
“Aku tahu aku bukan manusia, sama seperti kakak dan Zero.”
Cube berusaha menahan ekspresi kagetnya. “Kau tahu darimana?”
“Kau pikir aku berinteraksi dengan apa selama di internet? Aku tidak melihat ada manusia dengan penampilan fisik sepertiku. Apalagi seperti kakak. Atau yang memiliki kecepatan seperti Zero misalnya? Tidak ada yang seperti kami.”
Terdiam sejenak, Cube kembali bertanya “Lalu menurutmu aku apa?”
“Aku tak ingin coba menebak. Apapun kau, kau tetap temanku. Kecuali kalau suatu hari nanti kau mau bercerita, aku akan mendengarnya dengan senang hati.” Jawab Delta.
Jawaban Delta membuatnya merasa takjub sekaligus lega. Di mata Cube, Delta sekarang terlihat seperti orang yang berbeda. Mengesankan bagaimana Delta bisa menerima orang lain tanpa melihat background orang. Berbeda dengan Cube yang diawal masuk Sega sibuk memikirkan mahluk apa itu Cross dan Zero, apakah Delta manusia, dan hal sepele lainnya. Delta yang sehari-harinya selalu membuatnya kesal bisa bicara seperti ini...
“Aku tidak menemukan apapun saat mencari kakak, Zero, maupun diriku sendiri di internet.” Lanjut Delta. “Seolah-olah kami hanya mahluk asing yang menumpang tinggal disini…” Kesedihan terdengar di nada bicara Delta.
Tanpa disadari, Cube menepuk rambut Delta pelan, entah apa maksudnya, tapi niatnya baik. Momen itu terasa berjalan lambat, seolah momen itu adalah momen penting di sebuah film atau semacamnya.
“Heh… tapi aku menemukan datamu Cube!” Seketika Delta berdiri dan membuat wajah meledek ke arah Cube.
“Hah?!” Dibanding dengan apa yang dikatakan Delta, sebenarnya Cube lebih kaget dengan perubahan mood Delta yang begitu cepat.
“Aku melihat datamu di berbagai situs, juga pas foto ID mu, pfft.”
“Kau melihat foto itu?!” Cube bangkit dengan rasa kesalnya. Pas foto konsep dasarnya memang 80% akan membuatmu terlihat lebih jelek, 20% sisanya membuatmu terlihat aneh. Dapat dimengerti Delta membuka laci disebelah sofa dan menunjukkan pas foto Cube yang sudah dia print. “Ini kaan~ ahahaha lihat wajah tegangmu itu pfft”
“Kau!@#^%^@!” Secepatnya Cube merebut foto itu dari tangan Delta, merobeknya jadi serpihan kecil.
“Fufufu, masih ada ini!” Pas foto Cube dalam bentuk bingkai kayu berada di tangan Delta sekarang.
“Hancurkan foto itu secepatnya!” Cube mencoba merebut bingkai itu. Dia menarik jaket Delta dan memegang sebelah tangannya. Tersenggol oleh sofa, kaki Delta kehilangan keseimbangan. Delta terjatuh di sofa, tertindih oleh Cube diatasnya.
Wajah mereka sangat dekat satu sama lain sekarang. Posisi Delta terjatuh dengan sebelah tangannya masih dipegang Cube yang kini berada diatasnya… memang posisi yang sangat awkward untuk dua orang pria. Aroma shampoo rambut Delta tercium sangat kuat dalam jarak sedekat itu, begitupula aroma parfum yang dipakai Cube. Belum menyadari apa yang terjadi, mereka dikejutkan oleh sinar flash dari arah dapur. Cross baru saja memotret mereka di posisi awkward. Cross menatap mereka berdua kemudian bergegas kembali ke kamar.
“Cross! Hapus fotonya!” Baru sadar dengan apa yang terjadi, Cube dan Delta mengejar Cross kekamarnya. “Kakak! Kau mau apa dengan foto itu?!”
Di dalam kamar yang sudah dikunci dari dalam, Cross mengirim foto itu sembari menuliskan pesan untuk Zero.
“Mereka sudah seakrab ini sekarang.” Tulisnya
Di lain tempat, Zero yang baru saja selesai bertemu client histeris kaget melihat pesan baru dari Cross.

Comments