Chapter 1 : Serious Gaming
- Tri

- Dec 22, 2020
- 3 min read
Updated: Jul 27, 2024
---Beberapa tahun yang lalu---
Dua orang pria dengan boneka ditangannya berdiri menatap sebuah pusat perbelanjaan.
“Baiklah, akan ku buat markasnya sesuai permintaanmu”
“Ya, buat jauh dibawah tanah.”
“Dengan sebuah ruang keluarga untuk kalian bekerja, sebuah dapur, kamar mandi, ruang tidur, dan ruang server.”
“Jadikan kamar tidur dekat dengan ruang server yang dingin.”
“A~h, oke, kau masih tidak suka tempat panas rupanya.”
“…”
---Kembali ke waktu sekarang---
Di sebuah ruangan di bawah tanah.
“Sial! Orang ini terlalu beruntung! Tidak mungkin! Dia pasti curaaaaang!”Seorang lelaki berambut hijau muda panjang, mengomel didepan 3 buah layar komputer sambil terus menekan mouse dan keyboardnya.
“Argh! Diaa! aku belum mau kalaaaah!!!” Teriaknya lagi.
“Berisik!” Bentak laki-laki berkulit coklat yang ada disebelahnya.
“Ugh kau berlebihan Cube, urus sendiri urusanmu!” Cube, atau Square, code name lelaki berkulit coklat itu.
“Jangan bicara seperti itu padaku! Kenapa kau malah main game online?!” Cube menendang kursi kerja Delta, atau Triangle, si lelaki berambut hijau.
“Aku tidak seperti seseorang yang bekerja di dua tempat, pekerjaanku sudah selesai!”Delta bangkit dari duduknya sambil membentak balik Cube.
“Oho, pekerjaanmu terlalu mudah atau apa?”
“Mudah?! Ini tak akan diserahkan padaku bila mudah! Aku tidak mengerjakan pekerjaan kecil seperti punyamu!”
BRAK.Cube bangun dari duduknya, menarik jaket Delta. Mereka berdua berhadapan, beradu pandangan. Saling menyerang satu sama lain dengan pandangan setajam silet. Ping.Sebuah notifikasi muncul ke layar komputer milik Delta dan Cube.Cube melepaskan tangannya, bergegas melihat apa isi notifikasi itu, begitu juga dengan Delta.
“Aaaah baru aku main sebentar!” Gerutu Delta sembari duduk kembali di depan komputer, terfokus mengerjakan sesuatu.
“Aku keluar dulu, kalau Zero atau Cross tanya, tugas nomor 2388 akan ku kerjakan di jalan bersama yang ini.” Cube membereskan gadgetnya dan bersiap keluar.
“Oke~ Bawakan aku coklat saat kau pulang nanti.” Jawab Delta sambil terfokus ke layarnya. Seolah pertengkaran mereka yang sebelumnya hilang begitu saja.
“Malam ini aku tidak tidur disini.” Ujar Cube.
“Hah? Kenapa?? Ibumu takut tidur sendirian lagi?!” Ejek Delta.
Cube hanya membalas dengan membanting pintu kesal diejek.
“Fuh, dasar mother complex.” Delta kembali ke komputernya, sesekali menggerutu, sesekali tertawa sendiri.
Hingga beberapa jam kemudian, sesosok lelaki kecil muncul dibelakangnya.
“Hoam~ Kau sendirian, Delta? Cube tidak tidur disini?” Lelaki kecil ini adalah Cross, kakak Delta yang baru saja bangun dari tidurnya.
“Woh kakak! Kau sudah bangun? Yep, Cube tidak bermalam hari ini.”“Ah~ sayang sekali, padahal dia bisa tidur dikamar, kurasa aku bisa begadang hari ini.” Cross mendaratkan tubuhnya di sofa empuk dibelakang Delta.
“Kau? Begadang? Pfft~” Delta mengejek. ”Ada pekerjaan baru tadi sore.”
“Mana mana?~” Cross mengambil sebuah smartphone yang ada diatas laci disebelah sofa.
“Hmm mencari data orang-orang ini, termasuk keluarga dan saudara2 mereka… hmm sedot uang di rekening mereka... hmm ini mudah kan?”Cross kembali menguap dan meletakkan smartphone tadi ke tempatnya semula.
“Mudah memang, aku sudah menemukan data seluruh keluarga dan saudara mereka, hanya untuk sertifikat rumah dan lainnya…beberapa dari mereka belum mendaftarkannya secara resmi ke negara, kalau sampai besok aku belum bisa mendapatkannya, ini jadi tugas tambahan untuk Cube.”Jawab Delta sambil masih menatap layar komputer.
“Mafia tidak pernah berubah, selalu memberi hutang kepada orang-orang merepotkan seperti ini.”
“Kalau mereka berubah, pekerjaan kita akan berkurang kak hehe”
“tapi kau bisa kembali main game online?”
“Hah? Dari mana kau tahu? Hah?” Delta bertanya gelisah sambil membalikkan badannya ke arah Cross.
“Log nya terekam di smartphoneku Delta, kau tahu itu.” Jawab Cross yang masih terbaring di sofa.
“Aaaa aku lupa hapus log nyaaa, aaah- kalau begitu aku janji pekerjaan yang sekarang akan beres lebih cepat!” Delta kembali pada layar komputernya.Cross hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya. Cross memejamkan matanya untuk kembali tidur. Ini adalah Serious Gaming (Sega), sebuah tim? perusahaan? atau apapun itu, yang bergerak dibidang teknologi. Serious Gaming menerima permintaan yang melibatkan masalah digital.
Ingin memperbanyak follower mu di sosial media? Ingin menang lomba like terbanyak? Ingin stalker mantanmu? Atau presidenmu? Atau presiden negara lain? Ingin tahu kode peluncuran nuklir di korea selatan? Mereka bisa membantumu, asalkan kau mengikuti peraturan mereka, keinginanmu bisa terwujud.
“1. Klien tidak diperbolehkan mencoba mencari informasi apapun tentang privasi internal Serious Gaming. Apabila kami mengetahui klien mencoba mencari info, perjanjiannya dianggap batal.2. Segala informasi klien akan Serious Gaming jaga.
3. Kami menerima permintaan apapun, selama permintaan sesuai dengan bayaran.4. Bayaran ditentukan oleh pihak Serious Gaming. Bayaran tidak selalu berbentuk uang, dapat dalam bentuk barang, jasa, dll. 5. Kami mulai bekerja setelah pembayaran lunas.
6. Perjanjian ini akan berlaku untuk selama-lamanya, bahkan setelah perjanjian selesai.”
Peraturan yang terlihat tidak meyakinkan, namun mereka memang selalu menepati apa yang sudah mereka janjikan. Orang yang sudah pernah terlibat, mau tidak mau harus berusaha merahasiakan keberadaan mereka. Dari sinilah Serious Gaming menjadi sebuah urban legend di sebuah kota modern.

Comments