Chapter 3 : Client's Story
- Tri

- Dec 20, 2020
- 4 min read
Updated: Jul 27, 2024
Tidak sedikit orang yang penasaran tentang keberadaan Serious Gaming, contohnya saja orang ini, panggil saja A. A adalah mahasiswa fakultas teknologi, dibidang perangkat lunak, terbaik diangkatannya, belum pernah mendapat nilai C. Dia kenal beberapa temannya yang mengaku pernah terlibat dengan Serious Gaming, atau disingkat Sega. Dia hanya tahu teman-temannya puas dengan kerja Sega, namun mereka selalu menolak memberi keterangan lebih lanjut. A tidak punya permintaan yang bisa dijadikan alasan untuk menghubungi Sega, juga ragu dengan bayarannya. Sebagai mahasiswa teladan, walaupun dia menerima beasiswa, dia tidak suka menghamburkan uangnya. Bahkan sesekali dia mengirimkan uang hasil kerja part-time kepada orang tuanya yang tinggal diluar kota. Dia juga biasa mengirim hadiah disaat orang tuanya berulang tahun. Oh, iya. A teringat dengan ulang tahun ibunya seminggu lagi. Disinilah A mendapat alasan bagus untuk menghubungi Sega. “Orang tuaku akan berulang tahun sebentar lagi, bisakah kalian memberikannya hadiah yang tidak akan dia lupakan?” Email singkat itu dikirimnya ke Sega. Orangtuanya adalah tipe orang yang tidak suka barang mahal, mereka menyukai hal-hal yang bisa membawa kenangan baik untuk mereka, ini menjelaskan kenapa dirumah orangtuanya terdapat banyak barang-barang antik yang tidak terpakai. A berpikir apabila Sega memang mengerti apa permintaanya, Sega pasti akan mencari barang yang tidak mahal juga, dan dengan begitu, A tidak akan kesulitan membayar Sega. “Bisa. Bersama email ini, terlampir peraturan Serious Gaming, kami harap kau baca dengan baik. Beberapa jam lagi akan kami beritahukan apa bayarannya, kalau kau setuju, kita deal.” Sebuah email balasan masuk ke laptopnya. Email yang langsung pada intinya. A membaca baik-baik peraturannya, oh, jadi ini yang menyebabkan teman-temannya tidak banyak bicara soal Sega. Terbesit rasa ragu dibenak A melihat peraturan yang menurutnya mencurigakan, dengan kemampuannya, dia melacak email Sega, melihat ke server yang sudah sering ia bobol, mencoba menelusuri IP nya, sekedar untuk mencari Physical Address nya. Physical Address adalah alamat tiap benda elektronik yang terhubung ke internet, beda dengan IP, alamat ini tak akan bisa diganti, maka bila dia menemukannya, dia bisa menemukan keberadaan Sega. Tidak lupa dia memalsukan alamat laptopnya dan mengalihkan alamat internetnya ke jaringan luar negeri. Belum sampai empat jam dia berkutat mencari informasi tentang Sega, sebuah email kembali masuk, kali ini ke smartphonenya, laptopnya sedang sibuk dengan berbagai pengalihan jaringan, jadi untuk sementara dia tidak menggunakannya untuk mengecek email. “Datang ke restoran fast food di jalan XXX di depan XX besok jam 15.00. Akan kuminta bayarannya disitu.” Hah? Kenapa malah diminta untuk bertemu? “Bayarannya apa?” Balas A kembali. “Besok akan kuberitahu. Kutunggu sampai jam 15.20” Eeh? Yang benar saja?? Memang besok jadwal kuliah A hanya sampai jam 14.45, butuh 10 menit untuk sampai restoran yang dijanjikan. Setelahnya A memang ada kerja part-time di sebuah cafe jam 16.00. Ini memang kebetulan atau… Kebetulan saja. Pasti cuma kebetulan. A kembali kepada laptopnya, masih mencari-cari informasi. Hingga jam 2 dini hari, dia menyerah. Tiap informasi yang dia dapatkan selalu berbeda-beda, disaat dia pikir dia sudah menemukannya, dia malah menemukan data lain yang benar-benar berbeda. Sungguh aneh. A berpikir untuk mencobanya lagi besok. Esoknya, tepat jam 15.10, A masuk ke restoran fast food yang dijanjikan. Celingukan mencari orang yang sudah membuat janji dengannya. “Tunggu aku di meja 3” Sebuah email masuk ke smartphonenya. Meja tiga memang terlihat kosong, sambil celingukan, dia memesan makanan kemudian duduk disitu. PIkirannya diliputi rasa bingung dan resah, seperti apa orang dari Sega ini nantinya? “Wah, maaf ya, aku baru beres membersihkan gudang tadi” Tanpa sadar, seseorang sudah berada didepannya. Seorang petugas kebersihan, agak tua, sekitar umur 40-an, lengkap dengan seragam petugas dari restoran itu, mengelap keringatnya sembari sedikit tersenyum pada A. A masih terbengong. Orang ini bicara padaku? Orang ini siapa? “Ini.” Petugas tadi memberikan kotak kecil kepada A. “Tiga hari kedepan kemungkinan masih cuaca buruk, jadi kusarankan kau pulang naik kereta di sabtu pagi, ini tiketnya. Kau akan sampai di sabtu sore, besoknya, tepat pada hari ulang tahun ibumu, berikan kotak itu padanya, katakan saja kau menemukannya atau apalah.” Sebuah tiket kereta menuju kota kelahiran A ditaruh di meja. Ini… sungguhan?! A masih kaget melihat tiket yang sekarang ada ditangannya. “Ba..bayarannya?!” Tanya A gugup. “Kau tidak akan bisa kerja part-time di hari sabtu. Kau akan kehilangan bonus akhir minggumu, anggap saja itu untuk membayar tiketnya. Sekalian, tolong bayarkan makanan itu, tadi aku belum bayar haha.. Sudah ya, aku harus kembali bekerja.” Petugas itu pergi meninggalkan A begitu saja. A menoleh ke arah makanan yang baru dia sadari ada di pojok meja makannya. Makanan ini milik petugas tadi? Tapi dia itu petugas disini kan? Apa boleh petugas makan di tempat ini? Lalu tiket ini, darimana dia tahu kota kelahiranku? Darimana dia tahu kapan ulangtahun ibuku? Bagaimana dia tahu yang berulang tahun itu ibuku? Soal kerja part-time ku juga, bagaimana dia tahu?! Semua pertanyaan tanpa jawaban terus bertumpuk. Walaupun begitu, A harus tetap melakukan rutinitasnya, Selepas bekerja part-time, dia kembali ke kamar kost, membuka laptop untuk melanjutkan pencarian informasinya. Segawla hal yang dia alami tadi membuat dia makin bersemangat mencari info tentang Sega. Sembari menunggu loading pada laptop, dia melirik ke arah kotak yang dia dapatkan dan membuka apa isinya. Sebuah tabungan berbentuk tabung. Didalamnya berisi seperti kertas, uang mungkin? uang? atau apa? Ah, Biarlah ibunya yang membukanya nanti, toh ini memang hadiah untuk ibu, pikirnya. Dibanding isinya, A lebih terkejut melihat tulisan yang ada dibawah penutup kotaknya. “Untuk 8D-E3-C5-33-A0-2C; Tidak perlu mencari kami, kami akan ada disaat kau membutuhkan.” Yang membuat A terkejut bukanlah kalimatnya, namun deretan angka dan huruf tidak berurutan itu. Itu adalah nomor Physical Address smartphone miliknya! Bagaimana Sega bisa tahu? Bagaimana mereka bisa tahu Segala hal dari orang yang bahkan tidak pernah kenal mereka? Bagaimana... dan berbagai bagaimana lainnya, hanya membawa A pada rasa penasaran tak berkesudahan. Namun yang membuatnya lebih penasaran adalah kejutan apa lagi yang Sega siapkan untuknya? A tersenyum sembari menutup laptopnya. Percuma juga meneruskan pencarian, mereka sudah tahu A mencari mereka. Sekarang dia pasrah, membiarkan dirinya terbawa dalam skenario Sega. ---Beberapa hari kemudian--- Tabungan yang dia berikan kepada ibunya ternyata isinya bukan uang, namun kertas berisi curahan hati ibunya semasa kecil dulu. Ibunya mengaku menghilangkan tabungan itu saat rumah mereka digunakan untuk tempat pesta pernikahan kakaknya empat tahun yang lalu. Satu lagi 'bagaimana' muncul~ bagaimana mereka bisa mendapatkan tabungan itu? Belum selesai, ketika A kembali ke tempat part time, manager nya mengatakan bahwa sabtu malam kemarin, cafe sangat ramai dipenuhi pengunjung, untung saja ada seseorang yang menawarkan menggantikan posisi A untuk satu malam, jadi mereka tidak kewalahan. Apa hal ini juga sudah direncanakan oleh Sega? Sekarang, bagi A, semua rangkaian kejadian yang melibatkan Sega bukan lagi misteri, tapi keajaiban. Rasa terima kasih dan takjub tidak meninggalkan benaknya beberapa hari kemudian.

Comments