top of page

Chapter 5 : Curiosity Kills the C

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 18, 2020
  • 3 min read

Updated: Jul 27, 2024


Tak peduli mencari kemanapun, Cube tak pernah mendapat jawaban tentang siapa ketiga sahabatnya. Ditanya pun mereka tidak pernah menjawab. Mereka tahu tentang ibu Cube yang bukan manusia biasa, maka wajar rasanya kalau Cube juga mendapat informasi mengenai ibu atau anggota keluarga mereka yang lain, begitu pikir Cube. Awalnya Cube mengira itu adalah privasi, tapi semakin lama, semakin dekat dengan mereka, rasa ingin tahunya bertambah.


Dilihat dari manapun, Zero sudah jelas bukan manusia biasa. Kemampuan menyamarnya terlalu hebat.Begitupun Cross, yang selalu tertidur tanpa butuh makan atau minum.​Delta terlihat normal, ya walaupun telinga dan giginya agak berbeda. Masalah fisik, Cross dan Delta yang (katanya) bersaudara pun terlihat sangat jauh, tidak ada kemiripan diantara mereka. Sudah tahun ke empat dia bekerja, dia tetap tidak tahu dengan siapa dia bekerja.Terkadang ada rasa khawatir teramat sangat menghampiri pikiran Cube. Maksudku, kau bekerja dengan satu tim yang kau tidak tahu dari mana asal usulnya? Oke, itu mengerikan. Ditambah kenyataan kalau satu tim semuanya aneh secara fisik maupun perilakunya? Patut dicurigai. Namun mereka menerima Cube, yang berbeda dengan manusia lainnya, sebagai sahabat mereka. Cube selalu merasa bersalah setiap memikirkan kenyataan itu, mengingat sedari dulu, sejarahnya dengan manusia –yang normal- memang selalu berakhir buruk. Sega menjadi tempat pertama Cube menemukan apa itu sahabat. Rasa penasaran mengalahkan rasa solidaritasnya.


Malam itu, Cube yang sudah bilang tidak akan bermalam di Console, kembali ke Console pada dini hari. Dia sendiri bingung dia mau apa, tapi setidaknya dia ingin mendapat sesuatu, ingin mendapat informasi, sekecil apapun itu.Pintu Console dibukanya perlahan, kondisi ruangan dibawah tanah tanpa cahaya itu gelap, tapi tak apa, matanya sudah terbiasa dengan kegelapan, toh sedari tadi juga dia baik-baik saja menuju kemari tanpa penerangan, mengingat untuk masuk Console harus melewati gorong-gorong dibawah jembatan yang gelap saat malam. Delta tak ada di ruang kerja, sepertinya sudah tertidur. Hari ini memang tidak terlalu banyak pekerjaan. Cube yang sudah hafal denah Console dengan mudah berjalan menuju kamar tidur, dia ingin memastikan apa sahabatnya ada disitu atau tidak.Berbelok ke ruang server, dinginnya terasa menusuk, apalagi dini hari seperti ini, Cube heran bagaimana bisa Cross dan Delta tertidur disini tiap malam. Sambil mendekap tubuhnya sendiri, Cube yang tinggal beberapa langkah lagi mencapai kamar tidur, mengangkat tangannya, berusaha menggapai gagang pintu.


Pintu terbuka padahal dia belum menyentuhnya!Cross kini ada didepannya, menyambutnya didepan pintu kamar yang dingin.


Berdiri, melotot.

Mata Cross yang biasa terlihat lelah kini melotot.

Mata putih Cross cukup membuat Cube kaget hingga dia mundur karena refleks. 


"Cross-" Belum sempat Cube berkata, Cross secara tiba-tiba mendekatkan tubuhnya pada Cube, rasa kaget membuat Cube duduk terjatuh. Tangan Cross kini mencengkeram kepala Cube. 


“Jangan mencoba mencari tahu apa yang tidak kau tahu, itu bisa membunuhmu.” Ujar Cross.Perilaku Cube mengkonfirmasi ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


“Aku ingin mengetahui siapa sahabatku.” Cube menjawab sambil menelan ludah.


“Apakah itu demi sahabatmu atau hanya demi keingintahuanmu?”

 

“Kenapa kalau aku hanya ingin tahu? Kalian tahu siapa aku, wajar kalau aku ingin tahu siapa kalian.”

 

“Tidak untuk Delta. Biarkan dia dengan ketidaktahuannya, dia lebih aman begitu.” Kata Cross.

 

Jawaban itu membuat Cube menyimpulkan berarti selama ini Cross dan Zero merahasiakan identitas Cube. Dia sadar Delta juga berada di sisi yang sama dengannya. Cube teringat bagaimana Delta bahkan tidak ingat apa-apa tentang ibunya.

 

“Kau pun... mungkin akan lebih aman bila tidak tahu.” Lanjut Cross melepaskan cengkeraman tangannya. Cross kembali menjaga jarak, Cube bangun dari jatuhnya.

 

“Ada waktu dan tempat yang tepat untuk semuanya. Bukan sekarang. Bukan disini.” Ujar Cross sembari berjalan kembali kearah tempat tidur. Baru Cube sadari Delta tertidur lelap di tempat tidur dekat mereka.

Cube sadar ini memang bukan waktu yang tepat, juga bukan dengan cara yang tepat. Dia berbalik keluar dari kamar, keluar dari Console, bermaksud kembali pulang ke rumahnya.


Di perjalanan pulang, Cube terus mengulang-ulang kejadian yang baru saja terjadi di benaknya. Apa yang disembunyikan? Kenapa? Kapan fakta tentang mereka akan terbuka? Kapan ‘waktu yang tepat’ dan dimana ‘tempat yang tepat’?

 

Juga tentang... apakah sesulit ini untuk menjadi lebih dekat dengan sahabat?

 

Sementara Cross kembali membaringkan tubuhnya. Cross menatap Delta yang masih mendengkur pelan. Diulurkan tangannya hampir meraih kepala Delta, bermaksud menghapuskan ingatan Delta, jaga-jaga apabila dia mendengar apa yang terjadi. Namun dia tarik kembali tangannya, berpikir tidak ingin mengacaukan jikalau Delta sedang bermimpi indah, toh kejadian tadi tidak membocorkan informasi apapun.


Cross kembali memejamkan mata, kembali tertidur.

 

Beberapa waktu kemudian, Delta bangun. Dia menatap lama kakaknya yang sudah tertidur pulas.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kita?” Tanya Delta pelan dalam hati.

Ternyata Delta mendengar semua yang terjadi dan berpura-pura tidur. Pikirannya yang berkecamuk kembali diredam. Hari berikutnya dia mulai seolah tidak terjadi apa-apa.




Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page