top of page

Chapter 8 : Pertemuan Pertama

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 15, 2020
  • 3 min read

Updated: Jul 27, 2024

Siang hari di ujung atap sebuah rumah sakit, berdiri seorang lelaki berambut hijau, menghadap ke pemandangan kota seolah itu akan menjadi pemandangan terakhir yang dia lihat. Dilihat dari pakaian dan luka balutan di tangannya, semua orang akan tahu dia adalah seorang pasien. Beberapa lama dia melamun disitu, merasakan angin yang sewaktu-waktu bisa mendorongnya jatuh.


“Kau ingin bunuh diri?” Sebuah suara pria terdengar dibelakangnya. Dari suaranya, pria itu terdengar sudah dewasa, namun tak bisa disebut tua, tipikal suara pria berumur 30an.


Tanpa menoleh, lelaki berambut hijau itu berbalik bertanya.

“Kalau iya, apa kau akan menahanku?”


“Kalau aku bilang aku bisa memenuhi semua keinginanmu, apa kau akan memilih untuk tetap hidup?”


Pertanyaan dibalas pertanyaan. “Apa yang akan kau perbuat kalau aku tetap memilih mati?” Lagi-lagi lelaki itu membalasnya dengan pertanyaan. Percakapan ini menjadi semacam permainan siapa-yang-menjawab-duluan-berarti-kalah.


“Memintamu untuk mendengarkan ceritaku sebelum mati?” Jawab pria tadi.


“Kalau sampai aku mengantuk saat mendengar ceritamu, aku akan langsung menjatuhkan diriku ke tanah.”


“Haha. Tentu tidak. Cerita ini tidak akan membuatmu bosan. Ini cerita tentang malaikat yang ditugaskan untuk menolong manusia di bumi, terdengar seperti tugas mulia bukan? Bertahun-tahun sudah malaikat ini menolong banyak manusia, sudah berbagai macam manusia dia tolong, yang baik, yang buruk, semua dia tolong selama Tuhan mengijinkan. Siapapun dia tolong asal kondisinya memungkinkan, termasuk membantu seorang pembunuh berantai menemukan korbannya. Pada akhirnya, tugas ini berubah menjadi pekerjaan kotor. Si malaikat pun akhirnya bosan, dia memutuskan untuk mencari satu orang spesial yang bisa memberinya ‘hiburan’ untuk meramaikan dunianya, dan orang itu, adalah kau.”


Lelaki berambut hijau kaget, bukan dengan ceritanya yang menurutnya sudah pasti hanya karangan belaka, tapi karena ada seseorang yang ‘memilih’ dia. Ya, lelaki berambut hijau ini memang tidak sebebas manusia biasa, tuntutan hidupnya membuat dia kekurangan pilihan. Sekarang tiba-tiba dia ‘dipilih’ seseorang, tentu ada rasa tak percaya dalam hatinya. Setelah terdiam sejenak, dia tahu bagaimana cara menghilangkan rasa tak percaya itu.


Dia melompat ke arah tanah. Dari ketinggian rumah sakit berlantai lima.


“Kalau pria tadi memang benar-benar memilihku, dia akan melakukan sesuatu, entah sekedar mengulurkan tangannya dengan sia-sia atau memanggilku. Yah itu kalau aku bisa melihatnya sebelum aku mati.”


Begitu yang ada di pikiran si lelaki berambut hijau. Kalaupun pikirannya ternyata salah, toh dia tidak keberatan untuk mati saat itu juga. Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu diluar dugaan. Belum sampai tanah, dia terbang dengan sendirinya kembali ke atas atap.


Ketika tubuhnya kembali ke atas atap, pria tadi, yang ternyata berambut hitam dengan mata hitam, mengulurkan tangannya. Lelaki tadi kini jatuh didepan pria itu.


Bahu lelaki tadi dipegangnya erat-erat. “Kau membuatku kaget!” Teriak pria itu dengan wajah paniknya.


Si lelaki tadi hanya diam menatap pria didepannya.


“Kau…benar-benar malaikat?” Tanyanya kemudian.


Pria tadi tersenyum sambil menepuk dahinya. “Kau benar-benar menarik!” Katanya sambil tersenyum lebar.


Zero, nama pria tadi, memang bukan manusia biasa, cerita yang dia sampaikan pun bukanlah karangan, semua nyata.


Sejak hari itu, dia menjadi keeper, sebutan untuk seorang malaikat yang harus memenuhi permintaan dari manusia yang sudah dipilihnya. Sedangkan manusia yang terpilih disebut host, pemegang perjanjian dengan malaikat.


***


Zero kini duduk berdua dengan lelaki yang berhasil dia selamatkan, sedang membahas peraturan antara keeper dan host. Masih dirumah sakit yang sama, namun sudah berada di ruang rawat inap. Setidaknya kemungkinan [Redacted] bunuh diri disini lebih kecil. [Redacted], panggilan lelaki berambut hijau tadi.


“Kau hanya bisa mengabulkan permintaan sesuai rankingmu?” Tanya [Redacted] lagi.


“Yup, rankingku sudah cukup tinggi, tapi aku tak akan bisa menghidupkan orang mati, karenanya, [Redacted], tolong singkirkan benda itu.” Kata Zero sambil mengambil pisau buah dari tangan [Redacted].


“Kau… benar-benar memilihku?”


“[Redacted], ini sudah pertanyaan ke satu.. dua.. tiga! Tiga kali kau sudah menanyakan hal ini. Aku tahu bagaimana keluargamu, aku tahu siapa dirimu, ini bukan hari pertama aku bertemu denganmu [Redacted], aku tahu semuanya.”


“Bisa kau bunuh ibuku?”

Ibu [Redacted] memang sumber dari Segala masalahnya. [Redacted] hidup di keluarga yang kacau, ayahnya bermain dengan perempuan lain, ibunya seorang pemabuk berat yang suka main tangan. Bahkan disaat ibunya kekurangan uang, dia tak segan ‘menjual’ Cross untuk bekerja ditempat-tempat yang tak pantas. Ibunya jugalah yang menjadi penyebab luka balutan dan bekas luka lain di tubuh [Redacted].


“Lalu adikmu bagaimana?“


“Kau yang rawat adikku.”


“… No!”


“Tapi aku host mu.”


“No. Tidak akan! Tidak ada kata merawat anak kecil di kamusku.”


“Malaikat gadungan.”


“Apa?!”


Zero menjambak rambut panjang [Redacted] yang dibalas dengan pukulan ke wajah oleh [Redacted].



Zero selalu berada disamping [Redacted].

Membuat orang lain tidak bisa melihatnya adalah hal mudah untuk Zero. Ada saat dimana [Redacted] meminta Zero memberi pelajaran pada ibunya atau sekedar membantunya membereskan pekerjaan. Permintaan-permintaan kecil yang mudah ia kabulkan.

Hingga tiba waktunya mengabulkan permintaan besar [Redacted].



Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page