Chapter 10 : Membosankan
- Tri

- Dec 13, 2020
- 3 min read
Updated: Jul 27, 2024
Di dalam gudang itu merupakan ruangan besar berisi sofa, meja, dan beberapa rak buku, layaknya ruang tamu manusia. Disekitar dindingnya terlihat enam buah pintu entah menuju kemana. Zero melihat sekeliling, bingung apa yang harus dilakukan. Hingga dia melihat sebuah bel dan secarik kertas yang tertempel di bawah kaca meja bertuliskan “Tamu pencet bel ini ->”.
Agak terlihat mencurigakan sebenarnya, namun tanpa pilihan, Zero menekan bel itu. Terdengar pantulan suara bel dari ruangan lain.
“Hai hai, selamat datang~”
Salah satu pintu terbuka, keluar seorang pria berambut gondrong sebahu, mengenakan kacamata emas dengan jenggot dan kumis minimalis. Belum sempat Zero berkata, pria tadi menyahut
“Wah, malaikat~ jarang sekali, ada perlu apa kemari? Ayo silahkan duduk~”
Pria ini langsung tahu siapa Zero sebenarnya. Merasa yakin orang yang ditemuinya adalah orang yang tepat, Zero langsung bercerita seperti apa keadaan yang sedang ia hadapi.
Selama bercerita, pria tadi hanya memainkan gadgetnya sambil sesekali mengangguk. Melihat pakaian yang dia kenakan juga sifat santainya, Zero mulai bertanya dalam hati “Apa benar orang ini Kannon? Terlihat berbeda dengan yang kupikirkan.” Setelah selesai mendengarkan cerita, pria tadi melemparkan gadgetnya ke meja, kemudian menatap Zero.
“Kau tahu, menghilangkan ingatan itu merepotkan, apalagi banyak orang sekaligus, itu akan mengubah catatan kami juga, tidak bisa tidak bisa~” Kata pria tadi.
“Aku siap bayar mahal untuk ini!”
“Hmmm… Nope.”
“Ayolah, aku minta tolong siapa lagi?!”
“Hmm begini ya, masalah merepotkannya itu sebenarnya bisa diatur, masalah utamanya adalah… solusimu kurang menarik. Membosankan.”
“A- Apa?” Tanya Zero tak percaya.
“Solusi menghilangkan ingatan itu tidak menarik, para iblis sudah senang melihat ada malaikat yang datang, eh kau membawa solusi membosankan.” Pria tadi memperlihatkan gadgetnya pada Zero.
Ternyata sejak tadi pria itu menuliskan semua cerita Zero di sebuah forum. Seperti forum diskusi antar client para Kannon? Ada beberapa akun yang berkomentar sama dengan pria tadi, bahwa menghilangkan ingatan itu tidak menyenangkan, menghilangkan ingatan hanya merepotkan katanya. Zero meremas kedua tangannya, berusaha keras menutupi rasa kesalnya.
“Kau cari solusi lain lalu datang kemari lagi, kalau solusimu menarik, kita deal.” Kata pria itu.
Pertemuan dengan Kannon hari itu berakhir disini.
Zero kembali ke tempat [Redacted], mendapati hostnya masih tertidur pulas, sama seperti adiknya. Si ibu belum kembali kerumah, juga tidak terlihat akan kembali hari ini. Zero merebahkan dirinya di tempat duduk disebelah hostnya tertidur sambil memandangi hostnya. Dia tahu hal besar akan terjadi minggu ini.
“[Redacted].. Bangun! Kau harus kerja” Zero membangunkan [Redacted] sembari membereskan kamar [Redacted].
“Adikku dimana?” [Redacted] berusaha berdiri agar Zero bisa membereskan tempat tidurnya. Kemudian menyandarkan dirinya di tembok kamar.
“Dikamarnya, tertidur lagi. Tadi sempat bangun karena lapar. Setelah makan dan ku ajak main sebentar, tak lama dia kembali tidur.”
“Dan kau masih mau bilang tak ada mengasuh anak di kamusmu?”
“Hey, ini permintaanmu, ingat? Kau minta aku belajar mengasuh karena tidak percaya dengan ibumu!”
“Ya ya, bagaimana wanita sialan itu?”
“Dia tidak pulang”
“Sudah kuduga.”
“Ayo cepat mandi, sudah jam berapa ini?”
“Aku tidak kerja, tidak lagi.”
“Kau khawatir wanita itu pulang dan melakukan sesuatu pada adikmu?”
“Yup. Lalu bagaimana dengan Kannon? Apa hasilnya?”
“… Soal itu…” Zero menceritakan semuanya pada [Redacted], dan ekspresi [Redacted] sama, kesal bercampur marah. Ini sudah seperti masalah hidup dan mati bagi mereka berdua, tapi apa yang mereka dapat? Komentar receh mengenai solusi mereka yang kurang menyenangkan? Kepalan tinju [Redacted] mendarat di tembok kamar.
“Sial! Tidak menyenangkan?! Ini bukan permainan!”
“Itu yang aku pikirkan. Apa mereka pikir kau harus mati kemudian hidup lagi agar lebih sensasional?” Sambil berjalan ke ruang keluarga, Zero bergumam seenaknya.
“Zero! Itu!” [Redacted] berlari ke arah Zero.
“Apa?”
“Mati dan hidup lagi. Aku bisa seperti itu!”
“Ya ampun [Redacted], kau tidak bisa bereinkarnasi menjadi dirimu lagi.”
“Minta agar menjadi manusia lagi”
“[Redacted], itu… harganya akan sangat mahal.”
“Aku siap untuk itu Zero, kau tahu itu.”
Zero kembali menghela nafas. Dia ingin tahu apa reaksi Kannon saat mendengar ide absurd host nya. Ya apapun itu, semoga harganya sebanding. “Baiklah, siang nanti aku akan kembali ke tempat Kannon.” Katanya mengalah. “Sekarang makan dulu sarapanmu sementara aku siapkan tempat mandimu.”
“Oke.” Jawab [Redacted].
Lebih dari sekedar harga yang mahal, Zero lebih takut melihat host nya mati. Jangankan kematian, siksaan dari ibunya sehari-hari saja sudah cukup membuat Zero naik darah. Tapi lihat, sekarang host nya sedang makan dengan ekspresi senang diwajahnya. Pemandangan yang membuat hatinya tenang namun menyisakan bumbu ironi padanya.

Comments