top of page

Chapter 11 : Dia Masih Malaikatmu

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 12, 2020
  • 6 min read

Updated: Jan 28, 2025


“Ahahahaha! Ini bagus! Ini ide bagus!” Kannon yang sama dengan yang kemarin tertawa lebar didepan Zero. “Oke, ini akan sangat mahal, ahahaha”


Zero menelan ludahnya. “Kenapa mahal?”


“Pertama, kami tak dapat memproses jiwa manusia yang masih hidup. Bisa kami bangkitkan lagi dengan tubuh buatan, tapi! Kedua, kami harus mempertahankan ingatan masa lalu manusia tersebut, jelas bayarannya mahal.”


“Apa bayaran yang kalian harapkan?”


“Hostmu akan menjadi budak kami selama 16 jam tiap harinya.”


“16 JAM TIAP HARI?!” Zero sedikit berteriak.


“Well, HANYA 16 jam.”


Berusaha mencari alternatif, Zero kembali bertanya. “Apa ada pilihan lain?”


“Tidak.”


“Baik, aku terima.”


“Super sekali~” Kannon itu menepuk tangannya memberi apresiasi. Entah apresiasi untuk apa, tapi perjanjian ini sepertinya akan membawa keuntungan besar untuknya. “Lalu untuk mempertahankan ingatannya..”


“Masih ada lagi?!” Tanya Zero.


“Tentu, kau pikir mempertahankan ingatan dari masa lalu itu mudah? Banyak birokrasi yang harus kami lewati disini!” Jawab pria tadi. Zero berdecak dan memalingkan wajahnya, terlihat ada keraguan disana. “Aku minta 1 tahun waktu kalian.”


“1 tahun? Apa maksudmu?”


“Jadi ketika host mu mati, dia tidak akan langsung bereinkarnasi menjadi manusia, dia hanya akan menjadi arwah tanpa tubuh. Harusnya dia bisa mendapat tubuh hanya dalam beberapa hari, tapi kali ini, aku minta waktu 1 tahun. Tubuh buatan juga tidak murah, dalam 1 tahun itu aku akan mengambil energimu sebagai bayarannya”


“Dari beberapa hari ke 1 tahun?! Bukankah itu terlalu jauh?!”


“Ya, memang. Reinkarnasi akan menghilangkan seluruh ingatan, kau pikir sudah berapa tahun host mu itu hidup? Berapa banyak ingatan yang harus disimpan? Apa lagi dia adalah host yang terikat dengan malaikat, ada birokrasi yang harus kami lewati.”


Usia [Redacted] memang sudah lebih dari 20 tahun saat itu, Zero bisa mengerti. Masalahnya adalah… selama 1 tahun itu siapa yang akan menjaga si adik? Tanpa host dan kekuatannya yang menurun, Zero tidak akan punya cukup kekuatan untuk melindungi adik [Redacted].


Melihat Zero yang berpikir keras, Kannon didepannya melebarkan senyuman. “Kau tidak perlu memberi jawabannya hari ini. Kembalilah pada host mu dan pikirkan baik-baik. Aku ini baik hati, aku tak ingin salah satu pihak tertekan karena perjanjian ini~”


“‘baik hati?’ dengan bayaran seperti ini?!” Gumam Zero dalam hati. Tapi dia setuju, dia harus membicarakan ini langsung dengan [Redacted]. Maka Zero berpamitan, membiarkan dirinya pulang ke tempat hostnya.


Zero sampai dirumah menemukan [Redacted] sedang bermain dengan adiknya. Terlihat wajah gembira keduanya disitu. Dia tak tega mengganggu kesenangan mereka yang sangat jarang didapat apabila si ibu dirumah. Zero membalikkan badannya, berjalan ke arah taman sekedar untuk menghabiskan waktu.


- - -


Duduk melamun disalah satu bangku taman, saat itulah dia melihat sosok familiar.


“Zero!” Panggil sosok itu.

Dia adalah Nein, teman lama Zero yang juga seorang malaikat. Mereka berbincang berdua, mulai dari sekedar berbasa-basi hingga membicarakan pekerjaan mereka.


“Tinggal satu host ini saja, kalau aku bisa menemaninya sampai akhir, aku bisa mendapat ranking tinggi lalu kembali ke rumah!” Ucap Nein.


Rumah bagi para malaikat adalah kerajaan di atas langit, bukan surga ataupun neraka, tapi sebuah dimensi kasat mata dimana para malaikat tinggal dan diciptakan sebelum menerima tugas lain dari petinggi mereka.


“Hmm~ kau benar-benar ingin cepat pulang sepertinya~” Goda Zero.


“Tentu saja! Bagaimana dengan host mu saat ini Zero?”


Pertanyaan yang membuat Zero terdiam, menghela nafas panjang. Temannya sudah akan kembali kerumah, sedangkan dirinya sedang memikirkan perjanjian dengan iblis. Bukannya dia ingin kembali ke rumah, dirumah juga membosankan, tapi dia lebih memikirkan nasib hostnya. Disaat dia butuh kekuatan mahluk lain untuk menolong hostnya, disitulah Zero merasa gagal sebagai seorang keeper.


“Mau dengar ceritaku?” Tanya Zero. Terdapat ekspresi sedih di wajahnya. Menyadari hal itu, Nein yang tadinya ceria mengubah eskpresinya, tahu bahwa apa yang akan didengarnya setelah ini adalah hal serius. Nein mengangguk, disusul Zero yang mulai bercerita.


“Host ku yang sekarang adalah host terbaik yang pernah kumiliki, dia memberi semua hal yang ingin ku tahu tentang dunia ini. Aku bahkan tidak berpikir untuk pulang ke rumah, hanya ingin menghabiskan sisa waktuku bersamanya. Aku sungguh ingin membuatnya bahagia.” Zero menolehkan wajahnya ke arah Nein. “Kau tahu rasanya tidak bisa mengabulkan keinginan host mu? Rasa kegagalan itu ada padaku sekarang.”


“Apa yang hostmu inginkan?” Tanya Nein yang sudah mengetahui seberapa tinggi ranking Zero. Selama ini dia pikir Zero pasti dapat mengabulkan semua keinginan hostnya tanpa masalah.

Zero kembali terdiam, sebenarnya dia ingin cerita, tapi dia tidak ingin membuat host nya terdengar kejam, toh sebenarnya semua ini adalah hasil kesepakatan dia dan [Redacted].


“Singkatnya, untuk mengabulkan keinginan hostku, aku meminta bantuan Kannon.”

Kannon memang sudah terkenal sebagai perantara yang bisa memberi kekuatan lebih, tapi untuk malaikat seperti Zero, dengan kekuatannya yang seperti itu, sampai membuat perjanjian dengan mahluk lain… ada sesuatu yang salah.

“Kau gila, Zero.”

Perkataan Nein dibalas tatapan tajam oleh Zero.

“Kau tahu Kannon lebih berpihak pada iblis, dia akan menjebakmu dalam perjanjian yang berat sebelah, kau tahu itu!”


“Asalkan dengan itu aku mendapat kekuatan yang ku inginkan. Tak masalah.” Jawab Zero dingin.


“Kalau kau lakukan itu, kau tidak akan diterima lagi di kerajaan langit, kau bisa berhenti menjadi malaikat!”


“Lalu kau mau apa? Tuhan membiarkanku melakukan hal ini, berarti dia setuju denganku.”


Jawaban sahabatnya membuat Nein kehilangan kata-kata.


“Karma tidak akan datang saat itu juga, Zero, kau tahu itu.”


“Tergantung bagaimana cara kau menyikapi karma, aku ini agak M, kau tahu kan~”


Nein berdiri, sedikit berteriak pada Zero. “Berhenti bercanda! Ini bukan saatnya!”


“Ya, ini saatnya KAU yang berhenti bercanda, kau tidak punya hak apapun untuk menghentikanku, Nein.”


“Bagaimana bisa aku membiarkanmu.. ini sudah diluar batas!”

Zero berdiri, menatap tajam mata sahabatnya. Kemudian pergi meninggalkan Nein.


“Zero!” Panggil Nein sambil berusaha mengejarnya.


“Selangkah lagi kau mendekat, kau akan tahu akibatnya.”


Hanya bisa terdiam, Nein terpaksa membiarkan sahabatnya pergi. Dia kenal Zero sejak mereka ditugaskan turun ke bumi bersama, namun Zero yang sekarang sudah tidak bisa dia kenali. Kejadian ini mengakhiri hubungan persahabatan Nein dan Zero, mereka tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu.


- - -


Kembali kepada Zero yang kini sudah dirumah, dia mendapati Cross sedang menyiapkan makan siang, sepertinya adiknya sedang tidur siang.


“Kau lama sekali Zero.” Sambut [Redacted] sambil terus mengawasi masakannya.


“Banyak hal terjadi.” Jawab Zero sambil menuju dapur, mencoba membantu sebisanya.

[Redacted] melirik Zero yang sudah dua kali menghela nafas sejak masuk tadi. “Kuharap bukan sesuatu yang buruk.”


“Tidak, tak buruk, hanya sedikit…membingungkan. Kupikir aku harus membicarakannya dulu denganmu.” Ketiga kalinya Zero menghela nafas. “Ada sesuatu yang terjadi.” Pikir [Redacted].


“Ceritakan padaku setelah makan nanti, sekarang kau bantu aku.” [Redacted] menyodorkan perabotan kotor pada Zero.


“Dengan senang hati.”


Singkat cerita, setelah mereka selesai mencuci perabotan dan makan, mereka duduk bersebelahan di sofa ruang keluarga. Zero menceritakan apa yang terjadi di tempat Kannon, namun tidak dengan kejadian di taman, pikirnya [Redacted] tidak perlu tahu soal itu.


“Jadi, begitulah, bagaimana menurutmu? 16 jam setiap hari kau akan menjadi budak mereka!” Tanya Zero mengakhiri ceritanya.


“16 jam sisanya aku bisa hidup ditempat damai bersama adikku.”


“Lalu bagaimana dengan waktu 1 tahun itu? Siapa yang akan melindungi adikmu?”


“Selama 1 tahun apa kau tidak bisa menolongnya?”


“Tidak, aku hanya terikat denganmu.”


“….”


“[Redacted], katakan sesuatu.” Zero bisa merasakan ada yang sedang dipikirkan oleh host nya dan dia tahu itu bukan sesuatu yang baik.


“Kau... tidak harus melakukan semua ini. Aku tak seharusnya membawamu dalam hal ini.”

[Redacted] terlihat menunduk menyesal. Seolah pikirannya buntu tidak bisa memikirkan solusi lain.


“Dari semua hal, itu yang dia khawatirkan?” Tanya Zero dalam hati. Muncul sedikit rasa bahagia? pada Zero, karena [Redacted] menghawatirkannya, membuat Zero semakin terikat dengan hostnya.


“Seharusnya kau bisa melanjutkan hidupmu, Zero.” Ujar [Redacted] pelan.


Zero tersenyum kecil. “Ini hidup yang aku mau.”

“Zero, tidak seperti itu, ini terlalu-“ Belum selesai [Redacted] berbicara, dia terhenti saat menyadari Zero kini berada didepannya. Berlutut didepan dirinya yang masih duduk disofa. Zero mengulurkan tangannya menyapu air mata [Redacted] yang jatuh dipipinya. Dia tahu betul bagaimana sifat hostnya, dia tahu bagaimana hostnya selalu ingin terlihat kuat, walau sebenarnya dia sangat rapuh. Dia tahu bagaimana hostnya selalu ingin terlihat cuek walau sebenarnya dia sangat perasa. Seperti saat ini. Zero tahu air mata itu adalah rasa simpati [Redacted] untuknya.


Mengetahui seberapa berarti dirimu bagi orang lain adalah perasaan yang indah, itu yang Zero pikirkan.


“Ah, lagi-lagi aku jatuh semakin dalam.” Zero jatuh cinta lagi pada hostnya, seperti pada saat pertama kali mereka bertemu, bahkan lebih.


“Kita akan tetap bersama, ini adalah jalan yang aku pilih.” Ujar Zero pelan.


[Redacted] masih mengalihkan pandangannya dari wajah Zero. Sebelah tangan Zero menggenggam tangan [Redacted], berusaha mendapatkan perhatiannya.


“Aku masih malaikatmu, [Redacted].”


Percakapan berakhir dengan Zero yang berhasil meyakinkan [Redacted] untuk menyetujui perjanjian. Berkali-kali [Redacted] meminta Zero untuk memikirkan kembali. Tapi Zero meyakinkan dia bisa mengatasi semuanya.




Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page