top of page

Chapter 9 : Kontrak Pertama

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 14, 2020
  • 5 min read

Updated: Jul 27, 2024


Namun hidup terus berputar, kebahagiaan tidak selamanya terjadi. Ayah Cross bercerai dan memutuskan untuk tinggal bersama wanita barunya. Kepergian ayahnya membuat si ibu bertambah parah. Parahnya adalah bagaimana dia melampiaskan depresinya pada adik [Redacted] yang masih kecil.

[Redacted] tidak selamanya di rumah, dia juga membutuhkan Zero untuk membantunya bekerja, dia tak bisa mengawasi adiknya 24jam. Ada hari dimana [Redacted] pulang menemukan rumah dalam keadaan berantakan, ibunya tak ada dirumah sedangkan adiknya dibiarkan menangis sendirian dikamarnya dalam keadaan terkunci. Ditambah dengan bekas luka ikat di kaki adiknya. [Redacted] marah bukan kepalang.


Malam itu, setelah menidurkan adiknya ditempat tidur, [Redacted] berjalan ke ruang keluarga, mondar-mandir mencoba memikirkan pembalasan macam apa yang cocok untuk ibunya.


“Sepertinya memang harus segera dibunuh.” Ucap Zero yang kini muncul didepan [Redacted].


“Tidak. Dia juga harus menderita. Kematian terlalu baik untuknya.” [Redacted] berbicara dengan penuh amarah. Pikirannya dipenuhi dendam. Dia tidak lagi melihat apa yang ada didepannya, yang dia lihat hanyalah bayangan ibunya yang sedang menderita. Zero hanya bisa menatap [Redacted], memberi ceramah pada orang yang sedang emosi bagaikan memberi minyak pada api.


Dulu yang hanya membuat ibunya terpeleset, kini ibunya bisa tiba-tiba tersayat oleh silet yang entah datang dari mana. Pembalasan kecil [Redacted] semakin parah tiap harinya, namun semua itu berbalik pada [Redacted] dan adiknya, semakin sering ibunya kesal, semakin sering juga si ibu melampiaskannya pada mereka.



Satu hari [Redacted] bertengkar hebat dengan ibunya.

“Dia masih kecil! Jangan melampiaskan amarahmu padanya!” Teriak [Redacted]

.

“Kau berani melawan pada ibumu?!”


“Lalu aku harus membiarkanmu melukai dia?! Wanita pemabuk?!”


“Tarik kata-katamu barusan!”


“Kenapa? Mabuk memang hobimu kan?”


“Kau… akan kubunuh adikmu!”


“Kau tidak akan berani.”


“Aku bisa saja membuatnya seperti kecelakaan, aku akan dapat uang asuransi dari kematiannya.”


“Kau. Tidak akan. Berani.”


“Jaga mulutmu atau dia akan benar-benar ku bunuh.”


“…” [Redacted] hanya bisa memendam amarahnya. Sungguh dia sangat marah tapi adiknya dipertaruhkan disini.


“Hah. Diancam begitu baru kau diam. Kembali ke kamarmu!”

Baru saja [Redacted] membalik badan akan kembali kekamarnya…


“Atau… bagaimana kalau kau yang mati?” Si ibu mulai bicara dengan nada yang aneh.


“Hah?”


“Kalau kau mati karena kecelakaan, aku akan dapat uang asuransinya kan?”


[Redacted] menyadari apa maksud si ibu. “Kau mau aku mati?!”


“Pekerjaanmu hanya sanggup membayar tagihan bulanan. Itu sih aku juga bisa, ditambah harga barang-barang yang semakin naik sekarang... Kematianmu akan mengurangi pengeluaran keluarga, untuk pertama kalinya kau akan berguna untuk keluarga ini.”


Dengan cepat [Redacted] menampar pipi si ibu hingga terjatuh ke lantai, [Redacted] ingin memberi ibunya pelajaran, bagaimanapun juga, yang dikatakannya barusan bukanlah perkataan yang pantas diucapkan seorang ibu.


“Beraninya kau! Kau akan tahu akibatnya! Kau! dan Adikmu!” Si Ibu kemudian pergi membanting pintu.


[Redacted] hanya bisa terdiam, badannya terjatuh ke lantai. Barang-barang disekitarnya dia lempar untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Zero muncul dihadapannya, bermaksud untuk menenangkan.


“Wanita itu harus menderita! Dia tidak boleh mati, dia harus menderita!!” [Redacted] meracau sambil duduk memeluk lututnya, wajahnya dibenamkan diantara kedua tangan yang terlipat diatas lututnya.


“Itu hanya akan membuat dia bertambah parah, semua akan berbalik pada kalian.”


[Redacted] kesal, namun perkataan Zero benar. “A.. aku hanya ingin adikku hidup bahagia…” Suara [Redacted] terdengar pelan.


“Bagaimana kalau kalian lari dari sini? Memulai hidup baru misalnya?”


[Redacted] menatap Zero yang ada didepannya. “Kalau saja kau bisa menghilangkan ingatan mereka.”


“Jangan pembicaraan ini lagi, ingatan mempengaruhi semua orang, menghilangkan ingatan mereka tidak menghilangkan ingatan orang disekitar mereka, termasuk saudara-saudara jauhmu, itu hanya memperkeruh masalah, kita sudah bahas ini.”


“Apa kau tak bisa menghilangkan ingatan semua orang tentang aku dan adikku?”


“Apalagi itu. Itu terlalu besar, kekuatanku tidak cukup, [Redacted], ayolah.”


“Zero. Bukankah ada mahluk lain yang bisa meminjamkanmu kekuatan?”

Zero terkejut. Bukan karena [Redacted] mengetahui fakta adanya mahluk lain yang memiliki kekuatan besar, tapi karena dia tahu bahwa [Redacted] tahu apa resiko dari meminjam kekuatan dari mahluk yang dia maksud, lalu kenapa Cross tetap memintanya?


“[Redacted], kau tahu permintaan yang besar membutuhkan pengorbanan yang besar, bayangkan pengorbanan yang harus ditanggung untuk permintaan ini!”


“Aku siap menanggungnya.”


“Jangan asal bicara!”


Segera Zero menyentuh wajah host nya mengarahkan pandangan agar mata mereka saling bertemu. Dia ingin melihat ada keraguan dimata host nya, atau apapun yang bisa mematahkan perbincangan ini, tapi mata Cross tidak menunjukkan satupun titik keraguan.


Zero menyerah, dia melepaskan pegangannya. Dia menarik nafas dan menghembuskannya kembali, sekedar untuk menenangkan diri.



“Oke, dengarkan aku…” Mulailah penjelasan Zero mengenai mahluk yang akan mereka ajak bernegoisasi.

Umumnya malaikat memiliki kekuatan terbesar, tapi kekuatan malaikat terbatas oleh segala aturan dari penguasa kerajaan langit. Satu mahluk lain yang memiliki kekuatan besar yaitu iblis. Kekuatannya akan bertambah sesuai ego mangsanya. Mahluk lain rata-rata kekuatannya lebih kecil.


Namun membuat perjanjian dengan iblis termasuk sulit, mereka tidak memiliki aturan khusus, mereka bisa menolak perjanjian hanya karena mereka sedang tidak mood. Ada yang meninggalkan begitu saja saat bayaran telah diterima, mereka selalu bisa mencari celah untuk lari. Ada juga beberapa iblis yang memberi jaminan mereka tidak akan lari, namun bayarannya akan lebih mahal. Perjanjian dengan Iblis seperti ini biasanya menggunakan perantara dari mahluk lain sebagai eksekutor apabila salah satu pihak tidak menjalankan kewajibannya. Perantara disini ada banyak, Kannon adalah satu contoh yang paling terkenal.


Kannon adalah organisasi berisikan para penjaga gerbang reinkarnasi. Kekuatan mereka tidak sebesar malaikat atau iblis, namun posisi mereka sebagai perantara membuat mereka dihargai mahluk lain. Analogikan Kannon seperti manager perusahaan tekstil, dia tidak perlu kemampuan untuk membuat baju, tapi dia bisa mengatur siapa yang harus membuat polanya aksesorisnya, siapa yang harus menangani distribusi bahan, dan lain lain. Dia juga memiliki jaringan ke atasan perusahaan, siapapun yang berbuat salah bisa langsung dia laporkan untuk langsung ditindaklanjuti.


Lalu kenapa Kannon yang dipilih jadi perantara? Kenapa tidak malaikat? Alasannya mudah, karena pekerjaan Kannon tidak seketat malaikat. Tugas utamanya hanya menilai perbuatan manusia untuk ditentukan jadi apa mereka di kehidupan berikutnya. Jadi wajar saja bila Kannon dipilih menjadi perantara.


Dengan semua informasi itu, kini Zero dan [Redacted] memutuskan untuk meminta bantuan iblis melalui Kannon. Berat memang, tapi satu minggu adalah waktu yang sempit untuk membuat perjanjian. Setelah [Redacted] terlelap, Zero mencari keberadaan Kannon terdekat yang bisa ia temui. Ada keraguan dihatinya mengenai keputusan ini, namun [Redacted] adalah host yang paling menarik sepanjang sejarah hidup Zero. [Redacted] telah memberinya berbagai pandangan baru tentang kehidupan. Sebisa mungkin Zero ingin mengabulkan semua permintaan [Redacted], seperti yang dia janjikan di atas atap rumah sakit waktu itu.


Zero pernah mendengar adanya informasi keberadaan Kannon dikota lain. Kondisi tengah malam yang identik dengan sepinya manusia, identik juga dengan ramainya berbagai mahluk yang berkeliaran. Dengan mudah Zero mengambil informasi dari berbagai mahluk yang dia temui diperjalanan. Semua mengarahkannya ke sebuah gudang ditengah kawasan pabrik besar, disebuah kota yang terkenal dengan kawasan industri dan pabrik-pabriknya.


Kini Zero sudah berada didepan gudang, mengutarakan maksud kedatangannya kepada tiga pasang iblis penjaga. Zero berhasil dipersilahkan masuk. Gudang kosong yang terlihat menyeramkan dari luar terlihat sangat berbeda didalamnya.



Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page