Chapter 6 : Someone's Past
- Tri

- Dec 17, 2020
- 3 min read
Updated: Jul 27, 2024
Boneka itu ditaruhnya diatas kabinet dekat pintu masuk.
“Bu, sampai kapan aku harus seperti ini?”
Plak.
Si ibu menampar pipi anaknya.
“Bicara begitu lagi, ku bunuh kau!” Si ibu memasang muka marah, mengambil sebuah botol minuman dan membawanya ke ruangan lain. Sambil memegangi pipi merahnya, anak itu berusaha menahan tangis dibalik rambutnya yang panjang.
“Ayo cepat mandi! Hari ini papamu pulang, aku harus segera mendandanimu! Cepat! Cepaat!” Teriak si ibu.
Anak laki-laki itu berlari menuju kamar mandi sambil membuka bajunya yang berhias renda. Meskipun masih kecil dan penuh bekas luka, jelas terlihat bahwa itu adalah tubuh seorang anak laki-laki.
---Di hari yang lain---
“Hei, tidak apa-apa? Ada anakmu kan?” Seorang wanita membawa kantong berisikan minuman keras masuk kerumah itu.
“Dia sudah tidur. Lagipula dia bangun pun tidak apa-apa, sudah biasa.”
Ibu tadi membereskan meja yang penuh dengan kertas-kertas tagihan.
“Haha, kau tega juga ya.”
“Tanpa aku, dia tak akan ada di dunia ini ahaha.” Ujar si ibu sambil menuangkan botol minuman keras ke gelasnya.
“Apa dia tidak pernah melawan?”
“Terkadang iya sih, tapi... anak kecil itu harus mengikuti kata orangtuanya! Walaupun dia perempuan didepan papa dan tetangganya, dirumah dia tetap laki-laki, tetap harus kuat ahahaha.”
“Hahaha benar juga, kalau bukan karena dia, kau tak akan bisa membelikanku minuman ini.”
“Jelas dong, kalau dia laki-laki, ayahnya akan membawa dia pergi nanti, jangan doong, walaupun mereka bodoh, mereka ada harganya haha.”
“Hush, mereka juga tetap anakmu, kalau nanti kakaknya menghantuimu bagaimanaaa? Hihihihi~”
“Alaah, kakaknya memang sudah bodoh dari awal, pembangkang, bukan salahku dia berakhir bunuh diri.”
Kedua wanita itu kembali tertawa. Bukan hanya malam itu, ada banyak malam-malam lain dimana si ibu membawa teman-temannya hanya untuk menghabiskan uang. Disaat kehabisan uang, ibunya akan memanggil si ayah, menangis-nangis mengemis meminta uang, untuk bayar sekolah, bayar keperluan sehari-hari, apa saja alasannya.Pada kenyataannya, si anak terpaksa berhenti sekolah karena tunggakan tagihan yang menumpuk.
Si ayah yang menerima kabar itu dari sekolah, bertengkar hebat dan memutuskan untuk bercerai dengan si ibu.Ibu yang ditinggal dengan anaknya, semakin menjadi-jadi. Anaknya dipekerjakan untuk hal-hal yang... tidak baik. Tak terhitung juga berapa laki-laki yang sering dia bawa kerumah. Tak sedikit orang yang mencoba menyelamatkan si anak dari kekejaman ibunya, mulai dari guru, orangtua teman-temannya dulu, maupun tetangganya. Namun si ibu sangat pandai 'mengelak'. Apalagi sejak kematian anak tertuanya yang bunuh diri, mereka sering berpindah rumah sekarang.
Dahulu mereka semua tinggal di satu atap, bahagia seperti keluarga biasanya, hingga ayahnya, yang stress karena pekerjaan mulai melakukan berbagai pelecehan kepada anak tertuanya. Si ibu tahu dan sempat marah, namun kembali bungkam bila si ayah sudah mengeluarkan uang. Tak lama setelah kelahiran anak kedua, terungkap bahwa si ayah sudah memiliki keluarga lain. Si ayah lebih sering pergi ke rumah keluarga barunya, mengakibatkan semakin tidak terkendalinya emosi si ibu. Menurunnya jumlah uang yang masuk ke dompet si ibu, melahirkan keputusan gila, yaitu mendorong anaknya bunuh diri, demi keluarga katanya. Anaknya bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari atap sebuah mall, uang asuransi pun diterimanya dalam jumlah besar. Hal yang sama mungkin terjadi lagi sekarang.
“Kamu pilih mana, mau loncat dari atap? Mau gantung diri? Atau mau menabrakkan diri ke kereta?” Sambil memegang pisau, si ibu menatap tajam si anak. Si anak masih diam, air matanya mengalir.
“Sebentar lagi, rumah ini habis kontraknya, mumpung masih disini, sekarang saja kamu matinya. Agar ibu pindah kerumah baru yang lebih besar, yang nyaman, dari uang asuransi kamu. Kamu mau kaaan membahagiakan ibuu.” Pisau diarahkan ke wajah si anak.Sembari tersenyum kaku, kesabaran si ibu terlihat mulai habis. Si ibu menarik rambut anak itu dan melempar tubuh anaknya ke meja belajar.Si anak mengerang kesakitan, punggungnya tepat mengenai ujung meja, dia terjatuh ke lantai.
Si ibu tiba-tiba terdiam kaku, tubuhnya bergerak aneh.
Si anak hanya bisa melihat sambil menahan tangis. Dengan gerakan tidak wajar, si ibu menusukkan pisau ditangannya tepat ke jantung si anak. Si anak spontan mengeluarkan darah dari mulutnya, tubuhnya sempat kontraksi sebelum akhirnya terkulai.
Setelah cukup lama, tersadar telah menusuk anaknya sendiri, si ibu panik.
“Aaaaah siaaaaaal! asuransi nya bisa gagaaaal! Ini bukan bunuh diri!!”
Melempar pisau di tangannya, si ibu lari ke kamar mandi, berusaha membersihkan tubuhnya dari noda cipratan darah si anak.
Dua sosok tak kasat mata melihat kejadian itu sembari bersimbah air mata.
Panik sekaligus masih dibawah pengaruh alkohol, si ibu sempat berusaha kabur. Namun tetangganya yang melihat ada noda darah di tas si ibu menjadi khawatir. Si tetangga melaporkan polisi atas apa yang dia lihat.
Si ibu dengan mudah ditangkap, dipenjarakan dengan tuduhan hukuman mati, atas segala bukti yang memperlihatkan bagaimana dia telah menyiksa anaknya sendiri.

Comments